• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harta yang tak pernah habis adalah Ilmu pengetahuan dan Ilmu yang tak ternilai adalah pendidikan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Harta yang tak pernah habis adalah Ilmu pengetahuan dan Ilmu yang tak ternilai adalah pendidikan."

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MOTIVASI ORANG TUA DAN MINAT BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS IV SDN 9/25 BANTIMURUNG

KECAMATAN TONDONG TALLASA KABUPATEN PANGKEP

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh gelar sarjana pendidikan pada jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

CITRA MAYASARI 10540 5493 12

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

2016

(2)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Harta yang tak pernah habis adalah Ilmu pengetahuan dan Ilmu yang tak ternilai adalah pendidikan.

Kupersembahkan karya ini buat:

Kedua orang tuaku, saudaraku, sahabatku dan bapak/ibu dosen pembimbing, yang selama ini tulus dan ikhlas meluangkan waktunya untuk menuntun dan mengarahkan saya, memberi bimbingan dan pelajaran yang tiada ternilai harganya, agar saya menjadi lebih baik.

Puji syukur yang tak terhingga pada orang tuaku yang telah memberikan moril maupun materi serta do’a yang tiada hentinya untuk kesuksesan saya, karena tiada seindah lantunan do’a dan tiada do’a yang paling khusuk selain do’a yang terucap dari orang tua. Ucapan terimakasih saja takkan pernah cukup untuk membalas kebaikan orang tua, karena itu terimalah persembahan bakti dan cinta ku untuk kalian bapak ibuku.

(3)

FAKI.]LTAS KBGTTRUAN DAI{

ILMU INIVERSITAS

MUIIAMMADTYA H

PENDIDIKAF{

MAKASSAR

Pendidikan pada Jurusan Pendid!

Ilmu Pendidikan Universi

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi atas rama CITRA MAYASARI, NIM 10540 5493 12 diterima dan disahkan oleh panitia ujian skripsi berdasarkan surat keputusan Rektor Universitas h.{uhammacliyah Makassar Nomor : 1l5/Tahun 1438 H/2016 M, tanggal 25 Muharram 1438 H/25 Sl'tober 2016 M, sebagai salah satu qyarat guna memperoleh gelar Sarjana

[\qrasar

S1 Fakultas Keguruan dan

@

hmi Jumat o4 Novernber

2016.

t&om*H':#s'

e"#g-e

3. Imawanty, S.Si., M.Si.

Makassar 4. Hilmi Hambali, S.P. d., M.Kes.

M.Hum.

I r* a:i f,

X. b r}I Arlt- ':<r':'-d'z4

"fllloM

* z. Ketua ru %r.SfJ;$ft$

,;;'*L'foffi

(4)

FAKTJLTAS KBGITRUAN I}A1\

ILMU

TINIYERSITAS

MUIIAMMADTYAH

PENDIDIKAN MAKASSAR

PERSETUJUAN PEMBIMBING

,-iama Malmsiswa : CITRA MATASARI

:\lM

: 10540 549312

Jurusan

: Pendidikan Guru Sekolah Dasar Sl

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah

::

Makassar

., '

-dJ' 'r.

Dengan

Judul

:

fenggffitotivasi

Orafigtqa. dan Minat Selajar Terhadap

Mr1pl Affiiir' {PA

pada sisrva Ketas

tv

sDn- stzs

*ut{ffi}SFF#-try;

r q n oon p.

*'

1*::"'-'

Pa n g kep

';' l, ! B-

S.glekA

hip.#

dan d*:$$Ftrlang, skripsi ini dinl'atakan telat layak mtulr

Ks-* ry,tY

Pendidikan

tvtffiar$

Agustus 2016

?.ffi

(5)

KATA PENGANTAR

Allah Maha Penyayang dan Pengasih, Segala puji dengan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik.

Merupakan kebahagiaan tersendiri yang penulis rasakan, karena banyaknya hambatan-hambatan yang penulis temui sejak awal pengamatan sampai pada berakhirnya penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan berbagai pihak, baik bentuk material ataupun moril skripsi ini tidak akan terwujud. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Paharuddin dan Nurhaedah yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan, mendidik dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu. Demikian pula penulis mengucapkan kepada para keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi dan selalu menemaniku dengan candanya, kepada Dra. Andi Marliah Bakri,M.Si dan Irmawanty,S.Si.,M.Si selaku pembimbing I dan pembimbing II, yang telah memberikan dorongan, bimbingan, masukan, komentar, nasehat, serta motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

Tidak lupa pula penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menimbah ilmu di Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan FKIP Unismuh yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian dalam

(6)

3. Ibu Sulfasyah, MA., Ph.D., ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan dorongan dan semangat untuk segera menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberi bekal ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dan menyelesaikan penulisan skripsi ini.

5. Bapak Abd. Mannan, S.Pd Kepala SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep yang telah mengizinkan dan membantu penulis untuk melakukan penelitian dalam rangka penyelesaian penulisan skripsi ini.

6. Ibu ST. Sukmawati, S.Pd.guru kelas IV SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep yang telah membantu penulis dalam pengumpulan data demi kelancaran dalam pelaksanaan penelitian ini.

7. Siswa dan siswi kelas IV SDN 9/25 Bantimurung yang terlibat dalam penelitian.

8. Teman-teman seperjuanganku Nurhikmah, dan Rara Vhiqi Asnur yang selalu membantu dan menemaniku dalam suka dan duka serta seluruh rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak memberikan masukan, saran, dan nasehat selama penyusunan skripsi ini.

Atas bantuan dari berbagai pihak, penulis memanjatkan do’a kepada kehadirat Allah SWT, semoga bantuan yang diberikan kepada penulis mendapatkan pahala disisinya. Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua. Amin Ya Robbil Alamin.

Makassar, Agustus 2016

(7)

ABSTRAK

CITRA MAYASARI, Pengaruh Motivasi Orang Tua dan Minat Belajar terhadap Prestasi Belajar IPA pada Siswa kelas IV SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep, jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing 1 Andi Marliah Bakri dan pembimbing II Irmawanty.

Masalah pokok dalam bahasan ini adalah adanya hasil prestasi belajar yang baik akibat pengaruh motivasi orang tua terhadap anaknya dalam menyongsong cita-cita dimasa depan. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui sejauh mana pengaruh motivasi orang tua terhadap prestasi belajar pada siswa.

Penelitian ini dilakukan di SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang ingin mendapatkan gambaran yang sesungguhnya dilapangan dengan mengumpulkan data primer melalui riset di lapangan dan data sekunder dengan melalui riset kepustakaan. Populasi adalah seluruh siswa kelas IV SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkeptahun ajaran 2015-2016.pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan random sampling. Dari populasi sebanyak 27 orang. Setelah diberikan sejumlah angket diperoleh hasil penelitian adanya pengaruh yang tinggi antara pengaruh motivasi orang tua dan minat belajar terhadap prestasi belajar pada siswa kelas IV SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi product moment dan uji lineritas regresi untuk mengetahui pengaruh motivasi orang tua dan minat belajar terhadap prestasi belajar IPA. Adapun hasilnya adalah Terdapat Pengaruh yang positif yang tergolong sangat kuat sehingga ada pengaruh antara motivasi orang tua dan minat belajar terhadap prestasi belajar IPA pada siswa kelas IV SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep sebesar 0,75. Dari hasil perhitungan koefisien determinan diketahui bahwa pengaruh minat belajar dan motivasi belajar memberikan kontribusi sebesar 70,56% terhadap prestasi belajar IPA siswa kelas Kelas IV SDN 9/ 25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep.

Kata kunci: Motivasi Orang Tua,Minat Belajar dan Prestasi Belajar IPA

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN……… …xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS ... 8

A. Kajian Pustaka ... 8

B. Kerangka Pikir ... 36

C. Hipotesis ... 38

(9)

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

A. Jenis Penelitian ... 41

B. Lokasi Penelitian ... 41

C. Populasi dan Sampel ... 41

D. Teknik Pengumpulan Data ... 42

E. Instrumen Pengumpulan Data ... 43

F. Rencangan Penelitian ... 45

G. Teknik Analisis Data... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50

A. GambarUmum Tentang SDN 9/25 Bantimurung ... 50

B. Deskriptif Data Penelitian ... 53

C. Analisis Data Penelitian ... 54

D. Pembahasan Hasil Uji Hipotesis ... 69

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 72

A. Simpulan ... 72

B. Saran ... 74 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(10)

DAFTAR TABEL

Table 3.1 Gambaran umum SDN 9/25 Bantimurung ………..

Table 3.2 Daftar Sarana dan Prasarana SDN 9/25 Bantimurung………

Table 3.3 Data Siswa SDN 9/25 Bantimurung………..

Table 3.4 Data Guru SDN 9/25 Bantimurung………

Table 3.5 Daftar Nama Responden………

Table 3.6 Jawaban Angket Motivasi Orang Tua………

Table 3.7 Jawaban Angket Minat Belajar………..

Table 3.8 Nilai Rapor Mata Pelajaran IPA………

Table 4.1 Skor Jawaban Angket tentang Motivasi Orang Tua………..

Table 4.2 Hasil Skor Minat Belajar………

Table 4.3 Tabel Kerja Distribusi Frekuensi Motivasi Orang Tua………..

Table 4.4 Nilai Interval Variabel X1………..

Table 4.5 Jawaban Angket tentang Motivasi Orang Tua………

Table 4.6 Hasil Skor tentang Motivasi Orang Tua………

Table 4.7 Tabel Kerja Distribusi Frekuensi Minat Belajar………

Table 4.8 Nilai Interval Variabel X2……….

Table 4.9 Nilai tentang Prestasi Belajar……….

Table 4.10 Kualifikasi Nilai Prestasi Belajar………...

Table 4.11 Tabel Kerja atau Tabel Perhitungan Variabel X1,Variabel X2, dan Variabel Y……….

Table 4.12 Ringkasan Statistik X1 dan Y………...

Table 4.13 Ringkasan Statistik X2 dan Y………..

Table 4.14 Ringkasan Statistik X1 Dan X2………

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Angket motifasi orang tua Lampiran 2 Angket minat belajar

Lampiran 3 Daftar hadir murid

Lampiran 4 Lampiran surat penelitian

Lampiran 5 Dokumentasi

(12)

DAFTAR GAMBAR

Daftar Gambar 3.1 Kerangka pikir………36 Daftar Gambar 3.2 Rancangan Penelitian ……….45

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu faktor kehidupan yang sangat penting bagi terbangunnya sebuah peradaban suatu bangsa. Pendidikan di Indonesia banyak mengalami masalah terutama dalam mutu pendidikan. Dengan demikian cukup beralasan apabila pendidikan harus mendapatkan perhatian yang cukup serius, lebih-lebih bagi kalangan pendidik maupun calon pendidik.

Tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang- Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan". Berdasarkan tujuan tersebut maka setiap pembelajaran diharapkan semua siswa dapat menguasai ilmu yang dipelajari dan dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai tugas untuk menghantarkan peserta didik untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Secara lebih spesifik Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa salah satu jenjang pendidikan di Indonesia yakni Sekolah Dasar (disingkat SD). Sekolah Dasar adalah jenjang paling dasar pada

(14)

pendidikan formal di Indonesia. Sekolah Dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun. mulai dari kelas 1 sampai kelas VI. Tujuan Pendidikan Dasar yakni memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah.

Salah satu tingkatan atau kelas yang ada di Sekolah Dasar adalah kelas IV secara umum siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) berada pada usia 9-10 tahun.

Menurut Elizabeth B. Hurlock (1994 : 146 ), pada usia ini individu berada pada fase akhir anak-anak (late childhood) fase anak-anak berlangsung antara usia 6-12 tahun. Pada usia ini anak akan dihadapkan pada berbagai tugas perkembangan.

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya produk saja tetapi juga mencakup pengetahuan seperti keterampilan dalam hal melaksanakan penyelidikan ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud misalnya melalui pengamatan, eksperimen, dan analisis yang bersifat rasional.

Sedangkan sikap ilmiah misalnya objektif dan jujur dalam mengumpulkan data yang diperoleh. Dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah itu sains memperoleh penemuan-penemuan atau produk yang berupa fakta, konsep, prinsip dan teori.

Proses belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor diantaranya adalah lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar siswa adalah orang tua.

Orang tua adalah komponen yang terdiri dari ayah dan ibu. Dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah

(15)

keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat (Sudirman, 1991 : 11). Perhatian orang tua dalam aktivitas belajar anak sangat diperlukan dalam perkembangan pribadi anak. Maka orang tua sangat berperan memberikan pengarahan tuntunan kepada anak sehingga anak tidak segan-segan untuk belajar dengan baik dan teratur. Menurut Kartini Kartono (1990: 111) bentuk perhatian orang tua terhadap anak dapat berupa pemberian bimbingan, pengawasan terhadap belajar.

Pemberian motivasi dan penghargaan serta pemenuhan kebutuhan belajar.

Pemberian bimbingan adalah bantuan yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Memberikan bimbingan kepada anak merupakan kewajiban orang tua. Bimbingan belajar terhadap anak berarti pemberian bantuan kepada anak dalam membuat pilihan- pilihan secara bijiksana dan dalam penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan hidup, agar anak lebih terarah dalam belajarnya dan bertanggung jawab dalam menilai kemampuannya sendiri dan menggunakan pengetahuan mereka secara efektif bagi dirinya. Anak sangat memerlukan bimbingan dari orang tua. Terlebih lagi dalam masalah belajar. Untuk itu orang tua perlu memberikan bimbingan kepada anak selama ia belajar. Dengan pemberian bimbingan ini anak akan merasa semakin termotivasi, dan dapat menghindarkan kesalahan dan memperbaikinya.

Minat siswa terhadap pelajaran merupakan kekuatan yang akan mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat (sikapnya senang) kepada pelajaran

(16)

akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar , berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima kepada pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk bisa terus tekun karena tidak ada pendorongnya.

Minat merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi belajar. Minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan/mata pelajaran dan juga kepada guru mengajarnya. Apabila siswa tidak berminat kepada bahan/mata pelajaran juga kepada gurunya, maka siswa tidak akan mau belajar. Oleh karena itu, guru harus memberi motivasi agar siswa mau belajar dan memperhatikan pelajaran.

Pemberian motivasi dan penghargaan. Sebagai pendidik yang utama dan pertama, orang tua hendaknya mampu memberikan motivasi dan dorongan. Sebab tugas memotivasi belajar bukan hanya tanggung jawab guru semata, tetapi orang tua juga berkewajiban memotivasi anak agar lebih giat belajar. Jika anak tersebut memiliki prestasi yang bagus hendaknya orang tua menasehati kepada anaknya untuk meningkatkan aktivitas belajarnya. Dan untuk mendorong semangat belajar anak hendaknya orang tua mampu memberikan semacam penghargaan berupa hadiah atau pujian untuk menambah minat belajar bagi anak itu sendiri. Namun jika prestasi belajar anak jelek maka tanggung jawab orang tua adalah memberikan motivasi atau dorongan kepada anak untuk lebih giat dalam belajar.

Penghargaan adalah sesuatu yang diberikan orang tua kepada anaknya karena adanya keberhasilan anak dalam belajar sehingga meraih prestasi. Hal ini sangat berguna bagi anak karena dengan penghargaan anak akan timbul rasa bangga, mampu atau percaya diri dan berbuat yang lebih maksimal lagi untuk mencapai

(17)

prestasi yang lebih tinggi.Yang harus diperhatikan orang tua adalah memberikan pujian dan penghargaan pada kemampuan atau prestasi yang diperoleh anak.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tentang “Pengaruh Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar IPA Pada Siswa Kelas IV SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah terdapat pengaruh antara minat belajar terhadap prestasi belajar IPA pada siswa kelas IV SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep?”

C. Tujuan Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini, tujuan yang hendak dicapai yaitu Untuk mengetahui pengaruh minat belajar terhadap prestasi belajar IPA SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep .

D. Defenisi Operasional

Untuk menghindari persepsi dan kesamaan konsep dalam mengartikan istilah maka ditegaskan beberapa istilah sebagai berikut :

1. Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.

2. Minat belajar adalah suatu kerangka mental yang terdiri dari kombinasi gerak perpaduan dan campuran dari perasaan, prasangka,cemas dan kecenderungan,lain yang biasa mengarahkan individu kepada suatu pilihan

(18)

tertentu.

3. Prestasi belajar IPA adalah hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk setelah siswa mengikuti pelajaran.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti seperti berikut :

1) Manfaat teoritis

a. Memberikan masukan mengenai perhatian orang tua dan motivasi belajar dalam dunia pendidikan.

b. Dapat memperkaya wacana ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan tentang perhatian orang tua dan motivasi belajar yang berpengaruh dengan prestasi belajar IPA.

2) Manfaat Praktis

a. Bagi Universitas Muhamadiyah Makassar

Mengembangkan ilmu pngetahuan untuk penelitian selanjutnya. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pengetahuan tentang pengaruh minat belajar siswa terhadap prestasi belajar IPA.

b. Bagi sekolah yang diteliti

Dengan mengetahui pengaruh perhatian orang tua dan minat belajar IPA terhadap prestasi belajar diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pertimbangan prestasi belajar di sekolah tersebut.

c. Bagi Guru

Sebagai masukan dalam usaha peningkatan prestasi belajar. Dengan

(19)

mengetahui pengaruh perhatian orang tua dan motivasi belajar, guru dapat memperhatikan hal tersebut guna menunjang prestasi belajar yang maksimal.

d. Bagi Siswa

1) Memberi pengetahuan bahwa intensitas belajar berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.

2) Dengan mengetahui pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar diharapkan minat belajar siswa akan meningkat, sehingga meningkat pula prestasi belajarnya.

(20)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

1. Kajian Pustaka

A. Hakekat Motivasi Belajar a. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi merupakan faktor penggerak maupun dorongan yang dapat memicu timbulnya rasa semangat dan juga mampu merubah tingkah laku manusia atau individu untuk menuju pada hal yang lebih baik untuk dirinya sendiri. Sardiman (2008:75) mendefinisikan motivasi sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Motivasi adalah perubahan dalam diri atau pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi dapat ditinjau dari dua sifat, yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan pendorong dari dalam individu., sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang keberadaannya karena pengaruh dari luar individu. Tingkah laku yang terjadi dipengaruhi oleh lingkungan.

Motivasi merupakan tenaga pendorong bagi seseorang agar memiliki energi atau kekuatan melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Motivasi sebagai suatu kekuatan yang mampu mengubah energi dalam diri seseorang dalam bentuk aktivitas nyata untuk

(21)

perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan). Perubahan energi di dalam diri seseorang tersebut kemudian membentuk suatu aktivitas nyata dalam berbagai bentuk kegiatan.

Motivasi terkait erat dengan kebutuhan. Semakin besar kebutuhan seseorang akan sesuatu yang ingin ia capai, maka akan semakin kuat motivasi untuk mencapainya.

Kebutuhan yang kuat terhadap sesuatu akan mendorong seseorang untuk mencapainya dengan sekuat tenaga. Hanya dengan motivasilah anak didik dapat tergerak hatinya untuk belajar besama-sama teman- temannya yang lain Djamarah (2006:148).

Dalam kegiatan belajar, peran guru sangat penting di dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa. Menyadari bahwa motivasi terkait erat dengan kebutuhan, maka tugas guru adalah meyakinkan para siswa agar tujuan belajar yang ingin diwujudkan menjadi suatu kebutuhan bagi setiap siswa. Guru hendaknya dapat meyakinkan siswa bahwa hasil belajar yang baik adalah suatu kebutuhan guna mencapai sukses yang dicita – citakan.

Perilaku atau sikap yang terpuji adalah kebutuhan, karena sesorang kelak tidak mungkin dapat hidup harmonis dan diterima lingkungan sosial masyarakat bilamana ia tidak dapat menunjukkan sikap atau perilaku yang baik. Keterampilan tertentu adalah kebutuhan, karena setiap pekerjaan membutuhkan keterampilan. Bilamana guru dapat merubah tujuan-tujuan belajar ini menjadi kebutuhan, maka siswa akan lebih mudah untuk terdorong melakukan aktivitas belajar.

Motivasi belajar adalah proses yang memberi semangat belajar, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama (Agus Suprijono,2009:163). Winkel (1983:270) mendefinisikan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan serta memberi arah pada kegiatan belajar.

(22)

Dari berbagai pengertian diatas dapat diambil pengertian bahwa motivasi belajar adalah suatu dorongan atau daya penggerak dari dalam diri individu yang memberikan arah dan semangat pada kegiatan belajar, sehingga dapat mencapai tujuan yang dikehendaki. Jadi peran motivasi bagi siswa dalam belajar sangat penting. Dengan adanya motivasi akan meningkatkan, memperkuat dan mengarahkan proses belajarnya, sehingga akan diperoleh keefektifan dalam belajar.

Motivasi di dalam kegiatan belajar merupakan kekuatan yang dapat menjadi tenaga pendorong bagi siswa untuk mendayagunakan potensi-potensi yang ada pada dirinya dan potensi diluar dirinya untuk mewujudkan tujuan belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar akan nampak melalui kesungguhan untuk terlibat dalam proses belajar.

Siswa yang memiliki motivasi belajar akan nampak melalui kesungguhan untuk terlibat didalam proses belajar., antara lain nampak melalui keaktifan bertanya, mengemukakan pendapat, menyimpulkan pelajaran, mencatat, membuat resume, mempraktekkan sesuatu, mengerjakan latihan-latihan dan evaluasi sesuai dengan tuntutan pembelajaran.

Di dalam aktivitas belajar sendiri, motivasi individu dimanifestasikan dalam bentuk ketahanan atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak isi pelajaran, kesungguhan dan ketelatenan dalam mengerjakan tugas dan sebagaianya.

Sebaliknya siswa – siswa yang tidak atau kurang memiliki motivasi, umumnya kurang mampu bertahan untuk belajar lebih lama, kurang sungguh- sungguh dalam mengerjakan tugas. Sikap yang kurang positif didalam belajar ini semakin nampak ketika tidak ada orang lain (guru, orang tua) yang mengawasinya. Oleh karena itu, rendahnya motivasi merupakan masalah dalam belajar, karena hal ini memberikan dampak lagi ketercapaian hasil belajar yang diharapkan.

b. Fungsi Motivasi Belajar

Motivasi memiliki fungsi bagi sesorang karena motivasi dapat menjadikan

(23)

seseorang mengalami perubahan kearah yang lebih baik. Fungsi motivasi menurut Sardiman (2008:85) yaitu:

1) Mendorong manusia untuk berbuat,jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energy.

2) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.

3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan mana yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Selanjutnya Hamzah B,Uno (2008:17) menjelaskan bahwa fungsi motivasi dalam belajar adalah sebagai berikut:

1) Mendorong manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang didasarkan atas pemenuhan kebutuhan.

2) Menentukan arah tujuan yang hendak dicapai.

3) Menentukan perbuatan yang harus dilakukan.

Berdasarkan pendapat diatas, fungsi motivasi dalam belajar antara lain adalah untuk mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan aktivitas-aktivitas peserta didik dalam belajar sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Dengan hal tersebut seseorang melakukan suatu usaha yang sungguh-sungguh karena adanya motivasi yang baik.

c. Ciri-Ciri Motivasi Belajar

Orang termotivasi dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada pada diri orang tersebut.

Berikut ini akan diuraikan beberapa pendapat tentang cirri-ciri dalam motivasi belajar siswa:

1) Dedi supriyadi (2005 : 80) berpendapat bahwa motivasi belajar siswa dapat diamati dari beberapa aspek yaitu: memperhatikan materi, ketekunan dalam belajar,

(24)

ketertarikan dalam belajar, keseringan belajar, komitmennya dalam memenuhi tugas- tugas sekolah, semangat dalam belajar dan kehadiran siswa disekolah.

2) Sardiman ( 2008 : 83) mengemukakan cirri-ciri orang yang bermotivasi dalah sebagai berikut:

a) Tekun menghadapi tugas b) Ulet menghadapi kesulitan

c) Menunjuk minat terhadap bermacam-macam masalah d) Lebih senang bekerja mandiri

e) Cepat bosan pada tugas-tugas rutin f) Dapat mempertahankan pendapatnya

g) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu h) Senang memecahkan masalah soal-soal

3) Cirri-ciri motivasi belajar menurut Hamzah B. Uno (2008 :23) Dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a) Adanya hasrat dan keinginan berhasil

b) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar c) Adanya harapan dan cita-cita masa depan d) Adanya penghargaan dalam belajar

e) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar f) Adanya lingkungan belajar yang kondusif.

Dari beberapa cirri-ciri motivasi menurut para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.

Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun, menunjukkan ketertarikan, senang mengikuti pelajaran, mengajukan pertanyaan, berusaha mempertahankan pendapat, senang memecahkan masalah soal-soal, maka pembelajaran akan berhasil dan

(25)

seseorang yang belajar itu dapat mencapai prestasi yang baik.

d. Cara Mengembangkan Motivasi Belajar Pada Siswa

Menurut Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi (2007 :10), motivasi pada siswa dapat tumbuh melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, memberikan kesempatan kepada peserta didik menyalurkan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian peserta didk, seperti gambar,video, foto, dan lain sebagainya.

Menurut Sardiman (2008 : 92-95) ada beberapa contoh dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar disekolah. Beberapa bentuk dan cara motivasi tersebut diantaranya (a). memberi angka ;(b)hadiah ; (c) saingan atau kompetisi

;(d)ego-involvement (e) memberi ulangan; (f) mengetahui hasil; (g)pujian; (h) hukuman;

(i) hasrat untuk belajar ; (j) minat; (k) tujuan yang diakui.

Dari beberapa defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi dapat ditumbuhkan melaui cara-cara mengajar yang bervariasi sehingga mampu menumbuhkan hasrat dan menarik perhatian siswa, memberikan ulangan dapat memberi kesempatan kepada peserta didik menyalurkan dan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar, pemberian pujian dan hadiah atas prestasi siswa juga bisa membangkitkan semangat untuk lebih giat belajar sehingga tujuan pendidikan dan keberhasilan pembelajaran dapat dicapai.

e. Mengenal dan mengatasi kesulitan bealajar siswa

Dalam pelaksanaan tugas pembelajaran, guru tidak hanya berkewajiban menyajikan materi pelajaran dan mengevaluasi pekerjaan siswa, akan tetapi juga bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan belajar.sebagai pembimbing belajar siswa, guru harus mengadakan pendekatan bukan saja melalui pendekatan intruksional,

(26)

akan tetapi dibarengi dengan pendekatan yang bersifat pribadi (personal approach) dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Melalui pendekatan pribadi, guru akan secara langsung mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa setiap guru adalah sebagai pengajar sekaligus berperan sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar. Abdillah (2008), mengemukakan bahwa sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar, seorang guru diharapkan mampu:

1) Memberikan informasi yang diperlukan dalam proses belajar

2) Membantu setiap siswa dalam mengatasi setiap masalah pribadi yang dihadapinya 3) Mengevaluasi hasil setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya

4) Memberikan setiap kesempatan yang memadai agar setiap murid dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadinya

5) Mengenal dan memahami setiap murid baik secara individual maupun secara kelompok.

Agar bimbingan belajar dapat lebih terarah dalam upaya membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar maka, perlu diperhatikan langkah-langkah berikut:

1) Identifikasi

Identifikasi adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan kegiatan berikut:

a) Data dokumen hasil belajar siswa

b) Menganalisis absensi siswa di dalam kelas c) Mengadakan wawancara dengan siswa

d) Menyebar angket utuk memperoleh data tentang permasalahan belajar

e) Tes untuk memperoleh data tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang sedang

(27)

dihadapi.

2) Diagnosis

Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang dialami siswa.

Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:

a) Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar siswa

b) Keputusan mengenai faktor-faktor yang menjadi sumber sebab-sebab kesulitan belajar

c) Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang mengalami kesulitan belajar Kegiatan diagnosis dapat dilakukan dengan cara:

a) Membandingkan nilai prestasi individu untuk setiap mata pelajaran dengan rata-rata nilai seluruh individu.

b) Membandingkan prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut.

c) Membandingkan nilai yang diperoleh dengan batas minimal tujuan yang diharapkan.

3) Prognosis

Prognosis merujuk pada aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa. Prognosis ini dapat berupa:

a) Bentuk treatmen yang harus diberikan b) Bahan atau materi yang diperlukan c) Metode yang akan digunakan

d) Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan e) Waktu kegiatan dilaksanakan

4) Terapi atau pemberian bantuan

Terapi yang dimaksud adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami

(28)

kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis.

Bentuk terapi yang dapat diberikan antara lain:

a) Bimbingan belajar kelompok b) Bimbingan belajar individual c) Pengajaran remedial

d) Pemberian bimbingan pribadi e) Alih tangan kasus

5) Tindak Lanjut atau follow up

Tindak lanjut atau follow up adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya yang didasari hasil evaluasi terhadap tinadakan yang dilakukan dalam upaya pemberian bimbingan.

2. Hakekat Minat Belajar a. Pengertian minat belajar

Minat siswa terhadap pelajaran merupakan kekuatan yang akan mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat (sikapnya senang) kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerimah kepada pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk bisa terus tekun karena tidak ada pendorongnya.

Belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka. Hal ini dinyatakan dalam surat Mujadalah: 11 yang berbunyi “niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orang-orang beriman dan berilmu.

Minat merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi belajar.

(29)

Minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan/mata pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya. Apabila siswa tidak berminat kepada bahan/mata pelajaran juga kepada gurunya ,maka siswa tidak akan mau belajar.

Oleh karena itu, guru harus memberi motivasi agar siswa mau belajar dan memperhatikan pelajaran.

Guru perlu sekali mengenal minat-minat muridnya, karena ini penting bagi guru untuk memilih bahan pelajaran, merencanakan pengalaman-pengalaman belajar, menuntun mereka kearah pengetahuan, dan untuk mendorong motivasi belajar mereka (Hamalik, 2008:105).

Minat juga sebagai salah satu faktor internal mempunyai peranan dalam menunjang prestasi belajar siswa, siswa yang tidak berminat terhadap bahan pelajaran akan menunjukkan sikap yang kurang simpatik, malas dan tidak bergairah mengikuti proses belajar mengajar. Untuk merangsang perhatian siswa setiap guru dituntut harus mampu menciptakan suasana proses belajar mengajar sedemikian rupa sehingga mampu menarik perhatian siswa terhadap apa yang diberikan. Suatu keadaan yang menarik perhatian siswa diharapkan dapat menimbulkan minat dan motivasi belajar siswa.

Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sriyanti(2009:8) minat merupakan kecenderungan untuk memperhatikan dan berbuat sesuatu. Syah (2010:152) juga mengungkapkan bahwa minat itu kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang –bidang studi tertentu. Umpamanya, seorang siswa yang menaruh minat

(30)

besar terhadap IPA akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dari pada siswa lainnya. Kemudian, karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan (syah,2010:152).

Menurut Sriyanti (2009:8), minat merupakan kecenderungan untuk memperhatikan dan berbuat sesuatu. Menurut Pasaribu Simandjuntak (1983: 52), minat adalah suatu motip yang menyebakan individu itu berhubungan secara aktif dengan barang yang menariknya.

Minat belajar adalah rasa suka atau ketertarikan peserta didik terhadap pelajaran sehingga mendorong peserta didik untuk menguasai pengetahuan dan pengalaman, hal tersebut dapat ditunjukkan melalui partisipasi dan keaktifan dalam mencari pengetahuan dan pengalaman tersebut.

Berdasarkan dari beberapa devenisi yang dikemukakan oleh para ahli seperti yang dikutip diatas, dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah kecenderungan jiwa yang relative menetap kepada diri seseorang dan biasanya disertai dengan perasaan senang.

Indikator dari minat belajar:

1) Mengikuti jadwal belajar IPA

2) Rasa ingin tahu dalam pembelajaran IPA 3) Pelajaran yang menyenangkan

4) Menjawab pertanyaan dengan mudah 5) Membuat catatan yang lengkap

6) Tidak terlambat masuk mengajar atau tidak masuk

(31)

7) Selalu membaca bahan pellajaran IPA 8) Berusaha belajar IPA sendiri

9) Bergairah mengikuti pelajaran IPA 10) Memikirkan materi saat belajar IPA

11) Memperhatikan dengan seksama jika guru menerangkan 12) Serius belajar IPA

3. Prestasi belajar IPA

Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi belajar” (achievement) berbeda dengan “hasil belajar” (learning autcome). Prestasi belajar umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak peserta didik (arifin,2009:11).

Menurut Sulastri(2009:51)berpendapat bahwa prestasi adalah suatu hasil dari apa yang telah diusahakan dengan menggunakan daya atau kekuatan.

Sedangkan menurut Tirtonegoro (1984:14) prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.hal yang menjadi faktor penentu apakah anak berbakat akan mencapai prestasi belajar tinggi atau prestasi belajar kurang, tergantung dari keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Dengan demikian, prestasi belajar ini dapat dipandang dari dua sisi(Uno dan Kuadrat, 2009:90).

Berdasarkan uraian diatas, maka prestasi belajar IPA dapat diartikan sebagai hasil belajar ipa yang diperoleh setelah menempuh proses belajar ipa yang

(32)

dilambangkan dengan nilai hasil belajar. Jadi prestasi belajar ipa adalah bukti keberhasilan usaha yang dicapai dalam belajar IPA.

Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi baik dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya.

Yang tergolong faktor interen adalah :

1) Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya

2) Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas:

a) Faktor intelektif yang meliputi:

1. Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat

2. Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki

3. Faktor non intelektif, yaitu unsur- unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri.

b). Faktor kematangan fisik maupun psikis Yang tergolong faktor eksternal, ialah:

a. Faktor sosial yang terdiri atas:

1. Lingkungan keluarga 2. Lingkungan sekolah

(33)

3. Lingkungan masyarakat 4. Lingkungan kelompok

b. Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian c. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah , fasilitas belajar, iklim d. Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan (Ahmadi dan Supriyono,

2004:139)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar IPA dapat diartikan sebagai hasil belajar yang diperoleh setelah menempuh proses belajar IPA yang dilambangkan dengan nilai hasil belajar. Selanjutnya dari beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar diatas, yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini adalah motivasi dan minat yang termasuk dalam faktor psikologis dan tergolong faktor internal.

Masalah belajar merupakan masalah yang dihadapi setiap manusia sepanjang hidup. Karena hampir semua kepandaian, kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kegemaran, kebiasaan, dan sikap semua itu terbuntuk dan berkembang oleh adanya kegiatan belajar. Oleh sebab itu balajar merupakan tindakan yang kompleks sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa (anak didik) itu sendiri.

Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.

Proses belajar terjadi berkat siswa mempelajari sesuatu yang ada dilingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar.

Tindakan belajar tentang sesuatu hal tersebut tampak sebagai perilaku belajar

(34)

yang tampak dari luar. Apakah yang menyebabkan belajar itu adalah hal-hal diluar siswa juga sukar ditentukan oleh karena beberapa ahli mengemukakan pandangan yang berbeda tentang belajar.

Menurut W.S Winkel (1991: 36) : Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang belangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai serta sikap. Perubahan-perubahan itu bersifat secara relatif, konstan dan berbekas.

Belajar merupakan suatu kegiatan mental dan fisik dalam interaksi dengan lingkungan sedangkan yang dimaksud dengan aktivitas psikis adalah sesuatu kegiatan yang terjadi dalam jiwa yang ditampilkan interaksi aktif dengan lingkungan dalam belajar terjadi saat individu berhubungan secara aktif dengan lingkungan dalam belajar.

Winkel (1991: 36) mendefinisikan belajar sebagai “suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman , keterampilan dan sikap”..Walker dalam (dalam Ahmadi 1990/; 119) mengartikan belajar sebagai “perubahan sebagai akibat dari adanya pengorbanan yang merupakan proses dimana tingkah laku idividu ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman”. Howard L. Kingsle mengemukan definisi belajar “Learning is the process by which behavior (in the broader sense) in originated or changed through practice or training”. Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

(35)

Belajar merupakan proses dari pada perkembangan hidup manusia.Dengan belajar, manusia melakukan perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari belajar. Kita pun hidup menurut dan bekerja menurut apa yang telah kita pelajari. Belajar itu bukan sekedar pengalaman tetapi belajar adalah suatu proses, dan bukan suatu hasil. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.

1) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam diri siswa maupun yang berasal dari luar diri siswa. Agar siswa dapat mencapai prestasi belajar yang optimal sesuai yang dimaksud.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa menurut Sumadi Suryabrata (1981: 27) adalah sebagai berikut :

a) Faktor dari luar diri siswa

Faktor yang ada diluar diri siswapun besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Hal ini dimungkinkan karena kondisi yang ada berhubungan langsung dengan keadaan fisik dan non fisik siswa.

b) Faktor lingkungan

Lingkungan dapat berwujud lingkungan alami dan lingkungan sosial.

Lingkungan alami seperti udara panas tentu saja berpengaruh terhadap proses belajar siswa, oleh karena itu prestasi belajar akan lebih baik jika keadaan udara dalam keadaan segar.

(36)

c) Faktor instrumen

Faktor instrumen adalah faktor yang keberadaannya dan penggunaannya sudah direncanakan sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan seperti gedung, perlengkapan media belajar, dan alat-alat lain yang dapat dipergunakan dan dimanfaatkan. Faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai mana yang diharapkan sehingga dapat membawa hasil belajar yang optimal.

d) Faktor dari dalam diri siswa

Faktor dari dalam diri siswa ini sangat menentukan proses dan hasil belajar siswa, karena kegiatan belajar ini melibatkan seluruh organ tubuh siswa.

e) Faktor fisiologis

Kondisi fisiologis pada umumnya yakni berupa kesehatan jasmani siswa sangat berpengaruh terhadap kegiatan belajar siswa. Misalnya siswa yang dalam keadaan jasmaninya sehat dan segar akan lain halnya jika dibandingkan dengan siswa yang dalam keadaan kesehatannya lemah dan sering mengantuk. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah keadaan panca indera siswa, terutama penglihatan dan pendengaran, apabila alat-alat tersebut terganggu, maka hasil belajar juga akan kurang baik.

f) Faktor psikologis

Keadaan dan fungsi psikologis siswa juga sangat berpengaruh terhadap proses belajarnya. Faktor psikologis yang penting disini adalah berupa minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif.

(37)

Dari faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar tersebut, jelaslah faktor dari luar diri siswa yakni ketersediaan media pembelajaran siswa dan lingkungan yang dimanfaatkan sebagai sumber belajar kedudukannya sangat penting. Hal ini tidak terlepas dari kondisi psikologis maupun fisiologis siswa.

4. Hubungan Minat Belajar dan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPA Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah minat belajar. Minat belajar yang tinggi akan mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar ipa.

Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik dariapada belajar tanpa minat. Minat ini timbul apabila murid tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari dirasakan bermakna bagi dirinya (Hamalik,2008:33). Sejalan dengan itu Sriyanti (2009:8) mengemukakan bahwa minat mengakibatkan seseorang rela meluangkan waktu lebih banyak terhadap hal yang diminati. Minat bahkan membuat seseorang rela mengeluarkan biaya, tenaga demi minatnya tersebut , sehingga dapat dikuasainya. Suksesnya hasil belajar dapat menambah minat belajar, dan hal itu dapat diteruskannya sepanjang kehidupan. Minat murid pada IPA, ilmu-ilmu pengetahuan, bahasa asing atau suatu mata pelajaran yang lain yang dapat didasarkan atas kecakapan yang nyata dari sustu mata pelajaran tertentu (Kasijian,1984:353).

Selanjutnya minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi belajar dan hasilnya maka minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil

(38)

belajar siswa dalam bidang-bidang tertentu. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Maka apabila seorang siswa mempunyai minat yang besar terhadap suatu bidang studi ia akan memusatkan perhatian lebih banyak dari temannya, kemudian karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi kuliah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat.

Dan akhirnya mencapai prestasi yang tinggi dalam bidang studi tersebut.

Minat berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran ipa siswa karena bila mata pelajaran ipa yang dipelajari tidak sesuai dengan minat belajar siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan baik. Sebaliknya siswa yang memiliki minat terhadap mata pelajaran ipa akan senang belajar sehingga dapat berhasil dalam mata pelajaran IPA.

5. Hubungan Minat Belajar terhadap prestasi belajar IPA

Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah minat belajar. Minat belajar yang kuat akan mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar IPA.

Menurut Djamarah dan Zaim (2002:182) minat memegang peranan penting dalam belajar. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak motivasi di dalam dirinya. Bahkan tanpa minat, sesorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Maka dari itu, guru selalu memperhatikan masalah minat ini dan berusaha agar tetap tergejolak didalam diri setiap siswa selama pelajaran berlangsung. Sejalan dengan Kasijian (1984:359) minat memberi semangat seorang pelajar dalam kegiatan-kegiatan belajarnya. Anak-anak pada

(39)

masa-masa permulaan sekolah dapat distimuli untuk perbuatan pekerjaan- pekerjaan yang baik melalui pujian-pujian dari guru, menampilkannya sebagai juara atau dengan memberikan hadiah-hadiah yang bersifat kebetulan. Motivasi untuk anak-anak belum cukup memberi kekuatan dan menguasai bahan-bahan pelajaran, seperti dalam menerima perhatian-perhatian tertentu. Anak makin tumbuh menjadi lebih tua, minat yang ada padanya makin berpengaruh didalam belajarnya.

Sriyanti (2009:8) dengan motif yang kuat anak mempunyai banyak tenaga yang mendorong belajar., sehingga aktivitas belajarnya lebih bertahan lama.

Motivasi yang lemah membuat kemauan anak mau belajar anak mudah luntur., karena itu perlu dipupuk, diupayakan oleh pendidik. Minat yang kuat adalah minat yang berasal dari dalam diri anak atau disebut motif intrinsic. Motif ekstrinsik yaitu motif yang bersumber dari luar. Motif intrinsic terjadi bila seseorang belajar karena ingin mendapat kepintaran, ingin memperoleh ilmu bukan terdorong faktor lain. Sedangkan motif ekstrinsik nampak dari seseorang yang mau kuliah karena takut absensinya kurang, karena ingin ketemu teman dan sebagainya.

Selanjutnya, Uno (2007:27) mengatakan bahwa prestasi belajar anak itu rendah karena motivasi belajarnya kurang, itu berarti bahwa anak itu kurang mampu menjelmakan kekuatan yang dimilikinya secara potensial menjadi perbuatan belajar. Ucapan itu dapat pula berarti bahwa lingkungannya kurang berusaha untuk menguatkan atau mengerahkan tenaga potensial itu menjadi perbuatan yang aktual.

(40)

Minat berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPA siswa karena bila siswa tidak mempunyai motivasi untuk mata pelajaran IPA yang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar dengan baik. Sebaliknya siswa yang memiliki minat terhadap pelajaran IPA akan senang belajar sehingga dapat berhasil dalam pelajaran IPA.

6. Tinjauan Umum Mata Pelajaran IPA di SD

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.

Serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaranannya menekankan pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang alam sekitar. Ilmu Pengetahuan Alam diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat di identifikasikan.

Penerapannya dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.ditingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran saling temas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui

(41)

penerapan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu, pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pembangunan kurikulum disetiap satuan pendidikan.

Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.

1. Pembelajaran IPA di SD/MI

Dalam berbagai sumber hakikat sains adalah produk, proses dan penerapannya (teknologi), termasuk sikap, nilai terdapat didalamnya, produk sains terdiri fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori melalui penggunaan proses sains, yaitu melalui metode-metode sains atau metode ilmiah (scientific methods), bekerja ilmiah (scientific inquiry),. Banyak orang berpendapat agar siswa menguasai produk sains sebanyak-banyaknya, belajar berbuat, berfikir dan bertindak seperti ilmuan (scientific). Dengan demikian, belajar sains atau membelajarkan sains kepada siswa adalah memberikan kesempatan atau bekal untuk memproses sains dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui cara-cara yang benar dan mengikuti etika keilmuan etika yang berlaku dalam

(42)

masyarakat. Menurut Nuryani Rustam, IPA adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitar beserta isinya dan gejala-gejala yang muncul dialam bersifat objektif.

Menurut Srini M. Iskandar hakekat IPA ada empat yaitu:1. Ilmu pengetahuan alam sebagai produk ilmu pengetahuan alam sebagai disiplin disebut sebagai produk IPA merupakan kumpulan hasil kegiatan empiric, analitik yang dilakukan oleh para ilmuan selama berabad-abad sebagai produk berupa fakta- fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori-teori. Jika ditelaah lebih lanjut maka fakta-fakta merupakan hasil dari kegiatan empirik sedangkan konsep- konsep, prinsi-prinsip, dan teori-teori merupakan hasil dari kegiatan analitik. 2.

IPA sebagai proses keterampilan proses adalah keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuan diantaranya mengamati, mengukur, menarik kesimpulan, mengendalikan variable, menuliskan hipotesa, membuat grafik table data, definisi operasional, dan melakukan eksperimen. 3. IPA sebagai sikap ilmiah adalah sikap tertentu yang diambil dan dikembangkan oleh ilmuan untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Perkembangan teknologi berhubungan dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari belajar IPA. Penerapannya dalam dunia nyata tercantum pada kurikulum sehingga siswa terlibat dalam mengidentifikasi masalah dunia nyata dan alternative penyelesaiannya dengan menggunakan teknologi. Jadi peneliti menyimpulkan bahwa IPA merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang fenomena alam yang ada dilingkungan sekitar, meliputi: proses, produk, sikap dan teknologi .

(43)

2. Teori yang Melandasi Pembelajaran IPA a. Teori kontruktivisme

Kontruktivisme adalah salah satu filsafat menekankan pengetahuan kontruksi (bentukan) kita sendiri. Para kontruktivis menjelaskan satu-satunya alat yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya.

Seseorang berinteraksi dengan objek lingkungannya dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan melaksanakannya. Dengan sentuhan indrawi itu seseorang membangun gambaran duniawinya. Model pembelajarana kontruktivisme adalah suatu model pembelajaran dirancang melalui proses belajar peserta didik yang proaktif. Menurut penganut kontruktivisme pengetahuan dibina secara aktif oleh seseorang yang berpikir.

Seseorang tidak akan menyerap pengetahuan dengan fasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik akan menyesuaikan informasi baru atau pengetahuan yang disampaikan guru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah disampaikan guru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimilikinya melalui interaksi sosial.

Menurut Schuman dalam Yulaewati konstruktivisme dikemukakan dengan pemikiran bahwa semua orang membangun pandangannya terhadap dunia melalui pengalaman individual, atau skema. Kostruktivisme menekankan pada penyiapan peserta didik untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi yang tidak tentu. Manfaat model pembelajaran kontruktivisme antara lain: a). membina peserta didik menjadi lebih mandiri.b).

mengembangkan daya kreatifitas peserta didik karena ia harus memperlihatkan

(44)

hasil belajar atau karyanya , c). berlatih bekerja sama dengan tim anggota peserta didik lainnya.

Menurut Tyler, beberapa kebaikan pembelajaran berdasarkan konstruktivisme yaitu:

1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri. Berbagai gagasan dengan temannya. Dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.

2. Memberikan pengalaman berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal . siswa agar memperluas pengetahuan-pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki (diberi) kesempatan untuk merangkai fenomena. Sehingga siswa didorong untuk memebedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.

3. Memberi kesempatan siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri untuk menggunakan berbagai konteks baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.

4. Memberi kesempatan siswa untuk berfikir tentang pengalamannya agar siswa berfikir kreatif, imajinatif, mendorong merefleksi tentang teori dan model, mengenalkan gagasan IPA pada saat yang tepat.

5. Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan-perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemampuan mereka serta memberi kesempatan untuk

(45)

mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.

6. Memberikan lingkungn belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu “jawaban yang benar”.

Mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran dengan karakteristik yang sangat kompleks. IPA, mengandung makna mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, menyempurnakan jawaban tentang apa, mengapa, dan bagaimana, baik tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi.

Karakteristik pembelajaran IPA yang kompleks tersebut secara tidak langsung menggiring para guru untuk kreatif, inivatif, dan antisipatif terhadap keefektifan pembelajarannya disekolah hal ini dapat dilakukan oleh para guru mulai dari pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik sub pokok bahasan, pengemasan rancangan pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran dan karakteristik pembelajar.

Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran saling temas (sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inquiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman

Gambar

Gambar 1. Rancangan Penelitian  G.  Teknik Analisis Data
Tabel 4.7  Tabel  Kerja  Distribusi  Frekuensi  Motivasi  Belajar  Siswa  Kelas  IV SDN 9/25 Bantimurung Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten
Tabel 4.4 Nilai Interval Variabel X₁ (Motivasi Orang Tua)
Gambar  3. Murid mengerjakan angket yang dibagikan oleh peneliti
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Dukungan Orang Tua X4 Terhadap Minat Belajar Siswa Melanjutkan Pendidikan Keperguruan Tinggi Di SMA N 3 Lengayang Kelas XI Berdasarkan hasil penelitian terdapat pengaruh