• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU STUDI ISLAM (SEBUAH PENGANTAR)

N/A
N/A
Pipih Pianti Suryana

Academic year: 2024

Membagikan "BUKU STUDI ISLAM (SEBUAH PENGANTAR)"

Copied!
214
0
0

Teks penuh

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah mendukung seluruh dana penulis untuk mempelajari sejarah dan tradisi kajian Islam di Jerman. Kajian Islam merupakan suatu mata pelajaran ilmu pengetahuan modern yang mempunyai cakupan yang cukup luas baik dari segi mata pelajaran yang berkembang dalam kurun waktu sejarah kajian yang sangat panjang, maupun dari segi metode kajian yang sering dikembangkan dan dikembangkan gagasannya. Luasnya kajian Islam didasarkan pada pemahaman Islam yang selalu berkembang seiring dengan proses kajian dan/atau pembelajaran.

Menempatkan kajian Islam dalam konstruksi keilmuan berarti menempatkan Islam sebagai bagian dari proses perjuangan Islam, beserta realitas sosialnya, dengan paradigma keilmuan sebagai ruhnya. Ketiga konstruk di atas menjadi pilar yang menunjang terwujudnya wajah kajian Islam yang dinamis dan konstruktif, sehingga mampu menghadirkan pemahaman Islam dan Islam rahmatan li al-alamin dalam ruang dan waktu apa pun.

MAKNA, CAKUPAN, DAN URGENSI STUDI ISLAM

MAKNA, CAKUPAN, DAN URGENSINYA

Makna dan Cakupan Studi Islam

Dengan pengklasifikasian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa kata yang tepat digunakan dalam konteks kajian Islam adalah Islam. dengan huruf i kecil), tidak Islami (dengan huruf kapital i).5. Selain pembagian antara Islam dan Islam – sebagaimana dikemukakan di atas – penulis juga menggunakan rumusan Marsekal G.S. Kedua kata inilah yang menjadi konsep kajian Islam (Inggris) atau Dirasah Islamiyah (Arab)7 yang diartikan sebagai kajian Islam.

Oleh karena itu harus dilihat sejak awal bahwa pemahaman Islam harus dalam konteks kajian Islam atau kajian Islam dalam ruang keilmuan. Disebutkan juga oleh Arkoun bahwa Istilah “kajian Islam” yang saat ini digunakan dalam jurnal-jurnal ilmiah dan profesi, departemen dan lembaga akademik, mencakup suatu bidang atau penelitian yang luas dengan Islam sebagai ikatan umumnya.12 Namun sangat disayangkan bahwa Akademisi Menurut Arkoun, wacana kajian Islam masih sebatas menjelaskan bagaimana bidang teori, bidang budaya, disiplin ilmu dan konsep dihubungkan dengan satu kata “Islam” dan mengapa pembahasannya masih terfokus pada satu dimensi jika menyangkut Islam.

Urgensi Studi Islam

Pola dikotomis ini seringkali bermula dari permasalahan dan perbedaan pandangan dalam memahami realitas pengetahuan itu sendiri. Pemahaman seperti ini bukan berarti ada pembedaan atau pemisahan antara mereka yang berorientasi internal dan mereka yang berorientasi eksternal. Segmen ini tidak hanya berasal dari kalangan non-Muslim namun juga dari kalangan umat Islam sendiri.

Pada hakikatnya kajian Islam penting untuk membangun masyarakat madani dalam Islam dan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan masyarakat global pada umumnya. Karena dengan cara inilah Islam dan umat Islam menjadi sebuah pembuka (infitah), dalam bahasa Dale,20 sehingga Islam menjadi pemahaman yang diobjektifikasi.

Keilmuan Studi Islam

Jika kajian Islam termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan, maka hal awal yang harus dikembangkan adalah setiap kata, baik secara etimologis maupun terminologis, dalam kajian Islam harus jelas dan tersusun dengan rumusan yang tegas. Misalnya, jika kita menulis tentang “sejarah kajian Islam di Indonesia”, kita perlu berhati-hati dalam memahami apa yang dimaksud dengan sejarah. Kajian Islam dalam konteks awalnya diharapkan dapat bersentuhan dengan perkembangan wacana atau kajian lain yang sebelumnya berkembang di masyarakat lain.

Upaya ini penting untuk menetralisir apa yang disebut swasembada di sebagian kalangan intelektual Muslim.24 Padahal, semangat pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam sangat mengagumkan. Dikatakannya berusaha karena dari langkah seperti itulah ilmu pengetahuan muncul, berkembang dan maju, termasuk kajian Islam.

STUDI ISLAM: PERSPEKTIF SEJARAH

PERSPEKTIF SEJARAH

Kajian sistematis kajian Islam dan sejarahnya yang paling awal di Eropa Barat dimulai pada abad ke 16 M. Oleh karena itu, pembahasan yang tidak bisa diabaikan adalah kajian sejarah kajian Islam di Indonesia. Sejarah kajian Islam di Indonesia harus dikaji melalui penemuan-penemuan ilmiah, bagaimana mereka mendakwahkan Islam di Indonesia.

Sejarah kajian Islam di Indonesia juga dilakukan oleh pihak luar, yang bukan semata-mata disebabkan oleh kebetulan, namun dirancang sedemikian rupa. Dari dua pembahasan di atas dapat dimaknai bahwa kajian Islam pada periode ini dilakukan baik dari sudut pandang insider maupun outsider. Terlepas dari berbagai permasalahan yang masih menghantui, kajian Islam yang dilakukan oleh para intelektual Muslim di Indonesia berkembang cukup pesat pada akhir abad ke-19.

Dengan demikian, penekanan permasalahan kajian Islam di IAIN dapat disimpulkan dalam dua hal.

STUDI ISLAM: PERSPEKTIF KEILMUAN

PERSPEKTIF KEILMUAN

Perdebatan apakah kajian Islam merupakan suatu bentuk ilmu atau bukan merupakan bagian dari wacana kajian Islam dalam bidang epistemologis. Apa sebenarnya yang diharapkan dari belajar studi Islam di perguruan tinggi agama Islam, baik swasta maupun negeri? Dalam kajian keislaman menitikberatkan pada realita atau realita Islam yang ada di masyarakat (dulu dan sekarang).

Jika seorang pengkaji menulis tentang “sejarah kajian Islam di Indonesia misalnya, maka yang perlu dibenahi adalah apa yang dimaksud dengan sejarah. Menhaj yang dimaksud di sini tentu saja berbeda dengan menhaj dalam konteks pembahasan metodologi Islam. Kajian .Di sisi lain, kajian epistemologi kajian Islam dapat ditelusuri kembali ke model paradigma keilmuan yang ada pada masa sekarang.

Oleh karena itu, langkah awal dalam merumuskan epistemologi kajian Islam adalah upaya menemukan kesadaran akan realitas seperti di atas. Pemahaman seperti ini penting untuk sampai pada kesimpulan bahwa, misalnya, inilah sebenarnya yang dimaksud dengan epistemologi kajian Islam. Yang dimaksud dengan 'Islam' di sini tentu saja sama dengan sejarah kajian Islam, epistemologi kajian Islam, dan pendekatan kajian Islam.

Menyimpang dari kedua metodologi tersebut, hendaknya kajian Islam memuat dua hal di atas. Sedangkan dari sudut pandang tertentu, kajian Islam mempunyai seperangkat ciri dan pola metodologis yang sesuai dengan objek kajian yang melingkupinya. Untuk itu metodologi dalam kajian keislaman tidak perlu secara mandiri menciptakan metodologi keislaman karena yang dikaji adalah persoalan-persoalan keislaman.

Diagram alternatif yang ditawarkan oleh Safi tersebut ternyata  masih membutuhkan penjelasan sekaligus rumusan lebih lanjut
Diagram alternatif yang ditawarkan oleh Safi tersebut ternyata masih membutuhkan penjelasan sekaligus rumusan lebih lanjut

MASA DEPAN STUDI ISLAM

STUDI ISLAM

Terlepas dari berbagai perbedaan terminologi yang ada, kajian Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma ilmu pengetahuan. Perlu ditegaskan bahwa kajian Islam sebagai kumpulan ilmu pengetahuan berbeda dengan kajian Islam sebagai suatu nilai, misalnya. Dengan menerapkan sistem pengajaran, kajian Islam tidak pernah lepas dari dimensi kognitifnya agar dapat diterima di masyarakat.

Dengan demikian, penafsiran kajian Islam dalam konteks sosiologisnya berarti penafsiran kajian Islam sebagai ilmu dalam ranah dan fakultas realitas sosial. Studi Islam mencakup studi tentang agama Islam dan aspek Islam dalam masyarakat dan budaya Muslim. Dalam konteks ini, memahami kajian Islam dari sudut pandang yang dikemukakan oleh al-Ghazālī (w.

Meskipun terdapat berbagai perbedaan istilah yang ada, kajian Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma ilmu pengetahuan. Dengan mengamalkan suatu sistem ajaran (nilai), kajian Islam tidak pernah lepas dari dimensi kognitifnya agar dapat diterima di masyarakat. Terlepas dari perdebatan yang ada, kajian Islam sebagai ilmu dimaknai sebagai fakta atau informasi yang diperlukan.

Sebenarnya kajian-kajian Islam hadir, namun seringkali lepas dari permasalahan nyata yang dihadapi umat Islam. Pada era-era berikutnya, kajian Islam berkembang seiring dengan semakin meluasnya proses perluasan peradaban Islam. Akibatnya, kajian Islam hanya memunculkan gagasan-gagasan dangkal dan mengabaikan esensi permasalahan yang ada di masyarakat.

Runtuhnya kedua narasi besar tersebut melahirkan wacana kajian Islam yang relatif tanpa batasan ideologi. Semangat pemikiran di atas perlu dikaji lebih mendalam mengingat dinamika kajian Islam di Indonesia.

PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM

DALAM STUDI ISLAM

Kedua, pendekatan filosofis mempunyai dampak yang sangat mendasar dalam memahami suatu permasalahan (baca: objek kajian), yaitu terbentuknya pemikiran kritis bagi pengamat. Oleh karena itu, perlu dijelaskan pendekatan filosofis yang lebih teknis bagaimana pendekatan filosofis tersebut dapat diterapkan dalam kajian konkrit dalam penelitian. Permasalahan yang mungkin muncul di kalangan pemerhati ilmu agama adalah apakah ilmu agama bisa menggunakan pendekatan filosofis.

Fisher menjelaskan, pendekatan filosofis dalam kajian agama seperti teologi, filsafat Islam, atau hukum Islam misalnya, sangat mungkin dilakukan. Oleh karena itu, ciri khusus pendekatan filsafat adalah “berpikir reflektif pada taraf generalisasi yang luas”. Pentingnya pendekatan filsafat bukan terletak pada filsafatnya, melainkan pada objek materialnya, yaitu pada agama itu sendiri.

Oleh karena itu, pendekatan filosofis memerlukan serangkaian dasar proses dan upaya yang komprehensif, mendalam, dan berkesinambungan untuk memahami suatu objek material. Dari keempat penelitian di atas, tentunya seorang peneliti yang menggunakan pendekatan filosofis tidak boleh menggunakan keempatnya secara keseluruhan. Sebaliknya, semakin kurang detail atau samar permasalahan yang ada pada objek penelitian, maka akan semakin menghalangi peneliti untuk menggunakan pendekatan filosofis.

Selain itu, banyak fenomena yang dapat dipahami atau dikaji dengan pendekatan filosofis. Oleh karena itu, perlu dikaji lebih jauh apa dan bagaimana kedua fenomena tersebut sebenarnya dapat dipahami dalam konteks kajian agama dengan pendekatan filosofis. Pendekatan filosofis selalu bermula dari (1) permasalahan dan (2) sudut pandang untuk kemudian menimbulkan (3) refleksi yang kemudian harus dilakukan (4) evaluasi kritis untuk membuka kemungkinan (5) permasalahan pemberitaan dan pada akhirnya yang disebut (6) menemukan cara pandang baru terhadap apa yang kita pahami tentang objek materi yang akan atau sedang dipelajari.

DAFTAR PUSTAKA

Essays on the Problems of Understanding, Chicago: University of Chicago Press, 1967. ed.), Islamic Studies in Asean, Pattani: College of Islamic Studies Prince of Songkala University, 2000. History as an ideology of legitimation: a comparative approach across contexts Islamic and European", Gema Martin Munoz (ed.), Islam, Modernism and the West: Cultural and Political at the End of the Millennium, London: I.B. Actualite du Probleme de la Personnedans la Pensee Islam-ique”, from Revue Internationalie de Sciences Sociale, vol.

Teori Pengetahuan Manusia: Kedudukannya dan Jenis-Jenisnya", Slamet Sutrisno (ed.) Tugas Filsafat Pembangunan Manusia, Yogyakarta: Liberty, 1986. Teori Pengetahuan Islam dalam Konteks Pengetahuan Tradisi Barat", dalam Islam dan Dunia Zaman Modern, (November 1994). Perubahan Sifat Studi Islam dan Studi Keagamaan Amerika, Bagian 2”, Muslim World, Vol.

Hidden Sciences in Islam”, dalam Seyyed Hossein Nasr (red.), Spiritualitas Islam: Manifestasi, (Pentj.) Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003).

Gambar

Diagram alternatif yang ditawarkan oleh Safi tersebut ternyata  masih membutuhkan penjelasan sekaligus rumusan lebih lanjut

Referensi

Dokumen terkait

Studi islam secara harfiyah adalah kajian tentang hal-hal yang berkaitan dengan keislaman makna ini angat umum karena segala sesuatu yang berkaitan dengan islam dikatakan studi

Penerapan pendekatan dan metode keilmuan modern dan kontemporer dalam Studi Islam ini bukan bermaksud untuk menggantikan apalagi menyingkirkan kajian

Metode studi yang digunakan adalah metode Hester (1984) yang menggu- nakan pendekatan aspek sosial dengan melibatkan dua pelaku penting yaitu peran- cang

Ilmu-ilmu yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam antara lain ialah: (1) Dasar-dasar Ajaran Islam; (2) Hukum Islam; (3) Ilmu Kalam atau teologi; (4) Ilmu Tasawuf;

Pengantar Studi Islam (PSI), merupakan sebuah mata kuliah yang berupaya mengkaji keislaman dengan wilayah telaah materi ajaran agama dan fenomena kehidupan beragama. Pendekatan

Pendekatan teologis normatif ini sendiri adalah suatu pendekatan yang ada dalam suatu studi islam yang dapat memandang sutau masalah dari sudut normatifnya, dalam hal ini

Sedangkan pengertian terminologis tentang studi islam dalam kajian ini, yaitu kajian secara sistematis dan terpadu untuk mengetahui, memahami dan

Matakuliah ini dimaksudkan untuk memberi bekal kepada mahasiswa sebagai pengantar studi agar memiliki pemahaman terhadap Islam secara komprehensif dari berbagai aspeknya, mengetahui