Dafatar Pustaka
https://www.kelistrikanku.com/2016/05/elektroda-pentanahan.html
Mengenal elektroda pentanahan, jenis tahanan tanah dan cara mengukurnya
https://www.carailmu.com/2020/10/jenis-jenis-elektroda-pentanahan.html Jenis-Jenis Elektroda Pentanahan (Grounding)
Ashar Arifin October 14, 2020 Post a Comment
https://www.jadiguru.com/2020/02/sistem-pentanahan-instalasi-listrik.html Sistem Pentanahan Instalasi Listrik
https://www.kelistrikanku.com/2016/05/sistem-pentanahan.html Mengenal Sistem pentanahan atau Grounding
https://andre-electro.blogspot.com/2011/04/v-behaviorurldefaultvmlo.html metoda pentanahan
Diposting 15th April 2011 oleh andre
https://journals.itb.ac.id/index.php/jipk/article/view/12377
Sugiharto, A. (2019). Pentanahan untuk Perlindungan Peralatan dan Bangunan Gedung. Swara Patra: Majalah Ilmiah PPSDM Migas, 9(2), 34-41.
Jamaaluddin, J., & Sumarno, S. (2017). Perencanaan Sistem Pentanahan Tenaga Listrik Terintegrasi Pada Bangunan. JEEE-U (Journal of Electrical and Electronic Engineering- UMSIDA), 1(1), 29-33.
Jamaaluddin, J. (2017). Petunjuk Praktis Perancangan Pentanahan Sistem Tenaga Listrik.
Putera, R. F. (2021). EVALUASI SISTEM PENTANAHAN PENANGKAL PETIR DI GEDUNG A SMA NEGERI 3 PALEMBANG (Doctoral dissertation, Politeknik Negeri Sriwijaya).
WIDODO, P. (2022). PERANCANGAN SISTEM GROUNDING PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU (Doctoral dissertation).
(http://digilib.polban.ac.id/files/disk1/75/jbptppolban-gdl-agungmardi-3734-3-bab2--2.pdf)
Judul Keselamatan dan Pemasangan Instalasi Listrik Voltase Rendah Untuk Rumah Tangga
Resistans pembumian sebagian besar tergantung pada panjangnya dan sedikit bergantung pada ukuran penampangnya. Jika beberapa elektrode diperlukan untuk memperoleh resistans pembumian yang rendah, jarak antara elektrode tersebut minimum harus dua kali panjangnya. Jika elektrode tersebut tidak bekerja efektif pada seluruh panjangnya, maka jarak minimum antara elektrode harus dua kali panjang efektifnya.(puil 2016:187)
mberikan kuat mekanis Bahan dan permukaan Bentuk Diameter mm Luas penampang mm2 Tebal mm Berat lapisan g/m2 Tebal lapisan/ selubung µm Kawat bundar 10 Baja dipendam dalam beton (telanjang, galvanis panas atau tahan karat) Pita atau bilah padat 75 3 Bilahb atau bilah/pelat sektor – Pelat padat – Pelat kekisi 90 3 500 63 Batang bundar dipasang vertikal 16 350 45 Kawat bundar dipasang horizontal 10 350 45 Pipa 25 2 350 45 Pilin (dipendam dalam beton) 70 Baja galvanis celup panas Profil salib dipasang vertikal (290) 3 Baja berselubung tembaga Batang bundar dipasang vertikal (15) 2 000 Batang bundar dipasang vertikal 14 250e Batang bundar dipasang horizontal (8) 70 Baja dengan lapisan tembaga sepuh listrik Bilah dipasang horizontal 90 3 70 Bilahb atau bilah/pelat sektor 90 3 Batang bundar dipasang vertikal 16 Batang bundar dipasang horizontal 10 Baja tahan karata Pipa 25 2 Bilah 50 2 Kawat bundar dipasang horizontal (25)d 50 Batang bundar padat dipasang vertikal (12) 15 Kawat pilin 1,7 untuk pilinan individu kawat (25)d 50 Pipa 20 2 Pelat padat (1,5) 2 Tembaga Pelat kekisi 2 CATATAN Nilai dalam kurung hanya dapat diterapkan untuk proteksi terhadap kejut listrik, sedang nilai tidak dalam kurung dapat diterapkan untuk proteksi petir dan untuk proteksi terhadap kejut listrik. a Kromium ≥ 16 %, Nikel ≥ 5 %, Molibdenum ≥ 2 %, Karbon ≤ 0,08 %. b Sebagai bilah dirol atau bilah belah dengan tepi dibundarkan. c Lapisan harus halus, kontinu dan bebas dari noda aliran air. d Jika
pengalaman menunjukkan bahwa risiko korosi dan kerusakan mekanis sangat rendah, dapat digunakan 16 mm2 . e Tebal ini diberikan untuk tahan terhadap kerusakan mekanis lapisan tembaga selama proses pemasangan. Tebal dapat dikurangi menjadi tidak kurang dari 100 µm jika tidakan pencegahan khusus untuk menghindari kerusakan mekanis tembaga selama proses pemasangan (misalnya lubang bor atau ujung proteksi khusus) digunakan menurut petunjuk pabrika
Latar belakang
Dalam suatu gardu induk dibutuhkan suatu sistem pentanahan yang handal. Hal ini dimaksudkan agar ketika terjadi gangguan fasa ke tanah pada Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITT)150 kV tidak akan membahayakan keselamatan manusia, sebab arus gangguan akan mengalir pada bagian peralatan dan ke piranti pentanahan. Hal ini akan menimbulkan gradien tegangan diantara peralatan dengan peralatan, peralatan dengan tanah dan gradien tegangan pada permukaan tanah yang berbahaya bagi manusia dan peralatan yang berada di area gardu induk. Oleh sebab itu diperlukan sistem pentanahan yang baik dan efektif meratakan gradien tegangan yang timbul.
Sistem pentanahan peralatan gardu induk yang umum digunakan saat ini adalah sistem pentanahan Driven Rod, Counterpoise, menggunakan kisi (Grid) dan gabungan antara sistem
pentanahan Grid dan Rod. Dari ketiga model sistem pentanahan ini sistem kisi (Grid) dan Rod paling sering digunakan untuk Gardu Induk Tegangan Tinggi 150 kV. Untuk jenis tanah di Lampung yang dikelompokkan dalam 3 jenis tanah yakni jenis tanah bebatuan, jenis tanah berpasir dan jenis tanah pertanian memiliki tahanan jenis tanah yang berbeda-beda. Jadi dibutuhkan analisis untuk menghitung nilai tahanan pentanahan, tegangan sentuh dan tegangan langkah dengan membuat kombinasi antara jumlah mesh dan rodnya, kedalaman penanaman konduktor dengan mempertimbangkan nilai dari tahanan jenis tanah, pengaruh tahanan jenis tanah untuk beberapa jenis tanah yang berbeda dengan kedalaman yang sama serta dimensi area pentanahan yang akan digunakan sehingga menghasilkan nilai tahanan pentanahan (R), tegangan sentuh (Em) dan tegangan langkah (Es) yang lebih baik dan lebih aman.
Pada penelitian ini akan dilakukan perhitungan untuk menganalisis nilai dari tahanan pentanahan, tegangan sentuh, dan tegangan langkah untuk ketiga jenis tanah di Lampung dimana nilai tersebut masih memenuhi standard yang telah ditentukan dan dapat dikategorikan baik dan aman bagi manusia dan peralatan. Untuk melakukan semua perhitungan tersebut dengan cepat, maka diperlukan suatu media perhitungan melalui bantuan komputer yakni dengan menggunakan program MS Visual Basic. Melalui program ini maka akan diperoleh suatu kombinasi grid rod yang baik dan tepat dan menghasilkan nilai tahanan pentanahan, tegangan sentuh dan tegangan langkah yang aman dan sesuai dengan ketentuan standard IEEE/ANSI Std 80-1986.
Penelitian ini menggunakan data sistem pentanahan salah satu gardu induk yang ada di Lampung yakni sistem pentanahan Grid Rod Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITT) 150 kV Sutami Lampung dan data pengukuran tahanan jenis tanah di Lampung. (A. Ilahi, 2005) sebagai data Input dan pembanding terhadap nilai yang ditetapkan oleh standard IEEE/ANSI Std 80-1986.
1.1.1. Pengertian Pentanahan Peralatan
Pentanahan peralatan adalah pentanahan bagian dari peralatan yang pada kerja normal tidak dilalui arus. Bila terjadi hubung singkat suatu penghantar dengan suatu peralatan, maka akan terjadi beda potensial (tegangan), yang dimaksud peralatan di sini adalah bagian-bagian yang bersifat konduktif yang pada keadaan normal tidak bertegangan seperti bodi trafo, bodi PMT, bodi PMS, bodi motor listrik, dudukan Baterai dan sebagainya. Bila seseorang berdiri di tanah dan memegang peralatan yang bertegangan, maka akan ada arus yang mengalir melalui tubuh orang tersebut yang dapat membahayakan. Untuk menghindari hal ini maka peralatan tersebut perlu ditanahkan.
Pentanahan yang demikian disebut pentanahan peralatan.
Pentanahan peralatan merupakan hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan, baik pada pembangunan gardu induk, pusat-pusat listrik, industri-industri bahkan rumah tinggal juga perlu dilengkapi dengan sistem pentanahan ini. Tujuan pentanahan peralatan dapat diformulasikan sebagai berikut:
a. Untuk mencegah terjadinya tegangan kejut listrik yang berbahaya bagi manusia dalam daerah itu.
b. Untuk memungkinkan timbulnya arus tertentu baik besarnya maupun lamanya dalam keadaan
gangguan tanah tanpa menimbulkan kebakaran atau ledakan pada bangunan atau isinya.
c. Untuk memperbaiki penampilan (performance) dari sistem.
1.1.2. Tahanan Pentanahan
Adalah besarnya tahanan pada kontak/hubung antara masa (body) dengan tanah. Faktor-faktor yang mem pengaruhi besarnya pentanahan:
Tahanan jenis tanah.
Panjang jenis elektroda pentanahan.
Luas penampang elektroda pentanahan.
Harga pentanahan makin kecil makin baik. Untuk perlindungan personil dan peralatan perlu diusahakan tahanan pentanahan lebih kecil dari 1 Ohm. Hal ini tidak praktis untuk dilaksanakan dalam suatu sistem distribusi, saluran transmisi, ataupun dalam substation distribusi. Beberapa peralatan/standar yang telah disepakati adalah bahwa saluran transmisi, substation harus direncanakan sedemikian rupa, sehingga tahanan pentanahan tidak melebihi harga satu ohm. Dalam gardu-gardu induk distribusi, harga tahanan maksimum yang diperbolehkan adalah 5 ohm. Demikian juga halnya pada menara transmisi, untuk menghindarkan lompatan karena naiknya tegangan/potensial pada waktu terjadi sambaran petir maka tahanan kaki menara perlu dibuat sekecil mungkin (di Amerika kurang dari 10 Ohm).
Untuk memahami mengapa tahanan pentanahan harus rendah, dapat digunakan hukum Ohm yaitu:
V = I x R volt
Di mana:
V = tegangan (volt) I = Arus (ampere) R = Tahanan (ohm)
Pentanahan yang ideal harus memberikan nilai tahanan pentanahan mendekati nol atau ≤ 1 ohm untuk gardu induk bertegangan tinggi (ANSI/IEEE Std 80-1986). Sebagai perkiraan pertama, sebuah nilai minimum dari tahanan pentanahan gardu induk pada tanah yang seragam (uniform) untuk lapisan pertama (permukaan tanah) saja dapat dihitung dengan persamaan :
dimana,
Kemudian, pada lapisan kedua dengan adanya gabungan antara grid dan batang rod untuk tanah yang seragam, jumlah konduktor grid dan konduktor batang rod yang ditanam pada kedalaman tertentu dikombinasikan dengan persamaan 2 sehingga diperoleh persamaan seperti dibawah ini {Laurent, P. G., 1951 dan Nieman, J, 1952) :
...(4) dimana,
L = total dari panjang konduktor yang tertanam ( m )
Untuk perhitungan nilai tahanan dari pentanahan grid yang diformulasikan oleh Nieman, J., (1952), diperoleh sebagai berikut :
...(5)
Perhitungan tahanan pentanahan untuk kedalaman tertentu yakni 0 < h < 2.5 m berdasarkan Laurent, P.G.,(1951) diperoleh
Rg = ...(6)
Dari kedua persamaan 5 dan 6 diatas dikombinasikan oleh IEEE Std 80-1986 diperoleh persamaan untuk kedalam konduktor 0 m < h < 2.5 m :
...(7)
dimana,
h = kedalaman penanaman konduktor (m).
Panjang total konduktor pentanahan L merupakan penjumlahan dari grid dan rod : L = Lc + Lr ...(8) dengan,
Lc = panjang konduktor pentanahan grid Lr = panjang konduktor pentanahan rod.
Untuk menentukan panjang konduktor pentanahan grid Lc dapat dirumuskan :
Lc = L1n + L2m...(9)
D1 = ...(10)
D2 = ...(11)
Lc = L1 ...(12)
dimana,
L1 = panjang konduktor ( m ) L2 = lebar konduktor ( m )
n = jumlah konduktor parallel sisi panjang m = jumlah konduktor parallel sisi lebar D1 = jarak antar konduktor parallel sisi panjang D2 = jarak antar konduktor parallel sisi lebar
1.1.3. Macam-Macam Elektroda Pentanahan
Pada dasarnya terdapat tiga macam elektroda pentanahan yaitu:
1. Elektroda Pita, berupa pita atau kawat berpenampang bulat yang ditanam di dalam tanah umumnya
penanamannya tidak terlalu dalam (0,5 - 1 meter) dan caranya ada bermacam-macam.
Elctroda Pita
Elektroda pita jenis ini terbuat dari bahan metal berbentuk pita atau juga kawat BCC yang di tanam di dalam tanah secara horizontal sedalam ± 2 feet. Elektroda pita ini bisa dipasang pada struktur tanah yang mempunyai tahanan jenis rendah pada permukaan dan pada daerah yang tidak mengalami kekeringan. Hal ini cocok untuk daerah – daerah pegunungan dimana harga tahanan jenis tanah makin tinggi dengan kedalaman.
2. Elektroda Batang, berupa batang yang ditanam tegak lurus dalam Tanah.
Electrode batang
Elektroda batang terbuat dari batang atau pipa logam yang di tanam vertikal di dalam tanah.
Biasanya dibuat dari bahan tembaga, stainless steel atau galvanised steel. Perlu diperhatikan pula dalam pemilihan bahan agar terhindar dari galvanic couple yang dapat menyebabkan korosi. Ukuran Elektroda : diameter 5/8 ” - 3/4 ” Panjang 4 feet – 8 feet.
Elektroda batang ini mampu menyalurkan arus discharge petir maupun untuk pemakaian pentanahan yang lain.
3. Elektroda pelat, berupa pelat yang ditanam tegak lurus dalam tanah. Elektroda ini terdapat tiga
macam bentuk yaitu :
- Bentuk Grid
- Bentuk radial
- Bentuk lingkaran
Bentuk elektroda pelat biasanya empat persegí atau empat persegi panjang yang tebuat dari tembaga, timah atau pelat baja yang ditanam didalam tanah. Cara penanaman biasanya secara vertical, sebab dengan menanam secara horizontal hasilnya tidak berbeda jauh dengan vertical.
Penanaman secara vertical adalah lebih praktis dan ekonomis.
1.1.4. Pengaruh Besar Tahanan Terhadap Sistem Tenaga Listrik
a. Makin besar tahanan tanah, tegangan sentuh makin besar.
b. Makin besar tahanan tanah pada tiang transmisi, makin besar tegangan puncak tiang.
c. Makin besar tahanan tanah pada tiang transmisi, makin banyak jumlah Isolator yang harus dipasang
(jumlah isolator makin panjang).
d. Tahanan tanah mempengaruhi penampilan saluran (line performance).
1.1.5. Pengaruh Tahanan Pen tanahan yang Kecil pada Sistem
a. Mengurangi tegangan pada puncak tiang
b. Mengurangi tegangan pada kawat penghantar
c. Mengurangi tegangan pada isolator
d. Mengurangi gangguan sampai beberapa gawang
e. Mengurangi waktu berlangsungnya tegangan merusak (Break Down voltage).
1.2. Tujuan Pembahasan Pentanahan
Berdasarkan tujuan pentanahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Pentanahan sistem (Pentanahan titik netral)
Pentanahan sistem yang dimaksud menghubungkan titik netral peralatan (trafo) ke tanah.
Pentanahan sistem bertujuan:
Melindungi peralatan/saluran dari bahaya kerusakan yang diakibatkan oleh adanya gangguan fasa ke
tanah;
Melindungi peralatan/saluran terhadap bahaya kerusakan isolasi yang diakibatkan oleh tegangan
lebih;
Untuk keperluan proteksi jaringan;
Melindungi makhluk hidup terhadap tagangan langkah (step voltage);
2. Pentanahan statis (pentanahan peralatan)
Pentanahan ini dilakukan dengan menghubungkan semua kerangka peralatan (metal work) yang dalam keadaan normal tidak dialiri arus sistem ke sistem pentanahan switchyard (mess atau rod).
Pentanahan statis bertujuan:
• Melindungi makhluk hidup terhadap tegangan sentuh;
• Melindungi peralatan tegangan rendah terhadap tegangan lebih.
1.3. Faktor-faktor yang menentukan tahanan pentanahan
Tahanan pentanahan suatu elektroda tergantung pada tiga faktor :
1. Tahanan elektroda itu sendiri dan penghantar yang menghubungkan ke peralatan yang ditanahkan.
2. Tahan kontak antara elektroda dengan tanah.
3. Tahanan dari massa tanah sekeliling elektroda.
Namun demikian pada prakteknya tahanan elektroda dapat diabaikan, akan tetapi tahanan kawat penghantar yang menghubungkan keperalatan akan mempunyai impedansi yang tinggi terhadap impuls frekuensi tinggi seperti misal pada saat terjadi lightningdischarge. Untuk menghindarinya, sambungan ini di usahakan dibuat sependek mungkin.
Dari ketiga faktor tersebut diatas yang dominan pengaruhnya adalah tahanan sekeliling elektroda atau dengan kata lain tahanan jenis tanah (ρ).
a. TAHANAN JENIS TANAH (ρ)
Dari rumus untuk menentukan tahanan tanah dari statu elektroda yang hemispherical R = ρ/2πr terlihat bahwa tahanan pentanahan berbanding lurus dengan besarnya ρ. Untuk berbagai tempat harga ρ ini tidak sama dan tergantung pada beberapa faktor :
1. sifat geologi tanah
2. Komposisi zat kimia dalam tanah 3. Kandungan air tanah
4. Temperatur tanah
5. Selain itu faktor perubahan musim juga mempengaruhinya.
b. Sifat geologi tanah
Ini merupakan faktor utama yang menentukan tahanan jenis tanah. Bahan dasar dari pada tanah relatif bersifat bukan penghantar. Tanah liat umumnya mempunyai tahanan jenis terendah, sedang batu-batuan dan quartz bersifat sebagai insulator.
Tabel dibawah ini menunjukkan harga-harga ( ρ ) dari berbagai jenis tanah.
No. JENIS TANAH TAHANAN JENIS
TANAH( ohm.meter ) 1.
2.
3.
4.
5.
Tanah yang mengandung air garam
Rawa Tanah liat Pasir Basah
5 – 6 30 100 200 500
6.
7.
Batu-batu kerikil basah Pasir dan batu krikil kering Batu
1000 3000
c. Komposisi zat – zat kimia dalam tanah
Kandungan zat – zat kimia dalam tanah terutama sejumlah zat organik maupun anorganik yang dapat larut perlu untuk diperhatikan pula. Didaerah yang mempunyai tingkat curah hujan tinggi biasanya mempunyai tahanan jenis tanah yang tinggi disebabkan garam yang terkandung pada lapisan atas larut. Pada daerah yang demikian ini untuk memperoleh pentanahan yang efektif yaitu dengan menanam elektroda pada kedalaman yang lebih dalam dimana larutan garam masih terdapat.
d. Kandungan air tanah
Kandungan air tanah sangat berpengaruh terhadap perubahan tahanan jenis tanah ( ρ ) terutama kandungan air tanah sampai dengan 20%.
Dalam salah satu test laboratorium untuk tanah merah penurunan kandungan air tanah dari 20% ke 10% menyebabkan tahanan jenis tanah naik samapai 30 kali.Kenaikan kandungan air tanah diatas 20% pengaruhnya sedikit sekali.
e. Temperatur tanah
Temperatur bumi pada kedalaman 5 feet (= 1,5 m) biasanya stabil terhadap perubahan temperatur permukaan.
Bagi Indonesia daerah tropic perbedaan temperatur selama setahun tidak banyak, sehingga faktor temperatur boleh dikata tidak ada pengaruhnya.
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Metoda Pentanahan Titik Netral:
Pada sistem ini bila terjadi gangguan phasa ke tanah akan selalu mengakibatkan terganggunya saluran (line outage), yaitu gangguan harus di isolir dengan membuka pemutus daya. Salah satu tujuan pentanahan titik netral secara langsung adalah untuk membatasi tegangan dari fasa-fasa yang tidak terganggu bila terjadi gangguan fasa ke tanah.
Metoda-metoda pentanahan titik netral sistem tenaga listrik adalah sebagai berikut:
- Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding)
Pentanahan titik netral melalui tahanan (resistance grounding) dimaksud adalah suatu system yang mempunyai titik netral dihubungkan dengan tanah melalui tahanan (resistor).
Pada umumnya nilai tahanan pentanahan lebih tinggi dari pada reaktansi sistem pada tempat di mana tahanan itu dipasang. Sebagai akibatnya besar arus gangguan fasa ke tanah pertama-tama dibatasi oleh tahanan itu sendiri. Dengan demikian pada tahanan itu akan timbul rugi daya selama terjadi gangguan fasa ke tanah. Secara umum harga tahanan yang ditetapkan pada hubung netral adalah:
R = ohm
di mana:
R = Tahanan ( Ohm ) Vf = Tegangan fasa ke netral
I = Arus beban penuh dalam Ampere dari transformator.
Dengan memilih harga tahanan yang tepat, arus gangguan ke tanah dapat dibatasi sehingga harganya hampir sama bila gangguan terjadi di segala tempat di dalam sistem bila tidak terdapat titik pentanahan lainnya. Dalam menentukan nilai tahanan pentanahan akan menentukan besarnya arus gangguan tanah.
- Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding)
Suatu transmisi tegangan tinggi/tegangan ekstra tinggi yang panjang tanpa berbeban maka tegangan penerima akan naik akibat adanya capasitansi di sepanjang jaringan. Tegangan yang naik melebihi tegangan yang dijinkan tidak diperkenangkan. Untuk mendapatkan tegangan yang diinginkan maka pada ujung transmisi dipasang reactor yaitu suatu beban reaktif induktif (VAR). Besarnya reaktif terpasang sangat tergantung pada kebutuhan. Perubahan beban juga dapat mengakibatkan perubahan tegangan, bila pengaturan tegangan melalui tap trafo tidak lagi memungkinkan maka reactor mempunyai peranan dalam pengaturan tegangan.
- Pentanahan langsung (effective grounding). Sistem pentanahan langsung adalah di mana titik netral
system dihubungkan langsung dengan tanah, tanpa memasukkan harga suatu impedansi.
- Pentanahan melalui reaktor yang impedansinya dapat berubah-ubah(resonant grounding) atau
pentanahan dengan kumparan Petersen (Petersen Coil).
Gbr.2.1. contoh pentanahan titik netral dengan menggunakan kumparan Peterson.
Sistem pentanahan dengan kumparan Petersen adalah di mana titik netral dihubungkan ke tanah melalui kumparan Petersen (Petersen Coil). Kumparan Petersen ini mempunyai harga reaktansi (XL) yang dapat diatur.
Keuntungan :
- Tegangan lebih pada phasa-phasa yang tidak terganggu relatif kecil
- Kerja pemutus daya untuk melokalisir lokasi gangguan dapat dipermudah, sehingga letak gangguan dapat diketahui
- Sederhana dan murah dari segi pemasangan Kerugian :
- setiap gangguan phasa ke tanah selalu mengakibatkan terputusnya daya
- arus gangguan ke tanah besar, sehingga akan dapat membahayakan makhluk hidup didekatnya dan
kerusakan peralatan listrik yang dilaluinya
2.2. Pentanahan dengan Driven Ground
Adalah pentanahan yang dilakukan dengan cara menancapkan batang elektroda ke tanah.
Gbr.2.2.a. Pentanahan dengan Driven Ground
Satu batang electrode dua batang electrode Gbr.2.3.b. pentanahan dengan menggunakan Counter Poise
Pentanahan dengan counter poise biasanya digunakan apabila tahanan tanah terlalu tinggi dan tidak dapat dikurangi dengan cara pentanahan driven ground, biasanya karena tahanan jenis tanah terlalu tinggi.
Gbr. Pentanahan menara dengan Counter Poise
2.3. Pentanahan dengan Mesh atau Jala
Adalah cara pentanahan dengan jalan memasang kawat elektroda membujur dan melintang di bawah tanah, yang satu sama lain dihubungkan di setiap tempat sehingga membentuk jala (Mesh).
Sistem pentanahan Mesh biasanya dipasang di gardu induk dengan tujuan untuk mendapatkan harga tahanan tanah yang sangat
kecil (kurang dari 1 ohm).
Gambar. Pentanahan dengan Mesh (jala)
Harga tahanan jenis selalu bervariasi sesuai dengan keadaan tanah pada saat pengukuran.
Makin tinggi suhu maka makin tinggi tahanan jenisnya. Sebaliknya makin rendah suhu maka makin rendahtahanan jenisnya. Secara umum harga-harga tahanan jenis ini diperlihatkan pada table berikut ini :
Table tahanan jenis tanah.
Sering dicoba untuk merubah komposisi kimia tanah dengan memberikan garam pada tananh dekat electrode ditanam dengan maksut untuk mendapatkan tahanan jenis tanah yang rendah.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Metoda Pentanahan Titik Netral:
Metoda-metoda pentanahan titik netral sistem tenaga listrik adalah sebagai berikut:
- Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding)
Pentanahan titik netral melalui tahanan (resistance grounding) dimaksud adalah suatu system yang mempunyai titik netral dihubungkan dengan tanah melalui tahanan (resistor).
- Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding)
- Pentanahan langsung (effective grounding). Sistem pentanahan langsung adalah di mana titik netral
system dihubungkan langsung dengan tanah, tanpa memasukkan harga suatu impedansi.
- Pentanahan melalui reaktor yang impedansinya dapat berubahubah(resonant grounding) atau
pentanahan dengan kumparan Petersen (Petersen Coil). Sistem pentanahan dengan kumparan Petersen adalah di mana titik netral dihubungkan ke tanah melalui kumparan Petersen (Petersen Coil). Kumparan Petersen ini mempunyai harga reaktansi (XL) yang dapat diatur.
Pentanahan dengan Driven Ground
Pentanahan dengan counter poise biasanya digunakan apabila tahanan tanah terlalu tinggi dan tidak dapat dikurangi dengan cara pentanahan driven ground, biasanya karena tahanan jenis tanah terlalu tinggi.
Pentanahan dengan Mesh atau Jala
Adalah cara pentanahan dengan jalan memasang kawat elektroda membujur dan melintang di bawah tanah, yang satu sama lain dihubungkan di setiap tempat sehingga membentuk jala (Mesh).
Sistem pentanahan Mesh biasanya dipasang di gardu induk dengan tujuan untuk mendapatkan harga tahanan tanah yang sangat kecil (kurang dari 1 ohm).
DAFTAR PUSTAKA
- Willheim.R, Waters.M, “Neutral Grounding”, In High Voltage Transmission. Elsevier Publishing
company.
- http://robubeth.smkn1sgs.sch.id/BSE SMK/teknik%20transmisi%20tenaga%20listrik
%202/04%20teknik%20transmisi%20tng%20listrik%202%20bab%20vi%20.pdf
- http://dte.usu.ac.id/e-learning/e-journal/summary/5/14.html