Etnomatematika dalam penelitian ini mengkaji hubungan antara etnomatematika dengan kain lipat di 44 Kabupaten Lingga Kepulauan Riau. Eksplorasi yang dimaksud dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah eksplorasi untuk mencari konsep-konsep matematika yang terdapat pada kain lipat 44 Kabupaten Lingga Kepulauan Riau. Etnomatematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah konsep-konsep matematika yang terdapat pada kain lipat 44 Kabupaten Lingga Kepulauan Riau.
Etnomatematika
Hal ini sejalan dengan pendapat (Purwaningsih, 2019), yaitu etnomatematika adalah ilmu yang mempelajari hubungan matematika dengan budaya pada sekelompok orang tertentu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa etnomatematika adalah matematika dalam suatu budaya yang dilakukan oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang didalamnya terdapat aktivitas matematika. Kemudian Marsigit mengatakan bahwa etnomatematika adalah ilmu yang digunakan untuk memahami matematika yang diadaptasi oleh suatu budaya dan berfungsi untuk mengungkapkan hubungan antara budaya dan matematika (Pratiwi, 2020).
Aktivitas Fundamental Matematis
Kemudian Marsigit mengatakan bahwa etnomatematika adalah ilmu yang digunakan untuk memahami matematika yang diadaptasi oleh suatu budaya dan berfungsi untuk mengungkapkan hubungan antara budaya dan matematika (Pratiwi, 2020). penghitungan), ketelitian (akurasi atau ketelitian), taksiran, kesalahan penghitungan, pecahan, desimal, positif, negatif, besar tak terhingga, kecil tak terhingga, limit, pola bilangan, pangkat, hubungan bilangan, diagram panah, representasi aljabar, kejadian, peluang, dan representasi frekuensi. Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membandingkan dua objek dan kemudian dikembangkan menjadi banyak objek. Aktivitas tersebut dapat kita amati dalam kehidupan di sekitar kita, seperti perbedaan bentuk atap, tinggi rendahnya bangunan, dan lain-lain.
Kain Lipat 44
Kain mas kahwin mengikut adat Melayu Kepulauan Riau mempunyai lipatan istimewa apabila diserahkan. Kain mas kahwin yang dilipat 44 kali dalam pedimen perak atau tembaga yang diletakkan dengan kaki bermakna penuh liku-liku yang perlu diikuti. Material yang digunakan untuk melipat 44 ni selalunya kain songket, becual, bugis dll. yang masih mampan sehingga kini.
Penelitian yang relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Novelia (2021) dengan judul “Studi Etnomatematika Rumah Kebaya Betawi dan Implementasinya dalam Pembelajaran Matematika” hasil penelitian menunjukkan terdapat (1) aspek sejarah rumah Kebaya Betawi yaitu terdapat akulturasi budaya di dalamnya Rumah kebaya betawi dengan budaya bangsa asing yang sudah ada, datanglah ke Jakarta. Aspek filosofis rumah kebaya betawi adalah kebersamaan, kekeluargaan, solidaritas, privasi, simbol ilmu agama, pedoman hidup yang menggambarkan hubungan orang sekitar dengan Tuhan, ulet, pekerja keras, perlindungan dari roh jahat, banyak rejeki. , dinamis, keabadian, kebahagiaan, kekuatan penghuni rumah, simbol kehidupan, memberi cahaya, kemurnian dan kesopanan. Penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2021) Hasil penelitian ini adalah terdapat aktivitas dasar sejarah dan matematika dalam aktivitas permainan.
Selain itu, terdapat 9 aspek matematika dalam permainan tradisional bentik, yaitu angka; pola angka; jarak; satuan waktu; luas dan keliling; garis dan sudut; sosok dua dimensi; trigonometri; transformasi geometris; peluang; dan skala dan pemetaan. Aspek matematis yang ditemukan digunakan untuk membuat permasalahan matematika kontekstual dalam bentuk soal, yaitu 7 soal pada tingkat SD, 6 soal pada tingkat SMP, dan 6 soal pada tingkat SMA. Sedangkan yang membedakan adalah penelitian yang akan dilakukan fokus pada bagaimana eksplorasi etnomatematika pada kain lipat di Kabupaten Lingga Kepulauan Riau.
Kerangka Berfikir
Penelitian kualitatif merupakan jenis temuan penelitian yang diperoleh tidak melalui prosedur statistik atau bentuk perhitungan lain, melainkan melalui pengumpulan data (Astuti, 2021). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil penelitian bentuk etnomatematika dalam Kanvas Lipat 44 yang berkaitan dengan materi matematika.
Tempat dan Waktu Penelitian
Data dan sumber data
Kajian khusus ini dilakukan misalnya dengan narasumber yang dianggap lebih mengetahui permasalahan sehingga memudahkan peneliti dalam mendalami objek yang akan diteliti. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa subjek sumber pertama penelitian ini adalah sejarawan Melayu. Pelaku budaya yang memahami adat istiadat Malaysia dan merupakan salah satu anggota LAM di Kabupaten Lingga.
Kemudian narasumber kedua adalah guru matematika SMP N 10 Tanjungpinang yang berasal dari Kabupaten Lingga dan merupakan salah satu anggota LAM Bukit Bestari Tanjungpinang. Dan yang terakhir adalah ahli kain 44 sisi yang telah membuat kain lipit selama kurang lebih 30 tahun.
Instrumen Penelitian
Agar penelitian ini terfokus, peneliti terlebih dahulu menyiapkan instrumen penelitian, yang selanjutnya harus dijadikan acuan untuk membuat panduan wawancara. Dalam penelitian ini pedoman lembar wawancara memuat pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan peneliti kepada narasumber atau subjek penelitian yang telah ditentukan berkaitan dengan topik penelitian (Astuti, 2021). Grid dibuat untuk menjelaskan tujuan wawancara, sehingga pertanyaan wawancara dapat dikelompokkan sesuai tujuannya.
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara dalam penelitian ini berlangsung dalam bentuk tanya jawab, atau pewawancara dan penjawab atau responden dengan menggunakan pedoman wawancara. Teknik wawancara ini bersifat fleksibel dan terbuka yaitu dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah divalidasi oleh para ahli.
Teknik Analisis Data
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mencatat seluruh kegiatan selama proses penelitian. Data tersebut kemudian diurutkan berdasarkan jenisnya, misalnya berdasarkan enam kegiatan inti matematika dan permasalahan terkait matematika. Data yang diperoleh akan dideskripsikan dan dikelompokkan berdasarkan enam operasi matematika fundamental yang terdapat pada komoditas 44 kali lipat.
Berdasarkan hasil kategorisasi, data kemudian disintesis dengan mencari hubungan antara kategori setiap data yang diperoleh dengan aspek matematika. Setelah peneliti mengetahui enam aktivitas dasar matematika, maka peneliti dapat menerapkannya dalam bentuk masalah kontekstual bagi siswa dan menarik kesimpulan.
Pengecekan Keabsahan Data
Hasil Wawancara dan Dokumentasi
Kain lipat 44 merupakan kain khas yang digunakan untuk persembahan mahar tradisional Melayu di Kabupaten Lingga. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga narasumber di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah lipatan pada kain 44 kali lipat tidak sampai 44 kali lipat. Berdasarkan percakapan di atas dapat disimpulkan bahwa kain yang digunakan untuk membuat kain lipat 44 ini hanya menggunakan satu helai kain saja.
Berdasarkan hasil penggalan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa ukuran bentuk kain lipat 44 sesuai dengan ukuran kain yang digunakan. Sedangkan konsep matematis yang mengarah pada pembicaraan tersebut adalah bahwa kain berbentuk persegi yang digunakan untuk membuat kain lipat 44 mempunyai panjang dan lebar yang sama. Besar kecilnya lipatan pada kain lipat 44 tergantung dari besar kecilnya kain yang digunakan, namun sebagian besar lipatannya sepanjang penggaris.
Kemudian dari segi durasi yang digunakan dalam proses produksi 44 lembar kain lipat tersebut membutuhkan waktu tiga hingga lima menit. Selain itu, bentuk dan ukuran kain yang digunakan juga menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat kain lipat 44. Pada proses pelipatan kain 44 kali lipat, terdapat lipatan berbentuk persegi panjang sebelum lipatan berbentuk persegi.
Jadi, untuk kain yang dilipat 44 kali, bentuknya pipih banyak sekali, terutama yang berbentuk persegi dan segitiga.
Analisis Data a. Reduksi Data
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa lipatan kain lipatan 44 mempunyai bentuk yang rata pada saat merancang lipatan pada kain lipatan 44, seperti bentuk persegi pada proses pelipatan awal, persegi panjang. , dan segitiga. Data yang diperoleh dari reduksi data dikelompokkan berdasarkan aspek aktivitas matematika dasar kain lipat 44. Desain Bentuk Datar Kain Lipat 44 mempunyai lipatan berbentuk datar persegi, persegi panjang, dan segitiga.
Terdapat konsep matematis dari sudut berhitung yaitu banyaknya bangun persegi pada kain lipat 44, takarannya, panjang kain yang digunakan dan lamanya waktu yang diperlukan untuk membuat kain lipat 44 tersebut, dan desain, terdapat aktivitas datar pada saat proses pembuatan kain lipat 4. Konsep bentuk Pelat terdapat pada proses pembuatannya, lipatan kain lipat sebanyak 44 buah berbentuk persegi, persegi panjang dan segitiga. Sedangkan konsep satuan waktu terdapat pada lamanya waktu yang dihabiskan dalam proses pembuatan kain lipat 44.
Pembahasan
Sejarah dan Perkembangan Kain Lipat 44
Aktivitas matematika yang dimaksud adalah aktivitas dimana terjadi proses abstraksi dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke matematika atau sebaliknya. Hal ini sejalan dengan pandangan (Sahilda, dkk, 2020) bahwa matematika dapat diterapkan oleh kelompok budaya, seperti masyarakat perkotaan dan pedesaan, kelompok kerja, anak-anak pada kelompok umur tertentu dan masyarakat adat. Begitu pula dengan pendapat (Muyassaroh, dkk., 2021) yang menyatakan bahwa walaupun masyarakat tidak memahami matematika, mereka dapat menerapkan konsep-konsep matematika yang kompleks dalam aktivitas sehari-hari.
Hal ini diperkuat dengan pendapat narasumber yang mengatakan bahwa bahan kain yang biasa digunakan untuk membuat baju lipat 44 pastilah demikian.
Aktivitas Fundamental Matematis pada Kain Lipat 44
Ciri khas kain lipit adalah bentuknya yang empat kotak, yang membedakan kain lipit dengan kain lainnya. Begitu pula dengan peralatan lipat 44, ada beberapa aspek penghitungan yang diperkenalkan oleh perajin selama proses pembuatannya. Hasil penelitian ini, sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Astuti, 2021), terdapat aktivitas dasar sejarah dan matematis dalam kegiatan tradisional permainan bento, menurut Bishop terdapat aktivitas berhitung dalam menghitung jumlah permainan bento dan menghitung lamanya waktu bermain. 2) Aspek pengukuran.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa proses pembuatan benda lipat 44 membutuhkan waktu tiga hingga lima menit. Umumnya ukuran kain yang digunakan pada proses awal pembuatan kain lipat adalah panjang 30 hingga 50 cm. Kain songket sangat mudah dilipat karena mempunyai bahan yang lembut dan kaku sehingga tidak mudah bengkok.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan (Panjaitan, dkk., 2021) juga menunjukkan bahwa aspek pengukuran terdapat pada kain tenun songket Melayu Sambas. Dalam tahap menenun, penenun harus menentukan panjang benang lusi untuk membuat sebuah kain, biasanya untuk membuat 1 kain panjangnya 2 meter. . 3) Aspek desain. Aspek desain yang terdapat pada kain lipat 44 dibandingkan dengan kain berbentuk persegi sering digunakan untuk membuat kain lipat 44 karena mudahnya membentuk empat segitiga pada awal lipatan. Kain berbentuk persegi panjang sebaiknya dilipat terlebih dahulu secara merata agar proses pelipatan awal lebih mudah.
Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya (Panjaitan, dkk., 2021) menunjukkan bahwa aspek pengukuran hadir pada saat menggambar motif kertas kotak-kotak pada kain tenun songket Melayu Samba.
Implementasi dalam Pembelajaran Matematika
Tina ingin membuat kain lipat 44 untuk acara pernikahan dengan menggunakan ukuran kain yang berbeda yaitu kain A dan kain B. Bahan pipih kain lipat 44 berbentuk persegi dan proses pembuatan kain lipat 44 memiliki lipatan persegi, persegi panjang dan segitiga. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kain lipat 44 digunakan untuk hadiah mahar pernikahan. Kain yang digunakan untuk membuat kain lipat 44 antara lain kain telepuk, kain songket, dan kain lembut yang mudah dilipat.
Tidak ada catatan sejarah mengenai kain lipat 44, namun yang jelas kain lipat sudah ada pada masa kerajaan Melayu sebelumnya. Kain lipat 44 tersebut saat ini masih digunakan oleh masyarakat Melayu Kabupaten Lingga bahkan menjadi salah satu persembahan wajib setelah sirih. Aspek pengukuran meliputi pengukuran lipatan pada kain lipat 44 dan ukuran sudut kain, dan aspek desain meliputi kain berbentuk persegi lebih mudah dibentuk dengan kain lipat 44 dan tidak ada bagian yang sulit dalam melipat. kainnya 44 kali lipat.
Bahan ajar matematika berkaitan dengan aspek matematika 44 kain lipat yaitu satuan waktu dan luas keliling bangun datar.
Saran 1. Bagi Peneliti