KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT karena karunianya Petunjuk Teknis Penyaluran Bantuan Pemerintah Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan Di Desa, Lembaga Pendidikan Keagamaan, dan Sentra Pangan Jajanan Tahun 2023 telah tersusun dengan baik.
Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan yang memenuhi standar baku mutu Kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan di permukiman, tempat fasilitas umum, tempat pengolahan pangan mempunyai peran besar dalam pencegahan dan pengendalian penyakit sehingga dapat mewujudkan kabupaten/kota yang memenuhi kualitas Kesehatan lingkungan yang merupakan indikator kinerja pada Renstra dan RPJMN 2020-2024.
Sejalan dengan hal tersebut dilakukan 3 Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan melalui Padat Karya Tunai Desa yaitu:
1.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Desa,2.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Lembaga Pendidikan Keagamaan, dan3.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Sentra Pangan JajananPelaksanaan kegiatan intervensi kualitas kesehatan lingkungan bersifat produktif dengan memanfaatkan sumber daya alam, tenaga kerja dan teknologi lokal dalam rangka mengurangi kemiskinan, meningkatkan pendapatan dan menurunkan risiko lingkungan dan perilaku tidak sehat serta meminimalisir kejadian Covid-19 yang saat ini menjadi permasalahan kesehatan.
Petunjuk teknis ini diharapkan dapat memandu pelaksanaan kegiatan sehingga dapat berjalan secara efektif, efisien dan akuntabel menuju masyarakat Indonesia yang sehat mandiri.
Jakarta, 2023
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ...ii
DAFTAR SINGKATAN ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Penggunaan Bantuan Pemerintah ... 2
C. Dasar Hukum Pemberian Bantuan Pemerintah ... 2
D. Pemberi Bantuan Pemerintah ... 3
E. Persyaratan Penerima Bantuan Pemerintah ... 3
1. Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Desa ... 3
2. Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Lembaga Pendidikan Keagamaan 9 3. Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Sentra Pangan Jajanan ... 9
BAB II BENTUK BANTUAN PEMERINTAH ... 11
A. Bentuk Bantuan Pemerintah ... 11
B. Rincian Bantuan Pemerintah ... 11
1. Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Desa ... 11
2. Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Lembaga Pendidikan Keagamaan 14 3. Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Sentra Pangan Jajanan ... 15
BAB III TATA KELOLA PENCAIRAN DANA BANTUAN PEMERINTAH ... 16
A. Pola Penyelenggaraan ... 16
B. Tata Kelola Pencairan Dana Bantuan Pemerintah ... 17
C. Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah ... 17
D. Pertanggungjawaban Bantuan Pemerintah ... 21
E. Ketentuan Perpajakan ... 21
F. Sanksi ... 22
BAB IV ORGANISASI PELAKSANA PROGRAM ... 23
A. Organisasi Pelaksana Tingkat Pusat ... 23
1. Penyiapan aspek Teknis sebagai dasar pelaksanaan operasionalisasi ... 23
B. Organisasi Pelaksana Tingkat Provinsi ... 24
C. Organisasi Pelaksana Tingkat Kabupten/Kota ... 25
D. Organisasi Pelaksana Tingkat Kecamatan ... 26
E. Organisasi Pelaksana Tingkat Desa/Kelurahan/Lembaga Pendidikan
Keagamaan/Sentra Pangan Jajanan ... 26
F. Organisasi Pelaksana Tingkat Masyarakat ... 26
G. Organisasi Pelaksana B/BTKL-PP (Khusus untuk TTG Air dan Sanitasi) ... 30
BAB V TAHAPAN KEGIATAN ... 31
A. Tahap Persiapan ... 31
1. Penetapan Desa Penerima Program... 31
2. Penyusunan Petunjuk Teknis Kegiatan ... 31
3. Pemberitahuan Kegiatan... 31
4. Sosialisasi ... 31
5. Rembug Desa/Lembaga Pendidikan Keagamaan ... 31
B. Tahap Perencanaan ... 32
1. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat ... 32
C. Tahap Pelaksanaan Pembangunan... 41
1. Pengadaan Barang dan Jasa ... 41
2. Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan ... 43
3. Pengawasan Pekerjaan ... 43
D. Serah Terima ... 44
1. Serah Terima Pekerjaan ... 44
2. Serah Terima Pengelolaan Sarana ... 44
BAB VI PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN ... 45
A. Umum ... 45
B. Pemantauan ... 45
C. Aspek Indikator dan Parameter Evaluasi ... 46
BAB VII ... 47
PENUTUP ... 47
DAFTAR SINGKATAN
AD : Anggaran Dasar
APBN : Anggaran Pendapatan Belanja Negara
ART : Anggaran Rumah Tangga
BA : Berita Acara
BABS : Buang Air Besar Sembarangan
B/BTKL-PP : Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit BLM : Bantuan Langsung Masyarakat
CSR : Corporate Social Responsibility DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran FASKAB : Fasilitator Kabupaten
LPj : Laporan Pertanggungjawaban LDP : Laporan Penggunaan Dana
Kepmen PUPR : Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
KK : Kepala Keluarga
KPA : Kuasa Pengguna Anggaran
KPP : Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara
KPPN : Kantor Pelayanan dan Perbendaharaan Negara KKM : Kelompok Kerja Masyarakat
LPD : Laporan Penggunaan Dana
MBR : Masyarakat Berpenghasilan Rendah Monev : Monitoring dan Evaluasi
ODF : Open Defecation Free/Stop Buang Air Besar Sembarangan
PA : Pengguna Anggaran
Pemda : Pemerintah Daerah Pemprov : Pemerintah Provinsi Pemkot : Pemerintah Kota Pemkab : Pemerintah Kabupaten PERMEN : Peraturan Menteri PERPRES : Peraturan Presiden
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat PMK : Peraturan Menteri Keuangan PPK : Pejabat Pembuat Komitmen RAB : Rencana Anggaran Biaya RKM : Rencana Kerja Masyarakat RPD : Rencana Penggunaan Dana RPDB : Rencana Penarikan Dana Bank
RT : Rukun Tetangga
RW : Rukun Warga
SDM : Sumber Daya Manusia
Satker : Satuan Kerja
SK : Surat Keputusan
SOP : Standard Operating Procedure SPM : Surat Perintah Membayar
STBM : Sanitasi Total Berbasis Masyarakat TTG : Teknologi Tepat Guna
DAFTAR GAMBAR
Hal Gambar 2.1 Rincian jumlah bantuan pemerintah TTG Sanitasi 10 Gambar 2.2 Rincian jumlah bantuan pemerintah TTG Air Minum 10 Gambar 2.3 Rincian jumlah bantuan pemerintah Lembaga Pendidikan Keagamaan 12 Gambar 2.4 Rincian jumlah bantuan pemerintah Sentra Pangan Jajanan 13
Gambar 5.1 Contoh dapur 36
Gambar 5.2 Contoh sarana cuci bahan dan peralatan 36
Gambar 5.3 Contoh tempat menyimpan peralatan makan dan masak 36 Gambar 5.4 Contoh tempat penampungan sampah sementara 37
Gambar 5.5 Contoh sarana CTPS 37
Gambar 5.6 Contoh Ventilasi 38
Gambar 5.7 Etalase gerai 39
Gambar 5.8 Penirisan Alat 39
Gambar 5.9 Sarana cuci alat dan bahan pangan 40
Gambar 5.10 Sarana CTPS 40
Gambar 5.11 Sarana Tempat Sampah 41
vi
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Pernyataan Dukungan dari Bupati/Walikota ... 48
2. Nota Kesepahaman KPA Satuan Kerja Direktorat Penyehatan Lingkungan dan Kepala Desa/Lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Institusi Pembina dan Pengelola Sentra Pangan Jajanan ... 49
3. Sosialisasi Pelaksanaan Program ... 52
4. Undangan Pembentukan Kelompok Kerja Masyarakat ... 57
5. Berita acara pembentukan kelompok kerja masyarakat (KKM) ... 61
6. Surat Keputusan (SK) tentang pembentukan KKM ... 62
7. Contoh Rencana Kerja Masyarakat (RKM) ... 69
8. Berita acara pelaksanaan proses seleksi titik lokasi Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan (Sesuaikan dengan Jenis Intervensi) ... 78
9. Berita Acara Survey Harga Bahan dan Upah ... 80
10. Daftar Survey Harga Barang dan Upah ... 81
11. Undangan untuk Pengadaan Bahan ... 82
12. Daftar Volume dan Spesifikasi Pekerjaan (Lampiran Undangan untuk Pengadaan Bahan) ... 83
13. Surat Penawaran Pekerjaan Pengadaan Barang (diisi oleh Toko yang berminat sebagai pemasok barang) ... 84
14. Rincian Harga Penawaran (Lampiran untuk Surat Penawaran Pekerjaan Pengadaan Barang) diisi oleh Toko yang berminat sebagai pemasok barang ... 85
15. Surat Pernyataan Kebenaran Usaha (diisi oleh Toko) ... 86
16. Berita Acara Penentuan Pemenang ... 87
17. Surat Perjanjian Kerja Sama Antara KKM dengan Toko Barang ... 89
18. Daftar Hadir Pekerja ... 91
19. Rencana Penggunaan Dana Termin I dan II ... 92
20. Surat Permohonan Pencairan Dana Termin I dan II ... 95
21. Kuitansi Penerimaan Uang Termin I dan II ... 98
22. Surat Permohonan Penarikan Dana Dari Bank ... 101
23. Buku Kas Umum ... 102
24. Laporan Penggunaan Dana (LPD) Termin I dan II ... 103
25. Format Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja ... 105
26. Format Laporan Pertanggungjawaban Bantuan Operasional ... 107
27. Format Lamporan Kemajuan Penyelesaian Pekerjaan... 109
28. Dokumentasi Fisik ... 111
vii 29. Berita Acara Uji Fungsi Fisik Sarana ... 112 30. Surat Berita acara serah terima dari KKM ke unit kerja Dit. Penyehatan
Lingkungan ... 113 31. Berita acara serah terima dari unit kerja Dit. Penyehatan Lingkungan ke Dinkes
Kabupaten ... 114 32. Berita acara serah terima dari Dinkes Kab/Kota ke Desa/Kelurahan/Lembaga
Pendidikan Keagamaan/Sentra Pangan Jajanan ... 115 33. Stikerisasi Sarana Terbangun ... 116 34. Lembar Perjanjian Kerjasama Swakelola ... 117
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kualitas kesehatan lingkungan di desa sangat diperlukan termasuk akses terhadap air minum dan sanitasi layak menyumbang pada perbaikan status kesehatan, terutama kesehatan perempuan dan anak. Ketersediaan air minum dan sanitasi layak mengurangi tingginya angka kematian bayi dan balita, yang umumnya meninggal karena penggunaan air dan sarana sanitasi yang tidak layak. Selain itu juga dapat menyebabkan terjadinya penyebaran penyakit infeksi berbasis lingkungan seperti:
diare, disentri, kolera, hepatitis, penyakit kulit dan lain-lain, dimana keluarga miskin merupakan kelompok masyarakat dengan akses yang kurang untuk air minum layak dan sanitasi layak.
Jumlah lembaga pendidikan keagamaan dalam beberapa dekade terakhir mengalami perkembangan yang luar biasa, baik di wilayah pedesaan, pinggiran kota, maupun perkotaan. Data Kementerian Agama Tahun 2023 menunjukkan jumlah lembaga pendidikan keagamaan seluruh Indonesia sudah mencapai 74.400 lembaga dengan siswa sebanyak kurang lebih 5 juta orang. Prioritas sasaran adalah lembaga pendidikan keagamaan yang pada umumnya kondisi lingkungan dalam kondisi kurang baik.
Saat ini pangan jajanan sangatlah beragam jenisnya. Keragaman ini antara lain dari bahan baku, proses pengolahan, dan produk akhirnya. Dari jenis tempat penjualan pun cukup bervariasi misalnya ada yang berjualan di rumah, warung pinggir jalan, kantin di satuan pendidikan, gerobak yang menetap dan berkeliling dengan sepeda atau motor, mobil yang lebih dikenal dengan istilah food truck serta gerai pangan jajanan yang di sentrakan yang dikelola oleh institusi dan sebagainya. Kondisi Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) pada level UMKM sangat rawan terkait higiene dan sanitasi dalam pengelolaan siap saji yang dipasarkan. Pemahaman dan pengetahuan tenaga penjamah/pengelola TPP di sentra pangan jajanan terkait hiegene sanitasi pangan sangat rendah.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan upaya peningkatan kualitas kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat secara berkesinambungan melalui pemberdayaan masyarakat dan pembangunan sarana.
Intervensi kualitas kesehatan lingkungan yang dilakukan dapat berupa peningkatan kualitas air minum aman, penyediaan/perbaikan sarana sanitasi/jamban, sarana CTPS, sarana fasilitas pencucian alat/bahan makanan, higiene pengelolaan makanan di sentra kuliner, rehabilitasi dapur, tempat penampungan dan pengelolaan sampah terpilah, sarana pembuangan air limbah/limbah cair, bahan dan alat pelindung diri untuk pencegahan penyakit.
Agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan baik dan operasional di lapangan sesuai dengan kebijakan dan regulasi yang berlaku maka perlu disusun petunjuk teknis sebagai acuan bagi pelaksana kegiatan di lapangan serta para pemangku kepentingan terkait.
B. Tujuan Penggunaan Bantuan Pemerintah
Tujuan penggunaan bantuan pemerintah berupa intervensi kualitas kesehatan lingkungan tahun 2023 adalah:
1.
Memfasilitasi perubahan perilaku higiene sanitasi masyarakat yang lebih baik melalui peningkatan kualitas kesehatan lingkungan di desa/kelurahan sehingga didapatkan akses sanitasi yang berkualitas berupa jamban yang memenuhi syarat dilengkapi dengan sarana cuci tangan pakai sabun bagi masyarakat tidak mampu di desa/kelurahan yang sudah dilakukan pemicuan STBM.2.
Meningkatkan kualitas air minum berbasis komunal atau penyediaan sarana air minum sehingga dapat menjamin kualitas air yang dikonsumsi oleh masyarakat.3.
Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di lembaga pendidikan keagamaan melalui pembangunan sarana sanitasi yang lebih memadai dan berkualitas mendukung perubahan perilaku hidup bersih dan sehat serta pencegahan COVID-19 melalui kegiatan desinfeksi rutin dan promosi kesehatan.4.
Meningkatkan kualitas dan atau kuantitas sarana sentra pangan yang aman dan sehat, yang terjangkau dan berkelanjutan, serta peningkatan nilai ekonomi dan pendapatan masyarakat melalui keterlibatan masyarakat sentra dalam Usaha Kecil Mikro serta memfasilitasi perubahan perilaku hidup yang higienis dalam pengelolaan sentra pangan.Apabila pemerintah daerah merasa perlu menyusun petunjuk yang bersifat lebih operasional sebagai turunan petunjuk teknis ini, maka Dinas Kesehatan Kabupaten dapat mengembangkannya sepanjang tidak bertentangan dengan Petunjuk Teknis ini.
C. Dasar Hukum Pemberian Bantuan Pemerintah
1.
Undang Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247);2.
Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;3.
PP No. 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;4.
PP No 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan;5.
Permenkes No. 3/2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM);6.
PMK 168/PMK.05/2015 Juncto PMK 173/PMK.05/2016 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah Pada Kementerian/Lembaga;7.
Peraturan Presiden RI Nomor 12 Tahun 2021 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden RI No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;8.
Permenkes 76/2016 tentang Pedoman Umum Bantuan Pemerintah di Lingkungan Kemenkes sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Permenkes Nomor 24 Tahun 2021;9.
Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah No 8 Tahun 2018 tentang Pedoman Swakelola, Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah No. 3 Tahun 2021 tentang Pedoman Swakelola;10.
Keputusan Menteri Kesehatan HK. HK.01.07-MENKES-382-2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan COVID-19;11.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 14 Tahun 2021 tentang tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan12.
Peraturan Menteri Keuangan RI No 132/PMK.05/2021 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah Pada Kementerian Negara/Lembaga.13.
Keputusan Pariwisata PERMEN PAREKRAF No 3 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dan Alokasi Khusus Non Fisik Dana Pelayanan Kepariwisataan14.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 87 Tahun 2022 tentang Percepatan Layanan Sanitasi Berkelanjutan di Daerah Tahun 2022-202415.
Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 8 Tahun 2022 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 202316.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023 tentangPeraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Lingkungan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 55).
D. Pemberi Bantuan Pemerintah
Pemberi bantuan pemerintah pada intervensi kualitas kesehatan lingkungan melalui peningkatan kualitas lingkungan adalah Direktorat Penyehatan Lingkungan yang berada dibawah Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan.
E. Persyaratan Penerima Bantuan Pemerintah
1.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di DesaIntervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Desa terdiri dari dua opsi yang disesuaikan dengan kebutuhan desa/kelurahan yaitu berupa implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG) Sarana Sanitasi atau Teknologi Tepat Guna (TTG) air minum komunal berbasis masyarakat.
a. Komitmen
Komitmen yang diperlukan disesuaikan dengan jenis implementasinya.
1) Implementasi TTG Sarana Sanitasi
Komitmen desa dan pemerintah desa untuk mewujudkan desa/kelurahan penerima bantuan SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) dalam tahun berjalan. Khusus bagi desa/kelurahan yang sudah SBS untuk dapat berkomitmen dalam peningkatan akses sarana sanitasi layak hingga aman.
2) Implementasi TTG Sarana Air Minum
● Komitmen desa/kelurahan untuk menyediakan air minum aman kepada masyarakat.
● Komitmen penyelenggara sarana air minum komunal berbasis masyarakat bersedia untuk melaksanakan pengawasan internal (Inspeksi Kesehatan Lingkungan, pengujian sampel, dan melaporkan hasil pengawasan internal kepada Dinas Kesehatan secara rutin).
b. Mekanisme Komitmen Berkelanjutan TTG sarana Sanitasi dan TTG Air Minum
1). Tujuan
Komitmen dalam pengelolaan teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi yang berkelanjutan bertujuan untuk :
● meningkatkan komitmen dalam teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi, mulai dari kinerja sistem informasi air minum dan sanitasi, perencanaan, penganggaran, pengendalian sampai dengan evaluasi hasil pembangunan sarana sanitasi dan air minum.
● Menjamin teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi yang dibangun di seluruh desa/kelurahan lokasi intervensi tetap terpelihara, berfungsi dengan optimal, tetap digunakan, sehingga mampu mempertahankan bahkan meningkatkan cakupan akses air minum dan sanitasi.
2) Peran Serta Desa/Kelurahan, Kab/Kota dan Provinsi
Komitmen dalam pengelolaan teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi yang berkelanjutan melibatkan para pelaku ditingkat Desa/Kelurahan, Kab/Kota dan Provinsi. secara umum, peran masing masing pelaku utama dalam pengelolaan pasca terbangun sarana air minum dan sanitasi di tingkat pemerintah darah adalah sebagai berikut:
● Peran Pemerintah Desa/Kelurahan:
- memantau dan mengevaluasi tingkat keberfungsian sarana air minum dan sarana sanitasi yang terbangun, tingkat penerapan iuran, dan peningkatan akses air minum dan sanitasi pasca terbangun diseluruh Desa/Kelurahan lokasi intervensi
- Merumuskan dan mengalokasikan program/kegiatan daerah untuk mendukung keberlanjutan pengelolaan sarana air minum dan sanitasi terbangun di seluruh desa/kelurahan lokasi intervensi maupun di desa/kelurahan yang bukan lokasi intervensi.
● Peran POKJA Air minum dan Sanitasi di Kabupaten/Kota:
- Mengevaluasi tingkat keberfungsian sarana air minum dan sanitasi terbangun, tingkat penerapan iuran sarana air minum dan sanitasi, dan peningkatan akses air minum dan sanitasi pasca terbangun di seluruh desa/kelurahan lokasi intervensi;
- Mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi di kabupaten/kota;
- Memberikan rekomendasi kepada Bupati/Walikota terkait kebijakan kabupaten/kota untuk mendukung pengelolaan teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi yang berkelanjutan di seluruh
desa/kelurahan lokasi intervensi maupun di kabupaten/kota yang bukan lokasi intervensi;
- Memberikan pembinaan kepada KKM melalui desa/kelurahan terkait pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan pasca pembangunan;
- Menfasilitasi sinkronisasi perencanaan dan pelaksanaan RAD desa/kelurahan dengan Rencana Kerja KKM.
● Peran POKJA Air minum dan Sanitasi di Provinsi:
- Mengevaluasi tingkat keberfungsian sarana air minum dan sanitasi terbangun, tingkat penerapan iuran sarana air minum dan sanitasi terbangun, dan peningkatan akses air minum dan sanitasi pasca terbangun di seluruh kabupaten/kota lokasi intervensi;
- Mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi di lingkup provinsi;
- Memberikan rekomendasi kepada Gubernur terkait kebijakan provinsi untuk mendukung pengelolaan teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi yang berkelanjutan di seluruh kabupaten/kota lokasi intervensi maupun di kabupaten/kota yang bukan lokasi intervensi
3) Pemantauan Dan Evaluasi Hasil Komitmen Keberlanjutan
Komitmen keberlanjutan pengelolaan teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi berbasis masyarakat dinilai berhasil jika mampu menunjukkan kemajuan, sekurang-kurangnya pada indikator-indikator berikut ini:
● Tingkat keberfungsian sarana air minum dan sanitasi terbangun, dimana diharapkan seluruh sarana air minum dan sanitasi yang dibangun melalui intervensi kesehatan lingkungan tetap berfungsi dengan baik;
● Tingkat penerapan iuran penggunaan air minum, dimana diharapkan seluruh KKM telah menerapkan tarif yang memenuhi biaya operasional dan pemeliharaan, bahkan memenuhi biaya pemulihan (recovery);
● Adanya tambahan jangkauan pelayanan air minum dengan pendekatan berbasis masyarakat;
● Adanya tambahan jumlah penduduk yang menggunakan jamban sehat;
● Adanya tambahan dusun, desa/kelurahan, dan kabupaten/kota yang mencapai status 100% Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS);
● Persentase KKM dengan kinerja tinggi, dimana diharapkan seluruh KKM mampu memberikan kinerja yang tinggi dan mampu mandiri mengembangkan pelayanannya;
Pemantauan dan evaluasi hasil penguatan keberlanjutan pengelolaan teknologi tepat guna sarana air minum dan sanitasi berbasis masyarakat dilakukan berbasis Sistem Informasi Pemantauan yaitu melalui E-Monev 5 pilar STBM.
c. Persyaratan Umum
Penerima bantuan intervensi kesehatan lingkungan melalui peningkatan kualitas sanitasi lingkungan BELUM PERNAH menerima bantuan serupa dari
Kementerian Kesehatan dan harus memenuhi persyaratan umum sebagai berikut:
1) Implementasi TTG Sarana Sanitasi
● Peningkatan akses dan kualitas jamban individu (KK) yang memenuhi syarat kesehatan yang membutuhkan teknologi tepat guna dan atau wilayah endemis berbasis lingkungan;
● Peningkatan ketersediaan sarana cuci tangan pakai sabun;
● Peningkatan pendapatan keluarga bagi MBR yang bekerja dalam program program intervensi kesehatan lingkungan;
● Membentuk Kelompok Kerja Masyarakat Desa dengan surat Keputusan yang ditandatangan Kepala Desa;
● Memiliki Rencana Kerja Masyarakat Desa sebagai perencanaan dan pelaksanaan serta untuk implementasi Teknologi Tepat Guna Sarana Sanitasi diketahui dan ditandatangani oleh Sanitarian Puskesmas;
● Detail Engineering Design (DED) TTG Sanitasi yang mengacu pada buku “Daftar Pengembangan dan Implementasi Teknologi Tepat Guna Sarana Sanitasi Layak Daerah Spesifik dan Pengelolaan Air Komunal Berbasis Masyarakat” tidak memerlukan rekomendasi lagi;
● Jika masyarakat memiliki inovasi TTG yang sesuai dengan lokal spesifik diluar “Daftar Pengembangan dan Implementasi Teknologi Tepat Guna Sarana Sanitasi Layak Daerah Spesifik dan Pengelolaan Air Komunal Berbasis Masyarakat” harus berkoordinasi untuk mendapatkan rekomendasi/persetujuan dari B/BTKLPP (Balai/Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) di wilayah kerjanya melalui Dinas Kesehatan Kab/Kota dan atau rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kab/Kota melalui penilaian kelayakan design yang dibangun oleh tenaga sanitarian dalam pemenuhan persyaratan aspek teknis;
● Masyarakat desa berperan aktif dalam setiap tahapan program (pemilihan sasaran yang akan diintervensi, pemilihan teknologi/sarana yang akan dibangun dapat mengacu pada “Daftar Pengembangan dan Implementasi Teknologi Tepat Guna Sarana Sanitasi Layak Daerah Spesifik dan Pengelolaan Air Komunal Berbasis Masyarakat”;
● Masyarakat dan pemerintah desa/lembaga masyarakat desa yang menerima bantuan ini harus memiliki komitmen untuk menjamin keberlanjutan teknologi tepat guna sarana sanitasi yang diterapkan baik untuk pemeliharaan, operasional, dan pengembangan akses layanan hingga ke rumah tangga.
2) Implementasi TTG Sarana Air Minum
● Intervensi TTG Sarana Air Minum fokus pada peningkatan perbaikan kualitas air minum yang aman yang sudah ada atau membangun sarana pengelolaan air minum baru yang komunal dengan kedalaman sesuai dengan peraturan yang berlaku di pusat dan di daerah;
● Bukan termasuk sarana air minum yang mendapatkan bantuan/hibah dari sektor lain/lembaga lain dalam jangka 2 tahun terakhir. Terdapat kelompok masyarakat yang mengelola sarana air minum dan memiliki SK kepengurusan minimal kepala desa/ kelurahan;
● Lahan yang digunakan sebagai lokasi sarana air minum adalah lahan milik desa/kelurahan atau lahan yang bebas konflik dikemudian hari, yang telah disepakati bersama oleh masyarakat;
● Memiliki rencana kerja masyarakat (RKM) untuk opsi perbaikan kualitas air minum melalui implementasi Teknologi Tepat Guna Sarana Air Minum Komunal Berbasis Masyarakat yang telah disusun dan disahkan oleh Kepala Desa/Lurah serta diketahui oleh Sanitarian dan Dinas Kesehatan Kab/kota;
● Detail Engineering Design (DED) opsi TTG Sarana Air Minum yang dipilih dapat mengacu pada buku “Daftar Pengembangan dan Implementasi Teknologi Tepat Guna Sarana Sanitasi Layak Daerah Spesifik dan Pengelolaan Air Komunal Berbasis Masyarakat” tidak memerlukan rekomendasi lagi;
● Jika masyarakat memiliki inovasi TTG yang sesuai dengan lokal spesifik yang akan diimplementasikan diluar “Daftar Pengembangan dan Implementasi Teknologi Tepat Guna Sarana Sanitasi Layak Daerah Spesifik dan Pengelolaan Air Komunal Berbasis Masyarakat”
harus berkoordinasi untuk mendapatkan rekomendasi/persetujuan dari B/BTKLPP (Balai/Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) di wilayah kerjanya melalui Dinas Kesehatan Kab/Kota dan atau rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kab/Kota melalui penilaian kelayakan design yang dibangun oleh tenaga sanitarian dalam pemenuhan persyaratan aspek teknis;
● Partisipasi masyarakat desa/kelurahan, berperan aktif dalam setiap tahapan program (pemilihan sasaran yang akan diintervensi, pemilihan teknologi/sarana yang akan dibangun, pelaksanaan pembangunan, dan pengembangan sarana berikutnya) dengan didampingi oleh Kepala Puskesmas/Sanitarian Puskesmas, dan Penanggung Jawab Kesling Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota/Kota;
● Penyelenggara sarana air minum, masyarakat, dan pemerintah desa/lembaga masyarakat desa, yang menerima bantuan ini harus memiliki komitmen untuk menjamin keberlanjutan teknologi tepat guna sarana air minum yang diterapkan (pemeliharaan, operasional, dan pengembangan akses hingga ke layanan rumah tangga).
d. Persyaratan Khusus
1) Implementasi TTG Sarana Sanitasi
Sasaran penerima akses TTG Sarana sanitasi per desa/kelurahan minimal 15 KK akses ketersediaan jamban yang memenuhi syarat (leher angsa dengan tangki septik menuju aman) dan sarana CTPS.
Penerima Bantuan Pemerintah pada Program Intervensi Kesehatan Lingkungan pada peningkatan kualitas sanitasi ini memenuhi 2 atau 3 persyaratan sebagai berikut:
● KK yang berpenghasilan rendah, atau Kepala Keluarga memiliki Balita, atau Kepala Keluarga memiliki ibu Hamil yang belum memiliki sarana sanitasi namun sudah berperilaku hidup sehat;
● KK belum akses terhadap sarana sanitasi yang layak ataupun sharing di tempat yang belum layak;
● KK miskin yang sudah berubah perilaku dari BABS di tempat terbuka dan BABS di tempat terselubung;
2) Implementasi TTG Sarana Air Minum
● Intervensi TTG perbaikan kualitas air minum, sasarannya adalah sarana air minum komunal berbasis masyarakat yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat minimal 35 KK secara berkelanjutan;
● Intervensi untuk pembangunan sarana air minum yang baru, sarana yang dibangun adalah sarana komunal berbasis masyarakat yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat minimal 20 KK secara berkelanjutan;
● Sumber sarana air minum komunal berbasis masyarakat tersebut telah memiliki kelompok penyelenggara air minum, apabila belum terbentuk, maka harus ditunjuk penyelenggara air minum untuk melaksanakan pengawasan internal dan tindak lanjut hasil pengawasan eksternal. Penyelenggara air minum komunal berbasis masyarakat minimal di SK-kan oleh Kepala Desa/Lurah sebagai penanggung jawab kepala administrasi wilayah setempat.
● Prinsip dari pelaksanaan penerapan TTG Air Minum Komunal Berbasis Masyarakat adalah untuk menghasilkan air minum sebagai kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat guna mewujudkan kualitas air minum aman sampai dengan titik rumah tangga.
● Bersama Dinas Kesehatan Kab/Kota dan sanitarian puskesmas melaksanakan pengambilan sampel uji kualitas air minum terhadap 19 parameter air minum aman (parameter terlampir pada bab persentase keuangan) sebanyak 2 kali dalam setahun.
● Pengambilan sampel uji kualitas pertama sebagai dasar penentuan TTG yang akan direncanakan. Pengambilan sampel uji kualitas kedua dilaksanakan setelah rangkaian TTG terpasang dan diuji hasil kualitas air yang dihasilkan;
● Uji kualitas air minum dilaksanakan pada laboratorium yang terakreditasi dan atau peralatan uji kualitas air minum yang telah terkalibrasi apabila jauh dari jangkauan layanan;
● Pembiayaan uji kualitas air minum dibiayai melalui dukungan non fisik administrasi RKM.
2.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Lembaga Pendidikan Keagamaana. Komitmen
Komitmen untuk mendukung pencapaian lembaga pendidikan keagamaan (tempat fasilitas umum) yang memenuhi syarat kesehatan.
b. Persyaratan Umum
● Memiliki unsur-unsur lembaga pendidikan keagamaan (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu);
● Memiliki tenaga pengajar, dan jumlah peserta didik minimal 50 orang;
● Sudah beroperasi lebih dari 3 tahun;
● Memiliki ijin operasional dari Kementerian Agama;
● Lembaga pendidikan keagamaan yang dikelola oleh masyarakat atau yayasan
● Belum pernah menerima bantuan intervensi kualitas kesehatan lingkungan (PKTD) lembaga pendidikan keagamaan dari Kemenkes
● Memiliki komitmen tinggi untuk menyelesaikan program.
c. Persyaratan Khusus
● Mendapat rekomendasi dari Kantor Kemenag kab/kota
● Lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki hasil IKL tidak memenuhi syarat (termasuk antara lain : akses yang rendah terhadap sarana sanitasi yang layak, sarana hygiene sanitasi bangunan yang tidak layak)
● Masih tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan (laporan kasus penyakit dari masing-masing lembaga pendidikan)
● Sarana kesehatan lingkungan di lembaga pendidikan keagamaan yang telah dibangun dapat dimanfaatkan, dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat penerima manfaat untuk menurunkan faktor resiko penyakit berbasis lingkungan.
3.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Sentra Pangan Jajanan a. KomitmenKomitmen untuk mendukung pencapaian sentra pangan jajanan yang memenuhi syarat kesehatan.
b. Persyaratan Umum
● Berada di lokasi/daerah destinasi wisata lokal maupun nasional;
● Sentra pangan jajanan dalam keadaan aktif beroperasi setiap hari;
● Sentra pangan jajanan merupakan aset resmi pemda/desa/kelurahan (bukan milik swasta);
● Sentra pangan yang tidak berpindah-pindah lokasi/menetap (minimal 1 tahun berdiri);
● Sentra pangan yang memiliki bangunan permanen maka semua bentuk intervensi diperuntukan penggunaan tiap-tiap gerai;
● Sentra pangan yang memiliki bangunan semi permanen maka semua bentuk intervensi diperuntukan penggunaannya secara bersama-sama.
c. Persyaratan Khusus
● Sentra pangan jajanan kerakyatan (UMKM);
● Mempunyai penanggung jawab/pengelola di bawah binaan dan pengawasan institusi pembina;
● Sentra pangan jajanan terdaftar dalam E-Monev TPP (menginput sentra tersebut dalam E Monev TPP untuk diajukan sebagai calon peserta);
● Terdapat minimal 10 gerai pangan jajanan yang aktif beroperasi setiap hari dalam sentra tersebut;
● Tersedia sarana penunjang air bersih yang cukup dan memadai;
● Pembinaan dan labelisasi oleh Dinas Kesehatan sebagai pembina wilayah.
BAB II
BENTUK BANTUAN PEMERINTAH
A. Bentuk Bantuan Pemerintah
Bentuk bantuan pemerintah yang akan diberikan adalah dalam bentuk uang yang digunakan untuk membeli sarana prasarana non medis untuk masyarakat untuk peningkatan kualitas kesehatan lingkungan.
Penggunaan dana bantuan pemerintah dimaksud dibagi menjadi 3 (tiga) komposisi pendanaan yaitu belanja fisik, belanja upah dan belanja administrasi.
Penjelasan untuk setiap belanja antara lain :
a. Belanja fisik : belanja yang digunakan untuk pembelian belanja barang material pembangunan sarana penunjang perubahan perilaku
b. Belanja upah : uang dan sebagainya yang dibayarkan sebagai pembalas jasa atau sebagai pembayar tenaga yang sudah dikeluarkan untuk mengerjakan sesuatu atau hasil sebagai akibat (dari suatu perbuatan)
c. Belanja administrasi : dana yang digunakan untuk kegiatan non fisik yang jumlah dan jenisnya disepakati dalam rembuk warga untuk mendanai kegiatan antara lain: kegiatan-kegiatan rembuk di tingkat masyarakat, konsumsi untuk rembuk warga/penyuluhan/sosialisasi/pemberdayaan masyarakat, ATK, pembuatan dan pengiriman dokumen, papan informasi pelaksanaan kegiatan, spanduk, poster, stiker untuk edukasi masyarakat, transport untuk pencairan dana di bank, transport belanja material, transportasi KKM dalam rangka konsultasi/koordinasi ke instansi pembina kegiatan, administrasi bank perbulan & penutupan rekening serta pengujian kualitas air minum (sarana air minum).
B. Rincian Bantuan Pemerintah
1.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di DesaBantuan pemerintah pada kegiatan Intervensi Kesehatan Lingkungan di desa/kelurahan dilakukan dengan melalui pengembangan TTG Sanitasi dan TTG Air Minum diharapkan menghasilkan output sesuai dengan jenis intervensi lingkungan desa.
a. TTG Sarana Sanitasi
Rincian jumlah bantuan pemerintah untuk intervensi kesehatan lingkungan melalui pengembangan TTG Sanitasi terdiri dari :
Maksimal UPAH 22.5% → (maksimal Rp.
22.500.000) untuk upah tenaga kerja per satu unit (3 orang x 5 hari))
Anggaran per paket Rp.100.000.000, penerapan TTG sarana sanitasi aman dan sarana
cuci tangan pakai sabun
Minimal 72,5 % FISIK → (minimal Rp.
72.500.000) untuk anggaran fisik pembelian bahan pembuatan TTG sanitasi berupa: 1)
TTG berupa septic tank sanitasi layak menuju aman dilengkapi dengan dudukan
jamban leher angsa. 2) Sarana CTPS. 3) Tersedia Akses minimal untuk 15 KK
Maksimal 5 % ADMINISTRASI → (maksimal Rp. 5.000.000) penyusunan rencana, administrasi kegiatan dan operasional (jumlah
dan peruntukan sesuai rembuk warga)
Gambar 2.1 Rincian jumlah bantuan pemerintah TTG Sanitasi Keterangan :
1. Upah tenaga kerja tergantung dari masing-masing keahlian, dan dihitung perhari kerja yaitu 8 jam per hari ataupun lebih tergantung kesepakatan rembuk masyarakat;
2. Harga satuan upah dan bahan/material untuk dasar perhitungan biaya perencanaan didasarkan harga satuan setempat.
3. Dana non fisik hanya digunakan untuk membiayai kegiatan KKM pelaksana kegiatan
b. TTG Sarana Air Minum
TTG sarana air minum adalah teknologi untuk peningkatan kualitas air minum dan juga jika dibutuhkan dapat berupa pembangunan sarana air minum yang baru. Rincian jumlah bantuan pemerintah untuk intervensi di atas terdiri dari :
Anggaran per paket Rp.100.000.000,- untuk
penerapan TTG Air Minum Komunal Berbasis
Masyarakat dan atau Pembangunan Sarana Air
Minum Baru
Minimal 70% FISIK → (minimal Rp.
70.00.000) untuk anggaran pembelian material untuk pengembangan TTG Air Minum
yang dapat diakses minimal oleh 35 KK dan pembangunan sarana air minum yang baru
yang dapat akses minimal 20 KK
Maksimal 20% UPAH → maksimal Rp 20.000.000,- untuk upah tenaga kerja (10
orang x 20 hari)
Maksimal 10% ADMINISTRASI → mendanai penyusunan rencana, administrasi dan operasional kegiatan serta pengujian kualitas
air minum (fisik, kimia, dan mikrobiologi)
Gambar 2.2 Rincian jumlah bantuan pemerintah TTG Air Minum Keterangan :
1. Kegiatan administrasi non fisik pengujian kualitas air minum (fisik, kimia, mikrobiologi) pengembangan TTG Air Minum dan pembangunan baru dilakukan sebanyak 2 kali terhadap 19 parameter air minum aman. Pengujian dilakukan oleh Dinas Kesehatan kab/kota/puskesmas yaitu :
a. Pengujian sampel kualitas pertama sebagai dasar penentuan TTG dan pembangunan sarana yang baru yang akan direncanakan,
b. Pengujian sampel kualitas kedua dilaksanakan setelah rangkaian TTG terpasang dan pembangunan sarana yang baru dan diuji hasil kualitas air yang dihasilkan.
Selanjutnya, pengujian sampel kualitas air minum dilakukan kembali 1 bulan setelah masa pemakaian untuk mengetahui beban operasional pemeliharaan. Pembiayaan dibebankan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota/Puskesmas.
2. Pengujian kualitas air minum dilaksanakan pada laboratorium yang terakreditasi dan atau peralatan uji kualitas air minum yang telah terkalibrasi apabila jauh dari jangkauan layanan.
No Jenis
Parameter
Kadar maksimum
yang diperbolehkan Satuan Metode Pengujian
Mikrobiologi
1 E.Coli 0 CFU/100ml SNI/ APHA
2 Total Coliform 0 CFU/100ml SNI/ APHA
Fisik
3 Suhu Suhu udara ± 3 oC SNI/APHA
4 TDS <300 mg/L SNI/APHA
5 Kekeruhan <3 NTU SNI atau yang
setara
6 Warna 10 TCU SNI/APHA
7 Bau Tidak berbau - APHA
Kimia
8 pH 6.5 – 8.5 - SNI/APHA
9 Nitrat (sebagai NO3) (terlarut)
20 mg/L SNI/APHA
10 Nitrit (sebagai NO2) (terlarut)
3 mg/L SNI/APHA
11 Kromium valensi 6 (Cr6+) (terlarut)
0,01 mg/L SNI/APHA
TTG Air Minum atau rehabilitasi ventilasi asrama maksimal = Rp.
17.000.000
Tempat Penampungan sampah Sementara 1 unit = Rp. 8.000.000
No Jenis
Parameter
Kadar maksimum
yang diperbolehkan Satuan Metode Pengujian
12 Besi (Fe) (terlarut) 0.2 mg/L SNI/APHA
13 Mangan (Mn) (terlarut) 0.1 mg/L SNI/APHA
14 Sisa khlor (terlarut) 0,2-0,5 dengan waktu kontak 30 menit
mg/L SNI/APHA
15 Arsen (As) (terlarut) 0.01 mg/L SNI/APHA
16 Kadmium (Cd) (terlarut) 0.003 mg/L SNI/APHA
17 Timbal (Pb) (terlarut) 0.01 mg/L SNI/APHA
18 Flouride (F) (terlarut) 1.5 mg/L SNI/APHA
19 Aluminium (Al) (terlarut) 0.2 mg/L SNI/APHA
2.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Lembaga Pendidikan KeagamaanRincian jumlah bantuan pemerintah pada kegiatan peningkatan kualitas kesehatan lingkungan di Lembaga Pendidikan Keagamaan terdiri dari:
Anggaran satu Lembaga Pendidikan
Keagamaan Rp.100.000.000,-.
Minimal membangun, sarana cuci tangan pakai sabun, tempat
penampungan sampah sementara dan rehabilitasi dapur
, TTG Air minum/rehabilitasi
ventilasi asrama
Minimal 70 % untuk anggaran fisik (bahan dan
alat)
Maksimal 20 % untuk upah tenaga
kerja
Rp.70,000,000
Rp. 20.000.000
Sarana Cuci Tangan Pakai Sabun Permanen minimal 10 unit dengan maksimal dana = Rp. 10.000.000
Rehabilitasi Dapur (tempat penyimpanan peralatan meja persiapan, meja masak, tempat cuci tangan, tempat penyimpanan bahan makanan, tempat cuci bahan, dan cuci peralatan sebanyak I unit = Rp
35.000.000
Maksimal 10 % untuk Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Lembaga Pendidikan Keagamaan, penyusunan rencana, administrasi kegiatan dan operasional termasuk
pemeriksaan kualitas air
Rp. 10.000.000
Gambar 2.3 Rincian jumlah bantuan pemerintah Lembaga Pendidikan Agama Keterangan :
1. Pemilihan opsi pembangunan sarana diambil setelah dilakukan PHAST Lembaga Pendidikan Keagamaan yang tertuang dalam rencana kerja masyarakat
2. Kegiatan administrasi non fisik pengujian kualitas air minum (fisik, kimia, mikrobiologi). Pengujian dilakukan sebanyak dua kali oleh Dinas Kesehatan kab/kota/puskesmas yaitu :
1) Pengujian sampel kualitas pertama sebagai dasar penentuan TTG yang akan direncanakan,
2) Pengujian sampel kualitas kedua dilaksanakan setelah rangkaian TTG terpasang dan diuji hasil kualitas air yang dihasilkan.
3.
Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan di Sentra Pangan Jajanan Rincian jumlah bantuan pemerintah pada kegiatan peningkatan kualitas kesehatan lingkungan di Sentra Pangan Jajanan terdiri dari:Anggaran 1 Sentra pangan jajanan Rp. 100.000.000
- Intervensi Sentral Pangan Jajanan berupa etalase lengkap, sarana CTPS,sarana pencucian alat bahan
pangan dan penirisannya, sarana SPAL RT, tempat sampah terpilah
serta APD bagi penjamah
Minimal 70 % untuk anggaran fisik (bahan dan
alat)
Maksimal 25 % untuk upah tenaga kerja
Maksimal 5 % untuk administrasi kegiatan dan
operasional awal
Gambar 2.4 Rincian jumlah bantuan pemerintah Sentra Pangan Jajanan
BAB III
TATA KELOLA PENCAIRAN DANA BANTUAN PEMERINTAH
A. Pola Penyelenggaraan
Pola penyelenggaraan Intervensi Kesehatan Lingkungan adalah swakelola tipe IV yaitu swakelola yang direncanakan oleh kementerian/lembaga/perangkat daerah penanggungjawab anggaran dan/atau berdasarkan usulan kelompok masyarakat dan dilaksanakan serta diawasi oleh kelompok masyarakat pelaksana swakelola. Kelompok masyarakat pelaksana swakelola yang dimaksud dalam program ini yaitu Kelompok Kerja Masyarakat (KKM) yang telah disahkan melalui Surat Keputusan Kepala Desa/Lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Kepala Institusi Pembina atau Pengelola Sentra Pangan Jajanan pelaksana swakelola terdiri dari tim persiapan, pelaksana, dan pengawas.
Tahapan penyelenggaraan Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Sosialisasi pelaksanaan Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan
2. Usulan calon sasaran penerima disampaikan dan dikoordinasikan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota dalam rangka menjaga akuntabilitas dan keberlanjutan pengawasan kualitas sarana yang terbangun
3. Usulan calon sasaran penerima dari Dinas Kesehatan Kab/Kota disampaikan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan selanjutnya Dinas Kesehatan Provinsi mengusulkan ke Kemenkes
4. Penetapan sasaran lokasi intervensi dilakukan oleh PA/KPA dengan dasar adalah usulan dari daerah
5. Penetapan Nota Kesepahaman antara Kuasa Pengguna Anggaran dengan Kepala Desa/Lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Kepala Institusi pembina atau pengelola Sentra Pangan
6. Penetapan perjanjian kerja sama antara PPK dan Ketua KKM 7. Pelaksanaan kegiatan intervensi oleh Kelompok Masyarakat
8. Pelaksanaan serah terima hasil kegiatan dilakukan oleh Ketua KKM kepada PPK, selanjutnya Direktorat Penyehatan Lingkungan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/kota dan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota kepada Kepala Desa/Lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Kepala Institusi Pembina atau pengelola Sentra Pangan Jajanan.
9. Secara keseluruhan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan intervensi kesehatan lingkungan didampingi oleh Sanitarian Puskesmas/Penanggung jawab Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota dalam penyusunan rencana kegiatan dan pelaksanaannya.
Prinsip pelaksanaan sebagai berikut:
● Tanggap kebutuhan
1. Perencanaan berdasarkan kebutuhan oleh masyarakat
2. Masyarakat memiliki komitmen untuk melaksanakan seluruh tahapan
● Pilihan teknologi
Masyarakat mampu memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setempat dengan diberikan edukasi tentang desain sarana yang akan dibangun
● Partisipasi masyarakat
Masyarakat berperan aktif dalam setiap tahapan program (perencanaan, pemilihan teknologi/sarana yang akan dibangun, pelaksanaan pembangunan, dan pengembangan/replikasi sarana berikutnya) dengan didampingi oleh penanggung jawab Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas dan penanggung jawab Program Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan
● Kesetaraan gender dan kelompok disabilitas
Keterlibatan perempuan dan kelompok disabilitas dapat berperan aktif dalam setiap tahapan kegiatan Intervensi peningkatan Kualitas Kesehatan Lingkungan yaitu pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan pasca konstruksi sesuai dengan kapasitasnya.
● Berkelanjutan
Sarana kesehatan lingkungan yang telah dibangun dapat dimanfaatkan, dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat penerima manfaat untuk menurunkan faktor resiko penyakit berbasis lingkungan.
● Akuntabel
Pengelolaan kegiatan ini harus dapat dipertanggungjawabkan.
B. Tata Kelola Pencairan Dana Bantuan Pemerintah
Dana Bantuan Pemerintah Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan dialokasikan melalui Satker Sekretariat Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tahun 2023. Kegiatan ini mengacu pada peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 173/PMK.05/2016 tentang tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah Pada Kementerian Negara/Lembaga dan PMK Nomor 132/PMK.05/2021 Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga dilakukan sebanyak dua tahap dan dilakukan melalui mekanisme LS dikirimkan langsung ke Rekening KKM.
KKM dapat melakukan penarikan dana dari bank setelah koordinasi dengan PJ Kesling Puskesmas untuk mengidentifikasi kebutuhan yang akan didanai dan mendapat surat permohonan Penanggung Jawab Program Kesehatan Lingkungan Dinkes Kabupaten/Kota/Puskesmas.
C. Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah
Penyaluran dana bantuan Pemerintah dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen pada Satker Sekretariat Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tahun 2023 melalui rekening KKM.
Proses penyaluran dana kegiatan dilakukan sebagai berikut:
1. Dilakukan perjanjian kerjasama/kontrak antara PPK Pengadaan Barang dan Jasa dan Ketua KKM. Adapun isi perjanjian kerjasama yang dimaksud akan memuat hal-hal sebagai berikut:
a. Hak dan kewajiban kedua belah pihak;
b. Jumlah bantuan yang diberikan;
c. Tata cara dan syarat penyaluran;
d. Pernyataan kesanggupan penerima bantuan pemerintah untuk menggunakan bantuan sesuai rencana yang telah disepakati;
e. Pernyataan kesanggupan penerima bantuan pemerintah untuk menyetorkan sisa dana yang tidak digunakan ke kas Negara;
f. Sanksi;
g. Penyampaian laporan penggunaan dana secara berkala kepada PPK;
h. Penyampaian laporan pertanggungjawaban kepada PPK sesuai tahapan penarikan dana dan pekerjaan dinyatakan selesai.
i. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan
2. Pembukaan rekening bank KKM dilakukan setelah keputusan penetapan sasaran
3. Pembukaan rekening bank atas nama KKM dilakukan terpusat oleh Kemenkes 4. Pengambilan buku tabungan dilakukan oleh Ketua KKM dan Bendahara. Buku tabungan ditandatangani (spesimen) oleh 2 orang yaitu Ketua KKM dan Bendahara.
5. Setiap penarikan dana harus sepengetahuan dari penanggung jawab Kesling Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota/Puskesmas melalui surat permohonan pencairan dana
6. Penarikan dana oleh KKM dilakukan tunai dan KKM tidak diperbolehkan memindahbukukan dana bantuan ke rekening pribadi maupun rekening lainnya.
7. Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah dari Satker Sekretariat Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ke Rekening KKM dibagi menjadi 2 termin:
Termin I sebesar 70% dari total nilai kontrak
Persyaratan Pengajuan Keluaran kegiatan
Perjanjian kerjasama (kontrak) yang telah ditandatangani oleh PPK dan KKM Penerima Bantuan (Asli, 3 rangkap lengkap dengan materai)
1. Dokumen RKM yang telah diperiksa dan diverifikasi oleh PJ Kesling Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Puskesmas dan dilengkapi dengan surat pengantar RKM (dokumen elektronik- pindai)
Progres pelaksanaan yang harus dicapai pada termin 1:
1. KKM didampingi sanitarian membuat Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Termin I yang memuat:
1) Laporan administrasi keuangan (kuitansi pembelian, Buku Kas Umum, nota pembelian)
2) Laporan pengadaan barang dan jasa (berupa daftar survei harga
Persyaratan Pengajuan Keluaran kegiatan
2. Lembar Pengesahan RKM yang sudah ditandatangani PJ Kesling Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Puskesmas (Asli)
3. Melampirkan SK KKM yang ditandatangani oleh Kepala Desa/Lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Kepala Institusi Pembina atau pengelola Sentra Pangan Jajanan (dokumen elektronik-pindai)
4. Melampirkan Rencana Penggunaan Dana (RPD) Termin I sebesar 70%
(dokumen elektronik-pindai)
5. Mengajukan Surat Permohonan Pencairan Dana 70% yang ditanda tangani oleh ketua KKM (dokumen elektronik-pindai)
6. Melampirkan kuitansi penerimaan uang termin I yang telah ditandatangani oleh Ketua KKM (Asli) 7. Surat pernyataan tanggung jawab
mutlak atas belanja (SPTJB) senilai 70% yg ditanda tangani oleh KKM (dokumen elektronik-pindai)
8. Seluruh dokumen 1-8 dikirim ke Direktorat Penyehatan Lingkungan (Administrasi umum) di Gedung Adhyatma Lt. 7 (Ruang 721) Jl. H.R Rasuna Said Blok X-5 Kavling 4-9 Jakarta
upah dan material, PKS dengan penyedia material)
3) Laporan pelaksanaan kegiatan (Capaian progres fisik 70%, dan dokumentasi pelaksanaan pekerjaan fisik 0% dan 70%) 2. Dokumen LPJ diverifikasi oleh
Penanggung Jawab Kesling Puskesmas dan Dinkes kab/kota untuk selanjutnya dikirim Dit PL untuk pengajuan pencairan termin II.
Termin I sebesar 30% dari total nilai kontrak
Persyaratan Pengajuan Keluaran kegiatan
1. Dokumen LPJ Termin I yang telah diverifikasi oleh Penanggung Jawab Kesling Puskesmas dan Dinkes kab/kota (dokumen elektronik-pindai) 2. Mengajukan Surat Permohonan
Pencairan Dana 30% yang ditanda
Progres pelaksanaan yang harus dicapai pada termin II :
1. KKM dan Penanggung jawab Kesling kab/kota dan atau melakukan uji fungsi fisik sarana
Persyaratan Pengajuan Keluaran kegiatan
tangani oleh ketua KKM (dokumen elektronik-pindai)
3. Melampirkan Rencana Penggunaan Dana (RPD) Termin II (dokumen elektronik-pindai)
4. Melampirkan kuitansi penerimaan uang termin II yang telah ditandatangani oleh Ketua KKM (Asli) 5. Surat pernyataan tanggung jawab
mutlak atas belanja (SPTJB) senilai 30% yg ditanda tangani oleh KKM (dokumen elektronik-pindai)
6. Seluruh dokumen 1-5 dikirim ke Direktorat Penyehatan Lingkungan (Administrasi umum) di Gedung Adhyatma Lt. 7 (Ruang 721) Jl. H.R Rasuna Said Blok X-5 Kavling 4-9 Jakarta
2. KKM didampingi sanitarian membuat Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Termin II yang memuat:
1) Laporan administrasi keuangan (kuitansi pembelian, Buku Kas Umum, nota pembelian)
2) Laporan pelaksanaan kegiatan (Capaian progres fisik 100%, dan dokumentasi pelaksanaan pekerjaan fisik 100%)
3. Berita Acara Serah Terima (BAST) hasil pekerjaan
8. Berkas penyaluran dana yang disiapkan oleh Satker Sekretariat Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit antara lain:
a. Nota Kesepahaman Satker Sekretariat Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dengan Kepala Desa/Lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Kepala Institusi Pembina atau pengelola Sentra Pangan Jajanan
b. Perjanjian kerjasama (kontrak) PPK Satker Sekretariat Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Unit Kerja Direktorat Penyehatan Lingkungan dengan Ketua KKM;
c. Format Kuitansi Termin I dan Termin II
d. dan lain-lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
9. Penggunaan Materai
Bukti pembayaran dibubuhi materai sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal yang dikenakan Bea Materai. Pembiayaan untuk materai dapat diambil dari biaya pada komponen administrasi, besarnya pengenaan harga adalah sebagai berikut:
Untuk pembayaran yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp.
5.000.000,00 (lima juta rupiah), dikenakan Bea Meterai dengan tarif sebesar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah).
D. Pertanggungjawaban Bantuan Pemerintah
Pertanggungjawaban bantuan pemerintah dilakukan oleh KKM yang didampingi oleh sanitarian puskesmas dan diketahui oleh kepala desa/lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Kepala Institusi Pembina atau pengelola Sentra Pangan Jajanan yang terdiri dari pencatatan dan pelaporan.
KKM penerima bantuan dalam bentuk uang harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban bantuan kepada PPK setelah pekerjaan selesai atau akhir tahun anggaran meliputi :
1. Berita Acara Serah Terima yang memuat :
a. jumlah dana awal, dana yang dipergunakanndan sisa dana;
b. pekerjaan telah diselesaikan sesuai dengan Perjanjian Kerja Sama; dan c. pernyataan bahwa bukti-bukti pengeluaran telah disimpan.
2. Foto/film hasil pekerjaan yang telah diselesaikan
E. Ketentuan Perpajakan
Bantuan Program Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan dialokasikan pada kelompok akun belanja barang untuk bantuan lainnya yang memiliki karakteristik bantuan pemerintah dalam bentuk uang sesuai dengan pasal 38 ayat (1), 173/PMK.05/2016 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah Pada Kementerian Negara/Lembaga. Mengacu pada:
1. Pasal 4a ayat (2) huruf d, Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 08 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, bahwa jenis barang yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai adalah barang tertentu dalam kelompok barang : uang, emas batangan, dan surat berharga.
2. Pasal 4 ayat (3) huruf a, Undang-Undang PPh tahun 2008, bahwa yang dikecualikan dari objek pajak adalah : a. I. bantuan atau sumbangan termasuk zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh Lembaga Pendidikan Keagamaan yang dibentuk atau yang disahkan oleh Pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
3. Menindaklanjuti hasil rapat tanggal 15 Agustus 2019 Direktorat Penyehatan Lingkungan dengan KPP Pratama Jakarta Setiabudi, pelaksanaan kegiatan dalam hal perpajakan mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 224/PMK.011/2012 tentang perubahan atas Permenkeu Nomor 154/PMK.03/2010 tentang pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22. Sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan Barang dan kegiatan di Bidang Impor atau kegiatan di bidang lain, pemungut PPh pasal 22 adalah KPA atau Pejabat Penerbit Surat Perintah membayar yang diberi delegasi oleh KPA berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran LS.
4. Tarif PPh Pasal 22.
● Atas pembelian barang bendahara Pemerintah dan KPA sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya sebesar 1,5% dari harga pembelian tidak termasuk PPN.
● Berkenaan dengan pembayaran diatas pembelian barang kepada pihak ke-3 yang dilakukan dengan mekanisme Pembayaran Langsung (LS) oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau PPSPM yang diberi delegasi oleh KPA sebesar 1,5% dari harga pembelian tidak termasuk PPN.
F. Sanksi
1. LaranganDana bantuan Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan dilarang digunakan untuk membiayai pembangunan atau kegiatan lain selain untuk program tersebut.
2. Sanksi
Segala bentuk pelanggaran atas pengelolaan Bantuan Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan yang tidak sesuai dengan ketentuan akan diberikan sanksi menurut peraturan perundang-undangan dan hukum yang berlaku. Sanksi terhadap penyalahgunaan wewenang yang dapat merugikan Negara dan/atau pemerintah dan masyarakat akan dijatuhkan oleh aparat/pejabat yang berwenang. Sanksi kepada oknum yang melakukan pelanggaran dapat diberikan dalam berbagai bentuk, misalnya sebagai berikut:
a. Penerapan sanksi kepegawaian sesuai dengan peraturan dan undang- undang yang berlaku.
b. Penerapan tuntutan perbendaharaan dan ganti rugi, yaitu dana bantuan yang terbukti disalahgunakan agar dikembalikan kepada kas Negara.
c. Pemblokiran dana dan penghentian sementara seluruh bantuan kesehatan yang bersumber dari APBN pada tahun berikutnya kepada kabupaten/kota, bilamana terbukti pelanggaran tersebut dilakukan secara sengaja dan tersistem untuk memperoleh keuntungan pribadi, kelompok, atau golongan.
d. Apabila terdapat penyimpangan dalam pelaksanaan program Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan maka Desa/Kelurahan/Lembaga Pendidikan Keagamaan/Sentra Pangan Jajanan yang terdapat di lingkungan Dinas Kesehatan Kab/Kota setempat akan dipertimbangkan untuk tidak menerima seluruh bantuan yang berasal dari Kementerian Kesehatan di tahun berikutnya
BAB IV
ORGANISASI PELAKSANA PROGRAM
A. Organisasi Pelaksana Tingkat Pusat
1.
Penyiapan aspek Teknis sebagai dasar pelaksanaan operasionalisasia. Menyusun petunjuk teknis pelaksanaan dan strategi di bidang peningkatan akses dan peningkatan kualitas kesehatan lingkungan.
b. Menganalisa sasaran desa intervensi untuk disampaikan kepada PPK dan ditetapkan oleh KPA (sesuaikan dengan jenis PKTD), untuk lembaga pendidikan keagamaan tidak diperlukan analisa sasaran ini;
c. Melakukan koordinasi dengan Provinsi dan Kab/Kota dalam pelaksanaan kegiatan;
d. Melaporkan hasil pengendalian pelaksanaan Program Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan kepada Direktur Penyehatan lingkungan.
Dalam pelaksanaannya PPK dapat menugaskan pegawai pada instansi penanggung jawab anggaran atau tenaga ahli/teknis/narasumber untuk melakukan pendampingan atau asistensi penyelenggara swakelola. Direktorat Penyehatan Lingkungan menyusun tim teknis dalam pelaksanaan pendampingan secara teknis terhadap pelaksanaan swakelola untuk membantu PPK dengan tugas adalah:
a. Melakukan verifikasi dokumen Rencana Kerja Masyarakat (RKM) yang dibuat oleh KKM kepada Direktur Penyehatan Lingkungan mewakili KPA yang menjadi bahan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam penetapan dasar kontrak;
b. Mengkoordinir pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi pada kegiatan Intervensi Kualitas Kesehatan Lingkungan melalui peningkatan kualitas sanitasi lingkungan baik turun ke lapangan secara langsung (on the spot) maupun melalui media komunikasi jarak jauh (surat elektronik, telepon seluler).
c. Memeriksa laporan pertanggungjawaban yang dibuat oleh KKM yang dalam pembuatannya didampingi sanitarian dan laporan tersebut diketahui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/kota, Kepala Puskesmas dan Kepala Desa/Lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Kepala Institusi Pembina atau pengelola Sentra Pangan Jajanan untuk kelengkapan serah terima hasil pekerjaan fisik;
d. Fasilitasi melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada KKM untuk kelengkapan dokumen pendukung proses pencairan dana ke KPPN;
e. Membuat draft serah terima aset dari PPK kepada Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
f. Membuat draf pemeriksaan secara administratif dari Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit selaku KPA kepada PPHP untuk diperiksa secara administratif yang selanjutnya untuk dilakukan penyerahan aset kepada Kabupaten/Kota.
g. Membuat draft laporan pelaksanaan kegiatan.
Tugas Unit Kerja Direktorat Penyehatan Lingkungan dalam hal ini Pejabat Pembuat Komitmen Pengadaan Barang dan Jasa Satker Sekretariat Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit adalah sebagai berikut:
a. Menyusun penetapan sasaran desa/lurah/lembaga pendidikan keagamaan/sentra pangan jajanan intervensi untuk ditetapkan oleh KPA b. Penetapan RKM yang disusun oleh kelompok Masyarakat (rencana kegiatan,
jadwal pelaksanaan, review spek, RAB)
c. Menyusun dan menandatangani kontrak swakelola dengan pimpinan KKM;
d. Menerbitkan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) untuk kegiatan KKM e. Memeriksa kembali laporan pertanggungjawaban yang dibuat oleh KKM yang
dalam pembuatannya didampingi sanitarian, laporan tersebut telah diketahui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, Kepala Puskesmas dan Kepala Desa/Lurah/Pimpinan Lembaga Pendidikan Keagamaan/Kepala Institusi Pembina atau pengelola Sentra Pangan Jajanan untuk kelengkapan serah terima hasil pekerjaan fisik. Laporan sampai di Pusat diverifikasi oleh tim teknis pusat dan tim panitia pemeriksa hasil pekerjaan;
f. Melakukan amandemen/adendum dokumen PKS apabila diperlukan;
g. Melakukan serah terima hasil pekerjaan (laporan lengkap termasuk berita acara uji fungsi fisik sarana yang telah dibangun secara lengkap dan diperiksa oleh tim pengawas) dari Kelompok Masyarakat (melalui kelengkapan dokumen pendukung laporan lengkap dan dokumen berita acara serah terima hasil) kepada PPK.
h. PPK menyerahkan hasil pekerjaan kepada KPA;
i. Dan KPA meminta PPHP untuk melakukan pemeriksaan administrative terhadap pelaksanaan hasil pekerjaan yang akan diserahterimakan;
j. Menyampaikan laporan kemajuan pelaksanaan kegiatan melalui pelaporan e- Monitoring.
B. Organisasi Pelaksana Tingkat Provinsi
Tugas Dinas Kesehatan Provinsi antara lain :1. Membantu percepatan peningkatan kualitas kesehatan lingkungan yang dalam pelaksanaannya dibiayai oleh Satker Pusat;
2. Melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dalam percepatan operasionalisasi teknis sampai tingkat puskesmas dan desa/kelurahan/lembaga pendidikan keagamaan/sentra pangan jajanan;
3. Menugaskan 1 orang pejabat struktural dan atau pengelola program kesehatan lingkungan sebagai koordinator atau penanggung jawab pelaksana kegiatan 4. Melakukan pendampingan teknis dan monitoring pelaksanaan program tingkat
kabupaten dan Puskesmas daerah prioritas sasaran intervensi;
5. Memantau kinerja KKM yang memiliki kesulitan pelaksanaan untuk dapat diberikan solusi cepat dalam penyelesaian agar tepat waktu.
6. Memantau kinerja Kabupaten/Kota dan sanitarian dalam segera melaksanakan penginputan ke dalam sistem aplikasi monev kesehatan lingkungan.
7. Pelaksanaan kegiatan memanfaatkan dana APBD dan DAK NF Kesehatan.
C. Organisasi Pelaksana Tingkat Kabupten/Kota
Tugas Dinas Kesehatan Kabupaten/kota antara lain:1. Dinas Kesehatan Kabupaten menyusun draft surat Bupati untuk menyatakan dukungan pelaksanaan kegiatan intervensi kesling (Lampiran 1);
2. Menugaskan 1 orang pejabat struktural dan atau pengelola program kesehatan lingkungan sebagai koordinator atau penanggung jawab pelaksana kegiatan;
3. Menugaskan Puskesmas dalam hal ini Kepala Puskesmas dan Pengelola Kesehatan Lingkungan (Sanitarian) untuk fasilitasi pelaksanaan kegiatan intervensi dalam percepatan akses sanitasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi membantu Kelompok Kerja Masyarakat Desa/Lembaga Pendidikan Keagamaan;
4. Mengkoordinasikan, membina, dan mengendalikan penyelenggaraan kegiatan di tingkat desa melalui percepatan akses sanitasi di wilayah kerjanya bersama Organisasi Perangkat Desa (OPD) kepada KKM didampingi Kepala Puskesmas/Sanitarian Puskesmas;
5. Berperan sebagai Pembina KKM dalam peduli sanitasi yang berkelanjutan;
6. Mengusulkan desa beserta RKM yang telah ditetapkan untuk mendapatkan intervensi peningkatan kesehatan lingkungan;
7. Memverifikasi dan mengesahkan Rencana Penggunaan Dana (RPD), pencairan dana, dan laporan penggunaan dana dibantu oleh penanggung jawab kesling tingkat Puskesmas;
8. Melakukan verifikasi terhadap progres pembayaran dan kemajuan fisik pekerjaan dibantu oleh penanggung jawab kesling tingkat Puskesmas;
9. Mengetahui dan mengesahkan serah terima hasil pekerjaan yang diusulkan oleh KKM dibantu oleh penanggung jawab kesling tingkat Puskesmas untuk diteruskan ke satker pusat (PPK);
10. Melaksanakan monev hasil pelaksanaan kegiatan agar sesuai dengan rencana kerja;
11. Menyusun laporan rencana kegiatan, laporan kegiatan serta melaporkannya kepada Kepala Dinas, mewakili Bupati.
12. Mengetahui uji fisik terhadap semua fungsi prasarana dan sarana yang dilaksanakan Sanitarian Puskesmas;
13. Mengusulkan dokumen hibah untuk di proses di sakter pusat (lampiran berita acara) berdasarkan laporan Puskesmas ;
14. Menyerahkan sarana terbangun kepada Desa/kelurahan/lembaga pendidikan keagamaan/ sentra pangan jajanan sebagai penerima;
15. Melakukan pemantauan hasil input data capaian pada SIM e monev Kesling 16. Catatan untuk TTG Air Minum dan Sanitasi daerah Spesifik : Memfasilitasi
pen