RESUME MATERI ERITROPOIESIS
Dosen Pengampu : Aziz Ansori Wahid, S.T., M.T
Disusun oleh :
Nama : Nurhikmawati NPM : E123076 Kelas : 1A
Mata Kuliah : Hematologi
FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN RAJAWALI BANDUNG
2024
A. Pengertian Eritropoiesis
Eritropoesis adalah proses pembentukan eritrosit (sel darah merah) yang terjadi di sumsum tulang hingga terbentuk eritrosit matang dalam darah tepi yang dipengaruhi dan dirangsang oleh hormon eritropoietin. Eritropoietin adalah hormon glikoprotein yang terutama dihasilkan oleh sel-sel interstisium peritubulus ginjal, dalam respon terhadap kekurangan oksigen atas bahan globulin plasma, untuk digunakan oleh sel-sel induk sumsum tulang. Pada janin dan bayi proses ini berlangsung di limfa dan sumsum tulang, tetapi pada orang dewasa terbatas hanya pada sumsum tulang.
Eritropoiesis ini merupakan bagian dari hemopoiesis. Hemopoiesis sendiri meliputi eritropoiesis, leukopoiesis dan trombopoiesis. Eritropoiesis dalam keadaan normal terjadi, sebagai proses untuk menggantikan eritrosit yang mengalami
penghancuran oleh organ lien akibat penuaan. Eritropoiesis ini akan meningkat aktivitasnya manakala kebutuhan eritrosit di sirkulasi meningkat, sebagai contoh pada keadaaan anemia.
B. Proses Eritropoiesis
Tempat produksi sel darah yang paling umum adalah jaringan spons di dalam Eritropoiesis dimulai sebelum manusia dilahirkan. Dinamakan sebagai eritropoiesis janin. Pada saat manusia dilahirkan, eritropoiesis terjadi di sumsum tulang manusia.
Eritropoiesis pada dewasa terjadi di sumsum tulang yang terletak di sternum dan kristailiaka, sedangkan eritropoiesis pada anak - anak terjadi pada tulang panjang dan sternum.
Proses eritropoiesis memerlukan waktu 7 hari dengan jumlah eritrosit normal yang dihasilkan sekitar 4,5 – 5,5 juta/mm3 pada laki-laki dan 4,0 – 5,0 juta/mm3 pada perempuan sekitar satu minggu agar sel darah merah menjadi matang sepenuhnya.
Proses membutuhkan beberapa komponen seperti zat besi, asam amino, vitamin dan juga hormon kurangnya komponen dapat menyebabkan jumlah eritrosit tidak normal. Efek dari kegagalan pembentukan ini berakibat pada bentuk makrosit yang memiliki membran sangat tipis, besar, bentuknya oval tidak cekung seperti pada normalnya dan menyebabkan bentuk makrosit tidak teratur hal ini berdampak pada pengangkutan oksigen nantinya ke jaringan dan organ tubuh.
C. Faktor Pembentukan Eritropoesis 1. Eritropoietin
Penurunan penyaluran O2 ke ginjal merangsang ginjal darah untuk mengeluarkan hormon eritropoietin ke dalam darah, dan hormon ini kemudian merangsang eritropoiesis di sumsum tulang. Eritropoietin bekerja pada turunan sel- sel bakal yang belum berdiferensiasi yang telah berkomitmen untuk menjadi sel darah merah, yaitu merangsang proliferasi dan pematangan mereka.
2. kemampuan respon sumsum tulang (anemia, perdarahan).
3. intergritas proses pematangan eritrosit.
D. Siklus Eritropoiesis
1. Rubiblast
Rubriblast disebut juga pronormoblast atau proeritroblast, merupakan sel termuda dalam sel eritrosit. Sel ini berinti bulat dengan beberapa anak inti dan kromatin yang halus. Ukuran sel rubriblast bervariasi 18-25 mikron. Dalam keadaan normal jumlah rubriblast dalam sumsum tulang adalah kurang dari 1 % dari seluruh jumlah sel berinti.
2. Prorubrisit
Prorubrisit disebut juga normoblast basofilik atau eritroblast basofilik.
Ukuran lebih kecil dari rubriblast. Jumlahnya dalam keadaan normal 1-4 % dari seluruh sel berinti.
Gambar 1 Siklus Eritropoiesis (sumber: https://rizkinisfiramdhini.blogspot.com
3. Rubrisit
Rubrisit disebut juga normoblast polikromatik atau eritroblast polikromatik.
Inti sel ini mengandung kromatin yang kasar dan menebal secara tidak teratur, di beberapa tempat tampak daerah-daerah piknotik. Pada sel ini sudah tidak terdapat lagi anak inti, inti sel lebih kecil daripada prorubrisit tetapi sitoplasmanya lebih banyak, mengandung warna biru karena asam ribonukleat (ribonucleic acid-RNA) dan merah karena hemoglobin. Jumlah sel ini dalam sumsum tulang orang dewasa normal adalah 10-20 %.
4. Metarubrisit
Sel ini disebut juga normoblast ortokromatik atau eritroblast ortokromatik.
Inti sel ini kecil padat dengan struktur kromatin yang menggumpal. Sitoplasma telah mengandung lebih banyak hemoglobin sehingga warnanya merah walaupun masih ada sisa-sisa warna biru dari RNA. Jumlahnya dalah keadaan normal adalah 5-10%.
5. Retikulosit
Pada proses maturasi eritrosit, setelah pembentukan hemoglobin dan penglepasan inti sel, masih diperlukan beberapa hari lagi untuk melepaskan sisa- sisa RNA. Sebagian proses ini berlangsung di dalam sumsum tulang dan sebagian lagi dalam darah tepi. Setelah dilepaskan dari sumsum tulang sel normal akan beredar sebagai retikulosit selama 1-2 hari. Dalam darah normal terdapat 0,5 – 2,5%
retikulosit.
6. Eritrosit
Eritrosit normal merupakan sel berbentuk cakram bikonkaf dengan ukuran diameter 7-8 mikron dan tebal 1,5- 2,5 mikron. Bagian tengah sel ini lebih tipis daripada bagian tepi. Dengan pewarnaan Wright, eritrosit akan berwarna kemerah- merahan karena mengandung hemoglobin. Umur eritrosit adalah sekitar 120 hari dan akan dihancurkan bila mencapai umurnya oleh limpa.
E. Penyebab terjadinya Eritropoiesis
• Anemia
Tidak memiliki cukup sel darah merah untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh Anda. Akibatnya, Anda mungkin merasa lemas, lelah, atau kedinginan. Ada berbagai jenis anemia.
• Eritrositosis
Memiliki terlalu banyak sel darah merah. Tergantung pada penyebab eritrositosis, mungkin mengalami gejala ringan, seperti sakit kepala atau kelelahan. mungkin berisiko mengalami komplikasi yang lebih parah seperti pembekuan darah.
• Polisemia
Kondisi di mana terdapat kelebihan sel darah merah. Polisemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penyakit paru-paru, penyakit ginjal, dan tumor.
• Gangguan hemoglobin
Ada sejumlah gangguan hemoglobin yang dapat memengaruhi fungsi sel darah merah. Gangguan ini dapat disebabkan oleh mutasi gen yang
mengkode hemoglobin.
Referensi :
- Hernaningsih, Yetti. (2020). Eritropoiesis. Diakses pada tanggal 6 mei 2024. Available from: https://unair.ac.id
- Ariska, Ekidwi. (2018). Siklus Eritropoiesis. Diakses pada tanggal 6 mei 2024.
Available from: https://repository.unimus.ac.ic