PENDAHULUAN
Latar Belakang
Fokus Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
- Manfaat Teoritis
- Manfaat Praktis
TINJAUAN PUSTAKA
Defenisi Narkotika dan Penyalahguna
- Defenisi Narkotika
- Defenisi Penyalahguna
Istilah tersebut sering digunakan institusi resmi (termasuk pemerintah), bahkan digunakan dalam undang – undang, hanya merupakan singkatan dari kata – kata “narkotika” dan “ obat – obat berbahaya. Istilah “narkotika” berasal dari kata Yunani “narkosis” yang dikemukakan oleh bapak ilmu kedokteran, Hipokrates, untuk zat – zat yang menimbulkan mati rasa atau rasa lumpuh. Dalam undang – undang AS, yang dimaksud dengan narkotika adalah opium, variasi dari opium (kodein, heroin, atau awam menyebutnya “putau”, termasuk zat sintesis (morphin), dan kokain (disebut juga koka).
Secara Umum, yang dimaksud dengan Narkotika adalah sejenis zat yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi orang-orang yang menggunakannya, yaitu dengan cara memasukkan kedalam tubuh. Soedarto, S.H., dalam bukunya Kapita Selekta Hukum Pidana mengatakan bahwa perkataan “narkotika berasal dari bahasa Yunani. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri yang dapat menimbulkan ketergantungan yang dibeda-dibedakan kedalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang (Makaro dkk, 2005) b) Jenis-jenis dan Akibat Narkotika.
Bahaya dan akibat mengkonsumsi jenis narkotika ini sama dengan ecstasy tetapi rasa curiga (paranoid) dan halusinasi lebih menonjol, sengaja dibuat untuk tujuan bersenang-senang seperti halnya ecstasy.
Penyesuaian Diri
Bersadarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan penyesuaian diri adalah kemampuan individu dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidupnya, untuk mempertemukan tuntutan diri dan lingkungan agar tercapai keadaan atau tu juan yang diharapkan oleh diri sendiri dan lingkungannya. Berbagai aspek penyesuaian diri ditentukan oleh sikap dan cara individu bereaksi terhadap manusia di sekitarnya, benda-benda, dan hubungan-hubungan yang membentuk realitas. Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luardirinya secara objektif sesuai dengan pertimbangan- pertimbangan rasional dan perasaan.
Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. Dapat bertindak sesuai dengan potensi-potensi positif yang layak dikembangkan sehingga dapat menerima dan diterima linkungan, tidak disingkirkan oleh ;ingkungan maupun menentang dinamika lingkungan. Dapat bertindak sesuai dengan norma yang dianut oleh lingkungannya serta selaras dengan hak dan kewajibannya.
Penyesuaian diri merupakan penyusunan kembali sikap dan tingkah laku individu untuk merespon secara adekuat terhadap keadaan dirinya sendiri, meliputi keadaan fisik, mental dan emosi.
Kerangka Konseptual
Secara positif ditandai oleh kepercayaan terhadap diri sendiri, orang lain, dan segala sesuatu di luar dirinya sehingga tidak pernah merasa tersisih dan kesepian. Penyesuaian diri merupakan proses yang terus berlangsung dalam kehidupan seseorang dalam menghadapi lingkungan yang senantiasa berubah tanpa membuat kecewa diri sendiri maupun orang lain, merasa bersalah, takut dan khawatir. Sepanjang masa manusia akan mengalami proses penyesuaian diri dalam waktu dan tempat yang berbeda, penyesuaian diri merupakan suatu proses yang harus dijalani untuk membentuk karakter yang baik demi mencapai suatu tujuan dalam kehidupan.
Namun ada beberapa hal yang membuat seseorang dituntut untuk lebih ekstra untuk dapat menyesuaikan dirinya ketika mengalami permasalahan dan konflik. Seseorang pengguna narkotika ketika berada di tempat rehabilititasi memungkinkan untuk lebih dituntut lebih untuk menyesuaikan diri. Karna permasalahan yang cukup rumit dan kompleks mulai dari adaptasi dalam konotasi fisik sampai penyesuaian diri secara psikis.
Secara fisik residen harus terbiasa dengan pola hidup dan keseharian di tempat rehabilitasi secara psikis residen harus mampu memiliki hubungan interpersonal yang baik agar residen mudah dalam menyesuaikan dirinya.
Metode Penelitian
- Jenis Penelitian
- Subjek Penelitian
- Karakteristik subjek
- Jumlah subjek
- Prosedur pengambilan subjek
- Lokasi penelitian
- Tahap pelaksanaan penelitian
- Metode Pengambilan Data
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data
- Analisis Data
- Keabsahan Data
Subjek B mengatakan saat mengkonsumsi narkoba merasa tidak memiliki ketergantungan karna tidak ada perubahan pada dirinya. Subjek mengungkapkan dirinya tidak dibeda-bedakan dengan residen lain karna tidak ada yang memandang status sosialnya. Subjek TS mengungkapkan dirinya tidak dibeda-bedakan dengan residen lain karna tidak ada yang memandang status sosialnya.
73,74 kalau saya pribadi tidak ada tidak pernah punya masalah disini, kalau yang lain juga nda ada saya dengar. Subjek : tidak ada kendalaku Cuma itu ji ingat sama keluarga Peneliti : kalau sama residen yang lain. Subjek : tidak ada ji happy-happy ji di sini kalau sama teman-teman tidak ada ji masalah.
Subjek : kalau saya pribadi tidak ada tidak pernah punya masalah disini, kalau yang lain juga nda ada saya dengar.
Hasil dan Pembahasan
Gambaran Subjek Penelitian
Subjek adalah seorang laki-laki berusia 30 tahun yang memiliki 1 anak perempuan, dan istri berusia 28 tahun. Subjek memiliki tinggi badan kira-kira 168 dengan berat badan 65 kg, berkulit sawo matang, rambut cepak yang berwarna hitam, hidung mancung, wajah bulat, alis tebal dan bola mata yang berwarna hitam. Subjek mempunyai hobby bermain tenis meja.pada saat wawancara subjek sering terlihat memakai baju santai atau baju kaos serta celana pendek.
Subjek merupakan tangkapan Polda dan pada saat tertangkap dia sedang berada di dalam rumah bersama keluarganya. Pada saat wawancara berlangsung subjek merupakan orang yang sangat ramah dan terbuka, namun peneliti sering kali mengulang pertanyaan kepada subjek karena subjek terkadang kurang paham apa yang ditanyakan. Subjek memiliki 1 anak dan subjek berasal dari Sumatera yang menikah dengan orang Makassar dan menetap di Makassar.
Subjek berada di dalam rehabilitasi merupakan tangkapan polda, dan pada saat ditangkap dia sedang berada di rumah temannya.
Hasil
Penelitian ini dilaksanakan di tempat rehabilitasi Lembaga Relegius Spirit Insan yang berlangsung pada bulan februari sampai bulan april. Sebelum memulai wawancara peneliti menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan dalam pengambilan data dan meminta keaktifan subjek dalam menjawab pertanyaan yang di berikan nanti. Subjek A masuk ke tempat rehabilitasi karna tangkapan polda, minggu pertama subjek berada di tempat rehabilitasi subjek A merasa pusing, namun subjek ingin ada perubahan agar bisa menjadi normal kembali.
Dalam hal ini meskipun subjek A pada awalnya merasa bahwa sulit mengendalikan pikirannya selalu ingat keluarga dan ingin keluar saat berada di tempat rehabilitasi namun subjek tetap bertahan karna merasa perlu di pulihkan. Selain itu subjek juga memiliki hubungan yang baik layaknya keluarga saat berada di tempat rehabilitasi. Kayaknya segalanya deh maksudnya kalau segalanyakan bagaimana di’ namanya baik tidak ada cekcok baik dalam percakapan kekeluargaan semua disini”(wwc A) Hal ini diperkuat dengan pernyataan triangulasi R yang menyatakan di dalam tempat rehabilitasi menerapkan sistem kekeluargaaan sehingga membuat residen mudah menyesuaikan diri.
Hal ini pula yang dilakukan subjek A, subjek A memiliki rencana kedepan untuk pulih terlebih dahulu kemudian mencari pekerjaan setelah keluar dari tempat rehabilitasi. Subjek E tidak dibeda-bedakan dengan residen lain di tempat rehabilitasi karna menganggap semua residen sudah seperti keluarga. Hal ini sama dengan yang di ungkapkan triangulasi R apabila memiliki masalah segera diskusikan kepada residen lain dan meminta solusi dari konselor.
Sebelum memulai wawancara peneliti menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan dalam pengambilan data dan meminta keaktifan subjek dalam menjawab pertanyaan yang di berikan nanti. Subjek S kadang merasa jenuh saat berada di tempat rehabilitasi namun karna mempunyai hubungan yang sangat baik dengan residen lainnya sehingga subjek S bisa kembali nyaman dengan linkungannya. Subjek tidak merasa di beda-bedakan apapun yang di dapatkan residen lain subjek juga mendapatkannya seperti saat masa detoks.
Subjek sudah membuat rencana setelah keluar dari tempat rehabilitasi subjek akan mencegah pengedaran narkoba dilingkungannya. Selain itu target awal subjek setelah keluar yaitu mencari pekerjaan yang di mulai kembali dari awal.
Pembahasan
Kayaknya segalanya deh maksudnya kalau segalanyakan bagaimana di’ namanya baik tidak ada cekcok baik dalam percakapan. 26,27 tidak ada sama ji semua disini tidak ada beda beda kan kayak keluarga mi toh disini. 153,154 Alhamdulliah sehat sehat ji, tidak ada mi dirasa pusing,tidak lemas badan juga atau kepikiran mau pulang itu nda ada mi.
Kondisi subjek sudah sehat, tidak merasa pusing, sudah tidak ada pikiran untuk pulang saya pasrah saja, kan ada juga. Subjek tidak memilki kendala di tempat rehab namun hanya teringat tentang keadaan keluarga 30,31 tidak ada ji happy-happy ji di sini kalau sama. Subjek menjelaskan saat mengkonsumsi narkoba (sabu) merasa tidak memiliki ketergantungan karna merasa tidak ada perubahan pada dirinya.
Tapi karna sudah direhab juga jadi kita saya sama anto bertekat siapa yang kedapatan make lagi pokoknya langsung lapor dan tidak ada yang boleh marah langsung eksekusi 113 iya sudah ada. Subjek : yah..cerita-cerita tentang keluarga, cerita kapan pulang hehehe, Peneliti : tidak ada yang saling menasehati begitu. Subjek : alhamdullillah tidak ada semuanya kayak keluarga Peneliti : kalau residen yang lain sesame residen yang lain.
Subjek : Alhamdulliah sehat sehat ji, tidak ada mi dirasa pusing,tidak lemas badan juga atau kepikiran mau pulang itu nda ada mi. Subjek : tidak ada sama ji semua disini tidak ada beda beda kan kayak keluarga mi toh disini. Subjek : sudah pasrah tidak ada pikiran saya Cuma untuk keluarga hancur saya ini keluarga saya.
Subjek : karna saya dari dulu tidak pernah menyusahkan orang tua karna saya juga hidup di sini sebatang kara jadi saya pasrah saya juga bilang ke istri sabar saja tapi itu sudah tekad saya keluar saya dari sini saya tidak akan sentuh itu karna tidak ada gunanya. Tapi karna sudah direhab juga jadi kita saya sama anto bertekat siapa yang kedapatan make lagi pokoknya langsung lapor dan tidak ada yang boleh marah langsung eksekusi.
Penutup
Kesimpulan
Subjek : disini saya taunya tiga bulan sih, maksimal tiga bulan semua kayaknya tiga bulan tidak ada minimalnya. Kayaknya segalanya deh maksudnya kalau segalanyakan bagaimana di’ namanya baik tidak ada cekcok baik dalam percakapan kekeluargaan semua disini mau sama residennya ataupun sama konselornya. Subjek : tidak ada niat mau anu mau transaksi atau apa Cuma ada teman anu teman butuh bantuan mau transfer uang saya datang kerumahnya saya nda tau kalau ada penggerebekan jadi saya ketuk-ketuk ada polisi di dalam.
Subjek : tidak ada karna perasaan saya juga bilang tidak ada mau di tangkap apa, karna memang tidak ada apa-apa tapi memang polisi tidak jelas soalnya bicaranya tidak bisa di pegang kita di janjikan Cuma ambil. Subjek: nda pernah ji bagusnya itu di sini karna sistemnya itu kekeluargaan bila adapun permasalahan kita rembukkan, musyawarah apa solusinya jadi adapun masalah yang mau besar jadinya tidak ada itu bagusnya di sini, dan ada.
Saran