11 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian E – Faktur
Faktur pajak sebagaimana dijelaskan dalam pasal 1 Angka 23 UU No.42 Tahun 2009, merupakan bukti pungutan pajak Pengusaha Kena Pajak (PKP), yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP). Faktur pajak merupakan dokumen yang diterbitkan ketika PKP menjual suatu BKP dan/atau JKP sebagai tanda bukti pemungutan pajak dari pembeli BKP dan/atau JKP tersebut. Faktur pajak yang diterbitkan oleh penjual ini disebut dengan faktur pajak keluaran.
Faktur pajak ini akan diserahkan ke pembeli dapat menggunakan faktur pajak tersebut sebagai kredit pajak yang disebut faktur pajak masukan.
E-Faktur adalah aplikasi atau sistem elektronik yang digunakan untuk membuat faktur pajak elektronik. Dasar hukum penggunaan faktur pajak elektronik diatur antara lain dalam UU Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa dan PPnBM, PMK Nomor 151/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pembuatan dan Tata Cara Pembetulan atau Penggantian Faktur Pajak, PER- 17/PJ/2014 tentang Perubahan Kedua atas PER-24/PJ/2012 tentang Bentuk, Ukuran, Prosedur Pemberitahuan dalan rangka Pembuatan, Tata Cara Pengisian Keterangan, Pembetulan atau Penggantian, dan Pembatalan Faktur Pajak, serta PER-31/PJ/2017 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-16/PJ/2014 tentang Tata Car
Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik. Penerapan e-Faktur dilakukan secara bertahap kepada Pengusaha Kena Pajak mulai 1 Juli 2014, mulanya dikenakan terhadap Pengusaha Kena Pajak (PKP) tertentu yang terdaftar atau dilakukan di lingkungan Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar, Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Khusus dan KPP Madya di Jakarta. Pada 1 Juli 2015 penerapan aplikasi ini diperluas dengan mewajibkan penggunaan aplikasi e-Faktur secara nasional untuk seluruh PKP diterapkan mulai 1 Juli 2016.
B. Syarat menggunakan aplikasi e – faktur
Untuk menggunakan aplikasi e – faktur, terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi PKP, antara lain :
1. Pengguna merupakan wajib pajak yang dikukuhkan dan telah memiliki Akun PKP.
Akun PKP adalah otorisasi khusus yang diberikan DJP kepada PKP tertentu yang memenuhi prasyaratt tertentu. Otorisasi tersebut diberikan DJP dalam bentuk kode aktivasi yang dikirimkan melalui jasa pengiriman ke alamat PKP terdaftar serta password yang dikirimkan melalui email PKP.
2. Memiliki sertifikat elektronik yang diberikan DJP
Sertifikat elektronik ini digunakan untuk memperoleh layanan perpajakan secara elektronik seperti meminta NSFP melalui e – Nofa.
3. Memiliki komputer yang dapat menjalankan aplikasi e – faktur.
C. Perkembangan Aplikasi E – Faktur
Pada tahun 2014, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mulai memberlakukan kebijakan pengisian faktur pajak melalui aplikasi yang disebut e-Faktur. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pelaporan pajak sekaligus mengurangi penyalahgunaan akibat penggunaan faktur pajak kertas yang sebelumnya digunakan. Penerbitan faktur pajak sebelum tahun 2014 masih dibuat secara manual dengan menggunakan kertas dengan format yang sudah disediakan oleh Direktorat Jendral Pajak (DJP).
Penerbitan faktur pajak manual ini menuai penyalahgunaan yang dilakukan oleh Penguasa Kena Pajak (PKP) pada faktur pajak kertas. Faktur kertas sangat rawan di manipulasi sehingga data tidak bisa dipertanggungjawabkan. Penyalahgunaan terkait penggunaan faktur pajak kertas secara umum adalah sebagai berikut:
1. Faktur Pajak Fiktif
Faktur pajak fiktif muncul ketika suatu faktur pajak diterbitkan oleh pengusaha yang bukan merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP), atau pengusaha yang menggunakan nama, NPWP dan identitas PKP orang pribadi atau badan lain.
2. Faktur Pajak Ganda
Faktur pajak ganda biasanya muncul akibat adanya wajib pajak yang lalai, sehingga wajib pajak dapat menerbitkan dua atau lebih faktur pajak dengan Nomer Seri Faktur Pajak (NSFP) yang sama.
3. Faktur pajak tidak terbit atau terlambat terbit
Faktur pajak dapat dengan sengaja diterbitkan atau tidak diterbitkan pada masa yang tidak sesuai dengan saat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Hal ini dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara Pajak Keluaran (PK) dengan pengkreditan Pajak Masukan (PM) yang dilakukan oleh lawan transaksi.
Aplikasi e-Faktur terus mengalami perubahan atau update secara berkala, Selain untuk meningkatkan pelayanan dan kemudahan administrasi, update aplikasi ini juga dilakukan untuk memperbaiki kekurangan aplikasi seperti gagal impor dan faktur , gagal cetak faktur pajak melalui aplikasi client, perbaikan perkreditan Pajak Masukan (PM), perbaikan bug, dan lainnya. Update aplikasi juga diperlukan dalam hal penyempurnaan fitur-fitur yang sudah ada sebelumnya.
Sistem e-faktur telah mengalami perubahan sebanyak 3 kali yakni yang pertama pada tahun 2020 dengan versi 3.0, menyusul pembaruan selanjutnya pada tahun 2022 dengan versi 3.1, dan pembaruan terakhir pada awal kuartal kedua tahun 2022 yaitu versi 3.2. Pada versi 3.0 bekerja dengan mengandalkan otomasi dan meninggalkan input data secara manual. Update aplikasi ini memiliki beberapa update signifikan yaitu munculnya fitur prepopulated yang meliputi prepopulated faktur pajak masukan, prepopulated Pemberitahuan Impor Barang, prepopulated SPT Masa PPN dan sinkronisasi kode cap pada aplikasi e – faktur.
E – Faktur 3.0 bekerja dengan memanfaatkan fitur pemindaian QR Code serta pemanfaatan database faktur pajak masukan sehingga ketika wajib pajak ingin meng-input secara manual, DJP melalui e -Faktur 3.0 juga mengintregasikan data DJP dengan DJBC untuk mengakomodasi kegiatan usaha ekspor dan impor. Adanya prepopulated SPT membuat pelaporan SPT Masa PPN dapat dilakukan melalui aplikasi e – Faktur Web Based.
Seluruh data pajak keluaran dan pajak masukan yang tersedia untuk dilaporkan di SPT Masa PPN akan disediakan melalui e – Faktur Web Based yang dapat diakses melalui laman https://web-efaktur.pajak.go.id.
Menurut DJP, e-faktur versi 3.1 dihadirkan untuk menambah beberapa fitur untuk memfasilitasi dokumen-dokumen tambahan yang diperlukan. Versi terbaru ini juga untuk pengkreditan pajak masukan yang ditagihkan dengan ketetapan pajak. Selain itu, pembaruan aplikasi ini juga untuk memfasilitasi prepopulated pemasukan barang kena pajak (BKP) atau BC 4.0 sebagaimana ketentuan Pasal 21 Ayat 5 Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 65/PMK.04/202. (Waluyo Hanjarwadi, 2022)
Pada awal tahun 2022 lalu, Ditjen Pajak (DJP) merilis e-Faktur 3.1 sebagai bentuk update dari versi sebelumnya, yaitu e-Faktur 3.0. Pada versi 3.1, wajib pajak PKP (Pengusaha Kena Pajak) dapat melakukan input dokumen PMSE, melakukan prepopulated dokumen BC 4.0, mengkreditkan pajak masukan yang ditagihkan dengan SKP, dan memvalidasi SPPB untuk faktur pajak 07 atas pemasukan barang kawasan berikat. Perubahan ini
tentunya memberikan kemudahan bagi PKP dalam membuat dan mengelola faktur pajak usahanya.
Kemudian pada awal April 2022, tarif PPN yang baru resmi berlaku, yakni 11%. Bersamaan dengan peraturan baru ini, Ditjen pajak merilis aplikasi e-Faktur 3.2 yang mana sistemnya sudah menyesuaikan dengan tarif terbaru itu. Maka, wajib pajak PKP (Pengusaha Kena Pajak) perlu melakukan update agar dapat membuat faktur elektronik sesuai dengan peraturan yang berlaku. Aplikasi e-Faktur 3.2 tidak hanya mengalami perubahan pada tarif PPN, tetapi juga memiliki sejumlah pembaruan lain, berikut beberapa fitur yang terdapat pada update aplikasi e – faktur 3.2 : a. Perubahan Tarif PPN 11%. Pada aplikasi e-Faktur versi terbaru, PKP sudah dapat membuat faktur pajak elektronik dengan menggunakan tarif PPN 11%.
b. Perbaikan bug pada nomor dokumen pendukung.
c. Penambahan kode transaksi 05 pada faktur keluaran untuk PKP dengan peredaran bruto tertentu dan kegiatan usaha tertentu serta penyerahan barang/jasa kena pajak tertentu sesuai Pasal 9A ayat (1) UU HPP.
d. Penambahan kode transaksi Dokumen Lain Faktur Pajak untuk PKP dengan peredaran bruto tertentu dan kegiatan usaha tertentu serta penyerahan barang/jasa kena pajak tertentu sesuai Pasal 9A ayat (1) UU HPP.
D. Pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN
Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN merupakan formulir yang digunakan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) untuk melapporkan dan
mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) yang sebenarnya terutang. Fungsi dari SPT Masa PPN antara lain untuk melaporkan tentang pengkreditan Pajak Masukan (PM) terhadap Pajak Keluaran (PK), dan untuk melaporkan tentang pembayaran pajak yang telah dilaksanakan oleh PKP sendiri maupun melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan.
Dasopang (dalam Hapsari, 2021) mendefinisikan pelaporan sebagai aktivitas menyampaikan SPT yang berisi perhitungan suatu jenis pajak, dalam hal ini PPN, ke kantor DJP tempat Wajib Pajak terdaftar.
Penyampaian SPT Masa PPN paling lama dilaporkan pada akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya masa pajak. Ketentuan menegenai Bentuk, Isi, dan Tata Cara Pengisian serta Penyampaian SPT Masa PPN diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-29/PJ/2015
Terbitnya PMK No.9/PMK.03/2018 mengubah aturan wajib pajak yang sebelumnya wajib melaporkan SPT Masa PPN meskipun tidak ada transasksi, menjadi tidak wajib melakukan pelaporan SPT Masa PPN dengan ketentuan berikut :
a. Wajib Pajak melakukan pelaporan SPT Masa PPN Nihil, atau wajib pajak tidak memiliki transaksi yang terutang PPN dalam masa oajak tersebut. Pelalporan SPT Masa PPN hanya wajib dilakukan apanila ada transaksi.
b. Bagi wajib pajak orang pribadi (WP OP) maupun badan yang bukan merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP), yang melakukan transaksi atas objek-objek pajak tertentu yang dipungut PPN, cukup menyetorkan PPN terutang ke kas negara, tanpa diwajibkan melaporkan lagi. Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) atas PPN yang diterima wajib pajak saat penyetoran akan tervalidasi sebagai pelaporan PPN terutang, sesuai tanggal pembayaran PPN dalam NTPN tersebut. Objek-objek pajak yang dipungut PPN namun tidak diwajibkan melakukan pelaporan antara lain PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri (KMS) , PPN Impor Barang Luar Negeri, dan PPN Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari Luar Daerah Pabean.
1. Pelaporan Melalui E – Faktur Web Based
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mewajibkan bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) untuk memperbarui aplikasi e – faktur ke versi terbaru yaitu e – faktur 3.1 di awal tahun 2022. Salah satu update yang terdapat dalam versi aplikasi ini adalah Prepopulated SPT Masa PPN, artinya saluran penyampaian SPT Masa PPN yang sebelumnya dilaporkan melalui e – filling beralih menggunakan e – faktur web based melalui laman https://web-efaktur.pajak.go.id. Pelaporan SPT Masa PPN melalui e – Faktur Web Based secara nasional dimulai sejak berlakunya e – Faktur 3.0 untuk pelaporan masa pajak September 2020. Pelaporan SPT Masa PPN yang sebelumnya menggunakan skema CVS melalui DJP Online dan
saluran tertentu lainnya tidak dapat lagi dilakukan. Fitur Prepopulated membuat aplikasi e – Faktur langsung terintegrasi dengan Web Based.
E. Kepatuhan Wajib Pajak
Zain (dalam Hapsari, 2021) mendefinisikan kepatuhan wajib pajak adalah suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan oleh masyarakat yang tercermin dalam situasi ketika wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perpajakan, indicator lain yaitu ketepatan waktu wajib pajak dalam membayarkan pajaknya.
Hal ini didukung dengan Supadmi (2013) yang menyatakan bahwa kepatuhan wajib pajak merupakan suatu keadaan ketika wajib pajak memenuhi kewajiban secara formal dan material sesuai dengan ketentuan perundang – undangan perpajakan yang berlaku. Dasopang (dalam Hapsari, 2021) juga menyatakan bahwa kepatuhan wajib pajak merupakan tujuan utama ditegakkanya hokum – hokum dan peraturan perpajakan yang mengantarkan kepada tercapainya target penerimaan pajak di Indonesia.
Kepatuhan wajib pajak dan ketepatannya dalam membayarkan pajak dapat dihitung menggunakan indicator undang – undang yang berlaku, ketepatan waktu dalam membayar pajak, tidak memiliki tunggakan pajak yang melewati batas tempo pembayaran, tidak pernah terkena sanksi pajak atas kelalaian wajib pajak itu sendiri dan bersikap kooperatif dalam setiap proses perpajakan yang melibatkan wajib pajak dengan setiap pemeriksaan dan pembayaran (Ernita dan Sudjiman, 2021). Kriteria wajib pajak patuh menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK.04/2000 sebagaimana diubah terakhir dengan
Peraturan Menteri Keuangan No. 192/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Penetapan dengan Kriteria Tertentu dalan rangka Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak terdapat beberapa kriteria tertentu untuk disebut sebagai wajib pajak patuh, dengan persyaratan sebagai berikut :
1. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT)
2. WP tidak memiliki tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
3. Laporan keuangan telah diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama 3 (tiga) tahun berturut – turut ; dan
4. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir.
Kegiatan wajib pajak yang tertib dan teratur sangat mempengaruhi kepatuhan perpajakannya. Faktor umum lainnya juga berpengaruh ke sikap wajib pajak dalam memandang dan menentukan prioritas atas kewajiban perpajakannya. Siat dan Toly (2013) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak adalah sebagai berikut :
a. Faktor Kesadaran Perpajakan
Faktor kesadaran merupakan faktor yang berasal dari masyarakat itu sendiri. Semakin maju suatu negara maka tingkat kesadaran
masyarakatnya akan semakin tinggi, namun disisi lain masyarakat juga akan semakin kritis terkait kebijakan perpajakan yang diterapkan di suatu negara. Indicator kesadaran masyarakat dapat ditunjukkan dengan mengetahui fungsi pajak dan kesadaran membayar pajak.
b. Faktor Petugas Pajak
Faktor yang dapat memengaruhi motivasi dan ketaantan Wajib Pajak dalam membayar pajak, dapat dipengaruhi oleh sikap atau perilaku dari petugas pajak. Setiap petugas pajak diharapkan memilki kriteria berupa sikap jujur, bertanggung jawab, penuh pengertian, objektif, sopan, serta menghindarkan diri dari perbuatan tercela. Indicator sikap fiscus ditunjukkan dengan profesionalisme.
c. Faktor Hukum Pajak
Siat dan Toly (2013) menyatakan bahwa hukum memiliki definisi bahwa setiap warga masyarakat dianggap memahami hokum, termasuk hokum yang mengatur masalah perpajakan. Ilmu mengenai peraturan perpajakan dapat diperoleh masyarakat melalui keterangan informasi dan penjelasan kepada pihak fiscus atau petugas pajak yang berupa edukasi maupun sosialisasi sebagai bagian dari fungsi pembinaan dan pelayanan.
Informasi pajak yang disampaikan kadang menggunakan Bahasa hukum yang sulit dipahami oleh orang awam. Seringnya ada perubahan peraturan perpajakan juga menimbulkan kesalahpajaman bagi wajib pajak.
Insikator hokum ditunjukkan dengan adil, equality, daya pikul, dan peraturan.
d. Faktor Sikap Rasional
Siat dan Toly (2013) menyatakan bahwa sikap rasional merupakan pertimbangan wajib pajak atas keuntungan dan kerugian yang didapat apabila memenuhi kewajiban pajaknya. Hal ini ditunjukkan dengan pertimbangan wajib pajak terhadap resiko keuangan yang muncul apabila wajib pajak tidak memenugi kewajiban perpajakannya dan resiko lain juga muncul apabila membayar dan tidak membayar pajak
F. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Tabel 2. 1
Tinjauan Peneliti Terdahulu No. Judul, Jenis Dokumen,
Penulis, Tahun Fokus Studi
Perbedaan dengan Penelitian ini
1.
Tinjauan Atas Pengaruh E – Faktur Web Based Terhadap Kepatuhan Pelaporan SPT Masa PPN di KPP Pratama Pangkal Pinang , KTTA, Ganesi Sulistya Hapsari (2021)
Peneletiaan tersebut tidak membahas
pengaruh atas pelaksanaan e – faktur
Penelitian ini membahas
palaksanaan e – faktur dan hambatan atas kegiatan tersebut
2.
Tinjauan Kepatuhan Pelaporan SPT Masa PPN Terkait Kewajiban Lapor Melalui E – Filling Di KPP Pratama Medan Kota, KTTA, Risna Ilin Dasopang (2020)
Pengaruh
pelaporan SPT
Masa PPN
melalui e- filling terhadap
kepatuhan
pelaporan wajib pajak
Penelitian ini membahas
tentang pengaruh pelaporan SPT
Masa PPN
melalui e – Faktur Web Based
Sumber: Diolah PenulisTabel Tabel 2. 2
Tinjauan Peneliti Terdahulu
No Judul, Jenis Dokumen,
Penulis, Tahun Fokus Studi
Perbedaan dengan Penelitian ini
3.
Tinjauan atas Penerapan e – Faktur Terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pekanbaru
Tampan, KTTA,
Muhammad Haykal (2018)
Pengaruh penerapan
aplikasi e – Faktur terhadap penerimaan atas PPN
Penelitian ini membahas
tentang pengaruh pelaporan SPT
Masa PPN
melalui e – Faktur Web Based
4.
Analisis Faktur Pajak Manual dan E – Faktur Terhadap Efisiensi Pembuatan Faktur Pajak Serta Pelaporan SPT Masa PPN, Skripsi, Rachmawati Afrianda (2018)
Efisiensi perbandingan penggunaan aplikasi e- faktur dengan faktur manual
Implementasi penggunaan aplikasi e – faktur dan e- faktur web based terhadap pelaporan SPT Masa PPN
5.
Analisis Penerapan E – Faktur Pajak Dalam Pelaporan SPT Masa PPN Pada KPP Pratama Tebing Tinggi, Skripsi,Ultri Fuaziah Syahri (2019)
Penerapan e- faktur dalam pelaporan SPT Masa PPN
Penelitian ini membahas
pengaruh
pelaporan SPT
Masa PPN
melalui e – faktur web based