• Tidak ada hasil yang ditemukan

Halaman sampul - Universitas Muhammadiyah Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Halaman sampul - Universitas Muhammadiyah Makassar"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH PENERAPAN MEDIA GAMBAR TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS III

SD INPRES GANTARANG KABUPATEN GOWA

SKRIPSI

Halaman sampul

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guma Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

HIKMAH HAQQU HAKIKI QUR’ANA NIM 105401108918

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PRGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

2022

(2)

ii

(3)

iii

iii

(4)

iv

(5)

v

v

(6)

vi

MOTO DAN PERSEMBAHAN

َّ نِإ

ََّعَم َّ

َِّر ۡسُعۡلٱ ا ًر ۡسُي َّ

َّ

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Al-Insyirah:6)

Kupersembahkan karya yang sederhana ini sebagai tanda kebanggaanku kepada mamaku yang selama ini berusaha sendiri dengan sabar membesarkan anaknya hingga menjadi manusia yang sehat, terimakasih.

(7)

vii

vii ABSTRAK

Hikmah Haqqu H Q, 2022. Pengaruh Penerapan Media Gambar Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa.

Skripsi. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Abdan Syakur dan pembimbing II Abd. Rajab.

Penelitian ini bertjuan untuk mengetahui pengaruh dari penerapan media gambar terhadap keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan desain One Group Pretest Posttest Design. Populasi sekaligus sampel penelitian yaitu siswa kelas III yang berjumlah 15 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan tes. Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan teknik statistik inferensial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa memiliki hasil belajar lebih baik dari pada sebelum menggunakan media gambar. Analisis statistik inferensial menggunakan rumus uji t, diketahui bahwa nilai thitung yang diperoleh adalah 15,41 dengan frkuensi db 15 - 1=14, pada taraf signifikansi 0,05% diperoleh ttabel=1,761. Jadi, thitung>ttabel

atau hipotesis nol H0 ditolak dan hipotesis alternative H1 diterima. Hal ini membuktikan bahwa penggnaan media gambar berpengaruh terhadap keterampilan berbicara siswa.

Kata kunci: Media gambar, keterampilan berbicara

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Takkan terhenti segala puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia dan nikmat kepada penulis. Dengan doa yang selalu dihaturkan dan harapan yang besar memohon ridho Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang agar penulis dapat menyusun skripsi ini yang berjudul Pengaruh Penerapan Media Gambar Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa sebagai salah satu tugas akhir untuk menempuh jenjang pendidikan. Hingga saat skripsi dapat selesai disusun dengan baik oleh penulis dan merasa ini merupakan suatu kenikmatan yang diberikan oleh-Nya. Tak lupa juga shalawat senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW yang telah membawa perubahan dan kabar baik bagi umatnya hingga memberi semangat dalam setiap langkah kebajikan.

Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna namun penulis hanya manusia biasa yang tentunya memiliki keterbatasan. Dengan segala kemampuan yang dimiliki penulis berusaha sesuai dengan upaya dan keinginan agar dapat merampungkan penyusunan skripsi ini serta mampu memberikan manfaat bagi kedepannya, baik dari pihak penulis maupun dari pihak pembaca. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Ibu Sunarni, orang yang telah melahirkan penulis ke dunia ini dengan tanpa henti selalu memberikan dukungan, perhatian dan selalu menyuruh untuk cepat menyelesaikan urusan perkuliahan.

(9)

ix

ix

2. Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Aliem Bahri S.Pd., M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Ernawati S.Pd., M.Pd., Sekretaris Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

6. Abdan Syakur S.Pd., M.Pd., dan Abd. Rajab S.Pd., M.Pd sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

7. Dosen-dosen FKIP terkhusus dosen PGSD yang telah memberikan ilmunya dan mendidik selama ini. Semoga dapat menjadi bekal yang bermanfaat dikemudian hari.

8. Rosmiati S.Pd selaku Kepala Sekolah SD Inpres Gantarang Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong yang telah berkenan memberikan izin untuk melakukan penelitian. Serta Mukhtar Efendi S.Pd sebagai wali kelas III SD Inpres Gantarang Kelurahan Gantarang Kecamatan Tinggimoncong yang telah memberikan arahan selama penelitian.

9. Keluarga, saudara dan teman-teman yang berbaik hati telah banyak membantu ketika penulis dalam keadaan susah membutuhkan pertolongan.

(10)

x

Terakhir, penulis menantikan dan memohon agar diberikan kritik dan saran yang membangun penulis demi kesempurnaan karya ini karena akan sangat membantu bagi penulis dan juga pembaca nantinya. Demikianlah, penulis berharap penelitian ini mampu memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin.

Makassar, 15 Mei 2022

Hikmah Haqqu H Q

(11)

xi

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... Error! Bookmark not defined. SURAT PERJANJIAN ... Error! Bookmark not defined. MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 4

C.Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS ... 7

A.Kajian Teori ... 7

1.Media Pembelajaran ... 7

2.Media Gambar di SD ... 9

a. Pengertian Media Gambar ... 10

b. Langkah-langkah Penerapan Media Gambar ... 12

3.Keterampilan Berbicara ... 14

a. Pengertian Keterampilan Berbicara ... 14

b. Tahap Berbicara di SD ... 15

c. Jenis-jenis Berbicara di SD ... 19

B.Kerangka Pikir ... 20

C.Hasil Penelitian Relevan ... 22

(12)

xii

D.Hipotesis Penelitian ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

A.Jenis Penelitian... 25

B.Lokasi Penelitian ... 25

C.Populasi dan Sampel Penelitian ... 25

D.Desain Penelitian ... 27

E. Variabel Penelitian ... 28

F. Definisi Operasional Variabel ... 28

G.Prosedur Penelitian ... 29

H.Instrumen Penelitian ... 29

I. Teknik Pengumpulan Data ... 30

J. Teknik Analisis Data... 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35

A.Hasil Penelitian ... 35

B. Pembahasan ... 45

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ... 48

A. Simpulan ... 48

B. Saran... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 50

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 52

RIWAYAT HIDUP ... 65

(13)

xiii

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Keadaan Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang ... 24 3.2 One Group Pretest-Posttest Design ... 25 3.3 Kategori Penilaian Keterampilan Berbicara... 29 4.1 Skor Perolehan Pretest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres

Gantarang Kabupaten Gowa Sebelum Menggunakan Media Gambar ... 33 4.2 Perhitungan Mencari Nilai Mean Pretest Keterampilan Berbicara Siswa

Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Sebelum Menggunakan Media Gambar ... 34 4.3 Tingkat Penguasaan materi ketika Pretest Keterampilan Berbicara Siswa

Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Sebelum Menggunakan Media Gambar ... 35 4.4 Deskripsi Ketuntasan Pretest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD

Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Sebelum Menggunakan Media Gambar ... 36 4.5 Skor Perolehan Posttest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD

Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Setelah Menggunakan Media Gambar ... 37 4.6 Perhitungan Mencari Nilai Mean Posttest Keterampilan Berbicara Siswa

Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Setelah Menggunakan Media Gambar... 38 4.7 Tingkat Penguasaan materi ketika Posttest Keterampilan Berbicara Siswa

Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Setelah Menggunakan Media Gambar... 39

(14)

xiv

4.8 Deskripsi Ketuntasan Posttest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Setelah Menggunakan Media

Gambar ... 39 4.9 Analisis Perhitungan Skor Pretest dan Posttest ... 40

(15)

xv

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2. 1 Bagan Kerangka Pikir ... 21

7. 1 Saat Kegiatan Pretest Berlangsung ... 58

7. 2 Saat Kegiatan Pretest Berlangsung ... 58

7. 3 Saat Kegiatan Posttest Berlangsung ... 58

7. 4 Saat Kegiatan Posttest Berlangsung ... 58

7. 5 Foto bersama siswa kelas III SD Inpres Gantarang ... 59

7. 6 Foto bersama guru kelas dan siswa kelas III SD Inpres Gantarang ... 59

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 50

2. Media Gambar ... 52

3. Skor Nilai Pretest ... 53

4. Mencari Nilai Rata-Rata Pretest... 54

5. Skor Nilai Posttest ... 55

6. Mencari Nilai Rata-Rata Posttest ... 56

7. Instrumen penilaian keterampilan berbicara ... 57

8. Dokumentasi ... 59

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang terletak di benua Asia dan terkenal sebagai negara kepulauan. Negara Indonesia memiliki berbagai macam unsur kebudayaan baik yang berupa adat istiadat, suku, agama, kesenian, mata pencaharian, makanan tradisional, permainan tradisional, bahasa daerah dan masih banyak lagi karakteristik yang dimiliki Indonesia di setiap daerah wilayahnya.

Dengan perbedaan disetiap daerah, warga Indonesia hidup berdampingan untuk melangsungkan kehidupannya sebagai makhluk sosial. Sehingga tidak heran jika pendidikan di Indonesia mengajarkan calon generasi bangsa untuk mampu menghargai perbedaan. Hal tersebut sejalan dengan Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan dalam pasal 4 ayat (1) yakni: “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa”.

Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dihindari ataupun disesali.

Perbedaan merupakan hal yang harus disyukuri karena dengan perbedaan banyak hal yang dapat kita pelajari. Pendidikan di Indonesia sangat mementingkan yang namanya perbedaan. Sudah menjadi rahasia umum jika Indonesia memiliki beragam unsur budaya maka dari itu dalam pendidikan Indonesia menanamkan kepada peserta didik bagaimana menyikapi perbedaan yang ada. Dengan

(18)

menanamkan sikap yang baik, peserta didik diharapkan mampu hidup bersanding dengan perbedaan. Sehingga peserta didik memiliki kemampuan untuk beradaptasi pada lingkungannya. Sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Al- Qur’an pada Q.S Al-Hujuraat ayat 13: “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan menjadikan kamu sekalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (kerja sama).

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Tuhan adalah yang paling bertaqwa. Sungguh Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Dalam lingkungan peserta didik tentunya memiliki karakteristik yang sesuai dengan adat atau norma di lingkungannya. Hal ini tentunya mempengaruhi sikap pada diri peserta didik. Bahkan dalam berkomunikasi tentunya terdapat peraturan bagaimana cara bertutur dengan baik dan sopan. Terutama jika berbicara kepada orang yang umurnya berbeda atau lebih tua dari pada peserta didik. Disinilah pentingnya pendidikan untuk anak-anak agar dilatih cara berucap yang baik. Namun tak jarang juga anak-anak yang takut ataupun malu untuk berbicara kepada orang yang tidak diakrabinya. Sehingga hal tersebut membuat anak-anak mengalami kendala dalam keterampilan berbicaranya. Apabila anak- anak tidak memiliki keterampilan berbicara maka anak-anak tidak mampu menjalani kehidupannya ditengah lingkungannya, baik pada lingkungan familiar ataupun lingkungan asing yang baru ditempatinya. Menurut Rachaman, dkk (2020:105) lingkungan itu mencakup segala hal yang dapat didengar, dilihat, dan mempengaruhi proses komunikasi berbahasa. Maka dapat dikatakan jika lingkngan mampu mempengaruhi keterampilan berbicara siswa.

(19)

3 Pentingnya keterampilan berbicara anak tidak hanya berpengaruh pada kehidupan anak saja tetapi berpengaruh juga pada identitasnya yang sebagai generasi penerus bangsa. Maka dari itu, untuk melatih keterampilan berbicara anak tentunya diperlukan persiapan yang dapat membantu membangun kognitifnya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membangkitkan keterampilan berbicara siswa salah satunya adalah memberikan stimulus yang berupa rangsangan dari panca indera seperti menggunakan media gambar.

Ketika media gambar digunakan dalam proses pembelajaran akan membantu guru untuk menyampaikan pesan dari materi yang diajarkan. Menurut Sadiah (2019:16) dengan adanya media gambar dapat membantu menumbuhkan imajinasi siswa sehingga berpengaruh pada kemampuan bercerita siswa. Panca indera siswa akan merespon ketika melihat gambar dan hal tersebut mampu membantu siswa untuk mengeluarkan gagasannya. Sebgaimana yang dikatakan Sadiman (2003:21) bahwa media gambar adalah suatu gambar yang berkaitan dengan materi pelajaran berfungsi untuk menyampaikan pesan dari guru kepada siswa. Media gambar ini membantu siswa untuk mengungkapkan informasi yang terkandung dalam masalah sehingga hubungan antar komponen dalam masalah tersebut dapat terlihat dengan lebih jelas.

Sudah menjadi pengetahuan umum jika media gambar merupakah salah satu media pembelajaran yang sangat menarik karena tidak sedikit anak-anak yang menyukai gambar. Dengan adanya gambar yang menarik tentunya anak- anak akan tertarik dan akan memiliki kemampuan membuat gagasan berdasarkan apa yang dilihatnya. Akan lebih baik lagi jika anak-anak mampu mengeluarkan

(20)

gagasannnya secara lisan dimana mereka telah dipancing dengan menggunakan gambar.

Berdasarkan pengalaman penulis saat melakukan observasi di Kelurahan Gantarang Kabupaten Gowa lebih tepatnya di SD Inpres Gantarang ketika proses pembelajaran berlangsung di kelas III SD Inpres Gantarang terdapat siswa yang kurang memiliki keterampilan berbicara. Maka, dengan beberapa paparan di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Penerapan Media Gambar Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan:

1. Bagaimanakah keterampilan berbicara siswa tanpa menggunakan media gambar di kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa?

2. Bagaimanakah keterampilan berbicara siswa ketika menggunakan media gambar di kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa?

3. Apakah terdapat pengaruh jika menggunakan media gambar dalam keterampilan berbicara pada siswa kelas III di SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa?

(21)

5 C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibahas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui keterampilan berbicara siswa tanpa menggunakan media gambar di kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa.

2. Untuk mengetahui keterampilan berbicara siswa ketika menggunakan media gambar di kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa.

3. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gambar dalam keterampilan berbicara pada siswa kelas III di SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki manfaat bagi orang lain bahkan bagi peneliti itu sendiri karena dapat digunakan sebagai acuan dalam kehidupannya di dunia pendidikan. Jadi, manfaat dari penelitian ini ada dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoritis

Dengan adanya hasil penelitian ini akan memberikan manfaat berupa informasi yang berkaitan dengan penggunaan media gambar sebagai media pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

2. Manfaat Praktis a. Bagi sekolah

Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan SD Inpres Gantarang dapat mempertimbangkan untuk menggunakan dan menerapkan media gambar dalam

(22)

kegiatan belajar mengajar disetiap muatan pelajaran yang diajarkan kepada siswanya.

b. Bagi guru

Sebagai masukan bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dikelasnya serta menjadi bahan acuan untuk memperbaiki strategi metode mengajarannya sehingga proses pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan.

c. Bagi siswa

Melatih keterampian berbicara siswa sehingga siswa mampu lebih percaya diri dalam menyampaikan gagasannya.

d. Bagi peneliti

Sebagai acuan ketika berada ditengah lingkungan pendidikan dan juga dapat dikembangkan dan ditingkatkan kembali saat mendidik ataupun meneliti.

(23)

7 BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

1. Media Pembelajaran

Menurut Sardiman, dkk (2011: 6) kata media berasal dari bahasa Latin yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Naz&Akbar (2008) menyatakan dalam perspektif belajar mengajar, media adalah pengantar informasi dari guru kepada siswa untuk mencapai pembelajaran yang efektif. Arsyad (2005:

3).mengatakan secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

a. Fungsi Media Pembelajaran

Menurut Ramli (2012: 2-3) fungsi media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1) Pertama, membantu guru dalam bidang tugasnya. Penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat membantu guru dalam mengatasi kekurangan dan kelemahan dalam proses mengajar. Analisis teknologi pendidikan menyatakan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat secara efektif menyampaikan pesan-pesan pembelajaran yang disajikan, sehingga efisien dalam penggunaan waktu dan meringankan beban guru yang bersangkutan.

(24)

2) Kedua, membantu para pembelajar. Dengan menggunakan berbagai media pembelajaran yang dipilih secara tepat dan berdaya guna dapat membantu para pembelajar untuk mempercepat pemahaman siswa dalam penerimaan pesan- pesan pembelajaran yang disajikan, dan aspek-aspek kejiwaan seperti pengamatan, tanggapan, daya ingatan, emosi, berpikir, fantasi, intelegensia dan sebagainya dapat dibangunkan karena media pembelajaran memiliki stimulus yang lebih kuat.

3) Ketiga, memperbaiki proses belajar mengajar. Dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat dan berdayaguna, akan meningkatkan hasil pembelajaran. Hal ini dikarenakan berbagai macam media pembelajaran akan digunakan secara tepat sesuai dengan kebutuhan materi yang diajarkan.

Sehingga penyampaian pesan pembelajaran efektif dan hasil pembelajaran sesuai dengan tujuan.

Sadiman, dkk. (2005: 17-18) menyatakan kegunaan-kegunaan media pembelajaran sebagai berikut:

1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu monoton dengan hanya menampilkan kata-kata tertulis atau lisan belaka.

2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera. Seperti materi tentang tata surya, yang tidak mungkin dilihat dengan indera manusia dan perbedaan ruang, dapat diganti dengan gambar. Atau video untuk melihat komponen tata surya tersebut. Sedangkan objek yang terbatas dengan waktu seperti peristiwa masa lalu, terjadinya letusan gunung merapi. Hal tersebut bisa dilihat oleh siswa melalui foto atau video yang merekam kejadian tersebut.

(25)

9 3) Memberikan stimulus yang sama, dapat menyamakan pengalaman dan

persepsi peserta didik terhadap isi pelajaran.

4) Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada peserta didik tentang peristiwa peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.

b. Jenis-jenis Media Pembelajaran

Menurut Arsyad (2006: 36) bahwa klasifikasi media pembelajaran adalah:

1) Media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main-peran, kegiatan kelompok, field-trap)

2) Media berbasis cetak (buku, penuntun, buku latihan, alat bantu kerja, dan lembaran lepas)

3) Media berbasis visual (buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta, gambar, transparansi, slide)

4) Media berbasis audio-visual (video, film, program slide-tape, televisi)

5) Media berbasis komputer (pengajaran dengan bantuan komputer, interaktif video, hypertext).

2. Media Gambar di SD

Media gambar adalah media pembelajaran yang sangat menarik bagi siswa, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Siswa sekolah dasar yang pada dasarnya memiliki kemampuan berpikir konkret. Hal ini sejalan dengan teori kognitif Piaget. Menururt piaget pemikiran anak-anak usia sekolah dasar disebut

(26)

pemikiran operasional konkret (concrete operational). Makna operasional konkret yang dimaksud oleh Piaget yaitu kondisi dimana anak-anak sudah dapat memfungsikan akalnya untk berfikir logis terhadap sesuatu yang bersifat konkret atau nyata.

Dengan pemikiran siswa sekolah dasar yang bersifat konkret maka banyak yang menggunakan media gambar sebagai media pembelajaran. Namun gambar saja tidak cukup jika tidak menarik perhatian. Gambar yang memiliki banyak warna yang disenangi oleh anak-anak. Contohnya gambar pelangi atau gambar hewan yang disukai anak-anak.

a. Pengertian Media Gambar

Media gambar termasuk kedalam media yang berbasis visual. Hal ini sesuai dengaan pernyataan menurut Hamalik (1994:95) yang mengatakan media gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk dua dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang bentuknya bermacam-macam seperti lukisan, potret, film . Menurut Gerlach dan Ely (1980:25) mengatakan bahwa gambar tidak hanya bernilai seribu bahasa tetapi seribu tahun. Melalui gambar dapat ditunjukkan kepada pembelajar suatu tempat dan segala sesuatu dari daerah yang jauh jangkauan pengalaman sendiri. Samaldino, dkk (2005:11) mengatakan bahwa gambar atau fotografi memberi gambaran tentang segala sesuatu seperti gambar binatang, orang, bunga, dsb. Gambar diam yang pada umumnya digunakan dalam pembelajaran. Edgar Dale (1963:57) mengatakan bahwa gambar dapat mengalihkan pengalaman belajar dari taraf belajar dengan lambang kata-kata ke taraf yang lebih konkrit misal guru akan menjelaskan

(27)

11 pelajaran, maka pembelajar akan lebih mudah menangkap gambar daripada uraian guru dengan kata-kata.

Menurut Kristanto (2013) media gambar/foto adalah media yang tidak diproyeksikan dan dapat dinikmati oleh semua orang sebagai pindahan dari keadaan yang sebenarnya mengenai orang, suasana, tempat, barang, pemandangan, curahan pikiran, ide-ide, dan benda-benda yang lain yang divisualisasikan ke dalam bentk dimensi. Fungsi penggunaan media foto pada dasarnya untuk mambantu mendorong siswa dan membangkitkan minatnya pada pelajaran melalui penggambaran hal yang abstrak menjadi hal yang konkrit, seperti pepatah a picture worth a thousand words (satu gambar senilai dengan seribu kata).

Menurut Sundari (2013:3) Media gambar adalah perwujudan lambang dari hasil peniruan-peniruan benda-benda, pemandangan, curahan pikir atau ide- ide yang di visualisasikan kedalam bentuk dua dimensi. Pemanfaatan media pembelajaran ada dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru-siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media gambar adalah media pembelajaran yang divisualisasikan ke dalam bentuk dua dimensi yang mampu memberikan pengalaman tersendiri sehingga akan terasa lebih nyata atau bermakna ketika siswa menerima uraian dari guru.

Menurut Rahadi (2003: 27-28) ada beberapa karakteristik media gambar, yaitu:

(28)

1) Harus autentik, artinya dapat menggambarkan obyek peristiwa seperti jika siswa melihat langsung.

2) Sederhana, komposisinya cukup jelas menunjukkan bagian-bagian pokok dalam gambar tersebut.

3) Ukuran gambar proposional, sehingga siswa mudah membayangkan ukuran sesungguhnya benda/objek yang digambar.

4) Memadukan antara keindahan dengan kesesuaiannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

5) Gambar harus message. Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

b. Langkah-langkah Penerapan Media Gambar

Tarigan (1995: 253-254) mengemukakan bahwa langkah penggunaan media gambar adalah: pertama, siswa diminta untuk memperhatikan sebuah gambar dengan seksama; kedua, siswa diminta untuk menyusun sebuah cerita berdasarkan gambar tersebut; ketiga, beberapa siswa secara individu dan bergantian diminta untuk menceritakan gambar tersebut; keempat, siswa diminta untuk memperhatikan lagi media gambar, namun kali ini bukan hanya satu gambar, melainkan beberapa gambar yang berseri; kelima, siswa diminta untuk menyusun cerita berdasarkan gambar berseri tersebut.

Menurut Sundari (2013: 5) Langkah-langkah pembelajaran Pengetahuan Sosial pada siswa Sekolah Dasar menggunakan media gambar yaitu sebagai berikut :

(29)

13 1) Menyiapkan media gambar yang akan digunakan untuk memberikan materi Pengetahuan Sosial kepada para siswa sekolah Dasar. Para guru harus benar- benar memahami pembelajaran yang akan diberikan kepada para siswa dan memiliki berbagai macam strategi yang akan digunakan dalam penyampaian materi kepada para siswa.

2) Siswa di perkenalkan dengan strategi pembelajaran yang dipakai dan diperkenalkan dengan media gambar, kemudian siswa diminta untuk mencermati media gambar tersebut dengan cara mereka sendiri namun tetap dalam pengawasan guru.

3) Dalam proses pembelajaran siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengamatanya. Hal ini dapat dilakukan secara peroraangan, dengan mengerjakan LKS yang di berikan oleh guru untuk dinilainya dan media gambar sebagai obyek penelitiannya.

4) Setelah mencapai kesepakatan tentang srategi dalam mengerjakan LKS diarahkan untuk menarik kesimpulan dari pelajaran tersebut. Pada akhir pembelajaran siswa harus dapat menjelaskan pengetahuan apa saja yang mereka dapatkan dari pembelajaran Pengetahuan Sosial yang dijalankan menggunakan media gambar tersebut didepan guru dan teman-teman kelasnya.

Hal ini dapat menjadi tolak ukur kesuksesan penyampaian materi pembelajaran dengan media gambar dan penilaian keaktifan siswa dalam belajar.

Adapun menurut Kosasih (2007: 17) langkah-langkah menggunakan media gambar dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

1) Guru menggunakan gambar sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa,

(30)

2) Guru memperlihatkan gambar kepada siswa di depan kelas, 3) Guru menerangkan pelajaran dengan menggunakan gambar,

4) Guru menyampaikan materi matematika tentang garis bilangan dengan menggunakan media gambar,

5) Guru mengarahkan perhatian siswa pada sebuah gambar sambil mengajukan pertanyaan kepada siswa secara satu persatu,

6) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pertanyaan sesuai materi yang diajarkan,

7) Guru memberikan tugas kepada siswa,

8) Bersama siswa guru menyimpulkan materi pelajaran.

3. Keterampilan Berbicara

a. Pengertian Keterampilan Berbicara

Menurut Nurgiyantoro (1995: 276) berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa, yaitu setelah aktivitas mendengarkan. Menurut Tarigan (2008: 16) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Harmer (1983) menyatakan bahwa, berbicara merupakan alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial. Lebih jauh lagi Harmer (1983) menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari masyarakat yang berbeda

(31)

15 Berdasarkan dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan jika keterampilan berbicara adalah kemampuan seseorang dalam mengeluarkan isi pikiran dan menyusun kata-kata yang berbentuk bunyi atau suara sebagai alat komunikasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Untuk memperoleh kemampuan berbicara, ada empat faktor yang berperan, yaitu (1) kesiapan belajar, (2) kesiapan berpikir, (3) kesempatan mempraktikkan, (4) motivasi, (5) bimbingan. Menurut Mackey (1966: 192) jika salah satu faktor ini tidak terkuasai, kemungkinan akan terjadi kelambatan dalam belajar dan kualitas berbicara akan menurun. Bentuk-bentuk kemampuan berbicara diatur untuk memudahkan timbulnya rangsangan, seperti rangsangan dengan menggunakan gambar yang diceritakan kembali secara perseorangan atau rangsangan yang ditimbulkan oleh ternan sendiri dalam suasana bercakap-cakap.

b. Tahap Berbicara di SD

Anak yang baru dilahirkan tidak langsung dapat berbicara namun hanya mengeluarkan suara yang tidak dapat dikatakan sebagai berbicara. Untuk memiliki kemampuan berbicara tentunya ada proses yang dilaluinya. Setiap anak yang berkembang tentu kemampuan berbicaranya akan berkembang pula. K.

Eileen dan Lynn R. Marotz (2020: 159-215) menjelaskan tentang profil perkembangan dan pola pertumbuhan anak termasuk perkembangan berbicara dan berbahasa anak usia 6-12 tahun, diantaranya adalah:

a. Perkembangan Berbicara dan Berbahasa Anak Usia 6 Tahun:

1) Berbicara tanpa henti; bisa digambarkan seperti pengoceh.

2) Bercakap-cakap seperti orang dewasa; banyak bertanya.

(32)

3) Mempelajari lima sampai sepuluh kata setiap hari; kosa katanya terdiri dari 10.000 sampai 14.000 kata.

4) Menggunakan bentuk kata kerja, urutan kata dan struktur kalimat yang tepat.

5) Menggunakan bahasa dan bukan tangisan disertai teriakan atau agresi fisik untuk mengungkapkan ketidaksenangan: “Ini punyaku! Kembalikan, Kamu bodoh”.

6) Berbicara sendiri sambil menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memecahkan masalah sederhana (walaupun “logika”nya mungkin tidak jelas bagi orang dewasa).

7) Menirukan ucapan populer dan kata-kata kotor; menganggap ucapan-ucapan jorok sangat lucu.

8) Senang menceritakan lelucon dan teka-teki; biasanya, humornya jauh dari halus.

9) Senang dibacakan cerita dan mengarang cerita.

10) Mampu belajar lebih dari satu bahasa; melakukanya dengan spontan dalam keluarga dwibahasa atau multibahasa.

b. Perkembangan Berbicara dan Berbahasa Anak Usia 7 Tahun:

1) Senang bercerita; suka menulis cerita pendek, menceritakan dongeng khayalan.

2) Menggunakan susunan kalimat dan bahasa percakapan seperi orang dewasa;

pola kalimat mencerminkan perbedaan budaya dan letak geografis.

3) Menjadi semakin tepat dan luas dalam hal penggunaan bahasa; semakin banyak menggunakan kata sifat deskriptif dan kata keterangan.

4) Menggunakan gerak tubuh untuk menggambarkan percakapan.

(33)

17 5) Mengkritik hasil karyanya sendiri: “Saya tidak menggambar dengan benar,”

“Gambarnya lebih bagus dari dari gambarku.”

6) Membesar-besarkan kejadian adalah hal yang wajar: “Saya makan sepuluh hot dog pada waktu piknik.”

7) Menjelaskan kejadian sesuai dengan kemampuan atau kebutuhannya: “Hari ini tidak hujan karena saya akan pergi piknik.”

8) Menggambarkan pengalaman secara rinci: “Pertama, kami memarkir mobil, lalu kami berjalan mendaki jalanankecil yang jauh, setelah itu kami duduk di atas pohon yang rubuh di dekat danau dan makan…”

9) Memahami dan menjalan perintah dalam beberapa tahap (sampai lima tahap):

kadang minta diulang perintahnya karena tidak mendengarkan seluruhnya pada saat pertama kali disampaikan.

10) Senang menulis pesan dan catatan singkat untuk temannya.

c. Perkembangan Berbicara dan Berbahasa Anak Usia 8 Tahun:

1) Senang menceritakan lelucon dan tekateki.

2) Mengerti dan melakukan instruksi beberapa tahap (sampai lima tahap);

mungkin minta diulang karena tidak mendengar seluruhnya.

3) Membaca dengan mudah dan memahaminya.

4) Menulis surat atau mengirim pesan kepada teman, termasuk deskripsi yang imajinatif dan mendetail.

5) Menggunakan bahasa untuk mengkritik dan memuji orang lain; mengulang- ulang ucapan popular dan kata umpatan.

6) Memahami dan mengikuti aturan tata kalimat dalam percakapan dan bentuk tertulis.

(34)

7) Berrminat mempelajari kode kata rahasia dan menggunakan bahasa kode.

8) Bercakap-cakap dengan orang dewasa dengan lancar, mampu berpikir dan berbicara mengenai masa lampau dan masa depan; “Jam berapa kita berangkat berenang minggu depan.”

d. Perkembangan Berbicara dan Berbahasa Anak Usia 9-10 Tahun:

1) Senang berbicara, sering kali tidak berhenti dan tanpa alasan yang jelas;

kadang digunakan sebagai alat untuk mendapatkan perhatian.

2) Mengungkapkan perasaan dan emosinya secara efektif melalui kata-kata.

3) Memahami dan menggunakan bahasa sebagai sistem komunikasi dengan orang lain.

4) Menggunakan ucapan populer yang sering diucapkan teman sebayanya:

“manis”, “keren”, “top-abis”.

5) Mengenali bahwa beberapa kata mempunyai arti ganda, “panjang tangan”,

“mengadu domba”.

6) Menganggap perumpamaan yang tidak masuk akal (permainan kata) dalam lelucon dan tekan-teki sebagai sesuatu yang lucu.

7) Menunjukan pemahaman tingkat tinggi mengenai urutan tata bahasa;

mengenali apabila ada kalimat yang tata bahasanya tidak tepat.

e. Perkembangan Berbicara dan Berbahasa Anak Usia 11-12 Tahun:

1) Menyelesaikan sebagian besar perkembangan bahasa pada akhir fase ini;

hanya sedikit perbaikan masih diperlukan selama beberapa tahun mendatang.

2) Senang berbicara dan berargumentasi, sering tidak pernah berhenti, dengan siapa pun yang mau mendengarkan.

3) Menggunakan struktur bahasa yang lebih panjang dan kompleks.

(35)

19 4) Semakin menguasai kosa kata yang kompleks, bertambah 4.000 sampai 5.000 kata baru tiap tahun, menggunakan kosa kata dengan terampil untuk mengembangkan cerita dan menggambarkannya dengan jelas.

5) Menjadi pendengar yang suka berfikir.

6) Mengerti bahwa kalimat dapat memiliki arti yang tersirat (bertujuan): ketika ibunya bertanya, “Apakah PR mu sudah selesai?” beliau bermaksud untuk mengatakan kamu sebaiknya berhenti bermain, ambil bukumu dan mulai kerjakan PRmu.

7) Memahami konsep ironi dan sarkasme; mempunyai selera humor dan senang menceritakan lelucon, teka-teki, dan sajak untuk menghibur orang lain.

8) Menguasai beberapa gaya bahasa, bisa berubah-ubah berdasarkan situasi:

gaya yang lebih formal ketika berbicara dengan guru, gaya yang lebih kasual dengan orang tua, dan gaya yang sering memakai ungkapan populer dan kata rahasia ketika mengobrol bersama teman.

c. Jenis-jenis Berbicara di SD

Menurut Rohana & Syamsuddin (2021:65) jenis-jenis berbicara adalah sebagai berikut:

1. Berbicara berdasarkan tujuannya

a) Berbicara memberitahukan, melaporkan, dan menginformasikan.

b) Berbicara menghibur c) Berbicara membujuk

2. Berbicara berdasarkan situasinya a) Berbicara formal

(36)

b) Berbicara informal

3. Berbicara berdasarkan cara penyampaiannya a) Berbicara mendadak

b) Berbicara berdasarkan catatan c) Berbicara berdasarkan hafalan d) Berbicara berdasarkan naskah

4. Berbicara berdasarkan jumlah pendengarnya a) Berbicara antarpribadi

b) Berbicara dalam kelompok kecil c) Berbicara dalam kelompok besar

B. Kerangka Pikir

Penerapan media gambar dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dilakukan adalah untuk melihat pengaruhnya terhadap keterampilan berbicara siswa. Keterampilan berbicara siswa yang berarti kemampuan siswa dalam berbicara untuk mengeluarkan gagasan atau ide-ide yang dimiliki sehinggga siswa mampu berekspresi melalui kata-kata yang diucapkan.

Siswa yang mampu mengeluarkan kata-kata melalui alat ucapnya adalah siswa yang memiliki pemahaman yang baik. Selain itu jika sesuai dengan pembahasan yang sedang dibicarakan, yaitu ketika diperlihatkan sebuah gambar siswa mampu mendekripsikan gambar tersebut. Maka siswa akan lebih siap untuk menerapkan kemampuan berbahasanya terutama berbicara dalam kehidupan sehari-hari ataupun dikehidupan di sekolahnya.

(37)

21 Untuk mengetahui hal tersebut, maka peneliti perlu melakukan tindakan yaitu mengkaji pengaruh penerapan media gambar terhadap keterampilan berbicara siswa dalam proses pembelajaran di kelas III SD Inpres Gantarang kabupaten Gowa dengan cara mengetes siswa untuk menjelaskan atau mendeskripsikan gambar yang ditunjukkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari gambar bagan 2.1.

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Keterampilan Berbahasa

Menyimak Berbicara Membaca Menulis

Analisis data

Temuan Penerapan Media Gambar

Tidak menggunakan media gambar

Dengan menggunakan media gambar

Tes Keterampilan Berbicara

(38)

C. Hasil Penelitian Relevan

Penelitian relevan yang penulis temui terhadap pembahasan ini adalah:

1. Irfan, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar, pada tahun 2017 melakukan penelitian tentang:

“Pengaruh Penggunaan Media Gambar Terhadap Kemampuan Bercerita Dalam Bahasa Bugis Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Sinjai Timur”. Kesimpulan dari penelitiannya adalah penggunaan media gambar berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, terdapat pengaruh yang signifikan antara kemampuan bercerita siswa sebelum menggunakan media gambar dengan sesudah menggunakan media gambar dengan nilai rata-rata keseluruhan di kelas yang menggunakan media gambar adalah 76,4706 sedangkan yang tidak menggunakan media gambar berseri adalah 50,8235. Perbedaan dari penelitian Irfan dan penelitian penulis terletak pada sampel penelitian yang digunakan, jika Irfan menggunakan murid SMP sedangkan penulis menggunakan sampel siswa SD dan Irfan melakukan fokus penelitian pada bahasa Bugis sedangkan penulis bahasa Indonesia selain itu Irfan menggunakan aplikasi SPSS untuk menganalisis data hasil penelitiannya, pengambilan sampelnya random sedangkan penulis tidak. Persamaan penelitian Irfan dan penulis teretak pada media yang digunakan yaitu media gambar.

2. Rahmat, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, pada tahun 2017 melakukan penelitian tentang: “Pengaruh Penggunaan Media Gambar Berseri Terhadap Keterampilan Berbicara Murid Kelas II SD Inpres Pare’-Pare’ Kec.

Bajeng Kab. Gowa”. Kesimpulan dari penelitiannya adalah media gambar

(39)

23 berseri berpengaruh terhadap keterampilan berbicara pada siswa dengan nilai rata-rata keseluruhan di kelas yang menggunakan media gambar berseri adalah 76,25 sedangkan yang tidak menggunakan media gambar berseri adalah 63,5. . Perbedaan dari penelitian Rahmat dan penelitian penulis terletak pada sampel penelitian yang digunakan, jika Rahmat menggunakan murid SD kelas II sedangkan penulis menggunakan sampel siswa SD kelas III selain itu penelitian penulis tidak memiliki Kelas kontrol sedangkan penelitian Rahmat menggunakan Kelas kontrol. Persamaan penelitian Rahmat dan penulis teretak pada media yang digunakan yaitu media gambar namun Rahmat menggunakan media gambar berseri.

3. Fitri Prasetyowati, Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada tahun 2014 melakkan peneitian tentang: “Pengaruh Penggunaan Media Gambar Terhadap Keterampilan Berbicara Pada Anak Kelompok A TK Desa Plumbon II Mojolaban Sukoharjo Tahun Pelajaran 2013/2014”. Kesimpulan dari penelitiannya adalahmedia gambar berpengaruh terhada keterampilan berbicara anak Kelompok A TK Desa Plumbon II, Mojolaban, Sukoharjo Tahun Pelajaran 2013/2014 dengan hasil skor observasi awal keterampilan berbicara anak sebelum eskperimen dengan media gambar sebesar 137 dengan nilai rata- rata 11,42. Hasil observasi akhir keterampilan berbicara anaka setelah eksperien dengan media gambar diperoleh skor 160 dengan nilai rata-rata 13,33. Perbedaan dari penelitian Fitri dan penelitian penulis terletak pada sampel penelitian yang digunakan, jika Fitri menggunakan murid TK

(40)

sedangkan penulis menggunakan sampel siswa SD. Persamaan penelitian Fitri dan penulis teretak pada media yang digunakan yaitu media gambar.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang dan kajian pustaka maka diajukan hipotesis sebagai jawaban sementara rumusan masalah. Hipotesis yang diajukan peneliti dalam penelitian ini sebagai berikut:

H0 : Tidak ada pengaruh terhadap keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran ketika menggunakan media gambar.

H1 : Ada pengaruh terhadap keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media gambar.

(41)

25 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian eksperimen. Sugiyono (2017) menyatakan bahwa penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali. Selain itu Creswell (2014) menganggap bahwa penelitian eksperimen sendiri dimaksudkan untuk mengetahui apakah solusi yang digunakan tepat untuk mempengaruhi hasil tertentu. Jadi penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti.

B. Lokasi Penelitian

Tempat yang digunakan dalam penelitian adalah SD Inpres Gantarang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Alasan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara mikro jika menerapkan media gambar terhadap keterampilan berbicara siswa kelas III dalam pembelajaran.

C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

(42)

Menurut Margono (2004) populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian. Berdasakan pendapat tersebut peneliti memiliki acuan untuk menentukan populasi dalam penilitian, maka populasi penelitian ini adalah siswa kelas III SD Inpres Gantarang tahun ajaran 2021/202 yang berjumlah 15 siswa.

Tabel. 3.1 Keadaan siswa kelas III SD Inpres Gantarang

Kelas Jenis kelamin

Laki-laki Perempuan

III 11 4

Jumlah total 15

2. Sampel

Menurut Sohilait (2020: 161) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah sampling jenuh. Menurut Hardani dkk (2020) ciri utama dari sampling ini dikatakan jenuh (tuntas) apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel dan sampling jenuh baik digunakan apabila jumlah populasinya relatif kecil, kurang dari 30 orang. Berdasarkan pendapat tersebut maka sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SD Inpres Gantarang yang hadir.

(43)

27 D. Desain Penelitian

Hardani, dkk. (2020: 348) menyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian, yaitu Pre-experimental Design, True Experimental Design, Factorial Design, dan Quasi Experimental Design. Dalam penelitian ini peneliti bermaksud untuk menggunakan bentuk desain eksperimen yaitu Pre-Experimental Design.

Dikatakan Pre-Experimental Design, karena desain ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap tebentknya variabel dependen. Bentuk eksperimen ini berguna memperoleh informasi awal terhadap pertanyaan yang ada dalam penelitian. Pre-Experimental Design ini ada beberapa macam yaitu, One-Shot Case Study, One Group Pretest-Posttest dan Intact Group Comparison. Tetapi peneliti menggunakan One Group Pretest-Posttest Design karena sesuai dengan keaadan pada SD Inpres Gantarang dimana setiap tingkat hanya memiliki satu kelas, seperti di kelas III hanya memiliki satu rombongan belajar.

Tabel 3.2 One Group Pretest-Posttest Design

Pretest Variabel Posttest

O1 X O2

Keterangan: O1 = Pretest sebelum dikenakan treatmen X = Variabel bebas atau media gambar O2 = Posttest setelah dikenakan treatmen

(44)

E. Variabel Penelitian

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Penerapan Media Gambar Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa”.

Variabel yang diamati adalah pengaruh penerapan media gambar sebagai variabel bebas (X) dan keterampilan berbicara dalam pembelajaran sebagai variabel terikat (O).

F. Definisi Operasional Variabel

Dengan adanya defenisi operasional variabel maka kesalahan penafsiran dalam penelitian ini dapat dihindari sehingga variabel penelitian jelas diketahui yang dimaksudkan. Pada penelitian ini yang menjadi variabel adalah media gambar dan keterampilan berbicara.

Media gambar adalah salah satu media pembelajaran sebagai alat bantu yang digunkan untuk memudahkan pendidik ataupun peserta didik dalam proses pembelajaran. Dengan adanya media pembelajaran diharapkan peserta didik mampu memahami materi pembelajaran yang disampaikan.

Keterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa selain menyimak, menulis dan membaca. Berbicara adalah kegiatan mengeluarakan kata-kata dalam bentuk suara atau bunyi mealui alat ucap. Peserta didik yang memiliki keterampilan berbicara adalah peserta didik yang berkemampuan dalam berbahasa.

(45)

29 G. Prosedur Penelitian

Adapun prosedur penelitian yang digunakan sebagai alur atau angkah- langkah dijalankannya ketika saat meneliti, yaitu sebagai berikut:

1. Peneliti melakukan oberservasi di lapangan untuk mengetahui keadaan siswa yang akan menjadi sampel penelitian.

2. Peneliti melakukan penyiapan instrumen penelitian yang berupa gambar- gambar yang telah disesuaikan dengan materi pembelajaran.

3. Melaksananakan pembelajaran tanpa menggunakan media gambar dan siswa di tes untuk menjelaskan suatu topik pembahasan.

4. Peneliti mengamati kemudian mencatat hasil observasi pada lembar pengamatan.

5. Pertemuan selanjutnya, pembelajaran kembali dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan bantuan media gambar yang kemudian siswa akan menjelaskan atau mendeskripsikan mengenai gambar yang ditunjukkan.

6. Peneliti kembali mencatat hasil obervasi pada lembar pengamatan setelah melaksanakan pembelajaran dengan bantuan media gambar. Kemudian membri skor hasil.

H. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes dan observasi.

(46)

1. Tes merupakan alat pengukuran dan panduan bagi peneliti dalam pengumpulan dan evaluasi data. Peneliti melakukan pretest dan posttest terhadap keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang.

2. Observasi adalah pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung dengan mencatat gejala yang ditimbulkan dilembar pengamatan. Peneliti mengamati cara berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang.

I. Teknik Pengumpulan Data

Hardani, dkk. (2020) menyatakan bahwa teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dengan 2 cara yaitu obervasi dan tes.

Menrut Usman dan Purnomo (2004) observasi ialah pengamatan dengan penatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Gejala-gejala yang dicatat dalam penelitian ini adalah bagaimana keadaan siswa dan proses pembelajaran yang berlangsung. Hal ini akan menjadi data yang penting untuk dianalisis oleh peneliti.

Tes merupakan instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yang berupa sebuah penugasan untuk mengukur keterampilan berbicara siswa yang kemudian akan diberi nilai. Dengan tes ini peneliti akan mendapatkan data berdasarkan hasil pembelajaran. Adapun yang menjadi kriteria dalam mengukur keterampilan berbicara siswa yaitu sebagai berikut:

1. Siswa mampu berbicara dengan lancar, tidak gagap dan tidak gugup.

(47)

31 2. Siswa berbicara dengan volume yang dapat didengar.

3. Siswa berbicara dengan pelafalan yang baik.

4. Siswa mampu menggunakan intonasi yang tepat.

5. Siswa berbicara sesuai dengan topik pembicaraan.

Peneliti juga menggunakan sebuah rumus untuk menghitung perolehan nilai keterampilan berbicara siswa, rumus tersebut yaitu:

Np = 𝑅

𝑆𝑀× 100 Keterangan:

Np = Nilai yang dicari R = Skor siswa

SM = Skor maksimum (Purwanto dalam Utami, 2014:38)

Dibawah ini merupakan tolak ukur setelah memperoleh nilai keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa sehingga dapat diklasifikasikan yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.3 Kategori Penilaian Keterampilan Berbicara

Skor Kriteria

90 - 100 Sangat Baik/ tinggi

80 - 89 Baik/tinggi

70 - 79 Cukup/sedang

60 - 69 Kurang/rendah

0 - 59 Sangat rurang/rendah

J. Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti akan dianalisis. Dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial.

(48)

1. Statistik deskriptif

Menurut Sugiyono (2015: 147) statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum. Jadi, pada penilitian ini menggunakan analisis deskriptif dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau mendeskripsikan keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang.

Analisis statistik deskriptif pada penelitian ini bertjuan untuk menggambarkan karakteristik keterampilan berbicara siswa setelah menggunakan media gambar gambar yang terdiri dari nilai tertinggi, nilai terendah, nilai rata- rata, standr deviasi, nilai maksimum dan nilai minimum.

2. Statistik inferensial

Menurut Sugiyono (2016:37) Statistik inferensial atau statistik induktif atau statistik probabilitas adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Karena peneliti ingin melihat pengaruh keterampilan berbicara siswa ketika menggunakan media gambar dan tidak menggunakan media gambar dalam pembelajaran maka perlu menentukan perbandingan hasil pretest dan posttest dengan menggunakan rumus:

𝑡 = 𝑀𝑑

√ ∑ 𝑥2𝑑 𝑁(𝑁 − 1)

Keterangan:

Md = Mean dari perbedaan hasil pretest dan posttest

∑x2d = Jumlah kuadrat deviasi

(49)

33 N = Subjek pada sampel

Untuk lebih jelasnya langkah-langkah pengujian hipotesis yaiu sebagai berikut:

a. Mencari nilai Md

𝑀𝑑 =∑ 𝑑 𝑁

Keterangan:

Md = Mean dari perbedaan hasil pretest dan posttest

∑d = Jumlah dari selisih antara pretest dan posttest (gain) N = Subjek pada sampel

b. Mencari nilai ∑x2d

∑ x2d = ∑ d −(∑ d)2 N Keterangan:

∑x2d = Jumlah kuadrat deviasi

∑d = Jumlah dari selisih antara pretest dan posttest (gain) N = Subjek pada sampel

c. Mencari ttabel dengan menggunakan tabel distribusi t dengan taraf signifikan α = 0,05 dan dk = N-1

Selanjutnya membuat pernyatan dengan menentukan aturan pengambilan keputusan sehingga dapat diketahui kriteria yang signifikan berdasarkan kaidah pengujian signifikan:

(50)

H0 : Tidak ada pengaruh terhadap keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang dalam pembelajaran ketika menggunakan media gambar.

H1 : Ada pengaruh terhadap keterampilan berbicara siswa III SD Inpres Gantarang dalam pembelajaran ketika menggunakan media gambar.

a) Jika thitung>ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima, berarti penggunaan media gambar berpengaruh terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa.

b) Jika thitung<ttabel maka H0 diterima dan H1 ditolak, berarti penggunaan media gambar tidak berpengaruh terhadap keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa.

c) Membuat kesimpulan apakah media gambar berpengaruh pada keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa.

(51)

35 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi hasil pretest keterampilan berbicara sebelum menggunkan media gambar pada siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti di kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa dengan menggunakan instrumen tes yang telah disiapkan oleh peneliti sehingga memperoleh data-data dari hasil tes yang diberikan kepada siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa dalam bentuk nilai atau angka.

Tabel 4.1 Skor Perolehan Pretest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Sebelum Menggunakan Media Gambar

No. Nama Siswa

Aspek Penilaian

Total

Kelancaran berbicara Volume suara Pelafalan Intonasi Kesesuaian pembahasan

30 10 10 20 30 100

1. N A P 20 5 5 5 20 55

2. M Tr 10 5 5 10 15 45

3. M R 15 5 5 5 15 45

4. M F A 20 10 10 15 25 80

5. M Il 10 5 5 5 15 40

6. A S `20 5 10 10 25 70

(52)

7. M D 10 5 5 5 15 40

8. M Ts 10 5 5 5 15 40

9. F 5 5 5 10 15 40

10. S 20 10 10 10 20 70

11. M Ih 5 5 5 10 10 35

12. Z 10 10 5 5 15 45

13. Nh 15 5 10 15 20 65

14. Nf 10 5 5 10 15 45

15. M In 10 10 5 5 15 45

Berdasarkan data pada tabel di atas, untuk mencari nilai rata-rata (mean) dari hasil pre-test siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Perhitungan Mencari Nilai Mean Pretest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Sebelum Menggunakan Media Gambar

X F F×X

35 1 35

40 4 160

45 5 225

55 1 55

65 1 65

70 2 140

80 1 80

Jumlah 15 760

(53)

37 Keterangan:

X = keterampilan berbicara siswa F = frekuensi

Berdasarkan data pada tabel diatas dapat diketahui nilai dari ∑fx = 760, kemudian nilai dari N adalah 15. Maka dapat diperoleh nilai rata-rata (mean) yaitu sebagai berikut:

𝑋̅ = ∑𝑘𝑖=1𝑓𝑥𝑖

𝑛 =760

15 = 50,67

Berdasarkan pada hasil perhitungan diatas maka diperoleh nilai rata-rata (mean) keterampilan berbicara dari hasil belajar siswa kelas III SD Inpres Gantarang sebelum menggunakan media gambar yaitu 50,67. Adapun dikategorikan pada pedoman Departemen Pendididkan dan Kebudayaan (Depdikbud), maka keterangan pada siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.3 Tingkat Penguasaan materi ketika Pretest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Sebelum Menggunakan Media Gambar

No. Interval Frekuensi Presentase Kategori hasil belajar sebelum menggunakan media gambar

1. 0-59 11 73,33 Sangat rendah

2. 60-69 1 6,67 Rendah

3. 70-79 2 13,33 Sedang

4. 80-89 1 6,67 Tinggi

5. 90-100 0 0 Sangat tinggi

Jumlah 15 100

Berdasarkan data yang ada pada tabel di atas sehingga dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang pada tahap

(54)

pretest dengan menggunakan instrumen tes dikategorikan sangat rendah yaitu 73,33%; rendah 6,67%; sedang 13,33% dan tinggi 6,67. Jika dilihat hari hasil presentase dapat dikatakan bahwa keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang sebelum menggunakan media gambar termasuk sangat rendah.

Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Pretest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Sebelum Menggunakan Media Gambar

Skor Kategorisasi Frekuensi %

0 ≤ × ≤ 70 Tidak tuntas 12 80

70 ≤ × ≤ 100 Tuntas 3 20

Jika tabel 4.3 dikaitkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar dalam tes keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang sebelum menggunakan medi gambar yang telah ditentukan oleh peneliti yaitu jika jumlah siswa yang mencapai atau melebihi nilai KKM (70) ≥ 80%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas III SD Inpres Gantarang pada pretest belum memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar, secara klasikal karena siswa yang memiliki ketuntasan hanya 20% ≤ 80%.

2. Deskripsi hasil posttest keterampilan berbicara setelah menggunkan media gambar pada siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa

Pelaksanaan tes kedua yang merupakan hasil belajar setelah pemberian treatmen yaitu menggunakan media gambar untuk melihat keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa. Pada posttest ini dilakukan

(55)

39 untuk mengetahui pengaruh dari media gambar terhadap keterampilan berbicara siswa.

Tabel 4.5 Skor Perolehan Posttest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Setelah Menggunakan Media Gambar

No. Nama Siswa

Aspek Penilaian

Total

Kelancaran berbicara Volume suara Pelafalan Intonasi Kesesuaian pembahasan

30 10 10 20 30 100

1. N A P 25 10 10 15 25 85

2. M Tr 25 5 10 15 25 80

3. M R 20 5 5 10 20 60

4. M F A 30 10 10 20 30 100

5. M Il 20 5 10 15 30 80

6. A S 30 5 10 15 30 90

7. M D 20 5 5 10 25 65

8. M Ts 20 10 5 10 25 70

9. F 15 10 5 10 25 65

10. S 30 10 10 15 30 95

11. M Ih 20 5 5 10 20 60

12. Z 25 10 10 10 25 80

13. Nh 25 10 10 15 25 85

14. Nf 25 5 5 10 25 70

15. M In 25 10 5 10 25 75

Berdasarkan data pada tabel sebelumnya, untuk mencari nilai rata-rata (mean) dari hasil posttest siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa setelah pemberlakuan treatment dapat dilihat pada tabel berikut:

(56)

Tabel 4.6 Perhitungan Mencari Nilai Mean Posttest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Setelah Menggunakan Media Gambar

X F F×X

60 2 120

65 2 130

70 2 140

75 1 75

80 3 240

85 2 170

90 1 90

95 1 95

100 1 100

Jumlah 15 1160

Keterangan:

X = keterampilan berbicara siswa F = frekuensi

Berdasarkan data pada tabel diatas dapat diketahui nilai dari ∑fx = 1160, kemudian nilai dari N adalah 15. Maka dapat diperoleh nilai rata-rata (mean) yaitu sebagai berikut:

𝑋̅ = ∑𝑘𝑖=1𝑓𝑥𝑖

𝑛 =1160

15 = 77,33

Berdasarkan pada hasil perhitungan diatas maka diperoleh nilai rata-rata (mean) keterampilan berbicara dari hasil belajar siswa kelas III SD Inpres Gantarang setelah menggunakan media gambar yaitu 77,33. Adapun

(57)

41 dikategorikan pada pedoman Departemen Pendididkan dan Kebudayaan (Depdikbud), maka keterangan pada siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.7 Tingkat Penguasaan materi ketika Posttest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Setelah Menggunakan Media Gambar

No. Interval Frekuensi Presentase Kategori hasil belajar sebelum menggunakan media gambar

1. 0-59 0 0 Sangat rendah

2. 60-69 4 26,67 Rendah

3. 70-79 3 20 Sedang

4. 80-89 5 33,33 Tinggi

5. 90-100 3 20 Sangat tinggi

Jumlah 15 100

Berdasarkan data yang ada pada tabel di atas sehingga dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang pada tahap posttest dengan menggunakan instrumen tes dikategorikan sangat rendah yaitu 0%; rendah 26,67%; sedang 20%; tinggi 33,33% dan sangat tinngi 20%. Jika dilihat hari hasil presentase dapat dikatakan bahwa keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang seteah menggunakan media gambar tergolong tinggi.

Tabel 4.8 Deskripsi Ketuntasan Posttest Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa Setelah Menggunakan Media Gambar

Skor Kategorisasi Frekuensi %

0 ≤ × ≤ 70 Tidak tuntas 4 26,67

70 ≤ × ≤ 100 Tuntas 11 73,33

(58)

Jika tabel 4. dikaitkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar dalam tes keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang setelah menggunakan media gambar yang telah ditentukan oleh peneliti yaitu jika jumlah siswa yang mencapai atau melebihi nilai KKM (70) ≥ 26,67%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas III SD Inpres Gantarang pada posttest telah memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar dalam keterampilan berbicara secara klasikal siswa yang memiliki ketuntasan sebesar 73,33% ≥ 26,67%.

3. Pengaruh Penerapan Media Gambar Terhadap Keterampilan Berbicara Sesuai dengan hipotesis penelitian yaitu “Pengaruh Penerapan Media Gambar Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa”. Maka teknik yang digunakan peneliti untuk menguji kebenaran dari hipotesis tersebut adalah teknik statistik inferensial dengan menggunakan uji-t.

Tabel 4.9 Analisis Perhitungan Skor Pretest dan Posttest

No. Prestest (X1) Posttest (X2) D= X2-X1 D2

1. 55 85 30 900

2. 45 80 35 1225

3. 45 60 15 225

4. 80 100 20 400

5. 40 80 40 1600

6. 70 90 20 400

7. 40 65 25 625

(59)

43

8. 40 70 30 900

9. 40 65 25 625

10. 70 95 25 625

11. 35 60 25 625

12. 45 80 35 1225

13. 65 85 20 400

14. 45 70 25 625

15. 45 75 30 900

Jumlah 760 1160 400 11300

Langkah-langkah untuk menguji hipotesis adalah sebagai berikut:

a. Mencari nilai Md dengan menggunakan rumus 𝑀𝑑 =∑ 𝑑

𝑁 = 400

15 = 26,67

b. Mencari nilai ∑X2d dengan menggunakan rumus

∑X2d = ∑d −(∑d)2 N

= 11300 −(400)2 15

= 11300 −160000 15

= 11300 − 10666,67

= 633,33

(60)

c. Menentukan harga thitung dengan menggunakan rumus 𝑡 = 𝑀𝑑

√ ∑𝑋2𝑑 𝑁(𝑁 − 1)

= 26,67

√ 633,33 15(15 − 1)

= 26,67

√633,33 15(14)

= 26,67

√633,33 210

= 26,67

√3,015

=26,67 1,73

= 15,41

d. Menentukan harga ttabel

Untuk menentukan harga ttabel dengan mencari ttabel menggunakan tabel distribusi t dengan taraf signifikan α = 0,05 dan d.b = N-1=15-1=14 sehingga dapat diperoleh t0,05 = 1,761.

Setelah diperoleh thitung 15,41 dan ttabel 1,761 maka diperoleh thitung >

ttabel atau 15,41 > 1,761 sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1

diterima, ini berarti bahwa terdapat pengaruh penerapan media gambar terhadap keterampilan berbicara siswa kelas III SD Inpres Gantarang Kabupaten Gowa.

Gambar

Gambar ...........................................................................................................
5) Gambar  harus  message.  Tidak  setiap  gambar  yang  bagus  merupakan  media  yang bagus
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
Tabel 3.2 One Group Pretest-Posttest Design
+7

Referensi

Dokumen terkait

ii KETERAMPILAN MENULIS TEKS DESKRIPSI MELALUI MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 2 GENTENG SKRIPSI Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Jember untuk memenuhi

Adapun solusi pemecahan yang digunakan untuk membantu murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata