• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ct Lap BK-Studi kasus

N/A
N/A
hanhanif fah

Academic year: 2025

Membagikan "Ct Lap BK-Studi kasus"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN STUDI KASUS

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI... iii

BAB 1 PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang...1

B. Tujuan... 3

C. Manfaat... 3

D. Ruang Lingkup...4

BAB II PELAKSANAAN... 6

A. Studi Kasus...6

1. Identifikasi Masalah...7

2. Analisis... 8

3. Sintesis... 9

4. Diagnosis...10

5. Prognosis...10

6. Treatment... 11

7. Follow Up...12

B. Kendala, Hambatan, dan Solusi...13

BAB II PENUTUP...15

A. Kesimpulan...15

B. Saran...15

DAFTAR PUSTAKA... 17

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bimbingan adalah sebuah metode yang dapat digunakan setiap orang untuk membentuk terbimbing menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dalam hal moral, membimbing anak supaya memahami dan mengerti moral yang baik adalah hal ihwal pertama yang menjadi kewajiban bagi orang tua dan hak bagi anak agar nantinya anak tidak salah kaprah dan salah jalan. Lebih menyarankan lagi bahwa seharusnya seorang wali atau orang tua itu memiliki dedikasi yang dapat membantu anak agar baik jalan hidupnya, dengan cara tindak yang menyenangkan, mengesankan, tidak berbahaya dan disukai anak. Ini semua dalam artian bahwasanya membimbing tidak perlu menggunakan kekerasan.

Bagi seorang guru, pentingnya sebuah metode dan pengertian mengenai bimbingan “terlebih bimbingan pada pribadi anak” yang mana nantinya akan sangat berpengaruh terhadap pola fikir anak dan proses perkembangan otak anak. Dan tentu pula untuk memahami apa saja dan bagaimana cara dan pelaksanaan untuk menjadi seorang pembimbing. Bimbingan dan Konseling merupakan sebuah proses interaksi antara konselor dengan seorang konseli baik secara langsung maupun tidak langsung dalam rangka untuk membantu konseli agar dapat mengambangkan potensi yang ada dalam dirinya maupun memecahkan masalah yang sedang dialaminya. Bimbingan diberikan oleh seorang ahli dibidangnya kepada seorang yang memebutuhkan bimbingan.

Dan bimbingan juga dapat diartikan sebagai upaya pemberian bantuan kepada peesrta didik dalam rangka mencapai perkembangan yang optimal.

Sementara itu, sekolah tidak hanya berfungsi memberikan pengetahuan dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi sekolah juga berfungsi dalam mengembangkan karakter dan kepribadian anak. Oleh karena itu, guru harus mengetahui dari sekedar masalah bagaimana mengajar yang efektif.

Dalam perkembangan dan kehidupan setiap manusia sangat mungkin timbul berbagai permasalahan. Baik yang dialami secara individual,

(3)

kelompok, dalam keluarga, lembaga tertentu atau bahkan bagian masyarakat secara lebih luas. Untuk itu ditentukan adanya bimbingan sebagai suatu usaha pemberian bantuan yang diberikan baik kepada individu maupun kelompok dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan bimbingan adalah memahami individu (dalam hal ini peserta didik) secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun latar belakangnya. Sehingga peserta didik diharapkan dapat memperoleh bimbingan yang tepat dan terarah.

Untuk dapat memahami peserta didik secara lebih mendalam, maka

seorang pembimbing maupun konselor perlu mengumpulkan berbagai keterangan atau data tentang peserta didik yang meliputi berbagai aspek, seperti: aspek sosial kultural, perkembangan individu, perbedaan individu, adaptasi, masalah belajar dan sebagainya. Dalam rangka mencari informasi tentang sebab-sebab timbulnya masalah serta untuk menentukan langkah- langkah penanganan masalah tersebut maka diperlukan adanya suatu tehnik atau metode pengumpulan data atau fakta-fakta yang terkait dengan permasalahan yang ada. Salah satu tehnik atau metode pengumpulan data atau fakta adalah studi kasus.

Pada praktiknya studi kasus diselenggarakan melalui cara-cara yang bervariasi, seperti analisis laporan sesaat (anecdotal report), otobiografi klien, deskripsi tentang tingkah laku, perkembangan klien dari waktu ke waktu (case history), himpunan data (cummulative records), konferensi kasus (case conference).

Dalam lembaga pendidikan formal tentu mengacu pada adanya tujuan dari pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan peserta didikanya secara optimal dan mengubah perilaku pserta didik dari hal-hal yang negatif menjadi positif, setiap pihak atau personil disebuah sekolah hampir semuanya mengharapkan para peserta didiknya mampu belajar dengan baik dan hasil dari belajar itulah yang mampu mengubah tingkah laku siswa. Permasalahan yang terjadi dikalangan siswa memang tidak didambakan, dibeberapa media baik itu cetak maupun elektronik kadang kita sering membaca dan mendengar adanya debuah permasalahan yang terjadi dan pelakunya tidak lain adalah

(4)

siswa. Memang kita sangat berharap hal-hal seperti itu tidak didambakan tapi entah bagaimana sehingga perkelahian, pengeroyokan serta penganiayaan sesama siswa itu kerap terjadi dan hal itu sudah merupakan hal yang sudah tidak lasim lagi dengan kita.

Oleh karena itu dari segi permasalahan yang terjadi di sekolah ini perlu antisipasi untuk mengurangi permasalahan yang terjadi di kalangan siswa karena jika tidak diantisipasi maka dalam dunia pendidikan itu hanya bisa dikategorikan oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang tidak mengfungsikan tanggung jawabnya sebagai pendidik dan juga tidak profesional dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Untuk itu diharapkan kepada para personil sekolah atau yang berwenang dalam sekolah agar dapat mengatasi atau memecahkan masalah-masalah yang dihadapi yang terjadi di sekolah dengan harapan agar para siswa juga bisa terbentuk kepribadiannya dengan baik.

Untuk itu penulis melaksanakan studi kasus ini dengan maksud untuk mencari penyebab perilaku yang menyimpang dan hal itu untuk membantu konseli atau siswa untuk memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan perkelahiahan dan menggangu siswa yang lain khusunya dalam pelajaran.

B. Tujuan

Tujuan dari kegiatan studi kasus pada permasalahan atau masalah yang sedang dihadapi oleh peserta didik ini antara lain adalah untuk mengetahui masalah apa yang sedang ada dalam diri peserta didik. Selanjutnya adalah untuk membantu mencari solusi dan jalan keluar terhadap masalah yang sedang ada pada peserta didik melalui konselor, orang orang sekitar dan juga lingkungan sekitar.

Pelaksanaan studi kasus ini dilaksanakan dalam usaha untuk menguasai pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam memberikan layanan konseling secara individual serta pembuatan laporan studi kasus. Dengan menjunjung tinggi kode etik yang dipegang teguh oleh petugas bimbingan dalam menjalankan tugasnya adalah menjaga kerahasiaan konseli terutama masalah-masalah yang dihadapinya. Segala sesuatu yang dikemukakan oleh konseli akan dirahasiakan oleh konselor.

(5)

Dari wujud laporan ini sama sekali tidak bermaksud membeberkan rahasia atau masalah konseli. Namun, jika dalam uraian nanti terdapat kesamaan masalah yang didapati penulis kiranya hal demikian dapat dianggap sebagai hal yang terjadi kebetulan. Segala data atau informasi yang menyangkut pribadi konseli akan dijamin kerahasiaannya dalam hal ini laporan studi kasus ini hanya akan diberikan kepada yang berwenang saja atau pihak yang berwenang dalam laporan studi kasus ini.

C. Manfaat

Manfaat dari adanya studi kasus yang ada pada peserta didik tentang masalah atau keluhan apa yang sedang mereka alami diantaranya adalah untuk memberikan layaanan dan bantuan dengan sepenuhnya kepada peserta didik, dan agar supaya peesrta didik tidak terus terusan berada pada masalah yang dialaminya.

D. Ruang Lingkup

Studi kasus masuk dalam ruang lingkup Bimbingan dan Konseling sebagai lanjutan dari tahapan pelayanan bimbingan dari guru Bimbingan Konseling kepada peserta didik yang mengalami kendala. Studi kasus di lakukan secara lebih mendalam, bersangkutan dan berbagai pihak dan partisipan. Salah satu permasalahannya adalah permasalahan yang dialami oleh peserta didik yaitu dalam menerima diri dan mengembangkan secara efektif, meliputi: Kurang merasa bangga dengan keadaan diri sendiri, konsep diri yang negatif, dan lain sebagainya. Permasalahan ini adalah masalah yang sangat sering sekali terjadi pada anak usia sekolah yang mana mereka masih berada pada masa masa yang membutuhkan banyak arahan dan dampingan. Masalah ini termasuk kedalam permasalahan pribadi yang dialami peserta didik.

Selain itu kita juga melakukan sebuah pengkajian dengan beberapa tahapan untuk memberikan gambaran terhadap masalah yang misal dengan memberika diagnosis, sintesis dan yang lainnya. Selain itu juga mengetahui berbagai faktor-faktor pendorong penyebab permasalahan yang dialami subyek

(6)

peserta didik tersebut. Dan ranah bahasan yang utama adalah cara dalam memberikan penganganan terhadap subyek

(7)

BAB II PELAKSANAAN

A. Studi Kasus

Dalam hal ini saya memilih mendalami permasalahan yang dialami oleh peserta didik yaitu dalam menerima diri dan mengembangkan secara efektif, meliputi: Kurang merasa bangga dengan keadaan diri sendiri, konsep diri yang negatif, dan lain sebagainya.

Pada usia remaja di sekolah sebagai seorang peserta didik yang sedang berkembang berusaha untuk mencapai taraf perkembangan pribadi dalam berbagai aspek kehidupan. Symonds (dalam Agustiani, 2006:143) menyatakan bahwa persepsi tentang diri tidak langsung muncul pada saat individu dilahirkan, melainkan berkembang secara bertahap seiring dengan munculnya kemampuan perseptif. Konsep diri penting artinya karena peserta didik dapat memandang diri dan dunianya, tidak hanya mempengaruhi perilaku peserta didik, tetapi juga tingkat kepuasan yang diperoleh dalam hidupnya.

Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Mulyana (2000:7) bahwa konsep diri itu penting adanya agar individu dapat mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, dan informasi tersebut diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada dirinya. Setiap peserta didik pasti memiliki konsep diri, baik positif atau negatif. Peserta didik yang memiliki konsep diri positif ia akan memiliki dorongan mandiri lebih baik, dapat mengenal serta memahami dirinya sendiri sehingga dapat berperilaku efektif dalam berbagai situasi. Sependapat dengan apa yang dikemukakan menurut Rakhmat (2007:104) menyatakan bahwa individu yang memiliki konsep diri positif ia akan mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik, memiliki keyakinan pada kemampuannya mengatasi persoalan, merasa sama dengan orang lain, serta sanggup menerima dirinya sendiri. Sedangkan peserta didik yang memiliki konsep diri negatif ia akan memandang dan meyakini bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidupnya sendiri.

(8)

Dalam hal ini saya mengambil contoh bahwa kekurangan fisik menjadi salah satu faktor penyebab peserta didik di sekolah memiliki konsep diri yang negatif. Selain itu perilaku seperti tidak percaya diri, cenderung menyalahkan takdir Tuhan, dan faktor intelektual yang kurang memahami pelajaran juga menjadi faktor pemicu timbulnya konsep diri negatif peserta didik. Jika tidak segera ditangani kasus tersebut secara cepat dan efektif, maka akan berdampak lebih buruk bagi psikologis peserta didik. Jika masalah tersebut bertambah parah, kemungkinan peserta didik untuk membolos atau bahkan berhenti dari dunia pendidikan bisa saja terjadi. Hal ini akan mengakibatkan suramnya masa depan peserta didik karena harus putus sekolah. Oleh sebab itu, saya tertarik untuk melakukan studi kasus terhadap kasus peserta didik yang mengalami kesulitan tentang memahami konsep dirinya.

1. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah adalah upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi oleh peserta didik.

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap identifikasi masalah yaitu peneliti mengenal kasus atau masalah serta gejala- gejala yang nampak pada peserta didik yangm memiliki konsep diri negatif dengan mengamati karakteristik peserta didik menggunakan teknik observasi dengan alat pengumpul datanya panduan observasi. Salah satu cara untuk memudahkan dalam menyatakan identifikasi masalah adalah dengan mengetahui secara jelas apa yang dihadapi. Dalam identifikasi masalah konselor berupaya menentukan hakikat masalah yang dihadapi konseli dan mengambil suatu kesimpulan dengan menggunakan klasifikasi masalah.

▪ Identitas Individu Nama Inisial : HZ

TTL : Sukoharjo, 25 Mei 2005

Umur : 19 tahun

Anak ke : 3 dari 3 bersaudara

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Minat : Masak, menonton anime, menonton drama korea

(9)

Motivasi : Kesehatan : Sehat

▪ Mengenali Gejala yang muncul

→ Peka terhadap kritik. Kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dari orang lain sebagai proses refleksi diri.

→ Bersikap responsif terhadap pujian. Bersikap yang berlebihan terhadap tindakan yang telah dilakukan, sehingga merasa segala tindakannya perlu mendapat penghargaan.

→ Cenderung merasa tidak disukai orang lain. Perasaan subyektif bahwa setiap orang lain disekitarnya memandang dirinya dengan negatif.

→ Mempunyai sikap hiperkritik. Suka melakukan kritik negatif secara berlebihan terhadap orang lain.

→ Mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya. Merasa kurang mampu dalam berinteraksi dengan orang-orang lain.

2. Analisis

Langkah pengumpulan informasi tentang diri peserta didik beserta latar belakanganya. Informasi atau data yang dikumpulkan mencakup segala aspek kepribadian, seperti kemampuan, minat, motivasi, kesehatan fisik, dan karakteristik lainnya. Tujuan analisis yaitu untuk mengetahui secara mendalam dan luas tentang masalah yang dihadapi oleh peserta didik serta untuk memberikan bantuan yang tepat pada peserta didik. Pada tahap analisis data dikumpulkan secara mendalam dan disajikan dalam bentuk yang terorganisir.

(10)

Maka dapat diperoleh dalam tahap analisis bahwa hubungan peserta didik dengan keluarganya baik. peserta didik dekat dengan kedua orang tuanya. peserta didik selalu melakukan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Dalam keluarganya peserta didik dikenal anak yang sopan, ramah dan penurut.. Hubungan peserta didik dengan guru bahwa peserta didik ini tidak pernah melawan guru apalagi menantang guru. Saat berada di sekolah peserta didik , selalu menyapa guru jika ada yang melewati depannya. peserta didik tidak bermasalah dengan guru-guru yang ada disekolah.

ANF merupakan mahasiswa semester 4 di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kesehariannya ANF gemar memasak, bermain di pantai menikmati udara sejuknya dan suara khas ombak pantai, menonton anime, dan juga menonton drakor. ANF bahwa dalam kekurangan fisik menjadi salah satu faktor penyebab peserta didik di sekolah memiliki konsep diri yang negatif. Selain itu perilaku seperti tidak percaya diri, cenderung menyalahkan takdir Tuhan, dan faktor intelektual yang kurang memahami pelajaran juga menjadi faktor pemicu timbulnya konsep diri negatif peserta didik

3. Sintesis

Usaha untuk merangkum, menggolong-golongkan, dan menghubung-hubungkan data yang telah terkumpul sehingga menunjukkan keseluruhan gambaran tentang diri peserta didik. Untuk diperoleh pemahaman secara keseluruhan tentang siapa diri peserta didik sebenarnya, serta gambaran masalah apa yang dihadapi peserta didik.

Menyimpulkan bahwa peserta didik mengalami masalah.

Dalam tahap sintesis tersebut dapat disimpulkan peserta didik mengalami masalah dilihat dari:

▪ Faktor psikologis adalah keadaan psikologis subyek kasus yang mempengaruhi konsep dirinya. Fikar Evhy (2014), menyatakan bahwa faktor psikologis yang mempengaruhi konsep diri negatif siswi diantaranya pikiran, perasaan, dan emosi. Faktor psikologis yang

(11)

mempengaruhi konsep diri negatif peserta didik diantaranya pikiran, perasaan, dan emosi.

▪ Faktor sosiologis adalah faktor yang berhubungan dengan hubungan subyek kasus terhadap lingkungan interaksi sosialnya. Dari studi kasus yang saya mabil bahwa peserta didik merupakan anak yang tidak terlalu aktif dalam hubungan sosial dengan teman sekolahnya. Di dalam kelas saja peserta didik duduk di bangku sendirian, ia juga termasuk anak yang cenderung pendiam dalam berkomunikasi.

Meskipun kurang aktif dalam bidang sosial namun ia memiliki beberapa teman yang ia kenal baik.

4. Diagnosis

Langkah diagnosis dilakukan dengan menetapkan masalah peserta didik yang memiliki konsep diri negatif berdasarkan temuan analisis dari identifikasi yang menjadi penyebab timbulnya masalah.

Diagnosis merupakan langkah untuk mencari faktor- faktor yang menjadi penyebab dari masalah yang sedang dihadapi oleh peserta didik . Berdasarkan pengamatan yang diperoleh dari hasil identifikasi, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi penyebab peserta didik memiliki konsep diri yang negatif disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:

▪ peserta didik tidak memahami dirinya secara keseluruhan sehingga peserta didik minder dengan keadaannya.

peserta didik menganggap teman sekelasnya tidak menyukai dia sehingga tidak percaya diri karena dari keluarga kurang mampu dan menarik diri dari pegaulan dengan semua teman-temannya.

5. Prognosis

Setelah menetapkan masalah peserta didik yang memiliki konsep diri negatif tersebut, maka direncakanlah alternatif bantuan yang tepat untuk diberikan kepada peserta didik sesuai dengan permasalahan yang dialami. Alternatif bantuan yang direncanakan dan ditetapkan kepada

(12)

peserta didik yaitu dengan menggunakan pendekatan konseling REBT dengan teknik menyerang rasa malu. Dan juga dengan menggunakan pendekatan model konseling Terapi Rasional Emotif untuk mengubah pemikiran peserta didik yang irasional menjadi rasianoal dan Behavioral untuk memperbaiki tingkah laku peserta didik yang salah. Teknik yang digunakan adalah teknik konfrontasi, teknik didaktik, pengondisian operan dengan metode penguatan positif, dan teknik pemberian tugas.

6. Treatment

Langkah yang dilakukan dengan merealisasikan alternatif bantuan berdasarkan masalah dan latar belakang yang menjadi penyebab. Pada langkah ini dilaksanakanlah teknik menyerang rasa malu pada peserta didik.

Langkah yang harus disiapkan oleh peserta didik hanyalah menyiapkan diri dan mentalnya sesiapkan mungkin. Sebelum teknik dilaksanakan, konselor bertanya terlebih dulu kepada peserta didik tentang hal apakah yang membuatnya merasa minder jika berada di lingkungan sekolah atau di dalam kelasnya. peserta didik memberikan jawaban bahwa yang membuatnya selalu merasa minder dan tidak nyaman apabila berada di sekolah yaitu ia sangat malu ketika berusaha untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Setiap peserta didik akan berbicara dengan teman-temannya, peserta didik merasa bahwa teman-temannya tersebut seperti mengacuhkan dirinya.

Hal tersebutlah yang membuat peserta didik menjadi anak yang lebih menyukai kesendirian dan menjadi anak yang cenderung pendiam. Ia berpikir bahwa teman-temannya seolah tidak menginginkan kehadiran dirinya dan membuat peserta didik merasa takut untuk mencoba berkomunikasi kembali dengan teman sekolahnya. Dari pernyataan yang dijelaskan oleh peserta didik , peneliti kemudian mengarahkan peserta didik untuk berusaha kembali melawan ketakutannya berkomunikasi dengan teman sebayanya itu. Dengan membuat peserta didik memperkenalkan dirinya kepada temantemannya baik di dalam kelas

(13)

maupun di luar kelas, kemudian mengatakan bahwa siapa dirinya, menceritakan hobi yang peserta didik senangi kepada mereka, dan memberitahu mengenai kelebihan dan kekurangan dirinya tersebut.

7. Follow Up

Setelah diperoleh hasil dari tahap treatme nyang didapat, maka dilakukan langkah follow up untuk melihat perkembangan selanjutnya dari diri peserta didik tersebut dalam jangka waktu yang lebih jauh agar peserta didik dapat mengalami perubahan diri dan karakternya secara optimal dengan bekerjasama dengan masing- masing pihak yang terkait dengan peserta didik seperti wali kelas, guru mata pelajaran, dan orangtua peserta didik.

Peserta didik akan tetap mempertahankan perubahan yang sudah ada, dan kedepannya peserta didik akan terus bersikap untuk lebih aktif di dalam kelas baik itu saat sedang menerima pelajaran kelompok ataupun individu, ataupun saat sedang berkomunikasi dengan teman-teman. Dan yang terpenting bagi peserta didik sendiri akan selalu tetap bersyukur untuk menerima kekurangan diri apa adanya. Berkerjasama dengan wali kelas guna untuk memonitor perkembangan dan perubahan-perubahan pada diri peserta didik agar tetap bertahan. Serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi kemampuan minat dan bakat yang ia miliki. Berkerjasama dengan guru mata pelajaran untuk melihat perkembangan dan perubahan-perubahan yang ada pada diri peserta didik agar tetap terpelihara ke kondisi yang positif.

Selain itu melibatkan peserta didik dalam diskusi kelompok yang lebih terlaksana dengan sering agar peserta didik bisa dapat lebih aktif dalam mengemukakan pendapat yang ada dipikirannya supaya peserta didik bisa lebih aktif lagi di kelas. Bekerjasama dengan orang tua, agar orang tua tetap memantau perubahan dan perkembangan anaknya. Dengan memberikan pujian dan hadiah pada diri anak supaya perubahannya tetap bertahan dan selalu senantiasa memberikan dukungan dalam berbagai hal kepadanya agar tetap semangat.

(14)

Jadi pada dasarnya masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki dewasa. Pada akhir masa remaja, seorang siswi jiwanya sudah tidak mudah terpengaruh serta sudah mampu untuk memilih dan menyeleksi. Siswi juga mulai belajar bertanggung jawab pada dirinya, keluarga, dan lingkungan, mulai sadar akan dirinya sendiri dan tidak mau diperlakukan seperti anak-anak lagi.

Proses perkembangan dapat membantu terbentuknya konsep diri pada siswi yang bersangkutan. Hal ini karena perkembangan konsep diri merupakan suatu proses yang terus berlanjut di sepanjang kehidupan manusia.

Calhoun dan Acocella, 1990 (dalam Saifullah, 2016:206) menyatakan bahwa ada dua tipe individu yang memiliki konsep diri negatif, yaitu:

1) Pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau yang dihargai dalam kehidupannya.

2) Pandangan tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan teratur. Ini bisa terjadi karena individu dididik dengan cara yang sangat keras sehingga menciptakan perilaku yang kurang baik. Untuk mengatasi masalah peserta didik ini maka Guru Bimbingan dan Konseling merupakan salah satu pendidik di sekolah yang harus berperan aktif dalam mengembangkan konsep diri positif peserta didik, serta mengubah konsep diri negatif tersebut menjadi konsep diri yang positif demi perkembangan diri peserta didik yang lebih baik.

B. Kendala, Hambatan, dan Solusi

Dalam menyusun tugas ini, kendala yang saya hadapi adalah saya merasa kesulitan dalam mencari siswa yang mengalami masalah sesuai dengan permasalahan yang saya angkat di tugas studi kasus di bidang sebelumnya, dalam hal ini saya merasa kesulitan karena tidak mempunyai kontak atau

(15)

nomer yang dapat dihubungi baik di tingkat Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. Jadi solusinya adalah saya menggunakan diri saya sendiri sebagai subjek dalam studi kasus tersebut.

(16)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Pada usia remaja di sekolah sebagai seorang peserta didik yang sedang berkembang berusaha untuk mencapai taraf perkembangan pribadi dalam berbagai aspek kehidupan. Symonds (dalam Agustiani, 2006:143) menyatakan bahwa persepsi tentang diri tidak langsung muncul pada saat individu dilahirkan, melainkan berkembang secara bertahap seiring dengan munculnya kemampuan perseptif. Konsep diri penting artinya karena peserta didik dapat memandang diri dan dunianya, tidak hanya mempengaruhi perilaku peserta didik, tetapi juga tingkat kepuasan yang diperoleh dalam hidupnya.

Dalam hal ini saya mengambil contoh bahwa kekurangan fisik menjadi salah satu faktor penyebab peserta didik di sekolah memiliki konsep diri yang negatif. Selain itu perilaku seperti tidak percaya diri, cenderung menyalahkan takdir Tuhan, dan faktor intelektual yang kurang memahami pelajaran juga menjadi faktor pemicu timbulnya konsep diri negatif peserta didik. Jika tidak segera ditangani kasus tersebut secara cepat dan efektif, maka akan berdampak lebih buruk bagi psikologis peserta didik. Jika masalah tersebut bertambah parah, kemungkinan peserta didik untuk membolos atau bahkan berhenti dari dunia pendidikan bisa saja terjadi. Hal ini akan mengakibatkan suramnya masa depan peserta didik karena harus putus sekolah. Oleh sebab itu, saya tertarik untuk melakukan studi kasus terhadap kasus peserta didik yang mengalami kesulitan tentang memahami konsep dirinya.

B. Saran

Demikian makalah ini saya susun. Semoga apa yang telah kami uraikan diatas mengenai masalah peserta didik dengan masalah kesulitan dalam mengambil keputusan dapat memberi manfaat kepada kita semua. Dan kami menyadari sebagai manusia biasa memang tidak luput dari kesalahan tidak terkecuali dengan makalah yang kami buat. Untuk itu, kritik dan saran

(17)

yang membangun sangat kami harapkan demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua. Amiiin. Dalam melaksanakan studi kasus terhadap peserta didik, sebaiknya dilakukan dengan rentang waktu yang lebih lama, agar supaya pengamat dapat mengetahui dengan rinci dan jelas baik itu dari identitas, kebiasaan serta perkembangan peserta didik.

(18)

Daftar Pustaka

Abu Ahmadi. 1991. Bimbingan dn Konseling di sekolah. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Achmad Jutika Nurihsan. 2016. Bimbingan & Konseling Bandung : PT Rafika Aditama.

Dewa Ketut Sukardi. 2010. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Ketut, D dan Made, D. 1990. Pedoman Praktis Bimbingan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Nayak, A. 1997. Guidance and Counseling. New Delhi: Aph Publishing Corporation.

Nurihsan, J. 2003. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Mutiara.

Prayitno. 1987. Profesional Konseling dan Pendidikan Konselor. Padang: FIP IKIP.

Surya, M. 1988. Dasar-dasar Penyuluhan Konseling. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti PPLPTK .

Tohrin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta:Kharisma Putra Utama Offset.

Winkel, W. S. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta:

Gramedia.

(19)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan: (1) hampir semua peserta didik kelas XI SMA Negeri 18 Bandung memiliki konsep diri positif artinya peserta didik memiliki penilaian

Dari hasil analisis yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa perbedaan pengaruh disebabkan karena pembelajaran dengan teknik mind maps memberikan pengaruh peserta

Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya beberapa peserta didik yang mempunyai persepsi negatif terhadap guru BK. Sebagian merasa takut dengan guru BK. Sikap tegas

Islamic boarding school merupakan salah satu bentuk recovery model pendidikan akhlak pada peserta didik yang menjadi salah satu solusi jitu dengan konsep program yang ditawarkan

Terlihat pada peserta didik yang duduk dikelas besar yaitu (4,5, dan 6). Rendahnya hasil belajar yang diperoleh disebabkan karena peserta didik tidak pokus saat pembelajaran

peserta didik tersebut baik.Sebaliknya peserta didik yang memiliki tingkat berpikir kritis rendah pemahaman konsep yang dicapainya pun rendah. Analisis korelasi

Dari identifikasi yang dilakukan dengan memberikan angket kuesioner, diperoleh hasil bahwa penyebab dari kurangnya minat membuat PTK bukan dari ketidakpahaman

Diagnosis Berdasarkan identifikasi data yang telah diperoleh, maka dapat ditetapkan bahwa faktor penyebab rendahnya prestasi belajar konseli yaitu sebagai berikut : a Faktor yang