PROMOSI
KESEHATAN
Universitas Pendidikan Indonesia | Keperawatan Kelompok Khusus | 2023
Dosen Pengampu Delli Yuliana Rahmat, M.Kep
Presentasi Oleh Hilmi Uly Ul Hidayah
Sejarah Kesehatan
Periode Tahun 1965-1975
Periode Tahun 1975-1985
Pada periode ini sasaran program mulai memperhatikan masyarakat. Pada saat itu, peningkatan tenaga profesional juga dimulai melalui program Health Educational Service (HES). Sasaran program ini adalah mengubah pengetahuan masyarakat tentang kesehatan.
Istilah "Pendidikan Kesehatan" mulai berubah menjadi
"Penyuluhan Kesehatan," Posyandu kemudian lahir sebagai pusat pemberdayaan dan penggerak masyarakat dengan tujuan mengubah perilaku masyarakat terkait kesehatan.
Pada era tahun 80-an, pendidikan kesehatan lebih fokus pada pemberian informasi kesehatan melalui media dan teknologi pendidikan kepada masyarakat. Namun, perubahan dalam perilaku masyarakat terkait kesehatan berlangsung sangat lambat. Contohnya, sebagian besar masyarakat mengetahui cara pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan melakukan 3M (menguras, menutup, dan mengubur), tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar melaksanakan tindakan 3M ini. Pada tahun 1984, para ahli pendidikan kesehatan global yang dipimpin oleh WHO mengadopsi istilah "promosi kesehatan" untuk merevitalisasi pendidikan kesehatan.
Istilah Health Promotion (Promosi Kesehatan) mulai dicetuskan pada tahun 1986, ketika diselenggarakan Konferensi Internasional pertama tentang Health Promotion di Ottawa, Canada pada tahun 1986. Pada waktu itu dicanangkan “the Ottawa Charter”, yang berisi pengertian dan prinsip dasar promosi kesehatan.
Sebelum Tahun 1965
Dikenal dengan istilah Pendidikan Kesehatan. Sasarannya adalah perseorangan (individual), sehingga tujuan program lebih kepada perubahan pengetahuan seseorang.
Periode Tahun 1985-1995
Dalam periode ini, Direktorat Peran Serta Masyarakat (PSM) dibentuk dengan tugas untuk memberdayakan masyarakat.
Direktorat PKM berubah menjadi Unit PKM yang bertugas dalam penyebaran informasi, komunikasi, kampanye, dan pemasaran sosial di bidang kesehatan. PKMD berubah menjadi Posyandu. Sasaran utama dari Unit PKM dan PSM pada saat itu adalah mengubah perilaku masyarakat. Pandangan atau visi dalam periode ini mulai dipengaruhi oleh 'Ottawa Charter' mengenai Promosi Kesehatan.
Periode Tahun 1995-Sekarang
Pada periode ini, istilah PKM digantikan dengan Promosi Kesehatan. Pada tahun 1997, Konvensi International Health Promotion diadakan dengan tema "Health Promotion Towards The 21st Century, Indonesian Policy for The Future" yang melahirkan 'The Jakarta Declaration.' Berdasarkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter, 1986), promosi kesehatan adalah upaya yang dilakukan kepada masyarakat agar mereka mau dan mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri, melibatkan kemauan dan kemampuan masyarakat. Tujuan promosi kesehatan adalah menciptakan kondisi yang kondusif bagi kesehatan, baik dalam perilaku maupun lingkungan.
Istilah promosi kesehatan diadopsi di Indonesia sesuai dengan perkembangan internasional, dan unit Health Education di WHO serta organisasi internasional yang terkait berubah menjadi unit Promosi Kesehatan dan International Union for Health Promotion and Education (IUHPE), mendorong perkembangan ini.
Pengertian
Promosi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyadaran dan peningkatan pengetahuan
masyarakat tentang kesehatan, tetapi juga mencakup upaya untuk memfasilitasi perubahan perilaku. Ini
adalah suatu usaha untuk meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat, dan seringkali dihubungkan dengan penjualan dan periklanan dalam konteks
kesehatan. Namun, promosi kesehatan sebenarnya lebih dari itu; itu berarti mendukung, mendorong, dan memprioritaskan kesehatan dalam agenda individu dan masyarakat secara umum (Ewles L dan Simnett I, 1994).
WHO (1984)
Pengertian Promosi Kesehatan menurut ahli:
Pada tahun 1984, WHO mengenalkan konsep promosi kesehatan sebagai revitalisasi dari pendidikan kesehatan. Promosi kesehatan tidak hanya bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan perilaku tersebut. Di Indonesia, tren perubahan perilaku masyarakat telah bergeser, seiring dengan peningkatan minat dalam gaya hidup sehat yang didukung oleh informasi kesehatan yang viral di media sosial.
Lawrence Green (1984)
Merumuskan definisi sebagai berikut: Promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi politik dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
Piagam Ottawa (Ottawa Charter, 1986)
Promosi kesehatan adalah suatu proses yang bertujuan untuk memampukan masyarakat agar dapat mengendalikan dan meningkatkan kesehatan mereka. Untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal, baik secara fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan mencapai aspirasi, memenuhi kebutuhan, serta mengubah atau beradaptasi dengan lingkungannya, baik itu lingkungan fisik, sosial, budaya, dan lain sebagainya.
Yayasan Kesehatan Victoria
Promosi kesehatan sebagai program yang dirancang untuk membawa perubahan dalam masyarakat, organisasi, komunitas, dan lingkungan mereka. Definisi ini menekankan bahwa promosi kesehatan adalah program yang berfokus pada perubahan perilaku masyarakat secara menyeluruh dalam konteks komunitasnya.
Green dan Kreuter (2005)
Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik), peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi-kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu, keompok atau komunitas.
Tujuan Promosi Kesehatan
Tujuan Umum
Tujuan Khusus
Membantu pemerintah dalam mewujudkan negara yang maju yang terpenuhi indikator kesehatan dan diakui dunia.
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara umum 1.
2.
Mengubah perilaku menjadi lebih baik
Mengajak masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya
Menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi Kesehatan
Memampukan dan memaukan masyarakat melakukan pola hidup sehat 1.
2.
3.
4.
Sasaran
Sasaran Primer (Primery Target)
Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran pendidikan atau promosi kesehatan.
SUpaya ini sesuai dengan strategi pemberdayaan masyarakat.
Adalah orangorang yang disebut tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya. Upaya promosi kesehatan yang ditujukan kepada sasaran sekunder ini
sejalan dengan strategi dukungan sosial (social support).
Sasaran Sekunder (Secondary Target)
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di tingkat Pusat, maupun daerah adalah sasaran tersier pendidikan kesehatan. Upaya promosi kesehatan yang
ditujukan kepada sasaran tersier ini sejalan dengan startegi advokasi kesehatan.
Sasaran Tersier (Tersiery Target)
Ruang lingkup
Mengembangkan kebijaksanaan
pembangunan berwawasan kesehatan.
Mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang mendukung.
Memperkuat kegiatan masyarakat.
Meningkatkan ketrampilan perorangan.
Mengarahkan pelayanan kesehatan yang lebih memperdayakan masyarakat.
1.
2.
3.
4.
5.
Peran Promosi Kesehatan dalam Perubahan Perilaku
Promosi kesehatan adalah upaya terencana untuk memengaruhi individu, kelompok, atau masyarakat agar mengadopsi perilaku sehat. Terdapat tiga unsur utama yang berperan dalam mengubah perilaku individu dan masyarakat, yaitu:
Perubahan Perilaku: Mengacu pada perubahan perilaku dari yang merugikan kesehatan menjadi perilaku yang mendukung kesehatan, seperti menghentikan konsumsi minuman beralkohol, memeriksakan kehamilan, atau menghentikan kebiasaan merokok.
Pembinaan Perilaku: Membantu individu atau masyarakat yang sudah menerapkan perilaku hidup sehat agar dapat memelihara perilaku tersebut, seperti menginformasikan pentingnya olahraga teratur atau makan makanan seimbang.
Pengembangan Perilaku: Menargetkan individu dewasa agar mereka membiasakan perilaku hidup sehat bagi anak-anak di sekitarnya, mengingat bahwa kebiasaan orang tua dapat memengaruhi perilaku anak-anak, seperti dalam pengelolaan penggunaan popok bayi.
Promosi kesehatan melibatkan upaya-upaya yang bertujuan untuk memengaruhi orang lain agar mereka mau dan mampu menjalani perilaku hidup sehat. Hal ini mencakup penyuluhan, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Pentingnya faktor-faktor seperti pengetahuan, sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi, nilai-nilai, pendidikan, dan tingkat sosial ekonomi juga ditekankan dalam upaya promosi kesehatan.
Dalam praktiknya, promosi kesehatan mengandalkan faktor-faktor yang memfasilitasi perubahan perilaku (faktor pemudah), prasarana kesehatan (faktor pemungkin), dan dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, serta petugas kesehatan (faktor penguat). Promosi kesehatan juga dapat terwujud melalui penyuluhan, pelatihan, dan pengarahan, serta pembentukan peraturan atau undang-undang yang mendukung perilaku hidup sehat di masyarakat.