• Tidak ada hasil yang ditemukan

Draft Skripsi Ariq Fix

N/A
N/A
Imdaperonika Manik

Academic year: 2025

Membagikan "Draft Skripsi Ariq Fix"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

FLEKSIBILITAS STRATEGI

PADA UMKM KULINER DI KABUPATEN SLEMAN

SKRIPSI

DISUSUN OLEH:

ARIQ ATHALLAH ARFANDITO 141200047

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA 2024

(2)

FLEKSIBILITAS STRATEGI

PADA UMKM KULINER DI KABUPATEN SLEMAN

Diajukan guna untuk memenuhi persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

SKRIPSI

DISUSUN OLEH:

ARIQ ATHALLAH ARFANDITO 141200047

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA

2024

i

(3)

PENGARUH ENTREPRENEURIAL LEADERSHIP TERHADAP COMPETITIVE ADVANTAGE DIMEDIASI OLEH FLEKSIBILITAS

STRATEGI PADA UMKM KULINER DI KABUPATEN SLEMAN ARIQ ATHALLAH ARFANDITO

141200047

Telah dipresentasikan di depan dewan penguji pada tanggal 02 Agustus 2024 dan telah dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Susunan Dewan Penguji Ketua Penguji

Dr. Purbudi Wahyuni, MM, CIHCM NIP. 19601113 198911 2 001

Dosen Pembimbing

Dr. R. Heru Kristanto HC, S.E., M.si NIP. 19690120 202121 1 001 Dosen Penguji I

Dr. Sabihaini, S.E., M.Si NIP. 19630115 199003 2 001

Dosen Penguji II

Danang Yudhiantoro, SE, M.Si NIP. 19740802 202121 1 004 Mengetahui,

Ketua Jurusan Program Studi Manajemen

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

Dr. Titik Kusmantini, S.E., M.Si NIP. 19721021 2021212 004

ii

(4)

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, menyatakan bahwa skripsi dengan judul:

PENGARUH ENTREPRENEURIAL LEADERSHIP TERHADAP COMPETITIVE ADVANTAGE DIMEDIASI OLEH

FLEKSIBILITAS STRATEGI

PADA UMKM KULINER DI KABUPATEN SLEMAN

Dan diajukan untuk diuji pada hari Jumat tanggal 02 Agustus 2024 adalah hasil skripsi.

Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian atau simbol yang menunjukkan sebagai tulisan saya sendiri, dan atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin penulis aslinya.

Apabila saya melakukan hal tersebut di atas, baik sengaja maupun tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah pikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijazah yang telah diberikan oleh Universitas batal saya terima.

Yogyakarta, 25 Juni 2024 Yang Memberi Pernyataan

Ariq Athallah Arfandito NIM. 141200047

iii

(5)

ingin mengucapkan terimakasih atas segala bimbingan, bantuan, dan dukungan yang diberikan selama saya menyelesaikan skripsi ini, yaitu kepada:

1. Allah SWT yang telah memberikan petunjuk, kekuatan, dan nikmat hidup, sehat jasmani dan rohani sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik

2. Kedua orang tua saya, Tito Hinawan dan Ani Kristanti atas doa yang dipanjatkan setiap hari, selalu memberikan bantuan dan dukungan dengan mengusahakan apapun untuk bisa memenuhi semua keperluan saya selama menjadi mahasiswa UPN "Veteran" Yogyakarta.

3. Adik saya, Reivander Gaizka Alden Zhorif yang selalu memberikan saya semangat dan dukungan bagi saya

4. Seluruh jajaran Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Sleman yang telah telah memberi ijin dan data yang saya perlukan untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Squad Sadboy ToxicToxic Julll, Juan Olelak, Haris Gondokusuman, dan Aan atas segala dukungan, pengalaman, suka cita, dan kebersamaan yang telah diberikan kepada saya, menjadi kenangan yang tak akan terlupakan.

6. Teman-teman Manajemen UPN angkatan 20, senang bisa bertemu dan berkenalan dengan kalian semua, semoga cita-cita kalian dapat terwujud segera.

iv

(6)

hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri karena Allah semata."- Al-Imam Hasan Al-Bashri

v

(7)

Hidayah-Nya, sehingga skripsi dengan judul “Pengaruh Entrepreneurial Leadership Terhadap Competitive Advantage Umkm Yang Dimediasi Oleh Fleksibilitas Strategi (Studi Pada Umkm Kuliner Di Kabupaten Sleman)” dapat diselesaikan dengan baik. Penyusun skripsi ini guna untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Manajemen pada Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Yogyakarta. Penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan dengan lancar dan tidak ada kekurangan dan tak lepas dari bantuan serta kerjasama dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.si. selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

2. Bapak Dr. Januar Eko Prasetyo, S.E., M.Si., Ak., CA., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”

Yogyakarta.

3. Ibu Dr. Titik Kusmantini, S.E., M.Si, CRP, selaku Ketua Jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”

Yogyakarta.

4. Ibu Dr. Widhy Tri Astuti, M.Si, selaku Koordinator Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

vi

(8)

koreksi dan tuntunan dalam penyusunan skripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar.

6. Dinas Koperasi dan UMKM Yogyakarta, yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian UMKM Kuliner di Sleman.

7. Seluruh pihak UMKM Kuliner Di Yogyakarta, yang telah bersedia untuk bekerjasama dalam melakukan penelitian serta pengambilan data guna penyusunan skripsi.

8. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang berkepentingan.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam penyusunan ini. Sehingga penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yang berkepentingan.

Yogyakarta, 25 Juni 2024 Penulis,

Ariq Athallah Arfandito

vii

(9)

PADA UMKM KULINER DI KABUPATEN SLEMAN

ARIQ ATHALLAH ARFANDITO 141200047

Program Studi Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN “Veteran” Yogyakarta [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh langsung entrepreneurial leadership terhadap competitive advantage, pengaruh entrepreneurial leadership terhadap fleksibilitas strategi, pengaruh fleksibilitas strategi terhadap competitive advantage dan pengaruh tidak langsung entrepreneurial leadership terhadap competitive advantage melalui fleksibilitas strategi pada UMKM Kuliner yang memiliki kriteria skala kecil hingga menengah di Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan alat analisis Smart PLS (Partial Least Square). Populasi penelitian berjumlah 1.865 dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 pemilik dan atau pemimpin usaha dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian mengungkapkan hasil sebagai berikut: 1) entrepreneurial leadership berpengaruh langsung terhadap competitive advantage, 2) entrepreneurial leadership berpengaruh langsung terhadap fleksibilitas strategi, 3) fleksibilitas strategi berpengaruh langsung terhadap competitive advantage, 4) entrepreneurial leadership berpengaruh secara tidak langsung terhadap competitive advantage melalui fleksibilitas strategi.

Kata Kunci: Entrepreneurial leadership, Competitive advantage, Fleksibilitas strategi

viii

(10)

Sleman Regency

ARIQ ATHALLAH ARFANDITO 141200047

Management Study Program

Faculty of Economics and Business UPN "Veteran" Yogyakarta [email protected]

ABSTRACT

This research aims to examine and analyze the direct influence of entrepreneurial leadership on competitive advantage, the influence of entrepreneurial leadership on strategic flexibility, the impact of strategic flexibility on competitive advantage, and the indirect influence of entrepreneurial leadership on competitive advantage through strategic flexibility in small to medium-scale culinary SMEs in Sleman, Yogyakarta. This study employs a quantitative approach using Smart PLS (Partial Least Square) as the analytical tool. The study population consists of 1,865, and the sample includes 100 business owners and/or leaders, selected through purposive sampling. The findings of the research are as follows: 1) entrepreneurial leadership has a direct effect on competitive advantage, 2) entrepreneurial leadership has a direct effect on strategic flexibility, 3) strategic flexibility has a direct effect on competitive advantage, 4) entrepreneurial leadership has an indirect effect on competitive advantage through strategic flexibility.

Keywords: Entrepreneurial leadership, Competitive advantage, Strategic flexibility

ix

(11)

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN... iv

HALAMAN MOTTO... v

KATA PENGANTAR... vi

ABSTRAK... viii

ABSTRAK... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

A. Landasan Teori ... 12

B. Peneliti Terdahulu ... 33

C. Pengaruh Antar Variabel ... 38

D. Kerangka Konseptual ... 41

E. Hipotesis Penelitian ... 42

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 44

A. Rancangan Penelitian ... 44

B. Objek dan Waktu Penelitian... 44

C. Populasi ... 45

D. Sampel dan Teknik Sampling ... 46

E. Jenis Data Penelitian ... 48

F. Prosedur Pengambilan Data ... 48

G. Klasifikasi Variabel Penelitian... 48

H. Definisi dan Operasional Variabel... 49

I. Skala Pengukuran ... 51

J. Teknik Analisis Data ... 52

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN... 58

A. Analisis Deskriptif... 58

B. Analisis Kuantitatif ... 64

C. Pembahasan ... 67

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 73

A. Simpulan... 73

B. Saran ... 74

DAFTAR PUSTAKA... 76

LAMPIRAN... 80

x

(12)

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 33

Tabel 3.1 Rancangan Waktu Penelitian ... 45

Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel... 50

Tabel 3.3 Skala Likert... 51

Tabel 3.4 Kategorisasi Variabel... 51

Tabel 3.5 Nilai Loading Factor dan AVE... 54

Tabel 3.6 Nilai Cross Loading... 55

Tabel 3.7 Nilai Cronbach’s Alpha dan Reliabilitas Komposit... 56

Tabel 4.1 Karakterisktik Responden... 59

Tabel 4.2 Penilaian Variabel Entrepreneurial leadership (X... 61

Tabel 4.3 Penilaian Variabel Competitive Advantage (Y)... 62

Tabel 4.4 Penilaian Variabel Fleksibilitas Strategi (Z)... 63

Tabel 4.5 Nilai R Square... 64

Tabel 4.6 Nilai Chi Square... 64

Tabel 4.7 Uji Hipotesis (Parsial dan Mediasi)... 65

xi

(13)

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual... 42

xii

(14)

Lampiran 3 Daftar Populasi Penelitian ... 92

Lampiran 4 Hasil Uji Analisis Data ... 97

Lampiran 5 Dokumentasi Penelitian ... 100

Lampiran 6 Surat Ijin Penelitian ... 102

xiii

(15)

A. Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak didorong oleh aktivitas- aktivitas dan kegiatan perekonomian di seluruh wilayah yang berada di Indonesia, salah satunya adalah kegiatan di sektor industri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, yang juga menempati posisi yang strategis sebagai sektor usaha untuk membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan menjadi tempat bagi para produsen dan konsumen untuk melakukan usaha dan kegiatan ekonomi, selain itu juga menjadi salah satu bidang yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran di Indonesia dengan menciptakan peluang usaha bagi para pekerja yang sedang membutuhkan pekerjaan. Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam perkembangan perekonomian negara terbukti dengan berkurangnya jumlah pengangguran dan terciptanya lapangan usaha baru yang terus bermunculan di Masyarakat. Selain menaikan taraf kesejahteraan masyarakat dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, usaha yang terus meningkat akan menimbulkan daya saing antar pelaku ekonomi yang menjalankannya.

Selain menaikan taraf kesejahteraan masyarakat dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, usaha yang terus meningkat akan menimbulkan daya saing antar pelaku ekonomi yang menjalankannya.

World Bank (2019) mendefinisikan daya saing sebagai proses perubahan

1

(16)

dan peningkatan besaran nilai tambah per unit Input. Sementara itu, World Economic Forum (2017) mendefinisikan daya saing sebagai kemampuan suatu perekonomian untuk mencapai peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Tidak terlalu jauh berbeda dari dua definisi sebelumnya, Porter (1990) mendefinisikan daya saing sebagai produktivitas, yaitu nilai output yang dihasilkan oleh seorang tenaga kerja. Konsep daya saing yang sama juga dikemukakan oleh Delmayuni, dkk (2017) yang dibagi menjadi dua, yakni keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Kedua konsep ini pada dasarnya merupakan konsep keunggulan berdasarkan kemampuan untuk menggeser kurva penawaran kekanan sebagai 4 cara menurunkan harga. Hanya saja konsep keunggulan kompetitif dan kemampuan untuk menurunkan harga bukanlah satu-satunya cara, melainkan harus diikuti dengan berbagai aspek strategi lain yang terkait, baik dari segi produksi, konsumsi, struktur pasar dan kondisi industri itu sendiri

Tingginya kontribusi yang diberikan oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah terhadap perekonomian Indonesia memperlihatkan pentingnya pemberdayaan UMKM guna melangsungkan perekonomian yang baik untuk Indonesia. Hal ini sejatinya telah ditanggapi oleh pemerintah dan legislatif dengan adanya (UU No. 20 Tahun 2008 Tentang UMKM) sebagai wujud pelaksanaan UMKM di Indonesia (Sarwono, 2015). Hal ini menjadi landasan untuk mengadakan penguatan pada kelompok usaha yang terkait dalam UMKM (Soetjipto, 2020). Terdapat beberapa kriteria dalam UMKM

(17)

yang dikelompokkan berdasarkan jumlah modal usaha dan penjualan 2 yang didapatkan oleh setiap masing-masing badan usaha, seperti yang telah dirumuskan dalam Peraturan Pemerintah tersebut (Irhamni dkk., 2022).

Tabel 1.1 Kriteria UMKM Berdasarkan Modal Usaha dan Penjualan

No Keterangan Modal Usaha Penjualan

1 Usaha Mikro 1 Miliar Rupiah 2 Miliar

2 Usaha Kecil 1-5 Miliyar 2-15 Miliar

3 Usaha Menengah 5-10 Miliyar 15-50 Miliar

Sumber: Peraturan RI No 07 Tahun 2021 Tentang Kemudahan, Perlindungan dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM

Tabel tersebut terdapat dua kriteria UMKM berdasarkan pada Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, pada modal usaha dan Penjualan yang tertera dalam pasal 35. Untuk Usaha Mikro dengan jumlah maksimum modal usaha 1 miliar dan maksimum penjualan sebesar 2 miliar. Kedua, terdapat usaha kecil dengan modal usaha di atas 1 miliar hingga 5 miliar dan jumlah penjualan di atas 2 miliar hingga 15 milyar.

Ketiga, Usaha Menengah dengan jumlah modal usaha di atas 5 miliar hingga 10 miliar, dan jumlah penjualannya di atas 15 miliar hingga 50 milyar. Hal ini merupakan pembaharuan dalam pengklasifikasian Usaha Mikro Kecil dan Menengah pada Peraturan Pemerintah.

Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata dengan kekayaan budayanya. Kedua sektor tersebut keberlangsungannya sangat erat berhubungan dan didukung dengan keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Demikian pula tumbuhnya

(18)

Usaha Mikro Kecil dan Menengah sendiri, juga sangat dipengaruhi oleh berkembangnya kedua sektor tersebut.. Berkembangnya suatu zaman tidak akan pernah lepas dari dunia bisnis. Bisnis yang semakin hari semakin diminati yaitu berupa membentuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM mampu menjadikan perekonomian suatu daerah semakin membaik termasuk daerah Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Hal ini terlihat dari perkembangan UMKM mencapai 60% di tahun 2024.

Tabel 1.2 Pertumbuhan UMKM Kuliner Sleman

No Tahun Persentase (%)

1 2022 32%

2 2023 44%

3 2024 60%

Sumber: Satu Data UMKM Sleman, 2024

Berdasarkan data diatas Sleman merupakan daerah yang memiliki pertumbuhan UMKM cukup baik dalam peningkatan daya saing, memiliki kategori UMKM pada bidang kuliner mulai dari makanan dan minuman tradisional hingga modern mencapai 60% usaha kuliner yang terdaftar dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah Sleman (Wijayaningsih dkk., 2021).

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner memainkan peran penting dalam ekonomi Indonesia. UMKM kuliner mencakup berbagai jenis usaha yang bergerak dalam sektor makanan dan minuman, mulai dari pedagang kaki lima hingga restoran kecil dan rumah makan.

Sektor ini tidak hanya menyediakan lapangan kerja, tetapi juga menyajikan berbagai jenis kuliner. UMKM kuliner berkontribusi signifikan terhadap

(19)

perekonomian lokal dengan menciptakan lapangan kerja, mendukung pemasok lokal, dan menghidupkan komunitas. Sebagai bagian dari sektor ekonomi yang luas, UMKM kuliner membantu mempromosikan produk lokal dan memperkuat struktur ekonomi komunitas melalui penjualan yang terjangkau dan inovasi dalam produk makanan.

Sleman merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai desa kuliner. Terletak di dekat Yogyakarta, yang merupakan salah satu destinasi wisata utama di Indonesia, Sleman menawarkan berbagai daya tarik wisata yang dapat dipadukan dengan konsep desa kuliner. Keberadaan objek wisata seperti Candi Prambanan, Gunung Merapi, dan berbagai situs budaya menjadikan Sleman sebagai lokasi strategis untuk pengembangan desa kuliner. Kekayaan kuliner Sleman, yang meliputi berbagai masakan tradisional Jawa, menawarkan potensi besar untuk dijadikan daya tarik utama dalam desa kuliner. Makanan khas seperti gudeg, oseng-oseng, dan sate, serta minuman tradisional seperti jamu, mencerminkan kekayaan kuliner yang dapat diangkat sebagai daya tarik wisata. Mengembangkan desa kuliner di Sleman memberikan kesempatan untuk mempromosikan kuliner lokal dan melestarikan tradisi makanan yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat.

Daya saing merupakan hal yang penting dalam menjalankan suatu bisnis/usaha. Adanya daya saing perusahaan bahkan UMKM akan mampu meningkatkan inovasi produk dan lainnya dengan mempertimbangkan

(20)

berbagai kemungkinan yang terjadi. Daya saing memiliki sifat yang relatif dikarenakan untuk menentukannya perlu pembanding artinya daya saing tergantung pada siapa pesaingnya, bisa saja suatu waktu sebuah perusahaan memiliki daya saing yang tinggi tetapi di waktu lain ketika para pesaing berganti menjadi lebih kompeten maka daya saing akan menurun terhadap para pesaingnya. Adanya persaingan akan memunculkan daya saing yang bernilai positif bagi kemajuan. Dengan begitu, seseorang akan meningkatkan kualitas diri dari berbagai sisi dan mencoba mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada untuk meningkatkan daya saing. Hal yang sama juga terjadi di UMKM, bahwa daya saing UMKM memiliki peran yang cukup dominan dalam daerah tersebut.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dari daya saing UMKM menurut Annisa Diana Haq dalam penelitiannya yang berjudul analisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing UKM di Kabupaten Bantul, yaitu, dari segi sumber daya manusia, keunggulan produk, inovasi, serta pemasaran dengan teknologi informasi. Sumber daya manusia diyakini dapat meningkatkan daya saing UMKM. Maka dari itu diperlukan sumber daya manusia yang cukup handal dengan keterampilan yang dimiliki.

Keterampilan ini didapat dari latar belakang pendidikan yang sesuai serta pengalaman yang cukup. Kontribusi dari keterampilan, pengalaman, dan latar belakang bisa menggali perspektif seseorang dalam mewujudkan keberhasilan usaha mikro, kecil, dan menengah dan mengungguli pesaing lain

(21)

Keunggulan produk yang dimiliki oleh UMKM harusnya memiliki keunikan tersendiri baik dari segi desain bentuk, warna maupun harga yang ditawarkan. Selain itu,inovasi diperlukan oleh pelaku UMKM untuk menarik konsumen dalam membeli produk yang kita hasilkan. Inovasi ini bisa dari kemasan produk yang diberikan, bahan baku, serta alat terbaru yang digunakan untuk memberikan nilai lebih dari produk yang dihasilkan.

Adanya persaingan tentu membuat usaha mikro, kecil dan menengah harus mempersiapkan modal yang akan dijadikan peran penting dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada di perusahaan. Modal ini tidak hanya berupa jumlah uang yang dibutuhkan tetapi juga kesiapan pelaku usaha dalam menghadapi situasi dan kondisi pasar yang fluktuatif yang dinamakan dengan modal keahlian. Dengan modal, semua usaha mikro, kecil, dan menengah dapat melaksanakan aktivitas produksi dan aktivitas bisnis lainnya. Tanpa modal, usaha mikro, kecil, dan menengah tetap dapat berjalan tetapi hanya dapat melaksanakan aktivitasnya yang sangat terbatas. Pelaku usaha juga tidak dapat merebut pasar dengan baik apabila modal yang ada minim. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan adanya kesiapan modal akan mempengaruhi aktivitas produksi dan aktivitas bisnis lainnya sehingga membuat usaha mikro, kecil, dan menengah secara tidak langsung tidak dapat merebut pasar dengan barang dan jasa yang ditawarkan. Lambat laun UMKM akan mengalami penurunan omzet.

Menurut Basrowi (2009) mengatakan kemampuan seseorang dalam berkreativitas juga dapat diterapkan dalam kewirausahaan, kemampuan

(22)

seseorang untuk memimpin harus diimbangi oleh perilaku tertentu yang dikenal sebagai kewirausahaan dimensi fleksibelitas strategi. Salah satu faktor yang meningkatkan keunggulan bersaing yaitu entrepreneurial leadership. Entrepreneurial leadership sangat penting dimiliki pemilik usaha agar dapat menciptakan gebrakan baru dan perubahan serta inisiatif, dengan inovasi tersebut yang menjadikan usaha lebih berkembang.. Namun, kemampuan entrepreneurial leadership terhadap keunggulan bersaing melalui fleksibilitas strategis pada UMKM di Sleman tidak banyak mendapat perhatian oleh sivitas akademika.

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan diatas fenomena UMKM pada bidang usaha makanan dan minuman yang dapat bertahan hingga saat ini dengan banyaknya pesaing membuat peneliti tertarik untuk meneliti kepemimpinan yang ada pada pemilik usaha kecil mikro menengah di Sleman, Yogyakarta.

(23)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (Ghozali, 2018).

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki rumusan masalah yang antara lainnya adalah:

1. Apakah entrepreneurial leadership berpengaruh terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman?

2. Apakah entrepreneurial leadership berpengaruh terhadap fleksibilitas strategi?

3. Apakah fleksibilitas strategi berpengaruh terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman?

4. Apakah entrepreneurial leadership berpengaruh terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman yang dimediasi fleksibilitas strategi?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian menurut Ghozali (2018) antara lainnya adalah penemuan, pembuktian, dan pengembangan. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki tujuan yang antara lainnya adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh entrepreneurial leadership terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman.

(24)

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh entrepreneurial leadership terhadap fleksibilitas tinggi.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh fleksibilitas strategi terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman.

4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh entrepreneurial leadership terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman yang dimediasi fleksibilitas strategi.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki manfaat yang antara lainnya adalah:

1. Bagi Peneliti

Mengaplikasikan teori-teori yang khususnya adalah Manajemen Strategi yang antara lainnya adalah bagaimana keterkaitan dan pengaruh antar variable pengaruh entrepreneurial leadership, competitive advantage dan fleksibilitas strategi.

2. Bagi Pembaca

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan, menambah wawasan, dan pendidikan bagi pembaca mengenai entrepreneurial leadership, competitive advantage dan fleksibilitas strategi.

3. Bagi UMKM Kuliner Sleman

Sebagai bahan informasi dan masukan bagi UMKM Kuliner Sleman yang diharapkan dapat menghasilkan sebuah saran yang

(25)

berkaitan dengan pemecahan permasalahan-permasalahan yang berdasarkan entrepreneurial leadership, competitive advantage dan fleksibilitas strategi.

4. Bagi Sivitas Akademika

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya.

(26)

A. Landasan Teori

1. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) a. Pengertian UMKM

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki definisi yang berbeda pada setiap literatur menurut beberapa instansi atau lembaga bahkan undang-undang. Sesuai dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah, UMKM didefinisikan sebagai berikut:

1) Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

2) Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

3) Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan

12

(27)

yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam UndangUndang ini. Berdasarkan kekayaan dan hasil penjualan, menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008 pasal 6, kriteria usaha mikro yaitu:

1) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut:

1) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Sedangkan kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut:

1) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak

(28)

Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan batasan definisi UKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja, yaitu untuk industri rumah tangga memiliki jumlah tenaga kerja 1 sampai 4 orang, usaha kecil memiliki jumlah tenaga kerja 5 sampai dengan 19 orang, sedangkan usaha menengah memiliki tenaga kerja 20 sampai dengan 99 orang (Susanti, 2009).

Nurhayati (2011) menyebutkan definisi UMKM memiliki beragam variasi yang sesuai menurut karakteristik masing-masing negara yaitu:

1) World Bank : UKM adalah usaha dengan jumlah tenaga kerja ± 30 orang, pendapatan per tahun US$ 3 juta dan jumlah aset tidak melebihi US$ 3 juta.

2) Di Amerika : UKM adalah industri yang tidak dominan di sektornya dan mempunyai pekerja kurang dari 500 orang.

3) Di Eropa : UKM adalah usaha dengan jumlah tenaga kerja 10-40 orang dan pendapatan per tahun 1-2 juta Euro, atau jika kurang dari 10 orang, dikategorikan usaha rumah tangga.

(29)

4) Di Jepang : UKM adalah industri yang bergerak di bidang manufakturing dan retail/ service dengan jumlah tenaga kerja 54-300 orang dan modal ¥ 50 juta – 300 juta.

5) Di Korea Selatan : UKM adalah usaha dengan jumlah tenaga kerja ≤ 300 orang dan aset ≤ US$ 60 juta.

6) Di beberapa Asia Tenggara : UKM adalah usaha dengan jumlah tenaga kerja 10-15 orang (Thailand), atau 5 – 10 orang (Malaysia), atau 10 -99 orang (Singapura), dengan modal ± US$ 6 juta.

b. Ketenagakerjaan

1) Pengertian Pendapatan

Pendapatan sebagai sejumlah uang yang telah diterima pada pelanggan dari perusahaan sebagai hasil penjualan barang dan jasa. Yang dimaksud dengan pendapatan adalah jumlah penghasilan baik dari keluarga maupun perorangan dalam bentuk uang, yang diperolehnya dari jasa setiap bulan yang baik dari sebelumnya, atau dapat juga diartikan sebagai suatu hasil yangsedikit keberhasilan usaha, maka jumlah tersebut akan menjadi besar dan meningkat (Tohar, 2000).

Pendapatan rumah tanggga dapat berasal dari satu macam sumber pendapatan, sumber pendapatan yang beragam tersebut dapat terjadi karena anggota rumah tangga yang bekerja melakukan lebih dari satu jenis kegiatan yang berbeda satu sama lain, faktor lain yang mempengaruhi terhadap keragaman

(30)

sumber pendapatan adalah penguasa faktor produksi, pendapatan ini sendiri diperoleh sebagai hasil bekerja atau jasa dan aset-aset sumbangan dari pihak lain. Kumpulan dan pendapatan dari berbagai sumber pendapatan tersebut merupakan total pendapatan rumah tangga.

Selain dari sektor sumber pendapatan rumah tangga, petani mungkin pula berasal dari sektor pertanian. Pendapatan sektor pertanian sebagai sumber pendapatan utama diperoleh rumah tangga dengan melakukan kegiatan usaha tani atau berburu tani, kegiatan diluar sektir pertanian dapat berupa kegiatan usaha berburu atau usaha sendiri. Kegiatan ini pada umumnya membutuhkan sejumlah modal dan ketrampilan seperti dagang, jasa, dan usaha lain yang biasanya dilakukan apabila kegiatan pertanian sedang sepi atau mengisi waktu luang.

2) Sumber-sumber Pendapatan

Salah satu cara untuk mengetahui sumber pendapatan adalah dengan melihat sumber angka pendapatan nasional. Sumber angka pendapatan nasional dapat di bagi kedalam beberapa sektor. Menurut Tohar (2000), sektor-sektor pendapatan ini antara lain sebagai berikut :

a) Pertanian, misalnya buah-buahan, susu sapi, perikanan dan lainya.

(31)

b) Industri, misalnya batik, keramik,garment, marmer dan lainya.

c) Pertambangan, misalnya biji besi, gas bumi, minyak tanah dan lainya.

d) Pariwisata, seni, dan budaya, misalnya obyek wisata dan hasil seni.

e) Transportasi, misalnya travel, taxi, angkutan laut, angkutan udara.

f) Telekomunikasi, misalnya jasa telepon.

g) Perdagangan, misalnya eksportir, importir, pedagang besar dan pedagang eceran.

h) Jasa-jasa, misalnya konsultasi hukum, perbengkelan, dan restoran.

i) Jasa Kontruksi, misalnya kelistrikan, jembatan, dan kontraktor bangunan

3) Komponen-komponen Pendapatan

Sebenarnya pendapatan sama besarnya dengan uang yang dibelanjakan ditambah dengan uang yang di investasikan (modal) dan yang ditabung. Oleh karena itu pendapatan dalam arti luas (nasional) terdiri dari komponen – komponen sebagai berikut:

a) Konsumsi seluruh lapisan masyarakat (rumah tangga, bisnis, dan pemerintah).

(32)

b) Investasi untuk mendirikan atau memperluas usahanya.

c) Tabungan akibat pengeluaran konsumsi yang diinvestasikan.

Bagi usaha kecil dan menengah yang tingkat pendapatanya rendah, tentu harus melakukan penghematan secara ketat terhadap segala bentuk pengeluaran, sehingga sangat keil kemungkinan untuk menabung. Sebaliknya, pada usaha kecl dan menengah yang tingkat pendapatanya sedang berarti ada kesinambungan antara pendapatan dan pengeluaran. Amun pada tingkat ini juga belum dapat berbuat banyak untuk meningkatkan suatu tabungan sebagai investasi.

c. Peran Usaha Kecil dan Menengah dalam Meningkatkan Pendapatan Upaya untuk meningkatkan wirausaha, khususnya pengembangan usaha kecil di Indonesia telah lama dilakukan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Berbagai kebijakan maupun bantuan telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk mendorong perkembangan usaha-usaha kecil ini. Keseriusan pemerintah untuk menangani usaha kecil ini terlihat dengan dibentuknya menteri Koperasi dan Pemberdayaan Usaha Kecil dalam kabinet pembangunan VI.

Peranan usaha kecil terhadap pembangunan ekonomi sebuah Negara tidaklah kecil. Di AS, Jerman, Jepang serta beberapa negara maju lainya, sejumlah usaha besar tumbuh melalui pembagian kerja dengan ribuan jenis usaha kecil, yang memproduksi bagian-bagian

(33)

produksi yang dibutuhkan oleh pengusaha besar tersebut. Peranan usaha-usaha kecil di Indonesia juga tidaklah kecil. Bagi Indonesia, secara politis usaha kecil berperan dalam pemerataan pendapatan ekonomi masyarakat. Serta mampu menjadi penampung atau tempat yang berfungsi untuk mengatasi masalah pengangguran yang kian merebak.

Menurut Koencoro (2003), Usaha kecil dan menengah mempunyai peran yang besar terhadap pemerataan pendapatan tenaga kerja di Indonesia, yang secara otomatis mampu menyerap tenaga kerja.

2. Competitive Advantage

a. Pengertian Competitive Advantage

Competitive advantage atau yang sering disebut keunggulan bersaing atau keunggulan kompetitif adalah suatu manfaat yang ketika suatu perusahaan mempunyai dan menghasilkan suatu produk atau jasa yang dilihat dari pasar targetnya lebih baik dibandingkan dengan para kompetitif dasar untuk mencapai keunggulan bersaing.

Berikut beberapa pengertian competitive advantage menurut para ahli, antara lain:

1) David (2011) menjelaskan keunggulan kompetitif (Competitive Advantage) merupakan segala sesuatu yang dilakukan dengan sangat baik oleh sebuah perusahaan dibanding dengan pesaingnya. Ketika sebuah perusahaan

(34)

dapat melakukan sesuatu dan perusahaan lainnya tidak dapat, atau memiliki sesuatu yang diinginkan pesaingnya, hal tersebut menggambarkan keunggulan kompetitif. Memiliki dan menjaga keunggulan kompetitif sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang dari suatu organisasi. Umumnya, sebuah perusahaan mampu untuk mempertahankan keunggulan kompetitif hanya untuk periode tertentu karena ditiru pesaing dan melemahnya keunggulan tersebut.

2) Porter (2008) menjelaskan competitive advantage merupakan hasil dari implementasi penciptaan nilai bukan hasil simultan dari implementasi pesaing potensial maupun yang eksisting saat ini, ataupun melalui eksekusi superior atau penerapan strategi yang sama dengan pesaing. Namun keberlanjutan prestasi keunggulan daya saing berkelanjutan diperoleh ketika keuntungan dapat diperoleh dan mampu bertahan dalam menghadapi tantangan perilaku pesaing lain. Tujuan dari strategi bersaing adalah untuk mendapatkan keberlanjutan competitive advantagedan pada gilirannya memperbesar performa usaha. Keahlian yang unik dan aset dijadikan sebagai sumber competitive advantage.

(35)

3) Wang (2014) menjelaskan competitive advantage diperoleh ketika suatu organisasi mengembangkan atau memperoleh serangkaian atribut (atau tindakan eksekusi) yang memungkinkannya untuk mengungguli kompetitornya.

4) Ceglinski (2016) menjelaskan competitive advantage merupakan aktivitas dari suatu organisasi tertentu lebih menguntungkan daripada kegiatan pesaing pasarnya atau ketika keunggulannya mengungguli mereka dalam hal hasil aktivitas lain yang signifikan.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keunggulan bersaing adalah keunggulan atas pesaing yang didapat dengan menyampaikan nilai pelanggan yang lebih besar, melalui harga yang lebih murah atau dengan menyediakan lebih banyak manfaat yang sesuai dengan penetapan harga yang lebih tinggi.

b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Competitive Advantage Ada banyak faktor yang dapat diperhatikan oleh perusahaan agar dapat mencapai keunggulan bersaing, seperti yang disebutkan oleh Sumarwan, et al (2010) ada beberapa faktor untuk menetukan keunggulan kompetitif dalam bidang pemasaran, yaitu:

1) Kualitas produk

(36)

Kualitas produk merupakan fitur-fitur dan ketajaman produk dalam memperagakan fungsinya untuk memenuhi harapan pelanggan guna menunjukkan keunggulan produk.

2) Kualitas Pelayanan

Kualitas layanan berhubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan dan kegiatan pengguna layanan (konsumen) serta ketepatan dalam penyampaian untuk memenuhi harapan pengguna layanan (konsumen).

3) Brand image

Brand image (citra merek) mengacu pada memori akan sebuah merek, yang berisikan keyakinan atau kesan atas atribut, kelebihan, penggunaan, dan karakteristik produk dan pemasar produk tersebut.

4) Biaya

Biaya yang meliputi semua biaya yang terjadi saat selesai produksi, disimpan, didistribusikan sampai produk dapat diubah kembali dalam bentuk uang guna mendapatkan pendapatan dan memberi nilai tambah bagi perusahaan, hingga harga yang ditetapkan.

5) Pangsa Pasar

Bagian dari pengelompokan pasar berdasarkan permintaan yang dikuasai oleh perusahaan dimana akan

(37)

menggambarkan volume penjualan perusahaan sebagai persentase

6) Distribusi

Distribusi adalah saluran pemasaran atau pihak-pihak yang terkait dalam penyaluran produk yang digunakan oleh perusahaan untuk mengirimkan produknya dari industri ke tangan konsumen

c. Tujuan Competitive Advantage

Perusahaan berlomba-lomba agar mampu lebih unggul dibandingkan dengan pesaingnya. Kotler & Amstrong (2012) menyebutkan bahwa tujuan lain dari startegi Competitive advantage adalah:

1) Membentuk positioning yang tepat 2) Memepertahankan loyalitas pelanggan 3) Mendapatkan pangsa pasar baru 4) Memaksimalkan penjualan

5) Menciptakan kinerja bisnis yang efektif d. Indikator Competitive Advantage

Indikator variabel competitive advantage mengacu pada Al najjar (2016), yaitu:

(38)

1) Cost adalah dimensi daya saing operasi yang meliputi empat indikator yaitu biaya produksi, produktifitas tenaga kerja, penggunaan kapasitas produksi dan persediaan. Unsur daya saing yang terdiri dari biaya merupakan modal mutlak yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang mencakup pembiyaan produksinya, produktifitas tenaga kerja, pemanfaatan kapasitas produksi perusahaan dan adanya cadangan produksi (pesediaan) yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan oleh perushaan untuk menunjang kelancaran perusahaan tersebut.

2) Quality

seperti yang dimaksud oleh Muhardi adalah merupakan dimensi daya saing yang juga sangat penting, yaitu meliputi berbagai indikator diantaranya tampilan produk, jangka waktu penerimaan produk, daya tahan produk, kecepatan penyelesaian keluhan konsumen dan kesesuaian produk terhadap spesifikasi desain.

3) Differentiation merupakan strategi untuk menunjukkan kualitas unik dari produk yang ditawarkan

4) Creativity merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik yang benar-benar merupakan hal baru atau sesuatu ide baru yang diperoleh

(39)

5) Flexibility merupakan dimensi daya saing operasi yang meliputi berbagai indikator diantaranya macam produk yang dihasilkan, kecapatan menyesuaikan dengan kepentingan lingkungan.

3. Eentrepreneurial leadership

a. Pengertian Entrepreneurial Leadership

Entrepreneurial Leadership adalah gaya kepemimpinan yang khas yang dapat disajikan dalam organisasi apapun. Atribut, perilaku dan tindakan yang membedakan kepemimpinan kewirausahaan dari gaya kepemimpinan lain fokus pada pengenalan peluang dan eksploitasi sebagai tujuan kewirausahaan untuk pemimpin tersebut (Renko et al, 2015).

Berikut beberapa pengertian entrepreneurial leadership menurut para ahli, antara lain:

1) Nwachukwu et al (2017) menjelaskan entrepreneurial leadership merupakan gaya kepemimpinan yang terlihat dari pemimpin yang menciptakan, mengidentifikasi, dan memanfaatkan peluang dengan cara yang inovatif dan penuh risiko.

2) Menurut Adam et al (2015) entrepreneurial leadership diciptakan oleh mereka yang menyadari perubahan dalam gaya kepemimpinan diperlukan. Entrepreneurial leadership dapat

(40)

dimengerti karena wilayah yang belum dipetakan dan belum pernah terjadi sebelumnya yang ada di depan untuk bisnis di pasar dinamis saat ini.

3) Chen (2007) berpendapat bahwa entrepreneurial leadership adalah khas dari bentuk kepemimpinan perilaku lainnya, dan membedakan pengusaha dari manajer yang dipekerjakan.

4) Mokhber et al (2016) yang menyatakan bahwa pengambilan risiko dianggap sebagai kesediaan untuk menyerap ketidakpastian, pro-aktifitas adalah tentang mendorong inisiatif kewirausahaan dan inovasi dalam mendorong kreativitas dan inovasi di antara anggota tim. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa konvergensi kepemimpinan dan kewirausahaan telah menggabungkan beberapa atribut untuk entrepreneurial leadership.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa entrepreneurial leadership adalah kepemimpinan yang memimpin secara inovatif, terlibat penuh dalam bekerja, mampu melihat, dan memanfaatkan peluang dengan metode sendiri.

b. Karakteristik Entrepreneurial Leadership

Entrepreneurial Leadership dapat diaplikasikan dalam semua tipe perusahaan baik perusahaan besar sampai dengan UMKM. Entrepreneurial leadership mempunyai karakteristik yang

(41)

khusus yang dapat di temukan pada pimpinan baik di perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Karakteristik tersebut terdiri dari:

1) Pemimpin tersebut mendukung ketrampilan kewirausahaan. dan mempertimbangkan unsur manusia sebagai sumber perilaku wirausaha dan mendukung pengembangan perilaku ini.

2) Adanya interpretasi peluang. Pemimpin wirausaha dapat mentransmisikan nilai peluang ke dalam tujuan umum organisasi atau pada seseorang yang mendapat manfaat dari peluang tersebut

3) Pemimpin dengan ciri kewirausahaan mampu melindungi inovasi yang mungkin mengancam model bisnis saat ini. Pemimpin menganggap inovasi sebagai peluang, bukan sebagai ancaman terhadap pribadi maupun organisasi dan dapat memberi tahu orang lain tentang manfaat potensial dari inovasi yang awalnya di anggap mengganggu.

4) Pemimpin mampu bersikap kritis dengan mempertanyakan logika bisnis saat ini untuk mengidentifikasi peluang penciptaan nilai baru dan memastikan bahwa organisasi diposisikan dengan cara yang benar.

(42)

5) Pemimpin mampu menganalisa dan melakukan identifikasi peluang dan pekerjaan sumber daya yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan organisasi, visi dan misinya, serta pencapaian organisasi dan hubungan yang dikembangkan dengan para pemangku kepentingan lain.

6) Pemimpin mampu mengaitkan kewirausahaan dengan manajemen strategis. Di sini pemimpin kewirausahaan yang efektif percaya bahwa organisasi harus memiliki keterampilan kewirausahaan secara strategis untuk menciptakan nilai tertinggi

c. Manfaat Entrepreneurial Leadership

Sebagai sebuah tipe kepemimpinan, entrepreneurial leadership memberikan kesempatan bagi semua anggota organisasi atau pegawai perusahaan untuk mengembangankan inovasi, kreatifitas, menggutamakan keterbukaan dan sangat terbuka terhadap pengetahuan baru.

Purnamie Titisari (2014) menggolongkan entrepreneuirial leadership ke dalam kepemimpinan siruasional yang menunjukan manfaat sebagai berikut:

1) Entrepreneurial Leadership mampu berkontribusi secara signifikan kepada keberhasilan organsiasi dibandingkan tipe kepemimpinan yang lainnya karena kepemimpina

(43)

tipe ini selalu mencari peluang wrausaha dan mengatur sumber daya dengan baik untuk keberhasilan organisasi 2) Kepemimpinan tipe ini merupakan pimpinan yang

inovatif, dan proaktif serta berani mengambil risiko sehingga perusahaan mampu mengidentifikasi setiap peluang yang ada

3) Muncul budaya inovasi di dalam perusahaan. Semua anggota perusahaan akan terbiasa memberikan ide ide keatif, mencari peluang dan memiliki kemampuan penyelesaian masalah dengan baik dan kemampuan mentansformasikan ide ke dalam bentuk yang nyata.

d. Indikator Entrepreneurial Leadership

Indikator variabel entrepreneurial leadership mengacu pada Mokhber et al (2016), yaitu:

1) Innovativeness suatu proses untuk mewujudkan, mengkombinasikan, atau mematangkan suatu pengetahuan/gagasan ide, yang kemudian disesuaikan guna mendapat nilai baru suatu produk, proses, atau jasa.

2) Creativity merupakan daya ciota terhadap produk 3) Passion merupakan perasaan antusias yang luar biasa

yang datang dari melakukan suatu pekerjaan atau tugas

(44)

4) Vision Dimana seorang entrepreneur harus memiliki visi yang jelas kemana tujuan jangka panjang yang akan diraihnya.

5) Risk-taking suatu situasi dimana individu membuat keputusan yang melibatkan pilihan berbagai alternatif keinginan yang berbeda; akibat dari pilihan yang tidak pasti tersebut terdapat kemungkinan diri adanya suatu kesalahan 

4. Fleksibilitas Strategis

a. Pengertian Fleksibilitas Strategis

Berikut beberapa pengetian fleksibilitas strategi menurut para ahli, antara lain:

1) Menurut Xiu et al. (2017), Fleksibilitas strategis adalah

"kemampuan perusahaan untuk bersikap proaktif atau merespon dengan cepat terhadap kondisi persaingan yang berubah dan, dengan demikian dapat mengembangkan dan mempertahankan keunggulan kompetitif".

2) Menurut Chan et al. (2016), Fleksibilitas strategis adalah kapasitas sebuah perusahaan untuk menyesuaikan keputusan strategisnya dalam menanggapi perubahan internal atau eksternal dalam lingkungan pasar.

3) Asikhia (2010) menyatakan bahwa flesibilitas stratgeis adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan reposisi diri pada

(45)

pasar, kemampuan untuk merubah rencana kegiatan, atau kemampuan memperbaiki kesalahan  stratgei, dan kemampuan untuk merespon perubahan yang tidak terduga.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa fleksibilitas strategi merupakan suatu kemampuan yang dimiliki perusahaan dalam menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi pada pasar.

b. Indikator Fleksibilitas Strategis

Fleksibilitas strategis mengarah pada kemampuan perusahaan untuk merubah strategisnya agar tetap kompetitif dalam perubahan lingkungan yang substansial, cepat dan tidak pasti terjadi yang berdampak pada kinerja perusahaan. Menurut Chan et al.

(2016) Flexibilitas strategis terbagi menjadi 2 yaitu fleksibiltas sumber daya dan fleksibilitas koordinasi

Fleksibilitas sumber daya yang diartikan sebagai rangkaian sumber daya yang tersedia dalam sebuah perusahaan untuk digunakan. Menurut Chan et al. (2016) di dalam sebuah fleksibilitas sumber daya terdapat beberapa indikator:

1) Sumber daya utama berkontribusi pada pengembangan produk, produk, penjualan, dan sebagainya

2) Tingkat berbagi sumber daya utama yang digunakan dalam pengembangan, produksi, penjualan, dan layanan purna jual produk yang berbeda adalah tinggi

(46)

3) Perusahaan sering menemukan penggunaan baru untuk sumber daya utama yang ada melalui komunikasi antar unit

4) Penggunaan sumber daya utama dapat dengan mudah dialihkan ke alternatif di berbagai unit perusahaan.

Fleksibilitas koordinasi diartikan sebagai opsi yang tersedia untuk menyebarkan sumber daya yang ada melalui sistem dan proses organisasi.

Menurut Chan et al. (2016) Fleksibilitas koordinasi memiliki beberapa indikator:

1) Waktu peralihan ke produk yang berbeda adalah pendek pada jalur produksi utama

2) Biaya peralihan ke produk yang berbeda kecil pada jalur produksi utama

3) Untuk mengatasi berbagai kondisi, kami melakukan upaya untuk meningkatkan mobilitas dengan mengembangkan kemampuan secara bertahap 4) Untuk mengatasi berbagai kondisi, kami melakukan

upaya untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi.

(47)

33 memperkaya teori yang digunakan untuk mengkaji penelitian yang sedang dilakukan. Sebagai berikut penelitian terdahulu yang terdapat pada penelitian ini, antara lain:

Tabel 2.1

Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu

No Penulis Judul Penelitian Alat

Analisis Objek Penelitian Metode

Penelitian Hasil Peneltiian 1 Yulvi Dan Anang

(2021) Pengaruh Entrepreneurial Leadership Terhadap Kinerja Melalui Inovasi

Smart Pls Umkm Kota Surabaya Pendekatan

Kuantitatif Hasil Penelitian Ini Menjelaskan Bahwa Kepemimpinan

Kewirausahaan Memiliki Pengaruh Positif Yang Signifikan Terhadap Kinerja Organisasi.

Kepemimpinan

Kewirausahaan Memiliki Efek Positif Yang Signifikan Terhadap Inovasi Produk. Inovasi

Produk Tidak

Mempengaruhi Kinerja Organisasi. Kepemimpinan

(48)

34

Hasil Penelitian Ini Dan Penelitian Sebelumnya, Penelitian Selanjutnya Harus Menganalisis Variabel Lain Yang Mungkin Mempengaruhi Kepemimpinan

Kewirausahaan Di Sektor Yang Berbeda.

2 Arini Sulistyowati

(2018) Pengaruh Entrepreneurial Leadership Dan Innovation Capacity Terhadap Competitive

The Structural Equation Model (Sem) With Partial Least Square (Pls)

Program.

Usaha Kecil Dan Menengah (Ukm)

Binaan Dinas

Perdagangan Kota Surabaya

Pendekatan Kuantitatif Dengan Menyebar Kuesioner

Hasil Penelitian Ini

Menemukan Bahwa

Kepemimpinan

Kewirausahaan Dan Kapasitas Inovasi Mempunyai Pengaruh Yang Signifikan

Keunggulan Kompetitif Pada Ukm Dinas Perdagangan Kota Surabaya.

3 Dwi Wahyu Pril Ranto

(2017) Pengaruh Entrepreneurial Leadership Terhadap Product Innovation Pada Industri Makanan Di Yogyakarta

Regresi Linear Berganda

Industri Makanan Di

Yogyakarta Kuantitatif Berdasarkan Hasil

Penelitian Ditemukan

Bahwa Dimensi

Kepemimpinan Wirausaha Terdiri Dari Dimensi Mampu Memotivasi, Visioner, Proaktif, Inovatif, Pengambil Resiko, Berprestasi

(49)

35

4 Aris Dan Ludi

(2018) Analisis Entrepreneurial

Leadership Dan Hambatan Triangulasi Usaha Di Umkm Pengolahan Tahu

“Rds” Singosari Malang

Jenis Penelitian Kualitatif Ini Adalah Studi Kasus (Case Study).

Hasil Peneltian Yang Didapat Adalah Kondisi Entrepreneurial Leadership Dari Pimpinan Umkm Tahu “Rds” Secara Umum Baik Karena Beliau Mampu Memotivasi Karyawan Dengan Baik, Memiliki Gambaran Tentang Usaha Dimasa Depan, Mampu Membaca Peluang-Peluang Dengan Baik, Aktif Mencari Ide Baru, Gigih Dalam Menjalankan Usahanya Dan Hambatan Yang Dihadapi Oleh Umkm Tahu “Rds” Bisa Diatasi Dengan Baik Oleh Pimpinan Umkm Tahu Rds Tersebut.

5 Linda, Devina Dan Ameliya

(2023)

Modal Sosial,

Kepemimpinan

Kewirausahaan Dan Kinerja Umkm Di Pekanbaru : Pengaruh Mediasi Kemampuan Inovasi

Smart PLS Umkm Di Pekanbaru : Kuantitatif Hasil Penelitian Menunjukkan Bahwa Modal Sosial Tidak Berpengaruh Langsung Signifikan Terhadap Kinerja Bisnis Ukm Kuliner Dan Perhotelan Di

(50)

36

Selain Itu, Kepemimpinan Kewirausahaan, Secara Langsung Dan Tidak Langsung, Mempengaruhi Kinerja Keuangan Dan Non-Keuangan Ukm Melalui Kemampuan.

6 Emilia dan Homorota (2020)

Integrasi Fleksibilitas Strategis dan Kapabilitas Pembelajaran Organisasi sebagai Second-order Factor terhadap Kinerja Inovasi dan Perusahaan

SEM Pembelajaran

Organisasi sebagai Second-order Factor

Kuantitatif Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa fleksibilitas strategis memperkuat efek positif kapabilitas pembelajaran organisasi terhadap kinerja inovasi dan kinerja bisnis,

sehingga ketika

fleksibilitas strategis tinggi, maka kinerja bisnis akan meningkat lebih tinggi, apabila hal itu dikaitkan dengan kinerja inovasi yang tinggi.

Fleksibilitas strategis

menjadi sumber

keunggulan bersaing yang didukung oleh peran

(51)

37

kemampuan responsif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi. Temuan ini merupakan mekanisme navigasi untuk menghadapi turbulensi pasar dan persaingan.

(52)

C. Pengaruh Antar Variabel

1. Pengaruh Entrepreneurial leadership Terhadap Competitive Advantage UMKM Kuliner Sleman

Entrepreneurial leadership merupakan gaya kepemimpinan yang terlihat dari pemimpin yang menciptakan, mengidentifikasi, dan memanfaatkan peluang dengan cara yang inovatif dan penuh risiko (Nwachukwu et al, 2017). Bahwa peningkatan keunggulan bersaing pada UKM dapat dibentuk melalui adanya entrepreneurial leadership atau kepemimpinan kewirausahaan yang baik, karena dengan kemampuan pimpinan yang baik dalam kewirausahaan maka akan dapat mengarahkan pengelolaan UKM lebih berdaya saing dan memiliki keunggulan kompetitif. Pengaruh entrepreneurial leadership terhadap competitive advantage pada UKM adalah positif yang menunjukkan bahwa semakin baik entrepreneurial leadership maka akan dapat meningkatkan competitive advantage pada UKM.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Yusnita dan Wahyudin (2017) yang meneliti pada Usaha Mikro di Kabupaten Bangka yang mana hasilnya membuktikan bahwa entrepreneurial leadership berpengaruh terhadap keunggulan kompetitif pada usaha mikro di Kabupaten Bangka.

Hasil Penelitian ini sejalan dengan Yulvi dan Anang (2021) yang meneliti Pengaruh Entrepreneurial Leadership Terhadap Keunggulan Kompetitif Melalui Inovasi pada UMKM Surabaya yang mana hasilnya

(53)

membuktikan bahwa entrepreneurial leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan kompetitif.

2. Pengaruh Entrepreneurial leadership Terhadap Fleksibilitas Strategi

Entrepreneurial leadership adalah gaya kepemimpinan yang khas yang dapat disajikan dalam organisasi apa pun (Gupta et al dalam Mokhber et al., 2016). Atribut, perilaku dan tindakan yang membedakan kepemimpinan kewirausahaan dari gaya kepemimpinan lain, fokus pada pengenalan peluang dan eksploitasi sebagai tujuan kewirausahaan untuk pemimpin tersebut (Renko et al, 2015). Kepemimpinan wirausaha didasarkan pada pemimpin yang menciptakan, mengidentifikasi, dan memanfaatkan peluang dengan cara yang inovatif dan penuh risiko (Nwachukwu et al, 2017).Entrepreneurial leader sangat dibutuhkan agar dapat mengelola sebuah usaha untuk tetap dapat bertahan dan mengembangkan usahanya ditengah-tengah persaingan yang semakin ketat.Entrepreneurial leader mempunyai sikap proaktif, inovatif, dan berani mengambil risiko, juga mempunya flesibilitas strategi yang diharapkan dapat membawa suatu kesuksesan bagi para pelaku UKM (Yusnita dan Wahyudin, 2017).

Fleksibilitas strategis menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mengerahkan sumber daya ke arah tindakan dan upaya baru dengan cepat. Hal ini membuktikan saatnya untuk menghentikan atau

(54)

membalikkan komitmen sumber daya yang ada dan bertindak dengan cepat dalam menanggapi berbagai perubahan pasar.

3. Pengaruh Fleksibilitas Strategi Terhadap Competitive Advantage Fleksibilitas strategis pada dasarnya memiliki hubungan yang erat dengan teori kapabilitas dinamik (dynamic capability theory) yang dibentuk secara terus menerus oleh organisasi yang bersifat market driven, antara lain seperti kegiatan R&D, adopsi inovasi, aliansi strategis, dan kerja sama operasional dalam pengembangan produk baru (Day, 2013). Menurut Cepeda dan Vera (2007), kemampuan dinamis merupakan kemampuan berdasarkan sumber daya yang menjadikan perusahaan tetap unggul, meskipun perusahaan berada di bawah tekanan lingkungan yang dinamis. Dengan demikian, fleksibilitas strategis adalah kemampuan perusahaan untuk menghadapi perubahan dan merespon dengan cepat jika terjadi perubahan (Kevin & Zheng, 2010).

Kemampuan perusahaan untuk merespon ketidakpastian dan melakukan penyesuaian secara obyektif didukung oleh kemampuan dan pengetahuan superior yang dijelaskan oleh Sushil (2014) bahwa fleksibilitas strategis merupakan langkah strategis yang proaktif dan reaktif untuk melakukan perubahan internal dan eksternal dengan cara mengoptimalkan peran aspek-aspek utama yang dimiliki organisasi untuk kesinambungan dalam jangka panjang. Mendasarkan pada definisi tersebut, maka perusahaan dengan fleksibilitas strategis tinggi

(55)

mampu menyesuaikan proses pembelajaran dan keunggulan serta mampu beradaptasi dengan lingkungan secara cepat.

4. Pengaruh Entrepreneurial leadership Terhadap Competitive Advantage UMKM Kuliner Sleman Melalui Fleksibilitas Strategi

Kepemimpinan kewirausahaan selalu dikaitkan dengan risiko karena kondisi ketidakpastian yang dihadapi, serta perilaku proaktif dan inovatif untuk mempertajam competitve aggressiveness

Menurut Chan et al., (2016) fleksibilitas strategis sering diharapkan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi, rencana, dan strategi, ditambah dengan penawaran produk yang disesuaikan dan aspek lain dari bauran pemasaran, ini dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Dua elemen utama fleksibilitas, yaitu fleksibilitas sumber daya strategis dan fleksibilitas koordinasi adalah fungsi dari sumber daya yang dimiliki perusahaan dan kapasitasnya untuk memanfaatkan sumber daya ini.

Menurut Chan et al. (2016) Tidak dapat dipungkiri, fleksibilitas strategis mempengaruhi cara di mana perusahaan dapat menciptakan keunggulan kompetitif dalam menanggapi perubahan besar dalam lingkungan eksternal.Kepemimpina kewirausaahaan akan selalu dikaitkan dengan fleksibilitas yang tinggi supaya dapat menghadapi persaingan.

D. Kerangka Konseptual

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikembangkan kerangka konseptual sebagai berikut:

(56)

Sumber: Pengembangan penelitian dari Simon Hensellek et al (2023) Gambar 2.1 Rerangka Konseptual

Berdasarkan rerangka konseptual tersebut, maka penelitian ini meneliti tentang entrepreneurial leadership sebagai variabel bebas (X) berpengaruh terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman sebagai variabel terikat (Y), fleksibilitas strategi sebagai variabel mediasi (Z) berpengruh langsung terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman sebagai variabel terikat (Y), entrepreneurial leadership sebagai variabel bebas (X) berpengaruh terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman sebagai variabel terikat (Y) dimediasi fleksibilitas strategi sebagai variabel mediasi (Z).

E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan teori dan jurnal penelitian dahulu yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian ini antara lainnya adalah:

H1: Entrepreneurial leadership berpengaruh positif signifikan terhadap competitive advantage UMKM Kuliner Sleman.

H1

H2 H3

Entrepreneurial Leadership (X)

Fleksibilitas Strategi (Z)

Competitive Advantage (Y) H4

(57)

H2: Entrepreneurial leadership berpengaruh positif signifikan terhadap fleksibilitas strategi.

H3: Fleksibilitas Strategi berpengaruh positif signifikan terhadap competitive advantage UMKM Kuliner di Sleman.

H4: Entrepreneurial leadership berpengaruh positif signifikan terhadap competitive advantage UMKM Kuliner di Sleman yang dimediasi oleh fleksibilitas strategi.

(58)

A. Rancangan Penelitian

Menurut Ghozali (2018) menyatakan bahwa rancangan penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Rancangan penelitian pada penelitian ini yang berdasarkan dari sifat permasalahan penelitiannya, yaitu: apakah entrepreneur leadership berpengaruh terhadap competitive advantage, apakah entrepreneur leadership berpengaruh terhadap fleksibilitas strategis, apakah fleksibilitas strategis berpengaruh terhadap competitive advantage dan apakah entrepreneur leadership berpengaruh terhadap competitive advantage melalui fleksibilitas strategis.

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Menurut Ghozali (2018), penelitian kuantitatif adalah penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Penelitian kuantitatif yang dimaksudkan adalah penelitian yang mana mengangkakan data dari variabel entrepreneur leadership, fleksibilitas strategis dan competitive advantage.

B. Objek dan Waktu Penelitian 1. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu mengenai suatu hal yang objektif, valid, dan reliable yang berkaitan dengan variabel tertentu (Ghozali, 2018).. Objek dalam penelitian ini adalah UMKM Kuliner Sleman.

44

Referensi

Dokumen terkait

KEPUTUSAN PEMBELIAN PIZZA PAPA RON’S (Studi Kasus Pada Pondok Pinang Center, Jakarta Selatan).. UPN Veteran Jakarta, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen S1

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Orientasi kewirausahaan,Lingkungan Bisnis dan Kemampuan Manajemen terhadap Kineja Usaha Pada UMKm

Pengambilan Keputusan Untuk Pemilihan Supplier Bahan Baku Dengan Pendekatan Analytic Hierarchy Processdi PR Pahala Sidoarjo.. Yogyakarta: Seminar Nasional Informatika, UPN

Tujuan dari penelitian ini ialah sebagai syarat kelulusan program studi Manajemen program Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional

ANALISIS NILAI PERUSAHAAN SEKTOR BARANG KONSUMEN PRIMER DI BURSA EFEK INDONESIA UPN Veteran Jakarta, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Manajemen.. 134) mengasumsikan besarnya nilai

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen modal kerja yang dilakukan oleh pemilik dan pelaku UMKM bisnis kuliner di Desa Saptorenggo yang terdiri dari makna

vii ANALISIS UNIT COST BERDASARKAN MODEL ACTIVITY BASED COSTING SISWA SMK NEGERI 4 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2016/2017 Oleh: FADLIA AZKA ZHORIFA SAIFUDDIN 13804241050 ABSTRAK

PENGARUH BRAND PERCEPTION TERHADAP BRAND LOYALTY DAN WORD-OF-MOUTH PADA BISNIS CELEBRITY FITNESS GYM DI SURABAYA Louis Hartono Manajemen Pemasaran Dudi Anandya Indarini ABSTRAK