• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Nota Pembelaan

N/A
N/A
Grizelle Quenby

Academic year: 2025

Membagikan "Contoh Nota Pembelaan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Surat Nomor : XI-122/Pid/4/2024

Jakarta Selatan, 2024 Kepada Yth.

Majelis Hakim Pemeriksa perkara pidana Nomor Register Pdm/Jkt.Sel/Ep/03/2024.

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

NOTA PEMBELAAN

Dalam Perkara Tindak Pidana Umum Nomor Pdm/Jkt.Sel/Ep/03/2024

Atas Klien kami:

Nama lengkap        : Angga Bin Abdul;

Tempat lahir      : Ambon;

Umur/tanggal lahir       : 24 Tahun/ 29 Februari 2000;

Jenis kelamin        : Laki-laki;

Kebangsaan/kewarganegaraan   : Indonesia

Tempat tinggal         : Jl. Kemiri, No. 69, RT.06/RW.010, Kel. Pesanggrahan, Kec. Kebayoran Lama, Daerah Khusus Ibukota Jakarta;

Agama        : Islam;

Pekerjaan : Swasta

Dengan Hormat,

Perkenankan kami, yang bertandatangan di bawah ini:

Elina , S.H., M.H.

Advokat, Pengacara, & Konsultan Hukum berkantor di TWT & Partners yang beralamat di Jalan Apel 18 No. 23, Kebayoran, Kota Jakarta Selatan, yang dalam perkara ini dapat bertindak sendiri-sendiri maupun bersama - sama.

I. PENDAHULUAN

Majelis Hakim yang kami muliakan

Rekan Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa penguasa seluruh alam semesta, karena berkat rahmat Nya persidangan pada hari ini dengan agenda pembacaan Nota Pembelaan oleh Penasihat Hukum atas Terdakwa Angga Bin Abdul (untuk selanjutnya disebut “Terdakwa”) bisa berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya sesuai dengan yang dijadwalkan sebelumnya,

(2)

Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Majelis Hakim Yang Mulia karena telah memimpin persidangan ini dengan penuh kemandirian, obyektif, bijaksana dan adil. Kami juga memberikan apresiasi kepada Jaksa Penuntut Umum, yang telah menjalankan kewajibannya dengan sangat amat baik untuk menemukan kebenaran materil dalam persdangan ini.

Bahwa tuntutan pidana dan pledoi (pembelaan) pada dasarnya merupakan suatu rangkaian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pemeriksaan perkara pidana dan sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa keberadaan tuntutan pidana yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, saling berkaitan dengan Nota Pembelaan yang diajukan oleh Terdakwa atau Penasihat Hukum Terdakwa

II.  DAKWAAN DAN TUNTUTAN

Bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sesuai dengan surat dakwaan dengan nomor register perkara Nomor 50/Pid Sus/2020/PN Lss, adalah sebagai berikut:

KESATU:

- Pasal 67 ayat 1 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2022 tentang Perlindungan data pribadi jo. Pasal 30 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik;

KEDUA:

- Pasal 67 ayat 2 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2022 tentang Perlindungan data pribadi jo. Pasal 30 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

DALAM TUNTUTAN

Bahwa Jaksa Penuntut Umum berkeyakinan Terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana Penyalahgunaan Data Pribadi yang terdapat pada Pasal 67 ayat 1 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2022 tentang Perlindungan data pribadi jo. Pasal 30 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik atau kedua Pasal 67 ayat 2 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2022 tentang Perlindungan data pribadi jo. Pasal 30 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

.

III.  FAKTA-FAKTA PERSIDANGAN A.   Keterangan saksi-saksi :

1. Saksi AUDINA NURUL ANJANI memberikan keterangan di bawah sumpah menurut agamanya sebagai berikut :

(3)

- Bahwa Terdakwa adalah Teman bermain saksi sedari kecil;

- Bahwa Saksi mengenal korban sebagai kekasih dari Terdakwa;;

- Bahwa pada Bulan Maret tahun 2023 sekitar jam 14.30 WIB di Jl. Pasar Minggu No. 62 RT.03.RW.07, Kota Jakarta Selatan - Bahwa Saksi meminjamkan uang senilai RP. 20.000.000 terhadap Terdakwa;

- Bahwa alasan Terdakwa meminjam uang senilai Rp. 20.000.000 kepada saksi adalah dikarenakan Terdakwa sedang mengalami krisis keuangan sehingga Terdakwa tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya;

- Bahwa alasan saksi meminjamkan uang kepada Terdakwa adalah dikarenakan saksi sudah lama mengenal dan berteman dengan Terdakwa;

- Bahwa Terdakwa berjanji akan melunasi hutang kepada saksi pada tanggal 22 Juni 2023.

2. Saksi SHANIA PUTTRI dst.

- Bahwa Saksi mengenal Terdakwa sebagai teman;

- Bahwa Saksi mengenal korban sebagai kekasih dari Terdakwa;

- Bahwa pada Bulan Januari tahun 2023 sekitar jam 19.30 WIB di Jl. Sultan Hasanudin No.1 RT.3/RW.1, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12160 - Bahwa Saksi meminjamkan uang senilai RP. 20.000.000 terhadap Terdakwa;

- Bahwa alasan Terdakwa meminjam uang senilai Rp. 20.000.000 kepada saksi adalah dikarenakan Terdakwa sedang mengalami krisis keuangan sehingga Terdakwa tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya;

- Bahwa alasan saksi meminjamkan uang kepada Terdakwa adalah dikarenakan saksi sudah lama mengenal dan berteman dengan Terdakwa;

- Bahwa Terdakwa berjanji akan melunasi hutang kepada saksi pada tanggal 15 Mei 2024;

3. Saksi Korban FITRIA HAFSA,

- Bahwa saksi mengenal Terdakwa, dimana Terdakwa merupakan kekasih dari Saksi;

- Bahwa pada mulanya Saksi mengetahui data pribadinya telah bocor ketika pihak ADA KAMI mendatangi rumah Saksi pada tanggal 10 Februari tahun 2024 sekitar pukul 17.00 WIB dan menagih untuk membayar hutang pinjaman online. Saksi terkejut karena merasa tidak pernah mengajukan pinjaman online kepada pihak ADA KAMI. Lalu Saksi ingat bahwa Saksi sebelumnya pernah memperlihatkan KTP miliknya kepada Terdakwa. Kemuadian Saksi mencoba menghubungi Terdakwa namun tidak bisa. Karena pihak ADA KAMI terus menerus menagih hutang nya kepada Saksi akhirnya Saksi

(4)

pergi ke rumah terdakwa namun tetangga sekitar bersaksi bahwa Terdakwa sudah tiga hari tidak terlihat oleh warga sekitar. Akhirnya Saksi memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke Polisi pada tanggal 12 Februari 2024 pukul 9.00 WIB di kantor Polsek Jagakarsa;

- Bahwa Saksi tidak mengetahui bahwa terdakwa memiliki hutang;

- Bahwa Saksi berada di toilet sesaat sesudah memperlihatkan KTP nya kepada Terdakwa;

- Bahwa Saksi merasa hanya memperlihatkan KTP nya kepada Terdakwa;

- Bahwa Terdakwa pernah meminta bantuan untuk meminjamkan data pribadi Saksi untuk mengajukan pinjaman online, namun Saksi menolaknya.

      B.  Keterangan Terdakwa

- Terdakwa dihadapkan pada persidangan kali ini karena telah melakukan Penyalahgunaan Data Pribadi;

- Bahwa Terdakwa memiliki hubungan pribadi sebagai kekasih dari saksi korban;

- Bahwa pada tanggal 25 Juli 2023 sekitar pukul 15.00 – 16.00 WIB, Terdakwa secara diam-diam mencuri data pribadi Saksi korban untuk mendaftar pada aplikasi pinjaman online;

- Bahwa Terdakwa melakukan tindak pidana tersebut dengan alasan keuntungan pribadi;

- Bahwa Terdakwa sadar dan memahami bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa merupakan suatu tindakan yang melanggar hukum;

IV. ANALISA FAKTA

Bahwa Pasal 185 ayat (1) KUHAP telah mengatur bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Hal ini berarti bahwa hanya keterangan-keterangan yang disampaikan di depan persidangan saja yang sah sebagai alat bukti dan merupakan fakta hukum yang dapat digunakan oleh Hakim sebagai pertimbangan putusannya. Bahwa dari fakta-fakta yang diuraikan di atas, terungkap fakta- fakta sebagai berikut :

- Bahwa Benar Terdakwa melakukan Pidana Penyalahgunaan Data Pribadi

- Bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa terhadap korban tidak disertai kekerasan.

- Bahwa terdakwa belum pernah dihukum dalam perkara apapun sebelumnya.

V.  ANALISIS YURIDIS

(5)

Bahwa terdakwa didakwa :

Kesatu melanggar Pasal 67 ayat 1 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi jo. Pasal 30 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. KUHP yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut yang unsur-unsurnya sebagai berikut :

1. Setiap orang

Bahwa, unsur barang siapa adalah benar menunjuk kepada orang sebagai Individu (pribadi). bahwa adapun yang dimaksudkan dengan setiap orang dalam unsur ini adalah: Siapapun orangnya (pelaku dari suatu tindak pidana) sebagai subyek hukum pendukung hak dan kewajiban dan kepadanya dapat dimintakan pertanggung jawaban pidana. Adapun maksud dimasukkan dan dipertimbangkan dalam unsur ini adalah untuk meneliti lebih lanjut siapakah yang duduk sebagai terdakwa adalah benar-benar sebagai pelaku dari tindak pidana atau bukan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari supaya jangan sampai terjadi adanya kesalahan orang (error in persona ) dalam menghukum seseorang

2. Unsur dengan sengaja dan melawan hukum memperoleh atau mengumpulkan Data Pribadi yang bukan miliknya dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain yang dapat mengakibatkan kerugian Subjek Data Pribadi

bahwa yang dimaksud “dengan sengaja” adalah bahwa Terdakwa mengetahui dan sadar, sehingga ia dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya, bahwa istilah

“dengan maksud” terwujud dalam kehendak, keinginan atau tujuan dari Terdakwa untuk menguntungkan dirinya sendiri secara melawan hukum. Sifat melawan hukum dari perbuatan dimaksud adalah perbuatan memiliki yang dikehendaki tanpa hak atau kekuasaan sendiri dari Terdakwa. Terdakwa harus sadar bahwa yang dilakukan adalah hak data milik orang lain, bahwa sedangkan yang dimaksud dengan “melawan hukum” adalah bahwa pelaku melakukan perbuatan memiliki itu tanpa hak atau kekuasaan. Ia tidak mempunyai hak untuk melakukan perbuatan memiliki sebab ia bukan pemiliknya. Hanya pemilik yang mempunyai hak untuk memilikinya dan melakukan perbuatan memiliki terhadap sesuatu data pribadi miliknya.

Kedua melanggar Pasal 67 ayat 2 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi jo. Pasal 30 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut yang unsur-unsurnya sebagai berikut :

1. Setiap orang

Bahwa, unsur barang siapa adalah benar menunjuk kepada orang sebagai Individu (pribadi). bahwa adapun yang dimaksudkan dengan setiap orang dalam unsur ini adalah: Siapapun orangnya (pelaku dari suatu tindak pidana) sebagai subyek hukum pendukung hak dan kewajiban dan kepadanya dapat dimintakan pertanggung jawaban pidana. Adapun maksud dimasukkan dan dipertimbangkan

(6)

dalam unsur ini adalah untuk meneliti lebih lanjut siapakah yang duduk sebagai terdakwa adalah benar-benar sebagai pelaku dari tindak pidana atau bukan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari supaya jangan sampai terjadi adanya kesalahan orang (error in persona) dalam menghukum seseorang

2. Unsur dengan sengaja dan melawan hukum memperoleh atau mengumpulkan Data Pribadi yang bukan miliknya dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain yang dapat mengakibatkan kerugian Subjek Data Pribadi

bahwa yang dimaksud “dengan sengaja” adalah bahwa Terdakwa mengetahui dan sadar, sehingga ia dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya, bahwa istilah

“dengan maksud” terwujud dalam kehendak, keinginan atau tujuan dari Terdakwa untuk menguntungkan dirinya sendiri secara melawan hukum. Sifat melawan hukum dari perbuatan dimaksud adalah perbuatan memiliki yang dikehendaki tanpa hak atau kekuasaan sendiri dari Terdakwa. Terdakwa harus sadar bahwa yang dilakukan adalah hak data milik orang lain, bahwa sedangkan yang dimaksud dengan “melawan hukum” adalah bahwa pelaku melakukan perbuatan memiliki itu tanpa hak atau kekuasaan. Ia tidak mempunyai hak untuk melakukan perbuatan memiliki sebab ia bukan pemiliknya. Hanya pemilik yang mempunyai hak untuk memilikinya dan melakukan perbuatan memiliki terhadap sesuatu data pribadi miliknya.

Bahwa dalam proses pembuktian di pengadilan, seorang Terdakwa hanya dapat dinyatakan bersalah apabila dapat dibuktikan terpenuhinya seluruh unsur-unsur dari pasal Undang-Undang pidana yang didakwakan. Apabila salah satu saja unsur rumusan pasal dimaksud tidak terpenuhi atau tidak terbukti, maka terdakwa harus dianggap tidak terbukti melakukan perbuatan pidana/tindak pidana/delik yang didakwakan kepadanya, dengan kata lain terdakwa harus dinyatakan tidak bersalah, dan harus dibebaskan dari dakwaan dimaksud, dengan demikian uraian mengenai unsur-unsur pasal dalam dakwaan primair tersebut tidak perlu kami uraikan.

VII.  PERMOHONAN

Melihat fakta-fakta yang terungkap di persidangan, kami selaku penasehat hukum Terdakwa mengakui dan sependapat dengan apa yang diadilkan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam tuntutannya mengingat bahwa unsur-unsur dalam Pasal 67 ayat 1 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2022 tentang Perlindungan data pribadi jo.

Pasal 30 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik atau kedua Pasal 67 ayat 2 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2022 tentang Perlindungan data pribadi jo. Pasal 30 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik telah terpenuhi berdasarkan fakta-fakta yang terungkap

(7)

dipersidangan dan juga barang bukti yang ada, namun demikian kami memohon kepada majelis hakim yang bijaksana untuk memberikan keringanan hukuman dengan mempertimbangkan mengenai kondisi Terdakwa sehingga Terdakwa mempunyai kesempatan yang panjang untuk merubah hidupnya menjadi orang yang berguna bagi orang lain serta dapat mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Disisi lain jika ditinjau dari teori pemidanaan dikatakan bahwa penjatuhan pidana bertujuan untuk menimbulkan "efek jera", dimana dalam hal ini tujuan tersebut telah tercapai dengan masa tahanan yang dijalani oleh Terdakwa selama proses penanganan perkara berlangsung menimbulkan trauma yang mendalam bagi Terdakwa sehingga Terdakwa telah menyesali perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulangi tindak pidana lagi.

Berdasarkan analisis sebagaimana tersebut diatas maka kami selaku penasehat hukum Terdakwa mengajukan permohonan maaf dan permohonan kepada Majelis Hakim kiranya dapat menjatuhkan hukuman yang seringan-ringannya bagi Terdakwa. Demikian permohonan maaf demi untuk mendapatkan keringanan hukuman ini kami buat atas nama Terdakwa Agga Bin Abdul permohonan ini kami sampaikan dengan harapan Majelis Hakim yang kami muliakan memperoleh gambaran tentang perkara ini lebih obyektif sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan putusan yang seadil-adilnya. Akhir kata atas perhatian dan kebijaksanaan Majelis Hakim, kami selaku penasehat hukum Terdakwa mengucapkan terimakasih.

Atau Bilamana Majelis Hakim yang mulia berpendapat lain mohon putusan yang

seadil-adilnya menurut hukum (ex aequo et bono).

Hormat kami,

Tim Penasihat Hukum Terdakwa 

Vedorofa, S.H., M.H.

Referensi

Dokumen terkait

bahwa dari data dan keterangan yang terdapat dalam berkas banding serta bukti- bukti dan keterangan para pihak dalam persidangan dapat diketahui Terbanding melakukan koreksi

bahwa dari data dan keterangan yang terdapat dalam berkas banding serta bukti-bukti dan keterangan para pihak dalam persidangan dapat diketahui Terbanding melakukan koreksi

Di Indonesia banyak terjadi kasus penyalahgunaan data pribadi, beberapa kebocoran data pribadi terjadi di aplikasi Peduli Lindung. Keterangan suntikan vaksin dari presiden

Bahwa benar sesuai keterangan Saksi-2 yang dibenarkan oleh Terdakwa, Terdakwa dengan Saksi-2 melakukan hubungan badan layaknya suami istri di rumah kost di Perum

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluraga apabila diberikan di bawah sumpah

Seandainya di dalam persidangan terdakwa langsung mengakui bahwa dia bersalah telah melakukan suatu perbuatan pidana sebagaimana yang didakwakan kepadanya, maka keterangan tersebut

Terkait dalam permasalahan perjanjian pinjam meminjam secara online yang menyebabkan kerugian terhadap pemilik nomor atas melakukan penyalahgunaan data pribadi dalam pencantuman

Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan rasa nyaman dan aman yang termasuk di dalamnya adalah tidak terganggu kehidupan pribadi, yang mana termasuk penyalahgunaan data pribadi oleh