• Tidak ada hasil yang ditemukan

“GAMBAR MISTAR ORNAMEN”

N/A
N/A
it database

Academic year: 2024

Membagikan "“GAMBAR MISTAR ORNAMEN” "

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

SENI RUPA MATEMATIS:

“GAMBAR MISTAR ORNAMEN”

RUP.F.BBG.11.4

Nama Bambang Irawanto, S.Pd Kelas/ Fase 11/F

Domain CP Elemen Mencipta

Sekolah SMA NEGERI 1 MADIUN Mapel Seni Rupa

Domain Mapel RUP Alokasi Waktu 4 x 45 menit

180 menit

2 pertemuan = 90 menit tiap pertemuan (fleksibel)

Jumlah Siswa 36

Target Peserta Didik Regular/ tipikal Model Pembelajaran ●Pembelajaran tatap

muka

●Tatap Muka Profil Pelajar

Pancasila yang berkaitan

Kebhinekaan Global, Kreatif, Bernalar Kritis, Gotong Royong (kolaborasi)

Ketersediaan Materi

a. pengayaan untuk siswa ber pencapaian tinggi:TIDAK

b. Alternatif penjelasan, metode, atau aktivitas, untuk siswa yang sulit memahami konsep:TIDAK

Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran Seni Rupa Fase F (Kelas 11-12) diharapkan siswa mampu melihat keterhubungan dan berkolaborasi dengan bidang keilmuan lain atau masyarakat. Fase F, masuk ke dalam Masa Penentuan (Period of Decision) dimana kepercayaan diri telah tumbuh. Fase ini ditandai dengan kemampuan siswa dalam menganalisa dan mengevaluasi sebuah pesan, gagasan, medium dan penggunaan unsur-unsur rupa secara efektif.

Kesadaran siswa terhadap keterlibatan seni dalam segala aspek kehidupan diharapkan mulai tumbuh pada fase ini.

Di akhir fase F, siswa diharapkan memiliki nalar kritis, menghasilkan atau mengembangkan gagasan dalam proses kreatif dalam merespon keterkaitan diri dan lingkungannya secara mandiri dan/atau berkelompok. Dalam proses kreatif tersebut, siswa sudah dapat menentukan bahan, alat, teknik, teknologi dan prosedur yang sesuai dengan tujuan karyanya. Siswa juga diharapkan sudah dapat bekerja secara produktif, inventif atau inovatif baik secara mandiri maupun berkelompok. Selain itu, siswa juga dapat menyampaikan pesan dan gagasan secara lisan dan/atau tertulis tentang karya seni rupa berdasarkan

(2)

pada pengamatan dan pengalamannya terhadap sebuah karya dengan efektif, runut, terperinci dan menggunakan kosa kata seni rupa yang tepat.

Tujuan

Pembelajaran

RUP.F.BBG.11.4.

Mencipta karya seni dengan menggunakan inspirasi gaya yang dipelajari dari seniman terdahulu.

Menyusun konsep karya seni rupa: pesan yang ingin disampaikan dan gaya pilihan yang diciptakan oleh seniman yang terkenal (maestro) pada masanya melalui kegiatan berkarya seni dua atau tiga dimensi

Membuat karya dua atau tiga dimensi dengan konsep yang sudah disusun untuk mencipta karya yang merespon isu sosial dari lingkungan terdekat dengan peserta didik

Kata Kunci eksperimen, geometris, biomorphis, unsur-unsur seni rupa Keterkaitan

dengan mata pelajaran lain

Matematika, sosiologi

Deskripsi umum kegiatan

1) Mengamati unsur-unsur seni rupa pada bidang datar geometris

2) Menghubungkan hasil pengamatan unsur seni (bidang, garis dan warna) dengan pengetahuan di bidang keilmuan lain (matematika)

3) Mengidentifikasi unsur-unsur seni rupa (titik, garis, bidang, warna, pola dan corak) yang terdapat pada

4) Mencari alasan logis perkembangan gaya seni modern dari seniman berdasarkan urutan tahun sejarah

Materi ajar, alat, dan bahan

Buku mata pelajaran matematika Bab: sudut dan bidang

Buku gambar A4 Rp 10,000

Busur, jangka, penggaris Rp 95,000 Pewarna buatan/Tinta Cina/Drawing Pen

*alternatif pewarna yang telah dimiliki siswa: pensil warna, cat Air

Rp 50,000

Jika siswa telah memiliki alat pewarna maka hitungan ini tidak termasuk

Total Perkiraan pengeluaran Rp 165,000 Sarana Prasarana Pembelajaran tatap muka:

(3)

1) LCD, Laptop, Papan tulis, Alat Peraga, Google form 2) Jaringan Internet

DETAIL KEGIATAN SENI RUPA MATEMATIKA:

GAMBAR MISTAR ORNAMEN Model Pembelajaran:

Kegiatan ini dapat dilakukan dengan:

● Pembelajaran tatap muka

Pertanyaan Inti:

Bagaimana keputusan kita dalam memilih bentuk dan warna dapat mempengaruhi hasil akhir sebuah gambar?

Bagaimana memadukan karya seni yang bebas dengan konsep matematis?

Metode Pembelajaran 2 Pertemuan | 180 menit ceramah, diskusi,

performa:

eksplorasi bidang geometris dengan pengukuran akurat

Pertemuan ke 1 | 2 JP | @45 menit Proses Log-in (10 menit)

● Jika kegiatan dilakukan dengan Pembelajaran tatap muka maka proses login siswa diarahkan menuju link pembelajaran/tampilan LCD proyektor

Ceramah dan Diskusi (30 menit)

1. Pembelajaran dibuka dengan pertanyaan:

a. Bagaimana matematika dapat digunakan dalam karya seni?

b. Siapakah seniman-seniman yang berkarya dengan pendekatan matematis?

2. Siswa berdiskusi dengan berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan secara publik dan saling menanggapi jawaban sesama siswa yang lain.

3. Guru menampilkan seniman dengan karya seni yang menggunakan penyusunan bidang-bidang geometris dan membantu meluruskan penjabaran siswa.

4. Peserta didik menyimak video dengan link berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=qsd41B5WMFw

Kegiatan Inti: Eksplorasi Bentuk dan bidang geometris (50 menit) 5. Guru membagikan kertas

6. Siswa menyiapkan pensil, busur, penggaris, dan jangka

7. Guru memberikan perintah untuk menggambar sesuai dengan urutan sbb:

Asesmen

● Asesmen Individu

● Performa: hasil akhir gambar siswa.

Materi ajar, alat, dan bahan

1. Disiapkan oleh guru:Power point presentasi lukisan dengan bidang geometris 2. Disiapkan oleh

siswa:

●pewarna buatan (crayon, pensil warna, cat),

●Kertas gambar A3

●tinta/ bolpoin,

(4)

a. sudut yang berurutan dari sudut lancip hingga sudut tumpul b. lingkaran dengan diameter >15 cm dan <15 cm menggunakan

jangka

c. lingkaran besar tanpa menggunakan jangka d. lingkaran kecil tanpa menggunakan jangka e. garis tebal berbeda ukuran panjang

f. garis tipis berbeda ukuran panjang

8. Siswa mengeksplorasi bidang-bidang geometris dengan mencatat setiap sudut dari bidang geometris yang digunakan pada lembar terpisah

9. Siswa menebali garis dan bidang dengan tinta atau spidol Pertemuan ke 2 | 2 JP | @45 menit

Eksekusi Karya Akhir (50 menit)

10.Siswa mewarnai hasil gambar dari pertemuan sebelumnya dengan menggunakan pewarna buatan yang telah mereka persiapkan sendiri.

11. Guru dapat menyalakan playlist lagu-lagu yang biasa didengar oleh Wassily Kandinsky saat melukis melalui kumpulan lagu pada tautan berikut:https://www.youtube.com/watch?v=4nZ_qkeffY4

https://www.youtube.com/watch?v=4nZ_qkeffY4

Penutup (40 menit)

12. Siswa mempresentasikan karya masing-masing dan menjelaskan alasan

13. Siswa mengapresiasi karya siswa lain dengan berusaha membuat komentar terbaik yang saling membangun

14. Guru menutup kegiatan akhir pada pertemuan kedua dengan menjelaskan rangkuman dan ceritaflashbackkegiatan.

●alat ukur

(penggaris, busur, jangka)

Rp 25,000 Sarana Prasarana Tatap Muka:

1) Ruang Kelas

Pembelajaran tatap muka:

1) link

pembelajaran/tampilan LCD proyektor & Media sosial yang relefan 2) Jaringan Internet

Diferensiasi:

TIDAK ADA

Refleksi Kegiatan

Guru

a) Apakah proses pembelajaran sesuai dengan ekspektasi visual kegiatan?

(*tertera pada table di atas)

b) Apakah siswa dapat berdiskusi secara aktif? Jika tidak, apa yang mungkin dapat menstimulus siswa agar dapat berpartisipasi aktif dalam diskusi?

c) Apakah lembar kerja siswa cukup membantu siswa mengidentifikasi bentuk-bentuk visual yang geometris?

Siswa

a) Apakah pembelajaran ini membantumu memahami keindahan bentuk-bentuk geometris?

(5)

b) Apakah pembelajaran ini membantumu lebih percaya diri untuk melakukan eksperimen dengan bidang dan warna?

c) Menurutmu, bagaimana pelajaran ini memiliki sisi menyenangkan dan apa bagian yang kurang menyenangkan dari pembelajaran ini?

Kriteria Pencapaian Tujuan

Pembelajaran

Deskripsi kriteria Rentang Nilai

Belum Mencapai Standar

● Siswa tidak responsive di dalam kelas dan bersifat pasif

● SIswa tidak mengerjakan dan tidak mau mencoba

Guru menyesuaikan sendiri angka numerik yang diinginkan.

Menuju Standar ● Siswa tidak memunculkan gambar dengan bidang-bidang geometris namun sudah memunculkan pengorganisasian warna

Sesuai Standar ● Siswa memunculkan satu hingga dua jenis bidang geometris

● Siswa dapat menampilkan pencampuran warna Melampaui

Standar

● Siswa menyelesaikan gambar

● Siswa memunculkan bidang-bidang geometris secara beragam

● Siswa menampilkan gradasi warna dalam gambar Menuju Standar

Contoh gambar organisasi garis dan warna yang bukan

organisasi bentuk geometris.

Sumber:

Gambar Peserta didik Cassie Stephens pada laman Instagram cassie_stephenz

Sesuai Standar

Contoh gambar yang memiliki elemen bentuk geometris dan pemecahan warna yang cukup kompleks

Sumber:

Melampaui Standar

Contoh gambar yang telah memiliki kesempurnaan tingkat tin

ggi Sumber:

Inge N, pada workshop penciptaan karya lukis geometris

pada

kreadingen(dot)blogspot

(6)

Unggahan Miriam Paternoster – Guru Seni Sekolah Menengah di Itali. Pada arteascuola (dot) com

Glossarium

seni Modern Jenis gaya seni yang dihasilkan pada rentang waktu 1860 hingga 1970an Bentuk

geometrik

Bentuk-bentuk bidang tertentu yang terukur dan dapat didefinisikan (segitiga, kotak, lingkaran, trapesium, jajar genjang, dll)

akurat Terukur secara tepat

sistematis teratur menurut sistem tertentu Lukisan

abstrak

Lukisan yang menggambarkan bentuk bentuk yang tidak berwujud, non figuratif, niskala, non representatif

Ekspektasi visual karya akhir kegiatan

Sumber gambar: Foto karya ornamen geometris pada kreadingen(dot)blogspot

Referensi Bahan Bacaan Guru

Artikel online:

Wijaya, Hani.,2013,Wassily Kandinsky: Seni Modern Dan Teori dalam HUMANIORAVol.4 No.1 April 2013: 348-356, tersedia di

https://docplayer.info/31536906-Wassily-kandinsky-seni-modern-dan-teori.html

(7)

Bahan Bacaan Siswa

Buku:

Kandinsky, Wassily. Concerning the spiritual in art. Courier Corporation, 2012.

Video:https://www.youtube.com/watch?v=qsd41B5WMFw Materi

Pengayaan

TIDAK ADA

Perangkat ajar hanya untuk siswa regular/tipikal Materi Siswa

Inklusi

TIDAK ADA

Perangkat ajar hanya untuk siswa regular/tipikal Daftar

Pustaka

Sari, N.P., 2020, Oktober. Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik Berbasis Steam di Sekolah Dasar. DalamPROSIDING SEMINAR DAN DISKUSI PENDIDIKAN DASAR.

Lampiran printout

1. lembar cetak lukisan-lukisan Wassily Kandinsky 2. Materi dasar gambar mistar ornamen

(8)

Lampiran 1

Swinging, 1925. Wassily Kandinsky.

Sumber: King and McGaw (dot) com, est. 1982.

(9)

Abstract Interpretation, 1925, Wassily Kandinsky.

Sumber: Koleksi Yale University Art Gallery Connecticut, USA.

(10)

Lampiran 2

Menggambar Teknik Mistar

1. PENGERTIAN MENGGAMBAR MISTAR

Menggambar mistar sebenarnya hampir mirip dengan menggambar bentuk. Menggambar bentuk adalah menggambar kemiripan bentuk/model suatu benda dengan menggunakan keterampilan tangan (tanpa bantuan mistar), ukuran-ukuran perbandingan dari benda yang kita gambar hanya dibuat berdasarkan perkiraan kemampuan pengamatan.

Sedangkan menggambar mistar adalah menggambar ketepatan bentuk suatu benda dengan menggunakan penggaris (mistar) dan alat bantu lainnya seperti jangka, trekpen, rapido, dll.

Perbandingan ukuran skala sangat diperhatikan dalam menggambar mistar, selain itu juga harus memperhatikan ketepatan ketebalan garis, kerataan garis dan juga sambungan atau hubungan garis.

Dengan demikian gambar mistar dapat diartikanmembuat suatu gambar baik berupa hiasan atau bangun-bangun geometris melalui konstruksi matematis dengan bantuan mistar.

2. FUNGSI DAN TUJUAN MENGGAMBAR MISTAR

Berdasarkan fungsinya, menggambar mistar juga sering disebut dengan menggambar teknik, menggambar konstruksi, atau gambar kerja, hal itu karena gambar mistar memiliki fungsi atau tujuan untuk :

a) Membuat hiasan berupa bangun-bangun geometris yang banyak digunakan dalam kegiatan perancangan tekstil dan tata ruang.

b) Sebagai gambar kerja yang dapat menjelaskan bagian-bagian konstruksi dari suatu bangun atau benda secara terperinci , misalnya gambar konstruksi bangunan, rancangan furniture, rancangan mesin, dan sebagainya.

c) Sebagai gambar penjelasan dari wujud suatu benda atau bangun dengan perbandingan ukuran yang akurat sehingga mendekati wujud yang sebenarnya.

3. MEDIA MENGGAMBAR MISTAR

Media yang diperlukan dalam menggambar mistar dalah sebagai berikut:

a) Kertas

Kertas yang digunakan biasanya kertas gambar putih atau kertas kalkir. Ukuran-ukuran atau format kertas yang lazim dipakai adalah sebagai berikut:

KERTAS GAMBAR/KALKIR

Ukuran Satuan dalam mm

A0 A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7

841 x 1189 594 x 841 420 x 594 297 x 420 210 x 297 148 x 210 105 x 148 74 x 105

(11)

b) Penggaris (mistar)

Penggaris yang paling sering diperlukan dalam menggambar mistar adalah sepasang penggaris segi-tiga yang terdiri dari segi-tiga siku sama sisi dengan masing-masing sudut miringnya 450 dan pengaris segi-tiga siku dengan masing-masing sudut miringnya 300dan 600. Selain itu diperlukan juga penggaris dengan tepi atau sisi miring, siku, atau sisi lebih tipis dari tengah mistar. Penggaris ini diperlukan untuk menggambar garis dengan rapido atau trekpen agar tidak terjadi rembesan tinta.

c) Pinsil, rapido dan trekpen

a. Pensil yang baik untuk menggambar mistar ialah : H untuk kertas gambar putih dan 2H untuk kertas kalkir.

b. Rapido, adalah alat tulis/gambar bertinta. Rapido tersedia ukuran dari 0,1 mm sampai 1,2 mm. Agar lebih praktis biasanya memakai drawing pen

c. Trekpen merupakan perlengkapan jangka yang gunanya sama dengan rapido. Trekpen dapat diatur penggunaan tebal-tipisnya tinta sesuai dengan keperluan. Hanya saja dalam menggunakan alat ini harus lebih hati-hati karena riskan terhadap rembesan tinta. Tetapi kalau mampu menguasai terkpen tersebut maka hasil gambarnya lebih rapi.

d) Jangka

Selain digunakan untuk membuat garis lingkaran, jangka juga dapat digunakan untuk membagi sudut, memindahkan panjang garis tertentu dan sebagainya. Jangka yang baik memiliki bagian-bagian yang dapat diatur/distel sesuai dengan keperluan penggambaran dan juga dengan jarum penusuk yang kecil dan runcing.

4. JENIS-JENIS GAMBAR MISTAR

Menggambar ornamen mistar atau dalam istilah kesenirupaan sering disebut juga Menggambar Mistar Ornamen (MMO) merupakan kegiatan menggambar ornamen atau ragam hias dengan menggunakan alat bantu mistar atau penggaris. Selain itu digunakan pula alat bantu berupa jangka, penggaris segitiga (segitiga siku-siku yang mempunyai sudut 90, 60, 45, dan 30 derajat)., mal, trekpen, rapido (dapat pula menggunakan drawing pen) yang memiliki ukuran ketebalan garis yang tepat, maupun alat bantu lainnya guna mempermudah pengerjaan gambar.

Dalam perkembangannya, gambar ornamen mistar saat ini banyak dibuat dengan teknik digital melalui beberapa program yang ada dalam komputer seperti program CorellDraw, Paint, Autocad, dan lain-lain. Akan tetapi proses pembuatan secara manual tetap diperlukan karena tidak semua motif atau jenis gambar ornamen mistar dapat ditempuh melalui komputer.

Dalam menggambar ornamen mistar dituntut ketelitian menggunakan teknik yang benar dan ukuran-ukuran yang tepat karena gambar seperti ini merupakan bagian dari menggambar teknik, seperti gambar arsitektur (interior maupun eksterior). Dengan kata lain, menggambar ornamen mistar merupakan langkah awal untuk belajar gambar teknik seperti gambar proyeksi dalam desain arsitektur.

Gambar ornamen mistar banyak diterapkan pada desain interior seperti desain tegel keramik, desain plafon, kaca hias, desain teralis sebuah pagar atau jendela, wallpaper, dan

(12)

lain-lain. Motif yang dipakai dlam gambar ornamen mistar banyak dikembangkan dari bentuk-bentuk geometris seperti, lingkaran, segitiga, segiempat, segilima, segienam dan seterusnya. Namun, dapat pula menggunakan motif lain, asalkan proses pembuatannya tetap menggunakan alat bantu mistar.

Desain tegel keramik

Gambar teralis

Berikut ini akan dijelaskan teknik menggambar bentuk-bentuk dasar geometris yang dapat dikembangkan menjadi motif gambar ornamen mistar:

1) Membuat garis diagonal

● Buat garis vertical dan horizontal

● Pindahkan jarum jangka ke A dan D sehingga pertemuan garis lengkung keduanya di titik E

● Pindahkan jarum jangka ke B dan D sehingga pertemuan garis lengkung keduanya di titik G

(13)

● Tarik garis EF dan GH melalui titik pusat lingkaran

2) Segitiga dalam lingkaran

· Buat lingkaran dan garis vertical horizontal

● Pindahkan jarum jangka di C dan buatlah garis lengkung HF

● Tarik garis DHF

(14)

3) Segiempat miring

● Buat lingkaran dan garis vertical horizontal

● Tarik garis ACBD 4) Segiempat tegak

● Buat lingkaran dan garis vertical horizontal serta garis diagonal

● Tarik garis EGFH

(15)

5) Segilima

● Buat lingkaran dan garis vertical horizontal

● Buat lingkaran kecil pada setengah lingkaran

● Tarik garis lengkung H ke F dengan jarum jangka di C

● Panjang garis HF adalah panjang sisi semua segi lima 6) Segienam

● Buat lingkaran dan garis vertical horizontal

● Jarum jangka di C dan tariklah garis lengkung H ke F

● Jarum jangka di D dan tariklah garis lengkung E ke G

● Tari garis EDGFCH

7) Segitujuh

● Buat lingkaran dan garis vertical horizontal

● Garis vertical AB dibagi tujuh sama panjang

● Buat garis lengkung dari A ke C dengan jarum jangka di B

● Buat garis lengkung dari B ke C dengan jarum jangka di A

● Tarik garis CD melalui titik pembagian ke-2

● Garis AD adalah panjang sisi semua segi tujuh

(16)

8) Segidelapan

● Buat lingkaran, garis vertical horizontal dan garis diagonal

● Tarik garis AEDGBFCH 9) Segisembilan

● Buat lingkaran dan garis vertical horizontal

● Garis vertical AB dibagi sembilan sama panjang

● Buat garis lengkung dari A ke C dengan jarum jangka di B

● Buat garis lengkung dari B ke C dengan jarum jangka di A

● Tarik garis CD melalui titik pembagian ke-2

● Garis AD adalah panjang sisi semua segi tujuh 10) Segiduabelas

● Buat lingkaran dan garis vertical horizontal

● Buat garis lengkung melalui pusat lingkaran dengan ujung jarum masing-masing di ADBC

● Tarik garis AEJDIGBFLCKH

(17)

11) Elips dua lingkaran

· Buat dua lingkaran yang sama besar dan saling melalui titik tengahnya serta buat garis horizontal GH

● Tarik garis AC, BE, AD, BF

● Tarik garis lengkung dari C ke D dengan jarum jangka di A

● Tarik garis lengkung dari E ke F dengan jarum jangka di B 12) Ellips tiga lingkaran

● Buat tiga lingkaran yang sama besar dan saling melalui titik tengahnya serta buat garis horizontal

● Tarik garis AG, BH, CI, DJ dan garis vertical EF

● Tarik garis lengkung dari G ke H dengan jarum jangka di F

● Tarik garis lengkung dari I ke J dengan jarum jangka di E

(18)

13) Bulat telur

● Buat lingkaran dan garis vertical horizontal

● Tarik garis silang AE dan BD melalui C

● Buat garis lengkung dari A ke D denganjarumjangka di B

● Buat garis lengkung dari B ke E dengan jarum jangka di A

● Buat garis lengkung dari D ke E dengan jarum jangka di C

Contoh penerapan gambar mistar

(19)

GAMBAR ORNAMEN

MATERI PENGETAHUAN

Konsep, unsur, prinsip, bahan dan teknik dalam berkarya seni rupa dua dimensi berupa Menggambar Ornamen:

1. Pengertian Gambar Ornamen 2. Fungsi Gambar Ornamen Pengertian Gambar Ornamen

Ornamen berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata ‘’ornare’’ yang artinya hiasan atau perhiasan. Ornamen atau ragam hias itu sendiri terdiri berbagai jenis motif dan motif-motifnya digunakan sebagai penghias sesuatu yang ingin kita hiasi oleh karena itu motif adalah dasar untuk menghias suatu ornamen. Pada mulanya ornamen tersebut berupa garis lurus, garis patah, garis miring, garis sejajar, garis lengkung, dan sebagainya yang kemudian berkembang menjadi bermacam-macam bentuk yang beraneka ragam coraknya. Dalam penggunaanya ornamen tersebut ada yang hanya satu motif atau dua motif yang digayakan.

Menurut Gustami (1978), Ornamen adalah komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan. Jadi, berdasarkan pengertian itu, ornamen merupakan penerapan hiasan pada suatu produk. Bentuk-bentuk hiasan yang menjadi ornamen tersebut fungsi utamanya adalah untuk memperindah benda produk atau barang yang dihias. Benda produk tasi mungkin sudah indah, tetapi setelah ditambahkan ornamen padanya diharapkan m,enjadikannya semakin indah.

Dalam Ensiklopedia Indonesia (ps. 1017). Ornamen adalah setiap hiasan bergaya geometrik atau bergaya lain, ornamen dibuat pada suatu bentuk dasar dari suatu hasil kerajinan tangan (perabotan, pakaian dan sebagainya) termasuk arsitektur. Dari pengertian tersebut jelas menempatkan ornamen sebagai karya seni yang dibuat untuk diabdikan atau mendukung maksud tertentu dari suatu produk, tepatnya untuk menambah nilai estetis dari suatu benda/produk yang akhirnya pula akan menambah nilai finansial dari benda atau produk tersebut. Dalam hal ini ada ornamen yang bersifat pasif dan aktif. Pasif maksudnya ornamen tersebut hanya berfungsi menghias, tidak ada kaitanya dengan hal lain seperti ikut mendukung konstruksi atau kekuatan suatu benda. Sedangkan ornamen berfungsi aktif maksudnya selain untuk menghias suatu benda juga mendukung hal lain pada benda tersebut misalnya ikut menentukan kekuatanya (kaki kursi motif belalai gajah/motif kaki elang)

Pendapat lain menyebutkan bahwa : Ornamen adalah pola hias yang dibuat dengan digambar, dipahat, dan dicetak, untuk mendukung meningkatnya kualitas dan nilai pada suatu benda atau karya seni. Ornamen juga merupakan perihal yang akan menyertai bidang gambar (lukisan atau jenis karya lainnya) sebagai bagian dari struktur yang ada didalam. (Susanto, 2003, dalam Seriyoga Parta). Pendapat ini agak luas, ornamen tidak hanya dimanfaatkan untuk menghias suatu benda/produk fungsional tapi juga sebagai elemen penting dalam karya seni (lukisan, patung, grafis), sedangkan teknik visualisasinya tidak hanya digambar seperti yang kita kenal selama ini, tapi juga dipahat, dan dicetak.

Fungsi Gambar Ornamen

(20)

Dalam perkembangan selanjutnya, penciptaan karya seni ornamen tidak hanya dimaksudkan untuk mendukung keindahan suatu benda, tapi dengan semangat kreativitas seniman mulai membuat karya ornamen sebagai karya seni yang berdiri sendiri, tanpa harus menumpang atau mengabdi pada kepentingan lain. Karya semacam ini dikenal dengan seni dekoratif (lukisan atau karya lain yang mengandalkan hiasan sebagai unsur utama).

Ornamen merupakan salah satu seni hias yang paling dekat dengan kriya apalagi jika dikaitkan dengan berbagai hasil produknya, oleh karena itu untuk membuat dan mengembangkan atau merintis suatu keahlian pada bidang kriya peranan ornamen menjadi sangat penting. Disamping itu dalam hal hias-menghias, merupakan salah satu tradisi di Indonesia yang tidak kalah pentingnya dan tidak dapat dipisahkan dengan cabang-cabang seni rupa lainnya. Peranan ornamen sangat besar, hal ini dapat dilihat dalam penerapannya pada berbagai hal meliputi: bidang arsitektur, alat-alat upacara, alat angkutan, benda souvenir, perabot rumah tangga, pakaian dan sebagainya, untuk memenuhi berbagai aspek kehidupan baik jasmaniah maupun rokhaniah.

Untuk mempelajari dan menghayati bentuk serta arti seni ornamen, terlebih sampai pada sejarah, makna simbolis, gaya, jenis, cara pengungkapan, fungsi atau penerapannya pada suatu benda atau bangunan dan lain-lain, diperlukan suatu pengetahuan serta kemahiran (skill) tertentu dan waktu yang panjang, mengingat seni ornamen mempunyai berbagai aspek seperti:

jenis motif, corak, perwatakan, nilai, teknik penggambaran, dan penerapan yang berbeda-beda.

Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk mempelajari, mengerti, menghayati, dan menciptakannya secara baik dengan bertahap, bila didukung oleh kemauan dan rasa ingin tahu yang kuat.

Pada dasarnya jenis motif biasa disebut motif hias, terdiri dari : 1) motif geometris, yang terdiri dari garis lurus, garis patah, garis sejajar, lingkaran dan sebagainya, dan 2) motif naturalis, berupa tumbuh-tumbuhan dan binatang (hewan) dan sebagainya. Ornamen juga berarti “dekorasi” atau hiasan, sehingga ornamen sering disebut sebagai disain dekoratif atau disain ragam hias. Apakah kehadiran suatu ornamen pada suatu benda produk akan menjadikannya indah atau tidak, hal ini merupakan persoalan lain. Mungkin saja karena ornamen yang diterapkannya kurang tepat atau terkadang sebuah bentuk benda produk sudah menarik dan tidak memerlukan ornamen, sehingga apabila ditambahkan hiasan padanya, keindahan bentuknya tertutupi atau bahkan dapat mengacaukannya.

Sebuah gong dari Jawa umpamanya, ternyata lebih menarik tanpa ornamen, meskipun dalam benda kerajinan perak atau logam lainnya dari Jawa dapat diberi ornamen yang rumit, Van Der Hoop (1949), dalam Sunaryo (2009) adalah produk-produk kerajinan misalnya peralatan rumah tangga, tembikar atau keramik, busana dan tekstil, perabot, sampai komponen-komponen arsitektur. Ornamen tersebut untuk menghias suatu bidang atau benda,sehingga benda tersebut menjadi indah. Contoh hiasan kulit, buku, piagam, kain batik, vas bunga, dll.

Jadi fungsi gambar ornamen, adalah: 1) sebagai ragam hias murni, maksudnya bentuk-bentuk ragam hias yang dibuat hanya untuk menghias saja demi keindahan suatu bentuk (benda ) atau bangunan, dimana ornamen tersebut ditempatkan. Penerapannya biasanya pada alat-alat rumah tangga, arsitektur, pada pakaian (batik, bordir, kerawang) pada alat transportasi dan sebagainya, dan 2) sebagai ragam hias simbolis, maksudnya karya ornamen yang dibuat selain mempunyai fungsi sebagai penghias suatu benda juga memiliki nilai simbolis tertentu di dalamnya, menurut norma-norma tertentu (adat, agama, sistem sosial

(21)

lainnya). Bentuk, motif dan penempatannya sangat ditentukan oleh norma-norma tersebut terutama norma agama yang harus ditaati, untuk menghindari timbulnya salah pengertian akan makna atau nilai simbolis yang terkandung didalamnya, oleh sebab itu pengerjaan suatu ornamen simbolis hendaknya menepati aturan-aturan yang ditentukan. Contoh ragam hias ini misalnya motif kaligrafi, motif pohon hayat sebagai lambang kehidupan, motif burung phonik sebagai lambang keabadian, motif padma, swastika,lamak dan sebagainya.

MATERI PRINSIP

Prinsip dan Perkembangan dalam berkarya Gambar Ornamen

Berdasarkan periode dan ciri-ciri yang ditampilkan, karya seni ornamen memiliki beberapa corak berdasarkan perkembangannya, yaitu:

1. Ornamen Primitif, yaitu karya seni ornamen yang diciptakan pada zaman purba atau zaman primitif.

Ciri-ciri umum dari seni ornamen primitif, adalah: a) sederhana, tegas, kaku, cenderung bermotif geometris, goresan spontan, biasanya mengandung makna simbolik tertentu, b) komposisi yang diterapkan biasanya berderet, sepotong-sepotong, berulang, berselang-seling, dan sering juga dijumpai penyusunan secara terpadu. Karya seni primitif memberi gambaran kesederhanaan dan gambaran perilaku masyarakat pada zaman itu. Seni primitif bersifat universal karena ciri-ciri umumnya adalah sama diseluruh dunia.

2. Ornamen klasik adalah hasil karya seni ornamen yang telah mencapai puncak-puncak perkembangannya atau telah mencapai tataran estetis tertinggi, sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. Ia telah mempunyai bentuk dan pakem yang standard, struktur motif dan pola yang tetap, memiliki susunan, irama yang telah baku dan sulit untuk dirobah dalam bentuk yang lain, dan yang terpenting telah diterima eksistensinya tanpa mengalami perubahan lagi. Contohnya ornamen Majapahit, Pajajaran, Jepara, Bali, Surakarta, Madura, mataram dan lain-lain. Seni klasik bersifat kedaerahan karenanya masing-masing daerah memiliki ragam hias klasik dengan corak dan ciri-ciri tersendiri.

3. Ornamen Tradisional yaitu ragam hias yang berkembang ditengah-tengah masyarakat secara turun-temurun, dan tetap digemari dan dilestarikan sebagai sesuatu yang dapat memberi manfaat (keindahan) bagi kehidupan, dari masa ke masa. Ornamen tradisonal mungkin berasal dari seni klasik atau seni primitif, namun setelah mendapat pengolahan-pengolahan tertentu, dilestarikan kemanfaatannya demi memenuhi kebutuhan, khususnya dalam hal kebutuhan estetis. Oleh sebab itu corak seni ornamen tradisional merupakan pembauran dari seni klasik dan primitif. Hasil atau wujud dari pembauran tersebut tergantung dari sumber mana yang lebih kuat yang akan memberi kesan/corak yang lebih dominan. Misalnya motif tradisonal Majapahit, Bali, Jogyakarta, Pekalongan beberapa daerah lainnya lebih dominan bersumber pada corak motif klasik, sedangkan motif tradisional Irian jaya, toraja, motif suku dayak dan motif Kalimantan corak primitifnya lebih menonjol. Ornamen tradisonal bersifat kolektif.

4. Ornamen modern atau Kontemporer yaitu karya seni ornamen yang merupakan hasil kreasi atau ciptaan seniman yang baru dan lepas dari kaidah-kaidah tradisi, klasik atau primitif. Ornamen ini bersifat individu. Proses dan terciptanya seni ornamen modern terkadang bertolak atau mengambil inspirasi dari seni primitif atau tradisional atau

(22)

merupakan hasil inovasi/kreativitas seniman secara pribadi, sehingga karya yang tercipta merupakan cerminan pribadi senimannya.

Adanya berbagai corak dalam seni ornamen bukan berarti antara corak yang satu dengan yang lainnya mempunyai nilai estetis atau nilai kegunaan lebih tinggi atau lebih rendah, karena masing-masing corak memiliki keunggulan karakter, ciri, dan nilai estetika tersendiri, perbedaan corak tersebut hanya berdasarkan pada periode perkembangan, tampilan fisik, dan sifat penciptaannya. Sedangkan menyangkut kegunaan dan nilai estetis pada dasarnya adalah sama. Adanya anggapan bahwa suatu corak lebih baik dari corak lainnya semata-mata karena selera individu.

MATERI PROSEDUR

Motif hias pada Gambar Ornamen yang terdiri dari flora, fauna, poligonal, geometris, dan figuratif.

1. Flora

Ragam Hias ini menggunakan bentuk Flora sebagai objeknya. Pembuatan ragam hias ini juga dilakukan dengan macam macam cara salah satunya juga tentu natural. Selain itu, ragam hias flora ini cukup populer di indonesia dan merupakan salah satu ragam hias yang bisa anda temukan di seluruh indonesia. Motif ini juga biasanya dijumpai pada barang seni seperti tenunan, ukiran, bordir dan tentunya batik. Biasanya menggunakan bentuk seperti daun, akar, bunga, biji, tunas, ranting, buah atau pohonnya.

2. Fauna

Ragam Hias Fauna merupakan suatu ragam yang memilih objek seekor Fauna (hewan) sebagai ragam hiasnya. Pembuatan fauna dalam ornamen ini juga merupakan stilasi tidak seperti binatang yang natural tapi tetap hasilnya dapat dikenali bentuk dan jenisnya. Visualisasinya juga dikombinasikan dengan motif lain agar tidak sepenuh bentuknya Fauna (hewan). Biasanya juga jenis dari Faunanya Singa, Ular, Gajah dan Burung.

Ragam hias ini sudah mengalami perubahan tapi tetap tidak meninggalkan bentuk awalnya. Ragam hias ini biasanya digabungkan dengan motif flora. Nah, motif ragam ini biasanya dapat dilihat pada karya batik, sulaman, tenunan, anyaman ataupun ukiran dengan ini juga bisa memperkenalkan fauna fauna yang ada di indonesia timur seperti burung cendrawasih dari papua, gajah dari lampung dan komodo dari Nusa Tenggara Timur.

3. Geometris

Motif Ragam ini merupakan motif yang dikembangkan dari suatu bentuk geometris lalu di sesuaikan dengan keinginan dan imajinasi pembuatnya. Ragam ini merupakan ragam yang paling awal. Motif geometris ini awal mulanya berkembang dari teknik pembentukan garis, titik atau bidang dari yang sederhana sampai dengan pola yang rumit. Motif ini juga tersebar di seluruh wilayah indonesia seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua dan Sulawesi. Motif ini juga memanfaatkan unsur seperti lingkaran, segitiga, segiempat, garis lurus, garis lengkung dan sejenisnya. Ragam ini juga dibuat dengan menggunakan berbagai macam teknik seperti digambar, dipahat dan dicetak.

4. Poligonal

Motif ragam hias poligonal ini adalah sebuah bentuk yang tersusun seperti sebuah pola hias dan juga terbentuk dari susunan garis lurus yang saling terhubung lalu menyatu dalam bentuknya. Bentuk ini juga memiliki batas yang berwujud Triangle (segi tiga), Tetragon (segi empat), Hexagon (segi enam), Pentagon (segi lima). Ragam hias poligonal merupakan sebuah susunan yang berupa pola hias, menggunakan motif hias dalam bentuk dasar

(23)

susunan garis lurus yang saling terhubung antara satu sama lain sehingga terjalin rangkaian yang menyatu serta mempunyai sudut dalam bentuk datar. Poligonal didasari dari sifat yang ditentukan oleh batas garis luarnya atau biasa disebut convex. Nah, fungsi ragam ini biasanya dibuat untuk suatu petunjuk bagi para arkeolog.

5. Figuratif

Ragam hias figuratif adalah suatu ragam yang objeknya menggunakan manusia dalam gambarnya untuk mendapatkan bentuk. Objek manusia disini juga memiliki beberapa unsur baik secara terpisah. Contoh dari ragam ini seperti topeng yang secara utuh memiliki bentuk dalam pewayangannya. Biasanya ragam hias figuratif ini terdapat di bahan tekstil ataupun pada bahan kayu prosesnya pun dilakukan dengan cara di gambar.

MATERI FAKTA

Teknik dalam membuat Gambar Ornamen, yaitu: teknik menstilasi, distorsi dan deformasi Menggambar ragam hias dapat dilakukan dengan cara:

1. Stilasi (digayakan) = pengurangan, penyederhanaan bentuk atau hanya menyisakan garis luar gambar.

2. Deformasi (penambahan) = penambahan dan perubahan bentuk 3. Distorsi: melebihkanatau menonjolkan bentuk salah satu bagian

Menggambar ragam hias dapat dilakukan dengan cara digayakan (stilasi) yang meliputi penyederhanaan bentuk dan juga perubahan bentuk (deformasi), dan distorsi atau melebihkan.

Gambar Ornamen mengikuti Pola Ragam Hias

Bentuk ragam hias umumnya memiliki pola atau susunan yang diulang-ulang. Ragam hias ini dapat berbentuk pola simetris dan asimetris. Pola simetris yaitu apabila pola ragam hias memiliki bentuk motif yang sama dan diletakkan seimbang antara sisi kiri dan kanannya.

Sedangkan pada pola asimetris motif ragam hias tidak diletakkan di tengah atau motif tidak diletakkan sama antara sebelah kanan dan kiri tetapi masih memiliki keindahan pada komposisinya. Pola ragam hias geometris dapat dilihat pada bentuknya seperti segitiga, segiempat, garis silang, lingkaran dan zigzag.

Pola ragam hias adalah hasil susunan dari suatu aturan tertentu dalam bentuk dan komposisi tertentu. Penempatan pola ragam hias tergantung dari tujuan. Beberapa bentuk pola ragam hias tersebut dapat berupa pola ragam hias tepi, memojok, memusat, bidang beraturan, komposisi, dan pengulangan.

POLA MELINGKAR (LINGKARAN) POLA ORNAMEN BATAS (BERSAMBUNG)

Ragam hias ini memiliki bentuk dasar seperti huruf S, variasi bentuknya adalah SS atau disebut juga pilin ganda. Biasa digunakan sebagai hiasan pinggir dan pengisi bidang.

(24)

PILIN BERGANDA

Motif ini sangat mudah dikenali dengan bentuk dasarnya adalah segitiga sama kaki dan sering diaplikasikan sebagai hiasan bagian pinggir.

TUMPAL

Motif ini merupakan ragam hias yang terdiri dari satu motif saja dan kemudian disusun secara berulang-ulang. Ragam hias ceplokan sering juga disebut sebagai motif kertas tempel.

MOTIF GEOMETRIS

POLA ZIG ZAG POLA SIMETRIS

(25)

POLA MIRING/GARIS MIRING POLA BERSAMBUNGAN

MATERI KETRAMPILAN

Memodifikasi obyek flora, fauna, poligonal, geometris, dan figuratif dengan beragam teknik, yaitu: teknik stilasi, distorsi, dan deformasi.

ORNAMEN / RAGAM HIAS

Ornamen disebut juga Ragam Hias, ini adalah bentuk karya seri rupa yang sudah berkembang sejak zaman prasejarah. Indonesia sendiri yang merupakan negara kepulauan sudah tentu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor mulai dari flora, fauna, lingkungan alam dan manusia yang tinggal di dalamnya. Hasrat ingin menghias menjadi naluri pada manusia, faktor kepercayaan juga ikut mendukung berkembangnya ragam hias ini karena terdapat perlambang dan dalam setiap gambarnya. Ragam hias bisa memiliki makna karena sudah disepakati oleh penggunanya.

Menggambar ragam hias dapat dilakukan dengan cara digayakan (stilasi) yang meliputi penyederhanaan bentuk, perubahan bentuk (deformasi), dan melebihkan atau menonjolkan salah satu bentuk (Distorsi).

Di Indonesia sendiri ragam hias sangat banyak jenisnya bahkan terbagi hingga menjadi lima jenis. Jenis-jenis ragam hias tersebut, adalah:

Ragam hias flora

Ragam hias fauna

Ragam hias figuratif

Raga hias polygonal

Ragam hias geomeris

Motif yang dipakai dalam ragam hias yang ada di Indonesia sendiri banya menggunakan hewan dan tumbuhan. Seperti di daerah Bali, Sumatera, Yogyakarta, Sulawesi, Papua, Jawa, dan Kalimantan.

Ragam Hias Flora

(26)

Ragam hias flora atau tumbuhan menjadi inspirasi serta sumber dari objek motif ragam hias yang hampir sering dijumpai di seluruh pulau yang ada di Indonesia. Ragam hias dengan motif flora ini akan sangat mudah ditemui dalam bentuk barang berupa kain batik, tenunan dan ukiran. Banyak sekali motif yang dari ragam hias flora ini hingga sangat sering kita menjumpainya dalam kehidupan sehari-hari. Tumbuhan menjadi objek utama dalam pembuatan pola dari ragam hias ini tergantuk kepada selera dan imajinasi sang pembuatnya.

Penggambaran ragam hias ini banyak digunakan dalam seni ornamen, dibuatnya dalam berbagai macam bentuk yang lebih natural dalam proses pembuatan visualnya. Contohnya ragam hias pada tumbuhan ini, terkadang yang diambil hanya bagian tertentu saja, tidak semuanya digunakan dalam proses pembuatan ragam hias. Setelah itu baru dikombinasikan dengan model dan kombinasi yang lain. Maka dari situ terciptalah hasil seperti kain batik, anyaman, ukiran, kain tenun, kain border dan anyaman yang sering kita jumpai di berbagai tempat.

Ragam hias flora ini menggunakan tumbuhan sebagai ide dasarnya, jenis tumbuhan yang paling sering digunakan dalam membuat ragam hias flora dan fauna ini tidak terbatas. Banyak sekali tumbuhan yang bisa dijadikan inspirasi dalam membuat ragam hias. Bagian tumbuhan yang biasa menjadi ragam hias yang sering sekali menjadi motif dasar adalah berupa daun, akar, batang, buah dan juga bijinya.

Sumber: kursusjahityogya.blogspot.co.id Sumber: infoana.com Ragam Hias Fauna

Dalam ragam hias fauna, gambar dan motif yang diambil itu terinspirasi dari hewan-hewan tertentu. Biasanya hewan yang sering digunakan untuk ragam hias fauna adalah hewan yang mengalami perubahan bentuk tubuh atau gaya. Contohnya adalah hewan kadal, kupu-kupu, burung, ikan atau juga gajah. Ragam hias fauna telah mengalamideformasi namun tidak juga meninggalkan bentuk aslinya. Saat ini ragam hias fauna sering dikombinasikan dengan ragam hias flora untuk divariasikan agar hasilnya lebih bagus lagi.

Banyak sekali daerah di Indonesia yang menggunakan ragam hewan untuk membuat ragam hias ini. Seperti di daerah Bali, Yogyakarta, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Sama halnya seperti pada ukiran, tenunan, anyaman dan juga pada kain batik. Dalam penggunaanya, motif hias dengan bentuk dasar dari fauna atau hewan ini sebagian besar berupadeformasi.

Hanya menggunakan pada bagian-bagian tertentu saja. Jarang sekali ada pembuatan ragam hias yang menampilkan bentuk asli secara keseluruhan.

(27)

Hingga, pada ragam hias fauna ini pada hasilnya deformasitersebut tidak meninggalkan ciri fisik pada bentuk aslinya, juga bisa di distorsi (melebihkan) bagian hewan dan tumbuhan sebagai pelengkap atau isen-isen belaka.

Sumber: kursusjahityogya.blogspot.co.id

Sumber: adiukirjepara.wordpress.com Sumber:

kursusjahityogya.blogspot.co.id Ragam Hias Geometris

Motif ragam hias geometris ini digunakan sesuai dengan imajinasi dan selera dari sang pembuat. Ragam hias geometris bisa kita jumpai di berbagai daerah di Indonesia dengan mudah. Ragam hias ini bisa juga digabungkan dengan bentuk-bentuk geometris lainnya hingga terciptanya motif ragam yang sangat unik.

Dalam pembuatan dari ragam geometris ini dapat kita jumpai di wilayah Indonesia seperti Jawa, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan juga Papua. Ragam hias geometris ini memiliki bentuk dasar seperti segi tiga, segi empat, lingkaran, layang-layang dan juga garis lainnya yang bisa dibentuk dan juga mempunyai garis geometris

Sumber: sen1budaya.blogspot.co.idRagam Hias Figuratif

(28)

Ragam hias figuratif ini adalah menggunakan objek manusia lalu digayakan (stilasi) dengan sedemikian rupa. Pada umumnya, ragam hias figuratif ini terdapat pada bagian kayu dan juga tekstil yang pembuatannya bisa dilakukan dengan cara menggambar. Selain pada kayu, Ragam hias figuratif ini memang banyak sekali ditemukan pada bahan keras lainnya seperti pada batu atau juga pada bahan teksil.

Cara pembuatan dari raga hias figuratif ini bisa dilakukan dengan cara menggambar, melukis. Pola dasar dari ragam hias ini dikatakan sebagai ragam hias figuratif. Karena pada proses pembuatannya pola dan bentuk dasar motif mengacu pada bentuk figur manusia sebagai kreasinya.

Sumber: Twicsy.com Sumber: Wikimedia.org

Sumber: Setkab.go.id Sumber: Brainly.co.id Ragam Hias Poligonal

Ragam hias poligonal adalah bentuk dari susunan berupa pola yang dihias. Menggunakan motif hias dalam bentuk dasar sebagai susunan dari garis lurus yang saling terhubung satu dengan yang lainnya. Maka dari situ akan terjalin rangkaian yang saling menyatu serta memiliki bentuk yang datar. Poligonal memiliki batas bentuk yang berwujud segi empat, segi tiga, segi enam, segi lima dan lainnya.

Ragam hias poligonal memiliki sifat yang bisa ditentukan dengan garis batas luarnya yang disebut dengan convex polygon. Bila garis luarnya menonjol kearah luar maka bentuknya akan menjadi gemuk. Apabila bentuk garis luarnya melengkung kearah dalam maka disebut juga dengan concave polygon. Guna dari bentuk concave dan convex ini adalah untuk menghasilkan gambar dimensi yang bisa digunakan pada penggabungan dua atau lebih dari bentuk lain.

(29)

Sumber: harmoniiswandi.blogspot.co.id/ Sumber: dwihas06..wordpress.com

Sumber: smp14depok.weebly.com Sumber: subhandepok..wordpress.com

Gambar

GAMBAR MISTAR ORNAMEN Model Pembelajaran:
Gambar Peserta didik Cassie Stephens pada laman Instagram cassie_stephenz
Gambar teralis
Gambar Ornamen mengikuti Pola Ragam Hias

Referensi

Dokumen terkait

Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi Konsep berkarya seni

Guru memberikan pesan moral yang terkait dengan tugas berkarya seni rupa tiga demensi berbantuan limbah an organik yang berfungsi sebagai pot tanaman.. Guru mengecek

- Menyusun karya seni dan mozaik digital diciptakan dengan menyesuaikan mode gambar, resolusi, modifikasi gambar menggunakan filter, memilih mode warna yang sesuai