BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Veruka vulgaris adalah papul verukosa yang disebabkan oleh infeksi virus human papilloma virus (HPV).1 Veruka vulgaris merupakan infeksi pada kulit disebabkan oleh Human papillomavirus (HPV) yang mengenai sel keratinosit pada lapisan basal epidermis. Gambaran veruka vulgaris ditandai dengan proliferasi epitel jinak berupa papul atau plak hiperkeratotik sewarna kulit atau keabuan yang dapat asimptomatik namun terkadang terasa gatal atau nyeri. Hal ini akan memberikan rasa tidak nyaman pada pasien.2
3.2 Epidemiologi
Veruka vulgaris dapat timbul pada segala usia, tetapi jarang pada bayi dan anak kecil. Kelainan meningkat selama umur sekolah dan menurun setelah umur 20 tahun.1,2 Insiden veruka vulgaris tersebar luas di seluruh dunia dan diperkirakan terjadi pada 3-33% dari seluruh populasi dunia. Angka kejadian terbanyak pada anak usia sekolah dan mencapai puncaknya pada masa remaja sampai dewasa muda.
Frekuensi kejadian sama antara laki-laki dan perempuan.3
3.3 Etiopatogenesis
Penyebab terutama HPV 2, tetapi dapat juga HPV 1 dan 4. dapat menyebar karena autoinokulasi dan dalam masa 2 tahun 65% dapat menghilang spontan.3
HPV tidak bertunas dari inti sel atau membran plasma, seperti halnya virus lain yakni virus herpes simpleks atau human immnodeficiency virus (HIV). Oleh
karena itu, virus ini tidak memiliki selubung lipoprotein yang dapat menyebabkan kerentanan terhadap inaktivasi yang cepat oleh kondisi lingkungan seperti pembekuan, pemanasan, atau dehidrasi dengan alkohol. Namun paparan virion dengan formalin, deterjen yang kuat seperti sodium dodesil sulfat, atau suhu tinggi yang berkepanjangan mengurangi efektivitasnya. HPV dapat tetap infeksius selama bertahun-tahun ketika disimpan di gliserol dalam temperatur ruangan. HPV akan memblok differensiasi akhir dan menstimulasi pembelahan sel untuk pembentukkan enzim-enzim dan kofaktor yang penting untuk replikasi DNA virus. Proliferasi keratinosit yang sebagian mengalami keratonisasi akan melindungi virus ini dari eliminasi oleh sistem imun. Lesi ini bisa sporadik, rekuren, atau persisten4
3.4 Manifestasi Klinis
Pemeriksaan klinis menunjukkan papul padat verukosa, keratotik, dengan ukuran beberapa mm sampai dengan 1 cm, dan bila berkonfluensi, dapat menjadi lebih besar. Lokasi dapat di mana saja tetapi sering di punggung, tangan, dan jari tangan. Biasanya asimtomatik, tetapi dapat nyeri bila tumbuh di palmar atau plantar dan merusak kuku bila tumbuh pada lipatan atau bawah kuku. Pada anak-anak, dapat di wajah dan leher.3 Plantar wart atau veruka vulgaris terjadi pada telapak kaki. Kutil ini dapat tumbuh lebih dalam dan bentuk ini dikenal sebagai myrmecia yang disebabkan oleh HPV 1 dengan gejala klinis yang sangat nyeri. Apabila kutil tumbuh kearah superfisial akan membentuk plak hiperkeratotik yang disebut sebagai kutil mosaik dengan rasa nyeri yang tidak menonjol dan biasanya disebabkan oleh HPV 2.2,5
Gambar 1. Veruka vulgaris5 3.5 Diagnosis
Diagnosis veruka vulgaris dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan anamnesis tentang riwayat penyakit dan papul yang membesar secara perlahan. Lesi veruka vulgaris yang khas sehingga jarang membutuhkan pemeriksaan histopatologi.
Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada kasus - kasus yang memerlukan konfirmasi.
Selain histopatologi, jika diagnosis veruka vulgaris meragukan, dapat dilakukan pemotongan sedikit permukaan lesi veruka vulgaris dilihat karakteristik berupa bintik hitam yang merupakan gambaran dari trombosis kapiler. Hal yang paling penting untuk diperhatikan pada kelainan ini, yakni tidak adanya garis kulit pada permukaan lesi, terjadinya kapiler trombosis (bintik hitam), dan perdarahan dari kutil saat dicukur.1,4
3.6 Diagnosis Banding
Diagnosis banding ialah keratosis seboroik, tetapi keratosis seboroik lebih hiperpigmentasi. Diagnosis banding lain ialah nevus verukosus, biasanya tersusun linier dan ada sejak bayi.4
a. Keratitis seboroik
Keratosis seboroik merupakan sebuah lesi atau tumor kulit jinak yang terjadi karena proliferasi keratinosit epidermis, umumnya terjadi pada orang usia paruh baya atau lanjut usia dan memiliki predisposisi bawaan, dengan etiologi yang belum diketahui. Lesi pada awalnya berbentuk makula datar berwarna coklat dengan batas tegas, kemudian perlahan- lahan menjadi papula berminyak dengan permukaan mirip veruka dan tampak seperti menempel pada kulit. Warnanya berkisar antara coklat terang dengan bagian-bagian berwarna pink, coklat gelap atau hitam6
Gambar 2. Keratitis Seboroik8 b. Nevus verukosus
Nevus verukosus adalah hamartoma epidermis dan papilla dermis yang ada saat lahir atau biasanya muncul dalam tahun pertama kehidupan.
Kadang nevus verukosus mungkin tidak dikenali sampai masa kanak- kanak dan biasanya didiagnosis dengan gambaran klinis yang khas dan riwayat pendukungnya. Nevus verukosus muncul sebagai plak tunggal yang linier, atau tersusun dari papul yang berbatas tegas, diskret atau konfluens yang hiperpigmentasi dan mengikuti garis blaschko. Nevus verukosus mungkin akan terlihat berwarna putih pucat tepat setelah persalinan. Lesi menjadi menebal, lebih gelap, dan lebih berbentuk seperti kutil seiring dengan berjalannya waktu.1,4
Gambar 3. Nervus verukosus9 3.7 Tatalaksana
Tujuan dari penatalaksanaan veruka vulgaris adalah untuk mengobati ketidaknyamanan pasien baik fisik maupun psikologis dan untuk mencegah penyebaran infeksi. Nyeri, ketidaknyamanan, resiko terjadinya jaringan parut, dan keuntungan serta kerugian bagi pasien harus dipertimbangkan. Indikasi dilakukannya pengobatan pada veruka berdasarkan The American Academy of Dermatology Committe and Guidelines of Care adalah keinginan pasien untuk di obati, terdapat gejala berupa nyeri, berdarah, gatal atau rasa terbakar, lesi yang mengganggu secara kosmetik maupun fungsi, lesi banyak atau besar, pasien ingin mencegah penularan veruka kepada dirinya sendiri atau orang lain dan keadaan pasien imunosupresif.10
Pengobatan yang ideal sebaiknya dapat mengeliminasi lesi veruka tanpa rasa nyeri, pengobatan dapat diselesaikan dalam 1-3 kali pengobatan, tidak menimbulkan parut, dapat mencegah timbulnya kekambuhan dan dapat diaplikasikan pada seluruh pasien. Kebanyakan pengobatan veruka vulgaris secara dekstruksi fisik sel yang terinfeksi. Ada beberapa modalitas pengobatan veruka di kulit yang dapat dipilih, mulai dari pengobatan topikal, pengobatan bedah, pengobatan sistemik, hipnoterapi dan pengobatan dengan agen imunosupresif.10
a. Non medikamentosa:
menjaga higiene perorangan supaya tidak tertular, misalnya dengan menghindari kontak langsung.1,3 Informasikan kepada pasien adanya resiko penularan kutil. Hal ini termasuk trauma atau maserasi pada kulit, terutama pada pekerjaan yang berhubungan dengan air, hiperhidrosis kaki, kolam renang, dan kebiasaan mengigit kuku. Tukang daging dan pekerja rumah jagal juga beresiko tinggi terkena kutil.
Informasikan juga bahwa beberapa kutil mungkin memerlukan perawatan dan mungkin resisten terhadap beberapa modalitas pengobatan. Selain itu, kutil dapat mengalami regresi spontan tanpa pengobatan.3
b. Medikamentosa:
destruksi dengan bedah listrik, bedah beku, bedah laser, destruksi dengan bahan keratolitik, kaustik, atau lainnya secara topikal, misalnya asidum salisilikum 25-50%, triklorasetat 25%, fenol liquefaktum. Bahan topikal lain yang dapat digunakan adalah kantaridin, imiquimod, 5 fluorourasil. Terapi intralesi dapat menggunakan: bleomisin dan interferon.1
i. Terapi destruktif - Asam salisilat
Asam salisilat adalah terapi lini pertama yang digunakan untuk mengobati penyakit ini. Asam salisilat juga dapat tersedia tanpa harus menggunakan resep dan bisa diaplikasikan oleh pasien di rumah dengan tingkat penyembuhan sekitar 70 – 80%. Penelitian dengan uji acak kontrol yang membandingkan penggunaan asam salisilat dan krioterapi menunjukkan efikasi yang sama. Disamping itu penggunaan asam salisilat juga lebih murah jika dibandingkan dengan krioterapi10,11
- Fenol
Fenol merupakan agen kautik, menimbulkan krusta putih pada permukaan kulit dan dapat berpenetrasi ke jaringan. Belum ada dosis toksik yang pasti untuk fenol, namun diperkirakan mengonsumsi 8-15 gram fenol dapat
menyebabkan kematian dan apabila hanya dibutuhkan 1 gram fenol dalam darah untuk menyebabkan kematian. Tanda – tanda dari keracunan fenol dapat berupa takhikardi, hipotensi, aritmia, diare, mual, muntah, takhipnoe dan henti napas.10,11
- Asam glikolat
Asam glikolat tidak menimbulkan jaringan parut namun resolusi spontan mungkin terjadi, terutama pada kasus yang tidak sembuh setelah penggunaan selama 4 bulan. Kombinasi asam glikolat 15% dan asam salisilat 2%
menunjukkan tingkat kesembuhan yang mencapai 100% dalam 8 minggu.11
ii. Agen antiproliferative - Podofilin
Obat ini mengganggu proses mitosis sel dan mempengaruhi kutil beserta kulit normal. Podofilin memiliki efek yang berbahaya apabila digunakan dalam konsentrasi tinggi dan dikontraindikasikan pada pasien yang hamil karena potensi dari obat ini bisa berubah-ubah. Selain itu, dapat terjadi reaksi inflamasi yang bisa sangat menyakitkan.11
- 5-flourouracil
Penggunaan 5-Fluorouracil (5-FU) secara topikal dapat memblok sintesis DNA dan mengganggu pemisahan basal sel. Efek sampingnya berupa peradangan, erosi, hiperpigmentasi, hipopigmentasi apabila digunakan dalam jangka waktu Panjang.11
- Retinoid
Retinoid topikal mempengaruhi proliferasi dan diferensiasi epidermal sehingga mengurangi volume kutil. Efek samping dari penggunaannya dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan iritasi yang memicu reaksi inflamasi11
Table 1. Tabel Anjuran Terapi pada Veruka Vulgaris12
c. Pembedahan 11 - Laser
Pulsed dye laser (PDL) bekerja dengan cara menghancukan pembuluh darah yang memvaskularisasi kutil pada 585 – 595 nm. Efek termal secara langsung mempengaruhi virus HP.
- Elektrodesikasi disertai kuretase
Elektrodesikasi adalah salah satu bagian dari bedah listrik. Pada elektrodesikasi elektroda aktif bersentuhan pada kulit untuk menghancurkan jaringan. Jaringan mengalami kehancuran karena panas yang diterimanya mengakibatkan jaringan kehilangan air, menjadi kering dan menyebabkan kerusakan serta kematian jaringan. Besarnya tingkat kerusakan tergantung pada lamanya waktu elektroda bersentuhan dengan kulit. Elektrodesikasi disertai kuretase mengindikasikan elektrodesikasi sebagai komponen penghancur lesi yang utama, dan kuretase untuk mengangkat lesi yang telah didesikasi serta mendeteksi adanya bagian lesi yang masih memerlukan desikasi lagi. Setelah elektrodesikasi disertai kuretase selesai dilakukan luka dibersihkan kemudian diberi antibiotik topikal 2 kali sehari. Membiarkan luka terbuka berhubungan dengan hasil penyembuhan yang baik. Nyeri yang dirasakan dengan tindakan ini minimal dan dapat diatasi dengan analgetik.
Penyembuhan luka terjadi dalam waktu 2 – 4 minggu11
3.8 Prognosis
Bila destruksi baik, tidak terjadi rekurensi. Akan tetapi, dapat juga terjadi infeksi berulang atau regresi spontan.2 Kutil adalah suatu penyakit yang tidak berbahaya dan dapat regresi dalam waktu 2 tahun. Kutil disekitar dan dibawah kuku lebih sulit untuk disembuhkan daripada kutil ditempat lain. Kutil dapat kembali setelah pengobatan meskipun tampaknya telah sembuh. Bekas luka kecil dapat juga terbentuk setelah pengobatan kutil.7
3.9 Komplikasi
Efek samping dapat timbul walaupun setelah pengobatan yang berupa nyeri, kulit melepuh, dan iritasi kulit disekitar kutil. Pengobatan kutil jarang menyebabkan jaringan parut dan infeksi. Terkadang sulit mengobati kutil pada orang dengan sistem imun yang lemah, seperti pada penderita human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Veruka vulgaris juga dapat menimbulkan efek psikologis dalam hal kepercayaan diri, terlebih jika kutil ini menutupi sebagian besar dari permukaan kulit. Penyakit ini tidak berbahaya pada orang dengan sistem imun yang baik, dan sangat jarang berubah menjadi suatu keganasan. Lain halnya pada orang dengan sistem imun yang lemah, memiliki resiko yang lebih tinggi untuk berkembang kearah keganasan.7
BAB IV KESIMPULAN
Veruka vulgaris merupakan kelainan kulit berupa proliferasi jinak epitel skuamous yang menimbulkan lesi berupa papul verukosa. Penyebab penyakit ini
adalah virus human papilloma virus (HPV) yaitu virus DNA dengan karakteristik replikasi terjadi pada inti sel. Penegakkan diagnosis veruka vulgaris dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik berupa melihat efloresensi status lokalis, dan bila diperlukan dengan pemeriksaan penunjang. Pe natalaksaan penyakit ini dapat berupa pengobatan topikal, pengobatan bedah, pengobatan sistemik, dan pengobatan dengan agen imunosupresif, serta edukasi mengenai penyakit ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Menaldi SLSW, Bramono K, Indriatmi W. Ilmu penyakit kulit dan kelamin;
edisi ke-7. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2016.h.131-2
2. Tampi PGI, Mawu FO, Niode NJ. Profil veruka vulgaris di poliklinik kulit dan kelamin RSUP prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2013. E-Clinic. 2016;4(1):312-7
3. Nadjar M, Anwar AI, Wahab S. Hubungan keratosis seboroik dengan penyakit kulit lain. Medicinus. 2015;28(2):38-42
4. Epidermal Nevus, including Inflammatory Linear Verrucous Epidermal Nevus (Nevus Verrucosus, Dermatitic Epidermal Nevus). Diunduh dari:
http://www. clinicaladvisor.com/ dermatology/epidermal-nevus-including- inflammatory-linear - verrucous - epidermal – nevus – nevus – verrucosus – dermatitic - epidermal - nevus/article/594864/.
5. Histology Findings Nongenital Warts Workup. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/ article/1133317-workup#c7. Diakses 7 Oktober 2017
6. Dinulos, J.G.H. Warts (verruca vulgaris). School Of medicine of Dartmouth 2023
7. Sterling J, Gibbs S, Haque Hussain S, Mohd Mustapa M, Handfield-Jones S.
British Association of Dermatologists' guidelines for the management of cutaneous warts 2014. British Journal of Dermatology. 2014;171(4):696-712.
8. Diunduh dari https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/picture- of-seborrheic-keratosis 19 Oktober 2017
9. Diunduh dari http://www.clinicaladvisor.com/dermatology/epidermal-nevus- including-inflammatory linear-verrucous-epidermal-nevus-nevus-verrucosus- dermatitic-epidermal-nevus/article/594864/ 19 Oktober 2017
10. Dalimunthe DA. Perbandingan efikasi klinis antara elektrodesikasi disertai kuretase dengan pengolesan larutan fenol 80% dalam pengobatan veruka vulgaris. Tesis. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, 2014
11. Sterling J, Gibbs S, Haque Hussain S, Mohd Mustapa M, Handfield-Jones S.
British Association of Dermatologists' guidelines for the management of cutaneous warts 2014. British Journal of Dermatology. 2014;171(4):696-712 12. Diunduh dari: http://www.bad.org.uk/library-media%5Cdocuments
%5CWarts_2014.pdf 7 Oktober 2017