BOOK CHAPTER
“ Standar Umum Pengauditan Sektor Publik”
Dosen Pengampu: Dr. Siti Musyarofah, SE., M.Si., Ak., CA.
DI SUSUNOLEH:
1. Mohammad Rizqi Hidayatullah Rochman 220221100057 2. Nadia Adisti BernikaJuniardi 220221100081
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
TAHUN 2024
Pendahuluan
Audit pada sektor publik memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga akuntabilitas serta transparansi pengelolaan keuangan negara. Dalam pelaksanaannya, auditor wajib mematuhi standar umum pengauditan untuk memastikan bahwa hasil audit memiliki kualitas tinggi dan tetap terjaga integritasnya. Standar-standar tersebut dirancang untuk menjamin proses audit dilakukan secara independen, objektif, dan sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalisme yang diakui secara internasional (INTOSAI, 2019).
Standar umum pengauditan sektor publik menjadi fondasi utama bagi auditor dalam melaksanakan tugas mereka. Standar ini mencakup aspek-aspek penting seperti kompetensi profesional, independensi, serta kewajiban untuk menjalankan audit dengan kehati-hatian profesional (due professional care). Dalam konteks sektor publik, standar ini juga menekankan pentingnya evaluasi atas kepatuhan terhadap regulasi, efisiensi, efektivitas, serta penggunaan sumber daya yang ekonomis (BPK RI, 2017)
Berbeda dari audit sektor swasta, audit pada sektor publik memiliki cakupan yang lebih luas.
Selain memeriksa laporan keuangan, auditor sektor publik juga menilai kinerja serta tingkat kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Oleh karena itu, auditor harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai kompleksitas administrasi publik serta berbagai risiko yang terkait dengan pengelolaan dana publik (Kasim, 2015).
Salah satu panduan yang sering digunakan dalam audit sektor publik adalah International Standards of Supreme Audit Institutions (ISSAIs). Standar ini dirancang oleh INTOSAI untuk memberikan pedoman universal bagi auditor di berbagai negara. Di Indonesia, penerapan standar pengauditan sektor publik merujuk pada Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) (BPK RI, 2017) Penerapan standar umum pengauditan memberikan banyak manfaat, baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Bagi pemerintah, audit yang berkualitas mendukung pengambilan keputusan yang transparan dan berbasis data. Sementara itu, masyarakat memperoleh jaminan bahwa penggunaan dana publik diawasi dengan baik dan bertanggung jawab (INTOSAI, 2019).
Meski demikian, penerapan standar ini menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang berkompeten, kebutuhan akan data yang valid, serta tekanan eksternal yang dapat memengaruhi independensi auditor. Oleh karena itu, perlu adanya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas serta menjaga integritas auditor sektor publik (Kasim, 2015).
Di era digital, perkembangan teknologi juga membawa perubahan signifikan dalam praktik audit. Penggunaan alat seperti analitik data dan kecerdasan buatan memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas audit. Namun, hal ini membutuhkan penyesuaian standar serta pelatihan khusus agar auditor mampu memanfaatkan teknologi secara optimal (ISACA, 2022).
Dalam lingkup global, harmonisasi standar pengauditan menjadi isu yang semakin relevan.
Kerja sama antarnegara dan organisasi internasional menuntut adanya standar yang seragam untuk memastikan kualitas audit yang setara di seluruh dunia (INTOSAI, 2019).
Bab ini akan membahas lebih dalam mengenai standar umu pengauditan sektor publik, dasar hukum, tujuan dan fungsi yang akan disajikan untuk meningkatkan penerapan standar ini demi mendukung tata kelola sektor publik yang lebih baik.
Pemahaman terhadap standar umum pengauditan sektor publik merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membangun sistem pengawasan yang akuntabel, efektif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang optimal.
Metode
Chapter buku ini disusun menggunakan metode kajian literatur (review literature).
Metode ini melibatkan analisis berbagai sumber pustaka yang relevan, seperti buku, jurnal ilmiah, laporan resmi, dan standar internasional terkait pengauditan sektor publik. Metode ini dipilih karena memberikan pendekatan yang komprehensif untuk mempelajari konsep, prinsip, dan implementasi standar umum pengauditan dalam konteks sektor publik.
Dengan menggunakan pendekatan literatur, penulis dapat melihat masalah teori dan praktik yang berkaitan dengan pengauditan sektor publik dari sudut pandang yang lebih luas. Kajian
ini bergantung pada dokumen seperti International Standards of Supreme Audit Institutions (ISSAIs) yang dirilis oleh INTOSAI, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang dirilis oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Indonesia, serta penelitian akademik dan laporan profesional lainnya. Oleh karena itu, hasil analisis didasarkan pada informasi yang dapat dipercaya dan relevan.
Metode ini digunakan untuk menemukan dan mempelajari unsur-unsur penting dari standar umum pengauditan, seperti kompetensi auditor, independensi, dan kehati-hatian profesional—yang telah disebutkan sebelumnya—sebagai akibat dari perawatan profesional.
Selain itu, pendekatan literatur membantu menjelaskan penerapan standar dalam praktik, yang mencakup tantangan dan peluang yang muncul dari kemajuan teknologi dan globalisasi.
Selain itu, literatur ini memungkinkan diskusi menyeluruh tentang perbedaan utama antara audit sektor publik dan privat. Dengan menggunakan berbagai sumber literatur, penulis dapat mengulas mengapa audit sektor publik memiliki cakupan yang lebih luas, yang mencakup evaluasi kinerja dan kepatuhan terhadap peraturan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Pembahasan
Definisi Standar Umum
Dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (BPK RI, 2017), standar umum mencakup prinsip-prinsip dasar yang harus dijalankan oleh pemeriksa saat melaksanakan tugasnya. Prinsip tersebut meliputi etika kerja, seperti menjaga independensi, integritas, dan profesionalisme, yang bertujuan memastikan hasil pemeriksaan tetap objektif dan dapat dipercaya. Standar ini juga mengatur pengendalian mutu agar pemeriksaan berjalan sesuai pedoman yang telah ditetapkan. Pemeriksa wajib memiliki kompetensi yang memadai serta memperhatikan risiko terkait ketidakpatuhan, kecurangan, atau penyimpangan. Selain itu, komunikasi yang jelas dan dokumentasi yang baik menjadi bagian penting dari proses pemeriksaan. Standar ini juga menjelaskan hubungan antara standar yang digunakan oleh akuntan publik dengan tanggung jawab Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan akuntan publik dalam pemeriksaan keuangan negara. Tujuan utama dari standar ini adalah untuk menjamin transparansi, akuntabilitas, dan keandalan laporan keuangan pemerintah.
Tujuan dan Fungsi Standar Umum
Menurut SPKN (BPK RI, 2017), tujuan utama pemeriksa dalam menerapkan standar umum adalah memberikan landasan yang kuat untuk menjalankan standar pelaksanaan dan pelaporan secara efektif. Oleh karena itu, standar umum ini wajib dipatuhi oleh BPK dan seluruh pemeriksa yang melakukan pemeriksaan sesuai dengan Standar Pemeriksaan.
Standar Umum memberikan pedoman bagi auditor untuk melaksanakan tugas mereka dengan efisiensi dan efektivitas. (Zahmatkesh & Rezazadeh, 2017) mencatat bahwa standar ini dirancang untuk memastikan konsistensi dalam pelaksanaan audit di berbagai sektor.
• Fungsi Standar Umum meliputi:
1. Memastikan bahwa auditor bekerja sesuai prinsip profesionalisme.
2. Memberikan kerangka kerja yang mendukung akuntabilitas dan transparansi.
3. Mendorong peningkatan kualitas pengelolaan keuangan sektor publik.
Standar Umum Pertama
“Untuk melaksanakan tugas pemeriksaan, semua pemeriksa harus memiliki kecakapan profesional yang memadai"
Kemampuan dan keahlian adalah syarat utama bagi auditor sektor publik untuk melaksanakan audit yang efektif. Auditor harus memiliki pengetahuan akademis, pelatihan teknis, serta pengalaman praktis yang relevan. (Zahmatkesh & Rezazadeh, 2017) menyatakan bahwa kompetensi auditor yang mencakup pemahaman regulasi, pengalaman profesional, dan kemampuan teknis sangat berpengaruh terhadap kualitas audit. Mereka menemukan bahwa auditor yang secara rutin mengikuti pelatihan memiliki kemampuan lebih baik dalam mendeteksi penyimpangan laporan keuangan.
(Furiady & Kurnia, 2015) menambahkan bahwa pengalaman praktis sangat penting dalam membangun intuisi dan keterampilan analitis auditor. Auditor yang telah menangani berbagai jenis audit mampu mengidentifikasi pola-pola penyimpangan dengan lebih cepat.
Kompetensi tambahan seperti sertifikasi profesional, misalnya Certified Public Accountant (CPA), juga berkontribusi pada peningkatan kualitas audit.
Untuk memastikan kompetensi auditor tetap terjaga, BPK dan lembaga terkait perlu mengimplementasikan pelatihan berkelanjutan yang fokus pada tantangan audit sektor publik.
Misalnya, pelatihan tentang audit berbasis teknologi dapat mempersiapkan auditor menghadapi transformasi digital dalam pengelolaan keuangan negara.
➢ Studi Kasus
Laporan keuangan konsolidasi PT Great River menjadi perhatian publik pada tahun 2003 setelah auditor yang bertugas menemukan rekayasa dalam laporan keuangan yang tidak terdeteksi. Akibatnya, seorang akuntan publik, auditor yang bersangkutan, dijatuhi sanksi pembekuan izin selama dua tahun oleh Menteri Keuangan (Wardoyo et al., 2011). Dalam kasus ini, ada pertanyaan serius tentang kemampuan auditor untuk melaksanakan tugasnya.
Auditor melanggar Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) karena gagal menerapkan keahlian teknis yang memadai untuk menemukan kecurangan tersebut. Kasus ini menunjukkan pentingnya standar umum pertama audit, yang memastikan bahwa pemeriksaan dilakukan oleh orang yang memiliki pelatihan teknis dan keahlian yang cukup.
Kegagalan untuk memahami laporan keuangan secara menyeluruh menunjukkan bahwa pengalaman dan pelatihan auditor harus ditingkatkan untuk menjamin kualitas audit dan kepercayaan publik terhadap profesi ini.
Standar Umum Kedua
“Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi dan pemeriksa harus bebas dari gangguan pribadi, eksternal, dan organisasi yang dapat memengaruhi independensinya”
Independensi adalah prinsip dasar yang memastikan auditor bekerja tanpa pengaruh atau tekanan dari pihak eksternal. (Mansouri et al., 2009) menegaskan bahwa independensi auditor adalah elemen penting untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik terhadap laporan audit.
Menurut (LEWIS, 2023), independensi tidak hanya berkaitan dengan sikap mental auditor, tetapi juga melibatkan otonomi organisasi auditor. Mereka menunjukkan bahwa independensi yang kuat memungkinkan auditor untuk bekerja dengan skeptisisme profesional yang diperlukan untuk mengidentifikasi penyimpangan keuangan.
Independensi auditor sering kali diuji oleh tekanan politik dan konflik kepentingan. Oleh karena itu, perlu ada mekanisme perlindungan yang memastikan auditor dan organisasi audit dapat bekerja tanpa gangguan eksternal. Misalnya, penerapan rotasi auditor secara berkala dapat membantu mengurangi risiko konflik kepentingan
➢ Studi Kasus
Kasus laporan keuangan PT Garuda Indonesia tahun 2018 menjadi perhatian publik setelah ditemukan manipulasi dalam pengakuan pendapatan. Garuda mengklaim pendapatan sebesar USD 239 juta dari kerja sama dengan Mahata Aero Teknologi, meskipun pembayaran belum dilakukan. Pendapatan tersebut seharusnya diakui secara bertahap sesuai dengan durasi kontrak 15 tahun, namun dicatat sekaligus pada tahun pertama. Hal ini melanggar prinsip akuntansi yang berlaku. Auditor dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan memberikan opini wajar tanpa pengecualian terhadap laporan ini, meskipun pencatatan tersebut tidak sesuai standar. Kasus ini menunjukkan adanya kegagalan auditor dalam menjaga independensi dan menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal. Sebagai konsekuensi, KAP tersebut diwajibkan memperbaiki sistem pengendalian mutu, dan akuntan publik yang bertugas dijatuhi sanksi berupa pembekuan izin(Friana, 2019).
Kasus ini menunjukkan kegagalan auditor dalam menjalankan pengawasan mutu dan mempertahankan independensi. Sebagai konsekuensi, KAP terkait dikenakan tanggung jawab untuk memperbaiki sistem pengendalian mutu, dan izin akuntan publik yang bertanggung jawab dibekukan. Kasus ini menunjukkan bahwa KAP yang berafiliasi internasional juga dapat melakukan kesalahan yang serius jika mereka tidak menjaga integritas profesional dan mematuhi standar audit yang berlaku.
Standar Umum Ketiga
” Pemeriksa wajib menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan saksama selama pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan laporan hasil pemeriksaan”
Saat melakukan audit dan menyusun laporan, auditor harus menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan hati-hati. Untuk memastikan bahwa prosedur audit dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku, auditor harus memiliki pengetahuan teknis yang memadai, kemampuan analisis yang baik, dan perhatian terhadap detail. Prinsip ini bertujuan menjamin bahwa opini auditor didasarkan pada bukti audit yang cukup dan relevan, serta memenuhi persyaratan profesionalitas dalam praktik audit.
Kemahiran profesional termasuk menggunakan skeptisisme profesional, yang berarti mengevaluasi bukti audit dengan hati-hati dan kritis serta menilai kemungkinan kesalahan atau kecurangan dalam laporan keuangan. Menurut (Arens et al., 2017) bahwa auditor harus selalu memastikan kualitas pekerjaannya dengan mempertimbangkan standar profesional, seperti akurasi, relevansi, dan keandalan data yang diaudit. Selain itu, dalam Modern Auditing, Boynton dan Johnson menekankan bahwa kemahiran profesional juga mencakup penguasaan standar akuntansi yang tepat, pemahaman tentang bisnis klien, dan penggunaan teknologi (Boynton & Johnson, 2006).
➢ Studi Kasus
Pelanggaran yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Atang Djaelani pada tahun 2009 adalah salah satu kasus yang menonjol terkait kelalaian auditor dalam menggunakan kemahiran profesional secara cermat dan seksama. Setelah beberapa tahun pelanggaran yang signifikan terhadap pelaporan kegiatan usaha dan laporan keuangan, menteri keuangan membekukan izin operasi KAP tersebut. Selain itu, dalam 48 bulan terakhir, KAP ini telah diberi sanksi peringatan tiga kali. Kualitas audit yang dibuat sangat dipengaruhi oleh pelanggaran tersebut (kalsum, 2009).
Kasus ini menunjukkan bagaimana kurangnya kecermatan dan seksama dalam penggunaan kemahiran profesional dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap
hasil audit. Akuntan publik tidak hanya gagal memenuhi kewajiban pelaporan yang sesuai, tetapi juga mengabaikan prinsip-prinsip akuntabilitas dan skeptisisme profesional, yang seharusnya menjadi landasan utama dalam setiap audit yang dilakukan.
Standar Umum Keempat
“Setiap organisasi pemeriksa yang melakukan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai, dan sistem tersebut harus direview oleh pihak lain yang kompeten (pengendalian mutu eksternal)”
Sistem pengendalian mutu sangat penting untuk memastikan kualitas dan integritas pemeriksaan yang dilakukan oleh organisasi pemeriksa. Setiap organisasi pemeriksa yang bekerja berdasarkan Standar Pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai untuk memastikan bahwa audit dilakukan sesuai dengan standar profesional dan etika. Kebijakan dan prosedur untuk mengawasi pelaksanaan audit, menilai kecukupan bukti, dan memastikan opini audit diberikan berdasarkan analisis yang mendalam dan objektif harus menjadi bagian dari sistem tersebut.
Menurut (Boynton & Johnson, 2006) dalam Modern Auditing, pengendalian mutu mencakup banyak hal, seperti kebijakan perekrutan auditor, pelatihan berkelanjutan, dan proses evaluasi kinerja untuk memastikan bahwa standar yang ditetapkan selalu dipenuhi. Pengendalian mutu yang kuat dan konsisten memungkinkan auditor untuk menjaga integritas dan kualitas hasil pemeriksaan, terutama ketika mereka menghadapi kompleksitas atau tekanan dari klien.
Hasil audit berisiko kehilangan kredibilitas di mata publik jika tidak ada evaluasi eksternal dan sistem pengendalian mutu yang memadai. Oleh karena itu, standar ini menyediakan kerangka kerja untuk memastikan profesionalisme dan keandalan audit.
➢ Studi Kasus
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara menerapkan sistem pengendalian mutu untuk memastikan kualitas pemeriksaan. Salah satu metode pengendalian mutu yang digunakan adalah peer review atau pengendalian mutu eksternal, yang dilakukan oleh lembaga pemeriksa dari negara lain yang tergabung dalam
organisasi pemeriksa internasional, seperti INTOSAI (International Organization of Supreme Audit Institutions)
Untuk memastikan kualitas pemeriksaan BPK sesuai standar internasional, pada tahun 2019 tiga lembaga pemeriksa dari negara lain melakukan peer review(BPK RI, 2018), yaitu:
1. Najwyższa Izba Kontroli (NIK) Polandia (2014) 2. Algemene Rekenkamer (ARK) Belanda (2009)
3. Office of the Auditor General (OAG) Selandia Baru (2004)
Dalam proses ini, sistem pengendalian mutu BPK dan kelembagaan ditinjau secara objektif untuk memastikan bahwa proses pemeriksaan telah dilakukan sesuai dengan persyaratan.
Tujuan utama dari pengendalian mutu eksternal ini adalah meningkatkan kepercayaan publik terhadap hasil audit BPK.
Kesimpulan
Audit sektor publik sangat penting untuk menjamin bahwa pengelolaan keuangan negara transparan dan akuntabel. Prinsip-prinsip dasar yang harus dipatuhi oleh auditor dalam pengauditan sektor publik termasuk kompetensi profesional, independensi, kehati- hatian profesional, dan pengendalian mutu. Standar ini dibuat untuk memastikan bahwa proses audit dilakukan dengan jujur, profesional, dan sesuai dengan standar yang berlaku.
Auditor sektor publik harus memiliki kompetensi yang memadai melalui pelatihan dan pengalaman yang relevan untuk melaksanakannya. Untuk memastikan bahwa hasil audit bebas dari pengaruh luar, auditor harus independen. Selama proses audit, mereka juga harus menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan saksama.
Pengendalian kualitas internal dan eksternal sangat penting untuk menjaga kualitas audit.
Salah satu contohnya adalah BPK menjalankan sistem pengendalian kualitas melalui mekanisme peer review yang dilakukan oleh lembaga pemeriksa dari negara lain, seperti NIK Polandia, ARK Belanda, dan OAG Selandia Baru. Proses ini memastikan bahwa audit BPK sesuai dengan standar internasional dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap hasil pemeriksaan.
Daftar Pustaka
Arens, A. A., Elder, R. J., & Beasley, N. S. (2017). Auditing and Assurance Services ; An Integrated Approach, 16th Edition (16th ed.). Pearson Education.
Boynton, W. C., & Johnson, R. N. (2006). Modern Auditing Assurance service and the integrity of financial reporting. John Wiley & Sons, Inc.
BPK RI. (2017). PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017(SPKN).
BPK RI. (2018). BPK Lakukan Persiapan untuk Menghadapi Peer Review Tahun 2019. Bpk.Go.Id.
Friana, H. (2019, June 29). Kasus Lapkeu Garuda: Bukti KAP Taraf Internasional Bisa Kebobolan.
Tirto.Id.
Furiady, O., & Kurnia, R. (2015). The Effect of Work Experiences, Competency, Motivation, Accountability and Objectivity towards Audit Quality. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 211, 328–335. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.11.042
INTOSAI. (2019). ISSAI INTOSAI 100 FUNDAMENTAL PRINCIPLES OF PUBLIC-SECTOR AUDITING INTOSAI. www.issai.org
ISACA. (2022). Implementing Emerging Technologies: Agile SDLC Still Works.
https://engage.isaca.org/
kalsum, U. (2009). Menkeu bekukan tiga izin akuntan publik. Viva.Co..Id.
Kasim, E. (2015). Audit dan Akuntansi Sektor Publik. Gramedia Pustaka Utama.
LEWIS, J. E. S. (2023). THE EFFECT OF AUDITOR COMPETENCE, INDEPENDENCE AND PROFESSIONAL SKEPTICISM ON AUDIT QUALITY WITH AUDITOR’S ETHICS AS MODERATING VARIABLE.
Mansouri, A., Pirayesh, R., & Salehi, M. (2009). Audit Competence and Audit Quality: Case in Emerging Economy.
Wardoyo, T. S., Anthonius, & Barnabas, T. S. (2011). PENGARUH KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT.
https://repository.maranatha.edu/1876/1/Pengaruh%20Kompetensi%20dan%20Independen si%20Auditor%20Terhadap%20Kualitas%20Audit.pdf
Zahmatkesh, S., & Rezazadeh, J. (2017). The effect of auditor features on audit quality. Tékhne, 15(2), 79–87. https://doi.org/10.1016/j.tekhne.2017.09.003