CAT
ATAN OSDM UNTUK UTS -BERORGANISASI
Berorganisasi adalah proses atau kegiatan sekelompok orang yang bekerja sama secara terstruktur untuk mencapai tujuan bersama. Dalam organisasi, setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sudah ditentukan agar tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Contoh: Di sekolah ada organisasi OSIS yang bertujuan untuk membantu kegiatan siswa.
Setiap anggota punya tugas, ada yang bagian dokumentasi, ada yang bagian acara, dan lain- lain.
1. Prosedur
Menurut saya, prosedur itu adalah langkah-langkah yang harus diikuti supaya pekerjaan dalam organisasi berjalan dengan tertib dan sesuai aturan. Dengan adanya prosedur, semua orang tahu apa yang harus dilakukan sehingga meminimalkan kesalahan.
Contoh: 1. Prosedur dalam pengajuan izin kegiatan sekolah:
2. Membuat proposal kegiatan 3. Minta tanda tangan ketua OSIS 4. Minta persetujuan dari guru pembina 5. Koordinasi dengan pihak sekolah 2. Struktur Organisasi (Hierarki)
Menurut saya, struktur organisasi atau hierarki itu penting supaya kita tahu siapa yang memimpin dan siapa yang harus melaksanakan tugas. Dengan struktur yang jelas, komunikasi dalam organisasi jadi lebih teratur dan tanggung jawab setiap orang juga jadi jelas.
Contohnya:
Struktur organisasi Himpunan Mahasiswa:
Ketua Umum
Wakil Ketua
Sekretaris
Bendahara
Ketua Bidang (seperti bidang akademik, sosial, atau humas)
Anggota aktif 3. SDM = Job Description
Menurut saya, dalam organisasi kampus, setiap anggota harus memahami job description supaya semua kegiatan berjalan lancar. Kalau setiap orang tahu tugasnya, kerja tim akan lebih efektif dan tidak tumpang tindih.
Contohnya:
Job description Ketua Bidang Humas di organisasi kampus:
Bertanggung jawab atas komunikasi eksternal
Membuat surat undangan untuk acara kampus
Menjaga relasi dengan organisasi lain atau pihak kampus 4. Sistem
Menurut saya, sistem dalam organisasi di kampus sangat penting untuk mengatur alur kerja dan kegiatan. Dengan sistem yang baik, organisasi menjadi lebih profesional dan mudah dipertanggungjawabkan.
Contohnya:
Sistem laporan pertanggungjawaban kegiatan kampus:
Setelah kegiatan selesai, panitia membuat laporan kegiatan
Laporan disusun mencakup keuangan, dokumentasi, dan evaluasi acara
Laporan diserahkan ke pihak fakultas untuk arsip dan evaluasi -Perilaku Organisasi (PO)
Perilaku Organisasi atau PO adalah cara orang-orang dalam organisasi berperilaku,
berinteraksi, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. PO mencakup sikap, gaya kerja, cara komunikasi, dan bagaimana mereka menyelesaikan masalah dalam organisasi.
1. Bagaimana PO itu (How)?
Menurut saya, PO itu terbentuk dari kebiasaan positif yang terus dipraktikkan oleh anggota organisasi, seperti disiplin, kerja sama, keterbukaan dalam komunikasi, serta saling
menghargai. Semakin baik perilaku organisasi, semakin produktif dan harmonis suasana dalam organisasi tersebut.
Contohnya dalam perkuliahan:
Dalam kepanitiaan seminar kampus, semua anggota terbiasa hadir tepat waktu, aktif berdiskusi, dan saling menghargai pendapat anggota lain, sehingga acara berjalan sukses.
2. Leadership / Kepemimpinan
Menurut saya, kepemimpinan sangat penting dalam organisasi, karena seorang pemimpin akan mengarahkan dan memotivasi anggota untuk mencapai tujuan. Pemimpin juga harus menjadi teladan, mampu mengambil keputusan, dan siap bertanggung jawab.
Contohnya dalam perkuliahan:
Ketua himpunan mahasiswa yang mampu memimpin rapat dengan tegas, mendengarkan
masukan anggota, serta membagi tugas dengan adil agar semua program berjalan dengan baik.
3.Komunikasi
Menurut saya, komunikasi dalam organisasi adalah kunci utama supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Dengan komunikasi yang jelas dan terbuka, setiap anggota tahu tugasnya dan bisa saling memberi masukan atau laporan.
Contohnya dalam perkuliahan:
Dalam panitia acara kampus, setiap hari panitia membuat grup WhatsApp untuk update progres, membahas kendala, dan saling mengingatkan jadwal penting.
4.Konflik dan Stres: Kontrol
Menurut saya, konflik dan stres pasti akan terjadi dalam organisasi, terutama saat tekanan tinggi atau perbedaan pendapat. Yang terpenting adalah bagaimana organisasi mengontrol dan menyelesaikannya dengan baik.
Contohnya dalam perkuliahan:
Ketika terjadi perbedaan pendapat saat menentukan tema acara, panitia mengadakan forum diskusi untuk menyatukan ide, sehingga konflik dapat diselesaikan secara bijak tanpa
membuat anggota merasa tertekan.
5. Kepuasan
Menurut saya, kepuasan anggota organisasi sangat penting supaya mereka merasa senang dan bangga menjadi bagian dari organisasi tersebut. Kepuasan bisa datang dari hasil kerja yang diakui atau lingkungan kerja yang menyenangkan.
Contohnya dalam perkuliahan:
Setelah acara sukses dilaksanakan, panitia merasa puas karena mendapat apresiasi dari dosen dan peserta, bahkan hasil kerja mereka diakui dalam berita kampus.
6. Motivasi
Menurut saya, motivasi adalah dorongan dari dalam diri setiap anggota untuk terus
berkontribusi dalam organisasi. Motivasi bisa datang dari tujuan pribadi, penghargaan, atau rasa tanggung jawab.
Contohnya dalam perkuliahan:
Mahasiswa yang termotivasi ingin menambah pengalaman organisasi agar nanti lebih siap menghadapi dunia kerja, sehingga mereka aktif mengikuti berbagai kepanitiaan dan kegiatan kampus.
-Apa itu Perilaku Organisasi (PO)?
Berdasarkan pendapat Keith Davis (1990), Perilaku Organisasi (PO) adalah penerapan pengetahuan tentang bagaimana orang berperilaku atau bertindak di dalam organisasi.
Artinya, PO mempelajari cara-cara orang berinteraksi, menjalankan tugas, serta bagaimana mereka mempengaruhi satu sama lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut saya, memahami PO itu penting supaya kita bisa tahu kenapa orang bertindak seperti itu di tempat kerja atau dalam organisasi, sehingga kita bisa menciptakan suasana yang kondusif dan meminimalkan masalah.
-Bagaimana PO itu diterapkan?(PERILAKU ORGANISASI)
Masih mengacu pada Keith D. (1990), suasana atau iklim dalam perusahaan atau organisasi bisa ditelaah melalui konsep PO. Ini artinya, kita bisa melihat apakah suasana kerja nyaman atau tidak, apakah komunikasi lancar, bagaimana hubungan antaranggota, hingga bagaimana cara mengelola konflik, semua itu bisa dipelajari lewat perilaku organisasi.
Menurut saya, penerapan PO dalam organisasi dilakukan dengan:
Memahami karakteristik setiap anggota.
Membangun komunikasi yang terbuka.
Menciptakan lingkungan kerja yang positif dan saling mendukung.
Mengatur kepemimpinan yang efektif dan jelas.
Menyusun strategi untuk mengelola konflik dan stres kerja.
Contoh dalam perkuliahan:
Di dalam organisasi kampus seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), penerapan PO bisa terlihat saat semua anggota memahami tugasnya, saling menghargai pendapat dalam rapat, pemimpin organisasi bisa mengarahkan tim dengan baik, serta suasana kerja yang nyaman dan penuh motivasi. Dengan begitu, tujuan organisasi bisa tercapai secara efektif.
-Perilaku = Sikap (Attitude)
Menurut saya, perilaku dalam konteks organisasi itu sangat erat kaitannya dengan sikap seseorang. Sikap di sini mencakup bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak terhadap suatu hal dalam organisasi.
Perilaku ini bukan hanya tindakan saja, tapi juga melibatkan apa yang kita pikirkan (kognitif) dan apa yang kita rasakan (afektif). Misalnya, jika kita melihat ada kekurangan dalam
organisasi, maka kita cenderung memikirkan solusinya, merasa tergugah, dan akhirnya bertindak untuk melakukan perbaikan.
Contoh dalam perkuliahan:
Saat membuat poster acara kampus, kalau desain awal kurang menarik, tim desain akan memikirkan ide baru (kognitif), merasa bahwa desain tersebut perlu diperbaiki (afektif), lalu melakukan perubahan agar lebih menarik perhatian peserta.
- Perilaku Dipercaya (Kepercayaan)
Menurut saya, kepercayaan dalam perilaku adalah hasil dari pemikiran yang sifatnya
deskriptif, berdasarkan pengetahuan, pendapat, dan keyakinan seseorang terhadap sesuatu.
Dengan kata lain, sebelum kita bersikap atau bertindak, biasanya kita memiliki dasar kepercayaan terlebih dahulu yang terbentuk dari pengalaman atau pengetahuan.
Kepercayaan ini menjadi dasar kita untuk menilai apakah suatu hal itu benar, bermanfaat, atau perlu diperbaiki. Semakin kuat kepercayaan kita terhadap sesuatu, semakin konsisten pula perilaku kita terhadap hal tersebut.
Contoh dalam perkuliahan:
Ketika kita percaya bahwa kerja sama tim sangat penting untuk keberhasilan suatu proyek, maka kita akan selalu berusaha membangun komunikasi yang baik dengan teman-teman satu tim, karena kepercayaan tersebut mendorong kita untuk bertindak sesuai dengan keyakinan kita.
-OB (Organizational Behavior / Perilaku Organisasi)
1. Behavior: Tentang Tindakan yang Dapat Diamati atau Diukur
Seperti yang dikatakan oleh Robbins (1986), “Behavior concerns itself with the actions people do that can be observed or measured.”
Menurut saya, maksudnya adalah perilaku dalam organisasi itu fokus pada tindakan nyata yang bisa kita lihat dan ukur, bukan hanya pikiran atau perasaan yang tersembunyi. Jadi, dalam organisasi kita bisa menilai apakah seseorang bekerja dengan baik atau tidak melalui apa yang mereka lakukan secara langsung, seperti cara mereka berkomunikasi,
berkoordinasi, atau menyelesaikan tugas.
Contoh dalam perkuliahan:
Ketika mahasiswa aktif berdiskusi dalam kelompok, memberikan ide, dan mengerjakan tugas tepat waktu, semua itu adalah perilaku yang bisa diamati dan diukur untuk menilai
keterlibatan mereka dalam tim.
2. Organization: Kesatuan Sosial yang Terkoordinasi dengan Sadar Menurut Robbins (1996):
"Organization is a consciously coordinated social unit, composed of two or more people, that functions on a relatively continuous basis to achieve a common goal or set of goals."
Berdasarkan pendapat ini, saya memahami organisasi sebagai sekumpulan orang yang secara sadar bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi tidak akan berjalan jika hanya individu tanpa koordinasi. Harus ada kerja sama, komunikasi, dan kesadaran bersama bahwa semua anggota bertanggung jawab atas tujuan tersebut.
Contoh dalam perkuliahan:
Organisasi mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) adalah contoh nyata. Di dalam HMJ, semua anggota—baik ketua, sekretaris, maupun anggota biasa—bekerja sama dan terkoordinasi untuk menjalankan program kerja seperti seminar, bakti sosial, atau pelatihan, demi mencapai tujuan yang sudah disepakati.
-Berorganisasi dalam Dunia Teknik Sipil / Konstruksi
1. Melakukan Aktivitas oleh Manusia (Pelaku di Dunia Teknik Sipil/Konstruksi)
Dalam dunia teknik sipil atau konstruksi, aktivitas berorganisasi ini dilakukan oleh banyak pihak, seperti insinyur, mandor, arsitek, hingga pekerja lapangan. Setiap orang punya peran dan tanggung jawab masing-masing untuk memastikan proyek berjalan lancar. Misalnya, insinyur bertanggung jawab terhadap perencanaan teknis, sementara mandor mengatur pelaksanaan di lapangan.
Menurut saya, tanpa adanya organisasi yang baik, proyek bisa berantakan karena kurangnya koordinasi.
2. Akan Mendapatkan Penilaian
Setiap aktivitas dalam proyek pasti akan mendapatkan penilaian, minimal apakah sesuai dengan gambar teknik atau tidak. Penilaian ini penting untuk memastikan bahwa hasil pekerjaan memenuhi standar yang sudah ditetapkan.
Menurut saya, penilaian ini bukan hanya soal hasil akhir, tapi juga tentang prosesnya.
Apakah waktu pengerjaannya tepat? Apakah material yang digunakan sesuai spesifikasi?
Semua ini jadi indikator apakah nilai dari pekerjaan tersebut baik atau kurang.
Contoh dalam perkuliahan:
Ketika mahasiswa teknik sipil membuat maket atau gambar konstruksi dalam tugas kuliah, dosen akan menilai apakah hasilnya sudah sesuai dengan standar gambar teknik yang benar.
3. Menentukan Perilaku Berorganisasi dalam Mendapatkan Kepercayaan Individu Lain atau Publik (Konsumen/Owner)
Menurut saya, perilaku dalam berorganisasi sangat memengaruhi kepercayaan pihak lain, seperti klien atau owner proyek. Jika sebuah tim konstruksi bekerja secara profesional, transparan, dan sesuai prosedur, maka kepercayaan publik akan tumbuh.
Sebaliknya, kalau organisasi tidak rapi, terjadi kesalahan dalam pembangunan, atau keterlambatan proyek, kepercayaan akan menurun. Oleh karena itu, sikap profesional, komunikasi yang baik, dan tanggung jawab dalam organisasi sangat menentukan reputasi kita di mata klien atau publik.
Contoh dalam perkuliahan:
Saat mengikuti lomba desain jembatan tingkat nasional, tim mahasiswa yang kompak, teliti, dan tepat waktu dalam menyelesaikan desain pasti akan lebih dipercaya oleh juri dan panitia lomba, karena menunjukkan perilaku organisasi yang baik.
-Organizational Behavior (OB) / Perilaku Organisasi (PO) 1. Perilaku Individual
Dalam organisasi, setiap individu pasti memiliki perilaku yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Contohnya:
Job Satisfaction (Kepuasan Kerja):
Saya berpendapat, kalau seseorang merasa puas dengan pekerjaannya, dia akan bekerja lebih semangat dan produktif. Misalnya, ketika seorang insinyur sipil merasa bahwa proyek yang dikerjakannya menantang dan dihargai oleh atasan, otomatis dia akan lebih termotivasi.
Job Involvement (Keterlibatan Kerja):
Keterlibatan kerja sangat penting karena mencerminkan sejauh mana seseorang merasa terikat dan peduli dengan pekerjaannya. Semakin tinggi keterlibatan, semakin besar kontribusinya.
Organizational Commitment (Komitmen terhadap Organisasi):
Kalau seseorang punya komitmen tinggi, dia akan loyal terhadap organisasi dan rela bekerja keras demi kemajuan bersama.
Semua hal ini sangat dipengaruhi oleh:
Sikap (Attitude): bagaimana seseorang memandang pekerjaannya.
Kepribadian (Personality): sifat dasar individu, apakah terbuka untuk perubahan atau cenderung kaku.
Persepsi (Perception): bagaimana seseorang menilai situasi di sekitarnya.
Pembelajaran (Learning): pengalaman dan pengetahuan yang membentuk perilaku mereka.
2. Perilaku Kelompok
Selain perilaku individu, organisasi juga dipengaruhi oleh perilaku kelompok. Dalam dunia kerja, kita hampir selalu bekerja dalam tim atau kelompok.
Beberapa hal penting dalam perilaku kelompok menurut saya:
Norma / Pengaturan:
Setiap kelompok pasti punya aturan yang disepakati bersama agar kerja tim lebih teratur.
Dinamika Kelompok (Formal & Informal):
Dalam tim pasti ada dinamika, baik yang resmi seperti pembagian tugas, maupun yang informal seperti pertemanan yang membantu memperkuat kekompakan.
Peranan & Keserasian:
Setiap orang dalam tim harus memahami perannya supaya semua berjalan selaras.
Jabatan & Status:
Posisi dalam organisasi menentukan tanggung jawab seseorang. Misalnya, ketua proyek bertanggung jawab penuh atas keberhasilan proyek.
Kebersamaan / Derajat Keterikatan:
Semakin tinggi rasa kebersamaan dalam kelompok, semakin kuat pula tim tersebut dalam menghadapi tantangan.
Contoh dalam perkuliahan:
Saat mengerjakan proyek kelompok desain bangunan, setiap anggota tim memiliki peran masing-masing. Ada yang bertugas menggambar, menghitung struktur, atau menyusun laporan. Jika semua anggota memahami perannya dan punya sikap positif terhadap
tugasnya, hasil akhir proyek akan maksimal dan kerja sama dalam tim pun terasa menyenangkan.
-Organisasi
1. Ingat: Man, Machine, Material, Money, Method dalam Berorganisasi Dalam berorganisasi, ada lima unsur penting yang harus kita perhatikan, yaitu:
Man (Manusia): Orang-orang yang terlibat dalam organisasi, mulai dari pemimpin hingga anggota yang melaksanakan tugas.
Machine (Mesin): Alat atau teknologi yang digunakan untuk mendukung operasi organisasi.
Material (Bahan): Sumber daya fisik yang dibutuhkan dalam kegiatan operasional, misalnya bahan bangunan dalam proyek konstruksi.
Money (Uang): Sumber daya finansial yang mendukung kelangsungan kegiatan organisasi.
Method (Metode): Cara atau prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif.
2. Organisasi sebagai Kesatuan Sosial yang Tersusun Secara Sistematatis dalam Mencapai Tujuan Tertentu
Menurut saya, organisasi adalah suatu kesatuan sosial yang disusun secara
sistematis dengan tujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Artinya, organisasi dibentuk dengan rencana yang matang dan struktur yang jelas, agar semua anggota bisa bekerja sama dengan efisien. Setiap elemen dalam organisasi memiliki tugas dan peran yang jelas, sehingga tujuannya dapat tercapai dengan baik.
Contoh dalam perkuliahan:
Ketika membuat proyek kelompok, setiap anggota diberi tugas tertentu, misalnya ada yang mengerjakan riset, ada yang membuat presentasi, dan ada yang
menyiapkan materi pendukung. Semua itu disusun secara sistematis agar proyek dapat selesai dengan sukses.
3. Di Dalam Organisasi, Terdapat: SDM, Visi & Misi, Struktur Organisasi
SDM (Sumber Daya Manusia):
SDM adalah elemen terpenting dalam organisasi. Orang-orang dengan keterampilan dan pengetahuan yang tepat akan menjalankan tugas-tugas organisasi untuk
mencapai tujuan. Tanpa SDM yang tepat, organisasi akan kesulitan berkembang.
Visi & Misi:
Visi adalah gambaran besar tentang apa yang ingin dicapai organisasi di masa depan, sedangkan misi adalah langkah-langkah konkret yang harus diambil untuk
mencapainya. Visi dan misi yang jelas akan mengarahkan seluruh anggota organisasi untuk bergerak ke arah yang sama.
Struktur Organisasi:
Struktur organisasi menentukan bagaimana tugas dan tanggung jawab dibagi dalam organisasi. Ada hierarki yang menunjukkan siapa yang bertanggung jawab atas apa.
Struktur ini penting untuk memastikan adanya koordinasi yang baik antar anggota.
Contoh dalam perkuliahan:
Dalam organisasi kampus seperti BEM, SDM terdiri dari mahasiswa yang memiliki keterampilan manajerial atau teknis. Visi dan misi BEM jelas, misalnya untuk
meningkatkan kesejahteraan mahasiswa dan membangun komunikasi antara mahasiswa dan pihak kampus. Struktur organisasi BEM terbagi dalam beberapa bagian, seperti ketua, sekretaris, bendahara, dan koordinator program, yang masing-masing memiliki tugas spesifik.
-Organisasi dalam Konteks Konstruksi
1. Organisasi sebagai Perwujudan dari Kontraktor, Konsultan, Subkon, dan Supplier sebagai Subyek, Sedangkan Obyeknya adalah Bangunan, Gedung, Prasarana, dan Infrastruktur
Dalam industri konstruksi, organisasi merupakan gabungan dari berbagai pihak yang terlibat dalam proyek. Beberapa pihak penting dalam organisasi konstruksi antara lain:
Kontraktor: yang bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek.
Konsultan: yang memberikan layanan perencanaan, desain, dan supervisi.
Subkontraktor (Subkon): pihak yang ditunjuk untuk mengerjakan bagian-bagian tertentu dari proyek.
Supplier: yang menyediakan material atau barang yang diperlukan untuk proyek.
Contoh dalam perkuliahan:
Jika dalam proyek desain bangunan kampus, mahasiswa yang berperan sebagai kontraktor (pemimpin proyek) akan mengoordinasikan semua tugas tim, sementara mahasiswa yang berperan sebagai konsultan akan merencanakan desain bangunan, dan mahasiswa lain sebagai subkontraktor akan fokus pada bagian tertentu seperti
perhitungan struktur. Supplier mungkin berperan dalam menyarankan material yang tepat. Semua bekerja bersama untuk menghasilkan desain yang baik.
2. SDM sebagai Pelaksana/Pelaku dalam Organisasi
Dalam setiap organisasi, SDM (Sumber Daya Manusia) adalah pelaku utama yang menggerakkan organisasi tersebut. Di dalam organisasi konstruksi, SDM bisa mencakup pekerja lapangan, manajer proyek, insinyur, dan staf administrasi. Mereka adalah orang- orang yang menjalankan pekerjaan sehari-hari dan memastikan proyek dapat berjalan sesuai rencana.
Saya percaya, keberhasilan sebuah proyek sangat bergantung pada kualitas dan kinerja SDM yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, pemilihan SDM yang tepat serta pengelolaan yang efektif sangat krusial untuk kelancaran sebuah organisasi.
Contoh dalam perkuliahan:
Dalam proyek tugas besar teknik sipil, mahasiswa yang berperan sebagai pelaksana atau pelaku akan terlibat dalam perencanaan, pengawasan, atau implementasi langsung dari hasil perencanaan. Mereka harus bekerja sesuai dengan peran masing-masing untuk memastikan tugas selesai dengan baik.
PPT 2
ORGANISASI (&SDM)
• STRUKTUR ORGANISASI memerlukan pengelolaan yang disebut MANAJEMEN
Sedangkan manajemen adalah sebuah PROSES Pengendalian:“YANG MENGENDALIKAN”
(SDM), apa yang dikendalikan: Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, Pengawasan, pada keseluruhan (PROYEK)nya demi untuk mencapai TUJUAN ORGANISASI.
- MENURUT James A.Stoner, manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, terhadap PELAKSANAAN KERJA anggotanya (manusianya) dan sumberdaya lainnya, untuk mencapai tujuan organisasi yang sudah ditetapkan!
MENURUT SAYA 1. Manajemen sebagai Proses Pengendalian
Manajemen adalah sebuah proses pengendalian yang digunakan untuk memastikan setiap bagian dalam organisasi berjalan dengan efisien dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks proyek konstruksi, pengendalian ini sangat penting karena melibatkan banyak pihak dan sumber daya yang harus dikelola dengan baik agar proyek dapat diselesaikan tepat waktu, dengan kualitas yang baik, dan sesuai anggaran.
Manajemen proyek konstruksi bertanggung jawab dalam mengendalikan berbagai aspek proyek, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, hingga pengawasan.
Perencanaan (Planning):
Perencanaan adalah tahap pertama dalam manajemen proyek. Pada tahap ini, manajer proyek dan tim merumuskan tujuan proyek, menentukan jadwal, dan memperkirakan anggaran serta sumber daya yang dibutuhkan. Dalam dunia teknik sipil, misalnya,
perencanaan melibatkan penentuan desain struktural, pemilihan material, serta perhitungan biaya dan waktu.
Contoh:
Sebelum membangun gedung, tim manajemen akan merencanakan semua aspek proyek
seperti memilih desain, memperkirakan biaya material, dan menentukan waktu penyelesaian masing-masing tahap.
Pengorganisasian (Organizing):
Pengorganisasian adalah proses penyusunan struktur tim dan penugasan tugas-tugas
tertentu. Dalam proyek konstruksi, ini berarti mengatur siapa yang bertanggung jawab untuk desain, siapa yang bertanggung jawab di lapangan, dan siapa yang mengawasi proyek untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Contoh:
Dalam proyek pembangunan jembatan, manajer proyek akan mengorganisir tim desain, teknisi lapangan, kontraktor sub-kontraktor, dan pekerja. Setiap tim memiliki peran jelas dalam proyek tersebut.
Pengarahan (Directing):
Pengarahan adalah proses memberikan arahan kepada tim untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Sebagai manajer proyek, seseorang harus mampu memotivasi dan mengarahkan tim untuk mengikuti prosedur dan jadwal yang sudah direncanakan.
Contoh:
Seorang manajer proyek akan memberi arahan kepada tim konstruksi untuk mengikuti prosedur keamanan saat bekerja di lapangan dan menjaga kualitas sesuai standar teknik sipil yang ditentukan.
Pengawasan (Controlling):
Pengawasan adalah memastikan bahwa proyek berjalan sesuai dengan rencana. Ini melibatkan pemantauan kemajuan pekerjaan, mengevaluasi hasil kerja, dan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat mematuhi jadwal dan anggaran yang telah ditetapkan.
Contoh:
Seorang manajer proyek akan memantau proses pembangunan gedung secara berkala. Jika ada keterlambatan atau masalah teknis, dia akan mengevaluasi dan mengambil langkah untuk memperbaikinya, misalnya dengan mengubah alur pekerjaan atau menambah tenaga kerja.
-OB (Organizational Behavior) atau Perilaku Organisasi adalah bidang studi yang
mempelajari bagaimana individu, kelompok, dan struktur organisasi dapat memengaruhi perilaku seseorang di dalam organisasi tersebut.
Tujuan dari mempelajari ini adalah untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam rangka meningkatkan efektivitas organisasi.
Dengan memahami perilaku organisasi, kita bisa mengelola sumber daya manusia dengan lebih baik, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, serta mencapai tujuan organisasi secara lebih efisien.
Contoh dalam dunia teknik sipil:
Dalam proyek konstruksi, memahami perilaku organisasi sangat penting agar setiap individu
— mulai dari manajer proyek, mandor, hingga pekerja lapangan — dapat bekerja sama
secara efektif. Misalnya, jika kita memahami bagaimana dinamika kelompok bekerja, kita bisa membentuk tim kerja yang solid dan meminimalisir konflik di lapangan, sehingga proyek berjalan lancar dan selesai tepat waktu.
Organisasi (Kontraktor / Subkontraktor) dalam Dunia Teknik Sipil
Menurut saya, organisasi di proyek konstruksi — seperti kontraktor utama atau
subkontraktor — memiliki struktur yang jelas, di mana setiap posisi atau jabatan sudah ditentukan dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
1. Jabatan
Dalam organisasi ini, jabatan sangat penting untuk memastikan alur kerja yang terstruktur. Contohnya, ada Site Manager yang bertanggung jawab atas keseluruhan kegiatan di lapangan, lalu ada Engineer yang menangani teknis gambar dan
spesifikasi, dan juga bisa terdapat Owner atau jika usaha mandiri, maka semua tugas harus dipahami oleh pelaku itu sendiri.
2. Job Description / Tugas & Tanggung Jawab
Setiap jabatan harus memiliki deskripsi pekerjaan yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih tugas. Misalnya, Site Engineer bertugas memastikan pelaksanaan di lapangan sesuai gambar kerja dan spesifikasi teknis.
3. Kebijakan Perusahaan
Organisasi juga harus punya kebijakan yang terstandardisasi, seperti penerapan ISO 16000 tentang manajemen mutu dan lingkungan. Ini membantu menjaga kualitas pekerjaan dan juga keselamatan kerja di proyek.
4. Manajemen dan Organisasi
Hubungan antara organisasi dan manajemen itu sangat erat, bahkan seperti satu kesatuan yang tidak terpisahkan (ibarat senyawa). Kenapa?
Karena organisasi menyediakan strukturnya (orang-orang dan alatnya), sementara manajemen yang menggerakkan dan mengendalikan supaya semua bagian dalam organisasi bisa berjalan sesuai rencana. Manajemen menentukan apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan, dan kapan harus dilakukan.
5. Yang Mengendalikan Manajemen adalah SDM
Pada akhirnya, walaupun ada alat berat, material, dan metode, yang paling utama adalah manusia. SDM atau sumber daya manusia adalah penggerak utama
manajemen. Tanpa SDM yang kompeten, semua perencanaan dan sistem tidak akan berjalan.
ORGANISASI, WHY??/Mengapa?
• Contoh pembangunan: PIRAMIDA di Mesir, TEMBOK KOKOH di Tiongkok, BOROBUDUR di Indonesia • Pengetahuan MANAJEMEN terus berkembang dan termodifikasikan kemudian dikenal dengan ‘CONSTRUCTION MANAGEMENT’ (ABAD XX). Sebelumnya dikenal juga:
CLASSIC M. (ABAD XIX) DAN SCIENTIFIC MANAGEMENT, dll
Piramida di Mesir
Pembangunan piramida tidak mungkin selesai tanpa pengaturan organisasi yang baik, walaupun pada masa itu belum dikenal istilah "manajemen modern." Ribuan pekerja diatur untuk memindahkan dan menyusun batu-batu besar dengan presisi.
Tembok Besar di Tiongkok
Pembangunan tembok ini melibatkan banyak tenaga kerja dan logistik yang kompleks. Tanpa organisasi yang baik, pembangunan tidak akan berjalan terus- menerus hingga selesai.
Borobudur di Indonesia
Borobudur adalah contoh luar biasa bagaimana leluhur kita sudah menerapkan prinsip organisasi dalam mengatur pengrajin batu, pemahat, dan pekerja bangunan secara sistematis.
Semua contoh tersebut menunjukkan bahwa manajemen dan organisasi itu sudah ada sejak dahulu kala, walaupun istilah dan konsepnya berkembang seiring zaman.
Perkembangan Pengetahuan Manajemen
Seiring waktu, ilmu manajemen semakin berkembang.
Dulu dikenal dengan istilah:
Classic Management (Abad XIX)
Fokus pada pembagian kerja, hirarki, dan otoritas dalam organisasi. Contohnya: teori dari Henri Fayol atau Max Weber tentang birokrasi.
Scientific Management
Dikembangkan oleh Frederick Taylor, lebih fokus pada efisiensi kerja, pembagian tugas yang spesifik, dan waktu standar untuk menyelesaikan pekerjaan.
Construction Management (Abad XX)
Pada masa modern ini, lahirlah bidang khusus yaitu Construction Management, yang memang disesuaikan untuk mengelola proyek konstruksi dengan skala yang lebih besar dan kompleks. Dalam Construction Management, kita tidak hanya mengatur jadwal atau tenaga kerja, tapi juga aspek biaya, mutu, keselamatan kerja, bahkan risiko proyek.
-Tujuan Memahami Perilaku Organisasi (PO)
Menurut saya, memahami perilaku organisasi itu sangat penting, terutama dalam konteks proyek konstruksi atau teknik sipil. Kenapa? Karena dengan memahami perilaku organisasi, kita bisa menjamin atau memastikan bahwa semua proses dalam berorganisasi berjalan dengan efektif dan efisien.
Contohnya, dalam proyek konstruksi jalan raya atau pembangunan gedung bertingkat:
Kita ingin agar semua pekerja, mulai dari mandor, tukang, sampai operator alat berat, bisa bekerja lancar, berkelanjutan, dan hasilnya pun baik.
Dengan pemahaman perilaku organisasi, kita bisa mengenali faktor-faktor yang memengaruhi kinerja mereka, seperti motivasi kerja, kepuasan kerja, komunikasi, hingga cara mereka menyelesaikan konflik di lapangan.
Siapa yang Menjamin Semua Itu?
Jawabannya tentu bukan hanya alat atau material, tapi orang yang ada di dalam organisasi itu sendiri, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM).
Dalam hal ini, peran leader sangat penting, seperti:
Direktur atau Eksekutif Proyek, yang membuat keputusan strategis.
Site Manager, yang memimpin pelaksanaan di lapangan dan memastikan pekerjaan sesuai spesifikasi teknis dan jadwal.
Mandor, yang mengawasi langsung pekerjaan tukang dan operator.
Pekerja / Tukang, yang menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan fisik proyek.
Semua posisi ini punya peran masing-masing dalam menjamin kelancaran proyek.
-Organisasi dan Orang/SDM
Menurut saya, inti dari keberhasilan sebuah organisasi — apalagi dalam proyek teknik sipil
— sangat bergantung pada pemahaman terhadap perilaku manusia, atau lebih spesifiknya, SDM yang terlibat di dalamnya.
Kenapa ini penting?
Karena dalam pelaksanaan organisasi konstruksi, kita butuh memanfaatkan secara optimal pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh para pekerja, baik itu dalam:
Pekerjaan pembesian, seperti merangkai besi untuk kolom atau balok,
Pekerjaan beton, supaya pengecoran berjalan sesuai mutu yang ditentukan dalam gambar kerja dan spesifikasi teknis.
Dengan memahami perilaku orang-orang ini, kita bisa memastikan bahwa:
Mereka bekerja sesuai keahlian masing-masing,
Mereka paham apa yang harus dilakukan,
Hasil kerjanya pun akan sesuai target dan standar mutu yang diharapkan oleh organisasi.
Orang = SDM = Pemimpin/Leader
Setiap orang dalam organisasi adalah bagian dari SDM, dan tidak selalu pemimpin itu hanya satu orang. Dalam konteks proyek konstruksi:
Seorang Site Manager memimpin koordinasi proyek di lapangan.
Mandor memimpin para tukang dan memastikan pekerjaan teknis berjalan.
Bahkan, pekerja lapangan pun memimpin dirinya sendiri, artinya mereka harus punya sikap profesional sesuai kompetensi atau keahliannya, misalnya tukang besi yang ahli membaca gambar kerja dan merangkai besi dengan baik.
Ini yang disebut dengan “kepemimpinan dalam bidangnya masing-masing”.
Artinya, setiap orang memimpin dalam lingkup tugas dan tanggung jawabnya. Dengan begitu, semua lini dalam organisasi bisa berjalan selaras dan efisien, sehingga tujuan akhir proyek (seperti rangkaian besi kolom atau balok yang sesuai gambar teknik) bisa tercapai dengan sukses.
-KEPEMIMPINAN dalam Dunia Teknik Sipil
Menurut saya, kepemimpinan dalam konteks proyek konstruksi bukan sekadar soal jabatan, tapi soal bagaimana seorang pemimpin mampu menerapkan prinsip dan teknik, khususnya dalam bidang teknik sipil, untuk:
Memotivasi orang lain, baik itu pekerja di lapangan, mandor, subkontraktor, bahkan rekan satu tim.
Membentuk dedikasi diri, supaya setiap anggota tim merasa punya tanggung jawab penuh terhadap pekerjaan mereka.
Menumbuhkan disiplin, karena tanpa disiplin, kualitas dan ketepatan waktu dalam proyek bisa terganggu.
Mendorong terwujudnya kerja sama yang efektif dan efisien, sehingga seluruh proses konstruksi berjalan lancar dan produktif.
Mengapa Kepemimpinan Itu Penting?
Seorang pemimpin yang baik akan mampu:
Mengarahkan timnya supaya setiap pekerjaan dilakukan dengan produktif, tepat waktu, sesuai spesifikasi gambar teknik dan standar mutu.
Mengatur ritme kerja agar setiap tahapan, mulai dari pembesian, pengecoran, pemasangan bekisting, hingga finishing, berjalan sesuai target.
Menjadi teladan dalam menerapkan prinsip safety first, efisiensi penggunaan material, dan penggunaan alat berat yang optimal.
Contohnya:
Dalam proyek pembangunan gedung bertingkat, site manager yang memahami kepemimpinan tidak hanya memerintahkan tukang untuk bekerja cepat, tetapi juga memastikan mereka paham cara kerja yang benar, aman, dan berkualitas. Dia memotivasi timnya untuk bekerja disiplin demi mengejar deadline, tanpa mengorbankan kualitas.
-PRILAKU PEMIMPIN dalam Proyek Konstruksi
Seorang pemimpin yang efektif dalam proyek konstruksi, seperti site manager, mandor, atau bahkan kepala proyek, harus memiliki perilaku yang mencerminkan kualitas berikut:
1. Mampu Memotivasi Orang
➔ Pemimpin harus bisa membangkitkan semangat kerja tim. Misalnya, ketika cuaca tidak mendukung atau target proyek ketat, pemimpin mampu memberi dorongan supaya tim tetap fokus dan tidak kehilangan motivasi.
2. Mampu Berkomunikasi dengan Baik & Lancar
➔ Dalam proyek konstruksi, komunikasi itu kunci. Dari tukang, mandor, supplier, hingga owner harus paham arahan yang jelas supaya tidak terjadi kesalahan kerja.
3. Dapat Cepat Mengambil Keputusan
➔ Di lapangan, sering ada situasi darurat. Misalnya, ada perbedaan antara gambar rencana dan kondisi aktual di lapangan — pemimpin yang baik harus cepat ambil keputusan supaya pekerjaan tetap berjalan tanpa menunggu terlalu lama.
4. Berpikir Positif dan Win-Win Solution
➔ Pemimpin tidak boleh mudah putus asa. Kalau terjadi konflik antar tim atau dengan pihak luar, dia harus bisa cari solusi yang menguntungkan semua pihak, bukan saling menyalahkan..
5. Luwes, Cerdas, dan Bertanggung Jawab
➔ Fleksibilitas itu penting, apalagi menghadapi berbagai karakter pekerja. Tapi, tetap harus tegas dan cerdas membaca situasi serta bertanggung jawab penuh atas hasil kerja tim.
6. Berjiwa Sosial
➔ Peduli terhadap kesejahteraan tim. Misalnya, memastikan pekerja mendapat alat pelindung diri yang memadai dan memperhatikan hak-hak mereka.
7. Think Global, Act Local
➔ Menggunakan wawasan global seperti penerapan standar internasional dalam proyek, namun tetap menyesuaikan dengan kondisi lokal, seperti budaya kerja atau material setempat.
8. Berpengalaman
➔ Pengalaman adalah guru terbaik. Pemimpin yang sudah terbiasa menghadapi berbagai tantangan di proyek akan lebih siap dalam mengambil langkah strategis.
STRUKTUR ORGANISASI PROYEK KONSTRUKSI 1. Mengatur SDM (Sumber Daya Manusia)
Dalam proyek konstruksi, SDM sangat beragam: ada direktur proyek, site manager, engineer, mandor, tukang, hingga tenaga administrasi.
Masing-masing orang adalah "pemimpin" dalam bidangnya sendiri, artinya:
o Mandor memimpin tukang.
o Site manager memimpin tim lapangan.
o Engineer memimpin teknis gambar dan spesifikasi.
Hubungan antar mereka (Relationship):
o Harus jelas siapa melapor ke siapa (hierarki).
o Ada hubungan kerja yang saling mendukung, bukan tumpang tindih.
2. Pedoman dan Petunjuk
Agar struktur organisasi berjalan efektif, harus ada:
Pedoman kegiatan/aktivitas:
o Contoh: jadwal kerja mingguan, daftar tugas harian, SOP (Standard Operating Procedure).
Laporan tertulis:
o Laporan harian proyek.
o Progress mingguan dan bulanan.
o Dokumentasi masalah di lapangan.
Pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab:
o Tugas jelas, siapa melakukan apa.
o Wewenang: siapa yang punya hak mengambil keputusan.
o Tanggung jawab: setiap orang bertanggung jawab atas bagiannya.
3. Organisasi adalah Sistem
Sistem = kumpulan bagian yang saling terhubung
Dalam proyek konstruksi:
o Bagian-bagian itu meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengadaan material, administrasi, dan dokumentasi.
o Semua bagian harus saling tergantung dan berkoordinasi.
Tujuan akhir: menjadikan proyek sebagai satu kesatuan yang solid untuk mencapai tujuan organisasi, yaitu:
o Proyek selesai tepat waktu.
o Kualitas terjaga.
o Biaya terkendali.
o Kepuasan klien dan keselamatan kerja terjamin.
Contoh Struktur Organisasi Proyek Konstruksi java
SalinEdit
Direktur Proyek ↓
Manajer Proyek (Project Manager) ↓
Site Manager / Site Engineer ↓
Mandor Lapangan ↓
Pekerja / Tukang / Helper
Setiap tingkatan saling berhubungan dan bertanggung jawab satu sama lain.
Informasi mengalir dari atas ke bawah dan sebaliknya, dengan laporan tertulis dan komunikasi yang efektif.
RELATIONSHIPS dalam Organisasi Proyek Konstruksi 1. Pengertian Relationships
Relationships di dalam organisasi adalah hubungan kerja yang terstruktur antara semua anggota tim/proyek.
Hubungan ini menciptakan alur komunikasi dan koordinasi yang jelas antar jabatan dan fungsi.
Contoh sederhana:
o Tukang bekerja sesuai arahan Mandor.
o Mandor bertanggung jawab kepada Site Manager.
o Site Manager melapor ke Project Manager.
2. Hubungan dengan Pengendalian (Control)
Relationships berkaitan langsung dengan kontrol atau kendali proyek.
Jika hubungan antar bagian dalam organisasi jelas, maka:
o Pengawasan lebih mudah dilakukan.
o Evaluasi kinerja tiap bagian lebih terukur.
o Permasalahan di lapangan cepat terdeteksi dan ditangani.
Tujuan kontrol:
Supaya setiap bagian menjalankan tugas sesuai prosedur, kualitas terjaga, biaya terkendali, dan target waktu tercapai.
3. Hubungan dengan Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang baik membantu menciptakan relationships yang efektif.
Struktur ini menggambarkan:
o Siapa melapor ke siapa.
o Siapa yang bertanggung jawab atas apa.
o Bagaimana alur informasi dan keputusan berjalan.
Contoh:
Dalam struktur organisasi proyek pembangunan gedung:
Project Manager ↔ Site Manager ↔ Mandor ↔ Tukang
Setiap lapisan punya hubungan kerja yang saling terkait dan terkontrol.
4. Tujuan Relationships dalam Organisasi
Agar tujuan organisasi tercapai, relationships harus:
o Memastikan pengendalian proyek berjalan baik.
o Membantu koordinasi antar bagian proyek berjalan lancar.
o Mendorong kerjasama yang produktif antar anggota tim.
5. Pentingnya Sistem yang Baik
Sistem = alat bantu untuk membangun relationships yang efektif.
Sistem ini meliputi:
o Sistem komunikasi: rapat rutin, laporan harian, aplikasi manajemen proyek.
o Sistem dokumentasi: laporan progres, checklist pekerjaan, dokumentasi masalah.
o Sistem kendali mutu dan waktu: SOP, Quality Control, timeline proyek.
-MACAM RELATIONSHIPS (antara SDM)
• HUBUNGAN ATASAN DENGAN BAWAHAN
• HUBUNGAN BAWAHAN DENGAN ATASAN
• HUBUNGAN BAWAHAN DENGAN BAWAHAN
• HUBUNGAN ATASAN DENGAN ATASAN • APA contoh contohnya ??????? Sebutkan!
1. Hubungan Atasan dengan Bawahan
Atasan memberi arahan, tugas, supervisi, evaluasi kepada bawahan.
Contoh:
Project Manager memberikan instruksi harian kepada Site Manager untuk memantau progres pengecoran lantai.
Site Manager memerintahkan Mandor untuk mengatur tukang besi agar pemasangan tulangan sesuai gambar kerja.
Mandor memerintahkan tukang untuk membersihkan cetakan bekisting sebelum pengecoran.
2. Hubungan Bawahan dengan Atasan
Bawahan melaporkan hasil kerja, meminta arahan, atau menyampaikan kendala kepada atasan.
Contoh:
Mandor melaporkan ke Site Manager tentang keterlambatan material besi tulangan.
Site Engineer berkonsultasi kepada Project Manager untuk approval perubahan teknis di lapangan.
Tukang bertanya kepada Mandor tentang detail pemasangan stek besi untuk sambungan kolom.
3. Hubungan Bawahan dengan Bawahan
Kerja sama horizontal antara sesama rekan kerja di level yang sama.
Contoh:
Tukang besi bekerja sama dengan tukang bekisting untuk memastikan posisi bekisting dan tulangan sudah benar sebelum pengecoran.
Operator alat berat berkoordinasi dengan petugas surveyor untuk memastikan elevasi penggalian tanah sesuai rencana.
Sesama Mandor berdiskusi untuk mengatur jadwal pekerjaan agar tidak saling mengganggu di lokasi proyek.
4. Hubungan Atasan dengan Atasan
Kerja sama atau koordinasi antara pimpinan yang setingkat.
Contoh:
Project Manager berkoordinasi dengan Quality Control Manager untuk memastikan mutu beton sesuai standar.
Site Manager berdiskusi dengan Procurement Manager terkait keterlambatan pengiriman material.
Project Manager berkoordinasi dengan Safety Manager untuk memastikan prosedur K3 diterapkan di proyek.
--Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Relationships dalam Organisasi 1. Faktor Posisi dalam Struktur Organisasi
Posisi menentukan kedudukan, wewenang, dan tanggung jawab.
Semakin tinggi posisi seseorang dalam struktur organisasi, semakin besar wewenang dan tanggung jawabnya. Ini mempengaruhi hubungan atasan-bawahan dan
komunikasi dalam organisasi.
Contoh:
Project Manager (PM) memiliki kendali atas keseluruhan proyek dan berkomunikasi dengan berbagai bagian (Site Manager, Engineer, Procurement, dll.).
Tukang atau Mandor berada pada posisi lebih rendah dan memiliki hubungan kerja dengan sesama pekerja dan atasan langsungnya (Mandor atau Site Manager).
2. Sifat dan Tujuan Organisasi
Tujuan dan budaya organisasi mempengaruhi cara orang berinteraksi dan bekerja sama.
Organisasi dengan tujuan yang jelas dan budaya kerja yang terbuka mendorong hubungan yang lebih sehat dan produktif antar anggota.
Contoh:
Sebuah perusahaan kontraktor dengan budaya terbuka akan mendorong komunikasi yang baik antar tim, mengurangi kesalahpahaman, dan lebih mudah mencapai tujuan bersama.
Sebuah perusahaan dengan struktur hierarkis yang ketat mungkin cenderung menciptakan hubungan yang lebih formal, dengan lebih sedikit interaksi antar tingkatan.
3. Tipe Pekerjaan
Jenis pekerjaan mempengaruhi tipe hubungan yang terbentuk.
Pekerjaan konstruksi membutuhkan kerja sama yang erat antar berbagai tim, sehingga hubungan antar pekerja harus sangat terkoordinasi.
Contoh:
Pekerjaan lapangan, seperti pemasangan besi tulangan, membutuhkan komunikasi langsung dan kerjasama antara mandor, tukang, dan site manager untuk memastikan kualitas pekerjaan sesuai standar.
Pekerjaan administrasi (misalnya pengaturan jadwal proyek) memerlukan koordinasi yang lebih formal dan biasanya dilakukan melalui email atau rapat rutin.
4. Keterampilan dan Pengalaman
Kemampuan individu sangat mempengaruhi efektivitas hubungan.
Pekerja yang memiliki keterampilan tinggi dan pengalaman lebih banyak biasanya lebih dihargai dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk memimpin.
Contoh:
Seorang engineer berpengalaman dapat memberi arahan teknis yang lebih tepat kepada mandor dan pekerja lapangan, sementara seorang engineer pemula mungkin akan lebih banyak bergantung pada arahan senior.
Mandor berpengalaman dapat memimpin pekerja dengan lebih percaya diri,
sementara mandor yang baru belajar mungkin akan lebih sering meminta saran atau arahan dari atasannya.
5. Dedikasi & Partisipasi
Komitmen dan keterlibatan dalam pekerjaan memperkuat hubungan kerja.
Karyawan yang lebih berdedikasi dan terlibat dalam pekerjaan mereka cenderung lebih proaktif dalam berkomunikasi dan bekerja sama dengan rekan kerja dan atasan.
Contoh:
Seorang mandor yang berkomitmen untuk memastikan pekerjaan selesai tepat waktu akan lebih aktif berkoordinasi dengan tukang dan site manager untuk menghindari keterlambatan.
Pekerja yang memiliki dedikasi tinggi akan lebih cepat melaporkan masalah atau memberikan umpan balik kepada atasan jika ada kendala di lapangan.
6. Kewibawaan Pemimpin (Leadership)
Bagaimana pemimpin menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya mempengaruhi hubungan kerja.
Pemimpin yang tegas namun adil, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan dapat menyelesaikan masalah dengan cepat akan mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari bawahannya, memperkuat hubungan dalam tim.
Contoh:
Site Manager yang memimpin dengan memberikan arahan yang jelas dan
memperhatikan kesejahteraan pekerja akan memperoleh respek dan kerja sama yang lebih baik.
Pemimpin yang kurang tegas atau tidak dapat menyelesaikan masalah dengan baik akan menciptakan ketegangan dalam hubungan antar tim dan dapat menurunkan motivasi pekerja.
PPT3
--Bagaimana Eksekutif dan Manajer Proyek Berinteraksi?
Eksekutif dan Manajer Proyek memiliki hubungan yang saling mendukung dalam
menjalankan sebuah proyek. Peran mereka sangat penting untuk memastikan bahwa tujuan organisasi tercapai melalui perencanaan yang efektif dan pelaksanaan yang efisien. Berikut adalah penjelasan mengenai cara mereka berinteraksi:
1. Perencanaan Strategis: Peran Eksekutif
Perencanaan Strategis adalah aktivitas tingkat tinggi yang dilakukan oleh eksekutif.
Fokusnya pada tujuan jangka panjang organisasi, seperti visi, misi, dan prioritas utama.
Eksekutif bertanggung jawab memastikan bahwa sumber daya, kebijakan, dan tujuan organisasi selaras dengan proyek yang sedang dijalankan.
Eksekutif membuat keputusan besar tentang proyek mana yang akan diprioritaskan, berdasarkan sejauh mana proyek tersebut mendukung tujuan strategis organisasi.
Contoh: Eksekutif menentukan bahwa perusahaan akan melakukan ekspansi ke pasar baru.
Mereka menetapkan tujuan untuk membangun gedung perkantoran di pasar baru tersebut dan mengalokasikan sumber daya untuk proyek tersebut.
2. Perencanaan Taktis & Operasional: Peran Manajer Proyek
Manajer Proyek mengambil perencanaan strategis yang dibuat oleh eksekutif dan menerjemahkannya menjadi tujuan proyek yang spesifik, jadwal, dan deliverables (hasil yang harus dicapai).
Manajer Proyek bertanggung jawab untuk perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan kegiatan sehari-hari proyek. Ini termasuk menetapkan jadwal yang lebih rinci, mendefinisikan peran dan tanggung jawab, serta memastikan penggunaan sumber daya yang efektif.
Manajer Proyek bekerja dengan berbagai departemen untuk memastikan bahwa rencana strategis eksekutif diterjemahkan dengan baik dalam praktik.
Contoh: Manajer Proyek mengubah tujuan besar "membangun gedung perkantoran di pasar baru" menjadi serangkaian tugas spesifik: akuisisi lahan, perizinan, desain, konstruksi, dan perekrutan staf lokal.
3. Delegasi Kegiatan Perencanaan: Kesadaran Eksekutif
Ketika Eksekutif ingin mendelegasikan beberapa kegiatan perencanaan kepada Manajer Proyek, mereka harus memahami kekuatan dan kelemahan Manajer Proyek dalam perencanaan strategis.
Eksekutif perlu menyadari apakah Manajer Proyek memiliki kemampuan berpikir strategis yang diperlukan untuk mengambil keputusan tingkat tinggi atau apakah mereka memerlukan dukungan lebih lanjut.
Jika Manajer Proyek kurang berpengalaman dalam perencanaan strategis, Eksekutif masih dapat mendelegasikan perencanaan taktis atau operasional, tetapi dengan dukungan dan pengawasan yang memadai agar tujuan strategis tetap terjaga.
Contoh: Eksekutif mengetahui bahwa Manajer Proyek mahir dalam mengelola tugas sehari- hari konstruksi tetapi kurang berpengalaman dalam strategi jangka panjang. Eksekutif mungkin mendelegasikan perencanaan operasional (alokasi sumber daya, struktur tim, tonggak pencapaian proyek) sambil tetap mengelola tujuan strategis secara langsung.
4. Komunikasi dan Umpan Balik
Komunikasi yang berkelanjutan antara Eksekutif dan Manajer Proyek sangat penting untuk memastikan bahwa proyek tetap selaras dengan visi strategis organisasi.
Pembaruan rutin, tinjauan progres, dan umpan balik sangat diperlukan untuk menjaga proyek tetap di jalur yang benar dan melakukan penyesuaian bila diperlukan.
Contoh: Pertemuan mingguan antara Manajer Proyek dan Eksekutif memungkinkan Manajer Proyek memberikan pembaruan tentang progres, tantangan, dan potensi risiko. Eksekutif kemudian memastikan proyek tetap selaras dengan tujuan strategis yang lebih besar.
5. Kekuatan dan Kelemahan dalam Perencanaan
Kekuatan Manajer Proyek dapat mencakup perencanaan taktis dan operasional yang mendetail, mengelola tim, mengendalikan biaya, dan mendorong kinerja di lapangan.
Kelemahan Manajer Proyek mungkin termasuk kurangnya pengalaman dalam perencanaan tingkat tinggi atau dalam memahami tujuan organisasi secara keseluruhan, karena fokus mereka lebih pada pengiriman proyek.
Eksekutif, dengan perspektif organisasi yang lebih luas, akan memiliki kekuatan dalam berpikir strategis dan tujuan jangka panjang, namun mungkin kurang memiliki wawasan operasional yang mendetail yang dibawa oleh Manajer Proyek.
How do The Executive and The Project Manager INTERFACE?
1. Analisis Lingkungan (Environmental Analysis)
Eksekutif: Melakukan pemindaian lingkungan secara luas untuk memahami faktor- faktor eksternal dan internal yang dapat memengaruhi organisasi. Ini termasuk menganalisis tren pasar, kondisi ekonomi, regulasi, pesaing, serta kekuatan dan kelemahan organisasi.
Manajer Proyek: Fokus pada lingkungan spesifik proyek, termasuk kendala yang mungkin terjadi seperti sumber daya, lokasi, persyaratan teknis, dan faktor eksternal yang dapat memengaruhi pelaksanaan proyek.
Interaksi: Eksekutif memberikan wawasan tentang kondisi strategis yang lebih luas, sementara Manajer Proyek fokus pada konteks praktis proyek, dan keduanya memastikan proyek dapat terintegrasi dengan baik dalam lingkungan tersebut.
2. Penetapan Tujuan (Setting Objectives)
Eksekutif: Menetapkan tujuan organisasi secara keseluruhan yang mendukung visi dan rencana jangka panjang perusahaan.
Manajer Proyek: Berdasarkan tujuan yang ditetapkan oleh Eksekutif, Manajer Proyek merumuskan tujuan spesifik proyek yang dapat diukur dan dicapai, serta relevan dengan tujuan organisasi.
Interaksi: Eksekutif memberikan tujuan tingkat tinggi, sedangkan Manajer Proyek menurunkannya menjadi tujuan yang lebih terperinci dan operasional untuk memastikan proyek berkontribusi pada tujuan organisasi.
3. Daftar Alternatif (List Alternatives)
Eksekutif: Membuat keputusan strategis tentang berbagai alternatif yang dapat dipilih untuk mencapai tujuan organisasi. Ini bisa melibatkan berbagai pendekatan dalam hal investasi, aliansi, atau proyek baru.
Manajer Proyek: Mencari alternatif teknis atau metodologis untuk pelaksanaan proyek, seperti metode konstruksi, teknologi yang digunakan, atau manajemen sumber daya.
Interaksi: Eksekutif mengidentifikasi pilihan besar dalam konteks strategis, sedangkan Manajer Proyek mengeksplorasi pilihan teknis dan operasional untuk mendukung alternatif tersebut dalam implementasi.
4. Daftar Ancaman dan Peluang (List Threats and Opportunities)
Eksekutif: Menilai ancaman dan peluang di tingkat organisasi, seperti perubahan regulasi, perkembangan pasar, atau risiko yang dapat memengaruhi bisnis secara keseluruhan.
Manajer Proyek: Menganalisis ancaman dan peluang yang langsung mempengaruhi proyek, seperti risiko teknis, masalah sumber daya, atau potensi perubahan dalam spesifikasi proyek.
Interaksi: Eksekutif dan Manajer Proyek harus bekerja sama dalam mengidentifikasi ancaman dan peluang yang relevan baik secara strategis maupun operasional, untuk memastikan bahwa proyek dapat mengatasi hambatan dan memanfaatkan peluang yang ada.
5. Menyusun Proyeksi (Prepare Forecast)
Eksekutif: Menyusun proyeksi jangka panjang tentang arah perusahaan berdasarkan faktor ekonomi, pasar, dan kondisi bisnis secara keseluruhan.
Manajer Proyek: Menyusun proyeksi lebih terperinci untuk proyek, seperti estimasi biaya, jadwal, dan hasil yang diharapkan.
Interaksi: Eksekutif dan Manajer Proyek berkolaborasi dalam memadukan proyeksi strategis dengan proyeksi yang lebih spesifik terkait proyek, untuk memastikan kedua proyeksi
tersebut sejalan dan dapat diukur dengan baik.
6. Memilih Portofolio Strategi (Select Strategy Portfolio)
Eksekutif: Memilih portofolio strategi yang akan dijalankan oleh organisasi, seperti memilih proyek-proyek yang akan mendukung pencapaian tujuan jangka panjang.
Manajer Proyek: Mengimplementasikan strategi yang telah dipilih dengan menyusun langkah-langkah praktis untuk pelaksanaan proyek sesuai dengan prioritas dan portofolio yang telah ditetapkan.
Interaksi: Eksekutif menentukan portofolio strategi berdasarkan tujuan besar perusahaan, dan Manajer Proyek bertanggung jawab untuk mengelola proyek sesuai dengan portofolio tersebut, memastikan hasil yang optimal.
7. Menyusun Program Tindakan (Prepare Action Programs)
Eksekutif: Memberikan arahan strategis mengenai langkah-langkah besar yang perlu diambil untuk mencapai tujuan organisasi.
Manajer Proyek: Mengubah arahan tersebut menjadi program tindakan operasional yang lebih terperinci, dengan pembagian tugas, penjadwalan, dan pengelolaan sumber daya.
Interaksi: Eksekutif memberikan panduan strategi yang luas, dan Manajer Proyek merincinya menjadi program yang lebih spesifik untuk memastikan implementasi yang efektif dan efisien.
8. Memantau dan Mengendalikan (Monitor and Control)
Eksekutif: Mengawasi keseluruhan proyek dari sudut pandang strategis dan
melakukan penyesuaian jika diperlukan untuk menjaga proyek tetap sesuai dengan tujuan besar organisasi.
Manajer Proyek: Melakukan pengawasan sehari-hari terhadap proyek, memastikan bahwa pekerjaan dilakukan sesuai dengan jadwal, anggaran, dan kualitas yang diinginkan.
Interaksi: Eksekutif memastikan proyek tetap berada pada jalur yang benar sesuai dengan tujuan jangka panjang organisasi, sedangkan Manajer Proyek memastikan kontrol
operasional yang ketat terhadap pelaksanaan proyek di lapangan.
Kesimpulan:
Interaksi antara Eksekutif dan Manajer Proyek selama proses perencanaan sangat penting untuk memastikan bahwa proyek berjalan sesuai dengan tujuan strategis organisasi.
Eksekutif berfokus pada perencanaan strategis yang lebih luas, sementara Manajer Proyek fokus pada implementasi praktis dan operasional. Kolaborasi mereka memastikan bahwa setiap tahap perencanaan, dari analisis lingkungan hingga pemantauan dan pengendalian, dilakukan dengan baik dan sejalan dengan tujuan organisasi.
---tingkat perencanaan yang dilakukan oleh Eksekutif dan Manajer Proyek:
1. DIREKSI: Objektif Organisasi (Visi & Misi) – Perencanaan Strategis (Strategic Planning)
Eksekutif: Sebagai pemimpin utama dalam organisasi, Eksekutif bertanggung jawab untuk menetapkan visi dan misi organisasi, yang menjadi landasan bagi seluruh perencanaan strategis. Eksekutif fokus pada pencapaian tujuan jangka panjang, seperti meningkatkan kinerja perusahaan dengan merumuskan kebijakan dan strategi yang menyeluruh.
Contoh: Sebuah perusahaan konstruksi yang berfokus pada pembangunan gedung tinggi akan menetapkan visi untuk menjadi pemimpin dalam industri konstruksi bangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan. Eksekutif akan memandu perencanaan untuk mengidentifikasi peluang pasar dan inovasi dalam pembangunan yang mendukung tujuan ini.
2. DIVISI: Implementasi Visi dan Misi Organisasi – Perencanaan Strategis Divisi (Strategic Plan)
Divisi: Setiap divisi dalam organisasi mengimplementasikan visi dan misi perusahaan melalui perencanaan strategis yang lebih terfokus pada tujuan spesifik divisi. Divisi bertujuan untuk meningkatkan laba perusahaan dengan cara menerapkan strategi yang mendukung pencapaian tersebut.
Contoh: Divisi pemasaran dalam perusahaan konstruksi berfokus pada strategi untuk meningkatkan visibilitas dan penjualan melalui promosi dan aliansi strategis dengan perusahaan properti besar, sehingga bisa meningkatkan laba perusahaan.
3. DEPARTEMEN: Meningkatkan Produktivitas (Efisiensi dan Efektivitas) – Perencanaan Taktis (Tactical Plan)
Departemen: Departemen bertugas untuk meningkatkan produktivitas dengan mengoptimalkan proses yang ada. Mereka berfokus pada efisiensi dan efektivitas
dalam pelaksanaan tugas, serta pencapaian tujuan individual dalam kaitannya dengan tujuan departemen dan organisasi secara keseluruhan.
Contoh: Departemen teknik dalam perusahaan konstruksi merencanakan dan menerapkan taktik untuk meningkatkan efisiensi penggunaan material dan tenaga kerja di lapangan, agar proyek dapat selesai tepat waktu dan dengan biaya yang lebih rendah, sehingga mendukung laba perusahaan.
4. OPERASIONAL: Kerja, Kerja, Kerja! – Perencanaan Operasional (Operational Plan)
Operasional: Ini adalah level yang lebih praktis dan langsung terlibat dalam kegiatan sehari-hari di lapangan. Fokus utamanya adalah kerja cepat dan tepat untuk
mencapai tujuan individual dan tim, yang mendukung pencapaian tujuan organisasi.
Pekerja/ Karyawan akan diberi instruksi yang jelas untuk melakukan tugas dengan baik tanpa terlalu banyak pertimbangan berlebihan.
Contoh: Pekerja konstruksi di lapangan yang diberi tugas untuk menyelesaikan pemasangan beton untuk struktur gedung dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Mereka fokus pada pekerjaan sehari-hari yang mendukung kelancaran proyek, dengan sasaran waktu dan kualitas.
----PERSEPSI KERJA KARYAWAN/MANAGER/MANDOR&TUKANG
Dalam konteks pekerjaan, persepsi karyawan, manajer, mandor, dan tukang terhadap pekerjaan mereka sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan efisien. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi mereka tentang
pekerjaan:
1. KEWAJIBAN: Untuk Menghasilkan Sesuatu
Karyawan, Mandor, dan Tukang memiliki kewajiban untuk menghasilkan pekerjaan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dalam dunia konstruksi, ini berarti menyelesaikan tugas sesuai dengan spesifikasi teknis, waktu, dan anggaran yang telah disepakati.
Manajer memiliki kewajiban untuk memastikan semua anggota tim bekerja sesuai dengan perencanaan dan target yang ditetapkan.
Contoh: Karyawan di lapangan harus memastikan pemasangan material dilakukan dengan benar dan tepat waktu sesuai dengan gambar kerja. Manajer proyek memonitor seluruh proses untuk memastikan kualitas dan waktu tercapai sesuai rencana.
2. TANGGUNG JAWAB SOSIAL/KELUARGA: Peran Sosial di Masyarakat
Bagi banyak karyawan, pekerja, mandor, dan manajer, pekerjaan mereka tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga berperan penting dalam kehidupan sosial dan keluarga mereka. Pekerjaan menjadi cara mereka berkontribusi pada masyarakat dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Contoh: Seorang mandor di proyek konstruksi memiliki tanggung jawab terhadap timnya dan juga keluarganya yang bergantung pada penghasilannya. Selain itu, ia juga berperan dalam menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar yang terpengaruh oleh proyek yang dikerjakan.
3. HARGA DIRI
Harga diri dalam konteks pekerjaan merujuk pada sejauh mana seseorang merasa dihargai dan dihormati dalam pekerjaannya. Ini termasuk pengakuan terhadap kinerja dan kontribusi yang telah diberikan. Ketika seorang karyawan merasa dihargai, mereka lebih termotivasi untuk bekerja lebih baik.
Contoh: Seorang mandor yang berhasil menyelesaikan proyek tepat waktu dan sesuai dengan kualitas yang diharapkan akan merasa dihargai, baik oleh atasan maupun rekan- rekannya.
4. SARANA PENGABDIAN/PELAYANAN
Banyak individu melihat pekerjaan mereka sebagai bentuk pengabdian atau
pelayanan kepada masyarakat. Dalam konteks konstruksi, ini bisa berarti membangun gedung atau infrastruktur yang akan bermanfaat bagi banyak orang.
Contoh: Pekerjaan seorang tukang yang menyelesaikan pembangunan rumah untuk keluarga yang membutuhkan, atau seorang manajer proyek yang mengelola pembangunan rumah sakit untuk kebutuhan umum, merupakan bentuk pengabdian yang memberikan nilai sosial.
5. SARANA BERPRESTASI
Pekerjaan juga berfungsi sebagai sarana untuk menunjukkan kemampuan dan meraih prestasi. Ketika individu bisa menunjukkan hasil kerja yang baik dan mencapai tujuan yang lebih tinggi, mereka merasa lebih puas dan terhargai.
Contoh: Seorang karyawan di proyek konstruksi yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik, dapat meraih prestasi dan mendapat pengakuan, yang pada gilirannya meningkatkan motivasi dan semangat kerja.
6. KEPUASAN KERJA
Kepuasan kerja adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam menentukan tingkat motivasi dan produktivitas kerja. Karyawan yang merasa puas dengan
pekerjaan mereka cenderung lebih produktif dan lebih lama bertahan di perusahaan.
Contoh: Seorang pekerja yang puas dengan kondisi kerja, gaji yang sesuai, dan pengakuan atas hasil kerjanya cenderung lebih loyal dan berkomitmen terhadap pekerjaan.
7. MOTIVASI KERJA
Motivasi kerja mencakup dorongan internal dan eksternal yang mendorong individu untuk melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Faktor motivasi ini bisa berupa insentif, penghargaan, atau rasa pencapaian yang didapatkan dari pekerjaan yang dilakukan.
Contoh: Manajer yang memberikan bonus atau penghargaan bagi pekerja yang mencapai target kualitas dan waktu di proyek akan memotivasi pekerja untuk lebih fokus dan bersemangat dalam bekerja.
---Management by Objectives (MBO) - Peter F. Drucker
Management by Objectives (MBO) adalah sebuah pendekatan manajemen yang
diperkenalkan oleh Peter F. Drucker, yang berfokus pada pencapaian tujuan yang jelas dan spesifik melalui partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan evaluasi kinerja secara terstruktur. Berikut adalah unsur-unsur penting dalam MBO yang harus ada dalam organisasi atau perusahaan:
1. TUJUAN JELAS dan SPESIFIK
Tujuan yang jelas dan spesifik sangat penting dalam MBO, karena memberikan arah yang pasti bagi seluruh anggota organisasi atau perusahaan. Tanpa tujuan yang jelas, akan sulit bagi individu maupun tim untuk mengetahui apa yang harus dicapai.
Tujuan yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) adalah dasar yang baik untuk merancang dan menetapkan tujuan dalam MBO.
Contoh: Dalam proyek konstruksi, tujuan yang jelas bisa berupa "Menyelesaikan
pembangunan gedung perkantoran dengan kualitas A, sesuai gambar teknik, dalam waktu 12 bulan."
2. KEPUTUSAN PARTISIPATIF
Keputusan yang diambil dalam kerangka MBO harus bersifat partisipatif, artinya seluruh pihak yang terlibat dalam organisasi atau proyek harus ikut serta dalam proses perencanaan dan penetapan tujuan. Hal ini meningkatkan rasa tanggung jawab dan keterlibatan karyawan atau anggota tim terhadap hasil yang ingin dicapai.
Partisipasi memungkinkan setiap individu untuk memberi input berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka, serta memastikan bahwa tujuan yang ditetapkan realistis dan dapat dicapai.
Contoh: Dalam manajemen proyek, manajer proyek bersama dengan timnya (mandor, pekerja, dan supervisor) melakukan diskusi untuk menetapkan tujuan yang dapat dicapai dalam jangka waktu yang ditentukan.
3. WAKTU, TERTENTU
Setiap tujuan yang ditetapkan dalam MBO harus memiliki batas waktu yang tertentu.
Waktu yang jelas membuat setiap anggota organisasi atau proyek dapat fokus dan berusaha untuk mencapai tujuan tersebut dalam waktu yang telah disepakati.
Batas waktu yang realistis membantu dalam perencanaan yang lebih baik dan pemantauan perkembangan secara berkala.
Contoh: Dalam proyek konstruksi, setiap tahap pekerjaan (seperti fondasi, struktur, dan finishing) harus memiliki jadwal yang jelas, misalnya "fondasi harus selesai dalam waktu 2 bulan."
4. FEEDBACK – Apa Hasilnya?
Feedback adalah bagian penting dalam MBO, karena memberikan informasi
mengenai hasil pencapaian tujuan. Tanpa feedback, sulit untuk mengetahui apakah tujuan telah tercapai atau jika ada perbaikan yang perlu dilakukan.
Proses evaluasi secara rutin membantu dalam memantau progres dan mendeteksi masalah yang muncul selama pelaksanaan. Feedback juga menjadi dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek.
Contoh: Pada proyek konstruksi, manajer proyek memberikan laporan bulanan tentang status pencapaian dan apakah setiap tahap pekerjaan sudah sesuai dengan waktu dan kualitas yang direncanakan. Feedback ini berguna untuk mengidentifikasi kendala atau permasalahan yang perlu diperbaiki.
----Prosedur Program Management by Objectives (MBO)
Berikut adalah langkah-langkah atau urutan prosedur dalam pelaksanaan MBO untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif:
1. Formulasikan Tujuan Organisasi
Langkah pertama adalah merumuskan tujuan organisasi yang jelas, spesifik, dan terukur. Tujuan ini biasanya terkait dengan visi dan misi perusahaan yang lebih besar.
Tujuan tersebut harus dipahami oleh seluruh anggota organisasi agar mereka tahu arah yang ingin dicapai.
Contoh: Meningkatkan pangsa pasar produk sebesar 20% dalam waktu 1 tahun.
2. Tujuan Organisasi (Strategic Plan) Didistribusikan ke Divisi, Departemen, dan Unit Lain yang Terkait
Setelah tujuan organisasi ditetapkan, tujuan tersebut kemudian didistribusikan ke masing-masing divisi, departemen, dan unit terkait. Hal ini penting agar setiap bagian dalam organisasi mengetahui kontribusi mereka terhadap pencapaian tujuan besar perusahaan.
Contoh: Departemen pemasaran diberikan tujuan untuk meningkatkan promosi dan branding produk agar