BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Provinsi Kepulauan Riau dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau , dengan wilayah yang sebagian besar terdiri dari lautan dan pulau-pulau yang tersebar dari Selat Malaka hingga Laut Natuna . Wilayah ini memiliki karakteristik geografis yang unik, dengan dominasi perairan laut yang menghubungkan berbagai pulau strategis. Keberadaan wilayah ini menjadi vital dalam konteks pengelolaan sumber daya air untuk mendukung kebutuhan masyarakat, terutama di daerah- daerah perkotaan seperti Kota Batam. Dengan kondisi geografis tersebut, pengelolaan sumber daya air di Provinsi Kepulauan Riau memerlukan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai , Provinsi Kepulauan Riau termasuk dalam Wilayah Sungai Strategis Nasional , yang pengelolaannya berada di bawah wewenang Pemerintah Pusat melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera IV . Wilayah Sungai Kepulauan Riau mencakup seluruh wilayah administratif Provinsi Kepulauan Riau, yaitu Kota Batam , Kota Tanjungpinang , Kabupaten Bintan , Kabupaten Karimun , Kabupaten Lingga , Kabupaten Natuna , dan Kabupaten Kepulauan Anambas . Pengelolaan wilayah sungai ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan air bagi kebutuhan domestik, pertanian, industri, dan lainnya, serta menjaga keberlanjutan ekosistem lingkungan.
Salah satu aspek utama dalam pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Kepulauan Riau adalah pendayagunaan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu bentuk pendayagunaan tersebut adalah pembangunan tampungan air baku , seperti Bendungan Sei Gong di Kota Batam. Bendungan ini dibangun pada tahun 2015–
2018 oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera IV dan dirancang untuk menjadi sumber air baku bagi masyarakat Kota Batam dengan kapasitas penyediaan air sebesar 400 liter/detik . Bendungan ini memiliki peran strategis dalam menyediakan air bersih untuk kebutuhan penduduk yang terus berkembang, serta mendukung aktivitas industri dan ekonomi di Kota Batam.
Pada tahun 2020–2021 , Balai Wilayah Sungai Sumatera IV melaksanakan Persiapan Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Sei Gong serta Persiapan Pengisian Awal Waduk . Namun, setelah pelaksanaan pengisian awal waduk selesai, pemilik/pengelola bendungan tidak
dapat langsung mengoperasikan waduk. Izin operasi bendungan hanya dapat diberikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat setelah mendapatkan rekomendasi dari Komisi Keamanan Bendungan (KKB) terkait evaluasi pelaksanaan pengisian awal waduk dan kesiapan operasi bendungan. Proses ini memastikan bahwa bendungan telah memenuhi standar keamanan, teknis, dan administratif sebelum dioperasikan secara penuh.
Sebagai tindak lanjut dari Persiapan Operasi dan Pemeliharaan , SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Sumatera IV akan melaksanakan kegiatan Lanjutan Sertifikasi Operasi Bendungan Sei Gong di Kota Batam pada Tahun Anggaran 2025 . Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa bendungan telah memenuhi standar keamanan, teknis, dan administratif sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri PUPR Nomor 27/PRT/M/2015 tentang Bendungan , sehingga dapat diterbitkan Sertifikat Izin Operasi Bendungan . Proses sertifikasi ini melibatkan analisis data teknis, evaluasi instrumentasi, uji operasi peralatan hidromekanikal, serta penyusunan dokumen pendukung seperti Pedoman Operasi dan Pemeliharaan (POP) dan Rencana Tindak Darurat (RTD).
Selain itu, kegiatan Lanjutan Sertifikasi Operasi Bendungan Sei Gong juga mencakup evaluasi geologi/geoteknik , hidrologi , instrumentasi , dan stabilitas bendungan . Evaluasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa bendungan aman dari risiko struktural, hidrolika, dan rembesan. Tim ahli yang terlibat dalam kegiatan ini mencakup tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti hidrologi , geologi/geoteknik , hidromekanikal , instrumentasi , bendungan , operasi dan pemeliharaan , serta keselamatan konstruksi . Hasil evaluasi dan analisis ini akan digunakan sebagai dasar untuk menyusun laporan teknis dan administratif yang mendukung proses sertifikasi.
Kegiatan Lanjutan Sertifikasi Operasi Bendungan Sei Gong diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Kota Batam dan sekitarnya. Selain memastikan keamanan dan kelayakan operasi bendungan, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya air, mendukung pembangunan ekonomi, serta menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan diterbitkannya Sertifikat Izin Operasi Bendungan , diharapkan Bendungan Sei Gong dapat berfungsi secara optimal sebagai sumber air baku yang andal, mendukung kebutuhan air bersih masyarakat, serta menjadi contoh pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan di wilayah strategis nasional.
I.2. Maksud dan Tujuan I.2.1. Maksud
Maksud dilakukannya kegiatan Lanjutan Sertifikasi Operasi Bendungan Sei Gong di Kota Batam adalah terselenggaranya proses sertifikasi operasi bendungan yang kualitas dan kuantitasnya terjaga dengan baik, sehingga memenuhi norma, standar, dan acuan teknis yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, termasuk Peraturan Menteri PUPR Nomor 27/PRT/M/2015 tentang Bendungan .
I.2.2. Tujuan
Tujuan dari pekerjaan Lanjutan Sertifikasi Operasi Bendungan Sei Gong di Kota Batam adalah:
1. Mendapatkan Dokumen Sertifikasi Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Sei Gong . 2. Memastikan bahwa seluruh persyaratan administratif, teknis, dan operasional telah
dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Menjamin keamanan, kelayakan, dan kesiapan operasi bendungan untuk mendukung fungsi utamanya sebagai penyedia air baku bagi masyarakat Kota Batam.
I.3. Sasaran
Sasaran dari kegiatan ini adalah:
1. Terlaksananya Lanjutan Sertifikasi Operasi Bendungan Sei Gong di Kota Batam secara optimal.
2. Ditetapkannya Sertifikat Izin Operasi Bendungan Sei Gong oleh Menteri PUPR setelah mendapatkan rekomendasi dari Komisi Keamanan Bendungan (KKB) .
3. Tersedianya dokumen pendukung sertifikasi yang lengkap, termasuk laporan analisis perilaku bendungan, evaluasi geologi/geoteknik, hidrologi, instrumentasi, serta pedoman operasi dan pemeliharaan.
I.4. Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan dari pekerjaan ini adalah:
1. Pemutakhiran Data :
Melakukan pemutakhiran data untuk memenuhi persyaratan sidang pleno Komisi Keamanan Bendungan (KKB) , termasuk data administratif, teknis, dan hasil pengisian awal waduk.
2. Diskusi Teknis Komisi Keamanan Bendungan :
Melakukan diskusi teknis dengan tim Komisi Keamanan Bendungan untuk membahas hasil analisis data, evaluasi keamanan bendungan, dan tindak lanjut rekomendasi.
3. Sidang Teknis Komisi Keamanan Bendungan :
Menghadiri dan menyampaikan hasil analisis teknis pada sidang teknis KKB , termasuk evaluasi geologi/geoteknik, hidrologi, stabilitas bendungan, dan hasil pembacaan instrumentasi.
4. Sidang Pleno Komisi Keamanan Bendungan :
Menghadiri sidang pleno KKB untuk mendapatkan rekomendasi akhir terkait kelayakan operasi bendungan.
5. Penyiapan Dokumen Pendukung :
Menyusun dokumen pendukung sertifikasi, seperti Pedoman Operasi dan Pemeliharaan (POP) , Rencana Tindak Darurat (RTD) , dan laporan analisis perilaku bendungan.
6. Pengawalan Proses Sertifikasi :
Mengawal proses sertifikasi hingga diterbitkannya Sertifikat Izin Operasi Bendungan Sei Gong , meskipun masa kontrak telah selesai.
I.5. Waktu Pelaksanaan Pekerjaan
Jangka waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah 150 (seratus lima puluh) hari kalender , terhitung sejak Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) diterbitkan.
I.6. Pedoman dan Standart Teknis
Standar teknis dan pedoman yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini meliputi:
1. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 01/SE/M/2019 tentang Pedoman Pengisian Awal Waduk .
2. Keputusan Dirjen SDA Nomor 199/KPTS/D/2003 tentang Pedoman Operasi dan Pengamatan Bendungan (Bagian 1 s.d. 5).
3. Peraturan Menteri PUPR Nomor 27/PRT/M/2015 tentang Bendungan .
4. Standar teknis lainnya yang dikeluarkan oleh Kementerian PUPR, termasuk standar terkait evaluasi keamanan bendungan, operasi, dan pemeliharaan.
5. Standar Nasional Indonesia (SNI) dan standar lainnya yang relevan dengan pekerjaan ini.
I.7. Lokasi Pekerjaan
Lokasi pelaksanaan terletak di Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang, Kota Batam.
Posisinya terletak pada koordinat 1°10'35.58" LU dan 104° 5'16.59" BT.
Gambar I.1. Peta Lokasi Pekerjaan
I.8. Manfaat Bendungan Sei Gong
Manfaat bendungan adalah untuk suplai air baku Kota Batam sebesar 400 liter per detik, yang digunakan untuk mensuplai 4 kecamatan, dengan kebutuhan air baku saat ini adalah 3.250 liter/detik.
I.9. Data Teknis Bendungan Sei Gong 1. Hidrologi
Luas DAS : 14,87 km2
Q PMF : 603,11 m3/dt
Q 1000 th : 461,40 m3/dt
Q 100 th : 229,98 m3/dt
Debit andalan (low flow) : 1,134 m3/dt Pasang surut maksimum : + 2,49 m Surut maksimum : + 0,17 m
Erosi tahunan : 3,8 mm
Sedimentasi 50 th : 2,84 juta m3
Kebutuhan : 400 lt/dt
2. Waduk
Elevasi dasar Sungai : + 0 m
Elevasi Muka air normal : + 9 m Elevasi muka air banjir : + 10,95 m Volume tampungan total : 11,795 juta m3 Volume tampungan efektif : 8,957 juta m3 Volume tampungan mati : 2,838 juta m3 Elevasi sedimen 50 tahun : + 4,5 m Luas genangan pada muka air banjir : 318 ha Luas genangan pada muka air normal : 258 ha 3. Bendungan
Tipe bendungan : urugan tanah homogen Elevasi puncak : + 12 m
Panjang : 280 m
Tinggi bendungan : 16 m
Lebar atas : 15 m
Lebar bawah : 71 m
Kemiringan lereng hulu : 1 : 3 Kemiringan lereng hilir : 1 : 3 Material tubuh bendungan
Timbunan batu hulu : 45.324,34 m3
Timbunan batu hilir : 42.913,99 m3 Timbunan tanah homogen : 195.469,66 m3
Rip – rap : 3.959,84 m3
Geotextile : 25.674,24 m2 Volume tubuh bendungan
Timbunan batu hulu : 45.324,34 m3 Timbunan batu hilir : 42.913,99 m3 Timbunan tanah homogen : 195.469,66 m3
Rip – rap : 3.959,84 m3
Geotextile : 25.674,24 m2 Gebalan rumput : 8.451,83 m2
Drainasi : U ditch dimensi 40 x 40 cm 4. Spillway
Debit inflow
Q PMF : 603,11 m3/dt
Q 1000 tahun : 461,40 m3/dt Q 100 tahun : 229,98 m3/dt Debit outflow
Q PMF : 199,49 m3/dt
Q 1000 tahun : 143,23 m3/dt Q 100 tahun : 63,25 m3/dt Debit banjir desain : 117 m3/dt Debit banjir PMF : 199,49 m3/dt
Tipe spillway : Ogee
Debit maksimum : 117 m3/dt Ambang peluapan
Elevasi peluapan : + 9 m
Lebar : 20 m
Saluran peluncur
Tipe : penampang persegi, pasangan beton K-225
Lebar : 20 m
Stilling basin : kolam olak 20 x 12 m, Elevasi + 3 m Saluran pelepasan
Tipe : penampang trapesium 1 : 1,5
Lebar : 20 m
Kemiringan : 0,093
Jembatan spillwa : I-Girder 6 spans, 8 x 21 m 5. Rumah Pompa
Konstruksi : beton bertulang K-225 Debit maksimum : 400 lt/dt
Tipe : submersible pump
Elevasi intake : + 4 m Elevasi ruang pompa : + 2,5 m Jumlah lobang intake : 3 lobang El. Pondasi intake hulu : + 3 m El. Pondasi pintu : + 2,5 m El. Pondasi ruang pompa : + 1 m El. Pondasi koperan : - 1 m El. Lantai atas : + 12 m
El. Atap : + 18,5 m
Panjang lantai hulu : Trash rack
Tipe : permanen
Jumlah : 3 unit
Dimensi : 3,3 x 7,3 m per unit Material : baja stainless Pintu roll elektrik
Jumlah : 1 unit
Dimensi : 2 x 2,2 m
Material : baja stainless
Hoist crane : kapasitas 10 ton Pompa submersible
Jumlah : 5 bh, terpasang 3 bh, 2 bh sebagai cadangan Debit efektif : 200 lt/dt
Debit maksimum : 220 lt/dt
Head efektif : 15 m
Head maksimum : 16 m
Hoist pump : kapasitas 5 ton Perpipaan
Panjang : 15 m
Material : plat baja JIS 3101 – SS, tebal 8 mm Genset
Tipe : ultra silent
Bahan bakar : solar
Rpm : 1500 rpm
Silinder : 4 silinder
Merk : Cummins
Dimensi : P 4,25 m x L 1,65 m x T 2,25 m
Jumlah : 2 unit
Kapasitas efektif : 300 Kva Kapasitas maksimum : 330 Kva 6. Jalan Akses Utama
Pavement
Tipe : rigid concrete K-350
Dimensi : T 0,2 m x L 8,0 m x P 850 m
Sistem : blok tiap blok 6 m
Kemiringan permukaan : 3 %
Lokasi : sta 0,00 – sta 850
Tanah pondasi
Tipe : galian dan timbunan dipadatkan
Nilai CBR : minimal 10 %
Trotoir
Tipe : paving blok
Dimensi : lebar 2 m
Drainasi : U ditch 40 x 40 cm
Gorong – gorong
Dimensi : Ø 1 m
Jumlah : 3 lokasi
7. Jalan Akses di Tubuh Bendungan Pavement
Tipe : rigid concrete K-350
Dimensi : T 0,2 m x L 7,0 m x P 280 m
Sistem : blok tiap blok 6 m
Kemiringan permukaan : 3 %
Lokasi : sta 0,00 – sta 275 Tanah pondasi
Tipe : galian dan timbunan dipadatkan
Nilai CBR : minimal 10 %
Trotoir
Tipe : paving blok
Dimensi : lebar 1 m
Drainasi : U ditch 40 x 40 cm
Gorong – gorong
Dimensi : Ø 1 m
Jumlah : 3 lokasi
8. Jalan Akses di Fasilitas dan Sarana Pavement
Tipe : rigid concrete K-350
Dimensi : T 0,2 m x L 8,0 m x P m
Sistem : blok tiap blok 6 m
Kemiringan permukaan : 3 %
Lokasi : di areal fasilitas dan sarana Tanah pondasi
Tipe : tanah asli bekas galian dipadatkan
Nilai CBR : minimal 10 %
Trotoir
Tipe : paving blok
Dimensi : lebar 1 m
Drainasi : U ditch 40 x 40 cm
Gorong – gorong
Penanaman rumput taman : jenis rumput jepang 9. Pemasangan Alat Instrumentasi
Extensometer/ inclinometer
Jumlah : 6 unit
Lokasi : Sta 0 + 050 (hulu dan hilir) Sta 0 + 125 (hulu dan hilir) Sta 0 + 200 (hulu dan hilir)
Pemasangan : pada saat konstruksi tubuh bendungan
Multilayer settlement/ inclinometer
Jumlah : 3 unit
Lokasi : Sta 0 + 050 (as)
Sta 0 + 125 (as) Sta 0 + 200 (as)
Pemasangan : pada saat konstruksi tubuh bendungan VW Piezometer 2 tip
Jumlah : 30 unit
Lokasi : Sta 0 + 050 (hulu, as, dan hilir) Sta 0 + 087,5 (hulu, as, dan hilir) Sta 0 + 125 (hulu, as, dan hilir) Sta 0 + 162,5 (hulu, as, dan hilir) Sta 0 + 200 (hulu, as, dan hilir)
Pemasangan : pada saat konstruksi tubuh bendungan OP Piezometer 2 tip
Jumlah : 9 unit
Lokasi : Sta 0 + 050 (hulu, puncak hilir, dan hilir) Sta 0 + 125 (hulu, puncak hilir, dan hilir) Sta 0 + 200 (hulu, puncak hilir, dan hilir) Pemasangan : pada saat konstruksi tubuh bendungan Patok geser
Jumlah : 32 unit
Lokasi : Sta 0 + 050 (+ 4 m hulu dan hilir, + 8 m hulu dan, + 12 m hulu dan hilir) Sta 0 + 125 (+ 4 m hulu dan hilir, + 8 m hulu dan, + 12 m hulu dan hilir) Sta 0 + 162,5 (+ 4 m hulu dan hilir, + 8 m hulu dan, + 12 m hulu dan hilir) Sta 0 + 200 (+ 4 m hulu dan hilir, + 8 m hulu dan, + 12 m hulu dan hilir) Sta 0 + 225 (+ 12 m hulu dan hilir)
Pemasangan : pada saat konstruksi tubuh bendungan Patok BM : 2 buah