Akhirnya, pertandingan pun usai dengan hasilnya adalah tim Arsen sebagai pemenangnya. Semua penonton bertepuk tangan dengan meriahnya saat menyambut tim sepak bola mereka dapat meraih juara untuk tahun ini. Bahkan sudah banyak juga yang turun ke lapangan sebagai bentuk rasa bangga mereka terhadap pemain sepak bola sekolah mereka ini.
Kayla yang melihat kemenangan tersebut pun tersenyum kecil, ia melihat para seniornya tertawa sembari membuka baju mereka. Mereka bermandikan keringat, Kayla pun mempersiapkan handuk kecil untuk seniornya itu.
“Kayla, bisa bicara sebentar?”
Kayla yang mendengar namanya dipanggil pun segera memberhentikan aktivitasnya, dan memutarkan badannya untuk melihat siapa memanggil namanya itu. “Anjir kak Sheila,”
batin Kayla dengan sedikit rasa terkejut.
Dia memberikan senyuman tidak sampai matanya itu kepada Sheila. “Bisa, Kak. Mau bicara apa ya, kak?” tanya Kayla dengan lembutnya.
Sheila menatap ke arah luar dari ruangan tim sepak bolah mereka, terlihat Arsen masih merayakan kemenangan mereka. Ia pun kembali menatap Kayla, adik kelasnya ini.
“Lo tahu kan kalau gue pacarnya Arsen?” tanya Sheila dengan tatapan seriusnya kepada Kayla.
Kayla menganggukkan kepalanya, gadis ini fokus terhadap Sheila.
“Kalau lo di posisi gue sekarang, dan gue ada di posisi lo. Gimana perasaan lo saat gue dekatin Arsen dan pegang-pegang dia? Dan posisisnya, gue sedang berhadapan seperti ini sambil pegang-pegang Arsen,” tanya Sheila dengan ekspresi seriusnya. Tidak ada senyum di sana.
Kayla merasa kecemburuan Sheila yang membara. Setiap ucapan yang dilontarkan Sheila, membuat Kayla merasakan arti agar dia dapat menjauh dari Arsen.
“Kak Sheila, pertama-tama Kayla minta maaf karna sudah buat kak Sheila cemburu.” Kayla mengepalkan tangannya sebagai bentuk pertahanan dirinya untuk berani, “tapi itu reflek aja, Kak. Kayla gak bermaksud untuk megang-megang mas Arsen. Sumpah!” ucap Kayla sembari membentuk angka dua dengan jarinya.
Sheila menatap Kayla dengan tidak senang, dirinya masih merasakan kecemburan itu.
“Sesama perempuan seharusnya kita saling support, ‘kan? Jadi, tolong jauhi Arsen, dan please berhenti dengan panggilan mas itu. Kak Arsen aja panggilnya, seperti teman-teman lo yang lain. Terima kasih,” ucap Sheila dengan tegas tetapi masih dengan nada suara
rendahnya.
Kayla melihat kepergian Sheila keluar dari ruangan ini. Ia pun menghela napas saat Sheila sudah pergi menjauh, ini sudah keberapa kalinya dirinya didatangi oleh pacar-pacar Arsen.
Itulah sebabnya, Kayla mencoba menjauh dan tidak mau dekat dengan Arsen di sekolah.
Menjaga perasaan dan tidak mau membuat masalah.
Keheningan di sekitaran Kayla pun kini hilang karna suara riuh dari senior-seniornya memasuki ruangan ini. Kayla kembali tersenyum sembari memberi minuman dan handuk kepada seniornya ini.
“Selamat ya, Kak, “ ucap Kayla dengan senyuman manisnya.
Juan dan kawan-kawannya pun menerima minuman serta handuk yang telah disediakan itu.
“Aduh, sayangku, terima kasih sudah mendukung kakak di sini. Sini sayang, kakak peluk,”
balas Juan yang hendak memeluk Kayla.
“Yeee! Bisa-bisanya ngambil kesempatan dalam kesempitan!”
“Yah! Kocak!”
“Nice try, dude.”
Dan Juan akhirnya ditarik oleh teman-temannya yang lain. Kayla hanya tertawa kecil melihat tingkah laku seniornya itu. Ia pun hendak membagikan kembali handuk dan minuman itu, tetapi terhenti saat melihat Arsen yang menatapnya dengan harapan diberi senyuman manis oleh Kayla.
Kayla pun menghentikan senyumannya, ia hanya memberi handuk dan minuman itu kepada Arsen dengan tatapannya tidak kepada Arsen.
Arsen merasakan Kayla enggan untuk menatapnya, lebih dingin dari biasanya. “Kayla kenapa? Mas Arsen ada salah, ya?” tanya Arsen dengan suara beratnya yang lembut.
Kayla pun menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu menatap Arsen dengan memberikan senyuman tidak sampai matanya. “Kak Arsen mending siap-siap buat foto bersama nanti, dan tolong jangan berdiri di sana, soalnya yang lain belum kebagian.” Kayla mengusir Arsen dengan kalimat sarkasnya.
Arsen seketika heran mendengar panggilan Kayla kepada dirinya. “Kak? Kok jadi kakak, sih?
Kayla kenapa, sih? Biasanya juga manggil mas Arsen dengan mas. Kok jadi kakak gini?”
balas Arsen dengan nada tidak senangnya, bahkan raut wajahnya menandakan ketidak setujuannya.
Kayla tidak mengindahkan protesnya Arsen, ia mencoba berpindah tempat tetapi tangannya ditarik oleh Arsen untuk berhenti. “Lepas, Kak! Nanti kak Sheila salah paham!” ucap Kayla sembari mencoba melepaskan tangannya dari Arsen.
Arsen menatap tajam kepada Kayla, “kenapa, Kayla? Mas gak suka kamu seperti ini. Kalau mas ada salah itu dibilang, jangan pergi dan ubah panggilan seperti itu.” Arsen
mengucapkannya dengan suara beratnya yang terdengar tegas.
Kayla berdecak kecil sembari melepaskannya tangannya dengan kuat. Arsen sedikit terkejut saat Kayla dengan kasar melepaskannya. “Bisa nggak sih, biarkan Kayla hidup dengan tenang? Capek tahu nggak, jadi tempat pelampiasan kecemburan mereka. Kayla sering disebut perusak hubungan orang! Nggak usah dekat-dekat dengan Kayla lagi.” Dan Kayla pergi menjauh dari Arsen.
Arsen melihat Kayla keluar dari ruangan ini, saat ia hendak mengejar Kayla tiba-tiba Sheila datang dengan senyuman bahagianya. Arsen mengurungkan niatnya untuk mengejar Kayla.
“Selamat sayang, sudah memimpin tim kamu jadi juara! Aku bangga sama kamu,” ucap Sheila dengan bahagianya, ia bahkan memeluk Arsen dengan semangat.
Arsen tidak membalas pelukan itu, tatapannya mengarah pada Kayla yang sudah ada di luar tengah berbicara kepada temannya. “Terima kasih, Sheila.”
**
Kayla menghembuskan napasnya sembari menatap langit malam di balkon kamar tidurnya.
Hari ini fisik dan mentalnya terkuras, bahkan untuk bergabung dengan Dio menonton di ruang keluarga pun ia sudah tidak bisa lagi.
“Minimal kalau udah punya pacar, jaga sikap kek! Iya, gue tahu kalau gue itu adiknya, cuma kan nggak semua orang bisa memahami hubungan kakak-adik ini. Aneh banget, deh!” omel Kayla sendiri.
Kayla dengan rasa masih kesalnya pun kembali ke dalam kamar tidurnya, ia menutup pintu balkonnya itu lalu hendak turun dari kamar tidurnya ini, ia ingin membuat susu agar bisa mengistirahatkan diri untuk hari lelah ini.
Pintu kamar dibukanya dan seketika terkejut melihat Arsen berada di hadapannya dengan segelas susu yang dibawa oleh laki-laki itu. Arsen pun sedikit terkejut melihat Kayla yang sudah membuka pintu kamarnya.
“Ngapain ke sini?” tanya Kayla dengan ketus.
Arsen memberikan segelas susu untuk Kayla dengan tatapannya yang sendu. “Mas mau antarkan susu untuk Kayla,” jawab Arsen dengan suara beratnya yang sedikit serak.
Kayla pun segera mengambil susu itu dengan tatapan tidak lagi kepada Arsen. “Terima kasih, Kak,” balas Kayla dengan nada suaranya yang masih ketus. Ia hendak berbalik ke dalam kamar tidurnya, tetapi dengan segera Arsen menahan pintu kamar yang hendak dibuka.
Arsen begitu dekat dengan Kayla, sehingga aroma parfum Arsen pun dapat terhidu dengan jelas. Kayla yang tengah memegang gelas susunya pun terdiam, takut tumpah.
“Ada apa sih, Kak? Kayla mau tidur,” omel Kayla dengan tatapannya kini kepada Arsen.
Posisinya sekarang ia mendongak ke arah Arsen dan berada dalam kurungan tangan Arsen.
“Kenapa sih Kayla manggil mas dengan kakak? Mas kalau ada salah, dibilang dong Kayla.
Mas sedih waktu Kayla pergi gitu aja tanpa tahu salah mas apa,” ucap Arsen dengan suara beratnya yang berakhir dengan nada pelannya.
Kayla memutar kedua bola matanya dengan malas, ia meminum sedikit susu itu lalu menatap Arsen yang masih menatapnya.
“Ya, suka-suka Kayla lah manggil apa. Mau kak Arsen kek, mau om Arsen kek, mau tante Arsen kek, ya suka-suka Kayla. Kenapa? Nggak senang?” tantang Kayla di akhir kalimatnya.
Arsen berdecak kecil lalu menatap Kayla dengan tajam. “Iya, Mas nggak senang dengan panggilan itu. Kayla harusnya panggil mas Arsen dengan mas, bukan dengan kakak.” Balas Arsen dengan seriusnya.
“Yaudah, mending gak usah dipanggil sekalian! Dah awas, Kayla mau masuk.” Kayla mencoba menyingkirkan lengan Arsen yang menahan pintu kamarnya itu.
Arsen tetap menahannya, ia kini semakin kesal. “Kayla!” panggil Arsen yang sedikit meninggikan suaranya. Kayla terkejut mendengar suara Arsen yang meninggi, baru kali ini Arsen seperti itu kepadanya.
“Sejak kapan Kayla nggak sopan gitu sama Mas? Mas lagi bicara sama kamu.” Arsen menahan emosinya dengan rahangnya yang mengeras.
Kayla teralihkan pandangannya pada Dio yang kini sudah menatap mereka dengan posisi seperti ini, bisa jadi Dio ke atas karena suara Arsen yang sedikit tinggi itu.
“Arsen, adek gue jangan dibentak,” ucap Dio yang mulai mengingatkan dengan tatapannya ke arah punggung Arsen.
Rahang Arsen mengeras menahan amarahnya, ia bahkan mengepalkan tangannya yang tengah menahan pintu itu.
“Sorry, gue kepancing emosi. Lo bisa pergi dulu? Gue belum selesai urusan dengan Kayla,”
balas Arsen yang masih menatap Kayla dengan marah.
Dio menghela napasnya, ia tahu bagaimana karakter Arsen jika sudah emosi seperti ini.
Arsen jarang sekali marah, ia tidak pernah se marah ini jika tidak keterlaluan. “Bicara dengan kepala dingin.” Dan Dio pergi meninggalkan mereka.
Kayla menatap Arsen dengan air matanya mulai jatuh, ia terkejut dan sekaligus takut.
“Siapa ngajarin kamu panggil mas dengan kakak? Mas nggak suka kalau mas lagi bicara, kamu pergi gitu saja.” Arsen mulai mengusap airmata Kayla dengan ibu jarinya dengan lembut.
Kayla mulai menangis saat Arsen mengusap airmatanya. “Mas Arsen jahat! Kayla kan mau bobok, masa dilarang!” isak Kayla dengan gelas susunya yang ia jaga agar tidak tumpah.
Tetapi, ia menyeruput sedikit lalu kembali menangis.
Arsen merasa bersalah saat meninggikan suaranya kepada Kayla, ia melihat gadis itu segugukan sembari sedikit-sedikit meminum susu itu. “Maafin, Mas. Soalnya Kayla—”
Arsen memberhentikan ucapannya saat Kayla makin keras nangisnya.
“Salahin aja terus Kayla. Kak Sheila salahin Kayla karena dekatin mas Arsen, sekarang mas marahin Kayla karna nggak panggil mas. Jadi, Kayla harus gimana sekarang? Posisi Kayla itu sekarang simalakama.” Isak Kayla yang kembali meminum susunya.
Arsen mengernyitkan dahinya, “simalakama?” ulang Arsen bingung.
“Iya! Serba salah,” balas Kayla dengan segugukannya.
Arsen pun paham sekarang dengan masalahnya. Ia pun menghapus airmata Kayla dengan kedua tangannya. “Mas minta maaf, ya. Gara-gara, mas, kamu ada di posisi serba salah.”
“Ya, emang.” Dan susu itu pun habis. Kayla memberikan gelas itu pada Arsen, dan Arsen menerimanya.
“Kalau mas Arsen punya pacar, jangan jadikan Kayla tempat ngamuk mereka. Mereka itu cemburu lihat Kayla dengan mas Arsen. Harusnya peka dong!” Kayla pun segera masuk ke dalam kamarnya, dan menutupnya dengan cepat.
Arsen sedikit terkejut dengan gelas susu yang sudah tandas itu digenggamnya. Kayla sudah berada di kamar.
**
Bersambung
p.s : hello, anybody home? Butuh respon komentar sih. Ada yang baca atau tidak.
Please vote dan komentar ya. Terima kasih