LAPORAN HASIL
PELAYANAN BIMBINGAN PEMINATAN DAN BIMBINGAN KARIR PESERTA DIDIK
(Studi Kasus SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan)
YEPI HERPANDA
NIM : 21169027
Program Studi Ilmu Pendidikan (S3) Fakultas Pascasarjana
Universitas Negeri Padang
2022
KATA PENGANTAR
Maha suci Allah, tiada kata yang pantas kita ucapkan selain puji dan syukur kehadirat Ilahi Rabbi, dengan Rahmat dan Hidayah-Nya sampai saat ini kita masih dapat merasakan nikmat-Nya. Shalawat serta salam semoga terlimpah curah kepada Nabi kita Muhammad Rasulullah SAW., kepada keluarganya, para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman. Amin. Laporan hasil wawancara dan observasi ini disusun untuk melengjapi tugas mata kuliah Pengembangan bimbingan dan Konseling berupa laporan pelaksanaan observasi dan
Berbagai kendala dan kesulitan yang hampir mematahkan semangat penulis dalam menyelesaikan makalah ini dapat teratasi berkat petunjuk serta nasehat dari dosen. Walaupun demikian, penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Penulis
Studi Deskriptif Problematika Pelaksanaan Layanan Peminatan dan Layanan Bimbingan Karir tingkat Sekolah Menengah Atas
( Studi Kasus di SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan )
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Bimbingan konseling merupakan bagian integral dari system pendidikan nasional.
Pendidikan dapat dikatakan sebagai usaha yang dilaksanakan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Tujuan pendidikan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No.20 tahun 2003). Selanjutnya dalam Permendikbud nomor 111/2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah disebutkan bahwa Bimbingan dan Konseling sebagai bagian integral dari program pendidikan, merupakan upaya memfasilitasi dan memandirikan peserta didik dalam rangka mencapai perkembangan yang utuh dan optimal. Layanan Bimbingan dan Konseling dipandang sebagai upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru Bimbingan dan Konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik/Konseli untuk mencapai kemandirian, dalam wujud kemampuan memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan diri secara bertanggung jawab sehingga mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupannya
Berdasarkan tujuan yang dijelaskan diatas dirumuskan tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling, yaitu membantu konseli agar mampu: (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya; (2) merencanakan kegiatan menyelesaian studi, perkembangan karir dan kehidupannya di masa yang akan datang; (3) mengembangkan potensinya seoptimal mungkin; (4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya; (5) mengatasi hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya dan (6) mengaktualiasikan dirinya secara pertanggung jawab. Dari tujuan khusus diatas diketahui bahwa peran bimbingan konseling sangat penting karena membantu atau membimbing peserta didik dalam
mempersiapkan mereka untuk masa yang akan datang, terutama selama memasuki usia remaja. Istilah bimbingan oleh Romlah (2006) dimaknai sebagai proses pemberian bantuan kepada individu/ peserta didik secara berkelanjutan dan sistimatis, agar dapat memahami diri dan lingkungannya, dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dapat mengembangkan diri secara optimal untuk kesejahteraan diri dan kesejahteraan masyarakat.
Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah remaja yang berada pada tahap II dan III. Tahap II (10 – 15 Th) yaitu mencapai kebiasaan dasar bekerja dan gigih berjuang. Pada tahap ini remaja belajar mengorganisasikan waktu dan energi seseorang untuk memastikan suatu pekerjaan selesai. Biasanya fokus pada tugas rumah, ujian, dll. Belajar untuk mengedepankan pekerjaan lebih daripada bermain, namun bisa tetap bisa bermain jika pekerjaan selesai. Kedua, tahap III (15 – 25 tahun) yaitu mencapai identitas sebagai pekerja atau profesi dalam struktur pekerjaan/profesi tententu. Pada masa ini remaja memilih dan mempersiapkan diri untuk sebuah pekerjaan, mendapatkan pengalaman kerja pertama yang akan dijadikan dasar bagi pilihan kerja selanjutnya dan untuk memastikan kemandirian ekonomi dimasa depan. remaja yang memiliki perencaan karier akan membuat keputusan dalam pemilihan karier dengan mempertimbangkan nilai-nilai kehidupan, intelegensi, minat, bakat, sifat kepribadian, keadaan fisik, pengetahuan yang dimiliki, pengaruh lingkungan sosial, pendidikan sekolah, pergaulan teman sebaya sehingga remaja mampu menuntaskan pilihan karirnya dengan baik.
Penjelasan diatas didukung oleh pernyataan (Santrock, 2011) bahwa ketika berusia 10-12 masa remaja baru dimulai saat usia 18-22 masa remaja berakhir dimana masuk pada tahap peralihan berkembangnya seseorang mulai masa kanak-kanak menuju dewasa.
Havighurst (Saifuddin, 2018) membahas tugas pengembangan setiap orang dalam kategori pemuda untuk membantu mereka memilih dan mempersiapkan karir masa depan mereka.
Havighurst menemukan bahwa ada 10 tugas perkembangan pada masa remaja. Yaitu, (1) memahami hubungan dengan teman sebaya, (2) mengambil peran sebagai pria atau wanita, (3) memaknai seta menggunakan kondisi jasmani dengan baik, (4) dari jangkauan orang tua dan anak dan manusia dewasa, (5) mandiri secara finansial, (6) pilihan dan persiapan karir, (7) persiapan untuk menikah dan kehidupan keluarga, (8) pengembangan skill. Oleh karena itu tugas guru BK adalah membantu peserta didik menyadari akan arah karir untuk masa depanya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
SMAN 1 Koto XI Tarusan adalah salah satu sekolah besar dari segi jumlah siswa dengan jumlah siswa saat ini adalah 1037 ornag dan juga merupakan salah satu sekolah tertua di Kabupaten Pesisir Selatan. Disatu sisi, jumlah siswa yang besar tersebut dapat menjadi kekuatan bagi sekolah namun sebaliknya, jumlah tersebut dapat juga menjadi permasalahan yang harus ditangani dengan serius oleh sekolah. SMAN 1 Koto XI Tarusan memiliki jumlah Guru dan Tenaga Kependidikan yang cukup banyak. SMAN 1 Koto XI Tarusan merupakan sekolah yang terletak di tepi pantai dengan sebagian orang tua siswa berprofesi sebagai nelayan. Dari kondisi banyak jumlah siswa tersebut secara tidak langsung juga membutuhkan tenaga pendidik dan kependidikan yang cukup banyak juga untuk melayani kebutuhan siswa dalam belajar, baik itu guru bidang studi maupun guru bimbingan konseling. Berdasarkan jumlah siswa diatas jika satu orang guru Bimbingan Konseling membimbing 150 orang siswa, maka jumlah guru bimbingan konseling yang dibutuhkan di SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan adalah sekitar 6 (enam) orang. Dari perhitungan tersebut jika dibandingkan dengan kondisi guru bimbingan konseling yang ada sekarang yang berjumlah 4 (empat) orang, maka sekolah dlam hal ini kekurangan guru bimbingan konseling dan hal ini menyebabkan tugas dan tanggung jawab guru bimbingan konseling yang ada sekarang cukup berat karena membimbing siswa melebihi kuota.
Berdasarkan permasalahan diatas, muncul permasalahan baru yaitu kurang terlayaninya kebutuhan siswa untuk memperoleh berbagai layanan yang seharusnya mereka terima yang salah satunya adalah layanan individual dan layanan karir. Guru bimbingan konseling tidak lagi punya waktu untuk melayani siswa baik itu layanan dasar, layanan peminatan maupun layanan karir sehingga bimbingan konseling yang ada lebih focus mengatasi permasalahan belajar siswa dan pelanggaran-pelanggaran disiplin yang dilakukan siswa sehingga tugas guru bimbingan konseling sudah bergeser dari yang seharusnya. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 Tahun 2014 dijabarkan bahwa layanan dasar adalah proses pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dalam rangka mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang efektif sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan. Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa guru bimbingan konseling juga diberikan tanggung jawab untuk mendidik siswa secara klasikal tetapi kenyataan yang ditemukan di lapangan dalam hal ini SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan, guru bimbingan konseling tidak diberikan waktu atau peluang oleh
sekolah untuk melaksanakan layanan dasar secara klasikal karena tidak diberikan waktu untuk jam tatap muka.
Selain permasalahan tidak terlaksanakanya layanan dasar, ada hal lain yang juga tidak terlaksana dengan baik disini yaitu layanan peminatan. Pada SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan, penentuan peminatan siswa dilakukan dengan cara pembagian angket peminatan yang diisi oleh siswa dan diketahui oleh orang tua. Tugas guru bimbingan konseling disini hanya sebatas melakukan penyesuaia antara peminatan yang dipilih dengan nilai mata pelajaran karakteristik minat yang diperoleh siswa. Misalkan, siswa “A” berdasarkan angket memilih peminatan IPA kemudian disandingkan dengan nilai yang diperoleh sesuai dengan kharakteristik peminatan IPA seperti matematika, biologi, fisika dan kimia dan ketika ditemui nilainya sesuai maka diputuskan siswa terssebut layak untuk masuk peminatan IPA. Hal ini seharusnya tidak terjadi karena pemilihan minat sangat berkaitan erat dengan masa depan siswa. layanan peminatan dan perencanaan individual penting untuk berorientasi pada pembuatan keputusan tentang perencanaan masa depan yang didasari oleh pemahamahan akan potensi dan karakteristik diri serta peluang yang terdapat di lingkungan baik saat ini maupun prospek di masa depan.
Permasalahan lain yang tidak kalah penting yang terjadi di SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan adalah belum maksimalnya pelaksanaan layanan karier siswa. Supriatna dan Budiman (2010) menyebutkan bahwa permasalahan karir yang dialami siswa, yaitu: (1) siswa kurang mengetahui tentang pemilihan prodi atau jurusan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. (2) Siswa kurang memiliki informasi terhadap dunia karir. (3) Siswa kebingungan dalam pemilihan karir. (4) Siswa belum dapat memilih karir sesuai kemampuan minat (5) Setelah lulus sekolah, siswa takut mencari pekerjaan. (6) Mahasiswa tidak memiliki pilihan untuk mengambil program studi atau pendidikan lanjutan tertentu kecuali mereka memasuki dunia kerja setelah lulus. Mengingat pentingnya fungsi layanan karir ini, maka diperlukan perlakuan yang serius tentang layanan karir ini apalagi sebagian besar latar belakang pendidikan dan pekerjaan orang tua yang berprofesi sebagai nelayan sehingga mereka tidak punya acuan yang jelas tentang karir masa depan mereka.
Beragamnya permasalahan pelaksanaan layanan bimbingan konseling yang sudah dijabarkan diatas, penulis dalam hal ini tertarik mengkaji lebih dalam tentang layanan peminatan dan layanan karir di jenjang SMA. Tentu saja masalah-masalah lain perlu juga dikaji dengan upaya yang berbeda, seperti kurangnya jumlah guru bimbingan konseling di
sekolah dan tidak terlaksananya layanan dasar sebagai imbas kurangnya tenaga guru bimbingan konseling dimana dengan kekurangan jumlag guru bimbingan konseling ditambah dengan beban layanan dasar maka layanan lain akan terabaikan. Dari pernyataan tersebut, peneliti akan focus pada bagaimana layanan peminatan dan layanan karir diberikan agar siswa dapat memilih karir dan melakukan tugas-tugas perkembangan dalam rangka mempersiapkan masa depan. Harapannya, bimbingan dan konseling dengan layanan peminatan dan layanan karir yang maksimal mampu memberikan peningkatan pada pengetahuan siswa terhadap diri sendiri agar siswa mampu secara mandiri dan tepat menentukan arah profesinya sesuai dengan minat dan bakatnya. Harapan dari pelaksanaan layanan peminatan dan layanan karir adalah mampu meningkatkan keterampilan, pengetahuan, kepemimpinan, rasa syukur, pengendalian diri, dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dijabarkan diatas, penulis dalam hal ini merumuskan permasalahan pada :
1. Bagiamana peran guru bimbingan konseling dalam melaksanakan layanan peminatan pada tingkat sekolah menengah atas (SMA)
2. Bagiamana peran guru bimbingan konseling dalam melaksanakan layanan karir pada tingkat sekolah menengah atas (SMA)
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL OBSERVASI DAN WAWANCARA 1. Gambaran Pelaksanaan Kegiatan
Gambaran pelaksanaan dan hasil yang dicapai dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan diuraikan pada penjelasan berikut ini.
Tabel 1: Kegiatan Awal Pengabdian N
o
Tanggal Kegiatan Hal yang diharapkan
1. 27 Mei 2022 Diskusi bersama dosen pembimbing untuk perencanaan kegiatan
Kegiatan bisa dilaksanakan dengan baik sesuai dengan yang diprogramkan bersama- sama.
2. 3 Juni 2022 Persiapan untuk keberangkatan menuju lokasi observasi
Semua kegiatan bisa diaplikasikan dengan
maksimal dan para guru dan siswa yang ada di sekolah tersebut mendapatkan manfaat dari kegiatan studi lapangan yang dilaksanakan
Setelah semua persiapan pengabdian selesai maka selanjutnya tim merampungkan persiapan dan mempersiapkan untuk proses selanjutnya sebelum ke lapangan. Tim secara bersama-sama mempersiapkan diri secara maksimal agar bisa melaksanakan dan mengaplikasikan tanggung jawab yang telah diberikan kepada setiap anggota tim. Dimana setiap anggota tim memiliki peranan masing-masing sesuai dengan keputusan yang telah dibahas dan ditetapkan bersama. Dengan demikian semua anggota tim mempunyai tanggung jawab yang sama dalam pelaksanaan kegiatan studi lapangan ini agar bisa terlaksana dengan baik.
2. Pelaksanaan Kegiatan
Pada hari Sabtu tanggal 04 Juni 2022, sekitar pukul 08.30 WIB saya sampai ke SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan untuk melakukan observasi setelah sebelumnya sudah melakukan perizinan untuk melakukan obervasi ini di jauh-jauh. Hal pertama yang dilakukan adalah kegiatan klasikal dengan jumlah kelas 2, dimana kelas pertama diisi dengan kegiatan pemberiamateri oleh Reza Desriandi dan Zahratul Azizah. Kelas kedua adalah kegiatan pemberian materi dan konsultasi yang dibimbing oleh Prof. Dr. Herman Nirwana, M.Pd. Kons yang berisi kegiatan saya lakukan yakni menemui guru BK di SMA tersebut, Alhamdulilah saya di sambut dengan baik oleh guru-guru disana, terutama Susi yang sebagai kepala guru BK disana yang membuka acara ini. Kami di beri waktu dan ruangan untuk melakukan observasi yang melebihi kata cukup, Sebelumnya kami diberi informasi tentang profil SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan, Obervasi dilakukan dilakukan pada pukul 13.00 WIB.
Kegiatan Pengabdian ini sudah dilaksanakan di SMA N 1 XI Koto Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. Dengan adanya Pandemi Covid-19 dan himbauan dari pemerintah untuk mematuhi protokol kesehatan dengan cara mengecek suhu, mencuci tangan, menggunakan penyanitasi tangan, menjaga jarak, memakai masker dan memakai face shield, kegiatan ini dilakukan dengan peserta yang terbatas, agar penularan Covid-19 tidak menjadi cluster terbaru di tempat kegiatan. Kegiatan dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan dan menerapkan semua peraturan yang telah tertera sebelumnya.
Peserta yang terlibat dalam kegiatan pengabdian ini adalah guru dan peserta didik di kelas XI dengan jumlah 60 orang.
Tabel 1. Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan Bentuk Kegiatan Uraian Kegiatan Edukasi
layananan bimbingan konseling
Memberikan Informasi kepada personil SMA 1 Koto XI Tarusan yang terdiri dari tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang berjumlah 60 orang
Pemaparan materi tentang :
1. Peranan personil sekolah dalam memberikan pelayanan dan bimbingan konseling
2. Problematika dalam pelayanan dan bimbingan konseling
Kegiatan Bentuk Kegiatan Uraian Kegiatan
Dilanjutkan dengan diskusi yang membahas pertanyaan dari beberapa orang peserta:
1. Bagaimana solusi terhadap salah seorang siswa yang tidak bisa membaca?
2. Beberapa siswa sering menggunakan handphone selama jam istirahat atau ketika ada guru yang tidak masuk.
Bagaimana solusinya?
3. Kebiasaan guru yang sering meninggalkan tugas untuk dikerjakan siswa sehingga menjadi beban bagi siswa. Solusi?
4. Bagaimanakah sebaiknya pembelajaran full-day yang kondusif dan efektif?
Layanan kelompok
Memberikan edukasi dan motivasi kepada siswa secara klasikal tentang kelanjutan
Pendidikan ke
perguruan tinggi
Memberikan motivasi melanjutkan ke perguruan tinggi dengan materi:
1. Mengapa harus kuliah?
2. Motivasi melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi
3. Minat dan Bakat dalam melanjutkan studi
Layanan
Individual Memberikan arahan dan mencari solusi Bersama peserta didik
yang mempunyai
masalah baik masalah
akademik salah
mencari solusi
Mengadakan pertemuan dengan peserta didik yang bermasalah secara individual.
Menggali permasalahan yang dialami oleh peserta didik baik masalah akademik maupun non akademik
Mencari solusi Bersama dengan peserta didik dalam mengatasi masalah tersebut
Dengan pengabdian ini diharapkan Guru di SMAN 1 XI Koto Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan dan memberikan layanan bimbingan dan konseling yang maksimal kepada siswa. Selain itu,
diharapkan juga memiliki kompetensi yang memadai, cukup dalam hal layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
B. PEMBAHASAN
1. Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Pelayanan Peminatan pada Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)
Salah satu tugas perkembangan selama masa remaja adalah menyelesaikan krisis identitas, sehingga diharapkan terbentuk suatu identitas diri yang stabil pada akhir remaja. Remaja yang berhasil mencapai suatu identitas diri yang stabil akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, memahami perbedaan dan persamaan dengan orang lain, memahami kelebihan dan kekurangan dirinya, penuh percaya diri, tanggap terhadap berbagai situasi, mampu mengambil keputusan penting, mampu mengantisipasi masa depan, serta mengenal perannya dalam masyarakat.
Empat status identitas menurut James Marcia (Slavin, 2019; Yusuf, 2012) yaitu: (a) Identity Foreclosure, yang berarti menerima pilihan orang tua tanpa mempertimbangkan pilihan-pilihan dirinya. (b) Identity Diffusion, remaja yang mengalami kebingungan siapa dirinya, dan mau apa dalam hidupnya. (c) Identity Moratorium, remaja dalam keadaan moratorium mulai bereksperimen dengan dirinya dan pilihan pekerjaan, tetapi masih belum membuat komitmen yang definitif terhadap keduanya. (d) Identity Achievement, menandakan remaja telah mampu mengambil keputusannya sendiri dengan sadar dan jelas tentang pekerjaan masa depanya. Untuk menjadi remaja yang mampu mencapai identitas diperlukan kepercayaan diri dan dukungan lingkungan mulai dari orang tua, guru dan teman sebaya secara positif sehingga terbentuk konsep diri dan harga diri yang tinggi. Harga diri tampak paling kuat dipengaruhi oleh penampilan fisik dan kemudian penerimaan sosial teman sebaya.
Dari empat status identitas yang dijabarkan diatas diketahui bahwa siswa tingkat SMA secara umum belum bisa memutuskan apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri, ada hal nya mereka menerima saja semua pilihan orang tua.
Kadangkala mereka sudah punya pilihan tetapi masih kebingungan atas pilihan tersebut dan adakalanya mereka sudah mulai bereksperimen tetapi belum membuat komitmen atas apa yang mereka lakukan. Berdasarkan kondisi tersebut sangat penting
guru bimbingan konseling hadir sebagai orang dewasa yang memfasilitasi siswa memperoleh jati diri dan arahan yang jelas tentang masa depan mereka dan hal ini dapat dilakukan diawali dengan memberikan layanan peminatan terlebih dahulu yang diawali dengan analisis kebutuhan dan minat bakat siswa.
Layanan peminatan dan perencanaan individual dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 Tahun 2014 sebagai bantuan kepada peserta didik/konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas-aktivitas sistematik yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman terhadap peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Apabila dikaitkan dengan arah pengembangan materi, maka konten atau materi dalam layanan peminatan dan perencanaan individual penting untuk berorientasi pada pembuatan keputusan tentang perencanaan masa depan yang didasari oleh pemahamahan akan potensi dan karakteristik diri serta peluang yang terdapat di lingkungan baik saat ini maupun prospek di masa depan.
Peminatan adalah program kurikuler yang disediakan untuk mengakomodasi pilihan minat, bakat dan/atau kemampuan peserta didik/konseli dengan orientasi pemusatan, perluasan, dan/atau pendalaman mata pelajaran dan/atau muatan kejuruan.
Peminatan peserta didik dalam Kurikulum 2013 mengandung makna: (1) pembelajaran berbasis minat peserta didik sesuai kesempatan belajar yang ada dalam satuan pendidikan; (2) prosespemilihan dan penetapan peminatan belajar yang ditawarkan oleh satuan pendidikan; (3) merupakan suatu proses pengambilan pilihan dan keputusan oleh peserta didik tentang peminatan belajar yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan pilihan yang tersedia pada satuan pendidikan serta prospek peminatannya; (4) merupakan proses yang berkesinambungan untuk memfasilitasi peserta didik mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar serta perkembangan optimal dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional; dan (5) layanan peminatan peserta didik merupakan wilayah garapan profesi bimbingan dan konseling, yang tercakup pada layanan perencanaan individual.
Layanan perencanaan individual adalah bantuan kepada peserta didik/konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas-aktivitas sistematik yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman terhadap peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman konseli secara mendalam, penafsiran hasil asesmen,
dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang dimiliki.
Konseli amat diperlukan sehingga peserta didik/konseli mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat di dalam mengembangkan potensinya secara optimal, termasuk keberbakatan dan kebutuhan khusus peserta didik/konseli.
Peminatan dan perencanaan individual secara umum bertujuan untuk membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya. Tujuan peminatan dan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi peserta didik/konseli untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan pribadi- sosial oleh dirinya sendiri.
Layanan peminatan peserta didik secara khusus ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik sesuai dengan minat, bakat dan/atau kemampuan akademik dalam sekelompok mata pelajaran keilmuan, maupun kemampuan dalam bidang keahlian, program keahlian, dan paket keahlian. Fokus pengembangan layanan peminatan peserta didik diarahkan pada kegiatan meliputi; (1) pemberian informasi program peminatan; (2)melakukan pemetaan dan penetapan peminatan peserta didik (pengumpulan data, analisis data, interpretasi hasil analisis data dan penetapan peminatan peserta didik); (3) layanan lintas minat; (4) layanan pendalaman minat (5)layanan pindah minat; (6) pendampingan dilakukan melalui bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi, (7) pengembangan dan penyaluran; (8) evaluasi dan tindak lanjut.
2. Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Pelayanan Karir pada Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Problematika pemilihan karir yang sering ditemui pada tingkat sekolah menengah atas (SMA) yang diambil dari beberapa literatur, diantaranya adalah
perencanaan karir yang rendah, siswa belum matang dalam membuat keputusan karir;
siswa belum mempunyai pilihan karir, kematangan karir yang rendah, kurangnya informasi karir. Problematika pertama dalam masalah perencanaan karir adalah kebingangan siswa yang berada pada tahap eksplorasi dan sedang dalam proses perencanaan masa depan yang rasional. (Putri, 2017) mengatakan ada masalah dengan rencana karirnya karena siswa tidak berani berkonsultasi dengan guru BK. Hal ini senada dengan pernyataan (Aminuddin & Mulyadi, 2020) bahwa siswa SMA sudah bingung dengan rencana karir mereka, padahal mereka sudah mendalami bidang studinya saat ini. Hal ini diperkuat penelitian (Zakiyyah et al., 2021) telah menemukan bahwa siswa kurang bertanggung jawab atas rencana karir mereka.
Pernyataan ini didukung oleh (Gustini et al., 2021),bahwa siswa tidak pernah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan tidak pernah mengikuti seminar profesi atau pelatihan lanjutan. Menurut (Tumiyem et al., 2021) ada masalah dengan perencanaan karir terkait anak laki-laki menganggap pekerjaan mereka lebih serius daripada anak perempuan. Anak perempuan biasanya menganggap pekerjaan sebagai waktu luang sebelum menikah.
Problematika kedua siswa dalam pengambilan keputusan karier. Dari artikel yang diperoleh menunjukkan bahwa banyak siswa SMA yang masih bingung dalam mengambil keputusan karir tentang masa depan. (Indrayati, 2018) menyatakan bahwa kemampuan pengambilan keputusan karir siswa XII masih rendah. Hal tersebut dikarenakan kurangnya rasa percaya diri, kurangnya partisipasi aktif dan partisipasi dalam kegiatan terutama yang berbentuk kelompok dan belum sepenuhnya tersosialisasikan. Keputusan karir bagi kaum muda masih sangat sulit. Hasil uji secara statistik perbedaan kesulitan penentuan karir berdasarkan jenis kelamin ditemukan bahwa siswa remaja putri/siswi lebih banyak mengalami kesulitan dalam penentuan karir (Arjanggi, 2017).
Memilih dan mempersiapkan karir di masa depan menjadi lebih penting lagi mengingat saat ini kita berada di era industry 4.0. Revolusi industry 4.0 merupakan perkembangan teknologi yang begitu pesat yang dapat memengaruhi manusia secara fisik dan psikis. Revolusi industri 4.0 dengan segala bentuk kemudahan yang ditawarkan bagi aktivitas manusia juga tidak luput dari dampak negatif bagi manusia itu sendiri. Dampak dari revolusi industri 4.0 berupa disrupsi hampir pada seluruh bidang. Disrupsi adalah perubahan yang fundamental, sehingga dampak yang diberikan juga sangat luas (Kasali, 2014). Perubahan yang terjadi seperti bergesernya
bisnis yang awalnya retail ke bisnis e-commerce kemudian pergerakan masa yang samakin mudah dengan bantuan media sosial.
Perubahan-perubahan yang terjadi seperti disebutkan diatas telah merubah kebutuhan manusia terhadap jenis pekerjaan tertentu. Jenis pekerjaan semakin bervariasi dan membutukan kemampuan yang menyesuaikan dengan tuntutan yang ada. Tuntutan terahadap manusia yang akan memasuki dunia kerja adalah kemampuan pada bidang softskills dan hardskills. Kemampuan tersebut harus dipersiapkan sejak dini agar tantangan yang menghadang dapat dilewati dan dihadapi.
Oleh karena itu, persiapan menghadapi persaingan pada era disrupsi bagi siswa SMA sangatlah penting. Hal ini dilakukan baik bagi siswa yang akan bekerja ataupun melanjutkan pendidikan agar pilihan studi dan pekerjaan dalam kehidupan karir disesuaikan dengan minat, bakat, dan tipe kepribadian yang juga memerhatikan tipe lingkungan kerja.
Perencanaan karir melibatkan pengidentifikasian tujuan-tujuan yang berkaitan dengan karir dan penyusunan rencana-rencana untuk mencapai tujuan tersebut.
Perencanaan karir merupakan proses untuk: (1) menyadari diri sendiri terhadap peluang-peluang, kesempatan-kesempatan, kendala-kendala, pilihanpilihan, dan konsekuensi-konsekuensi; (2) mengidentifikasi tujuan-tujuan yang berkaitan dengan karir; (3) penyusunan program kerja, pendidikan, dan yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman yang bersifat pengembangan guna menyediakan arah, waktu, dan urutan langkah-langkah yang diambil untuk meraih tujuan karir. Melalui perencanaan karir, setiap idividu mengevaluasi kemampuan dan minatnya sendiri, mempertimbangkan kesempatan karir alternatif, menyusun tujuan karir, dan merencanakan aktivitas-aktivitas. pengembangan praktis. Fokus utama dalam perencanaan karir haruslah sesuai antara tujuan pribadi dan kesempatan yang tersedia.
Perencanaan karir bertujuan untuk membantu peserta didik mengenal dunia kerja dan dunianya sendiri secara lebih luas dan mendalam, menyadari pentingnya perencanaan masa depan dan memikirkan kaitan diri sendiri dan dunia kerja, serta memahami kaitan antara rasa tanggung jawab dalam bekerja dengan memajukan masyarakat dalam era pembangunan (Winkel & Hastuti, 2004). Perencanaan karir memiliki manfaat: 1) Membantu dalam memeprsiapkan diri mengambil keputusan berdasarkan informasi karir yang telah diterima; 2) Mengembangkan kepercayaan diri; 3) Dapat mengenal peluang-peluang yang akan dijumpai; 4) Dapat menentukan apa yang akan dipersiapkan dalam menekuni karir (Sukardi, 1993).
Proses perencanaan karir mencakup tiga aspek utama yaitu pengetahuan dan pemahaman akan diri sendiri, pengetahuan dan pemahaman akan pekerjaan, serta penggunaan penalaran yang benar antara diri sendiri dan dunia kerja (Brown & Lent, 2015). Pada dasarnya, perencanaan karir merupakan upaya untuk mewujudkan tipe kepribadian individu ke dalam aktivitas karir. Oleh karena itu, hal yang sangat penting dalam menyusun perencanaan karir adalah memahami tipe kepribadian dan potensi diri yang mendasari pilihan atau rencana karir. Terdapat banyak sekali jenis jurusan yang terdapat di perguruan tinggi. Oleh karena itu, tidak mungkin semua jurusan akan dapat disajikan dalam materi ini. Kemauan para peserta didik untuk selalu menambah dan mengup-date informasi mengenai jurusan dan jenis perguruan tinggi akan sangat bermanfaat untuk memutuskan jurusan dan perguruan tinggi yang akan dipilih untuk studi selanjutnya.
Setelah mengetahui dan menelaah tipe kepribadian dan arah karir serta pendidikan, maka hal penting berikutnya adalah merancang rencana tindakan untuk mencapai tujuan karir. Guna dapat menyusun rencana tindakan karir yang tepat dan akurat, maka perhatikan konsep tujuan SMART berikut Doran (1981) mengenalkan konsep SMART GOALS yang dipakai untuk merumuskan tujuan. SMART GOALS merupakan singkatan dari tujuan (Specific, Measurable, Achievable, Realistic and Timely). Pada pelaksanaannya penggunaan konsep ini berdasarkan singkatan dari SMART itu sendiri. Untuk mencapai tujuan maka yang harus diperhatikan adalah:
a. Specific: Tujuan yang ditetapkan harus jelas dan spesifik. Jelas akan membantu menguraikan apa yang akan dilakukan, sedangkan spesifik akan membuat segala upaya fokus pada target yang akan dicapai.
b. Measurable: Apa yang ingin dicapai haruslah bisa diukur, misalnya seberapa kuat, seberapa sering, seberapa banyak, atau seberapa dalam.
c. Achievable: Tujuan yang ditetapkan haruslah bisa dicapai. Hal ini akan membantu dalam berkomitmen untuk mencapai target dengan sungguhsungguh.
d. Realistic: Realistis atau masuk akal adalah hal lain yang harus dipenuhi oleh tujuan yang ingin dicapai. Yaitu menghindari ujuan yang tidak terlalu sulit atau tidak mungkin dilakukan.
e. Timely: Penetapan waktu tujuan tersebut harus dicapai. Apakah dalam hari, minggu, bulan atau tahun.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang sudah dijabarkan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan:
1. Layanan peminatan merupakan bantuan kepada peserta didik/konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas-aktivitas sistematik yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman terhadap peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Apabila dikaitkan dengan arah pengembangan materi, maka konten atau materi dalam layanan peminatan dan perencanaan individual penting untuk berorientasi pada pembuatan keputusan tentang perencanaan masa depan yang didasari oleh pemahamahan akan potensi dan karakteristik diri serta peluang yang terdapat di lingkungan baik saat ini maupun prospek di masa depan
2. Bentuk Layanan Bimbingan Karir pada tingkat satuan pendidikan SMA dapat dilakukan dalam bentuk pemantapan pilihan jurusan, bimbingan kelanjutan studi, bimbingan khusus menghadapi uan-um-masuk perguruan tinggi, pendampingan siswa untuk mendapatkan perguruan tinggi negeri/perguruan tinggi swasta, carier day, masuk perguruan tinggi swasta terakreditasi dan pengentasan problem-problem karir siswa. Semua kegiatan itu dapat dilaksanakan dengan baik karena fasilitas yang diberikan oleh sekolah untuk pelaksanaan layanan bimbingan karir, kesadaran siswa
untuk konsultasi ke BK tanpa di berikan surat panggilan, pihak bimbingan konsleing melayani dan menangani siswa dengan baik.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis dalam hal ini memberikan saran terkait pelaksanaan layanan peminatan dan layanan karir pada tingkat satuan pendidikan sekolah menengah atas (SMA) sebagai berikut :
1. Pihak sekolah memberikan porsi yang tepat tentang jumlah guru bimbingan konseling yang ada disekolah sehingga setiap guru bimbingan konseling mendapat beban tugas sesuai dengan ketentuan yang ada yang pada akhirnya mereka dapat focus melaksanakan layanan kepada siswa baik itu layanan dasaar, layanan peminatan, maupun layanan karir.
2. Guru bimbingan konsleing diharapkan terlibat aktif dalam layanan peminatan dan layanan bimbingan karir disekolah karena siswa SMA yang berada pada fase remaja belum bisa memutuskan apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri, ada hal nya mereka menerima saja semua pilihan orang tua. Kadangkala mereka sudah punya pilihan tetapi masih kebingungan atas pilihan tersebut dan adakalanya mereka sudah mulai bereksperimen tetapi belum membuat komitmen atas apa yang mereka lakukan.
Berdasarkan kondisi tersebut sangat penting guru bimbingan konseling hadir sebagai orang dewasa yang memfasilitasi siswa memperoleh jati diri dan arahan yang jelas tentang masa depan mereka dan hal ini dapat dilakukan diawali dengan memberikan layanan peminatan terlebih dahulu yang diawali dengan analisis kebutuhan dan minat bakat siswa.
DAFTAR RUJUKAN
Aminuddin, D., & Mulyadi, M. (2020). Efektivitas Layanan Informasi Karir dalam Meningkatkan Kemampuan Perencanaan Karir Siswa. Consilium: Berkala Kajian Konseling Dan Ilmu Keagamaan, 6(2), 52–62.
Brown, S.D., & Lent, R.W. (2015). Career Development and Counseling: Putting Theory and Research to Work. New Jersey, NJ: John Wiley & Sons.
Doran, G. T. (1981). There’s a S.M.A.R.T. Way to Write Management’s Goals and Objectives. Management Review, 70, 35-36
Depdiknas .2003. Undang-undang RI No.20 tahun 2003.tentang sistem pendidikan nasional.
Gustini, H. L., Rahman, E., Nurdin, A., Rosidah, A., & Rahman, R. F. (2021). Efektivitas Teknik Expressive Writing untuk Merencanakan Karir Peserta Didik. Jurnal Bimbingan Dan Konseling Borneo, 3(1).
Indrayati, A. S. (2018). Penerapan Bimbingan Karir Dalam Meningkatkan Pengambilan Keputusan Karir Pada Siswa Kelas Xi Jurusan Teknik Bodi Otomotif Di Smkn 2 Payakumbuh. Jurnal Ilmiah P2m Stkip Siliwangi, 5(2), 100–105.
Kemendikbud. 2014. Permendikbud No 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan Konseling.
Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Putri, R. D. (2017). Peningkatan Arah Perencanaan Karir Siswa Melalui Layanan Informasi.
Wahana Didaktika: Jurnal Ilmu Kependidikan, 15(3)
Romlah, T. 2006. Teori dan Praktik Bimbingan Kelompok. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Santrock, J. W. (2011). Lifespan Development (5th ed.). Erlangga.
Saifuddin, A. (2018). Kematangan Karier Teori dan Strategi Memilih Jurusan dan Merencanakan Karier. Pustaka Pelajar
Slavin, E. R. 2019. Psikologi Pendidikan Jilid I (edisi ke-10). Jakarta: Indeks.
Sukardi, D.K. (1993). Bimbingan Karier di Sekolah-Sekolah. Jakasrta: Balai Pustaka Winkel, W.S. & Hastuti, S. (2004). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.
Yogyakarta: Media Abadi
Supriatna, M. (Editor). 2010. Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. Orientasi Dasar Pengembangan Profesi Konselor. Jakarta: Rajawali Press.
Tumiyem, T., Syahrina, S., Umara, Y., & Syahputra, B. A. (2021). Pengaruh Pelaksanaan Layanan Informasi dengan Pembelajaran Kontekstual dalam Meningkatkan Arah Perencanaan Karier Siswa SMK. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(4), 2159–2167.
Yusuf, S. L. N. (2006). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. PT Remaja Rosdakarya
Zakiyyah, Q., Abas, A., Anwar, R., Pahdeli, N., & Hati, I. P. (2021). Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa Dengan Perencanaan Karir Pada Smk Muhammdiyah Parung Kabupaten Bogor. Jurnal Padma: Pengabdian Dharma Masyarakat, 1(2).
LAMPIRAN