23 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
BAB 3
TINJAUAN YURIDIS PERAN KECAMATAN DALAM PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH
3.1. Telaahan Undang-Undang Dasar
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah dokumen konstitusi tertulis yang menjadi landasan hukum utama Republik Indonesia. UUD ini menjelaskan prinsip-prinsip dasar negara, hak-hak dan kewajiban warga negara, serta struktur pemerintahan. Pasal 18 ayat (2) menyatakan bahwa Pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, dan pada ayat (5), menyatakan bahwa Pemerintahan Daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri Urusan Pemerintahan menurut Asas Otonomi dan Tugas Pembantuan dan diberikan otonomi yang seluas-luasnya. Lebih lanjut pada ayat (7) mengamantkan bahwa Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang. Sedangkan pada Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Bunyi ketentuan inilah menjadi salah satu kewajiban bagi negara untuk mensejahterakan warga negara tanpa kecuali.
Berdasarkan ketentuan beberapa Pasal dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diatas, bahwa Negara dalam mewujudkan hak setiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan diselenggarakan melalui penyelenggaraan urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan pemerintahan umum oleh penyelenggaran negara. Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden yang pelaksanaannya dilakukan oleh kementerian negara dan penyelenggara Pemerintahan Daerah termasuk Kecamatan untuk melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.
3.2. Telaahan Undang - Undang
3.2.1. Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik
Dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat, maka pemerintah turut membuat aturan tentang pelayanan public, sebagaimana yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 ini.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (2) dari Undang-Undang Pelayanan Publik ini bahwa Penyelenggara pelayanan publik yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah setiap institusi penyelenggara negara, korporasi, Lembaga independen
24 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik.
Lebih lanjut pada ayat (4) Organisasi penyelenggara pelayanan publik yang selanjutnya disebut Organisasi Penyelenggara adalah satuan kerja penyelenggara pelayanan publik yang berada di lingkungan institusi penyelenggara negara, korporasi, Lembaga independen yang dibentuk berdasarkan UU untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan pelayanan publik. Sedangkan ayat (5) Pelaksana pelayanan publik yang selanjutnya disebut Pelaksana adalah pejabat, pegawai, petugas, dan setiap orang yang bekerja di dalam organisasi penyelenggara yang bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian tindakan pelayanan publik.
3.2.2. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada pasal 209 dijelaskan bahwa kecamatan adalah perangkat daerah kabupaten atau kota, sebagaimana dijelaskan pada ayat (2) huruf f, yaitu Perangkat Daerah kabupaten/kota terdiri atas: a. Sekretariat Daerah, b. Sekretariat DPRD, c.
Inspektorat, d. Dinas, e. Badan, dan f. Kecamatan.
1. Kedudukan Kecamatan
Kedudukan Kecamatan dijelaskan pada pasal 221 sebagai berikut:
1) Daerah kabupaten atau kota membentuk kecamatan dalam rangka meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat desa atau kelurahan.
2) Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk dengan Perda Kabupaten atau Kota berpedoman pada peraturan pemerintah.
3) Rancangan Perda Kabupaten atau Kota tentang pembentukan kecamatan yang telah mendapatkan persetujuan bersama bupati walikota dan DPRD kabupaten atau kota, sebelum ditetapkan oleh bupati atau walikota disampaikan kepada menteri melalui gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat untuk mendapat persetujuan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 221 diatas, kecamatan dibentuk dalam rangka meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemrintahan artinya dengan adanya kecamatan, camat sebagai pimpinan tertinggi di kecamatan harus dapat mengkoorkinasikan semua urusan pemerintahan di kecamatan, kemudian juga camat harus memberikan pelayanan publik di kecamatan dan juga pemberdayaan masyarakat desa atau kelurahan. Selanjutnya kecamatan dibentuk dengan Perda, dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.
2. Camat
Pasal 224, mengatur tentang Camat sebagai berikut:
1) Kecamatan dipimpin oleh seorang kepala kecamatan yang disebut camat yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada bupati atau walikota melalui sekretaris daerah.
25 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
2) Bupati atau walikota wajib mengangkat camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3) Pengangkatan camat yang tidak sesuai dengan ketentuan dibatalkan keputusan pengangkatannya oleh gubernur sebagai wakil pemerintah pusat.
Ketentuan Pasal 224 diatas, dperlu digaris bawahi bahwa dalam pengangkatan camat, yang dimaksud dengan menguasai pengetahuan teknis pemerintahan adalah dibuktikan dengan ijazah diploma atau sarjana pemerintahan atau sertifikat profesi kepamongprajaan
3. Tugas Camat
Tugas Camat diatur pada Pasal 225 sebagai berikut:
1) Camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 ayat (1) mempunyai tugas:
a. Menyelenggaraan urusan pemerintahan umum.
b. Mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
c. Mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum.
d. Mengoordinasikan penerapan dan penegakan Perda dan Perkada.
e. Mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum.
f. Mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan yang dilakukan oleh perangkat daerah di kecamatan.
g. Membina dan mengawasi penyelenggaraan kegiatan desa/kelurahan.
h. Melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah kabupaten atau kota yang tidak dilaksanakan oleh unit kerja perangkat daerah kabupaten atau kota yang ada di kecamatan.
i. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan PUU.
2) Pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibebankan pada APBN dan pelaksanaan tugas lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i dibebankan kepada yang menugasi.
3) Camat dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh perangkat kecamatan.
Selain tugas tersebut diatas, Camat juga mendapat pelimpahan wewenang, hal ini diatur pada Pasal 226, sebagai berikut :
1) Selain melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 225 ayat (1), camat mendapatkan pelimpahan sebagian kewenangan bupati atau walikota untuk melaksanakan sebagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah kabupaten atau kota.
2) Pelimpahan kewenangan bupati atau walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan pemetaan pelayanan publik yang sesuai dengan karakteristik kecamatan atau kebutuhan masyarakat pada kecamatan yang bersangkutan.
26 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
3) Pelimpahan kewenangan bupati atau walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan bupati atau walikota berpedoman pada peraturan pemerintah. Kewenangan yang dilimpahkan dari bupati atau walikota kepada camat misalnya kebersihan di kecamatan, pemadam kebakaran di kecamatan dan pemberian izin mendirikan bangunan untuk luasan tertentu. Mengenai pendanaan akibat dari pelimpahan wewenang tersebut di atas diatur pada Pasal 227 yaitu: Pendanaan dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan yang dilakukan oleh camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 225 ayat (1) huruf b sampai dengan huruf h serta Pasal 226 ayat (1) dibebankan pada APBD kabupaten atau kota.
Berdasarkan pada uraian Pasal 226 di atas, jelas bahwa jika dilihat pada ketentuan pelimpahan sebagian kewenangan Bupati kepada Camat di Kabupaten/Kota harus disesuaikan dengan ketentuan Pasal 226 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, salah satu hal yang mendasar dilakukan perubahan adalah penetapan pelimpahan kewenangan tidak lagi diatur melalui Peraturan Bupati, namun ditetapkan melalui Keputusan Bupati/Walikota serta berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan.
3.3. Telaahan Peraturan Pemerintah
3.3.1. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah ini ditetapkan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 232 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2016 merupakan perubahan dari Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 ini, ketentuan mengenai Kecamatan diatur dalam Pasal 50, sebagai berikut:
1) Kecamatan dibentuk dalam rangka meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat desa atau sebutan lain dan kelurahan.
2) Kecamatan dipimpin oleh camat atau sebutan lain yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada bupati/wali kota melalui sekretaris Daerah kabupaten/kota.
3) Camat mempunyai tugas: a. menyelenggarakan Urusan Pemerintahan umum;
b. mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat; c. mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; d.
mengoordinasikan penerapan dan penegakan Perda dan Peraturan Bupati/Wali kota; e. mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum; f. mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan yang dilakukan oleh Perangkat Daerah di tingkat kecamatan; g. membina dan
27 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
mengawasi penyelenggaraan kegiatan desa atau sebutan lain dan/atau kelurahan; h. melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang tidak dilaksanakan oleh unit kerja Pemerintahan Daerah kabupaten/kota yang ada di kecamatan; dan i. melaksanakan tugas lain yang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan.
4) Selain melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3), camat melaksanakan tugas yang dilimpahkan oleh bupati/wali kota untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah kabupaten/kota.
5) Camat dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dibantu oleh perangkat kecamatan.
Perubahan ketentuan mengenai Kecamatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 adalah terakit dengan tugas camat dari huruf a sampai I pada Pasal 50 diatas.
3.3.2. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 Tentang Standar Pelayanan Minimal
Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang SPM ini ditetapkan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2O24 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah tentang Standar Pelayanan Minimal. SPM ditetapkan dan diterapkan berdasarkan prinsip kesesuaian kewenangan, ketersediaan, keterjangkauan, kesinambungan, keterukuran, dan ketepatan sasaran. Selanjutnya pada Pasal 19 ayat (5) dari Peraturan Pemerintah ini mengamanatkan Bupati melaksanakan pembinaan dan pengawasan penerapan SPM Daerah kabupaten oleh perangkat Daerah kabupaten dan wali kota melaksanakan pembinaan dan pengawasan penerapan SPM Daerah kota oleh perangkat Daerah kota.
Kecamatan sebagai perpanjangan tangan dari Kepala Daerah (Bupati/Walikota), kecamatan mendapat kewenangan dalam beberapa urusan secara otonom dan pengemban tugas umum pemerintahan. Seperti, perangkat daerah kecamatan harus menyusun dan mempunyai standar kinerja minimal (SPM), sebagai standar pelayanan minimum yang diberikan oleh perangkat kecamatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
3.3.3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan
Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2018 tentang Kecamatan ini ditetapkan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 228 dan Pasal 230 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah ini mengatur mengenai penataan Kecamatan dan Kelurahan, yang meliputi pembentukan, penggabungan, dan penyesuaian, pembentukan Kecamatan dalam rangka kepentingan strategis nasional, tugas camat dan tugas lurah, termasuk tugas camat di kawasan perbatasan negara, persyaratan camat, klasifikasi, susunan organisasi, dan tata kerja Kecamatan, forum koordinasi pimpinan di Kecamatan, perencanaan Kecamatan, kedudukan Kelurahan, persyaratan lurah, pemberdayaan,
28 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
pendampingan masyarakat Kelurahan, lembaga kemasyarakatan Kelurahan, pendanaan Kecamatan dan Kelurahan, dan pakaian dinas serta pembinaan dan pengawasan Kecamatan dan Kelurahan. Hal ini sebagaimana dijelaskan sebagai berikut;
1. Tugas Camat
Berdasarkan ketentuan Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan ini, bahwa Camat dalam memimpin Kecamatan bertugas:
1) Menyelenggarakan urusan pemerintahan umum di tingkat Kecamatan sesuai dengan ketentuan peraturan penrndang-undangan yang mengatur pelaksanaan urusan pemerintahan umum;
2) Mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat, meliputi:
a. Partisipasi masyarakat dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan di desa/Kelurahan dan Kecamatan;
b. Sinkronisasi program kerja dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Pemerintah dan swasta di wilayah kerja Kecamatan;
c. Efektivitas kegiatan pemberdayaan masyarakat di wilayah Kecamatan;
d. Pelaporan pelaksanaan tugas pemberdayaan masyarakat di wilayah kerja Kecamatan kepada bupati/wali kota;
3) Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum, meliputi:
a. Sinergitas dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan instansi vertikal di wilayah Kecamatan;
b. Harmonisasi hubungan dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat;
c. Pelaporan pelaksanaan pembinaan ketenteraman dan ketertiban kepada bupati/wali kota;
4) Mengoordinasikan penerapan dan penegakan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah, meliputi:
a. Sinergitas dengan perangkat daerah yang tugas dan fungsinya di bidang penegakan peraturan perundang-undangan dan/atau Kepolisian Negara Republik Indonesia; dan
b. Pelaporan pelaksanaan penerapan dan penegakan PUU di wilayah Kecamatan kepada bupati/wali kota;
5) Mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum, meliputi:
a. Sinergitas dengan perangkat daerah dan/atau instansi vertikal yang terkait;
b. Pelaksanaan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum yang melibatkan pihak swasta; dan
c. Pelaporan pelaksanaan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum di wilayah Kecamatan kepada bupati/wali kota;
6) Mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat Kecamatan, meliputi:
a. Sinergitas perencanaan dan pelaksanaan dengan perangkat daerah dan instansi terkait;
29 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
b. Efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di tingkat kecamatan; dan kegiatan vertical kegiatan
c. Pelaporan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan kepada bupati/wali kota;
7) Membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan desa sesuai dengan ketentuan PUU yang mengatur desa;
8) Melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota yang tidak dilaksanakan oleh unit kerja perangkat daerah kabupaten/kota yang ada di Kecamatan, meliputi:
a. Perencanaan kegiatan pelayanan kpada masyarakat di Kecamatan;
b. fasilitasi percepatan pencapaian SPM di wilayahnya;
c. Efektivitas pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Kecamatan; dan
d. Pelaporan pelaksanaan kegiatan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Kecamatan kepada bupati/wali kota melalui Sekda; dan
9) Melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan PUU.
Dengan kedudukannya tersebut, Kecamatan mempunyai peran yang sangat strategis di kabupaten/kota, baik dari tugas dan fungsi, organisasi, sumber daya manusia, dan sumber pembiayaannya sehingga perlu pengaturan tersendiri yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan di Kecamatan dengan Peraturan Pemerintah.
2. Pelimpahan Kewenangan
Untuk melaksanakan sebagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota; dan untuk melaksanakan tugas pembantuan, camat mendapatkan pelimpahan sebagian kewenangan Bupati/Walikota kepada Kecamatan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 11 sebagai berikut:
1) Selain melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, camat mendapatkan pelimpahan sebagian kewenangan bupati/wali kota:
a. Untuk melaksanakan sebagian urulsan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota; dan
b. Untuk melaksanakan tugas pembantuan.
2) Sebagian urusan pemerintahan yang dilimpahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas pelayanan perizinan dan nonperizinan.
3) Pelayanan perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat l2) dilaksanakan dengan kriteria:
a. Proses sederhana;
b. Objek perizinan berskala kecil;
c. Tidak memerlukan kqiian teknis yang kompleks; dan d. Tidak memerlukan teknologi tinggi.
4) Pelayanan perizinan sebagaimana dimaksud padaayat (3) dilakukan melalui pelayanan terpadu.
5) Pelaksanaan pelayanan perizinan sebagaiman dimaksud pada ayat (3) dikembangkan sebagai inovasi pelayanan publik sesuai dgn ketentuan PUU.
30 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
6) Pelayanan nonperizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan kriteria:
a. Berkaitan dengan pengawasan terhadap objek perizinan;
b. Kegiatan berskala kecil; dan
c. Pelayanan langsung pada masyarakat yang bersifat rutin.
7) Pelimpahan sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (6) dilakukan berdasarkan pemetaan pelayanan publik sesuai dengan karakteristik Kecamatan dan/atau kebutuhan masyarakat setempat.
8) Tugas pembantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan oleh camat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
9) Ketentuan lebih ianjut mengenai tata cara pelimpahan sebagian kewenangan bupati/wali kota kepada camat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pelimpahan sebagian kewenangan bupati/wali kota kepada camat diatas, dilaksanakan untuk mengefektifkan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Kecamatan dan mengoptimalkan pelayanan publik di Kecamatan sebagai perangkat daerah yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Berlakunya Peraturan Pemerintah ini, juga ada pergeseran penyelenggaraan pelimpahan sebagian kewenangan bupati/wali kota kepada camat, yaitu perlu ditetapkan dengan Keputusan Bupati/Walikota, sedangkan sebelumnya ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota.
Dengan pelimpahan wewenang ini, diharapkan beberapa pelayanan publik seperti pemberian ijin dan pelayanan non perijinan dapat diselesaikan secara langsung di kecamatan dengan efektif serta efisiens. Hal ini jelas akan memberikan semangat yang cukup kuat kepada pemerintah kecamatan untuk meningkatkan kinerjanya terutama dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat dan memudahkan masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang murah, cepat dan berkualitas.
3. Perencanaan Kecamatan
Perencanaan Kecamatan diatur dalam Pasal 17, sebagai berikut:
1) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di Kecamatan, disusun perencanaan pembangunan Kecamatan sebagai kelanjutan dari hasil musyawarah perencanaan pembangunan desa/kelurahan.
2) Perencanaan pembangunan Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari perencanaan pembangunan kab/kota.
3) Perencanaan pembangunan Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan PUU.
Dokumen perencanaan dan penganggaran yang harus disusun dan dimiliki perangkat daerah kecamatan, meliputi Rencana Strategis (RENSTRA)
31 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
Kecamatan, Rencana Kerja (RENJA) Kecamatan dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Kecamatan.
4. Pendanaan Kecamatan
Pengaturan dukungan sumber pendanaan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan pada tingkat kecamatan, diatur Pasal 28 sebagai berikut :
1) Pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
2) Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk pendanaan untuk forum koordinasi pimpinan di Kecamatan dalam melaksanakan tugas untuk menunjang kelancaran pelaksanaan urusan pemerintahan umum di Kecamatan.
3) Pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah provinsi yang dilimpahkan dan/atau ditugaskan kepada bupati/wali kota yang dilaksanakan oleh camat sesuai dengan ketentuan PUU.
Sedangkan Pasal 29, sebagai berikut:
1) Pendanaan pelaksanaan dimaksud dalam Pasal 10 yang menugaskan.
2) Tugas lain sebagaimana huruf i dibebankan kepada Pendanaan pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/ kota'
3.4. Telaahan Peraturan Menteri
3.4.1. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 86 Tahun 2017 Tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian, Evaluasi Pembangunan Daerah
Permendagri ini ditetapkan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 277 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Kegiatan Perangkat Daerah adalah serangkaian aktivitas pembangunan yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah untuk menghasilkan keluaran (output) dalam rangka mencapai hasil (outcome) suatu program, termasuk kecamatan sebagai perangkat daerah kabupaten/kota juga memiliki dokumen perencanaan dan penganggaran sendiri dalam mendukung suksesnya penyelenggaraan urusan pemerintahan dan tugas pembantuan di wilayah kecamatan dalam rangka mendukung pencapaian visi dan misi kepala daerah atau pembangunan daerah kabupaten/kota. Dokumen perencanaan dan penganggaran yang dimiliki perangkat daerah kecamatan, meliputi Rencana Strategis (RENSTRA) Kecamatan, Rencana Kerja (RENJA) Kecamatan dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Kecamatan.
1. Sasaran, Program dan Kegiatan Perangkat Daerah
Ketentuan Pasal 170 ayat (2), bahwa sasaran Renstra dan Renja Perangkat Daerah (PD) merupakan dasar penilaian sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintahan Perangkat Daerah. Sedangkan dalam Pasal 172 ayat (2), Strategi dan arah kebijakan Perangkat Daerah dirumuskan secara teknokratik dengan
32 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
memperhatikan permasalahan dan isu strategis Perangkat Daerah serta mempedomani Prioritas Nasional (PN) yang diselenggarakan oleh kementerian/lembaga terkait. Selanjutnya berdasarkan Pasal 174 bahwa terkait sasaran, program dan kegiatan perangkat daerah dirumuskan dalam penyusunan Renstra dan Renja Perangkat Daerah. Rumusan Renja PD tersebut dirumuskan berdasarkan (i) Renstra Perangkat Daerah, (ii) Program Pembangunan Daerah, dan (iii) Perkembangan Permasalahan Pembangunan Daerah lainnya.
2. Program, Kegiatan, Alokasi Dana Indikatif dan Sumber Pendanaan Perangkat Daerah
Pasal 175, bahwa dalam perumusan program, kegiatan, alokasi dana indikatif dan sumber pendanaan disusun berdasarkan:
1) Pendekatan kinerja, kerangka pengeluaran jangka menengah serta perencanaan dan penganggaran terpadu.
2) Kerangka pendanaan dan pagu indikatif, dan
3) Urusan wajib pelayanan dasar yang berpedoman pada SPM dan wajib bukan pelayanan dasar yang berpedoman pada NSPK sesuai dengan kondisi nyata Daerah dan kebutuhan masyarakat, atau urusan pilihan yang menjadi tanggung jawab Perangkat Daerah.
3.4.2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 Klasifikasi, Kodefikasi, Dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan Dan Keuangan Daerah
Pasal 1 dari Permendagri ini mengamanatkan bahwa Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah yang selanjutnya disebut Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur adalah penggolongan,' pemberian kode, dan daftar penamaan perencanaan pembangunan dan keuangan daerah yang disusun secara sistematis sebagai acuan dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah dan keuangan daerah. Selanjutnya Pasal 2 Pemerintah Daerah menyusun dokumen reneana pembangunan daerah, dokumen rencana perangkat daerah, dan dokumen pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penyusunan dokumen sebagaimana dimaksud menggunakan Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur
Pasal 3, mengamanatkan sebagai berikut:
• ayat (1) Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur terdiri atas: a. Urusan, bidang urusan, program, kegiatan, dan sub kegiatan, b. Fungsi, Organisasi, d. Sumber Pendanaan, e. Wilayah Administrasi Pemerintahan; dan f. Rekening.
• ayat (2) Klasifikasi, Kodefikasi, dan. Nomenklatur Urusan untuk bidang urusan, program, kegiatan, dan sub kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, disusun berdasarkan Urusan yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
33 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025
• ayat (3) Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, disusun berdasarkan perwujudan tugas pemerintahan di bidang tertentu yang selaras dengan belanja negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
• ayat (4) Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, berdasarkan susunan perangkat daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
• ayat (5) Klasifikasi, Kodefikasi, dan: Nomenklatur Sumber Pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, disusun berdasarkan Sumber Pendanaan yang meliputi dana umum dan dana khusus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
• ayat (6) Kasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur nama Wilayah Administrasi Pemerintahan sebagairnana dimaksud pada ayat (1) huruf e, disusun berdasarkan kode dan data Wilayah Administrasi Pemerintahan sesuai cengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
• ayat (7) Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur rekening sebagaimana dimaksud pada ayat 11) huruf f, disusun berdasarkan kode akun, kelompok, jenis, objek, rincian objek, dan sub rincian objek, meliputi aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan-pendapatan-laporan realisasi anggaran, belanja, pembiayaan, pendapatan-laporan operasional, dan beban.
Pasal 6 ayat (1) Menteri melakukan pemutakhiran Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur berdasarkan: a usulan Pemerintah Daerah; b. perubahan kebijakan;
dan atau c. peraturan perundang-undangan. Sedangkan pada ayat (2) Pemutakhiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan melakukan verifikasi dan validasi atas perubahan klasifikasi, kodefikasi, dan:' atau nomenklatur.
Berdasarkan ketentuan Pasal 6 diatas, bahwa pemerintah daerah dapat mengusulkan program dan kegiatan yang belum ada dalam lampiran Permendagri 90 ini kepada Kementerian Dalam Negeri melalui Tim yang dibentuk oleh Menteri Dalam Negeri, untuk selanjutnya berdasarkan usulan daerah tersebut dilakukan pemuktahiran. Beberapa hasil pemuktahiran program dan kegiatan baru sesuai yang diusulkan oleh pemerintah daerah, dapat dilihat pada Lampiran Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-5889 Tahun 2021 Tentang Hasil Verifikasi, Validasi Dan Inventarisasi, Pemutakhiran Klasifikasi, Kodefikasi Dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan Dan Keuangan Daerah.