1 A. Latar Belakang Masalah
Sistem pencernaan merupakan suatu saluran jalan makanan atau nutrisi dan jalan masuk (input) sampai dengan keluaran (ekskresi atau eliminasi). Secara anatomis sistem pencernaan atau sering disebut sistem digestivus atau sistem gastrointestinal terdiri atas berbagai macam organ dari rongga mulut sampai dengan anus. Saluran pencernaan merupakan suatu saluran yang mirip tabung dengan panjang sekitar 9 m (30 kaki), yang memanjang dari mulut sampai anus. Jaringan tersusun atas 4 lapisan dari dalam ke luar, yaitu mukosa, submukosa, otot, dan serosa. Saluran pencernaan dikendalikan oleh saraf simpatis melalui susunan saraf autonom dan parasimpatetis. Saraf simpatis bersifat menghambat (inhibisi) dan saraf parasimpatetis bersifat merangsang (eksitasi) (Dermawan&Tutik, 2010).
Gangguan pencernaan merupakan salah satu gangguan penyakit yang terjadi pada bagian pencernaan manusia, gangguan pencernaan ini sendiri menyebabkan gangguan pada aktivitas yang sedang dijalankan oleh penderitanya. Hal ini disebabkan oleh rasa mual, mulas, dan tak bertenaga.
Penyebab penyakit gangguan pencernaan yang paling utama ini adalah pola makan yang tidak sehat. Macam-macam penyakit pada sistem pencernaan ini adalah; diare, ambeien, sembelit, gastritis, divertikulitas, dan salah satunya adalah appendisitis (Pearce, 2009).
Diare adalah kondisi yang didefinisikan oleh peningkatan frekuensi defekasi (lebih dari 3 kali sehari), peningkatan jumlah feses (lebih dari 200 gr per hari) dan perubahan konsistensi (cair) (Brunner&Suddart, 2014). Menurut data WHO, hampir 1,7 miliar kasus diare terjadi pada anak dengan angka kematian sekitar 525.000 pada anak balita tiap tahunnya. Diperkirakan 82%
kematian akibat gastroenteritis rotavirus terjadi pada negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika, di mana akses kesehatan dan status gizi masih menjadi masalah (WHO, 2017)
Data profil Kemenkes Republik Indonesia menyebutkan tahun 2017 jumlah kasus diare yang ditemukan sekitar 7 juta penderita dengan jumlah kematian 1.289, dan sebagian besar (70-80%) terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun. Seringkali 1-2% penderita diare akan jatuh dehidrasi dan kalau tidak segera tertolong 50-60% meninggal dunia. Dengan demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya (Kemenkes RI, 2017).
Untuk skala Provinsi Jawa Barat, berdasarkan dari data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017, penderita diare pada tahun tersebut adalah 1,2 juta kasus atau yang paling banyak di seluruh Indonesia pada tahun itu.
Anak dengan angka kematian akibat diare adalah 2.5%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 1.7% dengan jumlah penderita diare adalah 3.661 anak (Kemenkes RI, 2017).
Di kota Bandung sendiri berdasarkan data yang diambil dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, angka penderita diare pada tahun 2016 yaitu sebanyak 51.399 penderita. Jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 56.514 penderita (Dinkes Kota Bandung, 2016).
Sementara itu angka penderita diare di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung adalah yang terbanyak dari tiga penyakit yang ada di ruangan tersebut, yaitu sebanyak 194 penderita (Dengue Fever 165, Bronchopneumonia 159) dengan data yang diambil dari bulan Oktober 2018 sampai Maret 2019 (Data Ruang Sakura RSUD Kota Bandung). Dampak dari diare ini klien akan kehilangan cairannya, dan jika lebih banyak kehilangan cairan (10% cairan yang hilang) klien berisiko mengalami kematian (Annisa, 2015).
Salah satu sarana air bersih (SAB) yang memiliki pengaruh besar terhadap kejadian diare adalah sumber air minum. Balita yang mengkonsumsi air minum yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko menderita diare 2,61 kali lebih besar dibandingkan dengan balita yang mengonsumsi air minum yang memenuhi syarat (Azkiya, 2014).
Melihat uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas dan mempelajari lebih dalam tentang gambaran asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan sistem pencernaan diare.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkaan uraian latar belakang, maka penulis merumuskan masalah dalam studi kasus ini adalah “Bagaimana Gambaran Asuhan Keperawatan Pada An. R (14 Bulan) Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung?”
C. Tujuan Studi Kasus
Adapun tujuan penulisan dari studi kasus ini adalah:
1. Tujuan Umum
Mendapatkan Gambaran Asuhan Keperawatan Pada An. R (14 Bulan) Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengkaji An. R (14 Bulan) Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung.
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada An. R (14 Bulan) Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung.
c. Mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada An. R (14 Bulan) Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung.
d. Mampu melakukan implementasi asuhan keperawatan pada An. R (14 Bulan) Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung.
e. Mampu melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada An. R (14 Bulan) Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare di Ruang Sakura Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung.
D. Manfaat Studi Kasus
Studi Kasus ini diharapkan memberikan manfaat bagi:
1. Masyarakat
Diharapkan dapat digunakan masyarakat sebagai informasi dan pengetahuan tentang penyakit diare, bahwa diare merupakan masalah kesehatan utama yang harus dicegah, diwaspadai dan diberikan pertolongan dengan segera, jika tidak, masalah diare dapat mengancam korban jiwa. Serta untuk menambah masukan bagi setiap orang akan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
2. Bagi Pengembangan Ilmu dan Teknologi Keperawatan
Hasil studi kasus diharapkan dapat menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan bidang keperawatan dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan diare.
3. Penulis
Memperoleh pengalaman yang nyata dalam mengaplikasikan asuhan keperawatan dengan gangguan sistem pencernaan diare.