i
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KLANDASAN ILIR BALIKPAPAN KOTA
TAHUN 2019
OLEH:
LISA FEBRILIA NIM. PO 7224117014
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR JURUSAN KEBIDANAN
PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN
2019
ii
Judul LTA : Asuhan Kebidanan Komrehensif Pada Ny.”N”G4p3003 Hamil 30 Minggu 2 Hari Dengan Masalah Anemia Ringan Dan Kram Paha Di Wilayah Kerja Puskesmas Klandasan Ilir Balikpapan Kota Tahun 2019
Nama : Lisa Febrilia
Nim : PO 7224117014
Proposal Tugas Akhir ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur
Balikpapan, 11 Desember 2019 MENYETUJUI,
Pembimbing I
Sonya Yulia S., S.Pd., M. Kes NIP. 195507131974022001
Pembimbing II
Sondang Irine, SST NIP. 196211171983012002
iii
PUSKESMAS KLANDASAN ILIR BALIKPAPAN 2019 LISA FEBRILIA
Laporan Tugas Akhir ini telah disetujui, diperiksa, dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur
Jurusan Kebidanan Prodi D-III Kebidanan Balikpapan Pada Tanggal 27 April 2020 Penguji Utama
Damai Noviasari,SST.M.Keb (………...) NIP. 197811022002122002
Penguji I
Sonya Yulia, S.Pd.,M.Kes (...) NIP.195507131974022001
Penguji II
Sondang Irene,SST (...) NIP. 196211171983012002
Mengetahui,
Ketua jurusan kebidanan Ketua Prodi DIII Kebidanan Balikpapan
Inda Corniawati, M. Keb Ernani Setyawati, M.Keb NIP.197508242006042002 NIP : 198012052002122001
iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Lisa Febrilia
Tempat,Tanggal lahir : Balikpapan,17 febuari 1998
Agama : Islam
Anak ke : 1 dari 2 bersaudara Alamat : Jl. Al-falah RT.38 NO.8 Email : [email protected] RiwayatPendidikan :
1.SDN 016 Balikpapan Tahun 2011 2.SMPN 9 Balikpapan tahun 2014 3.SMAN 3 Balikpapan 2017
4.Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kemenkes Kal-Tim Prodi Kebidanan Balikpapan tahun 2017 - sekarang
v
Maha Tinggi. Atas takdirmu saya bisa menjadi pribadi yang berpikir, berilmu, beriman dan bersabar sehingga dapat menyelesaikan laporan tugas akhir ini Semoga keberhasilan ini menjadi satu langkah awal untuk masa depan, dalam meraih cita-cita saya.
Dengan ini saya persembahkan karya ini untuk,
1. Nenek …
Terima kasih atas kasih sayang yang berlimpah,terimakasi atas semua semua bentuk dukungan nenek untuk icha hingga icha bisa sampai ke titik ini.
2. Dosen Pembimbing dan Penguji Utama
Kepada Ibu Sonya Yulia S, S.Pd, M. Kes dan Ibu Sondang Irene, SST dan Ibu Damai Noviasari,SST.,M.Keb saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada ibu sekalian. Dengan sabar dan penuh pengertian ibu membimbing saya dalam penulisan laporan tugas akhir ini. Saya tidak mampu membalas apapun kepada ibu sekalin atas ilmu dan pelajaran yang telah ibu curahkan kepada saya. Semoga ilmu yang ibu curahkan kepada saya menjadi pemberat amal kebaikan ibu di akhirat kelak.
3. Terutuk Dosen – dosen Kebidanan Poltekkes Kaltim
Terima kasih banyak untuk ibu dan bapak yang telah membrikan ilmu dan kebaikan- kebaikan. Semoga ibu bapak sehat dan sellau dalam perlindungan Allah SWT.
4. Seseorang Yang Sangat Saya Sayangi (Sarip Setiawan)
Terimaksih karena telah mendampingi aku dalam suka dan duka. Sudah mau ikut bercapek – capek dan mendengarkaan semua keluh kesahku, membantu mengerjakan tugas, membantu mencari pasien, selalu sabar, selalu memberikan aku doa dan support, sampe semuanya selesai dengan tepat waktu.
5. Sahabat saya (Regiana Nurul Utami,Nuralipah dan Haeriyah)
Terimakasih support, doa dan dukungannya, menjadi sahabat terbaikku dan mendukungku. Menjadi pendengar di setiap keluh kesahku dalam hal apapun sampai detik ini terimakasih banyak.
6. Kliean LTA dan Keluarga
Terimakasih kepada Ny. N dan keluarganya yang mau menjadi klien saya dan mau menerima dan mempercayai saya dari awal bertemu hingga saat ini. Semoga dalam setiap kunjungan yang saya lakukan bisa bermanfaat buat ibu dan keluarga. Semoga ibu, dedek, dan keluarga selalu sehat, Amin.
vi
dengan judul “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny.”N” G4P3003 usia kehamilan 30 minggu 2 hari janin tunggal hidup intrauteri di Wilayah Kerja Puskesmas Klandasan Ilir Kota Balikpapan Tahun 2019”. Proposal Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat kelulusan di Prodi D-III Kebidanan Balikpapan, Jurusan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur.
Bersama ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih dengan hati yang tulus kepada :
1. H. Supriadi, M.Kes, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur.
2. Inda Corniawati,M.Keb, selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur,
3. Ernani Setyawati,M.Keb, selaku Ketua Program Studi DIII Kebidanan Balikpapan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur.
4. Damai Noviasari,SST.,M.Keb, selaku penguji utama dalam ujian hasil yang telah bersedia menjadi penguji utama dan bersedia memberikan masukan kepada saya.
5. Sonya Yulia.S.pd.,M.Kes, selaku pembimbing I dan penguji I yang telah mengingatkan, membimbing, dan memberikan motivasi dan masukan bagi penulis yang sangat dibutuhkan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.
vii
7. Klien dan Keluarga, yang telah bersedia dan berpartisipasi dalam pelaksanaan asuhan kebidanan komprehensif.
8. Orang tua, rekan dan semua pihak yang terlibat, berpartisipasi dan telah memberikan masukan, bantuan dan dukungan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.
Penulis menyadari bahwa Proposal Laporan Tugas Akhir ini masih terdapat kekurangan, karena keterbatasan yang ada pada penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan penulis demi perbaikan yang akan datang.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa Proposal Laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna. Namun, penulis berharap Proposal Laporaan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Balikpapan, 11 Desember 2019
Lisa Febrilia
viii
Halaman Pengesahan ... ii
Halaman Persetujuan ... iii
Daftar Riwayat Hidup ... iv
Kata Persembahan ... v
Kata Pengantar ... vi
Daftar Isi... viii
Daftar Tabel ... x
Daftar Gambar ... xi
Daftar Lampiran ... xii
Daftar Singkatan... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan ... 6
1. Tujuan Umum ... 6
2. Tujuan Khusus ... 8
D. Manfaat Penelitian ... .7
E. Ruang Lingkup ... 9
ix
BAB III SUBJEK DAN KERANGKA KERJA PELAKSANAAN STUDI KASUS
A. Rancangan Studi Kasus yang Berkesinambungan dengan COC ... 105
B. Etika Studi Kasus ... 106
C. Hasil Pengkajian dan Perencanaan Asuhan Komprehensif ... 107
... BAB IV TINJAUAN KASUS A. Doumentasi Asuan Kebidanan Antenatal Care ... 132
B. Doumentasi Asuan Kebidanan Intranatal Care ... 140
C. Doumentasi Asuan Kebidanan Bayi Baru Lahir ... 146
D. Doumentasi Asuan Kebidanan Postnatal Care ... 152
E. Doumentasi Asuan Kebidanan Neonatus ... 163
BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Proses Asuhan Kebidanan ... 172
B. Keterbatasan Pelayanan Asuhan ... 188
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ... 189
B. Saran ... 191
DAFTAR PUSTAKA ... 193
x
Tabel 2.3 Tafsiran Berat Janin ... 19
Tabel 2.4 Peningkatan Berat Badan Selama Kehamilan ... 22
Tabel 2.5 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut MAP ... 23
Tabel 2.6 Imunisasi TT ... 25
Tabel 2.7 Pola Fungsional Kesehatan Kehamilan... 32
Tabel 2.8 Kebutuhan Psikologis Ibu Bersalin ... 51
Tabel 2.9 Pola Fungsional Kesehatan Persalinan ... 52
Tabel 2.10 Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin ... 52
Tabel 2.11 Memantau Kemajuan Persalinan menggunakan Partograf ... 64
Tabel 2.12 APGAR SKOR ... 66
Tabel 2.13 Pola Fungsional Bayi Baru Lahir Normal ... 74
Tabel 2.14 Tinggi FundusUteri ... 76
Tabel 2.15 Jenis-Jenis Lokhia ... 77
Tabel 2.16 Kunjungan Masa Nifas... 79
Tabel 2.17 Pola Fungsional Nifas ... 90
xi
xii
3. Lembar Penjelasan Pelaksanaan Asuhan Komprehensif ...
4. Lembar Persetujuan Klien ...
5. supervise Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Komprehensif ...
6. Lampiran Lainnya ...
xiii AKI : Angka Kematian Ibu ANC : Antenatal Care ASI : Air Susu Ibu
APN : Asuhan Persalinan Normal APD : Alat Pelindung Diri
APGAR : Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiratory A/S : Apgar Score
BAB : Buang Air Besar BAK : Buang Air Kecil
BB : Berat Badan
BBL : Bayi Baru Lahir
BBLR : Bayi Berat Lahir Rendah COC : Continuity Of Care DJJ : Denyut Jantung Janin
Gr : Gram
GPAPAH : Gravida, Partus, Aterm, Prematur, Abortus, dan Anak Hidup
HB : Hemoglobin
HPHT : Hari Pertama Haid Terakhir HPP : Hemoragik Post Partum IM : Intra Muscular
IMD : Inisiasi Menyusui Dini INC : Intranatal Care
IUD : Intra Uteri Device
IV : Intra Vena
JK : Jenis Kelamin
Jl : Jalan
Kes : Kesadaran Ket : Keterangan
xiv MDGs : Millenium Development Goals mmHg : Milimeter Hydrargyrum
N : Nadi
NCB : Neonatus Cukup Bulan
Ny. : Nyonya
KB : Keluarga Berencana KPD : Ketuban Pecah Dini PAP : Pintu Atas Pinggul
PB : Panjang Badan
Penkes : Pendidikan Kesehatan PNC : Postnatal Care
PP : Post Partum
PTT : Penegangan Tali Pusat Terkendali Px : Prosesus xipoideus
RR : Respiratory Rate
S : Suhu
SBR : Segmen Bawah Rahim SC : Seksio Cesarea
SDGs : Sustainable Development Goals
SDKI : Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sf : Sulfas ferrosus
SMK : Sesuai Masa Kehamilan
SOAP : Subjek, Objek, Assesmen, Pelaksanaan Sp. OG : Spesialis Obstetri & Ginekologi
TB : Tinggi Badan
TBJ : Taksiran Berat Janin
TD : Tekanan Darah
TFU : Tinggi Fundus Uteri
xv UUK : Ubun-Ubun Kecil
USG : Ultrasonografi
WHO : World Health Organization WITA : Waktu Indonesia Ten
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
World Health Organization (WHO) tahun 2016 menyebutkan bahwa, Angka Kematian Ibu (AKI) dalam masa kehamilan, persalinan dan nifas sebesar 210 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Menurut data Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2016 menyebutkan bahwa AKI di Indonesia masih tinggi yaitu 290 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 23 per 1.000 kelahiran hidup. Indonesia sendiri sebenarnya mempunyai target 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Kematian ibu di Kalimantan Timur masih menjadi permasalahan karena dari target RPJMD tahun 2016 yaitu 132 capaian baru dicapai pada angka 135, namun bila dilihat dari jumlah kasus maka kematian ibu mengalami penurunan.
Pada tahun 2014 jumlah kasus kematian ibu sebesar 109 kasus, tahun 2015 turun menjadi 100 kasus kematian ibu dan pada tahun 2016 menjadi 95 kasus kematian ibu(data Bidang Kesmas Dinkes prov.Kaltim 2016)
Berdasarkan data Profil Kesehatan Provinsi Kalimatan Timur tahun Angka kematian Ibu di Kota Balikpapan tahun 2016 terdapat 9 kasus atau (72/100.000 KH), 2017 meningkat dengan jumlah kasus 10 atau (78/100.000 KH) dengan perhitungan jumlah kelahiran hidup di Kota Balikpapan 12.800 sehingga didapatkan 10/12.800 x 100.000 = 78 dengan pengertian bahwa dari 100.000 Kelahiran Hidup di Kota Balikpapan terdapat 78 kasus kematian ibu.
Target penurunan AKI secara Nasional yaitu 112/100.000 KH. Dengan
2
demikian penurunan AKI Kota Balikpapan dari 72/100.000 KH tahun 2016 menjadi 78/100.000 KH tahun 2017 masih dibawah target nasional.
Beberapa keadaan yang menyebabkan Angka Kematian Ibu (AKI) antara lain adalah penanganan komplikasi, anemia, ibu hamil yang menderita diabetes, hipertensi, malaria, dan empat terlalu (terlalu muda <20 tahun, terlalu tua >35 tahun, terlalu dekat jaraknya 2 tahun dan terlalu banyak anaknya >
3tahun). Sebanyak 54,2 per 1000 perempuan dibawah usia 20 tahun telah melahirkan, sementara perempuan yang melahirkan usia di atas 40 tahun sebanyak 207 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini diperkuat oleh data yang menunjukkan masih adanya umur perkawinan pertama pada usia yang amat muda (<20 tahun) sebanyak 46,7% dari semua perempuan yang telah kawin.
Penyebab utama kematian ibu yaitu hipertensi dalam kehamilan dan perdarahan post partum(Walyani & Purwoastuti, 2015).
Perdarahan post partum selama ini merupakan penyebab dari kematian ibu, namun dengan bertambahnya persedian darah dan rujukan maka infeksi menjadi lebih menonjol sebagia penyebab kematian dari morbiditas ibu. Selain infeksi pada ibu post partum ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi yaitu bendungan payudara, infeksi payudara dan abses payudara hal ini dapat dicegah, salah satunya dengan menyusui (Walyani & Purwoastuti, 2015).
Setiap tahun sekitar 20.000 perempuan di Indonesia meninggal akibat komplikasi dalam persalinan. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Tujuan MDGs mencapai dan menyediakan akses kesehatan
3
reproduksi untuk semua pada 2015 Penggunaan kontrasepsi oleh wanita usia 15-49 tahun meningkat menjadi 61.0%. Perawatan antenatal juga mengalami peningkatan akan tetapi, dengan keterbatasan data, sulit untuk mengukur sejauh mana pencapaian target akses untuk kesehatan reproduksi(Depkes RI,2015).
Terdapat 17 tujuan SDGs salah satunya adalah kesehatan yang baik.
Salah satu target kesehatan yang baik tahun 2030 mengurangi angka kematian ibu hingga di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2030,mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah dengan seluruh negara berusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per 1.000 KH dan Angka Kematian Balita 25 per 1.000 KH (Depkes RI,2015)
Berdasarkan data WHO angka kejadian anemia pada ibu hamil secara global sebanyak 28-36 juta orang, sedangkan jumlah anemia tertinggi berada di Asia, yaitu sebanyak 12-22 juta orang, dan yang terendah berada di Oceania atau kawasan di Samudera Pasifik sekitar 100-200 orang (WHO, 2011).
Berdasarkan data Riskesdas tahub 2018 persentase ibu hamil di indonesia yang mengalami anemia paling banyak usia 15-24 tahun sebesar 84,6 % usia 25-34 sebesar 33,7%, usia 35-44 tahun sebesar 33,6% dan usia 45-54 tahun sebesar 24%.
Salah satu upaya dari Kementerian Kesehatan Indonesia untuk mempercepat penurunan AKI dan AKB adalah negara membuat rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS). Depkes menargetkan pada tahun 2015 Indonesia akan berupaya menurunkan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup serta AKB menjadi 19 per 1000 kelahiran hidup,
4
sehingga tercapainya konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2015, maka visi MPS adalah “Kehamilan dan persalinan di Indonesia aman serta bayi yang dilahirkan hidup sehat” Untuk itu pemerintah tengah mengupayakan program pelatihan para bidan dan pelatihan ibu hamil.
Dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia, Kementerian Kesehatan menetapkan upaya lima strategi operasional yaitu penguatan Puskesmas dan jaringannya, penguatan manajemen program dan system rujukannya, meningkatkan peran serta masyarakat, kerjasama dan kemitraan, kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011, penelitian dan pengembangan inovasi yang terkoordinir (MenKes, 2015).
Sebagai salah satu bentuk pelaksanaan dalam menjalankan program MPS untuk menurunkan AKI dan AKB, peran bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pro-aktif adalah dengan peningkatan cakupan ante natal care (ANC) yaitu pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali, bersalin pada tenaga kesehatan, perawatan bayi baru lahir, kunjungan nifas, kunjungan neonatal, penanganan komplikasi dan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan secara komprehensif (Syafrudin, 2015).
Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan kebidanan yang diberikan secara menyeluruh dari mulai hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas, neonatal sampai pada keluarga berencana. Asuhan kebidanan ini diberikan sebagai bentuk penerapan fungsi, kegiatan, dan tangggung jawab bidan dalam memberikan pelayanan kepada klien dan merupakan salah satu upaya untuk menurunkan AKI dan AKB (Saifuddin, 2015).
5
Upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak salah satunya adalah melaksanakan asuhan secara berkelanjutan atau continuity of care (Kemenkes, 2015).
Continuity Of Care (COC) adalah pelayanan yang dicapai ketika terjalin hubungan yang terus-menerus antara seorang wanita dan bidan. Asuhan yang berkelanjutan berkaitan dengan kualitas pelayanan dari waktu kewaktu yang membutuhkan hubungan terus menerus antara pasien dengan tenaga profesional kesehatan. Layanan kebidanan harus disediakan mulai prakonsepsi, awal kehamilan, selama semua trimester, kelahiran dan melahirkan sampai enam mingggu pertama postpartum (Pratami, 2015).
Asuhan kebidanan komprehensif yang dilakukan dengan continuity of care pada Ny. N bertujuan untuk mengetahui hal apa saja yang terjadi pada ibu hamil, bersalin, bbl, nifas dan kontrasepsi. Oleh karena itu penulis melakukan pengkajian awal Ny.N tanggal 5 November 2019, ibu hamil usia 30 tahun G4P3003 usia kehamilan 30 minggu 2 hari janin hidup tunggal intrauterine, HB 8,9gr/dl TD 110/70 lain-lain normal.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan asuhan kebidanan komprhensif secara COC pada Ny N G4P3003 UK 30 minggu 2 hari dengan Anemia selama masa hamil, bersalin, bayi baru lahir, nifas, neonatus, dan pemilihan alat kontrasepsi diwilayah kerja Puskesmas Klandasan Ilir dalam laporan studi kasus dengan judul “Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny.”N” G4P3003 UK 30 minggu 2 hari Di Wilayah Kerja Puskesmas Klandasan Ilir Kota Balikpapan Tahun 2019”.
6 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi b rumusan masalah adalah “Bagaimana pelayanan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny.”N” G4P3003 usia kehamilan 30 minggu 2 hari dengan Anemia Di Wilayah Kerja Puskesmas Klandasan Ilir Balikpapan Tahun 2019 dalam masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus sampai dengan pelayanan kontrasepsi yang sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny.”N” G4P3003 usia kehamilan 30 minggu 2 hari dengan Anemia Di Wilayah Kerja Puskesmas Klandasan Ilir Balikpapan Tahun 2019 dari masa kehamilan, bersalin, bayi baru lahir, nifas, neonatus serta pemilihan alat kontrasepsi sesuai dengan standar pelayanan kebidanan dan mendokumentasikan dalam bentuk SOAP.
2. Tujuan khusus
a. Mampu melakukan asuhan kebidanan pada kehamilan atau Antenatal Care (ANC) terhadap Ny. N dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney dengan pendokumentasian SOAP.
b. Mampu melakukan asuhan kebidanan pada persalinan atau Intranatal Care (INC) terhadap Ny. N dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney dengan pendokumentasian SOAP.
7
c. Mampu melakukan asuhan kebidanan pada Bayi Baru Lahir (BBL) terhadap Ny. N dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney dengan pendokumentasian SOAP.
d. Mampu melakukan asuhan kebidanan pada masa nifas atau Postnatal Care (PNC) terhadap Ny.N dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney dengan pendokumentasian SOAP.
e. Mampu melakukan asuhan kebidanan pada neonatus terhadap Ny.N dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney dengan pendokumentasian SOAP.
f. Mampu melakukan asuhan kebidanan pada pelayanan kontrasepsi terhadap Ny.N dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney dengan pendokumentasian SOAP.
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian yang telah dilakukan selama masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus, sampai pemilihan alat kontrasepsi dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan ilmu kebidanan serta asuhan secara komprehensif selanjutnya.
2. Manfaat Praktis a. Bagi klien
Klien dapat mengetahui dan mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif dengan COC mulai dari masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, masa nifas, neonatus sampai pelayanan kontrasepsi sesuai standar pelayanan kebidanan.
8 b. Bagi penulis
Mengimplementasikan apa yang ada di teori diaplikasikan di lapangan yaitu melakukan asuhan kebidanan komprehensif dengan COC mulai dari kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus, hingga pelayanan kontrasepsi.
c. Bagi Profesi
Menciptakan bidan terampil, profesional dan mandiri dalam memberikan asuhan kebidanan komprehensif dengan COC mulai kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus, hingga pelayanan kontrasepsi.
d. Bagi Puskesmas Klandasan Ilir
Membantu untuk menjalankan dan melancarkan program kerja puskesmas Klandasan Ilir dan dapat mengurangi AKI dan AKB di wilayah kerja puskesmas Klandasan Ilir karena asuhan yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan asuhan kebidanan. Dengan komunikasi yang baik dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja puskesmas Klandasan Ilir tersebut.
e. Bagi Dinas Kesehatan Kota Balikpapan
Dapat menghasilkan atau menjadi bahan acuan untuk pertimbangan bagi Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mengenai asuhan kebidanan yang komprehensif yang sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.
9 E. Ruang Lingkup
Asuhan kebidanan comprehensif dengan cara COC ini menggunakan metode penelitian deskriptif dalam bentuk studi kasus continuity of care, bertujuan memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny.”N”
Di Wilayah Kerja Puskesmas Klandasan Ilir Balikpapan Tahun 2019 mulai dari kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus, hingga pelaksanaan program KB pada periode November 2019 - Maret 2020.
10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan
1. Manajemen Varney
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, keterampilan, dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien (Varney, 2007). Sesuai dengan pelayanan kebidanan maka bidan diharapkan lebih kritis dalam melaksanakan proses manajemen kebidanan untuk mengambil keputusan. Menurut (Varney, 2007) ia menggabungkan manajemen kebidanan dari lima langkah menjadi tujuh langkah yaitu mulai dari pengumpulan data sampai dengan evaluasi.
Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi, akan tetapi setiap langkah tersebut dapat dipecah-pecah kedalam tugas-tugas tertentu dan bervarisi sesuai dengan kondisi klien.
Tujuh langkah Manajemen Kebidanan menurut Varney :
a. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan.
b. Menginterprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosis atau masalah
c. Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
11
d. Menetapkan kebutuhan akan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatan lain, serta rujukan berdasarkan kondisi klien.
e. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkh-langkah sebelumnya.
f. Melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman.
g. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.
Setiap langkah dalam manajemen kebidanan menurut Varney akan dijabarkan sebagai berikut :
a. Langkah 1 : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama dikumpulkn semua informasi atau data yang akurat dan lengkap dari semua suber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :
1) Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, persalinan, dan nifas, bio-psiko- sosial-spiritual serta pengetahuan klien.
2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan klien serta tanda- tanda vital, meliputi :
a) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi)
12
b) Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya.
b. Langkah 2 : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik.
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standart nomenklatur diagnosa kebidanan. Standar nomenklatur diagnosa kebidanan : 1) Diakui dan telah disahkan oleh profesi.
2) Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan.
3) Memiliki ciri khas kebidanan.
4) Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan.
5) Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan c. Langkah 3 : Mengidentifikasi Diagnosa / Masalah Kebidanan
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, pada langkah tiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang rasional dan logis.
13
d. Langkah 4 : Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan.
Jadi manajemen kebidanan bukan hanya selama asuhan primer periodic atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-menerus.
e. Langkah 5 : Menyusun Rencana Asuhan
Pada langkah ini asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini informasi atau data dasar tang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yng diperkirakan akan tejadi berikunya.
f. Langkah 6 : Implementasi
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke lima akan dilaksanakan secara efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan, atau sebagian oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.
Jika bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tangggung
14
jawab untu mengarahkan pelaksanaannya. Dalam situasi dimana berkolaborasi dengan dokter untk menangani klien yang men galami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama secara menyeluruh tersebut.
g. Langkah 7 : Evaluasi
Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi atau sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam masalah dan diagnose. Rencana tersebut dapat diangggap efektif jika memang benar efektif pelaksanaanya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektid sedang sebagian belum efektif.
Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kontinu maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efetif melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses manajemen tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tersebut.
2. Konsep COC (Continuity of Care)
Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan kebidanan yang diberikan secara menyeluruh dari mulai hamil, bersalin, nifas sampai pada bayi baru lahir (Varney, 2008).
Tujuan dari asuhan kebidanan ini dilakukan agar dapat mengetahui hal apa saja yang terjadi pada seorang wanita semenjak hamil, bersalin,
15
nifas sampai dengan bayi yang dilahirkannya serta melatih dalam melakukan pengkajian, menegakkan diagnosa secara tepat, antisipasi masalah yang mungkin terjadi, menentukan tindakan segera, melakukan perencanaan dan tindakan sesuai kebutuhan ibu, serta mampu melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan (Varney, 2008).
3. Konsep SOAP
Menurut Varney, alur berpikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 langkah. Untuk mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :
S: menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesis sebagai langkah I Varney.
O: menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan uji diagnostic lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.
A: menggambarkan pendokumentasian hasil ananlisis dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi diagnosis/masalah, antisipasi diagnosis/masalah potensial, dan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/kolaborasi dan/atau rujukan sebagai langkah II, III, IV dalam manajemen Varney.
P: menggambarkan pendokumentasian dan tindakan (I) dan evaluasi perencanaan (E) berdasarkan assessment sebagai langkah V, VI, dan VII Varney.
16 B. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan
1) Asuhan Kehamilan (Ante Natal Care) a. Pengertian
Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan spermatozoa dan ovum dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Dihitung dari fertilisasi hingga lahirnya bayi kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu (10 bulan atau 9 bulan) menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu (minggu ke-0 hingga minggu ke-12), trimester kedua 15 minggu (minggu ke-13 hingga minggu ke- 27) dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga minggu ke- 40) (Prawirohardjo, 2011).
Asuhan Ante Natal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu menghadapi persalinan, masa nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 2008).
b. Tujuan
Adapun tujuan dari pemeriksaan kehamilan yang disebut dengan Ante Natal Care (ANC) tersebut adalah :
1) Tujuan umum
Tujuan umum adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan ibu selama hamil sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menyelesaikan kehamilannya dengan baik, melahirkan bayi sehat
17
dan memperoleh kesehatan yang optimal pada masa nifas serta dapat mengurus bayi dengan baik dan benar(Manuaba, 2009).
2) Tujuan khusus
Tujuan khususnya adalah mempersiapkan ibu agar memahami pentingnya pemeliharaan kesehatan selama hamil, bersalin, nifas, bayi dan anak; mempersiapkan dan merencanakan persalinan sesuai dengan faktor resiko yang dihadapi; mendeteksi dini dan menangani masalah secara dini; mempersiapkan ibu untuk merawat bayi, menyusui bayi secara ekslusif dan dilanjutkan sampai usia dua tahunan, mempersiapkan ibu agar ikut keluarga (Manuaba, 2009).
c. Kunjungan Antenatal
Jadwal Pemeriksaan Kehamilan (ANC) Ibu hamil mendapatkan pelayanan ANC minimal 4 kali selama kehamilan, yang terbagi dalam (Manuaba 2010)(Kuswanti 2014)
1) Trimester I : 1 kali (sebelum usia 14 minggu)
2) Trimester II : 1 kali (usia kehamilan antara 14-28 minggu) 3) Trimester III : 2 kali (usia kehamilan antara 28-36 minggu) ( usia kehamilan 36-40 minggu) d. Menentukan usia kehamilan
1) Metode Kalender
Metode kalender adalah metode yang sering kali digunakan oleh tenaga kesehatan dilapangan perhitungannya sesuai rumus yang direkomendasikan oleh Neagle yaitu dihitung dari tanggal
18
pertama haid terakhir ditambah 7 (tujuh), bulan ditambah 9 (sembilan) atau dikurang 3 (tiga), tahun ditambah 1 (satu) atau 0 (nol) (Kusmiyati, Wahyuningsih, 2009).
2) Tinggi Fundus
Tabel 2.1
Tinggi Fundus Uteri (Menurut Leopold)
UK TFU (jari) TFU
(cm) 12 minggu 1/3 di atas simfisis -
16 minggu ½ di atas simfisis-pusat - 20 minggu 2-3 jari dibawah pusat 20 cm
24 minggu Setinggi pusat 23 cm
28 minggu 2-3 jari diatas pusat 26 cm 32 minggu Pertengahan pusat – PX 30 cm
36 minggu setinggi PX 33 cm
40 minggu 2-3 jari dibawah px (janin mulai memasuki panggul)
30 cm (sumber : Penentuan Usia Kehamilan menurut leopod, 2012)
Table 2.2
Tinggi Fundus Uteri Dalam cm (Mc-Donald)
TFU (cm) Usia Kehamilan
20 20 minggu
23 24 minggu
26 28 minggu
30 32 minggu
33 36 minggu
(sumber : Penentuan Usia Kehamilan menurut Mc-Donald,2009) 3) Tafsiran Berat Janin (TBJ)
Dengan menggunakan cara Mc. Donald dapat mengetahui taksiran berat janin. Taksiran ini hanya berlaku untuk janin presentasi kepala. Rumusnya adalah sebagai berikut : (tinggi fundus dalam cm – n ) x 155= Berat (gram) . Bila kepala belum
19
masuk PAP maka n = 12. Bila kepala sudah masuk PAP, maka n
=11.
Tabel 2.3
Tafsiran Berat Janin pada TM III
Usia Kehamilan Panjang (cm) Berat (gram)
28 minggu 37,6 cm 1005 gram
29 minggu 38,6 cm 1153 gram
30 minggu 39,9 cm 1319 gram
31 minggu 41,1 cm 1502 gram
32 minggu 42,4 cm 1702 gram
33 minggu 43,7 cm 1918 gram
34 minggu 45 cm 2146 gram
35 minggu 46,2 cm 2383 gram
36 minggu 47,4 cm 2622 gram
37 minggu 48,6 cm 2859 gram
38 minggu 49,8 cm 3083 gram
39 minggu 50,7 cm 3288 gram
40 minggu 51,2 cm 3462 gram
41 minggu 51,7 cm 3597 gram
Sumber : Ilmu Kebidanan penyakit kandungan dan KB (Manuaba, 2010)
e. Perubahan fisiologis pada kehamilan pada trimester III 1) Uterus
Pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram (berat uterus normal 30 gram) dengan panjang 20 cm dan dinding 2,5 cm. Pada kehamilan 32 minggu, fundus uteri terletak antara ½ jarak pusat dan prossesus xipoideus.
Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 1 jari dibawah prossesus xipoideus. Servik uteri (Ajeng. 2012)
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi, maka
20
konsistensi serviks menjadi lunak. Serviks uteri lebih banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas kolagen. Karena servik terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan otot, maka serviks tidak mempunyai fungsi sebagai spinkter, sehingga pada saat partus serviks akan membuka saja mengikuti tarikan-tarikan corpus uteri keatas dan tekanan bagian bawah janin kebawah(Ajeng. 2012).
2) Vagina Dan Vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen juga mengalami perubahan. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vula tampak lebih merah dan agak kebiru-biruan (livide). Warna porsio tampak livide.
Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna akan membesar karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia tersebut menigkat. Pada bulan terakhir kehamilan, cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental(Ajeng. 2012).
3) Mammae
Pada kehamilan 12 minggu keatas, dari puting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut kolostrum. Kolostrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi(Ajeng. 2012).
4) Sirkulasi Darah
Volume darah akan bertambah banyak ± 25% pada puncak usia kehamilan 32 minggu. Meskipun ada peningkatan
21
dalam volume eritrosit secara keseluruhan, tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar sehingga konsentrasi hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah. Walaupun kadar hemoglobin ini menurun menjadi ± 120 g/L. Pada minggu ke-32, wanita hamil mempunyai hemoglobin total lebih besar daripada wanita tersebut ketika tidak hamil.
Bersamaan itu, jumlah sel darah putih meningkat (±
10.500/ml), demikian juga hitung trombositnya(Ajeng. 2012).
Untuk mengatasi pertambahan volume darah, curah jantung akan meningkat ± 30% pada minggu ke-30.
Kebanyakan peningkatan curah jantung tersebut disebabkan oleh meningkatnya isi sekuncup, akan tetapi frekuensi denyut jantung meningkat ± 15%. Setelah kehamilan lebih dari 30 minggu, terdapat kecenderungan peningkatan tekanan darah(Ajeng. 2012).
5) Sistem traktus urinaria
Pada akhir kehamilan kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kemih akan mulai tertekan kembali. Selain itu juga terjadi hemodelusi menyebabkan metabolisme air menjadi lancer(Ajeng. 2012).
22 f. Standar Asuhan Kebidanan
Standar Pelayanan Ante Natal Care ( ANC ) memiliki beberapa komponen dalam proses pelaksanaannya, yaitu dengan 14T (Hilda, 2013)
1) Ukur Berat badan dan Tinggi Badan (T1).
Menurut Prawirohardjo (2014), sebagai pengawasan akan kecukupan gizi dapat dipakai kenaikan berat badan wanita hamil tersebut. Kenaikan berat badan wanita hamil rata-rata antara 6,5- sampai 16 kg.
Adapun cara untuk menentukan status gizi dengan menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh) dari berat badan dan tinggi badan ibu sebelum hamil sebagai berikut:
Rumus IMT = Berat badan (kg) Tinggi badan (m)²
Tabel 2.4
Peningkatan Berat Badan Selama Kehamilan IMT (kg/m2)
Total kenaikan berat badan yang disarankan
Selama trimester 2 dan 3
Kurus (IMT<18,5)
12,7–18,1 kg 0,5 kg/minggu Normal
(IMT 18,5-22,9)
11,3-15,9 kg 0,4 kg/minggu Overweight
(IMT 23-29,9)
6,8-11,3 kg 0,3 kg/minggu Obesitas
(IMT>30)
0,2 kg/minggu Bayi kembar 15,9-20,4 kg 0,7 kg/minggu (Sumber: Sukarni,2013)
23 2) Ukur Tekanan Darah (T2)
Diukur dan diperiksa setiap kali ibu datang dan berkunjung. Pemeriksaan tekanan darah sangat penting untuk mengetahui standar normal, tinggi atau rendah yaitu dengan cara menghitung MAP.
MAP adalah tekanan darah antara sistolik dan diastolik, karena diastolik berlangsung lebih lama daripada sistolik maka MAP setara dengan 40 % tekanan sistolik ditambah 60 % tekanan diastolik (Woods, Froelicher, Motzer,
& Bridges, 2009).
Adapun rumus MAP adalah tekanan darah sistolik ditambah dua kali tekanan darah diastolik dibagi 3. Rentang normal MAP adalah 70 mmHg - 99 mmHg. Kategori hipertensi berdasarkan nilai MAP:
Tabel 2.5
Klasifikasi Tekanan Darah Orang Dewasa Berusia Diatas 18 Tahun Berdasarkan nNilai Mean Arterial
Pressure.
Kategori Nilai MAP
Normal 70-99 mmHg
Normal Tinggi 100-105
Stadium 1 (hipertensi ringan) 106 - 119 mmHg Stadium 2 (hipertensi sedang) 120 - 132 mmHg Stadium 3 (hipertensi berat) 133 - 149 mmHg Stadium 4 (hipertensi maligna / sangat
berat)
150Hg atau lebih (sumber: Woods, Froelich er, Motzer, & Bridges, 2009)
3) Ukur Tinggi Fundus Uteri (T3)
Untuk mengetahui besarnya rahim dan dengan ini menentukan tuanya kehamilan, menentukan letak janin dalam
24
rahim. Sebelum usia kehamilan 12 minggu, fundus uteri belum dapat diraba dari luar. Normalnya tinggi fundus uteri pada usia kehamilan 12 minggu adalah 1-2 jari di atas simphysis (Varney et al. 2008).
Taksiran berat janin dapat dihitung dari rumus Johnson Toshack (Johnson Toshack Estimated Fetal Weight ) yang diambil dari tinggi fundus uteri .
JEFW (gram) = (FH (Fundal Heightcm ) – n ) x 155 (konstanta)
n = 11 bila kepala di bawah spina ischiadica n = 12 bila kepala di atas spina ischiadica
n = 13 bila kepala belum masuk pintu atas panggul
4) Pemberian Tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4 )
Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil (Fe) adalah mencegah defisiensi zat besi pada ibu hamil, bukan menaikan kadar hemoglobin. Ibu hamil dianjurkan meminum tablet zat besi yang berisi 60 mg/hari dan 500 µg (FeSO4 325 mg).
Kebutuhannya meningkat secara signifikan pada trimester II karena absorpsi usus yang tinggi. Tablet Fe dikonsumsi minimal 90 tablet selama kehamilan, sebaiknya tidak minum bersama teh atau kopi karena akan menganggu penyerapan.
5) Pemberian Imunisasi TT (T5)
25
Imunisasi Tetanus Toxoid harus segera di berikan pada saat seorang wanita hamil melakukan kunjungan yang pertama dan dilakukan pada minggu ke-4.
Tabel 2.6
Interval dan Lama Perlindungan Tetanus Toxoid
(
s
(sumber : Depkes RI,2009) 6) Pemeriksaan Hb (T6)
Pemeriksaan Hb pada Bumil harus dilakukan pada kunjungan pertama dan minggu ke 28. bila kadar Hb < 11 gr% Bumil dinyatakan Anemia, maka harus diberi suplemen 60 mg Fe dan 0,5 mg As. Folat hingga Hb menjadi 11 gr%
atau lebih.
7) Pemeriksaan VDRL (Veneral Disease Research Lab(siffilis,HBSAG,HIV) ) (T7)
Pemeriksaan dilakukan pada saat ibu hamil datang pertama kali di ambil spesimen darah vena kurang lebih 2 cc.
Apabila hasil test positif maka dilakukan pengobatan dan rujukan.
Imunisasi TT
Selang Waktu
minimal pemberian Imunisasi TT
Lama Perlindungan
TT1 - Langkah awal pembentukan
kekebalan tubuh terhadap penyakit Tetanus
TT2 1 bulan setelah TT1 3 Tahun TT3 6 bulan setelah TT2 6 Tahun TT4 12 Bulan setelah TT3 10 Tahun TT5 12 Bulan setelah TT4 ≥25 Tahun
26
8) Pemeriksaan Protein urine (T8)
Dilakukan untuk mengetahui apakah pada urine mengandung protein atau tidak untuk mendeteksi gejala Preeklampsi.
9) Pemeriksaan Urine Reduksi (T9)
Untuk ibu hamil dengan riwayat DM. Bila hasil positif maka perlu diikuti pemeriksaan gula darah untuk memastikan adanya DMG.
10) Perawatan Payudara (T10)
Perawatan payudara pada masa kehamilan adalah salah satu bagian penting yang harus diperhatikan sebagai persiapan untuk menyusui nantinya. Payudara perlu dipersiapkan sejak masa kehamilan sehingga bila bayi lahir dapat segera berfungsi dengan baik pada saat diperlukan. Perawatan payudara juga sangat membantu keberhasilan dalam pemberian ASI Eksklusif. (Bobak L, 2008)
11) Senam Hamil ( T11 )
Senam hamil membuat otot ibu hamil rileks dan tenang, rasa rileks dan tenang itu bisa mempengaruhi kondisi psikis ibu hamil. Rasa gugup dan nerves saat akan mengalami masa persalinan bisa menimbulkan kerugian bagi ibu hamil itu sendiri. Saat seseorang gugup, ibu hamil akan mengalami penurunan Hb. Hb sangat penting untuk ibu hamil yang akan
27
melahirkan, sebab saat melahirkan ibu hamil bisa mengeluarkan banyak darah.
12) Pemberian Obat Malaria (T12)
Diberikan kepada ibu hamil pendatang dari daerah malaria juga kepada ibu hamil dengan gejala malaria yakni panas tinggi disertai mengigil dan hasil apusan darah yang positif.
13) Pemberian Kapsul Minyak Yodium (T13)
Diberikan pada kasus gangguan akibat kekurangan yodium di daerah endemis yang dapat berefek buruk terhadap tumbuh kembang manusia.
14) Temu wicara / Konseling (T14)
Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
Memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya tentang tanda-tanda resiko kehamilan.
g. Ketidaknyamanan Pada Trimester III
Ketidaknyamanan Trimester III Menurut Romauli (2011:149) adalah sebagai berikut :
1) Peningkatan Frekuensi berkemih
Frekuensi kemih meningkat pada trimester ketiga sering dialami wanita primigravida setelah lightening terjadi efek lightaning yaitu bagian presentasi akan menurun masuk kedalam panggul dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.
Peningkatan frekuensi berkemih disebabkan oleh tekanan uterus
28
karena turunnya bagian bawah janin sehingga kandung kemih tertekan, kapasitas kandung kemih berkurang dan mengakibatkan frekuensi berkemih meningkat.
2) Sakit punggung Atas dan Bawah
Nyeri punggung bawah adalah gangguan yang umum terjadi, dan ibu hamil mungkin saja memiliki riwayat “ sakit punggung”
dimasa lalu. Nyeri punggung bawah sangat sering terjadi dalam kehamilan sehingga digambarkan sebagai salah satu gangguan minor dalam kehamilan, gejala nyeri biasanya terjadi antara 4-7 bulan usia kehamilan dan nyeri biasanya terasa di punggung bagian bawah, terkadang menyebar ke bokong dan paha, dan terkadang turun ke kaki sebagai siatika. Banyak ibu hamil yang mengalami nyeri punggung bawah selama kehamilan.
3) Hiperventilasi dan sesak nafas
Peningkatan aktivitas metabolis selama kehamilan akan meningkatkan karbondioksida. Hiperventilasi akan menurunkan karbon dioksida. Sesak nafas terjadi pada trimester III karena pembesaran uterus yang menekan diafragma. Selain itu diafragma mengalami elevasi kurang lebih 4 cm selama kehamilan.
4) Edema Dependen
Terjadi karena gangguan sirkulasi vena dan peningkatan tekanan vena pada ekstrimitas bawah karena tekanan uterus membesar pada vena panggul pada saat duduk/ berdiri dan pada vena cava inferior saat tidur terlentang. Edema pada kaki yang
29
menggantung terlihat pada pergelangan kaki dan harus dibedakan dengan edema karena preeklamsi(Manuaba, 2010).
5) Nyeri ulu hati
Ketidaknyamanan ini mulai timbul menjelang akhir trimester II dan bertahan hingga trimester III.
Penyebab :
a) Relaksasi sfingter jantung pada lambung akibat pengaruh yang
ditimbulkan peningkatan jumlah progesteron.
b) Penurunan motilitas gastrointestinal yang terjadi akibat relaksasi otot
halus yang kemungkinan disebabkan peningkatan jumlah progesteron
dan tekanan uterus.
c) Tidak ada ruang fungsional untuk lambung akibat perubahan tempat
dan penekanan oleh uterus yang membesar.
6) Kram tungkai
Terjadi karena asupan kalsium tidak adekuat, atau ketidakseimbangan
rasio dan fosfor. Selain itu uterus yang membesar memberi tekanan pembuluh darah panggul sehingga mengganggu sirkulasi atau pada saraf yang melewati foramen doturator dalam perjalanan menuju ekstrimitas bawah.
30 7) Konstipasi
Pada kehamilan trimester III kadar progesteron tinggi. Rahim yang semakin membesar akan menekan rectum dan usus bagian bawah sehingga terjadi konstipasi. Konstipasi semakin berat karena gerakan otot dalam usus diperlambat oleh tingginya kadar progesterone (Romauli,2011).
Konstipasi ibu hamil terjadi akibat peningkatan produksi progesteron yang menyebabkan tonus otot polos menurun, termasuk pada sistem pencernaan, sehingga sistem pencernaan menjadi lambat. Motilitas otot yang polos menurun dapat menyebabkan absorpsi air di usus besar meningkat sehingga feses menjadi keras (Pantiawati, 2010). Konstipasi bila berlangsung lama lebih dari 2 minggu dapat menyebabkan sumbatan/impaksi dari massa feses yang keras (skibala).Skibala akan menyumbat lubang bawah anus dan menybabkan perubahan besar sudut anorektal.
Kemampuan sensor menumpul, tidak dapat membedakan antara flatus, cairan atau feses. Akibatnya feses yang cair akan merembes keluar . skibala juga mengiritasi mukosa rectum, kemudian terjadi produksi cairan dan mukus yang keluar melalui selasela dari feses yang impaksi (Romauli, 2011).
8) Kesemutan dan baal pada jari
Perubahan pusat gravitasi menyebabkan wanita mengambil postur dengan posisi bahu terlalu jauh kebelakang sehingga
31
menyebabkan penekanan pada saraf median dan aliran lengan yang akan menyebabkan kesemutan dan baal pada jari-jari.
9) Insomnia
Disebabkan karena adanya ketidaknyamanan akibat uteru yang membesar, pergerakan janin dan karena adanya kekhawatiran dan kecemasan.
h. Perubahan Psikologis pada Kehamilan Trimester Ketiga
Menurut Sulistyawati (2009), perubahan psikologis pada trimester III adalah:
1) Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik
2) Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu 3) Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat
melahirkan, khawatir akan keselamatannya
4) Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya 5) Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya
6) Merasa kehilangan perhatian 7) Perasaan mudah terluka (sensitif) 8) Libido menurun
i. Persiapan persalinan
1) Membuat rencana persalinan
32
2) Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama tidak ada
3) Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi kegawatdaruratan 4) Membuat rencana atau pola menabung
5) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan j. Memantau kesejahteraan janin
Pemantauan gerakan janin minimal dilakukan selama 12 jam, dan pergerakan janin selama 12 jam adalah minimal 10 kali gerakan janin yang dirasakan oleh ibu hamil.
k. Tanda – tanda bahaya kehamilan trimester III
Ada beberapa tanda-tanda bahaya kehamilan trimester 3 seperti perdarahan pervaginam, sakit kepala yang berat, penglihatan kabur, bengkak diwajah dan jari0jari tangan, keluar cairan pervagina, gerakan janin tidak terasa, nyeri perut yang hebat.
l. Pola Fungsional Kesehatan pada Ibu Hamil Tabel 2.7
Pola Kesehatan Kehamilan Pola Keterangan
Nutrisi
Jumlah tambahan kalori yang dibutuhkan pada ibu hamil adalah 300 kalori perhari, dengan komposisi menu seimbang dengan kebutuhan cairan paling sedikit 8 gelas berukuran 250 ml/hariuntuk mencegah terjadinya sembelit dan ISK (Heidi Murkoff, 2012).
Eliminasi dan Kostipasi
Pada trimester III, terjadi pembesaran uterus yang menurunkan kapasitas kandung kemih sehinggga mengakibatkan sering BAK. Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus, menyebabkan kesulitan untuk BAB.
33 (sumber: Prawihardjo, 2012)
Istirahat Wanita hamil dianjurkan untuk tidur siang 1 sampai 2 jam setiap hari, 8 jam setiap tidur malam.
Personal Hygiene
Ibu hamil harus menjaga kebersihan badannya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi, pemeliharaan buah dada juga penting, puting susu harus dibersihkan setiap terbasahi oleh colostrum.
Perawatan gigi diperlukan dalam kehamilan karena gigi yang baik menjamin pencernaan yang sempurna.
Seksualitas
Apabila sudah memasuki 38-42 minggu belum ada tanda-tanda kehamilan, di anjurkan untuk melakukan hubungan intim, karena sperma yang mengandung prostalglandin ini akan dapat membantu rahim untuk berkontraksi.
34
Daftar nomenklatur diagnose kebidanan (WHO, UNFPA, UNICEF, Word Bank (2000)
DIAGNOSA NOMENKLATUR KEBIDANAN 1. Persalinan normal
2. Partus normal 3. Syok
4. Djj tidak normal 5. Abortus
6. Solusio placenta 7. Akut pyelonephritis 8. Amnionitis
9. Anemia berat 10. Apendiksitis 11. Atonia uteri 12. Infeksi mamae 13. Pembengkakan
mamae
14. Presentasi bokong 15. Asma bronchiale 16. Presentasi dagu 17. Disproporsi sevalo
pelvik
18. Hipertensi kronik 19. Koagilopati 20. Presenasi ganda 21. Cystitis
22. Eklamsia
23. Kelainan ektopik 24. Ensaphalitis
25. Epilepsy 26. Hidramnion 27. Presentasi muka 28. Persalinan semu 29. Kematian janin 30. Hemoragik
antepartum 31. Hemoragik postpartum 32. Gagal jantung 33. Inersia uteri 34. Infeksi luka 35. Invertio uteri 36. Bayi besar
37. Malaria berat dengan komplikasi 38. Malaria ringan
dengan komplikasi 39. Meconium
40. Meningitis 41. Metritis 42. Migraine
43. Kehamilan mola 44. Kehamilan ganda 45. Partus macet 46. Posisi Occiput
posterior
47. Posisi occiput melintang
48. Kista ovarium 49. Abses pelvix 50. Peritonitis 51. Placenta previa 52. Pneumonia 53. Pre-Eklamsia
ringan/berat
54. Hipertensi karena kehamilan
55. Ketuban pecah dini 56. Partus prematurus 57. Prolapses tali pusat 58. Partus fase laten
lama
59. Partus kala II lama 60. Sisa plasenta 61. Retensio plasenta 62. Rupture uteri 63. Bekas luka uteri 64. Presentase bahu 65. Distosia bahu 66. Robekan serviks
dan vagina 67. Tetanus 68. Letak lintang 2) Anemia dalam kehamilan Anemia dalam kehamilan memberi
pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit penyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus), kelahiran prematurs, persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok,
35
infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin serta anemia yang berat (< 10,5 gr % pada trimester 2, nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil, terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Cunningham. F, 2005).
Anemia yang paling sering dijumpai dalam kehamilan adalah anemia akibat kekurangan zat besi karena kurangnya asupan unsur besi dalam makanan. Gangguan penyerapan, peningkatan kebutuhan zat besi atau karena terlampau banyaknya zat besi yang keluar dari tubuh, misalnya pada perdarahan. Wanita 8 hamil butuh zat besi sekitar 40 mg perhari atau 2 kali lipat kebutuhan kondisi tidak hamil. Jarak kehamilan sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia saat kehamilan. Kehamilan yang berulang dalam waktu singkat akan menguras cadangan zat besi ibu. Pengaturan jarak kehamilan yang baik minimal dua tahun menjadi penting untuk diperhatikan sehingga badan ibu siap untuk menerima janin kembali tanpa harus menghabiskan cadangan zat besinya (Mardliyanti, 2006).
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11gr % pada trimester 1 dan 3 atau kadar <
10,5 gr % pada trimester 2, nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil, terjadi karena hemodulasi, terutama pada trimester 21x (Cunningham. F, 2005).
Klasifikasi menurut WHO dan Dep.Kes RI 1) Normal : Kadar Hb dalam darah ≥ 11 gr%
36
2) Anemia Ringan : Kadar Hb dalam darah 8 - 10 gr%
3) Anema berat : Kadar Hb dalam darah < 8 gr%
Klasifikasi menurut (Manuaba, 1998) 1) Tidak Anemia : Hb 11 g r%
2) Anemia ringan : Hb 9 – 10 gr % 3) Anemia sedang : Hb 7 – 8 gr % 4) Anemia berat : Hb < 7 gr % Beberapa penyebab anemia yaitu :
1. Zat besi yang masuk melalui makanan tidak mencukupi kebutuhan.
2. Meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi, terutama ibu hamil, masa tumbuh kembang pada remaja, penyakit kronis, seperti tuberculosis dan infeksi lainnya.
3. Perdarahan yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang, malaria, haid yang berlebihan dan melahirkan.
Paritas Menurt Herlina (2006), Ibu hamil dengan paritas tinggi mempunyai resiko 1.454 kali lebih besar untuk mengalami anemia di banding dengan paritas rendah. Adanya kecenderungan bahwa semakin banyak jumlah kelahiran (paritas), maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia.
Kurang Energi Kronis (KEK) 41% (2.0 juta) ibu hamil menderita kekurangan gizi. Timbulnya masalah gizi pada ibu hamil, seperti kejadian KEK, tidak terlepas dari keadaan sosial, ekonomi, dan bio sosial dari ibu hamil dan keluarganya seperti
37
tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, konsums pangan, umur, paritas, dan sebagainya. Pengukuran lingkar lengan atas (LILA) adalah suatu cara untuk mengetahui resiko Kurang Energi Kronis (KEK) Wanita UsiaSubur (WUS). Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan tatus gizi dalam jangka pendek. Pengukuran lingkar lengan atas (LILA) dapat digunakan untuk tujuan penapisan status gizi Kurang Energi Kronis (KEK).
Ibu hamil KEK adalah ibu hamil yang mempunyai ukuran LILA<
7 gr % disebut anemia berat (Manuaba, 2010).
Anemia fisiologi dalam kehamilan Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena ibu hamil mengalami hemodelusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30 % sampai 40 % yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Jumlah peningkatan sel darah 18 % sampai 30 % dan hemoglobin sekitar 19 % (Manuaba, 2010).
Patofisiologi Anemia adalah suatu kondisi yang mengakibatkan kekurangan zat besi dan biasanya terjadi secara bertahap. (Zulhaida Lubis, 2003).
1) Stadium 1
Kehilangan zat besi melebihi ukuran, menghabiskan cadangan dalam tubuh terutama disumsum tulang.
38 2) Stadium 2
Cadangan zat besi yang berkurang tidak dapat memenuhi kebutuhan membentuk sel darah merah yang memproduksi lebih sedikit.
3) Stadium 3
Mulai terjadi anemia kadar hemoglobin dan haemotokrit menurun.
4) Stadium 4
Sumsum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan zat besi dengan mempercepat pembelahan sel dan menghasilkan sel darah merah baru yang sangat kecil (Mikrositik).
5) Stadium 5
Semakin memburuknya kekurangan zat besi dan anemia maka timbul gejala - gejala karena anemia semakin memburuk (Anonim, 2004).
Ibu hamil memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah, janin dan plasenta. Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe dan zat besi (Zulhaida Lubis, 2003)
.
39
Klasifikasi anemia ibu hamil Secara umum menurut Proverawati (2009) anemia dalam kehamilan diklasifikasikan menjadi:
a. Anemia defisiensi besi sebanyak 62,3% Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya adalah pemberian tablet besi yaitu keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam 14 laktasi yang dianjurkan. Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnese. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang- kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan metode sahli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Anemia Megaloblastik sebanyak 29%. Anemia ini disebabkan karena defisiensi asam folat (pteryglutamic acid) dan defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin) walaupun jarang. Menurut Hudono (2007) tablet asam folat diberikan dalam dosis 15-30 mg, apabila disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dengan dosis 100- 1000 mikrogram sehari, baik per os maupun parenteral.
b. Anemia Hipoplastik dan Aplastik sebanyak % Anemia disebabkan karena sum-sum tulang belakang kurang mampu membuat sel-sel darah baru.
c. Anemia Hemolitik sebanyak 0,7% Anemia disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat
40
daripada pembuatannya. Menurut penelitian, ibu hamil dengan anemia paling banyak disebabkan oleh kekurangan zat besi (Fe) serta asam folat dan viamin B12. Pemberian makanan atau diet pada ibu hamil dengan anemia pada dasarnya ialah memberikan makanan yang banyak mengandung protein, zat besi (Fe), asam folat, dan vitamin B12. 15 2.1.6 Bahaya anemia dalam kehamilan (Manuaba, 2010)
Pengaruh anemia pada kehamilan. Risiko pada masa antenatal :berat badan kurang, plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intranatal, shock, dan masa pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan, komplikasi yang dapat terjadi pada neonatus : premature, apgar scor rendah, gawat janin. Bahaya pada Trimester II dan trimester III, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosisdan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu (Mansjoer A. dkk., 2008).
Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan, dapat menyebabkan gangguan his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif (Mansjoer A. dkk., 2008).
41
Anemia kehamilan dapat menyebabkan kelemahan dan kelelahan sehingga akan mempengaruhi ibu saat mengedan untuk melahirkan bayi (Smith et al., 2012).
Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan : gangguan his kekuatan mengejan, Kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, Kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan, Kala III dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum akibat atonia uteri, Kala IV dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri. Pada kala nifas : Terjadi subinvolusi uteri yang menimbulkan perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, dekompensasi kosrdis mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mammae (Saifudin, 2006)
Akibat anemia terhadap kehamilan:
a) Abortus
b) Kematian intra uterine
c) Persalinan prematuritas tinggi d) Berat badan lahir rendah e) Kelahiran dengan anemia f) Cacat bawaan
g) Bayi mudah infeksi sampai kematian perinatal h) Intelegiensia rendah (Manuaba, 2010)
42
Pencegahan anemia Pencegahan anemia pada ibu hamil antara lain :
a) Mengkonsumsi pangan lebih banyak dan beragam, contoh sayuran warna hijau, kacang – kacangan, protein hewani, terutama hati.
b) Mengkonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C seperti jeruk, tomat, mangga dan lain–lain yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Suplemen zat besi memang diperlukan untuk kondisi tertentu, wanita hamil dan anemia berat misalnya. Manfaat zat besi selama kehamilan bukan untuk meningkatkan atau menjaga konsentrasi hemoglobin ibu, atau untuk mencegah kekurangan zat besi pada ibu. Ibu yang mengalami kekurangan zat besi pada awal kehamilan dan tidak mendapatkan suplemen memerlukan sekitar 2 tahun untuk mengisi kembali simpanan zat besi dari sumber-sumber makanan sehingga suplemen zat besi direkomendasikan sebagai dasar yang rutin (Depkes, 2008).
Penderita anemia ringan sebaliknya tidak menggunakan suplemen zat besi. Lebih cepat bila mengupayakan perbaikan menu makanan. Misalnya dengan konsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi seperti telur, susu, hati, ikan, daging, kacang-kacangan (tahu, oncom, kedelai, kacang hijau, sayuran berwarna hijau, sayuran berwarna hijau tua (kangkung, bayam) dan buah-buahan (jeruk, jambu biji dan pisang). Selain itu tambahkan substansi yang memudahkan penyerapan zat besi