• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGAIMANA AGAMA MENJAMIN KEBAHAGIAAN

N/A
N/A
Alfi Diyati

Academic year: 2024

Membagikan "BAGAIMANA AGAMA MENJAMIN KEBAHAGIAAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAGAIMANA AGAMA MENJAMIN KEBAHAGIAAN

Metode Penelitian Kualitatif

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Materi PAI Di Sekolah/Madrasah Dosen Pengampu : Siti Mariyah, M.Pd

MAKALAH

Oleh :

Alfi Diyati 1.22.5300 Sabaran Siregar 1.22.5407

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM MIFTAHUL ‘ULUM TANJUNGPINANG

2024

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah. Segala puji dan syukur kita sampaikan kepada Allah Azza Wa Jalla. karena berkat rahmat, karunia-Nya, serta keridhaan-Nya jugalah kami dapat menyelesaikan makalah penelitian kualitatif yang berjudul “Bagaimana Agama Menjamin Kebahagiaan”. Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Materi PAI Di Sekolah/Madrasah.

Dalam rangkaian proses pembuatan makalah, banyak sekali dukungan dari pihak eksternal agar makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan inspirasi kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.

Ucapan maaf kami sampaikan kepada para pembaca, apabila di dalam makalah ini terdapat paduan yang kata yang terkesan menyinggung bagi para pembaca.

Tanjungpinang, 5 April 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang...1

1.2. Indentifikasi Masalah... 2

1.3. Batasan Masalah...2

1.4. Rumusan Masalah... 2

1.5. Tujuan... 3

1.6. Manfaat...3

BAB II PEMBAHASAN... 4

2.1. Konsep Dan Karakteristik Agama Sebagai Jalan Menuju Tuhan Dan Kebahagiaan...4

2.2. Alasan Manusia Harus Beragama Dan Bagaimana Agama Dapat Membahagiakan Umat ... 7

2.3. Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis Dan Pedagogis Tentang Pemikiran Agama Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan...8

2.4. Membangun Tauhidullah Sebagai Satu - Satunya Model Beragama Yang Benar...9

2.5. Mendiskripsikan Esensi Dan Urgensi Komitmen Terhadap Nilai-Nilai Tauhid Untuk Mencapai Kebahagiaan... 12

BAB III PENUTUP... 15

3.1. Kesimpulan...15

3.2. Saran... 15

DAFTAR PUSTAKA...16

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebahagiaan merupakan tujuan hidup yang diinginkan oleh setiap individu. Dalam pencarian kebahagiaan, manusia sering kali menemukan berbagai jalan dan metode untuk mencapainya, baik melalui pencapaian materi, hubungan sosial, maupun pengembangan diri. Namun, di antara berbagai jalan tersebut, agama sering kali dianggap sebagai salah satu jalan yang paling efektif dalam menjamin kebahagiaan yang sejati dan berkelanjutan.

Agama, sebagai suatu sistem kepercayaan dan praktik yang dihayati oleh umat manusia, menawarkan pandangan hidup yang komprehensif dan holistik. Melalui ajaran-ajarannya, agama memberikan pedoman moral, spiritual, dan etika yang membantu individu dalam menjalani kehidupan yang bermakna dan berintegritas. Dalam banyak tradisi agama, kebahagiaan tidak hanya dipandang sebagai keadaan emosional yang sementara, tetapi sebagai kondisi kesejahteraan batin yang mendalam dan abadi.

Studi-studi empiris menunjukkan bahwa individu yang aktif dalam praktik keagamaan cenderung memiliki tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan mental yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak. Agama memberikan rasa tujuan dan makna hidup yang kuat, yang dapat mengatasi perasaan kosong dan tak bermakna yang sering kali menjadi sumber utama ketidakbahagiaan. Selain itu, agama juga mendorong komunitas dan ikatan sosial yang kuat, yang merupakan faktor penting dalam kesejahteraan emosional seseorang.

Namun demikian, hubungan antara agama dan kebahagiaan tidak selalu bersifat sederhana dan linear. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi sejauh mana agama dapat memberikan kebahagiaan, termasuk interpretasi individu terhadap ajaran agama, tingkat keterlibatan dalam praktik keagamaan, serta konteks sosial dan budaya di mana individu tersebut berada. Oleh karena itu, penting untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana agama berperan dalam menjamin kebahagiaan, baik dari perspektif teoretis maupun empiris.

(5)

1.2. Indentifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada, maka dihasilkan beberapa identifikasi masalah, yakni :

1.2.1. Konsep dan Karakteristik Agama sebagai Jalan menuju Tuhan dan Kebahagiaan 1.2.2. Alasan Manusia Harus Beragama Dan Bagaimana Agama Dapat Membahagiakan

Umat

1.2.3. Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis Dan Pedagogis Tentang Pemikiran Agama Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan.

1.2.4. Membangun Tauhidullah Sebagai Satu - Satunya Model Beragama Yang Benar 1.2.5. Mendiskripsikan Esensi Dan Urgensi Komitmen Terhadap Nilai-Nilai Tauhid

Untuk Mencapai Kebahagiaan.

1.3. Batasan Masalah

Agar pembahasan ini dapat dilakukan dengan fokus yang jelas, maka penulis memberikan batasan masalah yakni fokus pada konsep dan karakteristik agama sebagai jalan menuju Tuhan dan kebahagiaan, alasan manusia harus beragama dan bagaimana agama dapat membahagiakan umat, menggali sumber historis, filosofis, psikologis, sosiologis, dan pedagogis tentang pemikiran agama sebagai jalan menuju kebahagiaan, membangun tauhidullah sebagai satu satunya model beragama yang benar, dan mendiskripsikan esensi dan urgensi komitmen terhadap nilai-nilai tauhid untuk mencapai kebahagiaan.

1.4. Rumusan Masalah

1.4.1. Apa Konsep dan Karakteristik Agama sebagai Jalan menuju Tuhan dan Kebahagiaan?

1.4.2. Apa Alasan Manusia Harus Beragama Dan Bagaimana Agama Dapat Membahagiakan Umat?

1.4.3. Bagaimana Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis Dan Pedagogis Tentang Pemikiran Agama Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan?

1.4.4. Bagaimana Membangun Tauhidullah Sebagai Satu - Satunya Model Beragama Yang Benar?

1.4.5. Bagaimana Mendiskripsikan Esensi Dan Urgensi Komitmen Terhadap Nilai-Nilai Tauhid Untuk Mencapai Kebahagiaan?

(6)

1.5. Tujuan

1.5.1. Untuk Mengetahui Konsep dan Karakteristik Agama sebagai Jalan menuju Tuhan dan Kebahagiaan

1.5.2. Untuk Mengetahui Alasan Manusia Harus Beragama Dan Bagaimana Agama Dapat Membahagiakan Umat

1.5.3. Untuk Mengetahui Bagaimana Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis Dan Pedagogis Tentang Pemikiran Agama Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

1.5.4. Untuk Mengetahui Bagaimana Membangun Tauhidullah Sebagai Satu - Satunya Model Beragama Yang Benar

1.5.5. Untuk Mengetahui Bagaimana Mendiskripsikan Esensi Dan Urgensi Komitmen Terhadap Nilai-Nilai Tauhid Untuk Mencapai Kebahagiaan

1.6. Manfaat

Kami mengharapkan dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat meskipun hanya sedikit kepada para pembaca dalam memahami pada konsep dan karakteristik agama sebagai jalan menuju Tuhan dan kebahagiaan, alasan manusia harus beragama dan bagaimana agama dapat membahagiakan umat, menggali sumber historis, filosofis, psikologis, sosiologis, dan pedagogis tentang pemikiran agama sebagai jalan menuju kebahagiaan, membangun tauhidullah sebagai satu satunya model beragama yang benar, serta mendiskripsikan esensi dan urgensi komitmen terhadap nilai-nilai tauhid untuk mencapai kebahagiaan.

(7)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Konsep Dan Karakteristik Agama Sebagai Jalan Menuju Tuhan Dan Kebahagiaan Menurut Al-Alusi bahagia adalah perasaan senang dan gembira karena bisa mencapai keinginan atau cita-cita yang dituju dan diimpikan. Pendapat lain menyatakan bahwa bahagia atau kebahagiaan adalah tetap dalam kebaikan, atau masuk ke dalam kesenangan dan kesuksesan.

Kebahagiaan duniawi adalah kebahagiaan yang fana dan tidak abadi. Adapun kebahagiaan ukhrawi adalah kebahagiaan abadi dan rohani. Kebahagiaan duniawi ada yang melekat pada dirinya dan ada yang melekat pada manfaatnya. Di antara kebahagiaan duniawi adalah memiliki harta, keluarga, kedudukan terhormat, dan keluarga yang mulia.

Menurut Al-Ghazali kebahagiaan harta bukan melekat pada dirinya, namun pada manfaatnya. Orang yang ingin menggapai kesempurnaan hidup, tetapi tidak memiliki harta bagaikan orang yang mau pergi berperang tanpa membawa senjata, atau seperti orang mau menangkap ikan tanpa pancing atau jaring. Itulah sebabnya, nabi Muhammad saw.

bersabda, ”Harta yang terbaik adalah harta yang ada pada seorang laki-laki yang baik pula (saleh).” (HR Ibnu Hibban). “Sebaik-baik pertolongan adalah pertolongan yang dapat membantu kita semakin bertakwa kepada Allah.” (HR Ad-Daruqutni).

Al-Ghazali Menawarkan cara mendapatkan kebahagiaan melalui karyanya Kimiya al- Sa’adah. Dalam karyanya ini, Al-Ghazali menitik beratkan tasawuf dalam proses mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dalam bukunya tersebut, Al-ghazali menjelaskan beberapa cara sebagai jalan menuju kepada Rabb, diantaranya.

a. Mengenal diri sendiri adalah kunci untuk mengenal Tuhan. Tak ada yang lebih dekat dengan diri kecuali diri sendiri, jika tidak mengetahui diri sendiri bagaimana dapat mengetahui orang lain.1 Mengenali penciptaan dirinya akan membawa manusia menuju keberadaan Tuhan.

1 Imam Al-Ghazali, Proses Kebahagiaan Terj K.H. A. Mustofa Bisri (Jakarta: PT Qaf Media Kreativa, 2020), hlm. 33-35

(8)

b. Mengenal Allah. Komponen paling tinggi dari manusia adalah akal, yang sanggup merenungkan tentang Tuhan. Pengetahuan tentang Allah ialah salah satunya subjek pengetahuan paling tinggi sehingga orang yang sukses meraihnya tentu hendak merasakan puncak kesenangan.

c. Mengenal dunia. Sepanjang manusia hidup di dunia ini wajib menjalankan dua hal penting yaitu melindungi serta memelihara jiwanya dan menjaga serta meningkatkan jasadnya.

d. Mengenal Tentang Akhirat. Al-qur’an dan Sunnah memberikan pengetahuan bahwa dalam kehidupan di akhirat ada yang namanya konsep nikmat surga dan juga siksa neraka. Namun, hal yang lebih penting adalah yang sering terlupa adalah adanya surga ruhani dan neraka ruhani.

e. Cinta kepada Allah . Terdapat beberapa faktor yang membangkitkan kecintaan kepada Allah. Pertama, manusia mencintai dirinya serta kesempurnaan dari sifatnya, perasaan ini akan mengantarkan kecintaan kepada Allah, sebab keberadaan manusia dan sifat- sifatnya tidak lain merupakan anugerah Allah. Kedua, rasa cinta mansuia kepada pendukungya, mempercayai bahwa semua kembali kepada Allah. Ketiga, perenungan terhadap sifat-sifat, kebijakan, dan kekuasaan Allah. Keempat, terdapatnya kemiripan antara manusia serta Allah, seperti sabda Nabi, “sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan-Nya”.2

Di antara kebahagiaan duniawi adalah memiliki  keluarga, anak-anak yang saleh ,dan istri yang salihah pula. Istri yang salihah bagaikan kebun yang dapat mengikat pemiliknya, yaitu suami untuk tidak terjerumus pada hal-hal yang diharamkan Allah azza wajalla Nabi Muhammad menyatakan, “Sebaik-baik penolong untuk keutuhan beragama adalah istri yang salihah. ”Menyangkut keutamaan anak, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Jika anak Adam meninggal dunia, maka putuslah segala amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.”(HR Thabrani).

Agama adalah landasan atau fundamen, sedangkan jabatan atau kedudukan adalah penjaganya. Barang siapa yang tidak memiliki fondasi, maka akan roboh. Sebaliknya, barang siapa yang tidak mempunyai penjaga, maka akan kehilangan. Allah berfirman didalam Q.S Al-Baqarah/2:251

2 Slamet Riyadi dan Fauzi Bahreisy, Kimiya al-Sa’adah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi), (Jakarta:

(9)

ضُرْلْاَا تِدَسَفَلَّ ضٍعْبَبِ مْهُضَعْبِ سَانَّلَّا هِلّٰلَّا عُفْدَ لْاَوْلَّوَ

Artinya : “Seandainya bukan kerena perlindungan Allah kepada sebagian manusia atas sebagian yang lain, maka rusaklah bumi ini.”

Jika kita membuka kembali pendapat Ibnul Qayyim al-Jauziyyah bahwa untuk menggapai kebahagiaan itu mengharuskan adanya kondisi hati yang sehat (qalbun salīm), maka yang perlu kita lakukan adalah mengetahui karakteristik hati yang sehat dan cara mengobati hati yang sakit agar hati dapat kembali sehat. Karakteristik hati yang sehat adalah sebagai berikut.

1. Hati menerima makanan yang berfungsi sebagai nutrisi dan obat. Adapun makanan yang paling bermanfaat untuk hati adalah makanan “iman”, sedangkan obat yang paling bermanfaat untuk hati adalah Al-Quran.

2. Selalu berorientasi ke masa depan dan akhirat. Untuk sukses pada masa depan, kita harus berjuang pada waktu sekarang. Orang yang mau berjuang pada waktu sekarang adalah pemilik masa depan, sedangkan yang tidak mau berjuang pada waktu sekarang menjadi pemilik masa lalu. Nabi Muhammad SAW. berkata kepada Abdullah bin Umar r.a. “Hiduplah kamu di muka bumi ini laksana orang asing atau orang yang sedang bepergian dan siapkan dirimu untuk menjadi ahli kubur.” (HR Bukhari). Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa dunia itu pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat datang menjemput kita. Masing-masing bagian ada ahlinya, maka jadilah dirimu bagian dari ahli akhirat bukan ahli dunia, sebab sekarang adalah waktu beramal dan tidak ada hisab, sedangkan nanti ( di akhirat) ada hisab, tetapi tidak ada amal.

3. Selalu mendorong pemiliknya untuk kembali kepada Allah Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, dan kenikmatan kecuali dengan rida-Nya dan dekat dengan-Nya.

Berzikir kepada Allah adalah makanan pokoknya, rindu kepada Allah adalah kehidupan dan kenikmatannya.

4. Tidak pernah lupa dari mengingat Allah (berzikir kepada Allah), tidak berhenti berkhidmat kepada Allah, dan tidak merasa senang dengan selain Allah Swt.

5. Jika sesaat saja lupa kepada Allah segera ia sadar dan kembali mendekat dan berzikir kepada-Nya.

6. Jika sudah masuk dalam salat, maka hilanglah semua kebingungan dan kesibukan duniawinya dan segera ia keluar dari dunia sehingga ia mendapatkan ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan dan berlinanglah air matanya serta bersukalah hatinya.

(10)

7. Perhatian terhadap waktu agar tidak hilang sia-sia melebihi perhatian kepada manusia lain dan hartanya.

8. Hati yang sehat selalu berorientasi kepada kualitas amal bukan kepada amal semata.

Oleh sebab itu, hati selalu ikhlas, mengikuti nasihat, mengikuti sunnah, dan selalu bersikap ihsan.

2.2. Alasan Manusia Harus Beragama Dan Bagaimana Agama Dapat Membahagiakan Umat

Kunci beragama berada pada fitrah manusia. Fitrah itu sesuatu yang melekat dalam diri manusia dan telah menjadi karakter (tabiat) manusia. Kata “fitrah” secara kebahasaan memang asal maknanya adalah “suci” yang dimaksud suci adalah suci dari dosa dan suci secara genetis. Meminjam term Prof. Udin Winataputra, fitrah adalah lahir dengan membawa iman. Berbeda dengan konsep teologi Islam, teologi tertentu berpendapat sebaliknya yaitu bahwa setiap manusia lahir telah membawa dosa yakni dosa warisan. Di dunia, menurut teologi ini, manusia dibebani tugas yaitu harus membebaskan diri dari dosa itu. Adapun dalam teologi Islam, seperti telah dijelaskan, bahwa setiap manusia lahir dalam kesucian yakni suci dari dosa dan telah beragama yakni agama islam. Tugas manusia adalah berupaya agar kesucian dan keimanan terus terjaga dalam hatinya hingga kembali kepada Allah.

Allah berfirman dalam Al-Quran surah Ar-rum/30:30

نُي%دَلَّ كَلَّذَٰ ۚهِلّٰلَّ قِلّٰخَلَّ لَيدَبَتَ لْاَ ۚاهُيْلّٰعَسَانَّلَّ رَطَفْ ىتِلَّ هِلّٰلَّ تِرَطَفْ ۚا3فَيْنَّحَنُي%دَلّٰلَّ كَهُجْوَ مْقِأَفْ

ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ

ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ

نَوْمُلّٰعْيلْاَ سَانَّلَّرَثَكْأَنُكِلَّوَمْ%يْقَلَّٱ ٱ Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Yang dimaksud fitrah Allah pada ayat di atas adalah bahwa manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu karena disebabkan banyak faktor antara lain pengaruh lingkungan. Di samping itu, ayat di atas juga mengandung maksud bahwa setiap manusia yang lahir telah dibekali agama dan yang dimaksud agama adalah agama Islam. Inti agama Islam adalah tauḫīdullāh. Jadi,kalau

(11)

ketika orang lahir telah dibekali tauḫīdullāh, maka ketika ia hidup di alam ini dan ketika ia kembali kepada Sang Pencipta harus tetap dalam fitrah yakni dalam tauḫī dullāh.

Mengganti kefitrahan yang ada dalam diri manusia sama artinya dengan menghilangkan jati diri manusia itu sendiri. Hal itu sangat tidak mungkin dan tidak boleh. Allah sendiri yang melarangnya. “Tidak boleh ada penggantian terhadap agama ini sebab inilah agama yang benar meskipun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

2.3. Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis Dan Pedagogis Tentang Pemikiran Agama Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan.

Secara teologis, beragama itu adalah fitrah. Jika manusia hidup sesuai dengan fitrahnya, maka ia akan bahagia. Sebaliknya, jika ia hidup tidak sesuai dengan fitrahnya, maka ia tidak akan bahagia.

a. Sumber Historis

Pada sepanjang sejarah hidup manusia, beragama itu merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Banyak buku membicarakan atau mengulas kisah manusia mencari Tuhan. Umpamanya buku yang ditulis oleh Ibnu Thufail. Buku ini menguraikan bahwa kebenaran bisa ditemukan manakala ada keserasian antara akal manusia dan wahyu. Dengan akalnya, manusia mencari Tuhan dan bisa sampai kepada Tuhan. Namun, penemuannya itu perlu konfirmasi dari Tuhan melalui wahyu, agar ia dapat menemukan yang hakiki dan akhirnya ia bisa berterima kasih kepada Tuhan atas segala nikmat yang diperolehnya terutama nikmat bisa menemukan Tuhan dengan akalnya itu.

b. Sumber Filosofis

Pada kenyataannya manusia tidak bisa hidup tanpa agama karna secara filosofi asal- usul manusia akan dipertanyakan darimana asalnya ketika kita telah memiliki agama maka tentunya pertanyaan seperni ini akan terjawab sehingga manusia tidak akan sesat karenanya, agama akan menjamin keselamatan manusia karna filosofinya agama ada untuk mengatur kehidupan manusia agar damai dan sejahtera yang di ikat oleh norma- norma agama dan aturan, perintah sekaligus larangan yang ada dalam agama tersebut.

Seandainya agama tidak pernah ada maka pastilah manusia tidak akan ada bedanya dengan hewan dimana mereka hidup hanya untuk makan dan bebas mau melakukan apapun sesukanya tanpa ada aturan perintah dan larangan yang mengikat dan

(12)

membatasinya dalam hidupnya, tapi manusia tidak seperti itu manusia diberkahi akal untuk berpikir membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga manusia tentulah labih mulia dari hewan.

c. Sumber Psikologis

Sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian sebelum ini, bahwa manusia menurut Al- Quran adalah makhluk rohani, makhluk jasmani, dan makhluk sosial. Sebagai makhluk rohani, manusia membutuhkan ketenangan jiwa, ketenteraman hati dan kebahagiaan rohani. Kebahagiaan rohani hanya akan didapat jika manusia dekat dengan pemilik kebahagiaan yang hakiki. Menurut teori mistisime islam, bahwa Tuhan Mahasuci, Maha indah, dan maha segalanya. Tuhan yang Mahasuci itu tidak dapat didekati kecuali oleh jiwa yang suci. Oleh karena itu, agar jiwa bisa dekat dengan Tuhan, maka sucikanlah hati dari segala kotoran dan sifat-sifat yang jelek.

d. Sumber Sosiologis

Di antara karakter manusia, menurut Al-Quran, manusia adalah makhluk sosial.

Makhluk sosial artinya manusia tidak bisa hidup sendirian, dan tidak bisa mencapai tujuan hidupnya tanpa keterlibatan orang lain. Manusia harus membutuhkan bantuan orang lain, sebagaimana orang lain pun membutuhkan bantuan sesamanya. Saling bantu menjadi ciri perilaku makhluk sosial. Manusia bisa hidup jika berada di tengah masyarakat. Manusia tidak mungkin hidup jika terlepas dari kehidupan masyarakatnya.

2.4. Membangun Tauhidullah Sebagai Satu - Satunya Model Beragama Yang Benar Sebagaimana telah diketahui bahwa misi utama Rasulullah SAW diutus sebagai Rasul, sama seperti Rasul-Rasul sebelum beliau, yaitu mengajak manusia kepada Allah (ajaran tauhid). Kalimat tahlil (Laa ilaaha illa Allah) adalah landasan teologis agamay ang dibawa oleh Rasulullah SAW serta seluruh Nabi dan Rasul. Makna kalimat tersebut,yaitu : a. Tidak ada Tuhan selain Allah

b. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah c. Tidak ada yang dicintai kecuali Allah

d. Tidak ada yang berhak dimintai pertolongan kecuali Allah e. Tidak ada yang harus dituju kecuali Allah

(13)

f. Tidak ada yang harus ditakuti kecuali Allah

g. Tidak ada yang harus diminta ridanya kecuali Allah

Kalimat laa ilaaha illa Allah merupakan kalimat thayyiban (kalimat yang baik) yang digambarkan oleh Al-Qur’an laksana sebuah pohon dengan akarnya tertancap ke dalam tanah, batangnya berdiri tegak dan kokoh, dahan dan rantingnya menghasilkan buah- buahan yang lebat serta bermanfaat bagi manusia. Makna ayat secara majasi bahwa jika akarnya baik, buah yang dihasilkan akan baik dan lebat pula, dan sebaliknya. Jika akarnya tidak baik, maka buah pun tidak akan ada. Demikian pula dengan tauhidullah, apabila tauhidullah sudah benar dan baik, maka segala sesuatu yang dikerjakan akan menjadi baik dan benar pula, sebaliknya jika tauhidullahnya tidak baik, maka sesuatu yang dikerjakan menjadi sia-sia dan mubazir.

Tauhidullah membebaskan manusia dari takhayul, khufarat, mitos, dan bid’ah.

Tauhidullah menempatkan manusia pada tempat yang bermartabat, tidak menghambakan diri kepada makhluk yang derajatnya lebih rendah daripada manusia karena sejatinya manusia merupakan makhluk paling mulia dan paling sempurna dibanding dengan makhluk-makhluk Allah yang lain (ahsani taqwim). Oleh karena itu, Allah memberikan amanah kepada manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Manusia adalah roh alam, Allah menciptaakan alam karena Allah menciptakan manusia sempurna (insan kamil) sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila tidak ada insan kamil, maka alam tidak akan diciptakan.

Tauhidullah merupakan barometer kebenaran agama-agama sebelum Islam. Jika agama- agama samawi yang dibawa oleh Rasul sebelum Rasulullah Muhammad SAW masih tauhidullah, maka agama tersebut benar, dan seandainya agama yang dibawa Rasul-Rasul sebelum Rasulullah Muhammad SAW tersebut sudah tidak tauhidullah yakni sudah ada syirik (unsur menyekutukan Allah) , maka sudah jelas agama tersebut telah melenceng, salah, dan sesat-menyesatkan.

Oleh karena itu, siapapun harus berhati-hati dalam menjaga tauhidnya, karena tauhidullah adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan hidup dunia akhirat. Menurut Said Hawa, berikut merupakan hal-hal yang dapat merusak Tauhidullah, yaitu :

1. Sifat Al-Kibr (sombong)

Allah tidak ingin memperhatikan orang yang bersikap sombong terhadap ayat-ayat Allah, Allah berfirman didalam Q.S Al-Araf/7: 146

(14)

اهُبِ اوْنَّمِؤْيلْاَ ةٍياءَ لَكْ اوَرَينَإِوَ %قِحَلَّ رَيْغَبِ ضُرْلْأَ ىفْ نَوَرَبَكِتِي نُيذِلَّ ىتِياءَ نُعَ فُرَصْأَسَا۟ ا۟ ٱ ٱٱ

نَ يلِ لِ نَغَٰ انَ نْ نَ ا۟ونُ انَ نَ انَ لِ نَغَٰ انَلِ ا۟ونُ نَ نَ نْ نُ نَ انَلِ نَ لِ نَغَٰ ! ۚا$لًي&لِ'نَ (نُ نُ )لِنَ نَ *ىِّ,نَنْ ٱ -نَي&لِ'نَ ا۟ نْ .نَنَ ن0لِ نَ ا$لًي&لِ'نَ (نُ نُ )لِنَ نَ ا2نَ 3لِ4نْ.نُ ٱ -نَي&لِ'نَ ا۟ نْ .نَنَ ن0لِ نَ

Artinya : Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.

2. Sifat Azh-Zhulm (kezaliman) dan Sifat Al-Kizb (kebohongan)

Bebaskan diri kita dari belenggu kezaliman dan kedustaan sebab Allah tidak akan memberi hidayah kepada kaum yang bersikap zalim (QS Ash-Shaff/61: 7). Selain itu, Allah pun tidak akan memberi hidayah kepada pendusta yang bersifat mengingkari (kaffar). (QS Az-Zumar/39: 3).

3. Sikap Al-Ifsād (melakukan perusakan).

Bebaskan diri kita dari sikap merusak di muka bumi, membatalkan perjanjian, dan memutuskan perintah-perintah yang mestinya disampaikan. Allah berfirman, “Dan tidak akan tersesat kecuali orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang membatalkan perjanjian dengan Allah yang dulunya telah kokoh, dan mereka memutuskan apa-apa yang diperintahkan Allah untuk disampaikan, dan mereka melakukan perusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al-Baqarah/2: 26-27).

4. Sikap Al-Ghaflah (lupa)

Jika manusia menginginkan adanya keterbukaan terhadap ayat-ayat Allah secara keseluruhan, maka perlu diketahui bahwa sebagian ayat-ayat Allah terbuka kepada sebagian manusia dengan hanya berpikir dan berzikir bahwa di sana tidak ada penghalang. Sebagai contoh, perhatikan ayat Allah berikut ini, “Sesungguhnya di dalam peristiwa ini ada tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir.” (QS Ar-Ra‟d/13:

2). “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya.” (QS Ar-Ra‟d/13: 4). “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal yaitu mereka yang berzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk, danberbaring

(15)

Tidaklah seseorang berpaling dari Allah kecuali karena lupa, dan tidak ada sikap lupa kecuali di belakangnya ada permainan dan perlu diingat bahwa seluruh kehidupan dunia itu adalah permainan belaka. “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan.” (QS Muhammad/47: 26). “Telahdekat hari perhitungan kepada manusia padahal mereka dalam keadaanlupa dan berpaling. Tidaklah datang kepada mereka peringatan dari Tuhan kecuali mereka mendengar sambil bermain-main, dan hati mereka lalai.” (QS Al-Anbiya/21: 1-2)

5. Al-Ijram (berbuat dosa)

Bebaskanlah diri dari ijrām yakni perbuatan dosa. Allah melukiskan sikap ini dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak, tetapi apa yang mereka kerjakan mengotori hati mereka.” (QS AlMuthaffifin/83: 14). “ Demikian juga kami memasukannya pada hati orang-orang berdosa, tetapi mereka tidak mengimaninya dan telah berlalu sunnah (kebiasaan) orang-orang terdahulu.” (QS Al-Hijr/15: 12-13).

6. Sikap Ragu Menerima Kebenaran

Bebaskanlah diri dari sikap ragu-ragu menerimaal-ḫaq (kebenaran) jika kita melihat perkara kebenaran itu begitu jelas. Allah berfirman, “Kami membolak-balik hati mereka dan penglihatan mereka seperti ketika merekatidak percaya pada yang pertama kali, dan kami peringatkan mereka, danmereka sedang berleha-leha dalam kesesatannya.” (QS Al-An‟am/6: 110).

2.5. Mendiskripsikan Esensi Dan Urgensi Komitmen Terhadap Nilai-Nilai Tauhid Untuk Mencapai Kebahagiaan.

Mengapa jiwa tauhid penting? Sebab jiwa tauhid adalah modal dasar hidup yang dapat mengantar manusia menuju keselamatan dan kesejahteraan. Sungguh, jiwa tauhid penting, Allah sebagai rabb telah menanamkan jiwa tauhid ini kepada seluruh manusia semenjak mereka berada di alam arwah. Supaya jiwa tauhid berkembang, maka Allah mengutus para rasul dengan tugas utamamya yaitu menyirami jiwa tauhid agar tumbuh dan berkembang sehingga menghasilkan buah yang lebat yaitu amal saleh.

(16)

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan (untuk isi neraka jahannam) kebanyakan jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah),mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga,(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raf/7:

179).

Nilai-nilai universal yang perlu ditanamkan dan dikembangkan agar menjadi roh kehidupan itu adalah ash-shidq (kejujuran), alamānah, al-„adālah, al-ḫurriyyah (kemerdekaan), al-musāwah (persamaan), tanggung jawab sosial, at-tasāmuḫ (toleransi), kasih sayang, tanggung jawab lingkungan, tabādul-ijtima‟ (saling memberi manfaat), at- tarāḫum (kasing sayang) dan lain-lainnya.

a. Al-Amānah

Al-Amānah artinya terpercaya. Mengapa seseorang terpercaya dan dipercaya?

Karena ia jujur. Kejujuran menyebabkan seseorang dipercaya. Karena dipercaya, maka ia menjadi manusia terpercaya (al-Amīn). Al-amīn adalah sifat Muhammad sebelum menjadi nabi sehingga karena sifat inilah ia dipercaya masyarakat Quraisy pada waktu itu untuk menyelesaikan persengketaan dalam meletakan Hajar Aswad pada tempatnya. Amanah juga bisa diartikan „titipan‟. Harta, tahta, dan wanita yang menjadi istri kita adalah titipan Tuhan. Oleh karena titipan, maka kita harus memperlakukan semua itu sesuai dengan aturan dan kehendak yang menitipkannya yaitu Allah.

b. Al-„Adālah

Al-„Adālah secara etimologis artinya „keadilan‟. Keadilan dalam persepektif etika Islam adalah adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Sesuatu yang menjadi hak kita, maka menjadi kewajiban bagi orang lain. Sebaliknya, sesuatu yang menjadi hak orang lain, maka menjadi kewajiban kita. Keadilan dalam perspektif hukum adalah

“Wadh‟u sya`in fī maḫallihi” artinya meletakan sesuatu pada tempatnya‟. Dalam aplikasinya keadilan dapat berarti memberikan hukuman bagi yang melanggar norma dan hukum, serta memberikan penghargaan bagi yang melakukan ketaatan terhadap norma dan hukum.

(17)

Kebebasan manusia dalam berkehendak dan mewujudkan kehendak dengan perbuatan adalah hak asasi manusia. Manusia mempunyai kebebasan untuk berpikir dan mengembangkan pemikirannya lewat ilmu, filsafat, atau pembaharuan pemahaman terhadap agama. Kebebasan berpikir merupakan sarana untuk melahirkan gagasan-gagasan besar untuk memajukan peradaban manusia.

BAB III PENUTUP

(18)

3.1. Kesimpulan

Konsep kebahagiaan menurut perspektif agama dan tokoh-tokoh seperti Al-Alusi dan Al-Ghazali. Kebahagiaan duniawi dipandang sebagai sesuatu yang fana, sedangkan kebahagiaan ukhrawi adalah abadi dan rohani. Menurut Al-Ghazali, kebahagiaan sejati dapat dicapai melalui tasawuf, mengenal diri sendiri, Allah, dunia, akhirat, dan mencintai Allah. Agama menjadi landasan utama yang mengarahkan manusia menuju kebahagiaan sejati.

Pentingnya beragama dijelaskan melalui fitrah manusia yang secara alami memiliki naluri beragama tauhid. Agama dipandang sebagai kebutuhan dasar manusia untuk menemukan ketenangan jiwa dan tujuan hidup. Dari perspektif historis, filosofis, psikologis, dan sosiologis, beragama memberikan panduan moral dan spiritual yang mengarahkan manusia pada kehidupan yang lebih baik.

Tauhidullah ditegaskan sebagai model beragama yang benar dan merupakan landasan utama bagi semua Nabi dan Rasul. Tauhidullah membebaskan manusia dari kepercayaan takhayul, khurafat, dan bid’ah, serta menempatkan manusia pada kedudukan yang mulia.

Komitmen terhadap nilai-nilai tauhid penting untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan, dengan menanamkan nilai-nilai universal seperti kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial.

3.2. Saran

Dengan ditulisnya makalah sederhana ini kami berharap agar pembaca dapat mengetahui, memahami, serta menambah pengetahuan tentang bagaimana agama menjamin kebahagiaan. Kami sebagai penulis mengetahui bahwa makalah ini masih banyak kesalahan baik penulisan, ataupun kalimat yang digunakan berbelit-belit. Saran dan kritik sangat kami butuhkan guna memperbaiki tugas makalah kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Wahyuddin, dkk., 2019. Pendidikan Agama Islam : Membangun Karakter Mahasiswa Perguruan Tinggi. Surabaya: Litera Jannata Perkasa.

(19)

Asir, A., 2014. Agama dan fungsinya dalam kehidupan umat manusia. Al-Ulum Jurnal Pemikiran dan Penelitian ke Islaman, 1(1), 50-58

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai proses konveksi yang terjadi pada atmosfer yang sangat berperan

Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat lebih mudah Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat lebih mudah untuk memahami alat ukur yang

Penyunting berharap agar semua perbincangan dalam bab-bab berkenaan dapat dimanfaatkan oleh para pembaca, dalam usaha untuk memahami ikatan ilmu yang terkandung antara agama dengan

Oleh karena itu, bahagia adalah menjalani hidup sesuai dengan fitrah yang telah diberikan Allah kepada manusia.. Paristiyanti, dkk., 2016 Agama yang dimaksud disini adalah agama

diterapkan.20 2 Mengintegrasikan konsep-konsep Maqashid Shariah dalam kurikulum pendidikan agama Islam sehingga siswa dapat memahami keterkaitan antara tujuan agama dan tantangan

Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini bagi pembaca bahwasanya nilai pendidikan agama islam itu sangat penting bagi kehidupan sebagai umat muslim, dan terdapat banyak nilai- nilai

Makalah Konversi Agama, perpindahan agama, keyakinan, kegoncangan keyakinan, faktor terjadinya konversi agama, fungsi agama dalam kehidupan

memahami konsep agama sehingga kalangan radikal hanya memahami Islam dari perspektif subjektif saja tetapi dan minim wawasan tentang esensi agama 3 Berlebihan dalam mengharamkan banyak