• Tidak ada hasil yang ditemukan

bangkit, 152 157 Safira Khoirunisa

N/A
N/A
ANGELICA MIFTAHUL JANNAH

Academic year: 2025

Membagikan "bangkit, 152 157 Safira Khoirunisa"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Kualitas Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo

Consumer Satisfaction Level Analysis On The Quality Of Pharmaceutical Service At Makmur Sehat Sukoharjo Drug Store

Safira Khoirunisa1, Retnowati Adiningsih2

1,2Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional

[email protected]1, [email protected]2 DOI: https://doi.org/10.55181/ijms.v10i2.425

Abstract: Services carried out in accordance with established standards in the pharmaceutical field can create satisfaction for consumers. Pharmacies must be able to implement quality service standards.

Inappropriate services will affect the sustainability of the pharmacy. Consumers who are satisfied with the services provided will potentially become regular customers of the pharmacy. The aims of this study to determine satisfaction consumer with the quality of pharmaceutical services at the Makmur Sehat Pharmacy, Sukoharjo. The research used a descriptive design and was carried out at the Makmur Sehat Pharmacy, Sukoharjo. The number of samples used was 385 respondents. sample selection using purposive sampling technique. The data collection tool used a questionnaire which included 5 dimensions in the form of dimensions of direct evidence/tangible, responsiveness, empathy, confidence, reliability to measure patient satisfaction. The results of the research dimensions are direct evidence/tangible of 80.42%, responsiveness of 83.12%, empathy of 82.81%, confidence of 80.75%, and reliability obtained results of 80.16 %. In general, the level of consumer satisfaction with the quality of pharmaceutical services at the Makmur Sehat Pharmacy Sukoharjo is classified as very satisfied.

Keywords: drug store, pharmaceutical services, customer satisfaction

Abstrak: Pelayanan yang menerapkan standar dalam bidang kefarmasian mampu menciptakan kepuasan pada konsumen. Apotek harus mampu menerapkan standar pelayanan yang berkualitas.

Pelayanan yang tidak sesuai akan berpengaruh pada keberlangsungan apotek. Kepuasan yang dirasakan konsumen pada pelayanan yang diberikan akan berpotensi menjadi pelanggan tetap apotek tesebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek makmur Sehat Sukoharjo. Penelitian menggunakan desain diskriptif dan dilaksanakan di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo. Sampel yang digunakan sejumlah 385 responden.

Pemilihan sampel dengan teknik purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang mencakup 5 dimensi berupa dimensi bukti langsung/ tangible, ketanggapan/ responsiveness, empati/ emphathy, keyakinan/ confidence, kehandalan/ reliability untuk mengukur kepuasan pasien.

Hasil penelitian dimensi bukti langsung/ tangible sebesar 80,42%, ketanggapan/ responsiveness sebesar 83,12%, empati/ emphathy sebesar 82,81%, keyakinan/ confidence sebesar 80,75%, dan kehandalan/ reliability didapatkan hasil sebesar 80,16%. Secara general, tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo masuk dalam kategori sangat puas.

Kata Kunci: apotek, pelayanan farmasi, kepuasan konsumen

PENDAHULUAN

Pelayanan yang menerapkan standar dalam bidang kefarmasian mampu menciptakan kepuasan pada konsumen (Kemenkes RI, 2014). Apotek harus mampu menerapkan standar pelayanan yang berkualitas. Standar pelayanan yang bermutu harus mampu diterapkan oleh apotek (Kemenkes RI, 2016).

Standar ini digunakan sebagai patokan tenaga kefarmasian dalam memberikan pelayanan. Jika pelayanan yang diberikan dapat bersesuaian dengan standar tersebut akan berdampak positif baik bagi apotek, tenaga kekehatan, dan konsumen (Diana, Tandah dan Diwayani, 2022).

Kotler dalam Felia, Miyarso dan Intiyani (2021)

menyebutkan bahwa dalam menilai suatu tingkat kepuasan, dapat lihat berdasarkan 5 indikator meliputi bukti langsung (tangible), ketanggapan (responsiveness), empati (emphaty), kehandalan (reliability), dan keyakinan (confidence).

Berdasarkan Surat Kepmenkes Nomor 9 Tahun 2017, apotek diartikan sebagai suatu sarana yang memberikan pelayanan kefarmasian yang dilaksanakan oleh apoteker (Kemenkes RI, 2017). Apotek Makmur Sehat adalah salah satu apotek memiliki pengunjung yang sangat ramai. Apotek ini terletak pada posisi yang strategis dimana mudah dijangkau oleh konsumen karena berada diarea

(2)

pemukiman padat penduduk dan berda di tepi jalan utama. Pada daerah ini, terdapat 3 apotek lain yang mengindikasikan terdapat persaingan yang tinggi antar apotek dengan jarak antar apotek 50-200 meter. Apotek yang memberikan pelayanan sesuai harapan konsumen akan mampu menarik minat konsumen untuk kembali lagi. Apotek Makmur Sehat Sukoharjo mempunyai jam buka lebih lama dari apotek lain yang ada disekitar yaitu pukul 07:00 – 22:00 WIB namun karena ada keterbatasan pegawai yang berjaga sehingga hanya ada 1 petugas setiap shif yang menyebabkan waktu relatif lama.

Selain itu beberapa bulan ini konsumen yang datang ke apotek dengan membawa berbagai jenis obat tidak tersedia karena stock obat yang sekarang ini terbatas sehingga menyebabkan penolakan konsumen maka perlu dilakukan evaluasi agar perijinan segera terselesaikan dan jenis obat lengkap tersedia.

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka penelitian mengenai tingkat kepuasan konsumen pada kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek Makmur Sehat perlu dilakukan, agar dapat memberikan masukan dari permasalahan yang terjadi segera teratasi dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek Makmur Sehat. Maka dari itu tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada pada bulan November-Desember 2022 di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo.

Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner yang dibagi atas 2 bagian. Pada bagian pertama mengenai karakteristik yang dimiliki responden (meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan yang dimiliki, pekerjaan, penghasilan setiap bulan, banyaknya kunjungan di apotek untuk membeli obat) dan bagian 2 memuat pertanyaan untuk menggali bagaimana harapan konsumen dan penilaian konsumen terhadap kualitas pelayanan di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo. Kuesioner disusun mencakup lima dimensi yaitu kehandalan/ reliability (Kecepatan Pelayanan), ketanggapan/

responsiveness (Keramahan Petugas), keyakinan/ confidence (Ketersediaan Obat), empati/ emphathy (Pelayanan Informasi Obat), bukti langsung/ tangible (Penampilan Apotek).

Penelitian ini menggunanan bahan berupa jurnal, buku acuan, serta data berupa hasil dari jawaban responden. Jenis penelitian

yang dipegunakan ialah deskriptif menggunakan teknik pencuplikan sampel yang dipergunakan ialah purposive sampling. Populasi yang digunakan ialah semua konsumen non resep yang datang ke Apotek Makmur Sehat Sukoharjo, sedangkan sampel yang digunakan ialah konsumen non resep yang datang ke Apotek Makmur Sehat Sukoharjo. Kriteria inklusi yang ditetapkan meliputi konsumen yang berusia 17-65 tahun, mampu membaca dan menulis serta turut serta secara sukarela untuk menjadi responden. Kriteria eksklusi yang ditentukan ialah kuisioner yang terisi secara tidak lengkap. Jumlah kunjungan di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo dalam satu bulan mencapai 3.000 konsumen. Penentuan jumlah sampel yang digunakan dengan rumus (Lemeshow, 1997) diperoleh hasil 385 sejumlah sampel.

Variabel penelitian yang digunakan ialah kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner tingkat kepuasan dengan skala likert.

Menurut Hidayat dalam Saputri (2016) tingkat kepuasan konsumen dibagi menjadi 4 range yaitu tidak puas nilai 0%-25%, kurang puas nilai 26%-50%, puas nilai 51%-75%, dan sangat puas 76%-100%. Kuesioner yang digunakan mengadop dari (Badriya, 2021) dan dimodifikasi oleh penulis, kuesioner terdiri dari 20 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan mempunyai nilai tertinggi 4 dan terendah 1.

Sebelum dipergunakan, kuisioner melalui pengujian terlebih dahulu. Pengujian menggunakan 30 responden yang berbeda di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo. Perhitungan hasil uji validitas menggunakan SPSS statistics 24 (α= 0,05), didapatkan nilai korelasi r-hitung (0,392-0,757) > r-tabel (0,361) yang berarti bahwa seluruh pertanyaan valid, sengan nilai reliabilitas Cronbach’s Alpha (0,876) > 0,6 sehingga kuisioner dinyatakan reliabel.

Penelitian yang dilaksanakan sudah mendapatkan ethical clearance yang dikeluarkan oleh Komisi Etik Penelitian Universitas Muhamadiyah Purwokerto (Nomor KEPK/UMP/14/1/2023 tertanggal 5 Januari 2023).

HASIL PENELITIAN Karakteristik Responden

Penelitian dilakukan kepada 385 responden yaitu konsumen non resep yang datang dan membeli di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo. Data karakteristik yang dimiliki responden ditampilkan sesuai tabel 1.

(3)

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden

Karakteristik Responden Jumlah Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-laki 149 38,7

Perempuan 236 61,3

Umur (tahun)

17-25 146 37,92

26-35 57 14,81

36-45 77 20

46-55 55 14,29

56-65 41 10,65

>65 9 2,34

Pendidikan Terakhir

Tidak Tamat SD 10 2,6

SD/MI 39 10,13

SMP/MTS 76 19,74

SMA/SMK/MA 177 45,97

Diploma 24 6,23

Sarjana 59 15,32

Pekerjaan

Pelajar/Mahasiswa 107 27,79

PNS/TNI/POLRI 16 4,16

Swasta 92 23,9

Wiraswasta 54 14,03

Tenaga

Kesehatan 8 2,08

Lain-lain 108 28,05

Penghasilan selama sebulan

<1 Juta 188 48,83

1-3 Juta 153 39,74

> 3 Juta 44 11,43

Kunjungan di Apotek Baru pertama kali 113 29,35

2-5kali 136 35,32

Berdasarkan tabel 1 memaparkan hasil yang menunjukkan kebanyakan responden memiliki jenis kelamin perempuan sejumlah 236 orang (61,23%) dengan usia 17-25 tahun (37,92%). Pendidikan terakhir SMA/SMK/MA sebanyak 177 orang (45,97%) dengan pekerjaan terbanyak pada poin lainnya yaitu ojek online, pedagang, ibu rumah tangga sebanyak 108 orang (28,05%). Responden terbanyak berpenghasilan bulanan <1 Juta

Rupiah sebanyak 188 orang (48,83) dan pernah membeli obat di apotek yaitu antara 2-5 kali dan lebih dari 5 kali sebanyak 136 orang (35,32).

Kepuasan Konsumen

Kepuasan konsumen dalam penelitian ini di ukur berdasarkan 5 dimensi. Hasil pengukuran tingkat kepuasan konsumen pada kualitas pelayanan kefarmasian ditampilkan sesuai tabel 2.

Tabel 2. Dimensi Tingkat Kepuasan

No Keterangan 5 Dimensi Persentase (%) Tingkat Kepuasan 1 Bukti langsung/ tangible 80,42 sangat puas 2 Ketanggapan/ responsiveness 83,12 sangat puas

3 Empati/ emphathy 82,81 sangat puas

4 Keyakinan/ confidence 80,75 sangat puas

5 Kehandalan/ reliability 82,16 sangat puas

Hasil penelitian dari 5 dimensi ini membuktikan bahwa konsumen sangat puas

pada pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh Apotek Makmur Sehat Sukoharjo.

Tabel 3. Bukti Langsung/ Tangible

No Pertanyaan Persentase

(%)

Tingkat Kepuasan 1 Apotek mudah dijangkau oleh konsumen 81,75 sangat puas

2 Tempat parkir apotek memadai 76,62 sangat puas

3 Kebersihan dan kenyamanan ruang tunggu apotek 80,45 sangat puas

(4)

No Pertanyaan Persentase (%)

Tingkat Kepuasan 4 Keberadaan fasilitas lain yang mendukung sepeti tempat

sampah serta brosur tentang informasi obat

80,71 sangat puas 5 Kerapian dan penampilan menarik dari petugas apotek 82,53 sangat puas

Tabel 4. Ketanggapan/ Responsiveness

No Pertanyaan Persentase

(%)

Tingkat Kepuasan 1 Senyum, salam, sapa, dan sikap ramah yang dilakukan

petugas saat memberikan pelayanan

81,17 sangat puas 2 Kemampuan petugas apotek dalam melakukan komunikasi

yang baik kepada pasien

84,55 sangat puas 3 Ketanggapan petugas apotek dalam merespon keluhan yang

disampaikan pasien

82,92 sangat puas 4 Kesiapan petugas apotek saat membantu dengan sabar dan

baik

83,83 sangat puas

Tabel 5. Empati / Empathy

No Pertanyaan Persentase

(%)

Tingkat Kepuasan 1 Edukasi untuk pasien mengenai obat yang dibeli diberikan

oleh petugas apotek

80,32 sangat puas 2 Pemberian informasi oleh petugas apotek mengenai obat

dijelaskan dengan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami

84,48 sangat puas

3 Keterbukaan petugas apotek akan harga suatu obat apabila ditanyakan oleh pasien

83,64 sangat puas Tabel 6. Keyakinan/ Confidence

No Pertanyaan Persentase

(%)

Tingkat Kepuasan 1 Apotek menyediakan obat secara lengkap 76,95 sangat puas 2 Apotek menyediakan obat dalam berbagai rasa, bentuk,

ukuran secara komplit

78,77 sangat puas 3 Seluruh obat di apotek tersimpan secara tepat di tempat

penyimpanan

81,56 sangat puas 4 Obat yeng telah dibeli dalam kondisi yang baik dan kualitas

terjamin (kemasan tidak rusak dan terdapat tanggal kadaluarsa)

83,90 sangat puas 5 Apotek menyediakan obat secara lengkap 82,60 sangat puas

Tabel 7. Kehandalan/ Reliability

No Pertanyaan Persentase

(%)

Tingkat Kepuasan 1 Kecepatan dan ketanggapan petugas apotek dalam

memenuhi keinginan pasien

80,91 sangat puas 2 Pelayanan obat tidak lebih dari 15 menit. 82,60 sangat puas 3 Kecepatan petugas apotek dalam melayani proses pembelian

dan pembayaran

82,99 sangat puas

PEMBAHASAN

Tingkat kepuasan konsumen Apotek pada dimensi bukti langsung/ tangible (penampilan apotek) didapatkan hasil 80,42% disimpulkan sangat puas. Konsumen sangat puas pada

pelayanan apotek mudah dijangkau oleh konsumen karena letak lokasi apotek mudah dijangkau konsumen, banyak dilalui transportasi berada di jalur provinsi sehingga memudahkan konsumen untuk membeli obat. Hasil penelitian

(5)

dimensi bukti langsung/ tangible ditampilkan sesuai tabel 3. Pada dimensi bukti langsung/

tangible terdapat penilaian yang perlu dievaluasi terkait tempat parkir apotek. Pertanyaan ini memiliki nilai terendah karena pasien mengeluh tempat parkir sangat sempit hanya untuk memutar sepeda saja, tidak ada petugas parkir, dan lokasi sangat dekat dengan jalan raya.

Tingkat kepuasan konsumen apotek pada dimensi ketanggapan/ responsiveness (keramahan petugas) didapatkan hasil 83,12%

disimpulkan sangat puas. Konsumen sangat puas pada pelayanan petugas apotek. Petugas mampu berkomunikasi dengan baik artinya petugas apotek memiliki kepiawaian dalam menumbuhkan kepercayaan konsumen terhadap apotek sehingga membuat konsumen yakin terhadap obat yang dibelinya. Hasil penelitian dimensi ketanggapan/

responsiveness ditampilkan sesuai tabel 4.

Pada dimensi ketanggapan/

responsiveness terdapat penilaian yang perlu dievaluasi terkait keramahan petugas apotek saat memberikan pelayanan, murah senyum, memberikan sapa serta salam menunjukkan nilai terendah. Konsumen menilai petugas terlalu fokus pada smartphone sehingga mengabaikan apa yang ada disekitar. Hal ini menjadikan tidak terciptanya interaksi baik dan nyaman terhadap konsumen.

Tingkat kepuasan konsumen Apotek pada dimensi empati/ emphathy (pelayanan mengenai informasi obat) diperoleh hasil 82,81% disimpulkan sangat puas. Konsumen sangat puas pada kejelasan informasi tentang obat yang diberikan oleh petugas karena bahasa yang digunakan mudah dimengerti karena pasien mengharapkan selalu mendapatkan pelayanan maksimal secara detail dari petugas apotek. Hasil penelitian dimensi empati/

empathy ditampilkan sesuai tabel 5.

Pada dimensi empati/ empathy terdapat penilaian yang perlu dievaluasi terkait pemberian edukasi kepada pasien mengenai obat yang dibeli. Pada pertanyaan ini mendapatkan nilai terendah karena kurangnya bimbingan langsung dari apoteker terkait informasi obat yang ada di apotek.

Tingkat kepuasan konsumen Apotek pada dimensi keyakinan/ confidence (ketersediaan obat) diperoleh hasil 80,75% disimpulkan sangat puas. Konsumen sangat puas pada keadaan serta kualitas obat yang dibeli di apotek artinya obat yang dibeli terjamin kualitasnya, kondisi kemasannya baik dan tidak kadaluwarsa, hal ini membuat pasien yakin bahwa obat yang dikonsumsi layak untuk dikonsumsi. Hasil penelitian dimensi keyakinan/ confidence ditampilkan sesuai tabel 6.

Pada dimensi keyakinan/ confidence terdapat penilaian yang perlu dievaluasi terkait macam-macam obat yang ada di apotek. Jenis obat ini mendapatkan nilai terendah disebabkan beberapa bulan ini apotek tidak dapat order pada Pedagang Besar Farmasi dalam proses karena apotek dalam proses perpanjangan perijinan.

Tingkat kepuasan konsumen Apotek pada dimensi kehandalan/ reliability (kecepatan pelayanan) diperoleh hasil 82,16% disimpulkan sangat puas. Konsumen sangat puas pada kecepatan pelayanan petugas apotek dalam melayani pembelian dan pembayaran mendapatkan nilai tertinggi karena menghindarkan antrean menumpuk namun dibalik cepatnya petugas apotek harus diperhatikan terkait obat yang diberikan dan uang yang diserahkan jadi pasien itu layak segera kembali kerumah untuk mengkonsumsi obat yang dibelinya. Hasil penelitian dimensi kehandalan/ reliability ditampilkan sesuai tabel 7.

Pada dimensi kehandalan/ reliability terdapat penilaian yang perlu dievaluasi terkait kecepatan dan ketanggapan apotek dalam melayani konsumen. Pertanyaan ini mendapatkan nilai terendah karena keterbatasan petugas yang jaga diapotek setiap shift hanya satu petugas sehingga perlu diperhatikan untuk diperbaiki bagaimana agar kecepatan dan ketanggapan petugas apotek dalam memenuhi keinginan pasien tercapai dengan kata lain apabila konsumen datang secara bersamaan dengan tujuan membeli obat bermacam jenis apabila hanya satu petugas yang jaga dan kurangnya kecepatan dalam melayani maka akan menimbulkan nilai negative pada apotek dan ketika ketanggapan petugas kurang juga dapat menyebabkan konsumen merasa tidak puas atas layanan yang diberikan karena kecepatan dan ketanggapan sangat diperhatikan konsumen juga berpengaruh pada kualitas pelayanan kefarmasian di apotek.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ditinjau dari 5 dimensi pengukuran kepuasan konsumen disimpulkan bahwa tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek Makmur Sehat Sukoharjo dalam kategori sangat puas. Sangat puas pada dimensi ketanggapan/ responsiveness (keramahan petugas) pada pertanyaan petugas apotek dalam melakukan pelayanan bersikap ramah, senyum, sapa, dan salam. Tidak puas terdapat 2 dimensi yang perlu dilakukan perbaikan yaitu pada dimensi bukti langsung/ tangible (penampilan apotek) perlu dilakukan pertimbangan tempat parkir yang lebih memadai

(6)

dan dimensi keyakinan/ confidence (ketersediaan obat) agar apotek lebih melengkapi lagi berbagai jenis obat.

DAFTAR PUSTAKA

Badriya, L. (2021) Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Bareng Kota Malang. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Diana, K., Tandah, M.R. and Diwayani, C.A.M.

(2022) ‘Gambaran Tingkat Kepuasan Pengunjung Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Kota Palopo’, 6(11).

Felia, L., Miyarso, C. and Intiyani, R. (2021)

‘Gambaran Pelayanan Kefarmasian Dan Kepuasan Konsumen Apotek Puri Medika Di Kecamatan Buayan Kota Kebumen’, Jurnal Farmasi Klinik Dan Sains, 1(1), p.

26. Available at:

https://doi.org/10.26753/Jfks.V1i1.662.

Kemenkes RI (2014) Keputusan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia No 35 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. Indonesia:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI (2016) Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No 73 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Apotek. Indonesia:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI (2017) Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No 9 Tahun 2017 Tentang Apotek. Indonesia:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Lemeshow, S. (1997) Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Saputri, T.I. (2016) Hubungan Penampilan Perawat dengan Kepuasan Pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,