• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
zaka

Academic year: 2024

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 1 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 P U T U S A N

Nomor 2356 K/Pdt/2015

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

1. MAUJALO HARAHAP, bertempat tinggal di Desa Mahato, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu;

2. MASRINA BR. HARAHAP, bertempat tinggal di Desa Mahato, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu;

3. ALI USMAN HARAHAP, bertempat tinggal di Desa Mahato, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu;

4. KENDI HARAHAP, bertempat tinggal di Desa Mahato Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu, dalam hal ini memberi kuasa kepada Bambang Harrys Samosir, S.H.,M.H., dan kawan-kawan Advokat, berkantor di Jalan Setia Budi Nomor 17-A, Medan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 2 Maret 2014;

Pemohon Kasasi dahulu Para Penggugat/Para Pembanding;

lawan

1. AMRI SUMARWAN, bertempat tinggal di Desa Mahato Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu;

2. TUGINO, bertempat tinggal di Desa Mahato Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu keduanya dalam hal ini memberi kuasa kepada Irawan Harahap, S.H.,S.E.,M.Kn, Advokat, berkantor di Gedung Viola, Jalan Abubakar Ali Nomor 22, Lt. II, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 14 Maret 2014;

Para Termohon Kasasi dahulu Para Tergugat/Para Terbanding;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Para Penggugat/Para Pembanding telah menggugat sekarang Para Termohon Kasasi dahulu sebagai Para Tergugat Para Terbanding di muka persidangan Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian pada pokoknya atas dalil-dalil:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 2 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 - Bahwa Penggugat-1, Penggugat-2, Penggugat-3 dan Penggugat-4 adalah mempunyai hubungan tali darah yang erat dan sah antara ayah, lbu dan anak;

- Bahwa para Penggugat telah mengusahakan dan menggarap serta menguasai tanah Kebun Kelapa Sawit sejak tahun 1996, yang terletak di Desa Mahato, Kec. Tambusai Utara, seluas Iebih kurang 20 Ha, dengan ukuran dan batas-batasnya sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatas dengan Mispan, Nainggolan, Ayong dan Tukkir :1000 meter;

Sebelah Selatan berbatas dengan Susono, Wagimin, Siuman, Ponija :1000 meter;

Sebelah Barat berbatas dengan Sutrisno, Sabarudin, dan Sembiring :200 meter;

Sebelah Timur berbatas dengan jalan seluas :200 meter;

- Bahwa tanah para Penggugat tersebut di atas terletak di RT 04 dan RW.04 tersebut telah pula turun kelapangan menunjukkan batas-batas dan ukuran tanah tersebut, karena sebelum ditanam kelapa sawit, tanah-tanah seluas 20 ha tersebut telah diimas tumbang oleh Sdr. Samosir dan Sdr. Firman;

- Bahwa, setelah diimas tumbang, kemudian pada tahun 2000-an lalu ditanam dengan kelapa sawit, sampai sekarang;

- Bahwa setelah berhasil ditanam semua dengan kelapa sawit, pada tahun 2000/2001 kebun sawit milik para Penggugat dirusak oleh Tergugat-Tergugat sehingga yang terssisa hanya lebih kurang 8 Ha. Saja, dan 12 Ha telah dirusak oleh Tergugat-Tergugat;

- Bahwa pada sekitar tahun 2005 Para Penggugat menanam kembali sawit yang telah dirusak oleh para Tergugat;

- Bahwa setelah penanaman kembali lahan yang dirusak oleh para Tergugat, tiba-tiba dengan melawan hak, Tergugat-1 tanpa alasan yang jelas telah menguasai tanah Para Penggugat seluas 4,215 Ha, dengan alasan bahwa Tergugat-1 telah membelinya dan orang yang bernama Supri dengan batas berbatas adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatas dengan Wahidin : 184 Meter;

Sebelah Selatan berbatas dengan Sutrisno, Maujalo Harahap : 254 Meter;

Sebelah Timur berbatas dengan Tugino : 232 Meter;

Sebelah Barat berbatas dengan Giman, Sembiring : 153 Meter;

- Bahwa oleh Tergugat-2 dengan melawan hak, telah pula menguasai tanah garapan milik para Penggugat seluas 4,472 Ha. dengan mengakui bahwa

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 3 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 Tergugat-2 membelinya dari Sugeng Rahayu dan Elfazer dengan batas berbatas adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatas dengan Ayong, J Marpaung : 210 Meter;

Sebelah Selatan berbatas dengan Jalan Desa : 192 Meter;

Sebelah Timur berbatas dengan Maujalo Harahap, P.Situkkir : 213 Meter;

Sebelah Barat berbatas dengan Amril Sunarwan : 232 Meter;

- Bahwa untuk itu diperintahkan kepada Tergugat-1 dan Tergugat-2 untuk mengembalikan tanah perkara kepada Para Penggugat secara suka rela, yang terbebas hak orang lain diatasnya, jika perlu dengan bantuan yang berwajib;

- Bahwa perbuatan Tergugat-1 dan Tergugat-2 telah merusak, menyerobot dan menguasai lahan tanah garapan milik para Penggugat dengan melawan hak adalah perbuatan melawan hukum;

- Bahwa sejak Tergugat-1 dan Tergugat-2 telah menguasai lahan tersebut, Tergugat-1 dan Tergugat-2 telah menikmati hasil dari Kebun sawit milik para Penggugat tersebut sampai sekarang;

- Bahwa dalam hal kepemilikan Surat tanah sengketa, maka para Penggugat telah mengurus SKRT tanah tersebut melalui Kaur Desa bernama Fariadi pada Bulan Juni 2006;

- Bahwa oleh Tergugat-1 para Penggugat selalu ditakut-takuti agar yang dituntut bukan Tergugat-1, padahal Supri tidak mempunyai lahan di lokasi tanah perkara, begitu juga dengan Tergugat-2 selalu berupaya menakut- nakuti Para Penggugat sekeluarga, dan anehnya justru Tergugat-2 yang berantem dengan saksi Penggugat bernama Winarto;

- Bahwa pada tanggal 5 Juli 2006 telah dibuat Surat Pernyataan bahwa lahan seluas 20 Ha. Yang terletak di Pasir Putih Desa Mahato, Kec. Tambusai Utara adalah milik para Penggugat, yang ditanami dengan tanaman Sawit, tanaman Karet, Pisang, Kelapa, Palawija, Pinang serta Jengkol, yang ditandatangani oleh Ketua RT 01. Dusun XII Pasir Putih Desa Mahato, adalah sah dan berkekuatan Hukum;

- Bahwa pada tahun 2006 para Penggugat telah melakukan Somasi kepada Tergugat-1 dan Tergugat-2, melalui Kuasa Hukumnya waktu itu bernama AT.

Tampubolon, S.H. Namun Tergugat-Tergugat tetap tidak mau peduli dengan teguran para Penggugat tersebut;

- Bahwa akibat perilaku Tergugat-1 dan Tergugat-2 yang tidak mau peduli dengan upaya-upaya damai yang dilakukan, sehingga Para Penggugat telah dirugikan secara moril maupun Materil;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 4 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 Kerugian Moril:

- Bahwa para Penggugat telah capek, susah pikiran, tertekan karena ancaman-ancaman dan Tergugat-1 yang berbaju seragam, mencari nafkah jadi terganggu, rasa malu karena punya lahan tak dapat dikuasai, sehingga para Penggugat telah dirugikan secara Moril, yang apabila dikonpensasikan menjadi Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);

Kerugian Materil:

- Bahwa para Penggugat telah dirugikan pula secara Materil, untuk melayani Tergugat-1 dan Tergugat-2, para Penggugat telah mengeluarkan banyak dana untuk melayani kekerasan hati Tergugat-1 dan Tergugat-2 yang tetap ngotot tanah miliknya, yang apabila dihitung-hitung sejak tahun 2000 sampai dengan sekarang dan hasil panen yang diambil oleh para Tergugat seluas 8,6 Ha. Berjumlah Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah);

- Bahwa dan jumlah kerugian materi Yang harus dibayar Tergugat-1 dan Tergugat-2 kepada Para Penggugat secara tanggung renteng, walaupun ada Verzet atau Banding, yang keseluruhannya berjumlah Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah);

- Bahwa para Penggugat khawatir akan itikad tidak baik dan Tergugat-1 dan Tergugat-2 yang akan mengalihkan Objek perkara kepada pihak ketiga, menjual, atau menggadaikan atau menjadikan objek perkara tanggungan hutang Tergugat-1 dan Tergugat-2, maka para Penggugat mohon kepada Bapak Ketua/Majelis Hakim Yang Mulia yang memeriksa dan mengadili perkara ini kami kedua belah pihak agar meletakkan Sita Jaminan Conservatoir Beslag (CB) terhadap Objek perkara, yaitu 4,215 ha yang dikuasai Tergugat-1 dan 4,472 Ha yang dikuasai oleh Tergugat-2 atau kalau perlu dengan bantuan yang berwajib;

- Bahwa para Penggugat tetap berupaya mencari jalan damai dengan cara kekeluargaan, dengan melalui perundingan Desa, dengan Somasi dan segala upaya agar Tergugat-1 dan Tergugat-2 mau menyerahkan tanah para Penggugat secara Sukar rela dan bersahabat, namun Tergugat-1 dan Tergugat-2 tetap membandel, sehingga untuk menghindari masalah ini lebih besar, maka Para Penggugat mengajukan Gugatan ini ke Pengadilan Negeri Pasir Pengaraian;

Bahwa berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas Para Penggugat mohon kepada Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian agar memberikan putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Para Penggugat seluruhnya;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 5 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 2. Menyatakan Surat Pernyataan tanggal 5 Juli 2006 adalah sah dan

berkekuatan Hukum;

3. Menyatakan Surat-surat tanah milik Para Penggugat (SKRT) yang telah diterbitkan oleh Desa adalah sah dan berkekuatan Hukum;

4. Menyatakan Jual Beli antara Tergugat-1 dengan Supri tidak sah dan batal demi Hukum;

5. Menyatakan Jual Beli antara Tergugat-2 dengan Sugeng Rahayu tidak sah dan batal demi hukum;

6. Menyatakan perbuatan Tergugat-1 dan Tergugat-2 menguasai lahan Para Penggugat secara melawan hak, adalah perbuatan melawan Hukum;

7. Menyatakan Sita jaminan yang telah diletakkan terhadap tanah perkara adalah sah dan berharga;

8. Memerintah kepada Tergugat-1 dan Tergugat-2 menyerahkan tanah perkara kepada Para Penggugat secara suka rela, atau kalau perlu dengan bantuan yang berwajib;

9. Memerintahkan kepada Tergugat-1 dan Tergugat-2 untuk membayar ganti rugi kepada Para Penggugat secara tanggung renteng, yaitu kerugian Moril dam materil berjumlah Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah);

10. Membebankan biaya perkara kepada Tergugat-1 dan Tergugat-2 yang timbul dalam perkara ini;

Atau Majelis berpendapat lain, mohon putusan yang adil;

Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat II mengajukan eksepsi dan gugatan rekonvensi yang pada pokoknya sebagai berikut:

1. Bahwa pada prinsipnya Tergugat 2 menolak seluruh dalil-dalil yang diajukan Penggugat dalam gugatannya, kecuali yang diakui secara tegas kebenarannya oleh Tergugat;

2. Bahwa segala yang disampaikan dalam eksepsi ini merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam pokok perkara;

Bahwa dengan ini Tergugat 2 mengajukan Eksepsi Plurium Litis Consortium/

Gugatan Penggugat Kurang Pihak;

Alasan pengajuan eksepsi ini, yaitu apabila orang yang ditarik sebagai Tergugat tidak lengkap atau orang yang bertindak sebagai Penggugat tidak lengkap. Masih ada orang yang harus ikut dijadikan sebagai Penggugat atau Tergugat baru sengketa yang dipersoalkan dapat diselesaikan secara tuntas dan menyeluruh;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 6 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 Bahwa dalam mengajukan sebuah gugatan ada keharusan para pihak dalam gugatan harus lengkap;

Bahwa gugatan yang diajukan oleh Penggugat adalah kurang pihak, dengan uraian sebagai berikut:

- Bahwa dalam fakta, tanah yang di tuduhkan oleh Para Penggugat dikuasai oleh Tergugat 2 adalah tanah yang didapatkan karena Melakukan pembayaran kepada Elfajer pada tanggal 24 September 2005 (dibuktikan dengan kwitansi);

- Melakukan pembayaran kepada Sugeng Rahayu pada tanggal 15 Oktober 2005 (dibuktikan dengan kwitansi);

- Melakukan pembayaran kepada Sugeng Rahayu dan FK Tumanggor pada tanggal 24 September 2007 terkait ganti rugi lahan Simanjuntak (dibuktikan dengan kwitansi);

- Melakukan pembayaran kepada Sugeng Rahayu pada tanggal 24 September 2007 (dibuktikan dengan kwitansi);

- Bahwa berdasarkan fakta tersebut sudah seharusnya Sugeng Rahayu, Elfajer, Simanjuntak dan FK Tumanggor, dijadikan pihak Tergugat dalam perkara aquo, namun dalam perkara ini Sugeng Rahayu, Elfajer, Simanjuntak dan FK Tumanggor tidak ikut digugat;

- Bahwa dalam fakta, tanah yang digugat oleh Para Penggugat kepada Tergugat 2 adalah terdaftar atas nama Tergugat 2 berdasarkan SKRT Nomor 592.11/028/SKRT/MT/IX/2007 dan terdaftar atas nama Suriati berdasarkan SKRT Nomor 592.11/029/SKRT/MTAX/2007, namun dalam perkara a quo Suriati tidak ikut digugat, padahal tanah yang diperkarakan oleh Para Penggugat juga termasuk yang tertera atas nama Suriati;

- Bahwa dengan tidak ditariknya Sugeng Rahayu, Elfajer, Simanjuntak dan FK Tumanggor dan Suriati sebagai pihak dalam perkara a quo, maka Gugatan Penggugat Konvensi adalah nyata-nyata kurang pihak dan sudah sepatutnya apabila terhadap Gugatan Penggugat Konvensi ditolak atau setidak-tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard);

4. Bahwa dengan ini Tergugat 2 mengajukan Eksepsi Error objek, Objek gugatan Penggugat adalah Kabur;

Bahwa tanah yang menjadi objek gugatan Para Penggugat adalah tidak jelas, karena di dalam gugatannya, Para Penggugat mengaku memiliki tanah seluas 20 Ha, yang kemudian diakui saat ini hanya tinggal kurang lebih 8 Ha saja, dengan artian sudah berkurang 12 Ha, namun di sisi yang lain Para

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 7 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 Penggugat menuduh Tergugat 1 telah menguasai seluas 4.215 Ha dan Tergugat 2 seluas 4.472 Ha, yang apabila dijumlahkan tanah yang dituduhkan dikuasai oleh Tergugat 1 dan 2 adalah 8.687 Ha, dan bukan 12 Ha, dan menjadi pertanyaan siapa yang menguasai 3.3 13 Ha lainnya, bila memang benar kekurangannya adalah 12 Ha;

5. Bahwa dengan uraian pada angka 4 diatas, terlihat bahwa gugatan yang diajukan oleh Para Penggugat adalah kabur mengenai luas tanah yang dijadikan objek perkara, sehingga jelaslah apabila gugatan Para Penggugat haruslah di tolak atau setidak-tidaknya tidak dapat diterima;

Dalam Rekonvensi:

1. Bahwa segala yang disampaikan dalam Konvensi merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam Rekonvensi ini;

2. Bahwa Penggugat Rekonvensi menolak dengan tegas dalil-dalil Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi kecuali dengan tegas diakui;

3. Bahwa dalil-dalil kami yang terdapat dalam eksepsi dan pokok perkara mohon digunakan sebagai pertimbangan pula dalam Rekonvensi ini;

4. Bahwa dengan adanya gugatan dari Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi, maka telah ternyata Tergugat 2 Konvensi mengalami tekanan jiwa yang sangat dalam, hal ini disebabkan persepsi masyarakat umum yang berubah terhadap diri Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi setelah adanya Gugatan dan Para Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi.

Oleh karenanya tindakan Para Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi tersebut adalah perbuatan melawan hukum yang nyata-nyata menimbulkan kerugian, yaitu menyebabkan nama baik Tergugat 2 Konvensi/

Penggugat Rekonvensi menjadi tercemar, Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi sering ditanyakan oleh masyarakat sekitar tempat kediaman mengenai gugatan yang saat ini dihadapi, sehingga seolah-olah yang bersalah adalah Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi dan seolah- olah telah menyerobot tanah orang lain, padahal yang dikuasai dan diolah oleh Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi adalah milik sendiri;

5. Bahwa akibat tindakan perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan nama baik Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Konvensi menjadi tercemar, maka hal tersebut menimbulkan rugian materiil yaitu biaya yang nyata nyata harus dikeluarkan oleh Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi sebesar Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan timbulnya kerugian immateriil bagi Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi yang apabila dinilai dengan uang maka bernilai sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah);

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 8 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 6. Bahwa untuk menjamin Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi dapat

menjalankan putusan gugatan Rekonvensi ini maka, Tergugat 2 Konvensi/

Penggugat Rekonvensi memohon majelis hakim yang mulia untuk meletakkan sita jaminan terhadap benda bergerak maupun tidak bergerak milik Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi dan menyatakan sah dan berharga sita jaminan terhadap benda bergerak maupun tidak bergerak milik Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi;

7. Bahwa dikarenakan gugatan yang diajukan Para Tergugat Rekonvensi adalah tidak beralasan hukum, maka Penggugat Rekonvensi meminta Hakim yang Mulia untuk menghukum Para Tergugat Konvensi/Para Penggugat Konvensi untuk membayar seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini;

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas Para Penggugat Rekonvensi mohon kepada Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian untuk memberikan putusan sebagai berikut:

1. Menerima dan mengabulkan gugatan Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi untuk seluruhnya;

2. Menyatakan bahwa Para Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu menyebabkan nama baik Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi menjadi tercemar;

3. Menghukum Para Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi untuk membayar seluruh ganti rugi biaya yang nyata-nyata hams dikeluarkan oleh Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi sebesar Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan timbulnya kerugian immateriil bagi Tergugat 2 Konvensi/Penggugat Rekonvensi yang apabila dinilai dengan uang maka bernilai sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah);

4. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan terhadap benda bergerak maupun tidak bergerak milik Para Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi;

5. Menghukum Para Tergugat Rekonvensi/Para Penggugat Konvensi untuk membayar seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini;

Majelis Hakim Yang Terhormat berpendapat lain, mohon putusan yang seadil- adilnya (ex aequo et bono);

Bahwa terhadap gugatan tersebut Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian telah memberikan Putusan Nomor 12/Pdt.G/2012/ PN.PSP tanggal 27 Maret 2013 yang amarnya sebagai berikut:

Dalam Konvensi:

Dalam Eksepsi:

- Menolak Eksepsi Tergugat II untuk seluruhnya;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 9 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 Dalam Pokok Perkara:

- Menolak gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya;

Dalam Rekonvensi:

- Menolak gugatan Penggugat Rekonvensi/Tergugat II Konvensi;

Dalam Konvensi dan Rekonvensi:

- Membebankan biaya perkara kepada Para Penggugat Konvensi/Para Tergugat Rekonvensi sebesar Rp3.089.000,00 (tiga juta delapan puluh sembilan ribu rupiah);

Menimbang, bahwa dalam tingkat banding atas permohonan Para Penggugat putusan Pengadilan Negeri tersebut telah dikuatkan oleh Pengadilan

Tinggi Pekanbaru dengan Putusan Nomor 125/PDT/2013/PTR tanggal 6 Februari 2014;

Menimbang, bahwa sesudah putusan terakhir ini diberitahukan kepada Penggugat I/Pembanding I pada tanggal 19 Februari 2014, kemudian terhadapnya oleh Penggugat I/Pembanding I dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 2 Maret 2014, diajukan permohonan kasasi pada tanggal 3 Maret 2014, sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 12/Pdt.G/2012/PN.PSP yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian, permohonan tersebut disertai dengan memori kasasi yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri tersebut pada tanggal 3 Maret 2014;

Bahwa memori kasasi dari Para Pemohon Kasasi/Para Penggugat/Para Pembanding tersebut telah diberitahukan kepada:

1. Termohon Kasasi I/Tergugat I/Terbanding I pada tanggal 5 Maret 2014;

2. Termohon Kasasi II/Tergugat II/Terbanding II pada tanggal 5 Maret 2014;

Kemudian Para Termohon Kasasi/Para Penggugat/Para Terbanding mengajukan jawaban memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian pada tanggal 18 Maret 2014;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima;

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/Para Penggugat/Para Pembanding dalam memori kasasinya tersebut pada pokoknya sebagai berikut:

I. Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru dan Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian Telah Salah Menerapkan Hukum Atau Melanggar

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 10 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 Hukum Yang Berlaku (vide: Pasal 30 ayat I huruf b Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI);

1. Bahwa Pemohon Kasasi sangat tidak sependapat dengan pertimbangan dalam Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 125/PDT/

2013/PTR, tanggal 6 Februari 2014 yang telah mengambil alih untuk dijadikan pertimbangannya sendiri, sedangkan Pengadilan Tinggi Pekanbaru sama sekali tidak memberikan dasar dan alasan untuk melakukan pengambil-alihan pertimbangan tersebut, sebagaimana pertimbangan pada halaman 5 alenia ke-1 Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru a quo yang menyatakan:

Menimbang, bahwa dengan mengambil dan menjadikan pertimbangan Hakim tingkat pertama sebagai dasar pertimbangan sendiri maka Pengadilan Tinggi dapat mempertahankan putusan Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian tanggal 27 Maret 2013 Nomor 12/Pdt.G/2012/PN.PsP dan harus dikuatkan”;

Sehingga dengan demikian Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 125/PDT/2013/PTR, tanggal 6 Februari 2014 yang demikian sangatlah tidak cukup dan sepatutnya dibatalkan hal ini didukung oleh fakta hukum yang ternyata Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 125/PDT/2013/PTR, tanggal 6 Februari 2014 dalam hal menjadikan dasar pertimbangan hukum hanyalah didasarkan pada amar putusan Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian saja tanpa melihat secara keseluruhan duduk Perkara yang diperiksa dan diadilinya. Sehingga putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru sangat tidak sesuai dan bertentangan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor 9 K/Sip/

1972, tanggal 19 Agustus 1972 yang menyatakan:

“Pertimbangan Pengadilan Tinggi yang hanya menyetujui dan menjadikan alasan sendiri hal-hal yang dikemukakan oleh Pembanding dalam Memori Bandingnya, seperti halnya kalau Pengadilan Tinggi menyetujui keputusan Pengadilan Negeri, adalah tidak cukup”;

OIeh karena, Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 125/PDT/2013/PTR, tanggal 6 Februari 2014 yang sekedar mengambil alih pertimbangan Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian Nomor 12 Pdt.G/2012/

PN.PsP, tanggal 27 Maret 2013, tanpa memberikan dasar dan alasan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 11 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 pengambil-alihan putusan Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian tersebut dan tanpa melihat secara keseluruhan duduk Perkara yang diperiksa dan diadilinya dalam melakukan pembenaran pertimbangan tersebut adalah merupakan putusan yang tidak cukup dipertahankan ditingkat kasasi dan sudah sepatutnya untuk dibatalkan;

2. Bahwa jika diperhatikan secara cermat pertimbangan hukum Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 125/PDT/2013/PTR, tanggal 6 Februari 2014 pada halaman 3 s/d halaman 5, ternyata Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru telah salah/keliru menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku dalam memeriksa dan mengadili perkara ini di tingkat banding, di mana pertimbangan hukum Judex Facti PengadiIan Tinggi Pekanbaru dalam hal memutus perkara a quo tingkat banding tidak didasarkan pada pertimbangan hukum yang cukup (onvoeldoende gemotiverd), karena jelas ternyata Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru tidak melihat substansi permasalahan perkara a quo dengan berdasarkan ketentuan hukum, hal mana jika dicermati secara keseluruhan perkara tersebut ternyata tidak terbantahkan kebenarannya dengan melihat pertimbangan hukum Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian pada halaman 47 alenia ke-2 s/d alenia 3 yang serta merta dikuatkan oleh putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru, disebutkan:

“Menimbang bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi Para Penggugat dan Para Tergugat telah nyata diakui bahwa yang terlebih dahulu menguasai dan mengelola objek sengketa adalah Para Penggugat dst”;

3. Bahwa melihat pertimbangan tersebut di atas harus diakui keberadaan Para Penggugat/Para Pemohon Kasasi adalah orang yang terlebih dahulu menguasai dan mengusahakan objek perkara a quo yaitu sejak tahun 1996 secara terus menerus namun penguasaan objek Perkara a quo terganggu dikarenakan pada tahun 2005 dan tahun 2006 Tergugat II/Termohon Kasasi II dan Tergugat I/Termohon Kasasi I melawan hukum telah menguasai objek perkara a quo dengan menerbitkan sejumlah surat diatas objek perkara a quo (Iebih lanjut lihat pertimbangan hukum Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian hal. 48 alenia 2 s/d 3) sehingga telah jelas dan nyata perbuatan Tergugat Il/Termohon Kasasi II dan Tergugat I/Termohon Kasasi I menguasai objek perkara a quo adalah merupakan perbuatan meIawan hukum dan segala yang berkaitan dengan peralihan surat-surat atas objek perkara yang dilakukan oleh Tergugat l/Termohon Kasasi I dan Tergugat Il/Termohon Kasasi II adalah batal demi hukum dengan segala akibat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 12 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 hukumnya, dengan demikian Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru telah salah dan keliru dalam mempertimbangkan dan memutus perkara a quo ditingkat banding, lagi pula putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru yang dimohonkan kasasi a quo tidak didasarkan oleh suatu pertimbangan yang terperinci cermat dengan dilandasi pembuktian yang cukup, dengan demikian terlihat secara nyata Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru telah salah menerapkan hukum atau melanggar hukum yang berlaku (Vide: Pasal 30 ayat I huruf b Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah ubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan Undang Undang No. 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI), oleh sebab mana cukup alasan hukum untuk dibatalkan ditingkat kasasi;

4. Bahwa selanjutnya ternyata diatas objek perkara a quo yang telah dikuasai dan diusahai oleh Para Penggugat sejak tahun 1996 ternyata oleh majelis hakim Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang serta merta dikuatkan oleh Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru yang dimohonkan kasasi diabaikan seluruhnya, halmana dapat dilihat pada halaman 47 alenia ke-2 Putusan Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian Nomor 12 Pdt.G/2012/PN.PsP, tanggal 27 Maret 2013, disebutkan:

“...suatu tanah hak pengelolaan dapat dinyatakan sebagai tanah terlantar apabila kewenangan hak menguasai dari Negara atas tanah tersebut tidak dilaksanakan oleh pemegang hak pengelolaan sesuai tujuan pemberian (Pasal 7 ayat 1 PP Nomor 3611998) atau dapat dikatakan sebagai tanah terlantar apabila tanah yang sudah diperoleh hak penguasaannya tidak dimohonkan haknya atau tidak dipelihara dengan baik (Pasal 8 ayat PP Nomor 36/1998”;

Apabila dicermati pertimbangan hukum Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang serta merta dikuatkan oleh Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru yang dimohonkan kasasi a quo sangatlah bertentangan dengan ketentuan pada Pasal 1 ayat 4 PP Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar dijelaskan:

“Pemegang Hak Pengelolaan adalah Instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau badan lain yang dibeli pelimpahan kewenangan peIaksanaan sebagian hak menguasai dari Negara atas tanah Negara dengan pemberian Hak Pengelolaan”;

Berdasarkan fakta yuridis tersebut sudah sangat jelas dan nyata Para Penggugat bukanlah merupakan seorang yang dibebani hak pengelolaan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 13 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 atas objek perkara a quo sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 4 Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah terlantar, namun ternyata oleh Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang serta merta dikuatkan oleh Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru yang dimohonkan kasasi ternyata Para Penggugat dianggap sebagai pemegang hak pengelolaan, dengan demikian terlihat secara nyata Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru telah salah menerapkan hukum atau melanggar hukum yang berlaku (Vide: Pasal 30 ayat I huruf b Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI), oleh sebagaimana cukup alasan hukum untuk batalkan ditingkat kasasi;

5. Bahwa Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 125/

PDT/2013/PTR, tanggal 6 Februari 2014 pada halaman 3 s/d halaman 5 telah salah menerapkan hukum dan melanggar ketentuan Hukum Pembuktian sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 163 HIR atau ketentuan Pasal 283 Rbg sebagai dasar untuk mempertimbangkan fakta- fakta hukum yang dilandasi alat bukti yang sah, dimana Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru sama sekali tidak mempertimbangkan bukti- bukti yang dimajukan para pihak dalam memutus perkara a quo Dalam Pokok Perkara, yang secara nyata telah diakui oleh Judex Facti Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian bahwasanya Para Penggugatlah yang terlebih dahulu menguasai dan mengelola objek sengketa yaitu sejak tahun 1996, namun ternyata objek perkara tersebut dikuasai secara melawan hukum oleh Tergugat I dan Tergugat Il/Termohon Kasasi I dan II dengan menerbitkan surat-surat atas objek perkara tersebut dengan dasar bahwasanya tanah objek perkara a quo terkena Peraturan Desa sehingga Pemerintah Desa Mahato dapat mengambil dan memperjual belikan tanah objek Perkara a quo hingga pada akhirnya beralih kepada Tergugat I dan Tergugat II/Termohon Kasasi I dan II, padahal secara hukum tidak ada satupun peraturan desa yang menyatakan desa berwenang mengambil suatu hak atas tanah yang dikuasai/diusahai oleh pemiliknya tanpa ganti rugi yang sah dan wajar namun fakta itu terjadi di Pemerintahan Desa Mahato, Kec. Tambusai Utara, Kab. Rohul sehingga peraturan desa tersebut adalah peraturan yang bertentangan dengan hukum dan sangat bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945, sehingga perbuatan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 14 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat Il/Termohon Kasasi II menguasai objek perkara a quo yang diperoleh dari Supri dan Sugeng Rahayu yang notebenenya adalah oknum aparatur desa (Kadus Desa Mahato) telah sewenang-wenang mengambil alih kepemilikan tanah dari Para Penggugat/Para Pemohon Kasasi tanpa ganti rugi yang sah adalah merupakan perbuatan melawan hukum dan segala yang berkaitan dengan peralihan surat-surat atas objek perkara yang dilakukan oleh Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat Il/Termohon Kasasi II adalah batal demi hukum dengan segala akibat hukumnya, sehingga dalam hal menganulir/

menguatkan putusan Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian Nomor 12/Pdt.G/

2012/PN.PSP tanggal 27 Maret 2013 oleh Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 125/PDT/2013/PTR, tanggai 6 Februari 2014 baik dalam hal pertimbangan hukum maupun amarnya adalah sangat jelas tanpa didukung oleh pertimbangan hukum yang cukup dengan mempertimbangkan bukti yang dimajukan oleh kedua belah pihak sehingga putusan Judex Facti yang dimohonkan kasasi a quo terkesan dilandasi pertimbangan subjektif dan sangat ceroboh, oleh sebabmana cukup alasan hukum jika Putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 125/PDT/ 2013/PTR, tanggal 6 Februari 2014 yang dimohonkan kasasi a quo untuk dibatalkan ditingkat kasasi;

6. Bahwa jika diperhatikan pertimbangan hukum Judex Facti pada Halaman 4 alinea 4 dan halaman 5 alenia 1, menyebutkan:

“Menimbang, bahwa Pengadilan Tinggi ..., maka Pengadilan Tinggi dapat menyetujui dan membenarkan putusan Hakim tingkat pertama, karena pertimbangan-pertimbangan hukumnya telah memuat dan menguraikan dengan tepat dan benar semua keadaan serta alasan-alasan yang menjadi dasar putusannya dan dianggap telah tercantum dalam putusan di tingkat banding”;

Menimbang, bahwa dengan mengambil dan menjadikan pertimbangan Hakim tingkat pertama sebagian dasar pertimbangan sendiri maka Pengadilan Tinggi dapat mempertahankan putusan Pengadilan Negeri Pangaraian tanggai 27 Maret 2013 Nomor 12/Pdt.G/2012/PN.PSP dan harus dikuatkan”;

Berdasarkan fakta tersebut terlihat bahwa Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru sangat ceroboh dan terkesan asaI-asalan dalam membuat pertimbangan hukum, dimana pertimbangan hukum tersebut tidak dilandasi asan hukum yang cukup dan pertimbangan hukum tersebut tidak ada

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 15 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 relevansi dalam pengambilan keputusan dalam perkara a quo, jika Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru cermat dan teliti dalam mengadili perkara a quo ditingkat banding, sewajarnya gugatan Penggugat asal/

Pemohon Kasasi seharusnya dikabulkan bukan menolak gugatan yang dimajukan oleh Penggugat asal/Pemohon Kasasi, dengan demikian terlihat cara nyata Putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru telah salah menerapkan hukum atau melanggar hukum yang berlaku (Vide: Pasal 30 ayat I huruf b Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI), oleh sebabmana cukup alasan hukum untuk dibatalkan ditingkat kasasi;

II. Judex Facti telah lalai memenuhi syarat-syarat yang wajibkan oleh peraturan perundang-undangan (vide: Pasal 30 ayat I huruf c Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 den Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI);

7. Bahwa amar putusan Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru yang menguatkan Pertimbangan hukum Pengadilan Negeri Pasir Pangarian yang menyatakan “Tergugat I dan Tergugat II merupakan Pembeli yang beritikad baik” (amar putusan halaman 49 alenia 3) ternyata tidak didukung dengan pertimbangan hukum yang kuat dimana apabila dilihat dari segi yuridis jual beli yang dilakukan oleh Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat II/

Termohon Kasasi II tidak berdasarkan kausa yang halal, sebab hal tersebut sangat sesuai jika dilihat asal-usul kepemilikan objek perkara adalah sebagai berikut: Para Penggugat telah terlebih dahulu menguasai dan mengusahai objek perkara a quo sejak tahun 1996 halmana dikuatkan oleh bukti imas tumbang (bukti P-1), serta bukti P.11 s/d P.14, namun hal tersebut ternyata dimanfaatkan oleh Supri dan Sugeng Rahayug pada waktu itu Sugeng Rahayu menjabat sebagai Kepala Dusun Desa Mahato mengalihkan objek perkara a quo kepada Tergugat II sedangkan Tergugat I memperoleh dan Supri dimana pengalihan dari Supri dan Sugeng Rahayu kepada Tergugat I dan Tergugat II tersebut didasarkan karena tanah objek perkara a quo terkena Peraturan Desa sehingga pemerintah Desa Mahato dapat mengambil dan memperjual belikan tanah objek Perkara a quo hingga pada akhirnya beralih kepada Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 16 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 ll/Termohon Kasasi II, harus diakui kebenaran disini yaitu terhadap objek perkara a quo belum pernah dijual belikan oleh Para Penggugat kepada pihak lain, dan terhadap objek perkara a quo secara nyata merupakan kepemilikan dan Para Penggugat, sebab tidak ada satupun peraturan desa yang menyatakan desa berwenang mengambil suatu hak atas tanah yang dikuasai/diusahai oleh pemiliknya tanpa ganti rugi yang sah dan wajar, namun fakta itu terjadi di pemerintahan Desa Mahato, Kec. Tambusai Utara, Kab. Rohul dengan demikian peraturan desa tersebut adalah peraturan yang bertentangan dengan hukum dan sangat bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945, sehingga perbuatan Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat Il/Termohon Kasasi II menguasai objek perkara a quo yang diperoleh dari Supri dan Sugeng Rahayu yang notebenenya adalah oknum aparatur desa (Kadus Desa Mahato) telah sewenang-wenang mengambil alih kepemilikan tanah dan Para Penggugat/Para Pemohon Kasasi tanpa ganti rugi yang sah adalah merupakan perbuatan melawan hukum dan segala yang berkaitan dengan peralihan surat-surat atas objek perkara yang dilakukan oleh Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat Il/Termohon Kasasi II adalah batal demi hukum dengan segala akibat hukumnya, oleh karena itu jual beli yang terjadi antara Supri dengan Tergugat l/Termohon Kasasi I dan jual beli antara Sugeng Rahayu dengan Tergugat Il/Termohon Kasasi II adalah jual beli yang dilandasi iktikad buruk.

Dalam hal ini, jelas ternyata Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru tidak memberikan pertimbangan hukum yang cukup (onvoeldoende gemotiveerd) dalam hal menyatakan menguatkan Pertimbangan Hukum Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian yang menyatakan perbuatan Tergugat I dan Tergugat II tidak Perbuatan Melawan Hukum, oleh karena itu Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru ternyata telah Ialai memenuhi yang ditentukan oIeh Peraturan Perundang-undangan. Dalam hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 195 Rbg dan didalam ayat 1 Undang Undang Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan yang telah menetapkan bahwa segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut, memuat peraturan perundang-undangan yang bersangkutan sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili, sebab mana Judex Facti Pengadilan Tinggi Pekanbaru telah lalai memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Peraturan Perundangan-undangan dalam memeriksa dan mengadili perkara a quo ditingkat banding, maka patut dan beralasan untuk dibatalkan ditingkat kasasi;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 17 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 8. Bahwa sesuai dengan ketentuan tersebut di atas, suatu putusan haruslah memuat secara jelas dan cukup pertimbangan hukum yang rinci dan cermat tentang segala fakta-fakta yang timbul selama proses pemeriksaan perkara serta tentang segala bukti-bukti yang diajukan selama proses pemeriksaan perkara berlangsung, disertai dengan alasan dan dasar hukum bagi kesimpulan pendapat yang akan diambil dalam putusan tersebut, apabila suatu putusan tidak memuat pertimbangan hukum yang cukup dan cermat (onvoeldoende gemotiverd) tentang fakta-fakta dan bukti-bukti yang dijadikan sebagai alasan dan dasar dari kesimpulan pendapat dalam putusan tersebut, baik penolakan maupun terhadap penerimaan dalil-dalil yang dikemukan oleh pihak-pihak yang beperkara, adalah merupakan masalah yuridis dan dijadikan alasan untuk membatalkan putusan yang bersangkutan;

9. Bahwa ketentuan seperti tersebut di atas, secara tegas dianut dari Mahkamah Agung Republik Indonesia, sebagaimana ternyata dari pertimbangan hukum Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam beberapa putusannya, antara lain sebagai berikut:

- Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tertanggal 18 Oktober 1972 Nomor 672 K/SIP/1972, yang pertimbangan hukumnya antara lain berbunyi sebagai berikut: “Putusan Pengadilan Tinggi haruslah dibatalkan karena kurang cukup dipertimbangkan (onvoeldoende gemotivered) dan terdapat ketidaktertiban beracara”;

- Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tertanggaL 16 Desember 1970 Nomor 689 K/SIP/1969, yang pertimbangan hukumnya antara lain berbunyi sebagai berikut: “Putusan Pengadilan Tinggi harus dibatalkan karena tidak cukup pertimbangannya (Onvoeldoende Gemotivered)”;

- Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tertanggal 22 Juli 1970 Nomor 638-K1S1P11969, yang pertimbangan hukumnya antara lain berbunyi sebagai berikut: “Putusan Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri yang kurang cukup dipertimbangkan (Onvoeldoende Gemotivered) haruslah dibatalkan”;

- Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tertanggal I Februari 1961 Nomor 13-K/SIP/1961, yang pertimbangan hukumnya antara lain berbunyi sebagai berikut: “Putusan Pengadilan Tinggi yang tidak didasarkan atas alasan-alasan yang cukup (Onvoeldoende Gemotivered) haruslah dibatalkan”;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 18 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 - Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tertanggal 8 Mei 1957 Nomor 117-K/SIP/1955, yang pertimbangan hukumnya antara lain berbunyi sebagai berikut “Putusan Pengadilan Tinggi harus dibatalkan apabila tidak disertai alasan-alasan yang cukup (Onvoeldoende Gemotivered) harus dibatalkan adanya”;

• Bahwa perlu dikemukakan Pemohon Kasasi/Penggugat Asal, bahwa secara nyata Penggugat Asal/Pemohon Kasasi telah mengusahakan dan menggarap tanah objek sengketa sejak tahun 1996, hal ini dikuatkan pula dengan keterangan saksi Mispan, Imran Sianipar dan Suroto yang menyatakan di hadapan persidangan dibawah sumpah mengetahui bahwa objek sengketa merupakan lahan yang diusahai dan dikelola oleh Para Pemohon Kasasi/Para Pembanding/Para Penggugat, keterangan saksi-saksi tersebut tidak menjadi pertimbangan hukum bagi Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian hingga dan awal terlihat keberpihakan Majelis Hakim dalam memutus perkara a quo sehingga putusan tersebut bukan didasari landasan hukum melainkan berdasarkan kepentingan sebelah pihak;

Bahwa selanjutnya objek perkara tersebut dikuasai secara melawan hukum oleh Tergugat I dan Tergugat II/Termohon Kasasi I dan II dengan menerbitkan surat-surat atas objek perkara tersebut dengan dasar perkara a quo terkena Peraturan Desa sehingga dapat mengambil dan memperjual belikan tanah Perkara a quo hingga ada akhirnya beralih kepada Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat ll/Termohon Kasasi II, padahal secara tidak ada satupun peraturan desa yang menyatakan berwenang mengambil suatu hak atas tanah yang dikuasai/diusahai oleh pemiliknya tanpa ganti rugi yang wajar. Namun fakta itu terjadi di Pemerintahan Mahato Kec. Tambusai Utara, Kabupaten Rohul dengan demikian peraturan desa tersebut adalah merupakan peraturan yang bertentangan dengan hukum dan sangat bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945, sehingga perbuatan Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat Il/Termohon Kasasi II menguasai objek a quo yang diperoleh dari Supri dan Sugeng Rahayu yang notabenenya adalah oknum aparatur desa (Kadus Desa Mahato) telah sewenang-wenang mengambil alih kepemilikan tanah dari Para Penggugat/Para Pemohon Kasasi tanpa ganti rugi yang sah adalah akan perbuatan melawan hukum dan segala yang berkaitan dengan peraIihan surat-surat atas objek perkara yang dilakukan oleh Tergugat I/Termohon Kasasi I dan Tergugat Il/Termohon Kasasi II adalah batal demi hukum dengan segala akibat hukumnya;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 19 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:

Bahwa alasan-alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena Judex Facti (Pengadilan Tinggi Pekanbaru yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian) tidak salah menerapkan hukum, sebab putusan dan pertimbangan hukumnya sudah tepat dan benar yaitu menolak gugatan Penggugat dalam konvensi, dan menolak gugatan Penggugat dalam rekonvensi, putusan telah sesuai dengan fakta persidangan yang telah dipertimbangkan secara cukup oleh Judex Facti yang menunjukkan bahwa tanah objek sengketa adalah milik Tergugat I dan Tergugat II dibeli dari Supri dan Sugeng Rahayu masing-masing pada Tahun 2006 dan Tahun 2005;

Bahwa lagipula keberatan-keberatan tersebut mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan yang tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi, karena pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya berkenaan dengan kesalahan penerapan hukum, pelanggaran hukum yang berlaku, atau kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam pelanggaran itu dengan batalnya putusan, atau bila hakim tidak berwenang atau melampaui batas wewenang sebagaimana dimaksud Pasal 30 Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan yang kedua dengan Undang Undang Nomor 3 tahun 2009 tentang Mahkamah Agung;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, ternyata putusan Judex Facti/Pengadilan Tinggi Pekanbaru dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Para Pemohon Kasasi: Maujalo Harahap dan kawan-kawan tersebut harus ditolak;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi ditolak dan Para Pemohon Kasasi ada di pihak yang kalah, maka Para Pemohon Kasasi dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini;

Memperhatikan Undang Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundangan lain yang bersangkutan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 20 dari 20 hal. Put. Nomor 2356 K/Pdt/2015 M E N G A D I L I:

1. Menolak permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1. Maujalo Harahap, 2. Masrina Br. Harahap, 3. Ali Usman Harahap, 4. Kendi Harahap, tersebut;

2. Menghukum Para Pemohon Kasasi/Para Penggugat/Para Pembanding untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sejumlah Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah);

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan majelis hakim Mahkamah Agung pada hari Rabu tanggal 11 Mei 2016 oleh Dr. H.

Abdurrahman, S.H.,M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua, Syamsul Ma’arif, S.H.,LL.M.,Ph.D., dan Sudrajad Dimyati, S.H.,M.H., Hakim-hakim Agung masing-masing sebagai Anggota, putusan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis dengan dihadiri Anggota-anggota tersebut dan Jarno Budiyono, S.H. Panitera Pengganti dan tidak dihadiri oleh para pihak;

Hakim-Hakim Anggota: Ketua Majelis,

Ttd./Syamsul Ma’arif, S.H.,LL.M.,Ph.D. Ttd./Dr. H. Abdurrahman, S.H.,M.H.

Ttd./Sudrajad Dimyati, S.H.,M.H.

Panitera Pengganti,

Ttd./

Biaya-biaya: Jarno Budiyono, S.H.

1. Meterai : Rp 6.000,00 2. Redaksi : Rp 5.000,00 3. Administrasi Kasasi : Rp489.000,00 Jumlah : Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)

Untuk salinan MAHKAMAH AGUNG RI

an. Panitera Panitera Muda Perdata,

Dr. PRIM HARYADI, SH.,MH.

NIP. 19630325 198803 1 001

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas maka Majelis Hakim berpendapat bahwa Tergugat tidak dibenarkan melakukan pemutusan hubungan kerja

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap tersebut, yaitu Putusan Mahkamah Agung Nomor 57 K/TUN/2015, tanggal 21 April 2016 diberitahukan

Dengan demikian, sudah sepantasnya bagi Judex Facti meneliti lebih jauh mengenai sah atau tidaknya Perjanjian lisensi tersebut, kiranya yang mulia Hakim agung

Bahwa Pemohon Kasasi keberatan atas pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon dengan pertimbangan halaman 20-21, dimana putusan Judex Facti/Pengadilan

Bahwa pertimbangan hukum putusan Judex Facti dengan mengabulkan gugatan Penggugat dapat dibenarkan, karena ternyata Penggugat telah berhasil membuktikan kebenaran

Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia 396 Data

Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia transaksi

Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia Mahkamah Agung Republik Indonesia