1
PARADIGMA EKONOMI SOSIOLOGI
Tugas Mata Kuliah Ekonomi Islam Multi Paradigma Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. Munawar, SE., DEA Dr. H. A. Djalaludin, Lc., MA
Oleh:
KHILMI ZUHRONI
NIM: 200504320014
PROGRAM DOKTOR EKONOMI SYARIAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2021
2
PARADIGMA EKONOMI SOSIOLOGI
Khilmi Zuhroni
Pascasarjana Program Doktor Ekonomi Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
E-mail: [email protected]
Abstract
Economic studies can hardly be separated from sociological studies. Because after all a person's actions in fulfilling their life's needs are directly related to social actions, namely the interaction between themselves and the environment, applicable laws, existing institutions and existing religions and (cultural) habits.
Economic sociology is a sociological perspective that explains economic phenomena, especially those related to the aspects of production, distribution, exchange, consumption of goods, services and resources, which lead to how people meet their daily needs in order to achieve prosperity.
There are three main focuses of study in the social economy, namely: First, a sociological analysis of economic processes, such as the formation of prices (agreements) between economic actors or actors; Second, analysis of the interaction between the economy and other institutions in society, among others, we can analyze the relationship between the economy and religion, or politics, the bureaucracy, and other institutions; Third, analysis of institutional dynamics and cultural parameters that form the basis of the community's economy.
Keywords: sociological economics, social action, economic theory Abstrak
Kajian ekonomi hampir tidak dapat dipisahkan dari kajian sosiologi. Sebab bagaimanapun tindakan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya berhubungan secara langsung dengan tindakan sosial, yakni adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan, hukum yang berlaku, kelembagaan yang ada serta agama dan kebiasaan (budaya) yang ada.
Sosiologi ekonomi merupakan perspektif sosiologis yang menjelaskan fenomena ekonomi, terutama terkait dengan aspek produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi barang, jasa, dan sumber daya, yang bermuara pada bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya guna mencapai kesejahteraan.
Ada tiga fokus utama yang menjadi kajian dalam ekonomi sosial, yakni: Pertama, analisis sosiologis tentang proses-proses ekonomi, antara lain seperti terbentuknya harga (kesepakatan) antara pelaku atau aktor ekonomi; Kedua, analisis hubungan interaksi antara ekonomi dan institusi lain dalam masyarakat, antara lain dapat kita analisis hubungan antara ekonomi dan agama, ataupun politik, birokrasi, dan institusi lainnya; Ketiga, analisis mengenai dinamika kelembagaan dan parameter budaya yang menjadi landasan ekonomi masyarakat.
Kata Kunci: ekonomi sosiologi, tindakan sosial, teori ekonomi
3 Pendahuluan
Kegiatan ekonomi sangat berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Demikian juga aktivitas sosial sering kali memengaruhi kegiatan ekonomi. Gambaran umum hubungan antara sosiologi dan ekonomi ini dapat dilihat misalnya pada saat sebuah negara sedang mengalami krisis pangan akibat melonjaknya harga sejumlah komoditas. Sebutlah kenaikan harga kedelai, krisis energi, atau berkurangnya pasokan beras akibat musibah yang menimpa areal pertanian, maka kegiatan ekonomi secara otomatis berdampak pada kehidupan sosial seperti meningkatnya angka kemiskinan, karena penurunan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok. Penurunan daya beli pada gilirannya diikuti oleh peningkatan kerawanan sosial.
Kriminalitas sering kali terjadi karena semakin kecilnya akses terhadap pekerjaan, sehingga orang melakukan pencurian hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok saja.
Swedberg (2005) mendefinisikan sosiologi ekonomi sebagai penerapan tema-tema sosiologi, variabel dan penjelas model untuk produksi kompleks, distribusi, pertukaran dan kegiatan konsumsi barang dan jasa. Sosiologi ekonomi merupakan perspektif sosiologis yang menjelaskan fenomena ekonomi, terutama terkait dengan aspek produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi barang, jasa, dan sumber daya, yang bermuara pada bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya guna mencapai kesejahteraan.1
“Economic sociology can be defined as the sosciological perspective applied to economic phenomena. A similar but more elaborate version is the application of the frames of reference, variables, and explanatory models of sociology to that complex of activities which is concerned with the production, distribution, exchange, and consumption of scarce good and services”. 2
Definisi di atas, menjelaskan dua terminologi tentang fenomena ekonomi, dan pendekatan sosiologis. Fenomena ekonomi yang menjadi fokus perhatian adalah mengenai cara aktor memenuhi kebutuhan, dan di dalamnya terkandung aspek produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi sumberdaya yang pada dasarnya bermuara pada kesejahteraan aktor. Sedangkan pendekatan sosiologisnya meliputi kerangka acuan, variabel dan indikator, serta model-model yang digunakan sosiolog dalam memahami ataupun menjelaskan fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Dalam kerangka ini, terdapat perbedaan pendekatan ataupun cara pandang dari sudut
1 Ahmet Efe, “Economic Sociology of Islam According to The Risale-i Nur,” Turkish Journal of Islamic Economics 5, no. 1 (February 1, 2018): 68, https://doi.org/10.26414/tujise.2018.5.1.63-87.
2 Neil J. Smelser and Richard Swedberg, eds., The Handbook of Economic Sociology, 2nd ed (Princeton, N.J. : New York: Princeton University Press ; Russell Sage Foundation, 2005).
4
ekonomi dan sosiologi ekonomi terutama dalam memandang aspek produksi, distribusi dan pertukaran, serta konsumsi sebagai komponen kegiatan ekonomi masyarakat.
Menurut Marx, ketika “struktur ekonomi masyarakat” ditentukan oleh hubungan produksi, hubungan ini secara inheren bersifat sosial. Itu hubungan produksi dalam masyarakat bersifat konstan dan terstruktur menurut hukum hubungan kekuasaan yang ditentukan. Struktur pasar kapitalis juga terdiri dari ini semua hubungan sosial. Sedangkan. Karakter sosial pasar adalah juga masalah sentral sosiologi ekonomi. Dengan demikian ekonomi secara inheren tidak dapat dipisahkan dari hubungan-hubungan sosial.3
Sosiologi Ekonomi mengalami perkembangan yang pesat sejalan dengan berbagai permasalah sosial ekonomi masyarakat, baik di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang yang sedang berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui berbagai kebijakan pembangunan. Perkembangan studi sosiologi ekonomi tidak terlepas dari pengaruh pemikiran tokoh sosiologi klasik dan aliran pemikiran baru dalam sosiologi ekonomi sejak dekade 1980-an.
Hasil kajian eksploratif melalui penelusuran atas perkembangan studi sosiologi ekonomi, menunjukkan bahwa sebagian besar studi diarahkan kepada bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan dan mencapai kemakmuran atau kesejahteraan yang erat kaitannya dengan masalah kemiskinan. Saat ini studi sosiologi ekonomi lebih marak menganalisis tentang kapital sosial, serta masalah struktur, kelembagaan dan sistem ekonomi nasional dikaitkan dengan kesejahteraan masyarakat. Sistem ekonomi nasional yang dimaksud adalah yang sejalan amanat konsititusi. Pada sisi lain, dampak pembangunan nasional juga banyak diteliti mengingat kebijakan pembangunan dinilai belum mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat, bahkan terkesan belum berhasil menciptakan inklusifitas dalam pembangunan nasional, dan pemerataan pembangunan.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan pola deduktif. Penelitian ini juga menggunakan metode studi pustaka (library research), dimana data-data diambil dari buku-buku yang relevan, jurnal, media online dan berbagai situs yang terkait dengan kajian penelitian. Data-data tersebut dianalisis, dituangkan dalam pemaparan hasil penelitian secara deskriptif dan selanjutnya diambil kesimpulan.
3 Efe, “Economic Sociology of Islam According to The Risale-i Nur,” 68.
5 Hasil dan Pembahasan
Teori ekonomi klasik dan neoklasik secara eksplisit mengandung konsepsi tentang ekonomi sosial dan ekonomi sosiologi seperti yang dipahami. Selain itu, dalam kajian ekonomi klasik dan neoklasik secara subtansi memerlukan penjelasan secara konsepsi implisit terkait ekonomi sosial meskupin istilah ini tidak digunakan secara resmi dalam ekonomi klasik dan neoklasik. Pada beberapa uraian Knight (1958) dan beberapa ekonom lain menyebutnya 'ekonomi sosiologis', dan bukan hanya murni yakni ekonomi pasar. Pernyataan ini tidak dapat disepelekan begitu saja, sebab memiliki konsekuensi yang luas akan adanya hubungan yang terkait antara ekonomi dengan sosilogi. Sebagaimana para ekonom-ekonom murni yang mendefinisikan dan merekonstruksi ilmu ekonomi dalam berbagai istilah, seperti ekonomimetri, aplikasi fisika matematika atau mekanika untuk ekonomi.4
Ekonomi mengasumsikan bahwa setiap individu memiliki pilihan-pilihan ataupun preferensi tertentu. Tindakan individu bertujuan untuk memaksimalkan utilitas dan keuntungan yang selanjutnya dalam ekonomi disebut prinsip rasionalitas. Akan tetapi pandangan tersebut berbeda dari sudut pandang sosiologi, yakni seperti yang dikemukakan Weber mengenai tindakan yang dalam sosiologi dibedakan menjadi tindakan rasional dan tindakan tradisional (afaktual).
Para ekonom cenderung menganggap bahwa tindakan ekonomi dapat ditarik dari hubungan antara preferensi selera dengan harga ataupun jasa pada sisi lainya. Sementara pandangan sosiolog memberi makna tindakan aktor yang dikonstruksi secara historis. Mengenai tindakan ekonomi, para ekonomi relatif tidak memperhatikan aspek power atau kekuasaan karena menurut sudut pandang ekonomi tindakan ekonomi dianggap sebagai pertukaran diantara yang sederajat.
Sedangkan menurut sosiologi tidaklah demikian, melainkan power ataupun kekuasaan dipandang sebagai salah satu dimensi yang penting dalam menentukan tindakan ekonomi.5
Secara historis perkembangan pemikiran sosiologi ekonomi antara lain disebabkan oleh berkembangnya paham-paham, pemikiran-pemikiran dan teori-teori tentang ekonomi yang melihat cara kerja sistem ekonomi dengan menekankan pula pada aspek-aspek non-ekonomi.
Salah satu dari paham-paham, teori-teori, pemikiran-pemikiran yang mendukung perkembangan
4 Milan Zafirovski, “Sociological Dimensions in Classical/Neoclassical Economics: Conceptions of Social Economics and Economic Sociology,” Social Science Information 53, no. 1 (March 2014): 78, https://doi.org/10.1177/0539018413509909.
5 Smelser and Swedberg, The Handbook of Economic Sociology.
6
sosiologi ekonomi tersebut adalah Paham Merkantilisme, yang berpandangan, bahwa kekayaan dianggap sama dengan jumlah uang yang dimiliki oleh suatu negara dan cara untuk meningkatkan kekuasaan adalah dengan meningkatkan kekayaan Negara.
Di dalam kehidupan masyarakat sebagai satu sistem maka bidang ekonomi hanya sebagai salah satu bagian atau subsistem saja. Oleh karena itu, di dalam memahami aspek kehidupan ekonomi masyarakat maka perlu dihubungkan antara factor ekonomi dengan factor lain dalam kehidupan masyarakat tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain: faktor agama dan nilai-nilai tradisional, ikatan kekeluargaan, etnisitas, dan stratifikasi sosial. Faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh yang langsung terhadap perkembangan ekonomi. Faktor agama dan nilai- nilai tradisional: ada nilai-nilai yang mendorong perkembangan ekonomi, akan tetapi ada pula nilai-nilai yang menghambat perkembangan ekonomi. Demikian pula dengan kelompok solidaritas, dalam hal ini yakni keluarga dan kelompok etnis, yang terkadang mendorong pertumbuhan dan terkadang pula menghambat pertumbuhan ekonomi.
Emil Durkheim termasuk diantara yang melakukan pendekatan ekonomi dalam perspektif sosiologi. Durkheim menulis adanya peran utama yang dimainkan oleh agama dalam sosial kehidupan. Durkheim, yang mengkritik rasionalisme abstrak ekonomi politik klasik dengan konseptual menyadari fakta ekonomi sebagai jenis fakta sosial. Hal ini menggambarkan bahwa menggambar representasi sosial yang terbentuk 'nilai sosial' untuk menunjukkan bagaimana fakta ekonomi dikondisikan oleh 'cara melakukan, berpikir, dan perasaan. 6
Fokus perhatian utama dari ekonom adalah aspek pertukaran ekonomi, pasar, dan ekonomi.
Sementara masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang berada di luar itu dan dipandang sudah ada. Hal itu berbeda dari sudut pandang sosiolog, yakni memandang masyarakat sebagai suatu sistem sosial dan ekonomi merupakan bagian integral dari sistem masyarakat. Oleh karena itu, Smelser dan Swedberg (2005) mengemukakan bahwa sosiologi ekonomi lebih banyak memfokuskan perhatian pada: (i) analisis sosiologis tentang proses-proses ekonomi, antara lain seperti terbentuknya harga (kesepakatan) antara pelaku atau aktor ekonomi; (ii) analisis hubungan interaksi antara ekonomi dan institusi lain dalam masyarakat, antara lain dapat kita analisis hubungan antara ekonomi dan agama, ataupun politik, birokrasi, dan institusi lainnya; (iii) analisis
6 Mark D. Jacobs, “Durkheim and the Birth of Economic Sociology,” Contemporary Sociology: A Journal of Reviews 42, no. 3 (May 2013): 422, https://doi.org/10.1177/0094306113484702aa.
7
mengenai dinamika kelembagaan dan parameter budaya yang menjadi landasan ekonomi masyarakat.
Konsep Aktor
Studi mengenai tindakan aktor dalam fenomena ekonomi pada dasarnya cenderung terfokus untuk menganalisis bagaimana masyarakat bertahan hidup melalui pemenuhan kebutuhan hidupnya serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Secara historis perkembangan Sosiologi Ekonomi diawali dengan perkembangan kehidupan ekonomi modern dengan ciri berkembangnya masyarakat industri pasca masyarakat agraris yang mengandalkan kegiatan pertanian sebagai dasar kegiatan perekonomian masyarakat. Pasca pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh sosiologi klasik khususnya Sosiologi Ekonomi, sejak dekade 1980-an muncullah aliran pemikiran baru dalam sosiologi ekonomi (Smelser dan Swedberg, 2005).
Aliran pemikiran baru antara lain terangkum dalam teori Granovetter (1985) mengenai keterlekatan (embeddedness) meletakkan jaringan sosial (network) sebagai titik sentral pemikirannya. Lebih jauh dan yang relatif terbaru dari Granovetter (2005) adalah gagasan mengenai pengaruh struktur sosial terutama yang dibentuk berdasarkan jaringan sosial (network), terhadap manfaat ekonomis khususnya menyangkut kualitas informasi.7
Kemudian, Semelser dan Swedberg juga lebih detail menjelaskan peranan penting dari aliran pemikiran sosiologi struktural bagi studi-studi Sosiologi Ekonomi.8 Proposisi utama dari aliran itu adalah bahwa relasi aktor dan posisi aktor dalam struktur sosial merupakan hal yang krusial dalam proses-proses sosialnya. Kemudian berkembang lebih jauh studi-studi jaringan sosial di pertengahan tahun 1970-an hingga tahun 1990-an yang banyak memfokuskan perhatian pada jaringan kerja korporasi dan sektor industri yang erat pertaliannya dengan teoriteori organisasi dengan memfokuskan perhatian pada keterkaitan antara korporasi dengan lingkungan sosialnya.
Terdapat tiga ranah utama yang menjadi fokus perhatian studi Sosiologi Ekonomi melalui penerapan teori organisasi, yakni dalam ranah ketergantungan terhadap sumberdaya, ekologi kependudukan, dan new institutionlasm. Disamping itu, perkembangan Sosiologi Ekonomi baru
7 Mark Granovetter, “The Impact of Social Structure on Economic Outcomes,” Journal of Economic Perspectives 19, no. 1 (February 1, 2005): 33–50, https://doi.org/10.1257/0895330053147958.
8 Smelser and Swedberg, The Handbook of Economic Sociology, 4–5.
8
saat ini turut dipengaruhi pula oleh penerapan Sosiologi Kultural dan pemikiran-pemikiran komparatif - historis. Aliran ini berkembang pertama kali saat mencetuskan beberapa proposisi utama yang digagas antara lain oleh Harisson White (dari Harvard University), dan murid- muridnya seperti Garanovetter yang juga didukung Swedberg dan beberapa tokoh pemikir Sosiologi Ekonomoi baru. Proposisi yang dimaksud adalah: (i) tindakan ekonomi adalah suatu bentuk dari tindakan sosial, (ii) tindakan ekonomi disituasikan secara sosial, dan (iii) institusi- institusi ekonomi dikonstruksi secara sosial. Ketiga proposisi tersebut bersumber dari gagasan Weber mengenai tindakan sosial. Menurut Weber tindakan ekonomi tidak semata-mata dipandang sebagai fenomena stimulus-respon yang sederhana, melainkan lebih kepada hasil dari suatu proses yang dilakukan oleh individu dalam hubungan sosial yang berlangsung.
Paradigma Dalam Perkembangan Sosiologi Ekonomi
Paradigma sosiologi menurut George Ritzer dikelompokkan menjadi tiga golongan9 : 1) Paradigma Fakta Sosial
Fakta sosial merupakan terminologi yang digunakan oleh Emile Durkheim, seorang perintis sosiologi modern berkebangsaan Perancis. Fakta sosial diartikan Durkheim sebagai cara berfikir, bertindak dan merasa yang berada diluar kesadaran manusia yang bersifat memaksa.
Fakta sosial muncul dalam bentuk nilai-nilai kultural, institusi sosial, sistem ekonomi juga politik.
Dengan bersifat eksternal dan memaksa, maka fakta sosial merupakan sesuatu yang bekerja secara obyektif. Artinya fakta sosial ada dan berada di luar kehendak manusia itu sendiri.10 Sebagaimana diulas oleh Peter Berger, keberadaan fakta sosial ini menunjukkan sisi obyektivasi dari kenyataan sosial.11 Konsepsi Durkheim mengenai fakta sosial merupakan terobosan intelektual yang sangat radikal di zamannya. Hal ini terutama dikarenakan status sosiologi yang berada di antara pengaruh ilmu psikologi dan filsafat sosial. Di jaman itu sosiologi dipandang belum memiliki status sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki bidang penyelidikan (obyek masalah/subject matters) sebagai salah satu ukuran agar memperoleh status itu. Durkheim adalah peletak dasar dari perkembangan awal paradigma fakta sosial.
9 George Ritzer, Sociological Theory, 8th ed (New York: McGraw-Hill, 2011).
10 Ritzer, 77–79.
11 Peter L Berger, Invitation to Sociology: A Humanistic Perspective (Hammondsworth, Middlesex, England:
Penguin Books, 1991).
9 2) Paradigma Definisi Sosial
Paradigma definisi sosial dibangun fondasinya oleh Max Weber, seorang sosiolog berkebanggaan Jerman. Berbeda dengan batasan sosiologi yang dikembangkan Durkheim, bagi Weber, sosiologi adalah ilmu sosial yang bersifat interpretative Sosiologi bagi Max Weber adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki makna-makna subyektif dari sebuah proses interaksi sosial timbal balik untuk memahami implikasi-implikasi yang dilahirkannya. Karena itu, ilmu sosiologi yang dimaksudkan oleh Weber dikenal juga sebagai sosiologi subyektif.12
Dalam pandangan Peter L. Berger, ilmu sosiologi yang dimaksudkan oleh Weber, menunjukkan obyek penyelidikan yang berhubungan dengan konstruksi makna-makna sosial sebagai sebuah kenyataan sosial tersendiri. Makna-makna subyektif yang lahir sebagai hasil dialektika antara diri dan kenyataan eksternal inilah yang disebut sebagai sisi subyektif dari kenyataan social. Dengan perkataan lain, kenyataan sosial tak semata berada di luar kesadaran manusia, akan tetapi kenyataan sosial itu mengendap dalam struktur kesadaran subyektif manusia dan mempengaruhi dirinya dalam berperilaku. 13
Endapan kognitif dari kenyataan sosial pada diri individu juga turut membentuk peta kognitif yang membuat dirinya mampu menafsirkan perubahan situasi sosial. Definisi diri atas situasi menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diselidiki dalam kasus interaksi sosial yang bersifat dualistic. Beberapa aliran teoritik penting yang tergolong dalam rumpun paradigma definisi sosial adalah teori interaksionisme simbolik dan teori fenomenologi.
Teori interaksionisme-simbolik berpandangan bahwa kenyataan sosial sesungguhnya merupakan susunan lambang-lambang yang menyembunyikan makna-makna dibaliknya. Interaksi sosial antara manusia di mediasi oleh lambang-lambang atau sistem lambang (simbol), seperti bahasa, mode berpakaian, kitab hukum, dan lainnya. Tanggung jawab sosiolog untuk menafsirkan dan memahami lambing-lambang itu. Beberapa tokoh penting definisi sosial, selain Max Weber, adalah Alfred Shcuzt, Peter Berger, George Herbet. Mead.
12 Edward Cary Royce, Classical Social Theory and Modern Society: Marx, Durkheim, Weber (Lanham:
Rowman & Littlefield, 2015), 91.
13 Ritzer, Sociological Theory, 112.
10 3) Paradigma Perilaku Sosial
Paradigma perilaku sosial memahami kenyataan sosial berada dalam hubungan stimulus- respon yang dialami individu ketika berhadapan dengan lingkungan sosialnya. Individu pada dasarnya memberi tanggapan (respons) sosial karena mendapatkan stimulus (rangsangan) yang datang dari luar dirinya. Rangsangan ini bisa datang dari individu atau dari lingkungan sosial yang lebih besar, seperti keluarga atau institusi politik.14 Paradigma ini memang sangat kuat dipengaruh oleh B.F Skinner, seorang psikolog yang mengembang teori Stimulus-Organism-Respon (SOR).
Dalam pemahaman paradigma perilaku sosial, perilaku sosial yang muncul sebagai hasil dari proses stimulus-respon inilah yang menjadi obyek penyelidikan sosiologi. Kenyataan sosial tersusun dalam konteks perilaku sosial yang demikian. 15
Menurut penganut paradigma ini, masalah pokok sosiologi adalah perilaku individu yang tak terpikirkan. Perhatian utama paradigma ini pada hadiah (rewards) yang menimbulkan perilaku yang diinginkan dan hukuman (punishment) yang mencegah perilaku yang tak diinginkan.
Paradigma ini juga dikenal sebagai aliran behaviorisme sosial.16 Salah satu teori yang terkenal dari aliran perilaku sosial adalah teori pertukaran sosial yang dikembangkan oleh Herbert Blumer. Bagi Blumer, interaksi sosial sesungguhnya adalah sebuah proses pertukaran sosial yang berisikan makna, kepentingan, juga tujuan-tujuan di antara individu yang berlangsung secara timbal balik.pertukaran sosial yang berlangsung diantara individu itulah yang menjadi penegas bahwa hukum stimulasi-respon memang benar terjadi.
Stimulasi-respon adalah hukum menggerakkan bekerjanya interaksi sosial yang menjadi inti dari terbentuknya kenyataan sosial. Dalam perkembangannya kemudian, setiap paradigma makin memperkuat dirinya agar bisa terus menjawab masalah-masalah baru yang muncul di masyarakat. Bahkan tak jarang diantara masing-masing saling meminjam gagasan untuk mempertajam penafsiran. George Ritzer, yang memberi pembagian paradigma ilmu sosiologi sebagaimana telah diulas diatas, mengusulkan untuk menggabungkan tiga paradigma utama dalam satu kerangka paradigma besar. Kerangka paradigma besar itulah yang membuatnya menyebut
14 Xuesong Zhai, Minjuan Wang, and Usman Ghani, “The SOR (Stimulus-Organism-Response) Paradigm in Online Learning: An Empirical Study of Students’ Knowledge Hiding Perceptions,” Interactive Learning Environments 28, no. 5 (July 3, 2020): 2, https://doi.org/10.1080/10494820.2019.1696841.
15 Ritzer, Sociological Theory, A-12.
16 Ritzer, A-12.
11
sosiologi sebagai ilmu pengetahuan berparadigma multi (multiple paradigm). Status berparadigma multi inilah yang membuat sosiologi begitu menarik untuk dipelajari.
Sekilas Tokoh Ekonomi Sosiologi
Istilah sosiologi ekonomi muncul pada tahun 1879, ketika muncul karya oleh ekonom Inggris W. Stanley Jevons 1879-1965. Istilah itu lebih digunakan oleh ahli sosiologi dan muncul, sebagai contoh, karya Durkheim dan Weber selama tahun 1890-1920 (sociologie economique, Wirtschaftssoziologie). Juga selama beberapa dekade itu sosiologi ekonomi klasik lahir, memberikan contoh bagi karya serupa seperti The Division of Labor in Society (1893) oleh Durkheim, the Philosophy of money (1900) oleh Simmel, dan Economy and Society (dihasilkan antara 1908-20) oleh Weber.
Sosiologi ekonomi klasik mengalami kemajuan untuk mengikuti beberapa karateristik.
Pertama, Weber dan yang lain berbagi pengertian itu mereka sebagai pelopor, membangun tipe analisis yang belum ada sebelumnya. Kedua, mereka memfokuskan pada pertanyaan-pertanyaan pokok yang mendasari: apa aturan dari ekonomi di masyarakat? bagaimana analisa sosiologi terhadap ekonomi berbeda dengan para ahli ekonomi? Apa itu tindakan ekonomi? Untuk ini harus ditambahkan tokoh klasik dengan pemahaman kapitalisme dan berpengaruh di masyarakat-
“perubahan besar” kira-kira membawa hal itu. Melihat beberapa karya bebas kebelakang yang ada sebelum periode 1890-1920 dalam satu aliran atau lainnya menggambarkan terlebih dahulu beberapa pengertian sosiologi ekonomi.
A Historical Sketch of Sociological Theory17
17 Ritzer, 3.
12 1) Karl Marx (1818-1883)
Karl Marx masuk dengan aturan sosiologi ekonomi di masyarakat dan mengembangkan teori menurut ketekunan perkembangan ekonomi secara umum di masyarakat. Apa yang orang lakukan di kehidupannya, Marx juga berargumen, ada ketertarikan material, struktur dan proses dimasyarakat. Ketika Marx ingin membangun pendekatan secara ilmiah di masyarakat, ia juga memasukan paham politik untuk merubah dunia. Hasilnya muncullah “Marxisme”-campuran dari ilmu sosial dan pernyataan politik, masuk dalam satu ajaran.18
Untuk bermacam sebab Marxisme salah atau tidak relevan dengan sosiologi ekonomi.
Telalu jauh berpihak dan fanatik untuk mengambil seluruhnya. Tugas yang sulit menghadang sosiologi ekonomi saat ini untuk mengintisari aspek-aspek Marxisme yang berguna. Pendapat Marx dimulai dari unsur buruh dan produksi. Seseorang bekerja untuk tuntutan hidup. Perhatian ekonomi/material selalu dihubungkan secara umum. Buruh sosial lebih baik dari sifat dasar individual, sejak orang bekerja sama untuk tuntutan hasil. Marx mengkritik ahli ekonomi untuk penggunaan individu yang terisolir; dirinya sendiri terkadang mengatakan “ individu sosial”. Hal terpenting perhatian ini juga pada sifat dasar bersama, istilah Marx “Perhatian Kelas”.
Perhatian kelas dalam hal ini, bagaimanapun, hanya akan efektif jika seseorang sadar seharusnya datang ke kelas yang dapat dipercaya. Marx mengkritik pemikiran Adam smith’s mengenai gabungan perhatian individu dan lebih lanjut pada perhatian umum masyarakat (“tangan gaib”). Ciri-ciri positif pendekatan Marx adalah pengertian yang luas kepada orang yang rela berjuang untuk perhatian materi. Ia juga berkontribusi untuk pemahaman bagaimana kelompok besar dari seseorang terbentuk dengan ketertarikan ekonomi, dibawah keadaan yang baik mereka dapat bersatu dan menyadari perhatian bersama. Sisi negatifnya Marx jelas sekali meremehkan aturan di kehidupan ekonomi orang lain dengan lainnya.
2) Emile Durkheim (1858 – 1917)
Durkheim dilahirkan di Épinal, Prancis yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh – ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular, nampak dari sebagian besar dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi.19
18 Royce, Classical Social Theory and Modern Society, 22.
19 Royce, 57.
13
Sebagai penganut aliran positivistik, Emile Durkheim mengembangkan konsep masalah pokok sosiologi menjadi penting dan kemudian diujinya melalui studi empiris. Implikasi pandangan ”positivistik” Durkheim terhadap ”moral dalam terapan”, dikategorikan sebagai sebuah
”fakta sosial”. Fakta sosial tersebut didefinisikan sebagai ”cara-cara bertindak, berpikir dan merasa”, yang ”berada di luar individu” dan dilengkapi atau dimuati dengan sebuah kekuatan memaksa yang dapat mengontrol individu. ”Fakta sosial” itulah yang akan mempengaruhi setiap tindakan, pikiran dan rasa dari individu. Durkheim, menyatakan apa yang dipikirkan adalah kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat dan cara hidup umum manusia sebagai sesuatu yang terkandung dalam institusi, hukum, moral dan ideologi-ideologi politis.20
Secara singkat, Pokok bahasan dari sosiologi adalah studi atas fakta sosial. Fakta sosial didefenisikan sebagai: Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.
Asumsi dasar dari pendefenisian Durkheim tersebut adalah bahwa gejala sosial itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya. Gejala sosial (seperti aturan legal, beban moral, bahasa dan konsensus sosial) sebagai sesuatu yang riil/faktual, maka gejala-gejala tersebut dapat dipelajari dengan metode-metode empirik. Oleh sebab itu, dimungkinkan untuk dikembangkannya metode keilmuan dengan gejala/fakta sosial sebagai objek material ilmu tersebut, yaitu ilmu sosiologi. Kenyataan/fakta sosial tersebut terjadi dalam satu kehidupan bersama/komunitas. Komunitas yang dimaksud di sini adalah komunitas dalam pengertian abad XIX-XX, yang meliputi segala bentuk hubungan yang ditandai oleh tingkat keakraban yang sangat tinggi, kedalaman emosi, komitmen moral, kohesi sosial. Komunitas dibangun atas dasar manusia dalam keutuhannya, bukan peranan peranannya yang terpisah-pisah.
3) Max Weber (1864 – 1920)
Diantara sosiologi ekonomi klasik Max Weber menempati tempat unik. Ia mengalami proses paling jauh kearah membangun sosiologi ekonomi. Faktanya, Weber berkerja mirip seorang ekonom, tidak ragu-ragu untuk berusaha membangun jembatan antaran ekonomi dan sosiologi.
Max weber Juga telah membantu menempati pertanyaan penelitian utama disepanjang karirnya,
20 Jacobs, “Durkheim and the Birth of Economic Sociology,” 432.
14
berupa kesamaan sifat dasar ekonomi dan sosial, yakni untuk memahami asal-usul kapitalisme modern.21
Secara akademik, Weber pada dasarnya menekankan hukum sebagai hal utama, dengan latar belakangnya sebagai spesialis hukum. Dua disertasinya – satu dalam perusahaan perdagangan menengah (Lex mercatoria) dan lainnya dalam perdagangan tanah di permulaan Roma – sebagai topik yang relevan untuk memahami munculnya kapitalisme, yakni timbulnya pemilikan pribadi terhadap tanah dan pemilikan di perusahaan (menentang pemilikan pribadi). Karya ini mengkombinasikan studi tentang jabatan pekerja desa, berdasarkan pendapatannya dalam posisi ekonomi (“politik ekonomi dan finansial”).
Dalam kapasitasnya ia mengajarkan ekonomi namun sebagian besar menerbitkan sejarah ekonomi dan dalam pertanyaan politik. akhir 1890-an Weber banyak menghasilkan karya-karya terbaiknya, diantaranya: Etika Protestan dan semangat kapitalisme (1904-05) karya mengenai etika ekonomi di dalam dunia religi. Di 1903 Weber menerima posisi kepala redaktur giant hand book of economics. Dari mulai kumpulan pendapat “ekonomi dan masyarakat”yang berasal dari dirinya sendiri. Perkerjaannya saat itu diketahui sebagai “ekonomi dan masyarakat” terdiri atas gabungan karyanya yang telah dipublikasi dan penemuan scrip yang ditemukan setelah kematiannya.
Tahun 1919-20 Weber juga mengajar kursus di sejarah ekonomi, yang mana merupakan bagian catatan bersama selama beberapa tahun di pendidikan dasar, lebih dulu dipublikasikan sebagai sejarah ekonomi umum, mengandung banyak perhatian materi sosiologi ekonomi. Lebih jauh Weber menulis tentang sosiologi ekonomi dapat ditemukan dalam Collected Essays in the Sociology of Religion (1920-21) dan Economy and Society (1922). Yang pertama berisi revisi dari The Protestant Ethic “The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism” (1904-05; revisi 1920) dan banyak menulis etika ekonomi Cina, Indian, dan Yahudi. Menurut Weber, bahan dalam Collected Essays, sebagian besar perhatian sosiologi agama juga kepentingan sosilogi ekonomi.
Penelitian yang paling berpengaruh adalah The Protestant Ethic. Berpusat sekitar keasyikan Weber dengan artikulasi dari ideal dan kepentingan material dan ide-ide. Penganut petapa aliran protestan merangsang dengan hasrat untuk menyelamatkan (perhatian religi) dan tindakan yang sesuai. Untuk berbagai alasan yang berlawanan asas akhirnya individu percaya bahwa pekerjaan sekuler (duniawi). Membawanya ke cara metodis, menggambarkan alat keselamatan – kapan ini terjadi, kepentingan agama dikombinasikan dengan kepentingan ekonomi.
21 Royce, Classical Social Theory and Modern Society, 91.
15
Hasil kombinasi ini adalah pembebasan dari kekuatan yang besar, yang mana menghancurkan tradisi dan anti ekonomi berpegang pada agama diatas orang dan memeperkenalkan mentalitas baik dalam aktifitas kapitalis. Tesis dalam The Protestant Ethic sudah membawa debat besar, dengan banyak pelajar yang membantah Weber.22
Sementara ia menulis The Protestant Ethic, Weber menerbitkan sebuat esai, “ ‘Objectivity’
in Social Science and Social Policy” yang menerangkan teoritisnya melihat sosiologi ekonomi. Ia berpendapat ilmu ekonomi harus luas dan seperti paying. Tak hanya memasukkan teori ekonomi tapi juga memasukkan sejarah ekonomi dan sosilogi ekonomi. Weber juga beralasan bahwa analisis ekonomi harus mencakup tak hanya “fenomena ekonomi” tapi juga “fenomena yang berkaitan dengan ekonomi”. Fenomena ekonomi terdiri dari bank-bank dan bursa. Fenomena yang berhubungan dengan ekonomi adalah fenomena non-ekonomi keadaan yang kurang pasti harus mempunyai pengaruh terhadap fenomena ekonomi., seperti pada kasus petapa Protestan. Secara ekonomi fenomena mengkondisikan lebih luas dipengaruhi oleh fenomena ekonomi. Tipe agama yang berkelompok ada rasa persamaan, contoh sebagian bergantung dalam semacam kerja yang anggota lakukan. Sementara teri ekonomi hanya dapat mengatasi fenomena ekonomi murni (dalam versi rasional meraka), sejarah ekonomi dan sosiologi ekonomi bisa menyetujui dengan tiga kategori fenomena.
Sebuah pendekatan yang agak berbeda, keduanya untuk sosiologi ekonomi dan kepentingan, bisa ditemukan dalam Economy and Society. Bagian pertama berisi analisis secara umum. Dua konsep penting adalah “tindakan sosial” dan “permintaan”. Dalam “tindakan”
ditegaskan sebagai kebiasaan berinvestasi dengan ‘maksud’, adalah memenuhi syarat sebagai
“sosial” jika diorientasikan kepada actor lainnya. “Permintaan” melewati masa, dipandang objektif dan dikelilingi bermacam persetujuan. Ekonomi yang mempelajari tindakan ekonomi murni, adalah semata-mata tindakan oleh kepentingan ekonomi. Bagaimanapun sosiologi ekonomi mempelajari tindakan sosial ekonomi, yang mendorong bukan saja oleh kepentingan ekonomi tapi juga oleh tradisi dan emosi; lagipula selalu berorientasi pada satu aktor. Jika mengabaikan satu tindakan, menurut Weber, malahan focus dalam keseragaman empiris, ada kemungkinan untuk membedakan tiga tipe berbeda : diinspirasikan oleh “pengakuan” oleh “adat” (termasuk
“kebiasaan”) dan “kepentingan”. Tipe tindakan yang paling seragam mungkin terdiri dari perpaduan ketiganya. Tindakan yang “ditentukan oleh kepentingan” ditegaskan oleh Weber
22 Royce, 101.
16
sebagai instrumen dalam sifat dasar dan mengorientasikan ke dugaan identik. Contoh, pasar modern, dimana setiap aktor rasional secara instrumental dan menganggap semua orang baik.
Weber menegaskan bahwa kepentingan selalu subjektif, kepentingan “objektif” tak ada melebihi aktor. Dalam kalimat khas Weber berbicara “kepentingan aktor sebagai dirinya sendiri adalah sadar akan mereka”. Dia juga mencatat dimana saat beberapa orang berkelakuan dalam sikap instrumental dalam hubungan untuk kepentingan individualis mereka, hasil yang khas adalah motif kebiasaan bersama sangat stabil daripada memaksakan norma dengan wibawa. Contoh, susah untuk membuat seseorang melakukan kegiatan ekonomi untuk melawan kepentingan pribadi.
Uraian sosiologi ekonomi Weber dalam Economy and Society menghasilkan poin-poin pokok. Tindakan ekonomi dua aktor yang berorientasi satu sama lain merupakan hubungan ekonomi. Hubungan ini dapat membawa berbagai ungkapan, termasuk konflik, kompetisi dan kekuatan. Jika dua atau lebih actor atau lebih bersama-sama oleh rasa memiliki, hubungan ekonomi bisa terbuka dan tertutup. Kepemilikan menggambarkan bentuk khusus dari ekonomi tertutup. Organisasi politik merupakan bentuk penting lainnya dari hubungan ekonomi tertutup.
Beberapa organisasi ini murni ekonomi, sementara lainnya memiliki sasaran ekonomi yang lebih rendah atau memiliki tugas pokok urusan ekonominya sendiri. Contoh, serikat buruh, Weber melampirkan pentingnya peran kapitalisme dalam perusahaan. Dilihat sebagai tempat aktifitas pengusaha dan sebagai kekuatan revolusioner. Pasar, seperti banyak fenomena ekonomi, berpusat sekitar konflik kepentingan, dalam kasus ini antara penjual dan pembeli. Pasar melibatkan pertukaran keduanya dan kompetisi. Kompetitor harus bertarung habis-habisan siapa yang akan menjadi penjual dan pembeli terakhir, dan hanya bila perjuangan ini sudah mantap adalah tempat untuk pertukaran itu sendiri (perebutan pertukaran). Hanya kapitasime rasional lah pusat tipe pasar modern. Yang disebut kapitalisme politik itu kunci untuk membuat keuntungan adalah cukup negara atau kekuatan politik yang memberi kemurahan, perlindungan, atau semacamnya. Iklan kapitalisme tradisional terdiri dari perdagangan skala kecil, dalam bentuk uang atau barang dagangan. Kapitalisme rasional hanya muncul di Barat.
4) Georg Simmel (1858–1918)
Pada umumnya karya Simmel biasanya tidak memiliki referensi ekonomi. Simmel (1858–
1918), seperti Durkheim, fenomena ekonomi yang biasanya dilihat lebih sebagai perilaku
17
nonekonomi. Namun, dibeberapa bagiannya masih memiliki relevansi untuk sosiologi ekonomi.
Banyak studi Simmel yang paling penting terkait dengan ekonomi sosiologi, karyanya Soziologie (1908), berfokus pada analisis kepentingan.23
Dia mengemukakan bahwa analisis kepentingan sosiologis harus terlihat seperti itu dan mengapa itu sangat diperlukan untuk sosiologi. Dua proposisi umumnya adalah bahwa minat mendorong orang untuk membentuk hubungan sosial, dan bahwa itu hanya melalui hubungan sosial ini minat itu dapat diungkapkan:
Sociation is the form (realized in innumerable different ways) in which individuals grow together into a unity and within which their interests are realized. And it is on the basis of their interests—sensuous or ideal, momentary or lasting, conscious or unconscious, causal or teleological—that individuals form such units.24
Perkembangan Teori Sosiologi Ekonomi
Dilandasi grand theory yang dicetuskan tokoh-tokoh klasik sosiologi (Marx, Durkheim, Weber dan Simmel), muncul teori teori pada tataran middle range theory bahkan hingga melahirkan pemikiran teoritis di level mikro. Berikut ini akan dikemukakan beberapa catatan ringkas mengenai perkembangan teori Sosiologi Ekonomi yang dominan mempengaruhi studi- studi sampai era kini. Mengingat sedemikian banyaknya teori yang berkembang saat ini, maka pada bahasan ini disarikan beberapa teori penting yang memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar bagi perkembangan terkini (state of the art) studi-studi Sosiologi Ekonomi di Indonesia, antara lain teori pilihan rasional (Coleman), Teori Jaringan Sosial dengan Ketertambatan Sosial (Granovetter), dan teori New Institusionalism seperti berikut ini.
1) Teori Pilihan Rasional (James S Coleman 1988; 1990)
Teori pilihan rasional berada dalam tataran middle range theory yang berlandaskan kepada teori umum (grand theory), yakni tindakan rasional yang digagas oleh Max Weber. Berlandaskan grand theory dari Weber mengenai rasionalitas atau lebih spesifiknya adalah tindakan rasional, serta perspektif pilihan rasional pada tataran middle range theory seperti yang dikemukakan oleh Coleman, maka periode waktu terakhir ini berkembang studi-studi yang mengkaji kapital sosial
23 Smelser and Swedberg, The Handbook of Economic Sociology, 11.
24 Smelser and Swedberg, The Handbook of Economic Sociology.
18
secara khusus, dan representasi kapital secara umum dari sudut pandang Sosiologi Ekonomi, dikaitkan dengan pengambilan keputusan transaksi sosial ekonomi.25
Oleh karenanya, berdasarkan penjelasan di atas maka dalam tindakan rasional ada beberapa kata kunci yang harus dikaitkan satu dengan yang lainnya, yakni aktor (yang diasumsikan rasional); pilihan dari beragam sumber yang tersedia; penguasaan atas sumber-sumber itu oleh si aktor; dan kepentingan pribadi. Dengan demikian timbul pertanyaan mengapa Coleman tidak mengacu kepada pemikiran Fungsionalisme Struktural dalam menjelaskan teori pilihan rasional.
Hal ini tidak terlepas dari kritiknya terhadap aliran sosiologi dan aliran ekonomi, yakni dua aliran yang berupaya menjelaskan kapital sosial hingga dekade 1980-an. Kritik yang dikemukakan adalah mengenai cacat yang sangat fatal bagi perkembangan teori yang tidak mempertimbangkan atau mengabaikan aktor yang memiliki dalam tanda petik “mesin tindakan”. Kritik itu ditujukan kepada aliran sosiologi yang menganggap aktor itu dibentuk oleh lingkungan (sistem atau struktur), bersifat pasif, serta tidak memiliki kekuatan dari dalam untuk menentukan tindakannya.
Faktanya dalam dunia sosial tidaklah demikian. Menurut Coleman, individu manusia bukan hanya sekedar tempat ataupun media bagi bekerjanya suatu struktur sosial.
2) Teori Jaringan Sosial (Granovetter, 1985; 2005)
Granovetter mengetengahkan gagasan mengenai pengaruh struktur sosial terutama yang dibentuk berdasarkan jaringan sosial (network), terhadap manfaat ekonomis khususnya menyangkut kualitas informasi. Ia lebih lanjut menjelaskan empat prinsip utama yang melandasi pemikiran mengenai adanya hubungan pengaruh antara jaringan sosial (network) dengan manfaat ekonomi, yakni: (i) Norma dan social network; (ii) The Strength of Weak Ties yakni manfaat ekonomi, yang ternyata cenderung didapat dari jalinan ikatan yang lemah. 26
Untuk hal ini ia menjelasakan bahwa pada tataran empiris, informasi baru misalnya, akan cenderung didapat dari kenalan baru dibandingkan dengan teman dekat yang umumnya memiliki wawasan yang hampir sama dengan individu, dan kenalan baru relatif membuka cakrawala dunia luar individu.; (iii) The Importance of Structural Holes, yakni adanya peran lubang struktural diluar ikatan lemah maupun ikatan kuat yang ternyata berkontribusi untuk menjembatani relasi individu dengan pihak luar (outsider) dan (iv) The Interpenetration of Economic and Non-
25 Smelser and Swedberg, 14.
26 Granovetter, “The Impact of Social Structure on Economic Outcomes.”
19
Economic Action yaitu adanya kegiatankegiatan non ekonomis yang dilakukan dalam kehidupan sosial individu yang ternyata mempengaruhi tindakan ekonominya. Dalam hal ini Granovetter menyebutnya ketertambatan tindakan non ekonomi dalam kegiatan ekonomi sebagai akibat adanya jaringan sosial. 27
3) Teori New Institutionalism (Nee, 2005)
Secara ringkas pemikiran Nee (2005) mengenai new institutionalism diawali dengan gagasannya untuk menjelaskan bagaimana instistusi berinteraksi dengan jaringan sosial (social network) dan norma-norma sosial dalam mengarahkan tindakan-tindakan ekonomi. Ia memulainya dengan menjelaskan pendekatan yang dikemukakan oleh Granovetter dalam memandang jaringan sosial yang menyatakan bahwa aktor ekonomi bukan atom (lepas dari konteks masyarakat), bukan pula sepenuhnya patuh pada aturan sosial; tingkah laku aktor melekat pada realitas relasi sosial (concrete, on-going social relation); Hubungan sosial bukan institusi; institusi makro melahirkan trust dalam kegiatan ekonomi. 28
Dalam hal ini pandangan New Institutionalism mengemukakan bahwa Granovetter hanya menjelaskan proximate causes tanpa menjelaskan large/ macro causes; Juga menurut Nee, Granovetter tidak menjelaskan mengapa aktor decouple (terpisah/terlepas) dari hubungan sosial untuk mengejar kepentingan ekonomi? Berlandaskan kepada kritik terhadap pendekatan New Institutional Economic dan mencermati pandangan Garnovetter di atas, Nee mengemukakan model institusional baru dari perspektif Sosiologi Ekonomi.Model ini memandang mekanisme institusional memiliki penyebab yang lebih dalam karena sangat menentukan insentif. 29
Dalam pandangan New Institusional Sosiologi Ekonomi, norma-norma yang ada akan berinteraksi dengan formal rules dalam merealisasikan kepentingan individu. Pada intinya, Nee (2005) mengemukakan adanya mekanisme integrasi hubungan formal dan informal pada setiap level kausal, yakni pada tataran mikro (individu), meso (kelompok ataupun organisasi), dan tataran makro berupa lingkungan kebijakan (policy environment), termasuk ketentuan dalam pengembangan sistem dan usaha agribisnis.
27 Smelser and Swedberg, The Handbook of Economic Sociology, 15.
28 Smelser and Swedberg, The Handbook of Economic Sociology.
29 David Calnitsky, “Economic Sociology as Disequilibrium Economics: A Contribution to the Critique of the New Economic Sociology,” The Sociological Review 62, no. 3 (August 2014): 565–92, https://doi.org/10.1111/1467-954X.12179.
20 Ekonomi Sosiologi dalam Perspektif Islam
Pendekatan sosiologi ekonomi yang multidimensi memungkinkan untuk menempatkan Islam sebagai pola pendekatan yang memadai dengan menambahkan sistem nilai yang bersumber dari Al Quran. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Efe (2018) yang menyatakan bahwa dasar-dasar ekonomi Islam yang valid dan meresap, hasilnya lebih kongruen, logis dan bermanfaat dalam memberikan kebahagiaan bagi manusia dan melonggarkan dirinya dari beban kehidupan duniawi.
Karena itu, dalam membandingkan sosiologi barat yang memusatkan pada kehidupan duniawi semata dengan melakukan segala upaya untuk mencapai kemajuan yang dilakukan dengan akumulasi modal sebesar-besarnya, sosiologi Islam lebih memiliki nilai yang bisa diharapkan sebagai sebuah tindakan sosiologi yang tidak hanya beriroentasi pada kehidupan dunia semata, akan tetapi ada sisi lain, seperti melestarikan kehidupan, menjaga lingkungan, kebaikan bersama, serta mengedepankan nilai-nilai kebaikan yang berorientasi pada keridlaan illahi.30
Efe, menggambar pendepakatan multidimensi dalam kajian ekonomi sosial dirumuskan dalam diagram berikut :
Islam memandang kehidupan dari sudut pandang netral yang menghargai elemen konstruktif kehidupan ini dengan melihat bahwa mereka melengkapi dan mendukung masing-
30 Efe, “Economic Sociology of Islam According to The Risale-i Nur,” 64.
21
masinglain. Semua elemen dianggap relatif penting dalam solidaritas dan harmoni menurut realitas mereka. Bagaimanapun, arah material membutuhkan dukungannya dari arahan spiritual saat kehidupan bersandar pada jiwa.
Prinsip ekonomi Islam yang bisa diklasifikasikan menjadi makro dan bidang mikro terkait dengan moral, sosiologis, filosofis dan lainnya prinsip pedagogis. Oleh karena itu, bukanlah teori utopis bahwa Islam dapat diterapkan dalam kehidupan nyata tanpa tekanan dari pemerintah sekuler atau diktator yang belum menyadari nilai sebenarnya dari keberadaan manusia, tetapi contoh- contoh sukses dari sejarah Islam di mana ia diterapkan sepenuhnya untuk praktik, kehidupan, buah, dan untuk hasil yang positif. Yang disebut "Asr-ı saadet" dan setelah itu adalah seorang yang berpengalaman dan spesimen terverifikasi dari semua karya bagus yang tertinggal di mana-mana dengan pendekatan membentuk negara Islam yang menyebarkan perdamaian dan kemakmuran bagi umat manusia semua melintasi benua dan dianggap sebagai kekuatan super di zaman mereka, membangun peradaban melayani umat manusia alih-alih pemahaman kolonial dengan berbagai jenis eksploitasi.31
Kesimpulan
Sosiologi ekonomi merupakan perspektif sosiologis yang menjelaskan fenomena ekonomi, terutama terkait dengan aspek produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi barang, jasa, dan sumber daya, yang bermuara pada bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya guna mencapai kesejahteraan.
Fokus perhatian utama dari ekonom adalah aspek pertukaran ekonomi, pasar, dan ekonomi.
Sementara masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang berada di luar itu dan dipandang sudah ada. Hal itu berbeda dari sudut pandang sosiolog, yakni memandang masyarakat sebagai suatu sistem sosial dan ekonomi merupakan bagian integral dari sistem masyarakat. Ada tiga fokus utama yang menjadi kajian dalam ekonomi sosial, yakni:
1) Pertama, analisis sosiologis tentang proses-proses ekonomi, antara lain seperti terbentuknya harga (kesepakatan) antara pelaku atau aktor ekonomi;
2) Kedua, analisis hubungan interaksi antara ekonomi dan institusi lain dalam masyarakat, antara lain dapat kita analisis hubungan antara ekonomi dan agama, ataupun politik, birokrasi, dan institusi lainnya;
31 Efe, 71.
22
3) Ketiga, analisis mengenai dinamika kelembagaan dan parameter budaya yang menjadi landasan ekonomi masyarakat.
23 Daftar Pustaka
Berger, Peter L. Invitation to Sociology: A Humanistic Perspective. Hammondsworth, Middlesex, England: Penguin Books, 1991.
Calnitsky, David. “Economic Sociology as Disequilibrium Economics: A Contribution to the Critique of the New Economic Sociology.” The Sociological Review 62, no. 3 (August 2014): 565–92. https://doi.org/10.1111/1467-954X.12179.
Efe, Ahmet. “Economic Sociology of Islam According to The Risale-i Nur.” Turkish Journal of Islamic Economics 5, no. 1 (February 1, 2018): 63–87.
https://doi.org/10.26414/tujise.2018.5.1.63-87.
Granovetter, Mark. “The Impact of Social Structure on Economic Outcomes.” Journal of Economic Perspectives 19, no. 1 (February 1, 2005): 33–50.
https://doi.org/10.1257/0895330053147958.
Jacobs, Mark D. “Durkheim and the Birth of Economic Sociology.” Contemporary Sociology: A Journal of Reviews 42, no. 3 (May 2013): 422–23.
https://doi.org/10.1177/0094306113484702aa.
Ritzer, George. Sociological Theory. 8th ed. New York: McGraw-Hill, 2011.
Royce, Edward Cary. Classical Social Theory and Modern Society: Marx, Durkheim, Weber.
Lanham: Rowman & Littlefield, 2015.
Smelser, Neil J., and Richard Swedberg, eds. The Handbook of Economic Sociology. 2nd ed.
Princeton, N.J. : New York: Princeton University Press ; Russell Sage Foundation, 2005.
Zafirovski, Milan. “Sociological Dimensions in Classical/Neoclassical Economics: Conceptions of Social Economics and Economic Sociology.” Social Science Information 53, no. 1 (March 2014): 76–118. https://doi.org/10.1177/0539018413509909.
Zhai, Xuesong, Minjuan Wang, and Usman Ghani. “The SOR (Stimulus-Organism-Response) Paradigm in Online Learning: An Empirical Study of Students’ Knowledge Hiding Perceptions.” Interactive Learning Environments 28, no. 5 (July 3, 2020): 586–601.
https://doi.org/10.1080/10494820.2019.1696841.