• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 PENGERTIAN, PENDEKATAN, METODOLOGI & PROGRAM KERJA

N/A
N/A
HANGGANIS ARDETTIYO Mahasiswa PNJ

Academic year: 2025

Membagikan "BAB 2 PENGERTIAN, PENDEKATAN, METODOLOGI & PROGRAM KERJA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

6 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

BAB 2

PENGERTIAN, PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA

2.1. Pengertian 2.1.1. Kecamatan

Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan Daerah telah menempatkan Kecamatan sebagai Perangkat Daerah. Lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan, Kecamatan atau yang disebut dengan nama lain adalah bagian wilayah dari daerah kabupaten/kota yang dipimpin oleh camat. Pada Pasal 3 ayat (3) menyebutkan bahwa Kecamatan dibentuk dengan Peraturan Daerah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya pada Pasal 10 Huruf (h), menyebutkan bahwa Camat dalam memimpin Kecamatan bertugas:

melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota yang tidak dilaksanakan oleh unit kerja perangkat daerah kabupaten/kota yang ada di Kecamatan, meliputi:

1. Perencanaan kegiatan pelayanan kepada masyarakat di Kecamatan;

2. Fasilitasi percepatan pencapaian standar pelayanan minimal di wilayahnya;

3. Efektivitas pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Kecamatan;

4.

Pelaporan pelaksanaan kegiatan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Kecamatan kepada bupati/wali kota melalui sekretaris daerah.

Lebih lanjut pada Pasal 11 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan menyebutkan bahwa selain melaksanakan tugas sebagaimana dalam Pasal 10, camat mendapatkan pelimpahan sebagian kewenangan bupati/wali kota: a. untuk melaksanakan sebagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah kabupaten/kota; b. untuk melaksanakan tugas pembantuan.

2.1.2. Urusan Pemerintahan

c

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (5) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2024 tentang Pemerintahan Daerah, pengertian Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden yang pelaksanaannya dilakukan oleh kementerian negara dan penyelenggara Pemerintahan Daerah untuk melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat. Sedangkan pada ayat (14) menyebutkan bahwa Urusan Pemerintahan Wajib adalah Urusan Pemerintahan yang wajib

(2)

7 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

diselenggarakan oleh semua Daerah, dan selanjutnya Pasal 11 ayat (1) Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah terdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan, pada ayat 2) menyebutkan bahwa Urusan Pemerintahan Wajib terdiri atas Urusan Pemerintahan yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar. ayat (3) Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar adalah Urusan Pemerintahan Wajib yang sebagian substansinya merupakan Pelayanan Dasar.

2.1.3. Standar Pelayanan Minimal

Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan Daerah pada Pasal 1 ayat (17) bahwa Standar Pelayanan Minimal adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu Pelayanan Dasar yang merupakan Urusan Pemerintahan Wajib yang berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal. Lebih lanjut berdasarkan bunyi ketentuan Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2028 tentang Standar Pelayanan Minimal menyebutkan bahwa Pelayanan Dasar adalah pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar Warga Negara, lebih lanjut pada ayat (3) Jenis Pelayanan Dasar adalah jenis pelayanan dalam rangka penyediaan barang dan/atau jasa kebutuhan dasar yang berhak diperoleh oleh setiap Warga Negara secara minimal, sedangkan pada ayat (4) pengertian Mutu Pelayanan Dasar adalah ukuran kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa kebutuhan dasar serta pemenuhannya secara minimal dalam Pelayanan Dasar sesuai standar teknis agar hidup secara layak.

Ketentuan lebih lanjut pada Pasal 3 ayat (1) dari Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2028 tentang Standar Pelayanan Minimal bahwa Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar terdiri atas: pendidikan; b.

kesehatan; c. pekerjaan umum dan penataan ruang; d. perumahan ralgrat dan kawasan permukiman; e. ketenteraman, ketertiban umum, dan pelindungan masyarakat; dan f. sosial.

2.1.4. Kewenangan

Kata kewenangan berasal dari kata dasar wewenang yang diartikan sebagai hal berwenang, hak dan kekuasaan yang dipunyai untuk melakukan sesuatu.

Kewenanangan adalah kekuasaan formal, kekuasaan yang diberikan oleh undang- undang atau dari kekuasaan eksekutif administrasi. Secara yuridis pengertian wewenang adalah kemampuan yang diberikan oleh peraturan perundang- undangan untuk menimbulkan akibat-akibat hukum

Kewenangan atau wewenang dalam konsep hukum tata negara dideskripsikan sebagai “rechtsmacht” (kekuasaan hukum). Wewenang terkait kekuasaan dalam hukum publik terdapat sedikit perbedaan antara kewenangan (authority, gezag) adalah apa yang disebut sebagai kekuasaan formal, kekuasaan yang berasal dari yang diberikan oleh undang-undang atau legislatif. Wewenang (competence,

(3)

8 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

bevoegdheid) hanya mengenai suatu onderdeel (bagian) tertentu dari kewenangan.

Kewenangan harus dilandasi oleh ketentuan hukum yang ada (konstitusi), sehingga kewenangan merupakan kewenangan yang sah. Pejabat (organ) dalam mengeluarkan keputusan didukung oleh sumber kewenangan tersebut.

Wewenang bagi pejabat atau organ (institusi) pemerintahan dibagi menjadi:

1. Kewenangan yang bersifat atributif (orisinil), yaitu pemberian wewenang pemerintah oleh pembuat undang-undang kepada organ pemerintahan (atributie: toekenning van een bestuursbevoegheid door een wetgever aan een bestuurorgaan). Kewenangan atributif bersifat permanen atau tetap ada, selama undang-undang mengaturnya. Dengan kata lain wewenang yang melekat pada suatu jabatan. Atributif dalam tinjauan hukum tata negara ditunjukan dalam wewenang yang dimiliki oleh organ pemerintah dalam menjalankan pemerintahannya berdasarkan kewenangan yang dibentuk oleh pembuat undang-undang. Atributif ini menunjuk pada kewenangan asli atas dasar konstitusi/undang-undang dasar atau peraturan perundang-undangan.

2. Kewenangan yang bersifat non atributif (non orisinil) yaitu kewenangan yang diperoleh karena pelimpahan wewenang dari aparat yang lain. Kewenangan non atributif bersifat insidental dan berakhir jika pejabat yang berwenang telah menariknya kembali. Penyerahan sebagian dari wewenang pejabat atasan kepada bawahan tersebut membantu dalam melaksanakan tugas-tugas kewajibannya untuk bertindak sendiri. Pelimpahan wewenang ini dimaksudkan untuk menunjang kelancaran tugas dan ketertiban alur komunikasi yang bertanggung jawab dan sepanjang tidak ditentukan secara khusus oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.2. Pendekatan

2.2.1. Pendekatan Kajian Peraturan dan Kebijakan

Dalam pelaksanaan pekerjaan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini, diperlukan pendekatan studi terhadap efektivitas implementasi dari norma-norma hukum yang diaturnya, juga melakukan identifikasi terhadap peraturan dan kebijakan terkait yang mengatur (i) pemerintahan daerah, (ii) standar pelayanan minimal, (iii) tata cara perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pembangunan daerah, (iv) indikator kinerja utama di lingkungan pemerintahan daerah, dan (v) laporan pelaksanaan program di tingkat daerah yang relevan dengan kegiatan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia.

Menurut Carl J Federick sebagaimana dikutip Leo Agustino (2008: 7) mendefinisikan kebijakan sebagai serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana

(4)

9 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan) dan kesempatan-kesempatan terhadap pelaksanaan usulan kebijaksanaan tersebut dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pendapat ini juga menunjukan bahwa ide kebijakan melibatkan perilaku yang memiliki maksud dan tujuan merupakan bagian yang penting dari definisi kebijakan, karena bagaimanapun kebijakan harus menunjukan apa yang sesungguhnya dikerjakan daripada apa yang diusulkan dalam beberapa kegiatan pada suatu masalah.

Dalam merumuskan kebijakan Thomas R. Dye merumuskan model kebijakan antara lain menjadi: model kelembagaan, model elit, model kelompok, model rasional, model inkremental, model teori permainan, dan model pilihan publik, dan model sistem. Selanjutnya tercatat tiga model yang diusulkan Thomas R. Dye, yaitu: model pengamatan terpadu, model demokratis, dan model strategis. Terkait dengan organisasi, kebijakan menurut George R. Terry dalam bukunya Principles of Management adalah suatu pedoman yang menyeluruh, baik tulisan maupun lisan yang memberikan suatu batas umum dan arah sasaran tindakan yang akan dilakukan pemimpin (Terry, 1964:278). Kebijakan secara umum menurut Said Zainal Abidin (Said Zainal Abidin,2004:31-33) dapat dibedakan dalam tiga tingkatan:

1. Kebijakan umum, yaitu kebijakan yang menjadi pedoman atau petunjuk pelaksanaan baik yang bersifat positif ataupun yang bersifat negatif yang meliputi keseluruhan wilayah atau instansi yang bersangkutan.

2. Kebijakan pelaksanaan adalah kebijakan yang menjabarkan kebijakan umum.

Untuk tingkat pusat, peraturan pemerintah tentang pelaksanaan suatu undang- undang.

3. Kebijakan teknis, kebijakan operasional yang berada di bawah kebijakan pelaksanaan.

Kajian peraturan dan kebijakan ini dapat dijadikan alat bantu untuk mengidentifikasi apakah suatu peraturan dan kebijakan tersebut berjalan efektif dan memberikan dampak positif bagi masyarakat atau dalam implementasinya tumpang tindih, disharmoni, kontradiktif, multitafsir, serta menimbulkan beban biaya tinggi. Dengan demikian hasil ini dapat memberikan masukan dalam merumuskan rekomendasi serta solusi yang dapat menjadi acuan strategis bagi Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan dalam menyusun kebijakan dan program pembinaan yang lebih efektif di tingkat kecamatan kedepan.

2.2.2. Pendekatan Kajian Tata Kelola Pemerintahan

Pendekatan tata Kelola pemerintahan, juga merupakan pendekatan yang diperlukan dalam pelaksanaan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini. Tata kelola pemerintahan merupakan kata yang sering diucapkan dalam berbagai ruang diskusi di Indonesia seperti demokrasi dan otonomi. Istilah Governance banyak yang menerjemahkannya menjadi tata

(5)

10 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

pemerintahan, penyelenggaraan negara, atau cukup diartikan dengan penyelenggaraan atau pengelolaan (manajemen). Governance menunjuk pada pengertian bahwa kekuasaan tidak lagi semata-mata dimiliki atau menjadi urusan pemerintah. Governance menekankan pada pelaksanaan fungsi governing secara bersama-sama oleh pemerintah dan institusi-institusi lain yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perusahaan swasta maupun warga negara.

Sejalan dengan hasil penelitian dari Beama, Chandra Johanis Putra, et al. dalam Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ) 3.6 (2022): 3695-3708 bahwa, Dalam proses demokratisasi, good governance sering mengilhami para aktivis untuk mewujudkan pemerintahan yang memberikan ruang partisipasi yang luas bagi aktor dan lembaga di luar pemerintah, sehingga ada pembagian peran dan kekuasaan yang seimbang antara negara, masyarakat sipil dan mekanisme pasar. Hal ini bukan hanya memungkinkan adanya check and balance, tetapi juga menghasilkan sinergi yang baik antar ketiganya dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Desentralisasi sebagai salah satu asas otonomi daerah, hal ini diimplementasikan untuk aplikasi demokratisasi di Indonesia (Sulila, 2015).

Transformasi desain tata Kelola pemerintahan dari sentralisasi yang sangat berdampak terhadap tidak adanya ruang bagi masyarakat untuk dapat memunculkan potensi di daerah yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, Asas desentralisasi dilaksanakan menjadi jawaban dengan tujuan terciptanya pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah supaya daerah bisa menggali sebesar-besarnya potensi yang dimiliki.

Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah memberikan lebih banyak kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk menjalankan fungsi pemerintahan.

Dalam perspektif teori tata kelola pemerintahan, aparat pemerintah pada tingkat kecamatan merupakan garda terdepan dalam penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat di wilayah kecamatan, termasuk dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar. Undang-undang No. 23 tahun 2014 tentang tentang pemerintah daerah mendefinisikan bahwa tujuan pembentukan kecamatan yaitu meningkatkan koordinasi pemerintah, layanan publik serta pemberdayaan masyarakat di tingkat desa dan kecamatan. Camat memiliki dua fungsi utama terkait layanan dasar yaitu berkoordinasi dengan unit pelayanan dan mempromosikan akuntabilitas layanan. Dalam hal pembangunan desa, undang- undang desa mengidentifikasi tugas-tugas penting peran kecamatan untuk memfasilitasi dan mengawasi desa, termasuk proses pembangunan desa serta pengelolaan dan pelaporan keuangan desa.

Peraturan pemerintah No. 17 Tahun 2028 tentang Kecamatan mengklarifikasi lebih lanjut bahwa kecamatan bertanggung jawab atas pengawasan desa, koordinasi pemberdayaan masyarakat dan aktivitas antardesa, harmonisasi rencana dan aktivitas, serta fasilitasi upaya untuk mempercepat pencapaian SPM. Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah

(6)

11 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

juga memungkinkan kecamatan untuk mengalokasikan anggaran bagi program dan aktivitas sesuai tugas dan fungsi yang dimandatkan. Hal ini memberikan peluang lebih besar bagi kecamatan dalam merancang dan menerapkan program serta aktivitas yang spesifik untuk meningkatkan penyediaan layanan dasar kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mengoptimalisasikan wujud pelayan yang berkualitas.

2.2.3. Pendekatan Kajian Kelembagaan

Dalam kegiatan penyusunan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini, pendekatan kajian kelembagaan juga sangat diperlukan.

Berdasarkan definisinya organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana- parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Menurut Gareth Jones (2010:24), dikemukakan bahwa “organization isa tool people use to coordinate their actions to obtain something they desireor value.”

Dari pengertian tersebut organisasi memuat harapan melalui kerjasama orang- orang di dalamnya untuk memeroleh suatu nilai (value) yang disebut sebagai bentuk yang memuaskan (satisfying) melalui beberapa fase yang dilakukan pada fase input, conversion, and output. Dan pada setiap fase tersebut dijelaskan bahwa ada pengaruh cukup kuat dari lingkungan dimana organisasi tersebut berada.

Lebih lanjut dikatakan bahwa lingkungan tersebut merupakan seperangkat tenaga kerja dan kondisi operasional yang mempengaruhi kemampuan serta melampaui batas-batas organisasi untuk memperoleh dan menggunakan sumber daya yang tersedia dalam menciptakan nilai.

Stoner (1976) mengemukakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan- hubungan yang melalui orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama. Dari pengertian tersebut, organisasi diartikan sebagai suatu pola human relation dimana orang-orang tersebut berada dalam kekuasaan atasan (top manager), yang diperintah untuk mengejar tujuan secara bersama-sama. Kondisi ini memperlihatkan kepada kitaba hwa ada level tertentu yang posisinya berjenjang dengan kata lain ada yang memerintah dan ada orang yang diperintah.

Dalam konteks yang berbeda dengan ungkapan di atas, pengertian organisasi menurut James D. Mooney (dalam Wilis. 1996) dikatakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Ada penekanan perserikatan, yang menandakan kepada kita bahwa organisasi terdiri dari ikatan orang-orang yang memiliki tujuan dan keinginan yang sama kemudian secara bersama-sama tujuan dan keinginan tersebut dicapai. Selanjutnya Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt. (1984), berpendapat bahwa organisasi merupakan

(7)

12 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Dan Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Selanjutnya suatu proses dalam suatu organisasi merupakan resep untuk mencapai hasil dalam suatu organisasi yang telah dilaksanakan secara efektif (Widya Wicaksono & Evander Yosaputra Lesnusa, 2022) Tingkat kecamatan, karena lemahnya pengelolaan struktur organisasi perangkat daerah (OPD) pemerintah kecamatan, lemahnya kedudukan, kewenangan dan kapasitas.

Kabupaten yang sejajar dengan kabupaten yang masih memiliki ciri geografis pulau-pulau terpencil tentu membutuhkan dukungan infrastruktur. Semua keadaan ini mengarahkan untuk menyimpulkan bahwa realitas desentralisasi dalam upaya reformasi perspektif kelembagaan adalah desentralisasi berbanding terbalik dengan kontrol politik birokrasi (Muriany & Ruhunlela, 2021) Posisi struktural sangat strategis, sehingga kemungkinan untuk menjalankan kepentingan politik dan lainnya sangat terbuka (Atmojo, 2019).

Dari berbagai pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah suatu wadah, alat, pola, bentuk perserikatan dan bahkan sistem yang digunakan oleh dua orang atau lebih, mereka memiliki tujuan dan keinginan yang sama, dan untuk mencapai tujuan dan keinginan tersebut mereka melakukan koordinasi, saling berhubungan satu sama lain dalam bertindak, beraktivitas, dan bekerjasama atau melakukan fungsi-fungsi sesuai tingkatan masing-masing dengan memanfaatkan segala potensi sumber daya yang tersedia untuk memeroleh hasil berupa nilai/kepuasan yang dapat dirasakan oleh setiap orang dalam organisasi.

Berbagai teori kelembagaan diatas, dapat dipelajari dan disimpulkan bahwa dengan terbentuk dan diberikannya kewenangan kepada kecamatan untuk melaksanakan tugas dan fungsi Kecamatan dalam memberikan layanan publik yang berkualitas kepada seluruh masyarakat yang ada di wilayah kecamatan, seharusnya telah berjalan dengan baik dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat sesuai tujuan pembentukan kelembagaan atau organisasi oleh pemerintah.

2.2.4. Pendekatan Elemen yang Dianalisis

Elemen yang dianalisis dalam Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar ini, meliputi:

1. Relevansi: Peran kecamatan sebagai pusat pelayanan publik terhadap urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar di wilayah kecamatan;

2. Efisiensi: Efisiensi peran kecamatan sebagai pusat pelayanan publik terhadap urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar di wilayah kecamatan;

(8)

13 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

3. Efektivitas: Dampak yang ditimbulkan terhadap implementasi dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar;

4. Keberlanjutan: faktor keberhasilan dan tantangan yang dihadapi terhadap urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar di wilayah kecamatan, hal-hal yang perlu dipertahankan, ditingkatkan dan diperbaiki.

2.3. Metodologi,

2.3.1. Metode Pengumpulan Data

Dalam pelaksanaan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini, metode utama yang digunakan untuk pengumpulan data primer dan sekunder dalam rangka merealisasikan capaian/keluaran kegiatan, yaitu dilakukan dengan Metode Desk Study dan Wawancara.

1. Metode Desk Study

a. Mengidentifikasi dokumen peraturan dan kebijakan terkait, seperti Undang- undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Keputusan Menteri, dan laporan pelaksanaan program di tingkat daerah, jurnal, hasil kajian, laporan-laporan seminar/ workshop dan FGD yang pernah dilakukan, termasuk data-data statistik yang relevan dengan kegiatan Studi, baik yang bersumber dari pemberi pekerjaan maupun dikumpulkan dari sumber terkait lainnya;

b. Melakukan analisa terhadap implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018, termasuk menganalisis peraturan perundang-undangan terkait lainnya;

c. Membandingkan hasil antar wilayah untuk mengidentifikasi faktor keberhasilan dan tantangan terhadap dampak dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk memperoleh data dan informasi terkait studi antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai, Dalam hal ini, untuk mendapatkan kebutuhan data dan kondisi eksisting yang ada, dilakukan wawancara dan tanya jawab oleh tenaga ahli dengan pejabat dan stakeholder terkait dilingkungan Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan.

Secara teknis pelaksanaan wawancara ini akan dikoordinasikan dengan Tim Teknis. Hasil dari pelaksanaan pengumpulan data sekunder melaui wawancara akan dianalisis secara kualitatif sebagai masukan dalam merumuskan substansi laporan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia. Adapun jenis kebutuhan data dan sumber data dimaksud sebagaimana berikut:

(9)

14 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

Tabel 2.1. Jenis Kebutuhan Data dan Sumber Data

Jenis Data Keterangan Sumber Data

Data Sekunder Data sekunder adalah data-data yang sudah tersedia baik berupa dokumen kebijakan, perundangan maupun laporan pelaksanaan program di tingkat daerah

1. Kementerian Dalam Negeri 2. K/L Terkait 3. Pemerintah

Daerah Data Primer Data primer adalah data dan atau

informasi yang diperoleh pada saat wawancara dan Konsultasi yang melibatkan unit kerja terkait

Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan dan unit kerja terkait

2.3.2. Cakupan Data

Cakupan data yang dibutuhkan dalam kegiatan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini adalah perkiraan cakupan atau sasaran data/informasi yang bisa dikumpulkan. Cakupan data ni sangat penting untuk dirancang atau diperhitungkan sejak awal sehingga dapat dipastikan bahwa data dan informasi yang terkumpul mencukupi untuk melakukan analisa yang mendalam sehingga mampu mendukung tujuan dan keluaran yang hendak dicapai. Adapun cakupan data yang dibutuhkan atau dikumpulkan dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 2.2. Cakupan Data yang Dibutuhkan

No Data

Sumber

Klasifikasi Jenis

1. Peraturan Perundang-undangan terkait (i) pemerintahan daerah, (ii) standar pelayanan minimal, (iii) tata cara perencanaan, pengendalian, dan evaluasi pembangunan daerah, (iv) indikator kinerja utama di

lingkungan pemerintahan daerah yang relevan dengan kegiatan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar.

Sekunder Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan,

Kementerian Dalam Negeri

2. Laporan pelaksanaan program di tingkat daerah yang relevan dengan kegiatan Studi Dampak Peraturan

Sekunder a. Kementerian Dalam Negeri

(10)

15 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar.

b. Pemerintah Daerah 3. Media Massa, data statistic, jurnal,

hasil kajian, laporan-laporan seminar/ workshop dan FGD yang pernah dilakukan yang relevan dengan kegiatan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar.

Sekunder Primer

a. Kementerian Dalam Negeri b. K/L Terkait c. Media Massa d. Artikel Ilmiah

2.3.3. Analisa Data

Metode analisis yang dimaksud di sini adalah tehnik dan tingkat-tingkat analisa yang akan digunakan untuk menjawab kebutuhan atau tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan ini. Sebagaimana dipaparkan di dalam sub bab mengenai Ruang Lingkup dan Keluaran kegiatan yang dijelaskan di dalam KAK Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini, maka dapat digambarkan bahwa analisis yang akan dipakai sebagaimana berikut:

Tabel 2.3. Analisa Data

Domain Yang Akan Dianalisa Alat/Metode Analisa 1. Analisq isu dan permasalahan utama yang

dihadapi pemerintah kecamatan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar saat ini

Content Analysis (Analisa Situasi dan Konten/

Substansi) 2. Analisa terkait faktor keberhasilan dan

tantangan terhadap dampak dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan

Analisa Perbandingan

3. Analisa substansi regulasi/kebijakan

penyelenggaraan urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar, terutama PP 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan yang lebih baik kedepan

Analisa Regulasi/Kebijakan

4. Merumuskan dan menyepakati kebutuhan dan rekomendasi perbaikan implementasi PP 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar dalam bentuk laporan

Analisa strategi dan kebutuhan

(11)

16 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dijelaskan bahwa untuk mencapai tujuan dan keluaran yang diharapkan dalam kegiatan ini, diperlukan beberapa analisa yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut:

1. Analisis Interaktif Trianggulasi (Uji Data)

Metode “analisis interaktif” merupakan metode dasar dari apa yang disebut

“Trianggulasi Data”, yaitu sebuah upaya analisis untuk meyakini bahwa sebuah data/infomasi merupakan data yang absah, akurat, meminimalisir multi intepretatif, dan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Analisis interaktif sesungguhnya semacam analisis dialektik untuk menguji data, mendalami data, sekaligus mengintepretasi data. Intepretasi yang benar harus dilandasi atau didasari oleh data dan informasi yang benar. Untuk memperoleh informasi yang benar maka harus dilakukan pengkalifikasian dan reduksi data untuk membedakan mana data yang sesungguhnya tepat dan benar, dengan data-data atau informasi yang hanya merupakan pendukung saja atau mungkin sungguh tidak benar.

Cakupan substansi yang hendak dicapai dalam kegiatan ini, pasti memiliki data/informasi yang sangat luas aspeknya dan cakupannya mulai dari Pusat sampai daerah, melibatkan berbagai sektor dan institusi K/L terkait. Oleh karena itu segala upaya yang mengarah kepada tindakan kebijakan harus dilandaskan pada data. Berdasarkan hal itu, terkaitdengan tahap analisa kegiatan ini maka “Trianggulasi Data” menjadi sangat penting. Analisis interaktif terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu:

reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

2. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan dan informasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama penelitian berlangsung. Antisipasi akan adanya reduksi data sudah tampak ketika penelitian memutuskan kerangka konseptual wilayah penelitian, permasalahan penelitian, dan pendekatan pengumpulan data yang dipilih.

Tahapan selanjutnya adalah membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus, membuat partisi, dan menulis laporan-laporan ringkas berdasarkan tema-tema/domain. Reduksi data ini terus berlanjut sampai penulisan suatu penelitian selesai.

3. Penyajian Data

Penyajian data yang dikumpulkan dibatasi hanya sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian yang dimaksud meliputi berbagai jenis grafik, bagan, dan bentuk lainnya. Semuanya dirancang untuk menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan

(12)

17 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

mudah didapatkan. Dengan demikian dapat mempermudah penganalisisan dalam melihat apa yang terjadi, dan menentukan apakah penarikan kesimpulan yang benar sudah dapat dilakukan ataukah terus melangkah melakukan analisis yang berguna.

4. Penarikan Kesimpulan

Kegiatan analisis selanjutnya adalah menarik kesimpulan, yang dimulai dari pengumpulan data, pendefinisian suatu konsep, mencatat keteraturan, pola- pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi, alur sebab akibat, dan proposisi Kemudian menjadi keterangan yang lebih rinci sebagai kesimpulan. Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh.

Kesimpulan-kesimpulan yang ada dapat diverifikasi selama penelitian berlangsung. Tiga jenis analisis dan kegiatan pengumpulan data merupakan proses siklus dan interaktif.

Gambar 2.1. Proses Siklus Interaktif Triangulasi

2.3.4. Analisa Kebijakan

Sebuah kebijakan yang diimplementasikan tidak dapat diketahui pencapaiannya apabila tidak dilakukan evaluasi dan dianalisa dampaknya. Analisis kebijakan merupakan pengkajian yang dilakukan terhadap regulasi-regulasi yang sudah ditetapkan dan dilaksanakan dalam rangka mendukung kegiatan utama. Analisis kebijakan pada prinsipnya adalah analisis terhadap “content” (isi) peraturan perundangan terkait, seperti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Perpres dan Keputusan Menteri, baik di lingkungan Kemendagri maupun kementerian/lembaga terkait lainnya. Hasil analisa ini, akan dijadikan dasar untuk menilai apakah kebijakan yang diimplementasikan mencapai keberhasilan atau kegagalan, untuk selanjutnya perlu dilakukan perbaikan atau penghentian kebijakan dan diganti kebijakan lain yang lebih tepat.

(13)

18 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

Gambar 2.2. Kerangka Kerja Analisis Kebijakan

2.3.5. Kerangka Konseptual

Berdasarkan keseluruhan pemaparan teoretis dan empiris ini, maka kerangka konseptual yang menjelaskan keterkaitan konsep dalam Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.3. Kerangka Konseptual Pekerjaan

Amanat untuk mendorong Peningkatan Peran Kecamatan

Urusan Layanan Dasar Kecamatan

Analisa Dampak Kebijakan terhadap Urusan Pemerintahan Wajib

Pelayanan Dasar Kecamatan Isi Kebijakan

Implementasi Kebijakan

Dampak Kebijakan

Peningkatan Kualitas Layanan Dasar Kecamatan

Implementasi Kebijakan Peraturan

(14)

19 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

2.4. Program Kerja Kegiatan 2.4.1. Tahap Persiapan

Tahapan persiapan meliputi kegiatan-kegiatan seperti:

1. Melakukan konsolidasi internal Tim Konsultan dan koordinasi dengan Tim Teknis Pemberi Kerja;

2. Mendiskusikan dan menyepakati metode/pendekatan yang tepat dalam pelaksanaan pekerjaan;

3. Menyusun rencana/jadwal pekerjaan dengan menentukan output yang dihasilkan pada setiap tahap pelaksanaan pekerjaan, serta distribusi job-desk masing-masing personil;

4. Menyiapkan bahan-bahan referensi yang memiliki relevansinya dengan pelaksanaan pekerjaan serta peralatan penunjang lainnya;

5. Mendiskusikan dan menyepakati instrumen untuk tahap identifikasi variable;

6. Penyusunan Laporan Pendahuluan (Inception Report).

2.4.2. Tahap Analisis

Program kegiatan dalam Tahap Analisa ini meliputi kegiatan desk study:

1. Identifikasi Dokumen:

Mengidentifikasi dokumen kebijakan terkait, seperti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan Keputusan Menteri dan laporan pelaksanaan program di tingkat daerah.

2. Analisis Dokumen:

a. Analisis terhadap implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap urusan pelayanan dasar;

b. Membandingkan hasil antar wilayah untuk mengidentifikasi faktor keberhasilan dan tantangan terhadap dampak dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018;

c. Pelaksanaan Wawancara dengan narasumber Pejabat di lingkungan Ditjen Bina Adwil untuk mendapatkan data kondisi eksisiting kegiatan;

d. Analisa lanjutan dengan tujuan menghasilkan input strategi terkait implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap urusan pelayanan dasar;

e. Pelaksanaan FGD dengan unit-unit terkait di internal Ditjen Bina Adwil dan instansi/lembaga terkait lainnya (jika diperlukan);

f. Menyusun analisa dampak kebijakan;

g. Menyusun rekomendasi untuk Ditjen Bina Adwil dan pemerintah daerah.

2.4.3. Tahap Pengakhiran

Kegiatan dalam Tahap Pengakhiran ini meliputi:

1. Rapat pembahasan dan presentasi akhir Laporan kegiatan;

2. Finalisasi Laporan Akhir kegiatan;

3. Serah Terima Laporan Akhir.

(15)

20 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

2.5. Pelaporan Hasil Kegiatan

Sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap pelaksanaan kegiatan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini, maka pelaporan yang akan dipertanggung-jawabkan sebagaimana disampaikan pada tabel berikut:

Tabel 2.4. Pelaporan Kegiatan

No. Jenis Laporan Subtansi Jumlah Waktu

Penyerahan 1 Laporan

Pendahuluan (Inception Report)

Laporan Pendahuluan memuat:

a. Metodologi/pola pikir pendekatan;

b. Metode pelaksanaan pekerjaan yang dituangkan dalam program dan rencana kerja;

c. Instrument identifikasi d. Rencana Kerja.

Dalam bentuk hard copy dan dicetak

sebanyak 4 (empat) bundel.

Selambat- lambatnya 15 (lima belas) hari sejak SPMK diterbitkan.

2 Laporan Akhir (Final Report)

Laporan final adalah laporan akhir yang memuat keseluruhan laporan hasil kegiatan terkait studi dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 serta rekomendasi keberlanjutan kegiatan

Dalam bentuk hard copy dicetak sebanyak 4 (empat) bundel

disertai 1 unit flashdisk sebagai rekaman soft copy seluruh output

pekerjaan.

Selambat- lambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak SPMK diterbitkan.

2.6. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Jadwal pelaksanaan pekerjaan merupakan rincian operasional dari metodologi yang telah diuraikan didalam dokumen usulan teknis ini pada bab sebelumnya, jadwal ini disusun dengan memperhatikan beberapa aspek pelaksanaan kerja, seperti kesinambungan kerja, alokasi tenaga ahli yang akan terlibat, dan koordinasi antar tenaga ahli. Berikut ini jadwal pelaksanaan pekerjaan Studi Dampak Peraturan

(16)

21 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia.

Tabel 2.5. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

No Kegiatan Minggu Ke-

1 2 3 4 5 6 I Tahap Persiapan

1 Melakukan konsolidasi internal Tim Konsultan dan koordinasi dengan Tim Teknis Pemberi Kerja;

2 Mendiskusikan dan menyepakati metode/pendekatan yang tepat dalam pelaksanaan pekerjaan;

3 Menyusun rencana/jadwal pekerjaan dengan

menentukan output yang dihasilkan pada setiap tahap pelaksanaan pekerjaan, serta distribusi job-desk;

4 Menyiapkan bahan-bahan referensi yang memiliki relevansinya dengan pelaksanaan pekerjaan serta peralatan penunjang lainnya;

5 Mendiskusikan dan menyepakati instrumen untuk tahap identifikasi variable;

6 Penyusunan Laporan Pendahuluan (Inception Report).

II Tahap Analisis

1 Identifikasi data sekunder terhadap dokumen terkait dengan kebijakan, regulasi, dokumen-dokumen yang relevan dengan pekerjaan, dan laporan pelaksanaan program di tingkat daerah

2 Analisis terhadap implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap urusan pelayanan dasar;

3 Membandingkan hasil antar wilayah untuk

mengidentifikasi faktor keberhasilan dan tantangan terhadap dampak dari PP Nomor 17 Tahun 2018;

4 Pelaksanaan Wawancara dengan narasumber Pejabat di lingkungan Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan untuk mendapatkan data kondisi eksisiting kegiatan;

5 Analisa lanjutan dengan tujuan menghasilkan input strategi terkait implementasi PP Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap urusan pelayanan dasar;

6 Pelaksanaan FGD dengan unit-unit terkait di internal Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan dan instansi /lembaga terkait lainnya (jika diperlukan)

7 Menyusun analisa dampak kebijakan;

(17)

22 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

8 Menyusun rekomendasi untuk Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan dan pemerintah daerah.

III Tahap Pengakhiran

1 Rapat pembahasan dan presentasi akhir Laporan;

2 Finalisasi Laporan Akhir kegiatan;

3 Serah Terima Laporan Akhir.

Dari berbagai tahapan keseluruhan proses diatas, maka alur Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar di Indonesia ini dapat digambarkan ke dalam bagan alur sebagai berikut:

Gambar 2.4. Alur Pelaksanaan Kegiatan

Kesimpulan dan Rekomendasi Mengkaji Kebijakan

Peraturan terkait:

1. Undang-Undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Presiden 4. Peraturan Menteri

Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Wajib

Layanan Dasar Kecamatan di Indonesia

Analisis Dampak Kebijakan Hasil Identifikasi Dampak Kebijakan

Referensi

Dokumen terkait

penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara bidang urusan pemerintahan daerah dengan rumusan indikator

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan PP tersebut mencantumkan bahwa bidang pekerjaan umum merupakan bidang wajib yang menjadi

Rencana Strategis Kecamatan Manonjaya Tahun 2021-2026 2 program, kegiatan dan sub kegiatan pembangunan dalam rangka pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib dan/atau

Memimpin Kecamatan dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan dan koordinasi terhadap bawahan, penyelenggaraan urusan pemerintahan serta pelayanan teknis dan administratif sesuai

Dalam rangka menjalankan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar maka pemerintah melalui dinas sosial mengeluarkan Peraturan Menteri Sosial

Kebijakan umum urusan Wajib Perencanaan Pembangunan adalah Peningkatan efektifitas perencanaan dan pengendalian pembangunan Kota Surabaya yang terkoordinasi, terintegrasi, sinkron

Sedangkan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar meliputi: tenaga kerja; koperasi dan usaha kecil dan menengah; penanaman modal;