Arsen berjalan sedikit cepat saat melihat Kayla tidak jauh dari pandangannya saat ini, ia menarik lembut lengan gadis itu.
“Kayla, tunggu dulu,” ucap Arsen dengan suara beratnya yang lembut.
Kayla mencoba melepaskan tarikan itu dengan cepat, ia mencoba menghindar dari Arsen yang berusaha untuk berbicara kepadanya.
“Oke, Mas nggak akan pegang Kayla tapi Kayla harus kasih kesempatan mas untuk bicara dulu,” ucap Arsen kembali yang berusaha untuk mendapatkan perhatian Kayla.
Kayla bersedekap dada, mereka kini berada di koridor sekolahnya dengan keadaan masih sedikit sepi karna jam masih menunjukan pukul 06:45 WIB. Masih terlalu pagi untuk jam sekolahnya yang masuk setengah delapan ini.
Arsen merubah posisinya kini berada di hadapan Kayla. Kayla mengalihkan tatapannya ke arah lain. “Kayla, mas minta maaf dengan perkataan mas semalam. Mas cuma nggak mau Kayla dewasa sebelum waktunya, itu aja. Mas nggak mungkin kasih hal buruk ke Kayla. “ Arsen memberikan penjelasan kepada Kayla dengan tatapan penuhnya kepada gadis itu.
Kayla segera menatap Arsen dengan tatapan kesalnya, laki-laki itu memberikan senyuman serba salahnya kepada gadis itu.
“Ya, tapi nggak seharusnya mas ancam Kayla dengan cium-ciuman! Kayla nggak suka mas Arsen kayak gitu bicaranya. Mas Arsen kira Kayla masih bayi? Masih bisa dicium
sembarangan?! Kayla udah besar, nggak seharusnya diancam untuk dicium-cium gitu!”
protes Kayla dengan kesalnya.
Arsen melihat kekesalan Kayla kepada dirinya, terlihat raut wajah Kayla yang berengut kesal.
Lucu. Arsen menyunggingkan senyuman kecilnya sembari sedikit merundukan kepalanya untuk sejajar dengan Kayla.
“Mas minta maaf, ya. Mas salah, mas nggak seharusnya ngomong seperti itu ke Kayla.”
Balas Arsen sembari merapikan sedikit rambut Kayla, “mau, kan maafin, mas?” tanya Arsen dengan lembut.
Kayla menatap Arsen yang tersenyum manis kepadanya, Arsen dengan rambutnya yang sedikit berantakan akibat helm motor yang digunakan tadi, jaket hitam yang dikenakan oleh laki-laki itu dan dasi sekolah yang belum terpasang rapi pun, tidak mengurangi kadar ketampanan laki-laki itu.
“Kayla maafin, tapi ada syaratnya,” jawab Kayla dengan senyuman kecilnya. Arsen menyukai senyuman itu, ia terpesona.
“Apa?” tanya Arsen dengan suara beratnya yang terdengar lembut.
“Jangan pernah ajak Kayla bicara di sekolah. Anggap mas dan Kayla orang asing. Kalau mas setuju, Kayla maafin.”
“Tapi, Kayla—”
“Berarti kita musuhan!” potong Kayla dengan cepat bahkan sudah berancang-ancang untuk pergi.
Arsen segera menghalangi gadis itu, “oke, mas setuju. Mas ikutin syarat Kayla.” Dan Arsen kembali melihat senyuman manis itu.
Kayla dengan riangnya pun bertepuk tangan kecil, lalu menatap Arsen dengan binar-binar bahagia. Gadis ini benar-benar membuat Arsen tidak dapat lagi berkata-kata.
“Kalau gitu, Kayla pergi dulu ya, mas. Bye!”
Arsen hanya menatap kepergian Kayla dengan pasrah, setelah melihat senyuman manis itu bagaimana bisa dirinya berargumenkan kembali atas ketidaksetujuannya.
**
“Sayang.”
Arsen memberikan senyuman kecilnya ke arah Sheila yang baru saja datang, Sheila
membawa ketiga temannya ke kantin. “Kamu tumben banget di sini nongkrongnya. Eh, ada Juan,” lanjut Sheila dengan senyuman ramahnya.
“Makan, Shei.” Tawar Juan sembari meniup mie rebusnya itu.
“Lo makan tapi kuahnya nyiprat di gue bangsat!” omel Doni sembari memukul lengan Juan.
“Jangan sampai gue balikkin ni meja, ya. Makan tinggal makan doang lo pada.” Ucap Mahesa yang tengah mengambil sendok makannya.
Arsen menggelengkan kepalanya pelan, teman-temannya selalu menjadi pusat di kantin ini karna kehebohan mereka. “Kamu udah pesan makan?” tanya Arsen kepada Sheila yang duduk tepat di hadapannya.
“Belum, kamu udah?” tanya Sheila dengan senyuman manisnya. Arsen menganggukkan kepalanya, “mau aku pesanin? Aku sekalian mau ambil pesanan.” Tawar Arsen yang mulai berdiri dari duduknya.
“Vika mau makan apa? Atau kita samain aja semua?” tanya Sheila kepada teman-temannya.
“Yaudahlah, samain aja.”
“Gue es tehnya satu, ya, Ar.”
“Yaudah, samain kayak kamu pesan aja, sayang.” Ucap Sheila dengan lembut. Arsen pun menganggukkan kepalanya sembari menyisir rambutnya dengan jari tangannya ke belakang, ia berjalan menuju tempat pesanan itu, namun tak lama kemudian tatapannya teralihkan oleh kedatangan Kayla bersama temannya, Gio dan Rina.
Kayla tertawa lepas sembari mengikat rambutnya dengan sembarangan, Arsen mencoba mengalihkan perhatiannya dari Kayla. Entah kenapa, irama jantungnya tidak teratur kecepatannya saat melihat Kayla seperti itu.
“Bu, pesan 3 lagi seperti pesanan Arsen tadi sama es tehnya 1.” Ucap Arsen sembari mengeluarkan dompetnya.
“Oh, berarti 3 lagi, ya sekalian es tehnya. Punya Arsen nanti ibu antar aja, ya, sekalian juga untuk temannya.” Balas ibu kantin itu sembari mempersiapkan tempatnya.
“Arsen aja, bu. Arsen tunggu,” ucap Arsen dengan senyuman ramahnya.
“Ibu, nasi ayamnya masih ada, nggak? Kayla lapar.” Suara Kayla terdengar seperti anak kecil yang meminta makanan, Arsen melihat kedatangan Kayla mendekat ke arah meja pesanan ini.
“Yah, nasi ayamnya lagi kosong. Kayla mau nasi soto, nggak?” balas ibu kantin itu sembari sibuk menata tempat pesanan makanan itu.
Kayla mengambil roti cokelat yang tersedia di meja pesanan itu, lalu mengunyahnya sembari melihat apa lagi yang bisa ia jadikan makan siangnya. Arsen tersenyum kecil melihat Kayla seperti anak kecil.
Tetapi senyuman itu pun luntur seketika saat melihat Gio datang sembari memeluk bahu Kayla, dan Kayla menyandarkan sedikit kepalanya di lengan Gio. Arsen melihat senyuman Kayla saat Gio berbisik kecil.
“Jadi, lo maunya apa?” tanya Kayla dengan lembutnya. Gio berbisik kembali dan Kayla kembali tertawa geli.
Arsen mencoba mengalihkan tatapannya ke arah lain, ia tidak ingin rasa panas di tubuhnya mengendalikan kewarasannya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, lalu meletakkannya di atas etalase kantin ini.
“Arsen bayar langsung, bu.” Arsen mencoba tersenyum kepada ibu kantin itu, tapi rasa panasnya semakin menjadi saat mendengar suara Kayla merengek kecil karna Gio.
“Oh iya, sebentar ya, nak.”
Gio baru saja tersadar ternyata Arsen berada di dekat mereka. Gio memberikan senyuman menyapanya ke arah Arsen, “kak,” sapa Gio dengan ramah. Kayla pun ikut melirik ke arah Arsen, tatapan mereka bertemu.
Arsen hanya memberikan senyuman tidak sampai matanya, ia melihat Kayla memutuskan tatapan mereka.
“Yaudah, mie rebus aja udah. Nunggu lo mikir itu lama!” ucap Kayla memutuskan diskusi makan siangnya. Gio dengan gemasnya hanya mengeratkan rangkulannya. Kayla tertawa geli kembali.
Arsen menyugarkan rambutnya dengan tawa kecil pelepasan emosinya. Arsen memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celananya, lalu mendekatkan jaraknya kepada Kayla. Gio merinding saat melihat tatapan Arsen yang begitu tajam ke arah Kayla.
Kayla yang tengah asik memakan roti cokelatnya pun menatap Arsen mulai mendekat. Gio melihat Arsen mengusap sisa cokelat di ujung bibir Kayla dengan ibu jarinya itu, lalu mengisap ibu jari itu dengan tatapan dalamnya ke arah Kayla.
“Manis,” gumam Arsen dengan suara beratnya itu. Ia menyunggingkan senyumannya kepada Kayla, lalu berlalu menjauh dari Kayla.
Gio melirik Arsen yang tampak berjalan santai ke mejanya. “Udah gue bilang, kak Arsen suka sama lo,” bisik Gio dengan tatapannya ke arah punggung tegap Arsen.
Kayla berdecak kecil, “udah gue bilang jangan dekat-dekat.” Gumam Kayla dengan pelan.
Di sisi lain, Sheila melihat Arsen tersenyum puas saat melakukan hal itu. Kecemburan Sheila benar-benar tidak terbendung lagi, perempuan mana yang rela kekasihnya dekat pada gadis lain?
**
PLAK!
Kayla terkejut saat tiba-tiba Sheila menamparnya dengan kuat.Ia hendak mengganti seragamnya untuk kelas olahraga, tetapi tiba-tiba ia merasakan kuatnya tamparan Sheila di pipinya.
“Sakit,’kan?! Sama kayak hati gue sakit juga lihat pacar gue dekatin lo!” bentak Sheila dengan keras. Kayla mengernyitkan dahinya sembari mengusap pipinya yang perih.
“Udah sering gue bilangin ke lo, jauhi Arsen! Paham posisi ga sih? Gue pacarnya Arsen!
Seenggak adanya harga diri lo, ya, ganggu-ganggu pacar orang? Biar apa sih, Kay?” lanjut Sheila dengan emosinya.
“Tapi nggak perlu main tampar-tampar Kayla, dong! Orang tua Kayla aja nggak pernah nampar Kayla. Mas Arsen duluan yang dekatin Kayla, makanya dilihat!” balas Kayla dengan kesal. “Coba jangan Kayla terus disalahin, sekali-kali lihat cowonya gimana! Kayla udah berapa kali menjauh, tapi mas Arsen—”
PLAK!
Sheila kembali menampar Kayla. Dan kali ini semakin perih, Kayla semakin emosi. “LO KENAPA JADINYA MAIN TANGAN SAMA GUE?! DIKIRA GUE DIEM-DIEM NGGAK BERANI NGELAWAN?!” bentak Kayla dengan emosinya.
“Jangan murahan jadi cewek! Merasa cantik lo dekatin cowok gue?” balas Sheila dengan emosinya.
Kayla menatap Sheila dengan kepalan tangannya.”Gue cantik, buktinya gue bikin lo ketar- ketir. Kenapa? Belum pernah diperhatikan mas Arsen sampai se detail itu?” tanya Kayla dengan senyumannya.
“Lo murahan makanya Arsen mau. Sana-sini mau di dekatin sama cowo!” hina Sheila dengan penuh penekanan.
Ingin rasanya Kayla menjambak rambut perempuan di hadapannya ini.
“Ini peringatan terakhir kalinya, Kay. Jauhi cowok gue atau gue bakalan benar-benar buat masa SMA lo gak nyaman.” Ucap Sheila dengan tatapan tajamnya kepada Kayla.
Kayla mengepalkan tangannya dengan tatapan emosinya kepada Sheila, ia benci diancam.
“Semakin lo tekan gue, semakin gue buat lo mati kesal sama gue. Mulai detik ini, gue bakalan jadi saingan lo untuk dapat perhatian Arsen. Lihat nanti siapa yang bakalan
dipilihnya, lo atau gue adiknya?” dan Kayla dengan sedikit kuat menyenggol bahu Sheila lalu berjalan meninggalkan Sheila yang mati-matian menahan emosinya.
“Anjing!” umpat Sheila sembari melirik tajam punggung Kayla.
**
Bersambung