Di daerah penelitian termasuk dalam pola aliran dendritik (Gambar 4.1) Pola aliran dendritik menurut Van Zuidam, 1985 dengan ciri lapisan batuan sedimen relatif datar dan tahan terhadap pelapukan. Secara wilayah daerah aliran mempunyai kemiringan yang landai, jenis pola aliran membentuk cabang-cabang yang menyebar seperti pohon peneduh. Berdasarkan klasifikasi bentuk lahan menurut Van Zuidam (1983), daerah penelitian dapat dibedakan menjadi 3 bentuk lahan (Gambar 4.2), yaitu bentuk lahan struktural dan bidang.
Bentuk Lahan Struktur Perbukitan Lipat (S9), Secara umum bentuk lahan dilambangkan dengan S9 dan ditandai dengan warna ungu tua pada peta. Bentuk lahan ini memiliki kemiringan agak terjal, topografi agak bergelombang hingga bergelombang kuat, serta elevasi sedang hingga tinggi. Morfografi kawasan ini (Gambar 4.3) dipengaruhi oleh proses tektonik berupa uplift, lipat, dan sesar. Bentuk lahan ini dikendalikan oleh tanah longsor dan erosi yang dipengaruhi oleh iklim, vegetasi dan aktivitas manusia.
Secara umum bentuk lahan ini sebagian besar terdiri dari litologi batulempung dan batupasir Formasi Balikpapan. Satuan ini terungkap dengan menunjukkan ciri-ciri batu gamping dengan warna tulang putih sampai abu-abu, dengan hasil pengamatan pada sampel ukuran tangan megaskopis dan mikroskopis (Gambar 4.6), diketahui struktur masif, tekstur : sortasi sedang, kemasan terbuka, ukuran butir pasir sedang, dengan komposisi. Batupasir yang mengandung silika warnanya bervariasi dari abu-abu tua sampai coklat kemerahan, dengan hasil pengamatan pada sampel ukuran tangan megaskopis dan mikroskopis (Gambar 4.13), diketahui struktur lapisan, tekstur: penyortiran buruk, pengepakan terbuka, ukuran butir pasir kasar – pasir sedang, dengan komposisi bahan semen berupa silika (C6), kuarsa (A1), lempung silika (H1) dan mineral opak (A8) pada Gambar 4.12.
Sedangkan batupasir yang mengandung karbonat mempunyai warna coklat kekuningan Berdasarkan pengamatan pada sampel megaskopis dan mikroskopis (Gambar 4.15), diketahui struktur berlapis mempunyai tekstur yang meliputi: tatanan sedang, kemasan terbuka, berukuran butiran pasir kasar, dengan suatu bahan. komposisi semen karbonat (C3), kuarsa (B1) dan tanah liat karbonat (A9) pada gambar 4.14.
Struktur Geologi Daerah Penelitian
Sambungan ekstensi di daerah penelitian mempunyai arah umum N 345o E (relatif Utara – Selatan), berbeda dengan arah umum sambungan ekstensi yang berarah N 3450 E. Sambungan pelepasan mempunyai arah umum N 75O E ( Barat - Timur) dan mempunyai arah yang sama dengan arah umum sigma 3 yaitu N 188O E (Selatan - Utara).
Sejarah Geologi
Pada fase ketiga, daerah transisi ini mengalami kenaikan permukaan air laut hingga terbentuk lingkungan laut dangkal. Setelah fase ketiga berakhir, proses geologi berlanjut yaitu proses tektonik rezim kompresi yang menghasilkan struktur lipatan sinklin dan antiklin.
Sumber Data Studi Penentuan Zona Rawan Longsor
- Litologi
- Curah Hujan
- Data kemiringan di lapangan
- Tata Guna Lahan
Perlu diketahui bahwa pada Tabel 4.4, data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data yang diambil pada bulan Juli sampai dengan September 2023. Gambar 4.13 menunjukkan grafik naik turunnya curah hujan, dimana tanggal 21 bulan Juli merupakan puncak kenaikan curah hujan dengan nilai 50mm. Berdasarkan data di atas, curah hujan periode Juli – September termasuk dalam kategori curah hujan rendah hingga sedang dengan nilai 70 mm – 129 mm.
Menurut nilai curah hujan untuk melakukan analisis pembobotan termasuk dalam kategori 100-200 mm dengan bobot 1/rendah. Teknik pengolahan datanya dilakukan dari hasil pengumpulan data di lokasi penelitian kemudian dikoordinasikan menurut klasifikasinya (data Van. Kemiringan juga diambil melalui peta topografi daerah penelitian dengan menggunakan potongan untuk menentukan nilai kemiringannya, yang kemudian diperoleh dari hasil perhitungan dalam format peta sebagai berikut.
Daerah yang berwarna hijau tua pada peta lereng (Gambar 4.14) mempunyai kemiringan lereng datar dengan persentase sekitar 0 – 20 dengan luasan datar atau hampir datar, tidak terjadi erosi besar dan lahan pada lereng rendah ini dapat ditanami/dimanfaatkan . Daerah yang berwarna orange mempunyai kemiringan yang cukup curam dengan persentase 80 – 160, daerah dengan kemiringan yang cukup curam mempunyai resiko terjadinya longsor, erosi permukaan dan erosi selokan. Daerah yang berwarna merah muda mempunyai kemiringan lereng yang curam dengan persentase 160 – 350. Daerah dengan kemiringan lereng yang curam rawan terhadap longsor, sering terjadi erosi dan lambatnya pergerakan tanah.
Pada wilayah penelitian hampir 90% wilayahnya merupakan hutan yang ditandai dengan warna hijau pada peta penggunaan lahan (Gambar 4.15), kemudian sekitar 8% digunakan untuk perkebunan dan sisanya digunakan untuk pemukiman. .
Analisis Sebaran Serta Luasan Tingkat Kerentanan Gerakan Tanah Peta kerentanan gerakan tanah di daerah penelitian diperoleh dari hasil
Daerah rawan gerakan massa diklasifikasi berdasarkan tingkat kerentanan masing-masing daerah rawan gerakan massa dengan menggunakan parameter rumus indeks cerita. Hasil pembobotan data lapangan dihitung dengan menggunakan rumus Storie Index (Storie, 1987) dengan menggunakan 4 parameter.
Zonasi Kerawanan Longsor Berdasarkan Hasil Analisa
Zona berpotensi rendah
Zona berwarna hijau pada peta (Gambar 4.16) meliputi wilayah dengan kemiringan antara 00 – 160 dengan litologi mendominasi batupasir, dengan morfologi landai hingga agak bergelombang.
Zona berpotensi sedang
Pada lokasi pengamatan 3 pada gambar diatas (4.22), lokasi ini berada pada lereng yang curam dengan kemiringan 220, dan pada peta kemiringan lokasi pengamatan 3 berada pada lereng yang curam. Sambungan dapat menjadi jalur yang disukai air hujan atau air tanah untuk memasuki lereng, sehingga meningkatkan tekanan air tanah dan mengurangi kekuatan lereng. Lipatan ekstrim atau lipatan yang membentuk zona lemah pada batuan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya tanah longsor.
Pada lokasi pengamatan 4 pada gambar diatas (4.23), lokasi ini berada pada lereng yang curam dengan kemiringan 350, dan pada peta kemiringan lokasi pengamatan 5 berada pada lereng yang curam.
Zona berpotensi tinggi
Pada lokasi pengamatan 1 (Gambar 4.20), lokasi ini mempunyai kemiringan yang curam yaitu dengan kemiringan 480 dan pada peta kemiringan lokasi 1 berada pada tingkat kemiringan yang agak curam. Dari gambar di atas dapat diartikan dari sudut kemiringan dan penggunaan lahan yang relatif dipenuhi hutan. Pada lokasi pengamatan 2 (Gambar 4.21), lokasi ini mempunyai kemiringan yang curam yaitu dengan kemiringan 240, dan pada peta kemiringan lokasi pengamatan 2 berada pada tingkat kemiringan yang curam.
Dari gambar di atas dapat diartikan berdasarkan kemiringan dan penggunaan lahan yang relatif banyak ditumbuhi hutan dan beberapa rumah pemukiman. Di lokasi ini tersusun dari batugamping, sejenis batuan sedimen yang terbentuk dari endapan kalsium karbonat. Hubungan antara batu kapur dan tingkat kegagalan yang tinggi mungkin terkait dengan sifat fisik dan kimianya.
Air hujan yang secara alami bersifat sedikit asam karena bereaksi dengan karbon dioksida di udara, dapat menyebabkan larutnya batu kapur. Dilihat dari tingginya zonasi, dimana akses jalan yang melalui lanskap di daerah penelitian biasanya berbukit-bukit dengan lereng. Struktur geologi berupa kekar yang diperoleh pada survei termasuk dalam wilayah zona tinggi sehingga dapat meningkatkan tingkat kerentanan.
PENUTUP
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam melakukan rekayasa lereng untuk meminimalisir terjadinya tanah longsor, dan zonasi lahan berdasarkan risiko longsor dapat menjadi bagian dari perencanaan penggunaan lahan.
DAFTAR PUSTAKA
Cenozoic Stratigraphic Nomenclature in the East Kutai Basin, Kalimantan, Proceedings of the Indonesian Petroleum Association, Eleventh Annual Convention.