• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Objek Penulisan

dien marcella

Academic year: 2023

Membagikan "Gambaran Umum Objek Penulisan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penulisan a. Sejarah dan Lokasi

Rumah Sakit Umum Griya Mahardhika Yogyakarta adalah Rumah sakit swasta dengan badan hukum berbentuk perseroan terbatas didirikan sesuai dengan Akte Pendirian No. 14 tanggal 06 Oktober 2010 di Notaris Woro Sutristiassiwi Sriwahyuni, SH dengan nama PT.

RS Griya Mahardhika Yogyakarta. Dengan lembar pengesahan KEMENKUMHAM RI No. AHU-49521.AH.01.01. Tahun 2010 pada tanggal 21 Oktober 2010 dan telah di perbaharui sesuai peraturan perundangan yang berlaku melalui Akte Perubahan No. 44 tanggal 31 Oktober 2019 di swasta dengan badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas. Di Notaris Woro Sutristriassiwi, SH dengan nama PT RS Griya Mahardhika Yogyakarta, Rumah Sakit Umum Griya Mahardhika Yogyakarta dan lembar pengesahan dari KEMENKUMHAM RI No : AHU-0089442.AH.01,02. Tahun 2019 pada tanggal 31 Oktober 2019.

Rumah Sakit Umum Griya Mahardhika Yogyakarta pembangunan fisik mulai dilakukan sejak tahun 2005 pada saat izin penyelenggaraan Rumah Sakit Umum Tipe C dan Tipe D Nomor : 1480/DP/059/XII/2011 diterbitkan oleh Dinas Perijinan Kabupaten Bantul pada tanggal 27 Desember 2011 kondisi fisik bangunannya sudah mencapai 80%

yang kemudian mulai beroperasional per tanggal 01 januari 2012. Rumah Sakit ini secara kepemilikan 100% adalah milik PT. Griya Mahardhika Yogyakarta. Pada saat ini luas lahan tempat berdirinya Rumah Sakit adalah 6.783 m. Dalam perkembanganya Rumah Sakit Umum Griya Mahardhika pada 10 Juni 2016 mendapatkan izin Operasional Rumah Sakit Kelas C yang akan berakhir pada 09 Juni 2021.

RSU Griya Maardhika Yogyakarta saat ini adalah Rumah Sait Tipe D dengan izin operasional 0303/DPMPT/SKPK/261/VI/2021 disahkan pada tanggal 09 Juni 2012. RSU Griya Mahardhika Yogyakarta sesuai izin operasional RS Kelas C No : 159/03/DP.VI/2016 per tanggal 01 Juni 2016 adalah Rumah Sakit Umum kelas C Swasta nasional dan Non pendidikan. Sifat bisnis yang di emban adalah sosio-ekonomi atau

(2)

entitas bisnis/usaha yang berorientasi tidak hanya untuk kepentingan profit (keuntungan) semata, tetapi juga menekankan pada pelayanan social kepada masyarakat tidak mampu.

RSU Griya Mahardhika Yogyakarta berlokasi strategis di Jl. Parangtritis KM 4,5 Gg.

Wijayakusuma No. 212 Bangunharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta berada di daerah perbatasan antara kabupaten Bantul dan Kotamadya Yogyakarta, memiliki akses yang mudah di jangkau dari berbagai arah baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan umum. Di Kabupaten Bantul terdapat beberapa Rumah Sakit Swasta, namun demikian RSU Griya Mahardhika Yogyakarta memberikan alternative pilihan yang menawarkan kenyamanan dan kepuasan dalam hal pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara umum.

b. Struktur Organisasi

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Griya Mahardhika Yogyakarta Sumber : Profil Rumah Sakit Umum Griya Mahardhika Yogyakarta Tahun 2022

c. Visi dan Misi Instansi

Visi RSU Griya Mahardhika Yogyakarta adalah :

“Menjadi Rumah Sakit berstandar nasional yang berkomitmen pada kepuasan pelanggan melalui kesempurnaan pelayanan kesehatan

(3)

yang professional sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa demi kepentingan masyarakat Indonesia”.

Penjelasan : Visi tersebut adalah target kondisi yang akan dicapai oleh RSU Griya Mahardhika Yogyakarta.

Misi RSU Griya Mahardhika adalah :

a) Membantu pemerintah untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif, bermutu, professional dan memenuhi standar.

b) Memberikan pelayanan kesehatan secara holistik kepada masyarakat untuk menuju masyarakat Indonesia yang sehat, berkualitas demi pembangunan bangsa Indonesia menuju masa depan yang cerah.

Disiplin, Keramahan, Kejujuran, Professional, Keteladanan, Komitmen, Kepercayaan d. Sumber Daya Organisasi

RSU Griya Mahardhika Yogyakarta mempunyai karyawan yang terdiri dari : a) Perawat 25 orang

b) Bidan 20 orang c) Medis 27 orang d) Apoteker 1 orang e) TTK 3 orang f) RMIK 8 orang g) Fisioterapi 1 orang

(4)

h) Ahli Gizi 1 orang i) Struktural 9 orang j) Kesling 1 orang e. Jenis Pelayanan

Jenis pelayanan yang ada di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta terdiri dari :

a)Kamar Rawat Inap 70 TT b)Instalasi Farmasi

c)Instalasi Bedah dan Sterilisasi Sentral d)Instalasi Gizi

e)Instalasi Penunjang :

Radiologi, Sterilisasi Sentral Laboratorium Klinis dan penunjang lainnya serta telah melayani masyarakat dengan Pelayanan UGD 24 Jam.

Poliklinik Medis Dasar yaitu : a) Poliklinik Penyakit Anak b) Poliklinik Penyakit Dalam c) Poliklinik Penyakit Bedah

d) Poliklinik Kebidanan dan Kandungan

(5)

B. Pembahasan

a. Gambaran Duplikasi Rekam Medis di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta

Sistem penomoran yang digunakan di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta adalah unit numbering system (sistem penomoran unit) dimana satu pasien hanya diberikan satu nomor rekam medis baik untuk rawat jalan maupun rawat inap.

Contoh kejadian duplikasi rekam medis di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta. Pasien datang ke rumah sakit menuju bagian pendaftaran, lalu ditanyakan oleh petugas pendaftaran apakah pasien merupakan pasien lama atau pasien baru, kemudian pasien menjawab pasien lama, kemudian petugas menanyakan apakah membawa kartu berobat atau tidak, dan pasien tersebut menjawab tidak membawa, lalu petugas membuatkan nomor rekam medis baru untuk pasien tersebut, setelah dilakukan cross check ternyata nomor rekam medis yang lama sudah ketemu, lalu digabungkanlah nomor rekam medis baru tersebut ke nomor rekam medis lama. Pasien X : 002313 007519

Untuk menghindari duplikasi penomoran, seharusnya petugas rekam medis dibagian pendaftaran pasien baik rawat jalan maupun rawat inap menanyakan apakah pasien tersebut pernah berobat atau tidak sehingga tidak terjadi duplikasi penomoran rekam medis dan petugas harus lebih teliti dalam

(6)

melayani pasien agar tidak terdapat lagi pasien lama berkunjung sebagai pasien baru, kemudian diberikan nomor rekam medis baru yang menyebabkan duplikasi penomoran rekam medis.

Sistem registrasi hanya dapat melakukan entry data yang berfungsi sebagai indeks master pasien. Seharusnya duplikasi penomoran rekam medis tidak terjadi, sebab menurut Permenkes No. 269 Tahun 2008, rekam medis merupakan berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien, sehingga saat terjadinya duplikasi penomoran maka pengobatan pasien menjadi tidak berkesinambungan.

Menurut Budhi (2011), menyatakan bahwa petugas penerimaan pasien harus menguasai alur pelayanan pasien, alur berkas rekam medis dan prosedur penerimaan pasien sehingga petugas dapat memberikan pelayanan dan informasi yang tepat dan cepat. Prosedur sebaiknya diletakan di tempat yang mudah dibaca oleh petugas pendaftaran pasien, hal ini bertujuan untuk mengontrol pekerjaan yang telah dilakukan sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat konsisten dan sesuai aturan.

b. Tinjauan Duplikasi Rekam Medis di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta

Tinjauan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gultom Pakpahan (2019) yang akan dibahas sebagai berikut :

(7)

a. Tinjauan 343 PRESTON DRIVE BEACONSFIELD, QUEBEC H9W 1Z2 CANADA

Pendidikan Petugas Rekam Medis Terhadap Duplikasi Penomor Dari hasil dokumentasi di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta, jumlah petugas rekam medis secara keseluruhan sebanyak 11 orang. Sedangkan yang bekerja di unit pendaftaran pasien sebanyak 7 orang, dimana berpendidikan SMA dan D-III. Akan tetapi dari jumlah pendidikan D-III tersebut terdiri dari perawat, bidan, dan rekam medis di unit pendaftaran pasien, maka dapat menjadi faktor penyebab terjadinya duplikasi penomoran rekam medis, hal ini dikarenakan petugas kurang mengetahui tentang sistem penomoran rekam medis.

Pendidikan adalah suatu usaha mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi yang masuk dan semakin banyak pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitanya dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pengetahuanya.

Akan tetapi perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak pengetahuan rendah.

Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal.

Pengetahuan seseorang dapat didapati dari pengamatan tentang suatu objek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui, akan menimbulkan siap positif terhadap objek tertentu (Notoadmojo 2010).

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti, diketahui bahwa petugas pendaftaran kurang memperhatikan dan mengetahui

(8)

tentang sistem penomoran rekam medis. Menurut Asti (2005), berpendapat bahwa tingkat pendidikan akan mengubah sikap dan cara berpikir kearah yang lebih baik dan tingkat kesadaran yang tinggi akan memberikan kesadaran lebih tinggi dalam berwarga negara serta memudahkan untuk pengembangan kepribadian.

Sedangkan menurut Sedamaryanti (2011), melalui pendidikan seseorang dipersiapkan untuk memiliki bekal agar siap tahu, mengenal dan mengembangkan metode berpikir secara sistematik agar dapat memecahkan masalah yang akan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan atas dua pendapat tersebut di atas, diharapkan semakin tinggi kualifikasi pendidikan petugas pendaftaran, maka semakin kecil kemungkinan duplikasi penomoran yang dilakukan oleh petugas pendaftaran.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, diketahui bahwa petugas rekam medis di unit pendaftaran berpendidikan SMA dan D-III kesehatan dan D-III rekam medis dimana seharusnya yang bekerja di instalasi rekam medis harus berpendidikan rekam medis.

Table 4.1 Gambaran Pendidikan Petugas Rekam Medis di Pendaftaran

No Pendidikan

1 SMA

2 D-III Perawat 3 D-III Bidan 4 D-III Bidan 5 D-III RMIK 6 D-III RMIK 7 D-III RMIK Sumber : Data Primer

Hal ini sesuai dengan penelitian Gulthom Pakpahan (2019) di Rumah Sakit Umum Madani, terjadi duplikasi nomor rekam medis sebanyak 34 sampel, dengan duplikasi berkas rekam medis dikarenakan

(9)

kuaifikasi pendidikan, pengetahuan dan pengalaman kurang teliti dan kurang mengetahui tentang system penomoran rekam medis.

b. Gambaran Pengetahuan Petugas Rekam Medis di unit Pendaftaran RSU Griya Mahardhika Yogyakarta

Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas pendaftaran, menunjukan kurang mengetahui tentang sistem penomoran rekam medis.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Winarni (2010), menyatakan jika satu diantara faktor-faktor yang mempengaruhi duplikasi penomoran rekam medis pada petugas pendaftaran adalah faktor pengetahuan, karena menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya) sehingga dapat di simpulkan jika semakin besar tingkat pengetahuan yang dimiliki petugas maka semakin kecil peluang petugas pendaftaran untuk melakukan duplikasi penomoran rekam medis. Jadi sebaiknya petugas rekam medis perlu pelatihan dan meningatkan wawasan yang luas.

c. Gambaran Pengalaman Petugas Rekam Medis di unit Pendaftaran RSU Griya Mahardhika Yogyakarta

Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas pendaftaran, menunjukan kurang mengetahui tentang alur pendaftaran dan pentingnya dalam memberikan penomoran rekam medis. Menurut Haditono (2003), pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan pertambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau dapat diartikan sebagai proses yang membawa

(10)

seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Suatu pembelajaran juga mencakup perubahan yang relatif tepat dari perilaku yang diakibatkan pengalaman, pemahaman dan praktek.

Suatu perusahaan akan cenderung memiliki tenaga kerja yang berpengalaman dari pada yang tida berpengalaman. Hal ini disebabkan mereka yang berpengalaman lebih berkualitas dalam melaksanakan pekerjaan sekaligus tanggung jawab yang diberikan perusahaan dapat dikerjakan sesuai dengan ketentuan atau permintaan perusahaan. Oleh karena itu, pengalaman kerja mempunyai manfaat bagi perusahaan maupun karyawan. Sebaiknya petugas rekam medis perlu pelatihan dan meningkatkan wawasan luas.

d. Gambaran Penggunaan KIUP Terhadap Dulikasi Penomoran Berkas Rekam Medis

Ditemukan di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta belum tersedia Kartu Indeks Utama Pasien (KIUP), hal ini dikarenakan telah menggunakan SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit) serta kurangnya pengetahuan petugas rekam medis di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta, tentang kartu indes utama pasien (KIUP), menurut Robetty (2015), dalam mempermudah pencarian berkas rekam medis maka diperlukan suatu alat yang dapat membantu petugas untuk penghematan waktu dalam pencarian berkas.

Alat tersebut adalah KIUP atau Kartu Indeks Utama Pasien. KIUP adalah suatu kartu katalog yang berisikan nama semua penderita yang pernah berobat ke rumah sakit. Informasi yang terkandung dalam KIUP merupakan kunci untuk menemukan berkas rekam medis pasien. Dengan

(11)

tidak adanya KIUP ini maka petugas akan kesulitan dalam melayani pasien yang tidak membawa kartu.

c. Solusi Mengatasi Duplikasi Rekam Medis di RSU Griya Mahardhika Yogyakarta

Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas pendaftaran, solusi saat terjadinya duplikasi rekam medis dengan melakukan evaluasi kinerja SDM (Sumber Daya Manusia). Jika dari segi Pendidikan harus meningkatkan

Referensi

Dokumen terkait

PENGERTIAN Pemberian nomor pada berkas rekam medis baru dengan system penomoran Unit Numbering Sistem yaitu pemberian satu nomor rekam medis kepada pasien baru yang berobat ke RS

Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari pencatatan rekam medis pasien kanker payudara di RSU Universitas Muhammadiyah Malang periode.. Berkas rekam

Berkas rekam medis pasien yang konsul diantarkan ke klinik yang dituju oleh perawat klinik, berkas rekam medis yang telah selesai digunakan untuk pelayanan klinik dan berkas rekam

Adapun sistem penyimpanan di RSU Sinar Husni tidak menggunakan tracer dan masih manual pada saat pengambilan rekam medis, masih ada berkas rekam medis yang

Berdasarkan survei awal yang penulis lakukan pada bulan April 2017 di RSUD Toto Kabila pada unit rekam medis ditemukan 5 berkas rekam medis dari 5 berkas rekam medis rawat inap di

pemberi pelayanan yg mempunyai akses pada berkas rekam medis.  dokumen Kebijakan. 2.Berkas rekam medis tersedia bagi semua pemberi pelayanan yg membutuhkannya untuk

PERLINDUNGAN BERKAS REKAM MEDIS PADA BAB MANAJEMEN INFORMASI REKAM MEDIS 11 DALAM PERSIAPAN AKREDITASI SNARS 2018 DI RSU PKU MUHAMMADIYAH BANTUL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan

x PERLINDUNGAN BERKAS REKAM MEDIS PADA BAB MANAJEMEN INFORMASI REKAM MEDIS 11 DALAM PERSIAPAN AKREDITASI SNARS 2018 DI RSU PKU MUHAMMADIYAH BANTUL Sulastri1Kori Puspita Ningsih 2