BAHAN AJAR
Teknik I-Messages dalam Bimbingan dan Konseling 1. Pengantar Materi
a. Pengertian Teknik I-Messages
Teknik I-Messages atau Pesan-Aku adalah metode komunikasi asertif yang digunakan dalam bimbingan dan konseling untuk membantu konseli mengungkapkan perasaan dan kebutuhan mereka secara jujur dan bertanggung jawab tanpa menyalahkan orang lain.
Teknik ini mendorong komunikasi yang sehat, terbuka, dan mengurangi potensi konflik.
b. Tujuan Teknik I-Messages Teknik ini bertujuan untuk:
1) Mengembangkan keterampilan komunikasi asertif.
2) Meningkatkan kesadaran terhadap perasaan diri.
3) Membantu mengelola konflik interpersonal secara sehat.
4) Menyampaikan kebutuhan pribadi tanpa menimbulkan rasa diserang pada lawan bicara.
c. Struktur Kalimat I-Messages
Struktur dasar teknik ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:
1) Saya merasa... (menyampaikan perasaan)
2) Ketika... (menjelaskan perilaku atau situasi pemicu) 3) Karena... (mengungkapkan dampak atau alasan) Contoh kalimat:
"Saya merasa kecewa ketika kamu tidak menepati janji karena saya merasa tidak dihargai."
2. Contoh Percakapan I-Massages
Mungkin anda akan ingat, salah satu kutipan dari sesi konseling dengan Tamara dan Kevin dimasukkan kedalam bab tentang scaling. Dalam contoh dialog mereka, keduanya setuju untuk menerima perspektif terskala pihak yang lain tentang dirinya dan kemampuan komunikasinya. Mereka juga setuju bahwa kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif akan mempengaruhi perjalanan pernikahan mereka Ketika mereka berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang lebih sulit bersama-sama.
Berdasarkan kemajuan mereka sebelumnya, konselor professional sekarang mulai mengedukasi Tamara dan Kevin tentang pentingnya pesan-aku dan mulai mengajari mereka untuk menggunakan pesan-pesan ini sebagai pengganti sarana komunikasi yang kurang produktif.
Konselor (K)
: Jadi kita semua setuju bahwa ada beberapa perbaikan yang dibutuhkan dalam car akita berkomunikasi. Di samping itu, kita perlu dan penting untuk membuat perbaikan-perbaikan itu untuk kesejahteraan hubungan kita.
Tamara (T)
: Ya, dan saya suka bahwa kami berdua sekarang setuju bahwa tak satupun diantara kami yang berbicara kepada yang lain dengan cara yang produktif dan sehat.
Konselor : Betul. Yang saya tangkap adalah Kevin merasa anda seakan-akan sengaja mengajaknya bertengkar sehingga dia merasa defensif. Tamara, tampaknya anda merasa bahwa Kevin mengabaikan anda sehingga anda mendominasi pembicaraan dan menjadi marah.
Kevin (Kv)
: Terdengar seperti siklus.
K : Siklus adalah istilah yang tepat untuk itu.
K : Saya seperti berfikir. “Seandainya dia tidak mau memperhatikan aku, maka aku tidak harus berbicara dan jadi marah!” tetapi dia mengkin berfikir, “Seandainya dia lebih sedikit bicara dan berbicara dengan nada
yang lebih rendah, maka aku tidak harus berhenti mendengarkannya atau tidak merasa perlu untuk mempertahankan diri!”
K : Tepat sekali. Sekarang setelah anda tau itu, cukupkah hal itu bagi anda untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda?
T : (Setelah berhenti sejenak) Eem…., hmmm … Saya tidak tahu.
Kv : Hal itu membantu. Akan tetapi, Ketika kami berada pada momen itu, saya tidak tahu apakah itu akan cukup.
K : Oke. Jadi saya tahu bahwa saya telah mendengar salah seorang diantara anda pernah mengatakan sebelumnya bahwa salah satu sumber ketegangan yang biasa terjadi adalah pembagian tanggung jawab rumah tangga dan keluarga…..
(Konselor professional sengaja mengangkat sebuah topik yang berkemungkinan untuk membuat Tamara dan Kevin menginisiasi sebuah diskusi panas sehingga ia dapat mengobservasi gaya komunikasi tipikal mereka)
Kv : Hal itu cara yang halus menyatakannya … tidak tepat seperti cara yang akan saya gunakan.
K : Bagaimana anda akan menyatakannya?
K : Eem … tunggu .. tak aka nada yang bisa memuaskannya. Dia tidak pernah senang denga napa yang saya lakukan.
T : Hal itu karena anda tidak cukup berbuat. Anda menganggap bahwa hanya karena anda mau membantu maka saya harus merasa sangat berterimakasih dan bersyukur padahal “sumbangan luar biasa anda”
pada urusan rumah tangga hanya satu diantara seratus hal yang saya lakukan setiap hari!
Kv : (Menarik nafas Panjang dan menekuk wajah) T : Mau bilang apa soal itu?
Kv : Apa aka nada gunanya?
T : Tidak. Hal itu karena anda tahu tidak bisa membela diri. Oleh karena
yang saya katakana adalah kebenaran.
K : Oke, kalua anda berdua tidak keberatan, saya akan menyela sekarang, karena anda berdua telah memberi saya contoh bagaimana anda biasanya berkomunikasi dan hal itu akan membantu kita untuk tahu dari mana kita akan memulai. Yang baru saya dengar dari anda berdua adalah banyak fokus pada orang lain, yang cenderung memicu pertengkaran. Ketika kita melakukan hal ini, kita menghindari tanggung jawab atas perasaan dan perilaku kita sendiri, dan sebaliknya menempatkan orang lain pada posisi mempertahankan diri … jadi mereka merasa perlu untuk membela diri, menyerang balik, menyalahkan, atau secara emosional melarikan diri dari yang lain. Jadi, yang saya inginkan adalah kita mulai dengan sebuah keterampilan komunikasi yang sangat dasar yang menekankan pada perasaan, perilaku, dan sikap pribadi anda sendiri, bukan menunjuk pada orang lain. Tetap dengan topik yang sama yang baru saja anda berdua diskusikan , saya ingin anda melengkapi pernyataan, “Saya merasa” ….
Tamara, maukah anda memulai? “Saya merasa ….”
T : Saya merasa …. diperlakukan tidak adil.
K : Bagus. “Saya merasa diperlakukan tidak adil ketika anda …”
T : Saya merasa diacuhkan ketika anda mengharapkan saya memikul sebagian besar tanggung jawab rumah tangga.
K : Bagus, dan sedikit lagi. “Aku merasa diperlakukan tidak adil Ketika kau mengharapkan aku memikul Sebagian besar tanggung jawab rumah tangga karena … “
T : Oke. Coba … saya merasa diperlakukan tidak adil Ketika anda mengharapkan saya memikul Sebagian besar tanggung jawab rumah tangga karena saya berfikir anda bisa berbuat lebih banyak untuk membantu saya.
K : Betul sekali Tamara. Sekarang Kevin, saya ingin anda menghadapi
Tamara dengan, “ Saya merasa …”
Kv : Ah ….oke …. Aku merasa …. Saya tidak tahu ….. saya merasa tersinggung.
K : Ah-ha. “Saya merasa tersinggung Ketika anda …”
K : Saya merasa tersinggung Ketika anda menunjuk segala hal yang tidak saya lakukan.
K : Bagus, dan “Saya merasa tersinggung Ketika anda menunjuk segala hal yang tidak saya lakukan karena ….”
K : Bagus, dan “Saya merasa tersinggung Ketika anda menunjuk segala hal yang tidak saya lakukan karena ….”
Kv : Oleh karena ….
K : Mulailah dari awal, kalua anda tidak keberatan, karena tidak sedang belajar ini. “Saya merasa tersinggung ….”
Kv : Saya merasa tersinggung Ketika nda menunjuk segala hal yang tidak saya lakukan karena saat-saat saya benar-benar membantu sama sekali tak dilihat.
K : Baiklah. Untuk masing-masing anda, apa reaksi anda terhadap pernyataan yang baru saja anda dengar dari pasangan anda?
Kv : Saya merasa sangat matang dan bersikap menghormati dengan mengatakan itu. Saya lumayan bangga dengan diri saya sendiri.
T : (Tertawa) Ya, saya merasa buruk karena tidak pernah memuji apa yang dilakukannya untuk membantu saya.
K : Ah, kedua-duanya bagus. Apa yang akan anda temukan dengan gaya komunikasi ini – hal ini disebut pesan-aku-adalah anda bukan hanya merasa lebih baik tentang diri anda sendiri karena berkomunikasi dengan cara ini, tetapi juga akan lebih melihat sudut pandang pasangan anda, memahami dari mana dia berasal, dan sebaliknya, merasa empati untuk posisi pasangan anda.
T : Saya bisa melihatnya.
K : Bagus. Oke. Sekarang saya ingin anda melanjutkan percakapan anda,
dan saya akan menyela untuk membantu anda berlatih sampai anda berdua benar-benar bisa.
T : Jadi kami terus berbicara?
K : Tentu. Tetap mengekspresikan diri anda sendiri dengan “Saya merasa
… Ketika anda …. Karena …… “ kita akan tetap sangat spesifik seperti ini sampai terasa lebih wajar.
Kv : Anda duluan.
T : Saya merasa menggapai pernyataan terakhir anda. Saya cenderung mengabaikan sisi baik anda karena saya merasa sangat merah Ketika anda tidak berbuat lebih banyak karena saya piker anda tidak peduli bahwa saya sudah merasa kewalahan dengan tanggaung jawab sebanyak itu. Anda tahu, sulit untuk bersikap apresiatif kalua kita marah, bukan?
Kv : Percayalah pada saya. Saya tahu itu. Oke. Oke. Sekarang giliran saya.
Hmm, jujur saja, saya kadang-kadang tidak peduli bahwa anda memiliki banyak tanggung jawab Ketika anda mengomel karena saya merasa seakan-akan apapun yang saya lakukan tidak pernah cukup dan toh itu juga tak akan anda lihat…..
3. Instruksi Praktik Mandiri dan Lembar Penilaian a. Tujuan Praktik
1) Mahasiswa mampu menyusun dan menyampaikan I-Messages.
2) Mahasiswa dapat menerapkan komunikasi asertif dalam situasi nyata atau simulasi konseling.
b. Langkah-Langkah Praktik
1) Pilih satu situasi konflik yang pernah dialami atau berdasarkan skenario.
2) Identifikasi perasaan, pemicu, dan dampak situasi.
3) Susun kalimat I-Messages sesuai struktur.
4) Lakukan simulasi penyampaian dengan teman sekelas.
5) Lakukan refleksi terhadap proses dan hasil penyampaian.
c. Lembar Penilaian Praktik
No Aspek yang Dinilai Skor 1-5 Keterangan
1 Kemampuan menyusun kalimat I-Messages sesuai struktur
2 Kejelasan ekspresi emosi dan pemicu 3 Penyampaian pesan secara asertif dan tidak
menyalahkan
4 Relevansi situasi dan konteks
5 Refleksi terhadap penggunaan teknik dalam komunikasi
Total /25
d. Refleksi Diri Mahasiswa
Mahasiswa diminta menjawab beberapa pertanyaan berikut setelah melakukan praktik:
1) Apa yang saya rasakan saat menyampaikan I-Messages?
2) Apakah teknik ini membantu saya mengurangi konflik?
3) Apa manfaat terbesar yang saya peroleh dari teknik ini?
4) Bagaimana saya dapat menerapkan teknik ini dalam kehidupan sehari-hari?