• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Kesehatan Reproduksi Wanita

N/A
N/A
Diva Kinanti

Academic year: 2024

Membagikan " Faktor Kesehatan Reproduksi Wanita"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Faktor kesehatan reproduksi wanita

Disusun oleh kelompok 5

1. Putri melania a (202211860027) 2. Yolanda magdalena (202211860033) 3. Wulan darlis pitna (202211860031) 4. Regita marcelina a.b (202211860009) 5. Diva dwi kinanti (202211860018)

(2)

Kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat dan hidayah-Nya kami bias menyelesaikan makalah ini. Makalah ini kami buat guna memenuhi tugas dari dosen. Makalah ini membahas tentang

faktor kesehatan reproduksi pada wanita ”, semoga dengan makalah yang kami susun ini kita sebagai mahasiswa Stip Wuna dapat menambah dan memperluas pengetahuan kita.

Kami mengetahui makalah yang kami susun ini masih sangat jauh dari sempurna, maka dari itu kami masih mengharapkan kritik dan saran dari bapak/ibu selaku dosen-dosen pembimbing kami serta temen-temen sekalian, karena kritik dan saran itu dapat membangun kami dari yang salah menjadi benar. Semoga makalah yang kami susun ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita, akhir kata kami mengucapkan terima kasih.

Surabaya,01 oktober 2023 Penyusun

(3)

Daftar isi

Kata pengantar Daftar isi

Bab I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG 2. TUJUAN

Bab II PEMBAHASAN

1. perkawinan usia muda dan tua, 2. wanita ditempat kerja,

3. incess, 4. homeless,

5. wanita ditempat rehabilitas, 6. pekerja seks,

7. drug abuse, 8. pendidikan dan 9. upah.

Bab III PENUTUP 1. Kesimpulan 2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

(4)

Bab1 Pendahuluan 1. Latar belakang

Kesehatan Reproduksi (Kespro) adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Reproduksi adalah aturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dan di kesehatan reproduksi ada beberapa faktor seperti perkawinan usia muda dan tua, wanita ditempat kerja, incess, homeless, wanita ditempat rehabilitas, pekerja seks, drug abuse, pendidikan dan upah.

2. Tujuan

Mengetahui tentang faktor kesehatan reproduksi

(5)

Bab II Pembahasan I. Perkawinan Usia Muda dan Tua

1. Pengertian Perkawinan

Pengertian pernikahan adalah: Lambang disepakatinya suatu perjanjian (akad) antara seorang laki-laki dan perempuan (dalam masyarakat tradisional hal itu juga merupakan perjanjian antar keluarga) atas dasarhak dan kewajiban yang setara antara kedua belah pihak.

2. Tujuan Perkawinan

Untuk secara hukum mengesahkan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan

Untuk secara hukum mengatur hak dan kewajiban masing-masing termasuk di dalamnya pelarangan atau penghambatan terjadinya poligami

Untuk pendataan dan kepentingan demografi A. Perkawinan Muda

Di Indonesia pernikahan dini sekitar 12-20% yang dilakukan oleh pasangan baru. Biasanya, pernikahan dini dilakukan oleh pasangan usia muda yang rata-rata umurnya antara 16-20 tahun. Secara nasional pernikahan dini dengan pasangan usia di bawah 16 tahunsebanyak 26,95%. Padahal pernikahan yang ideal untuk perempuan adalah 21-25 tahun sementara laki-laki 25-28 tahun. Karena diusia itu organ

reproduksi perempuan secara psikologis sudahberkembang dengan baik dan kuat serta siap untuk melahirkan keturunan secara fisik punmulai matang. Sementara laki-laki pada usia itu kondisi psikis dan fisiknya sangat kuat, hingga mampu menopang kehidupan keluarga untuk melindungi baik secara psikis emosional, ekonomi dan sosial.  Melakukan pernikahan tanpa kesiapan dan pertimbangan yang matang dari satu sisi dapat mengindikasi sikap tidak appresiatif terhadap makna nikah dan bahkan lebih jauh bisa merupakan pelecehan terhadap kesakralan dalam pernikahan.

1. Dampak Perkawinan Usia Muda A. Dampak biologis

B. Dampak terhadap suami C. Dampak psikologis

D. Dampak terhadap anak-anaknya E. Dampak sosial

F. Dampak perilaku seksual yang menyimpang

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkawinan Usia Muda A. Ekonomi

B. Pendidikan C. Faktor orang tua

D. Hawa nafsu yang tinggi E. Tradisi/adat

B. Perkawinan usia tua

Telah didapatkan banyak bukti yang mengungkapkan bahwa semakin tua seseorang pria, semakin besar pula resiko memiliki anak yang tidak normal. Berbagai hasil studi menemukan adanya berbagai resiko, termasuk autisme dan schizophrenia pada anak yang lahir pada pria yang berusia 40 tahun. Sejumlah studi juga

mengemukakan bahwa kesuburan pria akan menurun dengan bertambahnya usia.

(6)

Terdapat perbedaan antara pria dan wanita; tidak bisa memiliki anak pada/setelah usia tertentu (menoupause) kata dr. Harry Fisch, direktur Male Reproductive Centre di Newyork-Presbyterian Hospital, Columbia University Medical Centre. ”Tetapi tidak semua pria dijamin akan baik

baik saja”, tambahnya. ”Kesuburan akan menurun pada pria tertentu, namun pada pria lain, kesuburan akan tetap bertahan tetapi terdapat kemungkinan berisiko penurunan ketidak normalan genetis.

1. Dampak Perkawinan Usia Tua

A. Berdampak bagi kesehatan reproduksi wanita B. Terjadi penurunan gairah seks dan fisiknya

C. Sering terjadi perselisihan akibat perbedaan pendapat 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkawinan Usia Tua

A. Beberapa orang merasa kebutuhan seksualnya tidak dapat terpenuhi B. Keinginan untuk memiliki pasangan kembali

C. Faktor psikologi II. Wanita Ditempat Kerja

1. Pengertian Wanita Ditempat Kerja

a. Menurut Kardamo adalah wanita yang kerja mengandalkan kemampuan dan keahlian untuk menghasilkan uang agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.

b. Pekerjaan diluar rumah adalah orang yang bekerja diluar rumah dengan memperoleh imbalan

upah dianggap pekerja dan karena mendapat penghargaan sosial lebih tinggi dibandingkan pekerjaan rumah tangga.

c. Pekerjaan di dalam rumah adalah seseorang yang bekerja untuk mengurus rumah tangga dan memelihara anak, telah diberi nilai sebagai penganggur dan dianggap sebagai bukan pekerja.

2. Jenis-Jenis Pekerjaan Wanita

A. Full time worker: jenis pekerjaan yang biasa dilakukan oleh para wanita secara penuh/seharian. Misalnya bekerja dikantor, pabrik, pekerja lapangan. 

B. Half time worker: jenis pekerjaan yang dilakukan oleh para wanita secara part time (setengah hari) jenis. Contohnya: pelayan restoran, SPG, dll.

C. Freelance: jenis pekerjaan yang fleksibel dalam hal waktu bekerja, pekerjaan ini tidak menentukan waktu bekerja yang spesifik

3. Kasus dan Kecelakaan Kerja Pada Wanita A. Kelelahan kerja

B. Keracunan

C. Gangguan pernafasaan, pendengaran, dan penglihatan D. Kesehatan reproduksi

E. Kesehatan psikis 4. Beban Kerja Wanita

Wanita bekerja jauh lebih lama dari pada pria, berbagai penelitian yang telah dilakukan diseluruh dunia rata-rata wanita bekerja 5 jam lebih lama. Akibatnya wanita mempunyai sedikit waktu istirahat, lebih lanjut terjadinya

kelelahan kronis, stress, dan sebagainya. Kesehatan wanita tidak hanya dipengaruhi oleh waktu kerja, tetapi juga jenis pekerjaan yang berat, kotor dan

(7)

monoton bahkan membahayakan. Di India banyak kasus keguguran atau kelahiran sebelum waktunya pada musim panen karena wanita terus-terusan bekerja keras. Di bidang pertanian baik pria maupun wanita dapat terserang efek dari zat kimia

(peptisida), tetapi akan lebih berbahaya jika wanita dalam keadaan hamil, karena akan berpengaruh terhadap janin dalam kandungannya. Peran gender yang menganggap status wanita yang rendah berakumulasi dengan indikator-indikator lain seperti kemiskinan, pendidikan, nikah muda dan beban kerja

yang berat mengakibatkan wanita juga kekurangan waktu, informasi, dan untuk memperhatikan kesehatan reproduksinya.

5. Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Wanita

A. Teknologi: Mempengaruhi kondisi kesehatan pekerja

B. Kebijakan Produksi: Menyebabkan rendahnya kualitas kesehatan pekerja wanita.

Misalnya: diberlakukannya jam kerja yang panjang, penetapan kuota serta ditetapkan shift kerja.

C. Lingkungan kerja, misalnya: buruknya ventilasi, jumlah tempat duduk yang tidak memadai, kadar suara dan debu yang berlebihan, penerangan yang buruk,

fasilitas sanitasi yang tidak memadai.

D. Ada 45,63% buruh perempuan yang berdiri terus menerus selama 8-14 jam.

E. Ada 36,9% buruh perempuan yang duduk terus menerus selama 8-14 jam.

III. Incest

1. Pengertian Incest

Hubungan sedarah (dalam bahasa inggris: Incest) adalah hubungan badan atau hubungan seksual yang terjadi antara dua orang yang mempunyai ikatan pertalian darah, misal ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara tiri.

2. Jenis-Jenis Incest

A. Incest yang bersifat sukarela (tanpa paksaan)

Hubungan seksual yang dilakukan dan terjadi karena unsur suka sama suka.

B. Incest yang bersifat paksaan

Hubungan seksual dilakukan karena unsur keterpaksaan, misalkan pada anak perempuan diancam akan dibunuh oleh ayahnya karena tidak mau melayani nafsu seksual. Incest seperti ini pada masyarakat lebih dikenal dengan perkosaan incest.

3. Sebab-Akibat dari Incest

Ada beberapa penyebab atau pemicu timbulnya incest. Akar dan penyebab tersebut tidak lain adalah karena pengaruhaspek struktural, yakni situasi dalam masyarakat yang semakin kompleks. Faktor-faktor struktural tersebut antara lain adalah:

1. Konflik budaya 2. Kemiskinan 3. Pengangguran

4. Ada beberapa akibat dari perilaku incest ini, khususnya yang terjadi karena paksaan. Diantaranya,adalah:

1. Gangguan psikologis 2. Gangguan medis

Akibat lain yang cukup meresahkan korban adalah mereka sering disalahkan dan mendapat stigma (label) yang  buruk.

(8)

Padahal, kejadian yang mereka alami bukan karena kehendaknya, melainkan mereka adalah korbannya. Berbagai studi memperlihatkan, hingga dewasa, anak-anak korban kekerasan seksual seperti incest biasanya akan memiliki karakter self-

esteem (rasa harga diri) rendah, depresi, memendam perasaan bersalah,

sulit mempercayai orang lain, kesepian, sulit menjaga membangun hubungan dengan orang lain, dan tidak memiliki minat terhadap seks Studi-studi lain bahkan

menunjukkan bahwa anak-anak tersebut akhirnya ketika dewasa juga terjerumus ke dalam penggunaan alkohol dan obat terlarang, pelacuran, dan memiliki

kecenderungan untuk melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak.

5. Upaya Mengatasi Incest

Untuk menghindari terjadinya incest yang baik disertai

atapun tidak disertai kekerasan seksual, perlu dilakukan tindakan sebagai berikut:

1. Memperkuat keimanan dengan menjalankan ajaran agama secara benar.

2. Memperkuat rasa empati, sehingga lebih sensitif terhadap penderitaan orang lain, se kaligus tidak sampai hati membuat orang lain sebagai korban.

3. Mengisi waktu luang dengan kegiatan kreatif-positif.

4. Menjauhkan diri dan keluarga dari hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat.

5. Memberikan pengawasan dan bimbingan terhadap anggota keluarga, sehingga dapat terkontrol.

6. Memberikan pendidikan seks sejak dini, sesuai dengan usia anak IV. Homeless

1. Pengertian Homeless

Homeless dalam bahasa Indonesia berarti Tuna Wisma. Tuna Wisma adalah orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap diwilayah tertentu dan hidup di tempat umum. Sebagai pembatas wilayah dan milik pribadi, tuna wisma sering menggunakan lembaran kardus, lembaran seng atau aluminium, lembaran plastik, selimut, kereta dorong pasar swalayan, atau tenda sesuai dengan keadaan geografis dan negara tempat tunawisma berada. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seringkali hidup dari belas kasihan orang lain atau bekerja sebagai pemulung.

Gelandangan adalah istilah dengan konotasi negatif yang ditujukan kepada orang- orang yang mengalami keadaan tuna wisma.

Adapun secara spesifik ciri-ciri tunawisma yaitu sebagai berikut:

A. Para tuna wisma tidak mempunyai pekerjaan B. Kondisi pisik para Tuna wisma tidak sehat

C. Para Tuna Wisma biasanya mencari-cari barang atau makanan disembarang tempat demi memenuhi kebutuhan hidupnya

D. Para Tuna Wisma hidup bebas tidak bergantung kepada orang lain ataupun keluarganya.

2. Penyebab Munculnya Homeless/Tunawisma A. Segi ekonomi

B. Anak yang ditinggalkan orang tuanya C. Kurang kasih sayang

D. Lansia yang ditelantarkan oleh keluarganya E. Penggusuran karena perkembangan industri

(9)

F. Menjadi pengangguran karena kemajuan IPTEK, akibatnya tenaga kerja kurang terlatih terlatih sehingga di PHK

3. Dampak dari Homeless A. Kebersihan dan Kesehatan B. Kurang gizi

C. Tindak Kekerasan sesama tuna wisma D. Dapat dimanfaatkan dalam hal negatif 4. Cara Menangani Homeless

A. Tahapan persiapan B. Tahapan penyesuaian diri C. Tahapan pendidikan lanjut

V Wanita Dipusat Rehabilitas A. PENGERTIAN

Rehabilitasi adalah program untuk membantu memulihkan orang yang memilki penyakit kronis baik dari fisik ataupun psikologisnya. Program Rehabilitasi individu yaitu program yang mencangkup penilaian awal, pendidikan pasien, pelatihan, bantuan psikologis, serta pencegahan penyakit.

B. Pada dasarnya Rehabilitasi yang diatur dalam regulasi KEPMENKES 996/MENKES/SK/VIII/2002 tersebut ada 2 yaitu:

a. Rehabilitasi Medis

Rehabilitasi medis adalah suatu bentuk layanan kesehatan terpadu di bawah naungan rumah sakit yang dikoordinasi dokter spesialis rehabilitasi medis

b. Rehabilitasi Sosial

Rehabilitasi sosial yaitu proses refungsionalisasi serta pengembangan untuk

memungkinkan seseorang mampu melaksanakan peran sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.

C. GEJALA

Gejala penyakit yang banyak ditemui pada pusat Rehabilitasi:

o Watak Pemarah.

o Perilaku yang aneh.

o Kehilangan nafsu makan.

o Kehilangan berat badan.

VI Pekerja Seks Komersial 1. Pengertian PSK

Pekerja seks komersial adalah seseorang yang menjual jasanya untuk melakukan hubungan seksual demi uang. Di Indonesia wanita malam (pekerja seks

(10)

komersial)sebagai pelaku wanita pemikat lelaki hidung belang untuk memuaskan nafs u birahinya. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan wanita malam itu sangat begitu buruk, hina dan menjadi musuh masyarakat. Mereka kerap dihina, dicaci maki, bahkan jadi cemohan bagi semua orang yang benci terhadap mereka. Bila tertangkap aparat penegak ketertiban,

mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka direha bilitasi dan diberikan penyuluhan.

2. Faktor Penyebab Adanya PSK A. Kemiskinan dan gaya hidup modern B. Kekerasan seksual

C. Penipuan D. Pornografi E. Broken home

F. Kenangan masa kecil yang buruk

3. Dampak yang Disebabkan dari seorang PSK

1. Keluarga dan masyarakat tidak dapat lagi memandang nilainya sebagai seorang perempuan

2. Stabilitas sosial pada dirinya akan terhambat, karena masyarakat hanya akan selalu mencemooh dirinya

3. Memberikan citra buruk bagi keluarga

4. Mempermudah penyebaran penyakit menular seksual, seperti penyakit kelamin, sifilis, hepatitis B, HIV/AIDS

4 Cara Penanganan PSK 1. Keluarga:

- Meningkatkan pendidikan anak-anak terutama mengenalkan pendidikan seks secara dini agar terhindar dari perilaku seks bebas.

- Meningkatkan bimbingan agama sebagai tameng agar terhindar dari perbuatan dosa.

2. Masyarakat

- Meningkatkan kepedulian dan melakukan pendekatan terhadap kehidupan PSK 3. Pemerintah

-  Memperbanyak tempat atau panti rehabilitasi -  Meregulasi undang-undang khusus tentang PSK.

- Meningkatkan keamanan dengan lebih menggiatkan razia lokalisasi PSK untuk dijaring dan mendapatkan rehabilitasi.

VII. Drug Abuse

1 Pengertian Drug Abuse (narkoba)

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya.

Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari

Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Narkoba, Wikipedia bahasa Indonesia, 2010) Semua istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko kecanduan bagi penggunanya.

2 Jenis-Jenis Narkoba 1. Opiat (putauw)

2. Amfetamin (sabu-sabu)

(11)

3. Benzodiazepin (extasy) 4. Cannabis (ganja)

3 Dampak Penyalahgunaan Narkoba Dampak Fisik:

1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi

2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah

3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim 4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru

5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur

6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti:

penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual

7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain

perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)

8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C,

dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya

9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian.

Dampak psikis:

1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah 2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga 3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal 4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan

5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri Dampak Penyalahgunaan Narkoba pada Kesehatan Reproduksi

Sudah jelas sekali dalam beberapa teori, literatur dan hasil studi sebelumnya yang membahas kaitan antara hal ini. Secara teori, narkoba sendiri mempengaruhi kemampuan seseorang untuk dapat melakukan hubungan seksual, menurunkan kualitas sperma dan sel telur, meningkatkan atau menurunkan gairah/libido sehingga secara tidak langsung mempengaruhi hubungan seksual juga (jadi menggebu-gebu melakukan hubungan seks dengan siapapun tanpa pandang bulu, atau sama sekali tidak bergiarah untuk melakukannya, tergantung jenis narkoba yang dipakainya). Para pecandu narkoba umumnya aktif secara seksual, baik laki-laki maupun perempuan, baik dilakukan secara sadar maupun tidak sadar (dalam kondisi high/pedaw).

Penggunaan narkoba membuat mereka tidak berpikir panjang akan akibat dari hubungan seksual yang mereka lakukan. Namun demikian, walaupun aktif seksual bukan berarti mereka mempunyai informasi akurat mengenai aspek seksualitas dan kesehatan reproduksi, karena umumnya pengetahuan mereka mengenai hal itu sangat terbatas. Akibatnya, dalam sebuah studi ditemukan bahwa dari perempuan

(12)

pecandu yang sudahaktif seksual, 40% di antaranya sudah pernah mengalami aborsi dan 80% dari mereka sudah pernah mengalami IMS, termasuk HIV/AIDS

VIII. PENDIDIKAN A. DEFINISI

pendidikan adalah proses pembelajaran keterampilan, pengetahuan dan kebiasaan manusia yang diwariskan dari satu genereasi ke generasi setereusnya melalui sistem pengajaran, pelatihan, dan penelitian, agar orang yang mendapatkan pendidikan memiliki pemahaman terhadap sesuatu dan membuatnya menjadi seorang manusia yang kritis dalam berpikir.

Pendidikan reproduksi wanita adalah suatu proses pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada wanita tentang sistem reproduksi, kesehatan reproduksi, dan seksualitas.

B TUJUAN tujuan utama

Memberikan pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif kepada perempuan termasuk kehidupan seksual dan hak-hak reproduksi perempuan sehingga dapat meningkatkan kemandirian perempuan dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya yang pada akhirnya dapat membawa pada peningkatan kualitas kehidupannya.

tujuan khusus

A. Meningkatnya kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi reproduksinya.

B. Meningkatnya hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan.

C. Meningkatnya peran dan tanggung jawab sosial pria terhadap akibat dari perilaku seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan kesejahteraan pasangan dan

anakanaknya.

VIIII. UPAH A.   Definisi Upah

      Berdasarkan Konferensi Wanita sedunia ke IV di Beijing pada tahun 1995 dan Koperensi Kependudukan dan Pembangunan di Cairo tahun 1994 sudah disepakati perihal hak-hak reproduksi tersebut. Dalam hal ini (Cholil,1996) menyimpulkan bahwa terkandung empat hal pokok dalam reproduksi wanita yaitu :

Kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health) Penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making) Kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women) Keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security)

Adapun definisi tentang arti kesehatan reproduksi yang telah diterima secara internasional yaitu : sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistim, fungsi-fungsi dan proses reproduksi.

(13)

Selain itu juga disinggung hak produksi yang didasarkan pada pengakuan hak asasi manusia bagi setiap pasangan atau individu untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarakan anak, dan menentukan kelahiran anak mereka.Upah yang diberikan oleh para pengusaha secara teoritis dianggap sebagai harga dari tenaga yang dikorbankan pekerja untuk kepentingan produksi.

B.   Jenis-Jenis Upah

1. Upah Nominal,yaitu sejumlah upah yang dinyatakan dalam bentuk uang yang diterima secara rutin oleh para pekerja.

2. Upah Riil adalah kemampuan upah nominal yang diterima oleh para pekerja jika ditukarkan dengan barang dan jasa, yang diukur berdasarkan banyaknya barang dan jasa yang bisa didapatkan dari pertukaran tersebut.

C. Teori-Teori Upah

a. Teori Upah Tenaga Kerja.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dalam hal upah dan pembentukan harga upah tenaga kerja, berikut akan dikemukakan beberapa teori yang menerangkan tentang latar

belakang terbentuknya harga upah tenaga kerja.

b. Teori Upah Wajar (alami) dari David Ricardo.

Upah menurut kodrat adalah upah yang cukup untuk pemeliharaan hidup pekerja dengan keluarganya.Di pasar akan terdapat upah menurut harga pasar adalah upah yang terjadi di pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Upah harga pasar akan berubah di sekitar upah menurut kodrat.Oleh ahli-ahli ekonomi modern, upah kodrat dijadikan batas minimum dari upah kerja.

c. Teori Upah Besi

Teori upah ini dikemukakan oleh Ferdinand Lassalle. Penerapan sistem upah kodratmenimbulkan tekanan terhadap kaum buruh, karena kita ketahui posisi kaum buruh dalam posisi yang sulit untuk menembus kebijakan upah yang telah ditetapkan oleh para

produsen. Berhubungan dengan kondisi tersebut maka teori ini dikenal dengan istilah

“Teori Upah Besi”. Untuk itulah Lassalle menganjurkan untuk menghadapi kebijakan para produsen terhadap upah agar dibentuk serikat pekerja.

d. Teori Dana Upah

Teori upah ini dikemukakan oleh John Stuart Mill. Menurut teori ini tinggi upah tergantung kepada permintaan dan penawaran tenaga kerja. Sedangkan penawaran tenaga

kerja tergantung pada jumlah dana upah yaitu jumlah modal yang disediakan perusahaan

untuk pembayaran upah. Peningkatan jumlah penduduk akan mendorong tingkat upah yang cenderung turun, karena tidak sebanding antara jumlah tenaga kerja dengan penawaran tenaga kerja.

e. Teori Upah Etika

(14)

Menurut kaum Utopis (kaum yang memiliki idealis masyarakat yang ideal) tindakan para

pengusaha yang memberikan upah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum,

merupakan suatu tindakan yang tidak “etis”. Oleh karena itu sebaiknya para pengusaha selain dapat memberikan upah yang layak kepada pekerja dan

keluarganya, juga harus memberikan tunjangan keluarga. Pendapatan adalah nilai maksimal yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula, pendapatan merupakan balas jasa yang diberikan kepada pekerja atau buruh yang punya majikan tapi tidak tetap.

Hubungan Upah Dengan Konsep Pemikiran Tentang Kesehatan Reproduksi Wanita Upah dalam Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka wanita sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh sebab itu wanita, seyogyanya diberi perhatian sebab :

1. Wanita menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya

2. Kesehatan wanita secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.

3. Kesehatan wanita sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatas namakan “pembangunan” seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.

4. Masalah kesehatan reproduksi wanita sudah menjadi agenda Intemasional diantaranya IndonesiaBeijing dan Kairo). menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (

5. Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.

Meskipun ada perawatan yang membutuhkan biaya yang banyak,ada juga perawatan yang tidak membutuhkan biaya,misalnya sering membersihkan organ-organ

reproduksi dengan air yang bersih,sering mengganti celana dalam,menjaga agar celana dalam tidak lembab.Sedangkan kalau dari segi makanan,bias juga membeli makanan yang murah tapi bergizi,seperti ketela pohon,ubi jalar,kentang,ikan tengiri.

Dengan melakukan hal-hal tersebut mungkin akan mengurangi terjadinya gangguan kesehatan reproduksi.

Program kesehatan hanya dapat berjalan jika ada gerakan dari masyarakat, seperti program posyandu yang dapat meningkatkan status gizi masyarakat lewat edukasi mengenai kesehatan. Sektor pelayanan kesehatan yang mengalami inflasi juga akan mengganggu akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan hampir miskin, hal ini akan makin diperparah karena infrastruktur pembangunan di daerah yang belum baik.

Untuk itu, masalah kesenjangan akses kesehatan antara wilayah pedesaan dan perkotaan juga perlu mendapat perhatian serius, diantaranya melalui pendekatan pembangunan kesehatan sesuai dengan kondisi wilayah yang ada. Pelayanan

(15)

kesehatan di kota lebih baik ketimbang di desa, juga sebagian besar tenaga kesehatan masih terpusat di kota.

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan

Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi, baik dari lingkungan maupun dari dalm diri kita. Maka dari itu kita sebagai mahluk sosial kita harus bisa saling menjaga sesama, terutama tenaga kesehatan yang bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat di indonesia

2. Saran

Makalah ini masih banyak kurang, maka dari itu penulisi membutua kritik dari pembaca

(16)

Daftar pustaka

...Selvinah mdf...^_^: Hubungan Upah dengan Kespro Wanita (selvinahmidwifery.blogspot.com)

Referensi

Dokumen terkait

Bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan dengan judul : ” Pengetahuan dan Sikap WUS Tentang Kesehatan Reproduksi Wanita di Kelurahan Kampung Lalang

Kritik Islam terhadap konsep kesehatan reproduksi wanita dalam CEDAW berangkat dari perbedaan.. worldview Islam dengan worldview

Skripsi dengan judul “Pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja siswa kelas XI SMA PGRI 3 Purwakarta” disusun dan diajukan untuk

Setelah mengadakan pembahasan tentang Implikasi Pernikahan Usia Dini terhadap Kesehatan Reproduksi Wanita Persfektif Undang-Undang Kesehatan dan Hukum Islam,

Fokus kesehatan perempuan tidak hanya perawatan kesehatan ibu dalam kesehatan reproduksi, keluarga berencana, masalah kesuburan, aborsi, dan sebagainya, tetapi peran

Analisis Bivariat antara lingkungan kerja fisik kebisingan dengan kesehatan reproduksi pada pekerja Wanita Kebisingan Kesehatan Reproduksi Jumlah p-value Ada gangguan

Makalah ini disusun oleh lima mahasiswa untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Geometri

Makalah ini membahas tentang pemikiran kritis dalam pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, termasuk pada kasus dengan diabetes