BAB II
TINJAUAN TEORITIS SASARAN PELAYANAN
A. Tinjauan tentang Kepercayaan Diri
1. Pengertian Kepercayaan Diri
Mastuti (2017:35) berpendapat bahwa kepercayaan diri merupakan sikap mental seseorang dalam menilai diri maupun objek sekitarnya sehingga orang tersebut memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuannya. Percaya diri sangat bermanfaat dalam setiap keadaan, percaya diri menyatakan seseorang bertanggung jawab atas perbuatannya. Percaya diri ini diwujudkan dalam menatap orang lain sewaktu berbicara, tidak melipat kedua tangan seperti kedinginan sewaktu berbicara kepada orang lain, tidak mengalihkan pandangan pada saat berbicara kepada orang lain dan cepat mendengar dari pada berbicara. Sikap percaya diri dibentuk dengan belajar terus, tidak takut untuk berbuat salah dan menerapkan pelajaran yang sudah diketahui sebelumnya.
Kepercayaan diri menurut Lauster (2018:4). Berpendapat bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap / keyakinan akan kemampuan diri sendiri, sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang di inginkan, dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan/situasi yang dihadapinya (Fatimah, 2016:146). Menurut Sukarman
(2015:54) sikap percaya diri merupakan suatu bentuk perilaku positif dan rasa optimis yang dimiliki oleh setiap individu dalam memandang setiap usaha dan tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-harinya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian kepercayaan diri adalah sikap dan perilaku positif yang di tanamkan dari alam bawah sadar kepada alam bawah sadar bahwasanya individu yang mempunyai kepercayaan diri akan merasa mampu untuk mencapai kesuksesan yang diinginkannya, baik terhadap dirinya sendiri, lingkungan sosial, maupun terhadap masalah yang dihadapinya’
karena perilaku dan sikap positif yang di bawa oleh alam bawah sadarnya.
2. Ciri-Ciri Percaya Diri
Lauster dalam Muhammad Busro, berpendapat bahwa ada beberapa karakteristik untuk menilai kepercayaan diri individu, diantaranya:
a. Percaya kepada kemampuan sendiri, yaitu suatu keyakinan atas diri sendiri terhadap segala fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan kemampuan individu untuk mengevaluasi serta mengatasi fenomena yang terjadi.
b. Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, yaitu dapat bertindak dalam mengambil keputusan terhadap apa yang dilakukan secara mandiri tanpa adanya keterlibatan orang lain. Selain itu, mempunyai kemampuan untuk meyakini tindakan yang diambilnya.
c. Memiliki konsep diri yang positif, yaitu adanya penilaian yang baik dari dalam diri sendiri, baik dari pandangan maupun tindakan yang dilakukan menimbulkan rasa positif terhadap diri sendiri.
d. Berani mengungkapkan pendapat, yaitu adanya suatu sikap untuk mampu mengutarakan sesuatu dalam diri yang ingin diungkapkan kepada orang lain tanpa adanya paksaan atau hal yang dapat menghambat pengungkapan perasaan tersebut.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri
Menurut Anthony (2011:37), faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri individu terdiri atas dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal.
a. Faktor Internal
1) Konsep Diri
Terbentuknya rasa percaya diri pada seseorang diawali dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dari suatu pergaulan kelompok, pergaulan kelompok memberikan dampak yang positif juga dampak negatif.
2) Harga Diri
Harga diri adalah penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Orang yang memiliki harga diri tinggi akan menilai dirinya secara rasional bagi dirinya serta mudah mengadakan hubungan dengan individu lain.
3) Kondisi Fisk
Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada kepercayaan diri, fisik yang sehat dapat membantu dalam meningkatkan kepercayaan diri yang kuat sedangkan fisik yang kurang baik menyebabkan lemah dalam mengembangkan kepercayaan diri.
4) Pengalaman Hidup
Kepercayaan diri di peroleh dari pengalaman yang mengecewakan karena dari pengalaman yang mengecewakan tersebut dapat muncul rasa rendah diri sehingga nanti timbul kepercayaan diri yang kuat.
b. Faktor Eksternal
1) Pendidikan
Pendidikan mempengaruhi rasa kepercayaan diri seseorang. Tingkat pendidikan yang rendah akan cenderung di bawah kekuasaan yang lebih pandai sedangkan individu yang pendidikannya lebih tinggi cenderung mandiri dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
2) Pekerjaan
Pekerjaan dapat mengembangkan kreativitas dan rasa kepercayaan diri, kepuasan dan rasa bangga didapat karena mampu mengembangkan diri.
3) Lingkungan dan Pengalaman Hidup
Jangkauan lingkungan yang dimaksud yaitu lingkungan keluarga, teman sebaya dan masyarakat, dukungan yang baik diterima dari lingkungan keluarga seperti anggota keluarga yang berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi. Dalam lingkungan masyarakat semakin bisa memenuhi norma dan diterima masyarakat.
4. Aspek-Aspek Kepercayaan Diri
Menurut Rini (2016:65) orang yang mempunyai kepercayaan diri akan mampu bergaul secara fleksibel, mempunyai toleransi yang cukup baik, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain dalam bertindak serta mampu menentukan langkah- langkah pasti dalam kehidupannya. Individu yang mempunyai kepercayaan diri akan terlihat lebih tenang, tidak memiliki rasa takut, dan mampu menunjukkan rasa kepercayaan dirinya pada semua orang.
Terdapat beberapa aspek kepercayaan diri positif yang dimiliki seseorang seperti yang telah diungkapkan oleh Lauster (2015:4) sebagai berikut:
a. Percaya akan kemampuan diri adalah sikap positif seseorang tentang dirinya bahwa mengerti sungguh-sungguh akan apa yang dilakukannya.
b. Optimis yaitu sikap seseorang yang selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuannya.
c. Objektif yaitu orang yang percaya diri memandang permasalahan atau segala sesuatu sesuai dengan kebenaran semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri.
d. Bertanggung jawab adalah kesediaan seseorang untuk menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.
e. Rasional dan realistis yaitu analisis terhadap suatu masalah, suatu hal, suatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang di terima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.
Dari penjabaran oleh ahli diatas dapat disimpulkan bahwa aspek yang mempengaruhi kepercayaan diri adalah keyakinan akan kemampuan diri sendiri dengan cara menyikapi hal positif, selalu optimis dengan memandang baik dalam menghadapi segala hal tentang diri sendiri, memandang permasalahan yang dihadapi dengan rasa percaya diri, bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan, menyikapi permasalahan yang dihadapi dengan rasional dan realistis sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.
B. Tinjauan tentang Bullying
1. Pengertian Bullying
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah bullying merupakan padanan kata dari perundungan. Perundungan berasal dari kata rundung yang memiliki arti mengganggu; mengusik terus menerus; menyusahkan. Perundungan berarti proses, cara, perbuatan merundung yang dapat diartikan sebagai seseorang yang menggunakan kekuatan untuk menyakiti atau mengintimidasi orang-orang yang lebih lemah dari pelaku bullying.
Bullying juga didefinisikan sebagai kekerasan fisik dan psikologis yang dilakukan seseorang atau kelompok, terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya dalam situasi di mana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang itu atau membuat dia tertekan (Wicaksana, 2008). Bullying merupakan tindakan yang dilakukan seseorang secara sengaja membuat orang lain takut atau terancam (Elliot, 2005).
Berdasarkan pendapat para ahli dan tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian bullying adalah tindakan agresif yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang tidak seimbang terhadap kekuatan dan kemampuan yang lebih lemah dan yang di lakukan dengan tujuan menyakiti atau mengintimidasi orang-orang yang lebih lemah dari pelaku bullying.
2. Bentuk-Bentuk Bullying
Adapun bentuk-bentuk bullying menurut Coloroso (2014:81) terbagi menjadi beberapa bentuk diantaranya, yaitu:
a. Bullying Fisik
Penindasan atau tindakan untuk menyakiti orang lain yang disertai dengan adanya kontak fisik. Penindasan ini merupakan jenis tindakan yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan yang lain. Bentuk dari bullying secara fisik diantaranya menendang, mencubit, menampar, meludahi, memukul, merusak barang, memalak, menggigit, memiting, dan memilin telinga.
b. Bullying Verbal
Penindasan atau tindakan untuk menyakiti orang lain secara lisan atau dengan menggunakan bahasa verbal. Bentuk dari bullying secara verbal diantaranya memanggil dengan nama panggilan yang buruk, mengolok-olok, menyebarkan isu buruk, mengancam, berkata kasar, dan mengkritik kejam.
c. Bullying Psikis
Penindasan psikis merupakan pelemahan harga diri korban secara sistematis melalui pengucilan atau pengabaian dan mempermalukan. Jenis penindasan ini paling sulit dideteksi dari luar. Bentuk dari bullying secara psikis diantaranya pengucilan, pengabaian, mempermalukan.
3. Faktor-Faktor Mempengaruhi Perilaku Bullying
Bullying terjadi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja tetapi setiap bagian yang ada di sekitar individu juga turut memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam munculnya perilaku tersebut. Menurut Andri Priyatna (2010:22) mengemukakan bahwa faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Faktor Keluarga
Pola asuh dalam suatu keluarga mempunyai peran dalam pembentukan perilaku anak terutama pada munculnya perilaku bullying. Keluarga yang menerapkan pola asuh permisif membuat anak terbiasa untuk bebas melakukan segala sesuatu yang diinginkannya. Anak pun juga menjadi manja, akan
memaksakan keinginannya. Anak juga tidak tahu letak kesalahannya ketika ia melakukan kesalahan sehingga segala sesuatu yang dilakukannya dianggapnya sebagai suatu hal yang benar. Begitu pula dengan pola asuh yang keras, yang cenderung mengekang kebebasan anak. Anak pun terbiasa mendapatkan perlakuan kasar yang nantinya akan dipraktikkan dalam pertemanan nya bahkan anak akan menganggap hal tersebut sebagai hal yang wajar.
Anantasari (2014:76) menyatakan bahwa lingkungan keluarga si anak apabila cenderung mengarah pada hal-hal negatif seperti sering terjadi kekerasan (memukul, menendang meja dan lain-lain), sering memaki-maki dengan menggunakan kata kotor, sering menonton acara televisi yang mana terdapat adegan-adegan kekerasan dapat berimbas pada perilaku anak. Sifat anak yang cenderung meniru (imitation) akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilihatnya. Selain itu anak akan membentuk kerangka pikir bahwa perilaku yang sering dilihatnya merupakan hal yang wajar bahkan perlu untuk dilakukan.
b. Faktor Pergaulan
Teman sepermainan yang sering melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain akan berimbas kepada perkembangan si anak. Anak juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh teman-temannya.
Selain itu anak baik dari kalangan sosial rendah hingga atas juga melakukan bullying dengan maksud untuk mendapatkan pengakuan serta penghargaan dari teman-temannya.
4. Dampak Bullying
Bullying memberikan dampak negatif terhadap pelaku dan korban. Dampak terbesar dialami oleh korban bullying (Soedjatmiko, 2013). Dampak yang dialami oleh korban bullying adalah mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah (low psychological well-being) dimana korban akan merasa tidak nyaman, takut, merasa terasingkan serta menurunnya rasa percaya diri, penyesuaian sosial yang buruk di mana korban merasa takut ke sekolah bahkan tidak mau sekolah dan menarik diri dari pergaulan (Akbar, 2013). Bullying merupakan tindakan intimidasi bagi anak. Intimidasi secara fisik ataupun verbal dapat menimbulkan depresi. Depresi pada anak-anak dan remaja diasosiasikan dengan meningkatnya perilaku bunuh diri (Firmiana, 2013)
C. Tinjauan tentang Interaksi Sosial
1. Pengertian Interaksi Sosial
Walgito (2012) mengemukakan interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, sehingga terdapat hubungan yang saling timbal balik. Hubungan tersebut dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Adapun Basrowi (2015) mengemukakan interaksi sosial adalah hubungan dinamis yang mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan
kelompok, maupun orang dengan kelompok manusia. Bentuknya tidak hanya bersifat kerja sama, tetapi juga berbentuk tindakan, persaingan, pertikaian dan sejenisnya.
Menurut Sarwono dan Meinarno (2011) interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara individu dengan individu lain, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok lain.
Berdasarkan beberapa uraian diatas data disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi, mengubah dan memperbaiki perilaku yang berlangsung baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.
2. Aspek-Aspek Interaksi Sosial
Louis (Toneka, 2010) mengemukakan interaksi sosial dapat berlangsung apabila memiliki beberapa aspek berikut:
a. Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi masa lampau, kini dan akan datang, yang menentukan sifat dan aksi yang sedang berlangsung;
b. Adanya jumlah perilaku lebih dari seseorang; dan c. Adanya tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Soekanto (2002) mengemukakan aspek interaksi sosial yaitu:
a. Aspek Kontak Sosial
Aspek kontak sosial merupakan peristiwa terjadinya hubungan sosial antara individu satu dengan lain. Kontak yang terjadi tidak hanya fisik tetapi juga secara simbolik seperti senyum, jabat tangan.
b. Aspek Komunikasi
Komunikasi adalah menyampaikan informasi, ide, konsepsi, pengetahuan dan perbuatan kepada sesamanya secara timbal balik sebagai penyampai atau komunikator maupun penerima atau komunikan. Tujuan utama komunikasi adalah menciptakan pengertian bersama dengan maksud untuk mempengaruhi pikiran atau tingkah laku seseorang menuju ke arah positif.
3. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
Interaksi sosial secara umum dapat dipengaruhi oleh perkembangan konsep diri dalam seseorang, terkhusus lagi dalam hal individu memandang positif atau negatif terhadap dirinya, sehingga ada yang menjadi pemalu atau sebaliknya dan akibatnya kepada masalah hubungan interaksi sosialnya. Menurut Monks dkk
(2002) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi interaksi sosial yaitu:
a. Jenis kelamin, Kecenderungan laki-laki untuk berinteraksi dengan teman sebaya/sejawat lebih besar daripada perempuan.
b. Kepribadian ekstrovert, Orang-orang ekstrovert lebih konformitas daripada introvert.
c. Besar kelompok. Pengaruh kelompok menjadi makin besar bila besarnya kelompok semakin bertambah
d. Interaksi orang tua. Suasana rumah yang tidak menyenangkan dan tekanan dari orang tua menjadi dorongan individu dalam berinteraksi dengan teman sejawatnya.
e. Pendidikan. Pendidikan yang tinggi adalah salah satu faktor dalam mendorong individu untuk interaksi, karena orang yang berpendidikan tinggi mempunyai wawasan pengetahuan yang luas, yang mendukung dalam pergaulannya
4. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Interaksi sosial yang terjadi antara orang perorangan atau orang dengan kelompok mempunyai hubungan timbal balik dan dapat tercipta oleh adanya kontak sosial dan komunikasi yang menimbulkan berbagai bentuk interaksi sosial. Sarwono dan
Meinarno (2009) mengemukakan bentuk-bentuk interaksi sosial itu meliputi:
a. Kerja sama, adalah suatu kegiatan yang dilakukan bersama- sama untuk mencapai suatu tujuan dan ada unsur saling membantu satu sama lain.
b. Persaingan, yaitu suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk meniru atau melebihi apa yang dilakukan atau dimiliki oleh orang lain.
c. Konflik, merupakan suatu ketegangan yang terjadi antara dua orang atau lebih karena ada perbedaan cara pemecahan suatu masalah.
d. Akomodasi, suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk mengurangi ketegangan, perbedaan, dan meredakan pertentangan dengan melakukan kompromi sehingga terjadi suatu kesepakatan dengan pihak lain yang bersangkutan.
D. Tinjauan tentang Intervensi Pekerja Sosial Terhadap Korban Bullying
1. Pengertian Pekerjaan Sosial
Zastrow (2017) menyatakan bahwa pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu-individu, kelompok-kelompok, dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam
berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan.
Pengertian pekerjaan sosial menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan sosial, pekerja sosial profesional adalah seseorang yang bekerja, baik di lembaga pemerintahan maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial, dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan/atau pengalaman praktik pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan sosial adalah suatu kegiatan profesional membantu individu, kelompok, dan masyarakat guna memulihkan dan meningkatkan fungsi sosialnya serta menciptakan kondisi yang memungkinkan mereka mencapai tujuan.
2. Tujuan pekerjaan
Tujuan dari pekerjaan sosial menurut Curriculum Study dalam buku Introduction Social to Work adalah perbaikan fungsi sosial dimana kebutuhan seperti peningkatan fungsi sosial dan individual dapat dirasakannya.
Tujuan profesi Pekerjaan Sosial menurut Sugeng Pujileksono (2018: 19) adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan kemampuan seseorang dalam pemecahan masalah.
b. Menghubungkan orang dan sistem sehingga dapat menyediakan sumber, pelayanan dan kesempatan.
c. Meningkatkan efektivitas operasional sistem secara manusiawi.
d. Memberikan kontribusi pada pengembangan dan penyempurnaan perumusan dan implementasi kebijakan sosial.
3. Peran Pekerja Sosial dalam Penanganan Korban Bullying
Adapun peranan yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial menurut Sheafor san Charels Horejsi (2003) yang diantaranya relevan digunakan dalam penanganan korban bullying adalah:
a. Broker atau penghubung, seorang pekerja sosial berperan sebagai broker untuk membantu korban bullying dalam memperoleh sistem sumber yang dapat membantu penyelesaian masalahnya. Sistem sumber tersebut diantaranya psikolog atau psikiater serta puskesmas atau rumah sakit tempat klien memperoleh pengobatan.
b. Enabler atau pemungkin, seorang pekerja sosial berperan sebagai enabler untuk membantu klien dalam menghasilkan perubahan-perubahan yang diinginkan dalam berbagai aspek.
c. Fasilitator, pekerja sosial berperan sebagai fasilitator dalam membantu klien memperoleh kebutuhan-kebutuhan terkait perubahan yang ingin dikehendaki.
d. Edukator, seorang pekerja sosial berperan sebagai edukator untuk memberikan informasi-informasi yang bersifat mendidik kepada korban bullying terutama
kepada pelaku bullying. Hal tersebut dilakukan guna memberikan pemahaman agar terciptanya perubahan ke arah yang lebih baik.
e. Motivator, pekerja sosial berperan sebagai pemberi motivasi kepada korban bullying dalam proses pemecahan masalah maupun dalam menjalankan kegiatan sehari-hari untuk memunculkan perilaku yang diinginkan.
f. Konselor, sebagai tempat bagi klien untuk berkeluh kesah dan menceritakan segala permasalahannya.
E. Tinjauan tentang Konseling Individu
1. Pengertian Konseling
Menurut Roger (1996) Konseling merupakan suatu hubungan yang bebas dan berstruktur yang membiarkan klien memperoleh pengertian sendiri yang membimbingnya untuk menentukan langkah-langkah positif ke arah orientasi baru.
Menurut Bernard & Fullmer (1996) Konseling adalah Usaha untuk mengubah pandangan seorang terhadap diri sendiri, orang lain atau lingkungan fisik. Sebagai akibatnya, seseorang dibantu untuk mencapai identitas sebagai pribadi dan langkah- langkah untuk memupuk rasa berharga, perasaan berarti dan bertanggungjawab.
Ivey & Simek-Downing berpendapat bahwa Konseling ialah Memberikan alternatif- alternatif, membantu klien dalam melepaskan dan merombak pola-pola lama, memungkinkan melakukan proses pengambilan keputusan dan menemukan pemecahan-pemecahan yang tepat terhadap masalah.
Kesimpulan dari ketiga definisi tersebut adalah, bahwa konseling merupakan suatu proses interaksi antara orang yang mempunyai masalah dengan orang yang memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Usaha tersebut dilakukan dengan cara mencari alternatif dan langkah-langkah yang memungkinkan seseorang yang memiliki masalah mengatasi masalahnya secara bertanggungjawab dan memperoleh orientasi baru untuk mencapai integritas kepribadian yang lebih positif.
2. Tujuan Konseling
Menurut pendapat George & Cristiani tujuan konseling, yaitu:
a. Memfasilitasi klien untuk mengembangkan dirinya atau dengan kata lain, membawa klien agar mampu melakukan perubahan secara konstruktif terhadap dirinya.
b. Meningkatkan keterampilan klien agar mampu menghadapi situasi dan tuntutan baru dalam hidupnya.
c. Meningkatkan kemampuan klien untuk mengambil keputusan secara bertanggungjawab. Dengan demikian berarti bahwa pada akhirnya keputusan yang diambil klien sebagai upaya untuk mengatasi masalahnya adalah keputusan dari diri klien sendiri.
d. Meningkatkan kemampuan klien dalam hubungan interpersonal secara lebih baik, atau dengan kata lain meningkatkan kemampuan penyesuaian diri klien dengan lingkungan sosialnya.
3. Proses Konseling
Zastrow (Suharto, 2007) menjelaskan bahwa proses konseling dapat dilihat dari dua perspektif, yakni proses konseling berdasarkan perspektif pekerja sosial, dan proses konseling berdasarkan perspektif klien. Dalam hal ini praktikan menggunakan proses konseling berdasarkan perspektif klien, yaitu:
a. Self Awareness
Klien harus memiliki keyakinan “Saya punya masalah. Saya perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut”.
b. Trust Building
Terjalinnya relasi yang baik antara klien dengan pekerja sosial. Klien perlu memiliki keyakinan “Saya pikir konselor ini akan mampu membantu saya”.
c. Motivation
Klien harus berkata kepada dirinya “Saya pikir saya dapat memperbaiki situasi saya. Saya ingin memperbaiki diri saya sendiri.”
d. Exploring Resolution Strategies
Konselor dan klien bersama-sama menggali beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam memecahkan masalah klien. Klien harus menyadari bahwa
“Saya melihat beberapa pilihan tindakan yang dapat saya coba lakukan dalam
memecahkan masalah saya”. Konselor juga dapat membantu klien memperjelas beberapa strategi yang mungkin tepat bagi klien.
e. Implementation
Konseling akan mencapai hasil maksimal apabila klien memiliki komitmen dan menyatakan bahwa “Pendekatan ini tampaknya mulai membantu saya”. Konseling gagal apabila klien menyatakan “Saya tidak yakin pendekatan ini akan membantu saya”. Jika ini terjadi strategi lain perlu dicoba dan dilaksanakan.
f. Evaluation
Ketika usaha-usaha perubahan telah berjalan secara permanen, klien harus menyimpulkan bahwa “Meskipun pendekatan ini telah banyak menguras waktu dan tenaga saya, usaha dan pengorbanan saya tidaklah sia-sia”. Apabila klien menyatakan “pendekatan ini hanya sedikit membantu saya, usaha dan pengorbanan saya tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh”, maka konseling kurang efektif dan alternatif tindakan yang lain perlu dikembangkan dan dilaksanakan.
F. Tinjauan tentang Self Help Group
1. Pengertian Self Help Group
Self Help Group merupakan kelompok informal yang anggotanya saling berbagi pengalaman yang dialami, saling bekerja sama untuk mencapai tujuan dan menggunakan kekuatan untuk melawan masalah dalam hidupnya (Utami, 2008).
2. Tujuan Self Help Group
Self Help Group bertujuan kelompok yaitu untuk membawa dan membentuk suatu perubahan yang diinginkan. Kelompok swadaya yang didasarkan pada sekelompok individu yang berbagai perilaku, kemudian mereka mengidentifikasi permasalahan yang ada dan mencoba untuk menghilangkan perilaku tersebut (Aulia, 2017).
3. Manfaat Self Help Group
Self Help Group memberikan manfaat bagi anggota kelompok yang terlibat di dalamnya. Anggota dapat mencurahkan pemikirannya serta bisa membagikan pengalaman yang dimiliki masing-masing anggota, sehingga anggota yang lain dapat memberikan nasihat, masukan dan dukungan yang menimbulkan semangat dari anggota.
Self Help Group terbukti efektif dalam menangani berbagai permasalahan salah satunya yaitu masalah kepercayaan diri. Efektifitas kelompok-kelompok ini berasal dari berbagai asumsi. Dukungan emosional dari orang lain mengurangi isolasi sosial yang dialami individu karena rendahnya rasa percaya yang dimilikinya.
Memunculkan identitas diri yang kolektif melalui partisipasi kelompok. Tiap anggota memiliki kesempatan untuk mengembangkan konsep baru yang ada pada
dirinya. Partisipasi antar anggota kelompok memungkinkan terjadinya kegiatan saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan saran untuk mengatasi masalah yang dialaminya (Aulia, 2017)
4. Proses Self Help Group
Tahapan dalam metode group work dalam pekerjaan sosial menurut Siti Napsiyah dan Ahmad Zaky yang dapat diterapkan di dalam Self Help Group adalah sebagai berikut:
a. Persiapan, yaitu menentukan tujuan, target kelompok dan menentukan teknik yang akan digunakan.
b. Pembentukan Kelompok, yaitu membentuk kelompok.
c. Penetapan Tujuan dan Peran, yaitu menetapkan tujuan dan peran masing-masing anggota kelompok
d. Pelaksanaan, yaitu melakukan tugas-tugas yang telah ditetapkan sesuai dengan peran masing-masing anggota kelompok.
e. Evaluasi dan Refleksi, yaitu mengevaluasi hasil kerja kelompok dan merefleksikan proses kerja kelompok.
G. Tinjauan tentang Positive Reinforcement
1. Pengertian Positive Reinforcement
Reinforcement adalah proses di mana tingkah laku diperkuat oleh konsekuensi yang segera mengikuti tingkah laku tersebut. Saat sebuah tingkah laku mengalami
penguatan maka tingkah laku tersebut akan cenderung untuk muncul kembali pada masa mendatang (Tri Agustina: 2013).
Positive reinforcement atau penguatan positif dapat diartikan dengan ganjaran, hadiah, atau penghargaan. Menurut Skinner dalam Khairani (2013: 29), positive reinforcement berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respon meningkat karena diikuti dengan stimulus mendukung (rewarding). Menurut Winataputra dkk. (2005:7.18), positive reinforcement adalah respon yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningkatnya perilaku/perbuatan yang dianggap baik tersebut. Sedangkan menurut Dalyono (2009:
33), positive reinforcement sebagai sebuah penyajian stimulus yang meningkatkan probalitas suatu respon.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa positive reinforcement adalah respon positif terhadap suatu perilaku yang positif sehingga perilaku tersebut dapat terulang.
2. Tujuan Positive Reinforcement
Menurut Djamarah (2005: 118), pemberian reinforcement memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Meningkatkan perhatian siswa dan membantu siswa belajar bila pemberian penguatan dilakukan secara selektif.
b. Memberi motivasi.
c. Digunakan untuk mengontrol atau mengubah tingkah laku yang mengganggu, dan meningkatkan cara belajar yang produktif.
d. Mengembangkan kepercayaan diri untuk mengatur diri sendiri dalam pengalaman belajar.
e. Mengarahkan terhadap pengembangan berpikir yang berbeda dan pengambilan inisiatif yang bebas.
f. Memudahkan siswa belajar.
g. Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa serta mendorong munculnya perilaku yang positif.
h. Menumbuhkan rasa percaya diri siswa.
3. Komponen dalam Positive Reinforcement
Menurut Winataputra dkk. (2005: 7.19), terdapat beberapa komponen keterampilan yang digunakan selama praktik dalam implementasi positive reinforcement, sebagai berikut:
a. Penguatan Verbal
Penguatan verbal paling mudah digunakan dalam bentuk komentar, pujian, dukungan, pengakuan, atau dorongan yang diharapkan dapat meningkatkan tingkah laku dan penampilan siswa. Komentar, pujian, dan sebagainya tersebut dapat diberikan dalam bentuk kata-kata dan kalimat.
b. Penguatan Non-Verbal
Penguatan non-verbal dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, sebagai berikut:
1) Mimik dan gerak badan, seperti senyuman, mengekspresikan wajah ceria, anggukan, tepukan tangan, dan gerakan lainnya yang juga dapat dikombinasikan dengan penguatan verbal.
2) Gerakan mendekati, dapat dilakukan dengan cara melangkah mendekati siswa, berdiri di samping siswa, maupun duduk bersama siswa untuk menunjukkan perhatian.
3) Sentuhan, seperti tepukan bahu atau pundak serta berjabat tangan atau mengangkat tangan pemenang.
4) Kegiatan menyenangkan, dengan memberikan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang menjadi kegemarannya.
5) Pemberian simbol atau benda, dapat berupa tanda cek, tanda bintang, tanda tangan, maupun benda kecil yang harganya tidak terlalu mahal, seperti pensil, peniti, atau benda kecil lainnya.
6) Penguatan tak penuh, dengan memberikan penguatan untuk jawaban siswa yang benar meski di dalamnya terdapat koreksi terkait apa yang disampaikan.
4. Penjadwalan Positive Reinforcement
Dalam Dalyono, perencanaan pemberian positive reinforcement dapat disusun perencanaannya sebagai berikut:
a. Fixed ratio schedule, yaitu pemberian reinforcement jika terdapat jumlah tertentu atas respon.
b. Variable ratio schedule, yaitu pemberian reinforcement berdasarkan capaian rata-rata dari hasil keseluruhan respon.
c. Fixed interval schedule, yaitu pemberian reinforcement berdasarkan ketetapan waktu antar reinforcement.
d. Variable interval schedule, yaitu penyampaian reinforcement yang benar dari respon pasca kesalahan-kesalahan sebelumnya.
H. Tinjauan tentang Self Talk
1. Pengertian Self Talk
Menurut Hack dan Scwenkmezger self talk merupakan dialog atau percakapan yang dimana individu menafsirkan atau menjelaskan perasaan dan persepsi, mengatur dan mengubah peristiwa yang sudah terjadi sesuai rencana atau keyakinan, serta memberikan instruksi dan penguatan kepada diri sendiri.
Self talk tidak hanya berkomunikasi dengan diri sendiri menggunakan inner voice melainkan bisa juga berbicara dengan lantang. Dan dapat disimpulkan bahwa self talk merupakan metode latihan psikis dasar untuk mengganti atau mempengaruhi cara berpikir yang ada. Self talk bisa disebut dengan kegiatan pengulangan kata atau ungkapan yang positif pada diri sendiri dalam waktu tertentu (Iswari & Hartini, 2005:14)
2. Macam-Macam Self Talk
Menurut Iswari & Hartini (2005:14), istilah self talk ada dua macam, yaitu:
a. Self talk positif, yaitu alat yang kuat untuk meningkatkan mental maupun rasa kepercayaan diri.
b. Self talk negatif, yaitu hal yang dapat menyebabkan depresi, merasa rendah diri, menyalahkan diri sendiri, dan khawatir. Karena seseorang yang selalu berfikir irasional.
3. Manfaat Teknik Self Talk
Manfaat yang bisa didapatkan dari teknik self talk yaitu:
a. Dapat Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Motivasi
Self talk dapat membantu meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri bahwa individu dapat melakukan segala sesuatu dengan baik. self talk yang rasional akan membantu meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi segala tantangan.
b. Menjadikan Pribadi yang Positif
Pikiran yang negatif kepada diri sendiri akan berdampak besar terhadap kehidupan sehingga pikiran positif tidak dapat terkontrol. Self talk positive akan membantu individu mengubah pikiran negatif menjadi positif.
c. Menurunkan Stress
Individu yang merasakan stres cenderung memiliki pemikiran yang tidak masuk akal akan suatu kejadian yang dihadapinya. Selalu mengucapkan kalimat-kalimat positif kepada dirinya akan membuat individu lebih menyatu dengan dirinya.
4. Pelaksanaan Self Talk
Untuk memulai self talk secara positif, maka perlu adanya waktu, tempat, kondisi, dan prosedur atau tahap-tahap pelaksanaan yang terstruktur dan terencana. Adapun prosedur pelaksanaan self talk, dapat di lakukan ketika dalam kondisi:
a. Waktu
Waktu yang efektif untuk melakukan antara lain: ketika percaya diri menurun, ketika berputus asa, cemas, merasa tidak bahagia, atau sedang mengambil keputusan.
b. Tempat
Tempat yang tepat untuk melakukan kegiatan self talk, antara lain:
ruangan yang sepi dan hening, depan cermin, dan dimana pun yang dirasa klien dapat melakukan kegiatan dengan nyaman.
c. Posisi
Posisi yang tepat adalah ketika sedang dalam kondisi rileks, jika dilakukan dengan cara berdiri pun, individu dapat memperoleh hasilnya terlebih ketika
bercermin, individu dapat melakukan self talk terutama jika kondisi sedang tenang dan nyaman.
d. Suasana Mendukung
Dapat di lakukan secara lebih maksimal dengan suasana yang mendukung seperti mendengarkan musik yang disenangi sesuai dengan kondisi seseorang seperti musik klasik atau musik dengan suara natural atau dalam kondisi yang hening.
e. Pelaksanaan
Membuat diri rileks dengan cara menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan sehingga membuat otot-otot dalam diri rileks.
Ketika dirasa cukup, katakan dalam hati atau bersuara dengan mengatakan kalimat-kalimat positif dapat berupa keinginan dan harapan yang menegaskan tentang keyakinan seseorang terhadap dirinya sendiri.