BENTUK-BENTUK DAN FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DATING VIOLENCE PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING ANGKATAN 2013 & 2014 STKIP PGRI SUMATERA BARAT
JURNAL
Oleh:
SITI WAHYUNI NPM. 11060195
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2015
Forms and Causes of occurrence of Dating Violence in Student ProgramGuidance and Counseling Force in 2013 and 2014
STKIP PGRI in West Sumatra
By:
Siti Wahyuni * Gusneli, S.S., M.Pd **
Ryan Hidayat Rafiola, M.Pd., Kons **
*Student
** Lectures
Student Guidance and Counseling, STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRAC
This research is motivated researcher observations about the existence of violence in dating the students of Guidance and Counseling. The purpose of this study is to provide a description of the forms of violence in dating terms of victims and perpetrators of violence and the factors that cause violence in dating the students of BK force in 2013 and 2014 in STKIP PGRI West Sumatra.
This research is a descriptive quantitative research. The population in this study amounted to 193 people, to determine the sample study, researchers used proportional random sampling technique to obtain the total sample for the study amounted to 130 respondents. The results showed that of the 130 respondents, 89 students experienced dating violence in the low category, 38 students experience dating violence at a fairly high category, and 1 students experience dating violence at a high category. The factors that most contribute to the cause of the occurrence of dating violence are biological factors and personality factors and close relationship, while for the community context factors and social factors, the contribution made to look less significant.
Keywords: Dating, violence, student, impact.
PENDAHULUAN
Saat ini, pacaran dan remaja adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Wijayanto (2003:
141) menjelaskan bahwa “Pacaran adalah sebuah hubungan sosial antara makhluk sosial yang berlainan jenis akibat adanya ketertarikan tertentu, baik fisik (jasmani) maupun non fisik (pribadi, karakter) yang dibangun di atas komitmen atau pun tanpa syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak.”
Indahnya romantika pacaran sudah menghipnotis banyak remaja sehingga mereka lupa bahwa di balik indahnya pacaran terdapat bahaya yang dapat menjebak dan menjerumuskan mereka ke dalam situasi yang tidak menyenangkan.
Kekerasan merupakan salah satu bentuk perilaku merugikan yang banyak terjadi dalam sebuah hubungan, salah satunya hubungan berpacaran. Menurut Douglas & Frances (Santoso, 2002: 11) “Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik yang terbuka (overt) atau tertutup (covert), dan baik yang bersifat menyerang (offensive) atau bertahan (defensieve) yang disertai menggunakan kekuatan orang lain.”
Bukti-bukti di lapangan mengenai kondisi aktivitas dating di kalangan remaja menunjukkan adanya tindak kekerasan yang dilakukan remaja berpasangan dalam intensitas jumlah dan kualitas pelanggaran atau kekerasan yang mengejutkan. Menurut Kurniawan (Idham, 2007: 25), “Kekerasan dalam pacaran merupakan segala bentuk tindakan yang mempunyai unsur pemaksaan dan pelecehan fisik maupun psikologis yang terjadi dalam hubungan pacaran”.
Komisoner Komisi Nasional (Komnas), Mariana Amiruddin menerangkan (Suara Karya, 30 Maret 2015) bahwa :
Dampak tindak kekerasan terhadap perempuan dalam pacaran sama buruknya seperti dalam ikatan perkawinan, bahkan justru lebih berat karena mengakibatkan perubahan hidup seseorang. Seperti, perubahan mental, ketidak percayaan diri, ketakutan, trauma bahkan bunuh diri atau dibunuh. Terlebih lagi tidak adanya payung hukum bagi pelaku dan korban yang berstatus pacar membuat keadaan korban semakin rentan dan sering disalahkan, atau dipertanggung jawabkan sendirian sebab payung hukum tentang ranah personal yaitu
UU KDRT nomor 23 tahun 2004 tidak dapat diterapkan dalam kasus-kasus kekerasan dalam pacaran.
Melalui hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan selama bulan januari sampai bulan april 2015 pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) di STKIP PGRI Sumatera Barat, ditemukan fakta bahwa fenomena kekerasan dalam pacaran juga terjadi pada mahasiswa BK STKIP PGRI Sumatera Barat.
Berdasarkan fakta dan fenomena di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai bentuk-bentuk dan faktor penyebab terjadinya dating violence (kekerasan dalam berpacaran) pada mahasiswa program studi bimbingan dan konseling di STKIP PGRI Sumatera Barat.
Mengacu pada latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan deskripsi mengenai bentuk-bentuk kekerasan dalam berpacaran dilihat dari segi korban dan pelaku tindak kekerasan serta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam pacaran pada mahasiswa Program Studi BK angkatan 2013 dan 2014 di STKIP PGRI Sumatera Barat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini tergolong jenis penelitian deskriptif. Yusuf (2005: 83) menerangkan bahwa “Penelitian deskriptif adalah salah satu penelitian yang bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara detail.”
Pada penelitian ini, metode deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan bentuk- bentuk dan faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam berpacaran (dating violence) pada mahasiswa program studi bimbingan dan konseling angkatan 2013 dan 2014 di STKIP PGRI Sumatera Barat.
Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2015/2016 yaitu pada 21-30 September 2015. Penelitian ini dilakukan di STKIP PGRI Sumatera Barat, dimana yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2013 dan 2014 yang berpacaran.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa angkatan 2013 dan 2014 yang berpacaran, yaitu berjumlah 193 orang dan
sampel penelitian sebanyak 130 responden, agar pengambilan sampel sebanding, peneliti menggunakan rumus sampling fraction.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data interval. Riduwan (2010: 85) “Data interval adalah data yang menunjukkan jarak antara satu data dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama.” Jadi, data yang diintervalkan dalam penelitian ini adalah data mengenai bentuk- bentuk dan faktor penyebab kekerasan dalam berpacaran (dating violence) pada mahasiswa program studi bimbingan dan konseling STKIP PGRI Sumatera Barat angkatan 2013 dan 2014 yang berpacaran.
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini yakni berupa berupa kuesioner (angket). Kuesioner (angket) adalah
“Sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal- hal yang ia ketahui (Sangadji & Sopiah, 2010:
151).”
Pengolahan data dihitung setelah data terkumpul, selanjutnya data diolah dan dianalisis guna memberikan hasil penelitian.
Analisis data dilakukan dengan menghitung nilai persentase dari masing-masing responden kemudian dipersentasekan sesuai dengan rumus persentase menurut Riduwan (2008: 41):
P = X100
Selanjutnya jawaban responden akan didistribusikan dan di interpretasikan sesuai dengan sub variabel dan indikator penelitian.
Selain melakukan analisis data terhadap skor jawban responden, peneliti juga melakukan analisis data terhadap skor item dari setiap butir pernyataan dari instrument yang digunakan,
dengan rumus: P= X100.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
1. Bentuk-bentuk kekerasan dalam berpacaran (dating violence) pada mahasiswa program studi BK angkatan 2013 dan 2014 dilihat dari segi korban dan pelaku.
a. Kekerasan fisik
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa 60,77% mahasiswa mengalami kekerasan fisik dalam berpacaran pada kategori sangat rendah, 30,77% mengalami kekerasan fisik dalam berpacaran pada kategori rendah, dan 8,46% mahasiswa
mengalami kekerasan fisik dalam berpacaran pada kategori cukup tinggi.
Sedangkan untuk pelaku kekerasan fisik dalam berpacaran, 44,62% mahasiswa melakukan kekerasan fisik dalam berpacaran pada kategori sangat rendah, 46,92% mahasiswa melakukan kekerasan fisik dalam berpacaran pada kategori rendah dan 8,46% mahasiswa melakukan kekerasan fisik dalam berpacaran pada kategori cukup tinggi.
Meski mayoritas berada pada kategori sangat rendah, namun demikian hal tersebut tidaklah dapat dibiarkan karena sekecil apapun bentuknya, kekerasan tetaplah merupakan bentuk perilaku menyimpang yang dapat berakibat panjang, hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan bahwa bentuk dan frekuensi dari kekerasan fisik ini dapat meningkat pula seiring dengan berjalannya waktu.
Dalam sebuah artikel yang dilansir oleh Public Health Agency of Canada dikatakan bahwa “Studi menunjukkan 75% pelaku kekerasan dalam berpacaran berpotensi 35% lebih besar untuk menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga.” Lebih lanjut dikatakan bahwa kekerasan dalam berpacaran yang dialami perempuan dapat melemahkan posisi perempuan di dalam sebuah hubungan.
b. Kekerasan psikologis (emosional)
Hasil penelitian untuk aspek ini menunjukkan bahwa 49,23% mahasiswa mengalami kekerasan psikologis pada kategori rendah, 45,38% mengalami kekerasan psikologis pada kategori cukup tinggi dan 5,38% mengalami kekerasan pada kategori tinggi, sedangkan persenase untuk mahasiswa yang melakukan kekerasan psikologis dalam berpacaran yaitu 3,85% melakukan kekerasan psikologis dalam berpacaran pada kategori sangat rendah, 47,69% melakukan kekerasan psikologis dalam berpacaran pada kategori rendah, 46,92% melakukan kekerasan psikologis dalam berpacaran pada kategori cukup tinggi dan 1,54%
melakukan kekerasan psikologis dalam berpacaran pada kategori tinggi.
Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa ternyata cukup banyak mahasiswa yang mengalami maupun yang melakukan kekerasan ini dalam berpacaran, hal ini sungguh ironis dan memprihatinkan, sebab
disbanding luka akibat kekerasan fisik, luka akibat kekerasan psikologis (emosional) justru lebih berbahaya dan sulit disembuhkan, terlebih jika hal itu telah berlangsung lama dan terjadi terus menerus. Salah satu dampak dari kekerasan ini yaitu dapat menurunkan self esteem bagi korban kekerasan ini, hal klasik yang kerap terjadi pada korban kekerasan ini adalah perasaan menyalahkan diri sendiri bila dibiarkan berlarut-larut perasaan ini dapat meningkatkan rasa tidak percaya diri seseorang bahkan memungkinkan korban akhirnya mengisolasi diri dari lingkungan.
c. Kekerasan seksual
Sebanyak 86,92% mahasiswa BK angkatan 2013 dan 2014 mengalami kekerasan seksual dalam berpacaran pada kategori sangat rendah, sedangkan 13,08%
sisanya mengalami kekerasan seksual dalam berpacaran pada kategori sangat tinggi, disisi lain tindak kekerasan seksual yang dilakukan mahasiswa pada kategori sangat rendah adalah 45,38%, 50%
melakukan kekerasan seksual pada pasangannya dengan kategori tingkat kekerasan tergolong rendah dan 4,66%
mahasiswa melakukan kekerasan seksual dalam berpacaran pada kategori cukup tinggi.
Melihat cukup banyak responden yang mengalami dan melakukan kekerasan seksual dalam berpacaran nampaknya aktivitas pacaran saat ini sudah menjadi salah satu sarana bagi mahasiswa untuk melakukan eksperimentasi seksual, sebagaimana yang dikemukakan oleh Spanier (Jono, 2009) bahwa “Pacaran pada rentang usia remaja dan dewasa memiliki fungsi di antaranya untuk rekreasi, memperoleh persahabatan tanpa menikah, memperoleh status, sosialisasi, eksperomentasi seksual serta memperoleh keintiman.” Jika hal yang demikian terjadi maka sungguh sangat disayangkan sekali bila dalam suatu hubungan yang belum memiliki kekuatan hukum apapun telah terjadi aktivitas seksual yang seharusnya hanya boleh terjadi dalam hubungan pernikahan, terlebih terdapat pula kekerasan dalam aktivitas seksual tersebut.
d. Kekerasan sosial
Analisis kekerasan sosial pada mahasiswa yang berpacaran menunjukkan bahwa 3,85% mahasiswa mengalami
kekerasan dalam berrpacaran pada kategori sangat rendah, 13,08% pada kategori rendah, 58,46% pada kategori cukup tinggi dan 24,62% pada kategori tinggi.
Sedangkan hasil persentase untuk pelaku kekerasan sosial ini adalah 10% pada kategori sangat rendah, 60% pada kategori rendah, 29,23% pada kategori cukup tinggi dan 0,77% untuk kategori tinggi.
Kekerasan sosial adalah bentuk kekerasan yang paling banyak terjadi dalam hubungan berpacaran mahasiswa, hal ini disebabkan masih bayaknya mahasiswa yang kurang menyadari hak-hak dan hukum pribadi mereka, hal-hal sederhana seperti privasi, misalnya, dianggap remeh. Banyak yang beranggapan bahwa pengecekan terhadap penggunaan handphone atau peretasan akun sosial media bukanlah suatu bentuk kekerasan. Cemburu ekstrim, posesif dan rasa tidak aman dianggap sebagai ekspresi cinta. Merendahkan pacar atau mempermalukannya didepan umum tidak dilihat sebagai suatu penyiksaan, demikian juga mengisolasi pasangan dari keluarga atau teman-temannya. Seringkali para korban dan pelaku ini tidak dapat membedakan antara perilaku romantis dan posesif, yang perlu dipahami adalah tujuan dari kekerasan dalam berpacaran adalah untuk menanamkan kontrol, jadi ketika salah satu pihak telah mengontrol terlalu banyak pihak lainnya maka telah terjadi apa yang disebut kekerasan dalam berpacaran.
e. Kekerasan ekonomi
Hasil penelitian mengenai kekerasan fisik pada mahasiswa BK angkatan 2013 dan 2014 menunjukkan nilai persentase pada korban kekerasan mencapai 65,38%
untuk kategori sangat rendah, 30% untuk kategori rendah, dan 4,62% untuk kategori cukup tinggi. Sedangkan nilai persentase pada pelaku kekerasan yaitu 30,77% untuk kategori sangat rendah, 64,62% untuk kategori rendah, 3,08% untuk kategori cukup tinggi dan 1,54% untuk kategori tinggi.
Pacaran merupakan hubungan yang tidak memiliki kekuatan apapun baik dari segi hokum maupun agama, hal itu menyebabkan pihak yang berpacaran tidak memiliki tanggung jawab untuk menafkahi pihak lain, ini berarti merugikan pasangan secara financial dalam bentuk apapun
merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
2. Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan dalam Berpacaran (Dating Violence)
a. Faktor biologis & kepribadian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor biologis dan kepribadian yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam berpacaran sangat rendah pengaruhnya pada 8,56% responden, rendah pengaruhnya terhadap 64,62% responden, cukup tinggi pengaruhnya untuk 22,31%
responden dan tinggi pengaruhnya pada 4,62% responden. Hal ini menunjukkan cukup banyak mahasiswa yang mengalami atau melakukan kekerasan kekerasan dalam berpacaran karena dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri mereka, meskipun kontribusi dari factor tersebut tidak terlalu besar pengaruhnya pada setiap individu, hal ini disebabkan mahasiswa pada umumnya masih berada rentang usia remaja sehingga otak mereka belum sepenuhnya berkembang.
Menurut Melia Cristo, dosen di Fakultas Psikologi UI (Asmarani: 2015) dalam otak remaja, amigdala yang mengatur emosi berkembang lebih cepat dibandingkan pre- frontal cortex yang mengatur fungsi eksekutif. Karena bagian korteks tersebut belum berkembang penuh, hal ini mengarah pada hal beresiko. Mereka yakin dalam ‘dongeng pribadi’ mereka, mereka kurang memikirkan konsekuensi- konsekuensi yang mereka lakukan sehingga muncullah pemikiran-pemikiran seperti ‘cinta dapat dibuktikan melalui kontak seksual’, ‘saya merasa ketika pacar saya melarang saya adalah karna dia sangat mencintai saya’ dan lain sebagainya.
Pemikiran yang demikian menyebabkan individu rentan untuk mengalami ataupun melakukan kekerasan dalam berpacaran.
b. Faktor hubungan dekat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor hubungan dekat yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam berpacaran sangat rendah pengaruhnya pada 7,69%
responden, rendah pengaruhnya terhadap 48,46% responden, cukup tinggi pengaruhnya untuk 32,31% responden dan tinggi pengaruhnya pada 3,08% responden.
Memasuki usia remaja pengaruh teman sebaya tak jarang bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan lingkungan keluarga,
memiliki lingkungan teman dengan perilaku mengalami atau melakukan kekerasan akan berdampak serupa terhadap individu tadi. Pada lingkungan pertemanan mahasiswa BK angkatan 2013 dan 2014 agaknya kekerasan dalam berpacaran adalah hal yang telah sering mereka lihat atau mereka dengar, baik itu kekerasan fisik, psikologis, seksual sosial maupun ekonomi, hanya saja kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai dating violence menyebabkan mahasiswa tersebut bukannya menghindari tetapi justru terjerumus untuk melakukan/mengalami hal serupa. Menurut Gerungan (2004: 62)
“Kenakalan remaja muncul akibat terjadinya interaksi sosial di antara individu sosial dengan kelompok sebaya. Peran interaksi tersebut dapat berpa imitasi, identifikasi, sugesti dan simpati.”
c. Faktor konteks komunitas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konteks komunitas yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam berpacaran sangat rendah pengaruhnya pada 38,46% responde, cukup tinggi pengaruhnya pada 6,92% responden, dan Tinggi pengaruhnya pada 1,54%
responden.
Faktor komunitas adalah suatu kondisi keadaan yang terjadi pada suatu kelompok atau komunitas, pada situasi saat sekarang ini konteks komunitas di lingkungan mahasiswa BK angkatan 2013 dan 2014 adalah tersedianya akses untuk meminum minuman keras dan perdagangan narkoba, kemiskinan, dan pentingnya opini teman, kesemuanya itu berkontribusi dalam mempengaruhi individu dalam memilih dan menjalani hubungan dengan orang- orang terdekatnya.
Kemiskinan mendorong individu untuk menemukan seseorang yang ‘lebih’ secara financial, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu keuangan pribadi maupun hanya untuk sekedar meningkatkan status di dalam komunitas. Pada komunitas mahasiswa melakukan kontak seksual dalam berpacaran adalah hal yang dianggap ‘sesuatu yang harus dilakukan’
sehingga bagi mahasiswa berpacaran yang tidak pernah melakukan kontak seksual akan di bully oleh teman satu komunitas, demikian pula halnya bila ada yang terlalu dikuasai pasangan, teman-teman yang ada
di komunitas tersebut akan memberikan stigma negatif pada individu yang bersangkutan, hal-hal seperti itu mendorong individu untuk menunjukkan dominasi yang lebih terhadap pasangannya agar mendapat mengakuan yang pantas dalam komunitas tersebut.
d. Faktor sosial
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam berpacaran sangat rendah pengaruhnya pada 10% responden, rendah pengaruhnya pada 68,46% responden, cukup tinggi pengaruhnya pada 20%
responden, dan tinggi pengaruhnya 1,54%
responden. Faktor sosial yang tergambar dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan hubungan orangtua dan anak, kontrol masyarakat, norma-norma sosial dan budaya tentang peran gender dan penerimaan kekerasan di media masa.
Menurut Krug (200: 1085) faktor sosial yang membantu untuk menciptakan iklim kekerasan, baik yang mendorong ataupun yang menghambat seperti : respon dari sistem peradilan pidana, norma-norma sosial dan budaya tentang peran gender atau hubungan orangtua dan anak, ketimpangan pendapatan, kekuatan sistem kesejahteraan sosial, penerimaan kekerasan sosial di media masa dan ketidak stabilan politik . Bagi sebagian besar mahasiswa faktor sosial memberikan kontribusi dalam menyebabkan terjadinya dating violence, meskipun masih berda pada dalam kategori rendah namun hal ini bila tidak segera dientaskan dapat menjadi lingkaran kekerasan yang terus berkembang dan semakin lama lingkaran tersebut dapat menjadi semakin besar dan menyebar dalam kehidupan sosial mahasiswa baik dilingkungan kampus maupun diluar lingkungan kampus.
KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah:Terdapat praktik dating violence dalam hubungan berpacaran mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2013 dan 2014. Praktik dating violence yang berlangsung pada mahasiswa terjadi di kelima aspek kekerasan, yaitu:
kekerasan fisik, psikologis (emosional), seksual, sosial dan ekonomi. Selanjutnya,
dari empat faktor penyebab dating violence yang dibahas dalam penelitian ini, faktor yang paling besar pengaruhnya adalah faktor hubungan dekat dan faktor bilogis dan kepribadian.
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti ingin mengajukan saran kepada :
a. Mahasiswa, agar dapat memperluaslah wawasan mengenai pacaran sehat dan bentuk-bentuk kekerasan dalam berpacaran yang harus dihindari
b. Orangtua, agar dapat lebih waspada dan siaga terhadap kemungkinan adanya kekerasan yang dilakukan maupun yang dialami oleh anaknya dalam hubungan berpacaran.
c. Pengelola program studi bimbingan dan konseling, agar dapat mengambil kebijakan untuk menindak lanjuti kasus kekerasan dalam berpacaran yang terjadi pada mahasiswa program studi bimbingan dan konseling.
d. Dosen program studi agar senantiasa mengarahkan dan mengingatkan mahasiswa agar menjauhi tindak kekerasan, serta memberikan pemahaman mengenai bahaya dating violence kepada para mahasiswanya.
e. Peneliti selanjutnya, agar melakukan penelitian terkait upaya pengentasan dating violence pada mahasiswa yang bepacaran di STKIP PGRI Sumatera Barat.
KEPUSTAKAAN
Asmarani, Devi. 2015. Kekerasan dalam Pacaran Fenomena Sunyi di
Indonesia. (Online).
(http://magdalene.co/news-450- kekerasan-dalam-pacaran-fenomena- sunyi-di-indonesia,html).
Idham, Kusmarwanti M. 2007. Smart Love.
Jakarta: Gema Insani Press.
Jono, Nova Arianto. 2009. Pacaran Eksperimentasi Seksual bagi Remaja.
Ruang Psikologi. (Online).
(http://ruangpsikologi.com/type/essay- type/pacaran-ekperimentsi-seksual/).
Krug, Etienne G, james A Mercy, Linda L Dahlberg & Anthony B Zwi. 2002.
The World Report on Violence in Health. The Lancet Publishing Group
Perlu Payung Hukum Tindak Kekerasan dalam Pacaran Meningkat. Suara Karya, 30
Maret 2015. (Online).
(http://www.suarakarya.id/2015/03/30 /perlu-payung-hukum-tindak-
kekerasan-dalam-pacaran-meningkat.
html).
Riduwan. 2008. Skala Pengukuran Variabel- variabel Penelitian. Bandung:
Alfabeta.
Sangadji, Etta Mamang & Sopiah. 2010.
Metodologi Penelitian-Pendekatan Praktis dalam Penelitian. Yogyakarta:
Andi Offset.
Santoso, Thomas. 2007. Teori-teori Kekerasan.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Wijayanto, Iip. 2003. Campus Fresh Chicken.
Yogyakarta: Qalam.
Yusuf, A Muri. 2005. Metodologi Penelitian.
Padang: UNP Press.