Peta kendali atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai control chart adalah sebuah alat yang digunakan untuk memantau dan mengendalikan suatu proses secara statistik.
Tujuan Penggunaan Peta Kendali:
1. Mendeteksi Penyimpangan 2. Mencegah Produk Cacat 3. Meningkatkan Kualitas 4. Mengambil Keputusan Komponen Utama Peta Kendali:
1. Garis Tengah (Central Line): Menunjukkan nilai rata-rata dari data yang diplot.
2. Batas Kendali Atas (Upper Control Limit - UCL): Batas maksimum yang masih dianggap normal.
3. Batas Kendali Bawah (Lower Control Limit - LCL): Batas minimum yang masih dianggap normal.
Keuntungan Menggunakan Peta Kendali:
1. Visualisasi Data: Peta kendali menyajikan data secara visual sehingga mudah dipahami.
2. Deteksi Dini: Penyimpangan dapat dideteksi sejak dini sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan segera.
3. Pencegahan Masalah: Peta kendali membantu mencegah terjadinya masalah yang lebih besar di kemudian hari.
4. Peningkatan Efisiensi: Dengan mengendalikan proses secara efektif, efisiensi produksi dapat ditingkatkan.
Jenis-Jenis Peta Kendali:
1. Peta Kendali Atribut
Peta kendali atribut adalah sebuah alat statistik yang digunakan untuk memantau dan mengendalikan kualitas suatu proses produksi yang menghasilkan data berupa kualitatif atau karakteristik yang bersifat diskrit
(cacat atau tidak cacat). Data ini biasanya berupa ya/tidak, baik/buruk, cacat/tidak cacat, dan sebagainya.
2. Peta Kendali Variabel
Peta kendali variabel adalah sebuah alat statistik yang digunakan untuk memantau dan mengendalikan proses produksi yang menghasilkan data kuantitatif atau data variabel. Data ini biasanya berupa ukuran, berat, suhu, waktu, dan sebagainya.
Jenis-jenis Peta Kendali Atribut yang Umum Digunakan
Beberapa jenis peta kendali atribut yang sering digunakan antara lain:
1. Peta kendali p: Digunakan untuk memantau proporsi cacat dalam sampel yang berukuran tetap.
2. Peta kendali np: Digunakan untuk memantau jumlah cacat dalam sampel yang berukuran tetap.
3. Peta kendali c: Digunakan untuk memantau jumlah cacat dalam suatu unit produk.
4. Peta kendali u: Digunakan untuk memantau rata-rata jumlah cacat per unit produk.
Jenis-jenis Peta Kendali Variabel yang Umum Digunakan
Beberapa jenis peta kendali variabel yang sering digunakan antara lain:
1. Peta X-bar dan R: Digunakan untuk memantau rata-rata (X-bar) dan rentang (R) dari sampel-sampel yang berukuran kecil.
2. Peta X-bar dan S: Digunakan untuk memantau rata-rata (X-bar) dan simpangan baku (S) dari sampel-sampel yang berukuran lebih besar.
3. Peta individu (I) dan moving range (MR): Digunakan ketika hanya ada satu pengamatan pada setiap subkelompok.
Contoh Penggunaan Peta Kendali Atribut:
1. Industri Manufaktur: Memantau jumlah produk cacat dalam satu batch produksi, jumlah kesalahan pada kemasan produk.
2. Industri Jasa: Memantau jumlah keluhan pelanggan, jumlah kesalahan dalam pemrosesan data.
3. Sektor Kesehatan: Memantau jumlah pasien yang mengalami infeksi setelah operasi.
Contoh Penggunaan Peta Kendali Variabel:
1. Manufaktur: Memantau berat produk, dimensi produk, atau kekuatan bahan baku.
2. Pangan: Memantau suhu pemrosesan, kadar air dalam produk, atau waktu pengeringan.
3. Kimia: Memantau konsentrasi bahan kimia, pH, atau viskositas.
Tujuan Menggunakan Peta Kendali Atribut:
Peta kendali atribut merupakan alat yang sangat penting dalam pengendalian kualitas. Tujuan utama dari penggunaan peta kendali atribut adalah untuk memantau dan mengendalikan proporsi atau jumlah cacat dalam suatu proses produksi.
Tujuan Menggunakan Peta Kendali Variabel:
Peta kendali variabel merupakan alat yang sangat penting dalam menjaga kualitas produk atau jasa. Dengan menggunakan peta kendali variabel, perusahaan dapat mencapai tujuan untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, memenuhi kebutuhan pelanggan, dan meningkatkan efisiensi produksi.
Kenapa lebih memilih menggunakan kaizen dari pada metode six sigma dalam tahapan improve FMEA?
Karena kaizen dan six sigma tujuan nya sama yaitu perbaikan secara continus atau berkelanjutan dan semua bagan yang berada di Perusahaan terlibat guna meningkatkan kuaalitas layanan kepada pelanggan.
Alasan Teoritis Memilih FMEA?
1. Fokus pada Pencegahan: FMEA dirancang khusus untuk mengidentifikasi potensi kegagalan sebelum terjadi. Ini memungkinkan Anda untuk
mengambil tindakan preventif yang proaktif, sehingga mengurangi risiko terjadinya cacat pengelasan.
2. Dokumentasi yang Komprehensif: Hasil analisis FMEA dapat didokumentasikan dengan baik. Dokumentasi ini sangat berguna sebagai referensi untuk evaluasi kinerja dan perbaikan berkelanjutan.
3. Keterlibatan Tim: FMEA melibatkan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pengelasan, mulai dari engineer hingga operator. Hal ini mendorong kepemilikan bersama terhadap solusi yang dihasilkan.
Metode FMEA Adalah:
FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) adalah sebuah teknik rekayasa sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi potensi kegagalan pada suatu produk, proses, atau sistem sebelum terjadi. Dengan kata lain, FMEA adalah alat yang proaktif untuk mencegah terjadinya masalah di masa depan.
Metode Six Sigma Adalah:
Six sigma adalah strategi bisnis dengan konsep analisis statistik dengan cara peningkatan kualitas menuju target 3,4 kegagalan dalam persejuta kesempatan untuk setiap transaksi produk (barang atau jasa). Sig sigma dibuat untuk menghilangkan pemborosan, mengurangi biaya karena kualitas yang buruk dan memperbaiki efektivitas semua kegiatan operasi dengan target kesempurnaan.
Metode Kaizen Adalah:
Kaizen adalah pendekatan kerja yang berfokus pada perbaikan terus-menerus melalui perbaikan kecil dan bertahap.