BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bangunan Gedung
Bangunan gedung diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan, yakni Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung sebagai bagian dari penataan ruang dan pembangunan di Indonesia, pengertian Bangunan Gedung menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, Pasal 1 bahwa: Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan atau di dalam tanah dan atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatansosial, budaya maupun kegiatan khusus.
2.2 Elemen Bangunan
Elemen bangunan adalah unsur-unsur yang membentuk sebuah bangunan.
Beberapa elemen bangunan yang penting antara lain : 2.2.1. Fondasi
Struktur pertama yang dibangun ketika memasuki tahapan pengerjaan bangunan adalah pondasi. Secara analogis Fondasi berfungsi menerima gaya dari struktur diatasnya (missal dinding atau kolom ) dan meneruskannya ketanah.
Menurut Gunawan (1991), fondasi adalah suatu konstruksi pada bagian dasar struktur/bangunan (sub-structure) yang berfungsi meneruskan beban dari bagian atas struktur/bangunan (upper-structure) kelapisan tanah yang berada di bagian bawahnya tanpa mengakibatkan :
- Keruntuhan geser tanah, dan
- Penurunan (settlement) tanah/fondasi yang berlebihan.
Secara umum, bayangan fondasi adalah suatu konstruksi :
1. Pondasi dangkal (shallow footing)
Pondasi dangkal adalah jenis fondasi yang pemasangannya pada kedalaman yang relatif dangkal di bawah permukaan tanah contohnya antara lain :
- Pondasi tapak (square footing)
Pondasi tapak adalah jenis pondasi yang terbuat dari beton bertulang yang dibentuk menyerupai telapak atau papan yang diletakkan di bawah tiang
Gambar 2.1 Fondasi tapak (Sumber : Ingga Aranka Rizolla, 2015 )
- Pondasi menerus (continous footing)
Pondasi menerus adalah pondasi yang digunakan untuk mendukung beban memanjang atau beban garis, baik untuk mendukung beban dinding maupun beban kolom.
Gambar 2.2 Fondasi Menerus/Batu Kali (Sumber : Panji Wahyu, 2023)
- Fondasi lingkaran (circle footing)
Pondasi lingkaran sering kali digunakan untuk bangunan dengan struktur melingkar atau silinder, atau dalam situasi di mana kondisi tanah
memerlukan distribusi beban yang merata di sekitar struktur.
Gambar 2.3 Fondasi Lingkaran (Sumber : Bintang Ardika, 2021)
2. Fondasi dalam
Fondasi dalam, atau yang lebih dikenal sebagai "pondasi dalam", adalah jenis pondasi yang digunakan untuk mendukung struktur bangunan di atas tanah yang lemah atau labil. Contoh nya antara lain :
- Fondasi sumuran (bored pile) dibedakan yang menggunakan casing atau tanpa casing.
Gambar 2.4 Pondasi Sumuran (Sumber : Yaasin Muchammad, 2018)
- Fondasi tiang pancang.
Fondasi tiang pancang adalah jenis fondasi dalam yang menggunakan tiang pancang yang ditanamkan ke dalam tanah untuk mendukung beban struktur bangunan. Tiang pancang adalah elemen struktural panjang, biasanya terbuat dari beton, baja, atau kayu, yang ditanamkan secara vertikal ke dalam tanah.
Gambar 2.5 Fondasi tiang pancang (Sumber : I. Wayan Ariyana, 2020)
- Fondasi caisson; yaitu macam pondasi dalam yang mempunyai diameter tiang yang lebih besar.
Gambar 2.6 Fondasi Caisson (Sumber : Pirawan Sakting, 2016)
2.2.2. Kolom
Kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil (SK SNI T-15-1991-03).Sedang kan menurut Sudarmoko (1996), kolom merupakan suatu struktur tekan yang memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya lantai dan runtuhnya bangunan secara total.
Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan Dipohusodo, 1994) ada tiga jenis kolom beton bertulangyaitu:
1. Kolom Ikat
Kolom ini merupakan kolom beton yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu diikat dengan pengikat sengkang kearah lateral. Tulangan ini berfungsi untuk memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya.
2. Kolom spiral
Kolom dengan Pengikat spiral bentuknya sama dengan yang pertama hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral yang dililitkan keliling membentuk heliks menerus di sepanjang kolom. Fungsi dari tulangan spiral adalah member kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu mencegah terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan tegangan terwujud.
3. Kolom Komposit
Kolom Komposit merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa diberi batang tulangan pokok memanjang.
Gambar 2.7 Bentuk-bentuk penampang kolom
(a) kolom bertulang spiral ; (b) kolom bersengkang ; (c) pipa baja yang diperkaku ; (d) kolom komposit diagonal.
(Sumber : Dimas Aditya, 2018)
2.2.3. Balok
Balok adalah elemen structural yang menerima gaya-gaya yang bekerja dalam arah tranversal terhadap sumbunya yang mengakibatkan terjadinya momen lentur dan gaya geser sepanjang bentangnya (Dipohusodo,1994).
Beban-beban yang bekerja pada balok akan menghasilkan gaya reaksi pada titik tumpu/perletakan balok. Beban-beban yang bekerja juga akan menghasilkan gaya geser dan momen lentur pada balok, Efek total dari semua gaya yang bekerja pada balok menghasilkan gaya geser dan momen lentur pada balok,
menimbulkan gaya dalam berupa tarikan dan tekanan, dan menimbulkan lendutan pada balok.
Gambar 2.8 Balok
(Sumber : Nur Oscar Fitrah, 2009)
Dalam pembagiannya, ada beberapa jenis balok yang sering di gunakan dalam suatu bangunan konstruksi, yaitu :
1. Balok Kayu
Balok kayu adalah suatu balok yang terbuat dari kayu yang dapat menopang papan atau dekstruktural serta dapat ditopang oleh balok induk, tiang, atau dinding penopang beban. Ada banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan balok kayu itu jenis kayu, modulus elastisitas, kualitas kayu, nilai tegangan tekuk, nilai tegangan geser yang diizinkan dan defleksi minimal yang diizinkan untuk penggunaan tertentu serta kondisi pembebanan yang akurat.
2. Balok Baja
Balok baja adalah suatu balok yang terbuat dari baja yang dapat menopang dek baja maupun papan beton pracetak. Balok induk, kolom, balok baja structural dapat digunakan dalam pembangunan rangka bermacam-macam struktur baik bangunan satu lantai maupun gedung pencakar langit. Struktur baja mempunyai kelebihan yaitu cepat dan akurat pengerjaannya tetapi struktur baja apabila terbakar akan mengalami kehilangan kekuatan yang drastis sehingga diperlukan pelapis anti api
Gambar 2.10 Balok Baja.
(Sumber :Sitepu Nomi, 2014)
.
Ga mbar 2.9 Balok Kayu.
( Sumber : Ag ustina , 2022 )
3. Balok Beton
Balok beton adalah balok yang dibuat dari campuran beton dan biasanya diberi tulangan baik itu berupa besi maupun baja.
Gambar 2.11 Balok Bertulang.
(Sumber :Data Di lapangan)
Terdapat beberapa jenis balok dalam konstruksi yang telah berkembang, di antaranya :
1. Balok Beton dengan Tulangan
Beton memiliki kelebihan yaitu dapat menahan gaya desak yang cukup tinggi tetapi memiliki kekurangan yaitu kemampuannya dalam menahan gaya tarik yang begitu rendah. Sedangkan besi atau baja memiliki kelebihan yaitu mampu menahan gaya tarik yang begitu tinggi tetapi memiliki gaya tekan yang rendah.
Kedua hal inilah yang mencoba dikombinasikan dengan cara membuat balok dengan memberikan tulangan terutama bagian bawah karena gaya tarik terbesar yang dialami balok terjadi pada bagian bawah.
2. Balok Beton tanpa Tulangan
Balok semacam ini dibuat untuk bagian struktural yang tidak begitu penting dan hanya menahan gaya tekan saja karena beton memiliki kelebihan yaitu mampu menahan gaya tekan yang begitu tinggi tetapi memiliki kekurangan dalam menahan gaya tarik.
A. Perkembangan Jenis Balok 1. Balok Sederhana (Simple Beam)
Balok sederhana adalah sebuah balok yang ditumpu pada kedua ujungnya dengan memiliki sebuah sendi di salah satu ujungnya dan sebuah rol di salah satu ujung yang lainnya
.
Balok sederhana (simple beam) ditunjukkan pada gambar 2.12 sebagai berikut :Gambar 2.12 Balok sederhana (Sumber : Maulana Sherlly, 2009)
2. Balok Teritisan
Balok teritisan adalah contoh balok sederhana yang memiliki bentuk memanjang dan melewati salah satu kolom tumpuannya. Balok teritisan ditunjukkan pada gambar 2.13 sebagai berikut :
Gambar 2.13 Balok Teritisan (Sumber : Maulana Sherlly, 2009)
3. Balok Menerus
Balok menerus adalah balok yang memanjang secara menerus dan melewati lebih dari dua kolom tumpuan agar diperoleh momen yang lebih
kecil dan kekakuan yang lebih besar dari serangkaian balok tidak menerus dengan panjang dan beban yang sama pada bangunan. Balok menerus ditunjukkan pada gambar 2.14 sebagai berikut :
Gambar 2.14 Balok menerus (Sumber : Maulana Sherlly, 2009)
4. Balok Kantilever
Balok kantilever adalah balok yang hanya didukung oleh salah satu ujungnya saja sedangkan ujung yang lainnya menggantung atau tidak mempunyai penyangga. Balok kantilever ditunjukkan pada gambar 2.15 sebagai berikut :
Gambar 2.15 Balok kantilever (Sumber : Maulana Sherlly, 2009)
5. Bentang Tersuspensi
Balok dengan bentang tersuspensi adalah suatu balok yang didukung oleh teritisan dari dua bentang dengan konstruksi sambungan pin pada momen nol dan balok ini termasuk dari jenis balok sederhana. Balok tersuspensi ditunjukkan pada gambar 2.16 sebagai berikut :
Gambar 2.16 Balok tersuspensi (Sumber : Maulana Sherlly, 2009) 6. Balok Ujung Tetap
Balok dengan ujung tetap adalah suatu balok yang dibuat dengan ujungnya dikaitkan dengan kuat serta mampu menahan translasi dan rotasi akibat gaya momen. Balok ujung tetap ditunjukkan pada gambar 2.17 sebagai berikut:
Gambar 2.17 Balok ujung tetap (Sumber : Maulana Sherlly, 2009)
B. Pembagian Balok Berdasarkan Fungsinya 1. Balok Lantai
Balok lantai adalah suatu balok yang menumpang pada balok anak dan balok induk dalam suatu struktur lantai serta menumpu pelat lantai. Balok lantai ditunjukkan pada gambar 2.18 sebagai berikut :
Gambar 2.18 Balok lantai (Sumber : Daeli Kopentis, 2022)
2. Balok Lintei / Latei
Balok lintei adalah suatu balok yang dibuat di atas kusen pintu atau jendela yang berfungsi untuk menopang dan mentransfer beban dinding di atasnya menuju ke dinding yang lainnya sehingga tidak ditahan oleh kusen pintu atau jendela yang mengakibatkan kusen jendela atau pintu menjadi rusak. Balok lintei/latei ditunjukkan pada gambar 2.19 sebagai berikut :
Gambar 2.19 Balok lintei/latei (Sumber : Daeli Kopentis, 2022) 3. Spandrel
Balok Spandrel adalah suatu balok yang mendukung dinding luar bangunan yang dalam beberapa hal dapat juga menahan sebagian beban lantai.
Balok spandrel dapat dibentuk lurus horizontal maupun melengkung. Balok spandrel ditunjukkan pada gambar 2.20 sebagai berikut :
Gambar 2.20 Balok spandrel (Sumber : Daeli Kopentis, 2022)
4. Balok Pengikat
Balok pengikat adalah suatu balok yang berfungsi untuk mentransfer beban horizontal maupun vertikal menuju balok maupun kolom struktur. Balok pengikat ditunjukkan pada gambar 2.21 sebagai berikut :
(Sumber : Daeli Kopentis, 2022)
5. Struktur Atap Beton Bertulang
Balok struktur atap terdiri dari balok ring, balok kasau, dan balok reng dimana balok gording mempunyai fungsi untuk mendukung balok kasau,titik balok kasau mendukung balok reng sedangkan balok reng mempunyai fungsi untuk menumpu genteng yang berada di atasnya. Balok struktur atap ditunjukkan pada gambar 2.22 sebagai berikut :
Gambar 2.22 Balok struktur atap (Sumber : Daeli Kopentis, 2022)
Gambar 2.21 Balok pengikat
6. Balok Stringer
Balok stringer adalah suatu balok yang berhubungan langsung kepada sistem lantai yang berfungsi sebagai penyanggah pada titik sambungan panel lantai-balok rangka batang di setiap sisi dek plat lantai. Balok stringer ditunjukkan pada gambar 2.23 sebagai berikut :
Gambar 2.23 Balok stringer (Sumber : Daeli Kopentis, 2022)
7. Dukung Girder
Balok dukung girder adalah suatu balok yang daya dukungnya perlu ditambahkan dengan cara menambahkan pelat baja lebar pada bagian bawah dan atas Suatu penampang lintang balok profil. Balok dukung girder ditunjukkan pada gambar 2.24 sebagai berikut :
Gambar 2.24 Balok dukung girder (Sumber : Daeli Kopentis, 2022)
8. Balok Anak dan Balok Induk pada Sistem Lantai
Balok anak dan balok induk pada sistem lantai mempunyai fungsi untuk mendukung plat lantai, dimana plat lantai bisa terbuat dari papan kayu, plat
baja, dan beton. Balok anak dan balok induk sistem lantai ditunjukkan pada gambar 2.25 sebagai berikut.
Gambar 2.25 Balok anak dan balok induk pada sistem lantai (Sumber : Daeli Kopentis, 2022)
9. Diafragma
Balok diafragma adalah balok yang berada di antara balok girder pada suatu sistem struktur rangka batang. Balok diafragma memiliki fungsi sebagai pengaku dari gelagar-gelagar memanjang dan tidak memikul beban plat lantai serta diperhitungkan seperti balok biasa. Balok diafragma ditunjukkan pada gambar 2.26 sebagai berikut
Gambar 2.26 Balok diafragma (Sumber : Daeli Kopentis, 2022) C. Pembebanan Pada Balok
Berdasarkan Pedoman Perencanaan pembebanan untuk rumah dan Gedung (PPPURG, 1987) beban yang terjadi pada struktur bangunan diakibatkan oleh :
1. Beban Mati
Beban mati adalah berat seluruh bagian atau komponen gedung yang bersifat tetap, termasuk segala unsur material, mesin, peralatan tetap, komponen struktural, dan komponen arsitektural yang merupakan bagian tak terpisahkan dari gedung.
2. Beban Hidup
Beban hidup adalah beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung yang bersifat tidak tetap, termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat dipindahkan, dan bagian dari gedung yang dapat diganti, sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan gedung tersebut. Khusus pada atap beban hidup yang terjadi berasal dari air hujan, baik akibat genangan maupun tekanan jatuh (energi kinetik) butiran air.
3. Beban Angin
Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian dari gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.
4. Beban Gempa
Beban gempa yaitu semua beban statik ekuivalen yang bekerja pada gedung atau bagian dari gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik, maka yang diartikan beban gempa disini adalah gaya-gaya yang terjadi oleh gerakan tanah akibat pergerakan tanah yang disebut sebagai gempa.
5. Beban Khusus
Beban khusus adalah semua beban yang terjadi pada gedung atau bagian dari gedung yang terjadi akibat selisih suhu, pengangkutan dan pemasangan, penurunan pondasi, susut, gaya-gaya tambahan yang berasal dari beban hidup seperti gaya rem yang berasal dari kran, gaya setrifugal dan gaya dinamis yang
berasal dari mesin- mesin, serta pengaruh khusus lainya. Acuan yang dipakai dalam analisis pembebanan ini adalah tata cara perencanaan pembebanan untuk rumah dan Gedung (SNI 03-2847-2002)
2.2.4. Pelat Lantai
Pelat merupakan panel-panel beton bertulang yang mungkin bertulang satu atau dua arah saja tergantung system strukturnya (Dipohusodo, 1994). Pelat adalah elemen horizontal struktur yang mendukung beban mati maupun beban hidup dan menyalurkannya kerangka vertical dari system struktur. Beban statis ataudinamis yang dipikul oleh pelat umumnya tegak lurus permukaan pelat. Pelat dapat ditumpu di seluruh tepinya atau hanya pada titik-titik tertentu seperti kolom- kolom dan juga campuran antara tumpuan menerus dan titik. Pelat merupakan struktur bidang yang lurus (datar atau tidak melengkung) yang tebalnya jauh lebih kecil disbanding dengan dimensi yang lain.
Gambar 2.27 Letak Plat (Sumber : Deddy Kurniawan, 2021)
Jenis pelat lantai yang sering digunakan ada 2 macam, yaitu pelat lantai kayu dan pelat beton.
1. Plat Kayu
Plat lantai kayu merupakan plat lantai yang terbuat dari kayu-kayu pilihan yang kuat. Plat lantai kayu pada umumnya dirangkai menjadi konstruksi struktur yang kuat, sehingga terbentuklah bidang yang bias diinjak oleh penghuninya.
Berikut keuntungan dan kelemahan dalam penggunaan plat lantai kayu keuentungan :
• Lebih ekonomis, karena harganya relative murah.
• Berat nyaringan yang mampu menghemat ukuran pondasi.
• Proses pengerjaannya lebih mudah.
Kelemahan:
• Tidak dapat dipasangi keramik.
• Tidak dapat menahan air atau mudah bocor.
• Bukan benda peredam yang baik.
• Mudah rusak akibat pengaruh cuaca.
Hanya dapat digunakan pada bangunan yang sederhana dan ringan.
1. Plat Beton
Plat beton atau disebut juga plat beton bertulang pada umumnya dilakukan pengecoran ditempat yang bersamaan dengan balok sebagai penumpu dan kolom untuk struktur pendukung. Pada pelat lantai beton sebelum dilakukannya pengecoran akan dilakukan pemasangan tulangan besi yang sudah di gelar pada kedua arah biasanya sebanyak 2 (Dua) lapis. Berikut keuntungan dan kerugian menggunakan plat beton betulang:
Keuntungan:
• Sanggup menahan beban yang besar.
• Sebagai peredam suara yang baik.
• Tidak bias dibakar dan lapisannya kedap air.
• Tidak membutuhkan perawatan dan dapat berumur panjang.
Kerugian:
• Proses pengerjaannya membutuhkan banyak waktu.
• Mempunyai berat yang tinggi.
Banyak memakai material dalam proses pengerjaannya seperti bekisting, alat penopang dan lain-lain.
2.2.5. Atap
Atap adalah bagian paling atas dari suatu bangunan, yang melindung gedung dan penghuninya secara fisik maupun metafisik (mikrokosmos/makrokosmos). Atap merupakan bagian dari struktur bangunan yang berfungsi sebagai penutup/pelindung bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehingga memberikan kenyamanan bagi penggunan bangunan. Struktur atap pada umumnya terdiri dari tiga bagian utama yaitu :struktur penutup atap, gording dan rangka kuda-kuda. Penutup atap akan didukung oleh struktur rangka atap, yang terdiri dari kuda-kuda, gording, usuk dan reng. Beban-beban atap akan diteruskan kedalam fondasi melalui kolom dan atau balok.
Ada beberapa fungsi utama atap, diantaranya adalah:
a. Mencegah dari berbagai pengaruh terhadap angin, bobot sendiri, dan curh hujan.
b. Melindungi ruang bawah, manusia, serta elemen bangunan dari pengaruh cuaca hujan, panas matahari, petir dan lain-lain.
Bentuk atau model konstruksi atap bermacam – macam sesuai dengan peradaban dan perkembangan teknologi serta sesuai dengan segi arsitekturnya. Bentuk atap yang banyak terdapat adalah :
1. Atap Limas (Perisai)
Atap berbentuk limas terdiri dari empat bidang atap, dua bidang bertemu pada satu garis bubung anjurai dan dua bidang bertemu pada garis bubungan atas atau pada nook. Jika dilhat terdapat dua bidang berbentuk trapesium dan dua dua bidang berbentuk segitiga.
Gambar 2.28 Atap perisai
(Sumber : Muhammad Syarif Hidayat, 2016)
Bentuk atap ini penyempurnaan dari bentuk atap pelana, yang terdiri atas dua bidang atap miring yang berbentuk trapezium. Dua bidang atapnya berbentuk segitiga dengan kemiringan yang biasanya sama.
2. Atap Pelana
Bentuk atap ini cukup sederhana, karena itu banyak dipakai untuk bangun – bangunan atau rumah di masyarakat kita. Bidang atap teridiri dari dua sisi yang bertemu pada satu garis pertemuan yang disebut bubungan.
Gambar 2.29 Atap Pelana.
(Sumber: Muhammad Syarif Hidayat, 2016)
Atap ini merupakan bentuk atap rumah yang dianggap paling aman karena pemeliharaannya mudah dalam hal mendeteksi apabila terjadi kebocoran. Atap pelana terdiri atas dua bidang miring yang ujung atasnya bertemu pada satu garis lurus yang biasa kita sebut bubungan. Sudut kemiringan antara 30 sampai dengan 45 derajat.
3. Atap Datar
Model atap yang paling sederhana adalah atap berbentuk datar atau rata.
Atap datar biasanya digunakan untuk bangunan/ rumah bertingkat, balkon yang bahannya bias dibuat dari beton bertulang, untuk teras bahannya dari asbes maupun seng yang tebal. Agar air hujan yang tertampung bias mengalir, maka atap dibuat miring ke salah satu sisi dengan kemiringan yang cukup.
Gambar 2.30 Atap Datar.
(Muhammad Syarif Hidayat, 2016)
4. Atap Standar
Model atap sengkuap biasa digunakan untuk bangunan – bangunan tambahan misalnya; selasar atau emperan, namun sekarang atap model ini juga dipakai untuk rumah - rumah modern. Beberapa arsitek mengadopsi model atap ini kemudian menggabungkannya dengan atap model pelana.
Gambar 2.31 Atap Standar.
(Sumber: Muhammad Syarif Hidayat, 2016)
5. Kombinasi Pelana + Perisai
Bentuk atap ini adalah kombinasi atau gabungan dari atap jenis pelana dan perisai (limasan). Ada yang juga menyebut jenis atap ini sebagai atap tendapatah atau atap joglo.
Gambar 2.32 Atap Pelana dan Perisai.
(Muhammad Syarif Hidayat, 2016)
6. Atap Tenda
Model atap tenda dipasang pada bangunan yang panjangnya sama dengan lebarnya, sehingga kemiringan bidang atap sama. Bentuk atap tenda terdiri dari empat bidang atap yang bertemu disatu titik puncak, pertemuan bidang atap yang miring adalah dibubungan miring yang disebut jurai.
Gambar 2.33 Atap Tenda.
(Muhammad Syarif Hidayat, 2016)