Fungsi sistem politik yang sehat dan sejahtera dilandasi oleh besarnya harapan masyarakat dan negara untuk mengartikulasikan “aliran darah” bagi pertumbuhan dan perkembangan berbagai aspek kehidupan bernegara. Sistem politik yang baik didukung oleh sumber daya manusia yang beriman, berkualitas, dapat diandalkan, dan berakhlak mulia. Sistem politik bagi setiap bangsa merupakan “jantung” yang menjadi ruh bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pengantar Sistem Politik Indonesia
Sistem politik adalah suatu kesatuan (kolektivitas) sekelompok struktur politik yang masing-masing mempunyai fungsi tersendiri untuk mencapai tujuan negara. Sistem politik juga merupakan suatu abstraksi (realitas yang diangkat dalam ranah konsep) dalam kaitannya dengan distribusi nilai-nilai dalam masyarakat. Struktur merupakan lembaga politik yang mempunyai legitimasi dalam menjalankan fungsi sistem politik. sistem politik), misalnya struktur input, proses dan output.
Sistem politik bekerja untuk menciptakan keputusan dan tindakan yang disebut politik penugasan nilai. Sistem politik adalah serangkaian interaksi yang diabstraksikan dari totalitas perilaku sosial di mana nilai-nilai secara otoritatif diberikan kepada masyarakat.
Struktur Sistem Politik
Partai-partai Politik
Partisipasi yang luas ditambah dengan rendahnya pelembagaan partai politik akan mengakibatkan politik anomic dan kekerasan. Salah satu tugas partai politik adalah menyalurkan berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat. Partai politik harus merespon tuntutan masyarakat yang kemudian disalurkan ke dalam sistem politik melalui agregasi dan artikulasi kepentingan.
Partai politik adalah kelompok terorganisir yang anggotanya mempunyai orientasi, nilai, dan cita-cita yang sama. Partai politik berperan menjembatani berbagai konflik kepentingan yang ada di masyarakat yang kemudian disalurkan ke dalam sistem politik. Partai politik menggalang dukungan terhadap partai politik dan masyarakat yang akan duduk di parlemen.
Hal inilah yang menjadikan partai politik mempunyai peranan penting dalam sistem politik modern, otoriter, dan demokratis. Kini timbul pertanyaan apakah partai politik telah memainkan peran penting dalam sistem politik seperti yang diharapkan. Para pengamat nampaknya sepakat bahwa partai politik yang muncul sejak awal reformasi kurang mampu menjalankan fungsi politiknya dengan baik.
Sebab, partai politik lebih berorientasi pada perebutan kekuasaan dibandingkan menjalankan fungsi politiknya.
Struktur Politik Informal di Luar Partai Politik
Partai politik, kedudukan, fungsi dan perannya dalam sistem politik di Indonesia diatur dengan undang-undang tersendiri yaitu Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik.1. 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801);
Ketentuan tertentu dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801) diubah sebagai berikut: Dengan Undang-Undang tentang Partai Politik. Partai Politik, partai politik. Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembubaran Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Partai politik sebagai pilar demokrasi harus ditata dan disempurnakan untuk menciptakan sistem politik demokratis yang mendukung sistem presidensial yang efektif. Landasan konstitusional keberadaan partai politik di Indonesia pasca amandemen terdapat dalam Pasal 6A ayat 2, dan Pasal 22E ayat 3, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, yang berbunyi: 3. Berdasarkan pasal ini, wujud kebebasan berserikat adalah dengan membentuk partai politik, yang selanjutnya pengaturannya ditentukan dengan undang-undang.
31 Tahun 2002 tentang Partai Politik, menurut pembentuk undang-undang, perlu dilakukan pemutakhiran sesuai dengan tuntutan dan dinamika masyarakat.
Fungsi Sistem Politik
Sosialisasi politik merupakan cara mengenalkan nilai-nilai politik, sikap dan etika politik yang berlaku atau dianut oleh negara. Sosialisasi politik yang dilakukan negara mentransformasikan nilai-nilai menjadi pola keimanan dan keyakinan yang mampu mengantarkan bangsa menuju kejayaan. Pembagian Teori Komunikasi menjadi beberapa konsep disesuaikan dengan sistem politik yang berlaku di negara yang bersangkutan.
Konsep tersebut adalah komunikasi politik, dimana lembaga-lembaga suprastruktur politik mengatur, bahkan mengontrol, sistem komunikasi politik yang menghubungkan suprastruktur dan infrastruktur. Masyarakat tidak mempunyai kekuatan yang kuat untuk mengontrol sistem komunikasi, atau hanya dapat menerima seluruh pesan komunikasi politik yang disampaikan oleh negara atau pemerintah. Dalam komunikasi politik ini, lembaga-lembaga suprastruktur politik mengatur, bahkan mengendalikan sebagian besar sistem komunikasi politik yang menghubungkan suprastruktur dan infrastruktur.
Dalam hal ini terdapat tiga dampak komunikasi politik yang muncul, yaitu: .. a) seseorang dapat memperjelas atau mengkristalkan nilai-nilai politik melalui komunikasi politik; Kontribusi pendidikan politik yang diselenggarakan oleh partai politik cukup besar apabila orientasi kepentingannya mengedepankan kepentingan nasional. Pada tahap pemahaman ini terdapat kecenderungan terhadap pilihan alternatif pola kepercayaan, pola kepercayaan atau sistem kepentingan politik.
Budaya politik merupakan pola perilaku dan orientasi individu terhadap kehidupan politik sebagaimana yang dialami oleh anggota suatu sistem politik.
Budaya Politik Indonesia
Menurut Dahl, unsur penting dari budaya politik adalah: orientasi pemecahan masalah, baik pragmatis maupun rasionalistik. Pembahasan budaya politik harus sejalan dengan struktur politik karena berkaitan dengan konversi fungsi dan kapasitas sistem. Berdasarkan orientasi politik yang dicirikan oleh karakter budaya politik, setiap sistem politik mempunyai budaya politik yang berbeda-beda.
Dari realitas budaya politik yang berkembang di masyarakat, Gabriel Almond mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut. Clifford Geerts, seorang antropolog Amerika, mengemukakan jenis budaya politik yang berkembang di Indonesia, yaitu sebagai berikut. Dalam perkembangannya, jenis budaya politik masyarakat Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan sistem politik yang berlaku.
Budaya politik yang berkembang pada masa Orde Baru mempunyai nilai-nilai yang lebih terpusat dan budaya politik yang tertutup. Dalam masyarakat yang sikap dan orientasi politiknya didominasi oleh karakteristik kognitif, maka terbentuklah budaya politik parokial. Salah satu tren yang dapat kita amati dalam politik Indonesia adalah kecenderungan munculnya budaya politik neopatrimonial.
Selanjutnya ada proses pembentukan budaya politik yang dilakukan penguasa melalui sosialisasi doktrin atau pendidikan politik.
Partisipasi Politik
Nelson menyatakan bahwa partisipasi politik adalah aktivitas individu warga negara untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah. Partisipasi politik merupakan cerminan sikap politik (perilaku politik) warga negara, yang tercermin dalam perilaku, baik psikis maupun fisik. Partisipasi politik yang diinginkan adalah partisipasi yang tumbuh dari kesadaran sebagai partisipasi murni tanpa adanya paksaan.
Di negara-negara totaliter, partisipasi politik dibentuk berdasarkan kebijakan elit penguasa (elit pemerintah, elit partai). Partisipasi politik pada hakikatnya adalah ukuran kualitas kemampuan warga negara dalam menafsirkan berbagai simbol kekuasaan (kebijaksanaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan langkah-langkahnya) menjadi simbol-simbol pribadi. Partisipasi politik dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari visi penguasa (pemerintah) dan visi warga negara.
Lebih lanjut, dari sudut pandang warga negara, partisipasi politik merupakan pengakuan dan dukungan negara, serta ketaatan warga negara terhadap pemerintah. Di negara-negara komunis, partisipasi politik mengikuti model partai dan secara efektif didorong dan dikendalikan. Partisipasi politik juga mempengaruhi kualitas referensi warga negara untuk memahami situasi dan kemajuan negaranya.
Kesadaran politik dan kepercayaan terhadap pemerintah merupakan variabel intervening dan partisipasi politik sebagai variabel terikat.
Proses Politik Indonesia
Antara elit politik yang satu dengan elit politik yang lain tidak pernah terjadi integrasi yang baik. Corak politik ideologis di daerah ini dibawa ke masyarakat oleh para elite sehingga menimbulkan ketegangan dan perpecahan di masyarakat. Anggapan bahwa masyarakat mengetahui haknya dan dapat memenuhi kewajibannya menyebabkan semakin banyaknya penyimpangan dalam penilaian mereka terhadap peristiwa politik yang terjadi.
Pola perkembangan aparatur negara diselenggarakan menurut pola bebas, artinya toleran terhadap ikatan dengan kekuatan politik yang berbeda ideologi. Akibat interaksi variabel-variabel yang diuraikan pada poin 1 sampai 8, timbul ketidakstabilan pemerintahan/politik yang menjadi penyebab utama terhambatnya pembangunan. Kultus individu terhadap tokoh politik yang muncul sekitar tahun 1963 menghambat penyaluran tuntutan, kecuali penyaluran tuntutan kelompok yang dapat memberikan dukungan kepada elit politik di pemerintahan.
Tekanan tuntutan yang tidak dapat dipenuhi di lembaga-lembaga mencari keseimbangan melalui ledakan massal, sehingga mengakhiri stabilitas politik yang telah diciptakan dan digalakkan selama kurang lebih enam tahun. Selain itu, sifat responsiveness menjadi lemah karena “bahasa” yang digunakan PBB seolah-olah diatur oleh tokoh politik yang mengepalai kepengurusan umumnya. Ideologi yang berapi-api pada dua sistem politik sebelumnya kini mungkin sudah mendingin atau setidaknya tidak lagi menjadi ciri menjaga kesinambungan nilai berbagai kekuatan politik yang ada.
Sebaliknya, responsif terhadap tuntutan rakyat lebih disalurkan kepada jentera politik yang sedia ada, yang dengan sensitivitinya adalah tahap sensitiviti.
Badan Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif
Badan yang bertugas menyusun peraturan perundang-undangan di atas adalah badan legislatif (legislative body). Badan Legislatif (Parlemen), yaitu lembaga yang “mengundang” atau membuat undang-undang, yang anggotanya adalah wakil-wakil Rakyat Indonesia di mana pun berada (termasuk mereka yang bertempat tinggal tetap di luar negeri) yang dipilih melalui pemilihan umum. Dengan demikian, kelompok masyarakat ini lambat laun diubah namanya menjadi badan legislatif (parlemen), yang berperan sebagai badan yang membatasi kekuasaan absolut raja.
Dalam perkembangannya, para anggota badan legislatif ini dipilih melalui mekanisme pemilihan umum agar keberadaannya diakui secara hukum dan universal di seluruh dunia sebagai badan yang mewakili rakyat dan mempunyai kewenangan menentukan kebijakan umum dalam mengeluarkan undang-undang. Sistem pengangkatan atau pemilihan di atas berlaku pada pemerintahan sosialis atau kerajaan, sedangkan di negara-negara modern anggota badan legislatif umumnya dipilih melalui pemilihan umum dan berdasarkan sistem kepartaian. Untuk menjalankan fungsi pengawasannya, lembaga legislatif berkewajiban melakukan pengawasan terhadap kegiatan lembaga eksekutif agar sesuai dengan kebijakan yang diambilnya.
Dalam suasana perselisihan antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif, maka interpelasi dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk mengajukan mosi tidak percaya. Di Indonesia, lembaga legislatif dalam sistem parlementer mempunyai hak untuk mengajukan usul, namun sejak tahun 1959 hak tersebut telah dihapuskan. Secara formal, peran badan legislatif Uni Soviet (sekarang Rusia), yaitu Soviet Tertinggi, sangat ditekankan sebagai organ tertinggi kekuasaan negara, yang merupakan perwujudan dari “kehendak tunggal rakyat”.
Kewenangan lembaga legislatif menurut UUD 1945 memuat ketentuan bahwa setiap undang-undang memerlukan persetujuan DPR (pasal 20).