i
KECEMASAN PADA PASIEN PRE ANESTESI SECTIO CAESAREA DENGAN SPINAL ANESTESI
DI RSUD EKAPATA WAIKABUBAK KABUPATEN SUMBA BARAT
MARIA MARLINES KLERUK NIM : 2014301131
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN ANESTESI INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
TAHUN AJARAN 2020/2021
i
KECEMASAN PADA PASIEN PRE ANESTESI SECTIO CAESAREA DENGAN TINDAKAN SPINAL ANESTESI
DI RSUD EKAPATA WAIKABUBAK SUMBA BARAT
Diajukan untuk memperoleh Gelar
Sarjana Terapan Keperawatan Anestesi (S.Tr.Kes) pada Institut Teknologi dan Kesehatan Bali
Diajukan Oleh:
MARIA MARLINES KLERUK NIM : 2014301131
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN ANESTESI INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
TAHUN AJARAN 2020/2021
Ekapata Waikabubak Sumba Barat” telah mendapat persetujuan oleh pembimbing pada tanggal : 28 Juni 2021
Disusun Oleh:
MARIA MARLINES KLERUK NIM: 2014301131
Pembimbing I, Pembimbing II,
Ns. Made Rismawan, S.Kep., MNS NIDN. 0820018101
Ns. I.A. Ningrat Pangruating Diyu,S.Kep., M.S NIDN. 080107006
Mengetahui,
Ketua Jurusan DIV Keperawatan Anestesiologi
dr. I Gede Agus Shuarsedana Putra, Sp.An NIDN. 17131
DIV Keperawatan Anestesiologi Institut Teknologi dan Kesehatan Bali pada Tanggal 01 Juli 2021
Panitia Penguji Skripsi Berdasarkan SK Rektor ITEKES Bali Nomor : DL.02.02.1925.TU.X.20
Ketua : Ns. NLP Dina Susanti, S.Kep, M.Kep
NIDN. 0808117701 ...
Anggota :
1. Ns. Made Rismawan, S.Kep.,MNS NIDN. 0820018101
...
2. Ns. I.A. Ningrat Pangruating Diyu,S.Kep., M.S NIDN. 080107006
...
Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Anestesi Sectio Caesarea dengan Tindakan Spinal Anestesi di RSUD Ekapata Waikabubak Sumba Barat”, telah disajikan di depan dewan penguji pada tanggal 01 Juni 2021 telah diterima serta disahkan oleh Dewan Penguji Skripsi dan Rektor Institut Teknologi dan Kesehatan Bali
Denpasar, 01 Juni 2021 Disahkan oleh:
Dewan Penguji Skripsi 1. Ns. NLP Dina Susanti, S.Kep, M.Kep
NIDN. 0808117701 ...
2. Ns. Made Rismawan, S.Kep.,MNS
NIDN. 0820018101 ...
3. Ns. I.A. Ningrat Pangruating Diyu,S.Kep., M.S
NIDN. 080107006 ... ...
Mengetahui
Institut Teknologi dan Kesehatan Bali Rektor
Program Studi DIV Keperawatan Anestesiologi Institut Teknologi dan Kesehatan Bali
Ketua
I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp., M.Ng., Ph.D NIDN. 082306780
dr. I Gede Agus Shuarsedana Putra, Sp.An NIDN. 1713
TANDA TANGAN D
AN CAP REKTOR 22
atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan proposal skripsi ini.
Penulisan Proposal Skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Terapan Keperawatan pada Program Studi Diploma IV Keperawatan Anestesiologi pada Jurusan Keperawatan Anestesiologi ITEKES Bali. Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bpk. I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp.,M.Ng.,Ph.D, selaku RektorInstitut Teknologi dan Kesehatan Bali yang sudah memberikan fasilitas berupa perpustakaan beserta literatur buku, jurnal dan hasil penelitian untuk dijadikan sebagai bahan referensi untuk skripsi ini.
2. dr. I Gede Agus Shuarsedana Putra, Sp.An selaku Ketua Prodi D-IV Keperawatan Anestesiologi yang telah memberikan arahan mengenai langkah-langkah pembuatan proposal dan jadwal-jadwal terbaru mengenai pembuatan proposal sampai ujian proposal serta yang telah memberikan motivasi.
3. Direktur RSUD Ekapata Waikabubak yang telah memberikan ijin untuk melakukan studi pendahuluan dan penelitian di RSUD Ekapata Waikabubak.
4. Bpk Ns. Made Rismawan, S.Kep., MNS selaku pembimbing pertama yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan serta kritik dan saran dalam penyusunan proposal skripsi.
5. Ibu Ns. I.A. Ningrat Pangruating Diyu,S.Kep., M.Sselaku pembimbing kedua yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan serta kritik dan saran dalam penyusunan skripsi ini.
7. Skripsi ini saya persembahkan untuk orang tua bapak Ishak Kleruk (alm) dan Ibu Maria Siti Salma, mertua saya bapak Melkianus B.Dapa (Alm.) dan Ibu Christina Billy (Alm.) serta Suami Tercinta Yunior Grenda Putra, Adik Natalia Kleruk Bersama Suami, Adik Riky Kleruk dan Adik Mario Kleruk yang telah memberikan dukungan dan penyemangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkehendak membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Tugas Akhir ini membawa manfaat bagi pembangunan ilmu.
Denpasar, 01 Juni 2020
Maria Marlines Kleruk
Maria Marlines Kleruk1, Made Rismawan2, I.A. Ningrat Pangruating Diyu 31,2
& 3 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bali, Indonesia Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang. Tindakan operasi Sectio caesarea merupakan salah satu tindakan yang dapat menyebabkan stres / ketegangan. Ibu yang akan dilakukan tindakan operasi sectio caesarea umumnya akan menyebabkan suatu permasalahan, salah satunya adalah ansietas atau kecemasan yang bervariasi dari tingkat ringan sampai berat.
Masalah. Bagaimanakah hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi sectio caesarea dengan tindakan spinal anestesi di RSUD Ekapata Waikabubak.
Tujuan. Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi sectio caesarea dengan tindakan Spinal Anestesi di RSUD Ekapata Waikabubak.
Metode. Penelitian ini adalah Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan analisa data uji spearman rank dengan jumlah sampel 65 orang, pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner.
Hasil. Hasil perhitungan koefisien korelasi Spearman rank antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu pre operasi sectio caesarea sebesar 0,255 dan nilai signifikan (p) diperoleh nilai ρ-Value= 0,040 lebih kecil dengan ketetapan α= 0,05 maka Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu pre operasi sectio caesarea.
Kesimpulan. Terdapat hubungan yang kuat antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi sectio caesarea di RSUD Ekapata Waikabubak, dengan nilai p vallue = 0,040<0,05 dan nilai r (Correlation Coefficient) sebesar 0,255.
Rekomendasi. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan penelitian mengenai dukungan keluarga dalam menurunkan tingkat kecemasan pre anestesi dengan menggunakan metode lain.
Kata Kunci: Dukungan Keluarga, Kecemasan, Pre Anestesi Sectio Caesarea.
Maria Marlines Kleruk Faculty of Health
Diploma IV Nursing Anesthesiology Program Institute of Technology and Health Bali
Email : [email protected] ABSTRACT
Background: Sectio caesarea surgery is one of the actions that can cause stress or tension. Pregnant mothers who will undergo sectio caesarea surgery will generally experience problems, one of them is anxiety that varies from mild to severe level.
Aim: To determine the correlation between family support and anxiety levels in pre-anesthesia in sectio caesarea patients with Spinal Anesthesia at Ekapata Hospital, Waikabubak.
Method: The study employed a quantitative analytical correlative design with cross sectional approach with an observational method. There were 65 respondents recruited as the sample. Data were collected using a family support and an anxiety level questionnaire and then analyzed with spearman rank test.
Finding. The result of the Spearman rank correlation coefficient test between family support and the anxiety level of preoperative sectio caesarea mother was 0.255 and a significant value (p) obtained ρ-Value= 0,040 which was lower with the determination of = 0.05, then Ho is rejected. Thus, it can be concluded that there is a significant correlation between family support and the level of anxiety in preoperative sectio caesarea mothers.
Conclusion. There is a strong correlation between family support and anxiety levels of preoperative sectio caesarea patients at Ekapata Hospital, Waikabubak, with p value = 0.040 <0.05 and r value (Correlation Coefficient) is 0.255.
Keywords: Family Support, Anxiety, Pre-Anesthesia Sectio Caesarea.
LEMBAR PENETAPAN PANITIA SKRIPSI ... ii
LEMBAR PERNYATAAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II ... 6
TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Dukungan Keluarga ... 6
B. Konsep Kecemasan ... 14
C. Pre anestesi ... 34
D. Sectio Caesarea ... 37
E. Spinal Anestesi ... 42
F. Penelitian Terkait ... 44
BAB III ... 47
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN VARIABEL PENELITIAN ... 47
A. Kerangka Konsep ... 47
B. Hipotesis ... 48
C. Variabel Penelitian ... 48
BAB IV ... 70
METODE PENELITIAN ... 70
E. Pengolahan Data dan Analisa Data ... 82
F. Etika Penelitian ... 85
BAB V ... 88
HASIL PENELITIAN ... 88
A. Gambaran umum lokasi penelitian. ... 88
B. Gambaran karakteristik responden. ... 88
C. Gambaran dukungan keluarga pasien pre anestesi Sectio Caesarea dengan tindakan spinal anastesi di RSUD Ekapata Waikabubak Sumba Barat. ... 91
D. Gambaran tingkat kecemasan pasien pre anestesi Sectio Caesarea dengan tindakan spinal anastesi di RSUD Ekapata Waikabubak Sumba Barat. ... 91
E. Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre anestesi Sectio Caesarea dengan tindakan spinal anastesi di RSUD Ekapata Waikabubak Sumba Barat. ... 92
BAB VI ... 94
PEMBAHASAN ... 94
A. Karakteristik responden. ... 94
B. Dukungan keluarga pasien pre anestesi Sectio Caesarea dengan tindakan spinal anastesi di RSUD Ekapata Waikabubak Sumba Barat. ... 96
C. Tingkat kecemasan pasien pre anestesi Sectio Caesarea dengan tindakan spinal anastesi di RSUD Ekapata Waikabubak Sumba Barat. ... 97
D. Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre anestesi Sectio Caesarea dengan tindakan spinal anastesi di RSUD Ekapata Waikabubak Sumba Barat. ... 98
E. Keterbatasan penelitian. ... 100
BAB VII ... 101
SIMPULAN DAN SARAN ... 101
A. Kesimpulan ... 101
B. Saran ... 101
DAFTAR PUSTAKA ... 102
DAFTAR LAMPIRAN ... 106
Lampiran 1. Jadwal Penelitian ... 106
Lampiran 6. Lembar Pernyataan Face Validity ... 114
Lampiran 7. Keterangan Kelaikan Etik/Ethical Clearance ... 116
Lampiran 8. Surat Permohonan Ijin Penelitian ... 118
Lampiran 9. Surat Ijin Penelitian ... 119
Lampiran 10. Hasil Analisa Data ... 122
Lampiran 11. Master Data ... 131
Lampiran 12. Lembar Pernyataan Analisa Data ... 132
Lampiran 13. Form Bimbingan Proposal ... 133
Lampiran 14. Format Bimbingan Skripsi... 138
Lampiran 15. Lembar Pernyataan Abstrack Translation ... 139
Gambar 3. 1 Kerangka Konsep Gambaran Hubungn Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Anestesi Sectio Caesarea Dengan Tindakan Spinal Anestesi Di Rsud Ekapata
Waikabubak. ... 47
Tabel 2. 2 Penilaian Kuesioner Hars ...31
Tabel 2. 3 Tingkat Aspek Penilaian, Kecemasan Dan Stress ...33
Tabel 3.1 Definisi Operasional Gambaran Tingkat Kecemasan Pre Operasi Pada Pasien Pembedahan ... 50
Tabel 4. 1 Kisi-Kisi Kuesioner Tingkat Kecemasan ... 74
Tabel 4. 2 Skor Jawaban Skala Kuesioner Tingkat Kecemasan ... 75
Tabel 4. 3 Skor Jawaban Skala Kuesioner Dukungan Keluarga ... 76
Tabel 4. 4 Kisi-Kisi Kuesioner Dukungan Keluarga ... 77
Tabel 4. 5 Norma Reliabilitas ... 78
Tabel 4. 6 Tabel Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi ... 85
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Anggota Keluarga Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Dan Pekerjaan Di Rsud Ekapata Waikabubak Sumba Barat (N = 65) ...89
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pasien Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Dan Pekerjaan Di Rsud Ekapata Waikabubak Sumba Barat (N = 65) ...90
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga Pasien Pre Anestesi Sectio Caesarea Dengan Tindakan Spinal Anastesi Di Rsud Ekapata Waikabubak Sumba Barat (N = 65) ...91
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Anestesi Sectio Caesarea Dengan Tindakan Spinal Anastesi Di Rsud Ekapata Waikabubak Sumba Barat (N = 65) ...91 Tabel 5.5 Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Pre Anestesi Sectio Caesarea Dengan
Tindakan Spinal Anastesi Di Rsud Ekapata Waikabubak
Sumba Barat (N = 65) ...92
Lampiran 2. Kuesioner Tingkat Kecemasan ... 107
Lampiran 3. Kuesiner Dukungan Keluarga ... 109
Lampiran 4. Lembar Permohonan Menjadi Responden ... 112
Lampiran 5. Lembar Persetujuan Menjadi Responden ... 113
Lampiran 6. Lembar Pernyataan Face Validity ... 114
Lampiran 7. Keterangan Kelaikan Etik/Ethical Clearance ... 116
Lampiran 8. Surat Permohonan Ijin Penelitian ... 118
Lampiran 9. Surat Ijin Penelitian ... 119
Lampiran 10. Hasil Analisa Data ... 122
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga merupakan suatu sistem sosial yang terdiri dari individu- individu yang bergabung dan berinteraksi secara teratur antara satu dengan yang lain yang diwujudkan dengan adanya saling ketergantungan dan berhubungan untuk mencapai tujuan bersama (Andarmoyo, 2012).
Dukungan yang diberikan oleh keluarga mampu memberikan perasaan senang, aman, dan nyaman. Dukungan keluarga yang diberikan bisa berupa sikap, tindakan dan bagaimana keluarga menerima pasien secara utuh sehingga pasien mampu menghadapi keadaan sakitnya ( Friedman, 2010). Dukungan yang mendasari terbentuknya keluarga yaitu dukungan penilaian, instrumental, informasional dan yang terpenting emosional dapat membentuk pendekatan psikologi (Nisa dkk,2019).
Tindakan operasi Sectio caesarea merupakan salah satu tindakan yang dapat menyebabkan stres / ketegangan (Ibrahim, 2012). Ibu yang akan dilakukan tindakan operasi sectio caesarea umumnya akan menyebabkan suatu permasalahan, salah satunya adalah ansietas atau kecemasan yang bervariasi dari tingkat ringan sampai berat (Ibrahim, 2012). Pasien yang akan menjalani tindakan operasi sekitar 80%
mengalami dampak kecemasan pre anestesi berupa perubahan tanda – tanda vital, gelisah, susah tidur, sering menanyakan hal yang sama berulang-ulang, bahkan sering buang air kecil (Yuliana & Mirasari, 2020).
Menurut World Health Organization (2015), angka kejadian sectio caesarea meningkat di negara – negara berkembang. WHO menetapkan indikator persalinan sectio caesarea 5 – 15 % untuk setiap negara, jika tidak sesuai indikasi operasi sectio caesarea dapat meningkatkan resiko mordibitas dan mortalitas pada ibu dan bayi. Dari data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan bahwa kejadian persalinan dengan sectio
caesarea di Indonesia mencapai 9,8% dari jumlah persalinan, dengan proporsi tertinggi di DKI Jakarta terdapat 19,9% dan tindakan sectio caesarea terendah terdapat di sulawesi tenggara dengan jumlah 3,3% dari jumlah persalinan.
Respon psikologis yang terjadi akibat kecemasan memerlukan dukungan mental dari keluarga guna meningkatkan semangat hidup pasien. Dukungan keluarga penting sebagai strategi preventif dalam menurunkan kecemasan pre operasi. Terdapat dukungan penilaian dalam dukungan keluarga untuk memahami keinginan pasien , keluarga dapat memberikan ekspresi pengharapan positif pada pasien,dan sebagai penyemangat guna membantu meningkatkan strategi koping individu dalam menghadapi stessor (Friedman, 2013).
Dukungan penilaian berupa respon positif keluarga terhadap penyakit yang diderita pasien penting dan perlu mendapatkan dukungan penilaian positif dari keluarga dan orang – orang terdekatnya. Pasien yang mendapatkan penilaian negatif akan berdampak buruk bagi keberlangsungan pengobatannya (Harliwati, 2013). Tidak hanya dukungan penilaian, dukungan instrumental berupa pelayanan seperti menemani pasien selama di rumah sakit dengan memberikan bantuan finansialberupa bantuan nyata yang efektif mengurangi kecemasan, dalam hal ini dapat berupa biaya pengobatan. Dukungan informasional dari keluarga yaitu memberikan solusi dari masalah yang ada, dalam contoh kasusnya, keluarga dapat memberikan kalimat – kalimat yang menenangkan pasien agar pasien tetap fokus dalam masa pengobatannya. Adapun dukungan emosional yang di berikan pihak keluarga dapat berupa semangat dan motivasi bagi kesembuhan pasien (Friedman, 2013).
Pasien yang menjalani pre operasi mengalami kecemasan.
Penelitian yang dilakukan Nurwulan (2017) di RSUD Sleman di temukan 5,3% mengalami kecemasan ringan. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Wulandari (2020) diperoleh sebesar 60,3% mengalami kecemasan sedang dan 34,2% mengalami kecemasan berat. Penelitian yang dilakukan
oleh Ulfa (2017) didapatkan hasil 20% mengalami kecemasan ringan, 73%
mengalami kecemasan sedang dan 7% mengalami tingkat kecemasan berat.
Rumah sakit Umum Daerah Ekapata merupakan salah satu rumah sakit negeri di kabupaten Sumba Barat, dengan berbagai karakterisktik pasien yang berbeda – beda berdasarkan jenis tindakan pembedahan dan pilihan anestesi yang akan di jalani pasien. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang diperoleh dari RSUD Ekapata Waikabubak pada bulan November 2020 pasien sectio caesarea yang menjalani tindakan spinal anestesi berjumlah 20 pasien. Tingkat kecemasan dialami pasien pre anestesi sectio caesarea dengan tindakan spinal anestesi yaitu 30% - 75%
(Rekam Medik RSUD Ekapata). Setelah dilakukan wawancara terhadap 10 (sepuluh) pasien di ruang rawat inap, mereka menyatakan 6 (enam) pasien mengatakan keluarga tidak selalu menunggu pasien ketika menjalani perawatan di karenakan sedang bekerja, sehingga keluarga hanya menunggu ketika anggota keluarganya pulang kerja.
Penelitian mengenai dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan belum pernah dilakukan di RSUD Ekapata Waikabubak dan terdapat beberapa perbedaan dari penelitian-penelitian sebelumnya yaitu karakteristik sampel seperti jenis operasi, usia, jenis kelamin dan lokasi penelitiannya, berdasarkan data di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Hubungan Antara Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre anestesi Sectio Caesarea dengan Tindakan Spinal Anestesi. ”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian dalam latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut “ Bagaimanakah hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi sectio caesarea dengan tindakan spinal anestesi di RSUD Ekapata Waikabubak”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi sectio caesarea dengan tindakan Spinal Anestesi di RSUD Ekapata Waikabubak.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik responden pasien pre anestesi sectio caesarea di ruang rawat inap RSUD Ekapata Waikabubak.
b. Mengetahui dukungan keluarga pada pasien pre anestesi sectio caesarea di ruang rawat inap RSUD Ekapata Waikabubak.
c. Mengetahui tingkat kecemasan pasien pre anestesi sectio caesarea di ruang rawat inap RSUD Ekapata Waikabubak.
d. Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan pasien pre anestesi sectio caesarea di ruang rawat inap RSUD Ekapata Waikabubak.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kemajuan di bidang ilmu keperawatan anestesi terutama tentang hubungan dukungan keluarga dengan kecemasan pada pasien pre anestesi sectio caesarea dengan tindakan spinal anestesi.
2. Manfaat Praktis
a. Manajemen RSUD Ekapata Waikabubak
Sebagai bahan pertimbangan bagi perawat dalam menekankan kepada keluarga untuk memberikan dukungan keluarga guna meningkatkan pelayanan dalam mengurangi tingkat kecemasan pre anestesi di RSUD Ekapata Waikabubak.
b. Bagi Pasien sectio caearea dan keluarga
Sebagai media informasi bagi pasien dan keluarga tentang resiko tindakan yang akan dijalani guna mengurangi tingkat kecemasan pasien.
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dukungan Keluarga 1. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat dimana terjadi interaksi antara anak dan orang tuanya. Keluarga berasal dari bahasa sansekerta kulu dan warga atau kuluwarga yang berarti anggota kelompok kerabat (Ali, 2009).
Mubarak, dkk (2009) keluarga merupakan perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu dengan yang lain. Sedangkan menurut Andarmoyo (2012) keluarga adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari individu-individu yang bergabung dan berinteraksi secara teratur antara satu dengan yang lain yang diwujudkan dengan adanya saling ketergantungan dan berhubungan untuk mencapai tujuan bersama.
2. Fungsi Keluarga
Menurut Murwani (2007) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, sebagai berikut :
a. Fungsi Afektif
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan
konsep diri positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah :
1) Saling mengasuh ; cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga, mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari anggota yang lain. Maka, kemampuannya untuk memberikan kasih sayang akan meningkat, yang pada akhirnya tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal dasar dalam memberi hubungan dengan orang lain diluarkeluarga/masyarakat.
2) Saling menghargai. Bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim yang positif, maka fungsi afektif akan tercapai.
3) Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan antar anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus mengembangkan proses identifikasi yang posisitif sehingga anak-anak meniru tingkah laku yang positif dari kedua orang tuanya. Fungsi afektif merupakan “sumber energi” yang menentukan kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga, timbul karena fungsi afektif dalam keluarga tidak dapat terpenuhi.
b. Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu dan orang-orang yang
disekitarnya. Kemudian beranjak balita dia mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meskipun demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi keluarga.
c. Fungsi Repoduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah untuk meneruskan keturunan.
d. Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan yang tidak seimbang antara suami dan istri hal ini menjadikan permasalahan yang berujung pada perceraian.
e. Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit.
Kemampuan keluarga dalam memberi asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan.
3. Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan
Menurut Andarmoyo (2012) tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut :
a. Mengenal masalah kesehatan.
b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
Mempertahankan hubungan dengan menggunakan fasilitas kesehatan masyarakat. Menurut Donsu, dkk (2015) tugas keluarga :
a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
d. Sosialisasi antar anggota keluarga.
e. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f. Pemeliharaan ketertiban anggota keuarga.
g. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
h. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga.
4. Pengertian Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga menurut Friedman (2010) adalah sikap, tindakan penerimaan keluarga terhadap anggota keluarganya, berupa dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional. Jadi dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikan.
Murniasih (2007) menyatakan dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. Anggota keluarga dipandang sebagai bagian yang tidak tepisahkan dalam
lingkungan keluarga. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.
a. Bentuk atau Fungsi Dukungan Keluarga
Menurut Harnilawati (2013), keluarga memiliki beberapa bentuk dukungan yaitu:
1) Dukungan Penilaian
Dukungan ini meliputi pertolongan pada individu untuk memahami kejadian depresi dengan baik dan juga sumber depresi dan strategi koping yang dapat digunakan dalam mengahadapi stressor. Dukungan ini juga merupakan dukungan yang terjadi bila ada ekspresi penilaian yang positif terhadap individu. Individu mempunyai seseorang yang dapat diajak bicara tentang masalah mereka, terjadi melalui ekspresi pengharapan positif individu kepada individu lain, penyemangat, persetujuan terhadap ide-ide atau perasaan seseorang dan perbandingan positif seseorang dengan orang lain, misalnya orang yang kurang mampu. Dukungan keluarga dapat membantu meningkatkan strategi koping individu dengan strategi-strategi alternatif berdasarkan pengalaman yang berfokus pada aspek-aspek yang positif.
2) Dukungan Instrumental
Dukungan ini meliputi penyediaan dukungan jasmaniah seperti pelayanan, bantuan finansial dan material berupa bantuan nyata (Instrumental support material support), suatu kondisi dimana benda atau jasa akan membantu memecahkan masalah praktis, termasuk didalamnya bantuan langsung, seperti saat seseorang memberi atau meminjamkan uang, membantu pekerjaan sehari-hari, menyampaikan pesan, menyediakan transportasi, menjaga dan merawat saat sakit ataupun mengalami depresi yang dapat membantu memecahkan masalah. Dukungan nyata
paling efektif bila dihargai oleh individu dan mengurangi depresi individu. Pada dukungan nyata keluarga sebagai sumber untuk mencapai tujuan praktis dan tujuan nyata.
3) Dukungan Informasional
Jenis dukungan ini meliputi jaringan komunikasi dan tanggung jawab bersama, termasuk di dalamnya memberikan solusi dari masalah, memberikan nasehat, pengarahan, saran atau umpan balik tentang apa yang dilakukan oleh seseorang. Keluarga dapat menyediakan informasi dengan menyarankan tentang dokter, terapi yang baik bagi dirinya dan tindakan spesifik bagi individu untuk melawan stresor. Individu yang mengalami depresi dapat keluar dari masalahnya dan memecahkan masalahnya dengan dukungan dari keluarga dengan menyediakan feed back. Pada dukungan informasi ini keluarga sebagai penghimpun informasi dan pemberian informasi.
4) Dukungan Emosional
Selama depresi berlangsung, individu sering menderita secara emosiaonal, sedih, cemas dan kehilangan harga diri. Jika depresi mengurangi perasaan seseorang akan hal yang dimiliki dan dicintai. Dukungan emosional memberikan individu perasaan nyaman, merasa dicintai, empati, rasa percaya, perhatian sehingga individu yang menerimanya merasa berharga. Pada dukungan emosional ini keluarga menyediakan tempat istirahat dan memberikan semangat.
b. Faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga
Menurut Friedman (2008), ada bukti kuat dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa keluarga besar dan keluarga kecil secara kualitatif menggambarkan pengalaman-pengalaman perkembangan.
Anak-anak yang berasal dari keluarga kecil menerima lebih banyak perhtian daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang lebih besar. Selain itu dukungan keluarga yang diberikan oleh orang tua
(khususnya ibu) juga dipengaruhi oleh usia. Menurut Friedman (2008), ibu yang masih muda cenderung untuk lebih tidak bisa merasakan atau mengenali kebutuhan anaknya dan juga lebih egosentris di bandingkan ibu-ibu yang lebih tua.
Hal ini yang mempengaruhi faktor-faktor dukungan keluarga lainnya adalah kelas ekonomi orang tua. Kelas sosial ekonomi meliputi tingkat pendapatan atau pekerjaan orang tua dan tingkat pendidikan. Dalam keluarga kelas menengah, suatu hubungan yang lebih demokratis dan adil mungkin ada, sementara dalam keluarga kelas bawah, hubungan yang ada lebih otoritas dan otokrasi. Selain itu orang tua dan kelas sosial menengah mempunyai tingkat dukungan, afeksi dan keterlibatan yang lebih tinggi daripada orang tua dengan kelas sosial bawah (Friedman, 2008). Faktor lainnya adalah adalah tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan kemungkinan semakin tinggi dukungan yang diberikan pada keluarga yang sakit.
1) Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan Pengaruh dukungan sosial terhadap kesehatan dapat diterangkan melalui hipotesis penyangga (Buffer hypotesis) dan hipotesis efek langsung (Direct Effect Hypotesis). Menurut hipotesis pengganggu, dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dengan melindungi individu terhadap efek negatif dari stres yang berat.
Orang dengan dukungan sosial yang tinggi akan kurang menilai situasi penuh stres, sedangkan dengan dukungan sosial yang rendah akan mengubah respon mereka terhadap sumber stres.
Hipotesis efek tidak langsung berpendapat bahwa dukungan sosial itu bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan, tidak peduli banyaknya stres yang dialami. Contohnya: orang yang dengan dukungan sosial tinggi dapat memiliki penghargaan lebih tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dukungan sosial terhadap kesehatan berkaitan dengan fungsi melindungi
seseorang terhadap gangguan psikologi (Liandi, 2011).
Dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Liandi (2011) bahwa dukungan keluarga sedang sebanyak 53,33%
menyebabkan kecemasan sedang, kecemasan rendah sebanyak 10% dan kecemasan sedang 6,67% didapat pada anak yang memperoleh dukungan tinggi (baik) dari keluarga mereka.
2) Instrument dukungan keluarga a) Alat ukur (Blue Print)
Menurut Arikunto (2011), untuk mengungkap variabel dukungan keluarga, menggunakan skala dukungan keluarga yang diadaptasi dan dikembangkan dari teori House. Dan aspek-aspek yang digunakan untuk mengukur dukungan keluarga adalah dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informatif.
Tabel 2. 1 Indikator Alat Ukur dengan Dukungan Keluarga
No Indikator
1. Dukungan Emosional 2. Dukungan Penghargaan 3. Dukungan Instrumental 4. Dukungan Infomatif
Pada pengisian skala ini, sampel diminta untuk menjawab pertanyaan yang ada dengan memilih salah satu jawaban dari beberapa alternatif jawaban yang tersedia. Skala ini menggunakan skala model likert yang terdiri dari pernyataan dari 4 (empat) alternatif jawaban yaitu 1= tidak pernah, 2=
kadang-kadang, 3= sering , 4= selalu.
B. Konsep Kecemasan 1. Definisi Kecemasan
Anxiety atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan kecemasan, merupakan salah satu faktor psikologis yang tidak dapat lepas dari kehidupan manusia. Kata dasar anxiety dalam bahasa Indonesia Jerman adalah “angh” yang dalam bahasa Latin berhubungan dengan kata
“angustus, ango, angor, anxius, anxietas, angina”. Nietzal (2012) berpendapat bahwa kecemasan berasal dari bahasa Latin (anxius) dari bahasa Jerman (anst) yaitu suatu kata yang digunakan untuk menggambarkan efek negatif dan rangsangan fisiologis (Gufron dan Risnawati, 2010).
Kecemasan merupakan suatu perasaan takut akan terjadinya sesuatu yang disebabkan oleh antisipasi bahaya dan merupakan sinyal yang membantu individu untuk bersiap mengambil tindakan menghadapi ancaman. Pengaruh tuntutan, persaingan, serta bencana yang terjadi dalam kehidupan dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologi. Salah satu dampak psikologi yaitu ansietas atau kecemasan (Sutejo, 2018).
Menurut Herdman (2010), kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas dan gelisah disertai dengan respon otonom (sumber terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi bahaya. Ini merupakan sinyal peringatan akan adanya bahaya dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah dalam menghadapinya.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah respon psikologis terhadap stres yang mengandung komponen fisiologis dan psikologis, perasaan takut atau tidak tenang yang tidak diketahui sebabnya. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun psikologik seperti harga diri, gambaran diri atau identitas diri.
2. Kecemasan pasien pre anestesi
Kecemasan pasien menghadapi pre anestesi adalah kecemasan terhadap masalah sebelum tindakan anestesi dimana merupakan suatu perasaan yang tidak menyenangkan dan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang menimbulkan stress, konflik yang bersifat subyektif, dan timbul karena individu merasa dirinya menghadapi ketegangan (Herdman, 2010). Kecemasan biasanya berhubungan dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat prosedur anestesi, pembedahan dan tin dakan operasi (Nugraheni dkk, 2016). Kecemasan juga disebut sebagai kondisi emosional dan ditandai dengan kekhawatiran yang berlebihan terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari.
3. Kecemasan pasien pre anestesi sectio caesarea
Kecemasan pasien pre anestesi sectio caesarea dapat menimbulakan adanya perubahan secara fisik maupun psikologi yang akhirnya mengaktifkan saraf otonom simpatis sehingga meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, frekuensi napas, dan secara umum mengurangi tingkat energi pada pasien, dan akhirnya dapat merugikan pasien itu sendiri karena akan berdampak pada pelaksanaan operasi ( Muttaqin dan Sari, 2009).
Kecemasan pre operasi dapat diatasi dengan antiansietas yaitu benzodiazepin dan barbiturat. Kedua obat ini bekerja pada reseptor gamma amino butyric acid ( GABA ) yang merupakan syaraf penghambat transmisi utama di otak dapat menurunkan aktivitas sel syaraf pusat dan dapat menimbulakan efek sedasi, hipnotis, anestesi ( Nugroho, 2012 ).
Mengefisiensi penggunaan obat-obatan diperlukan terapi pelengkap dalam mengatasi kecemasan pasien, seperti terapi komplementer yang bnayak dikembangkan adalah pengobatan yang dilakukan sebagai pendukung pengobatan medis konversional atau
sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis yang konversional ( Yahya, 2015 ). Beberapa terapi konversional yang biasa digunakan untuk menurunkan atau mengontrol kecemasan diantaranya : teknik bernapas dalam, relaksasi otot,imagery, menyiapkan informasi, teknik distraksi, terapi energi dan penggunaan metode koping sebelumnya ( Shari, Suryani, & Emaliyawati, 2014)
4. Gejala klinis pada kecemasan
Gejala-gejala klinis tampak pada keluhan-keluhan yang sering ditemukan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan menurut Jeffrey (2005 dalam Annisa, 2016) antara lain:
a. Ciri-ciri fisik dari kecemasan, antara lain gelisah, gugup, tangan atau anggota tubuh yang bergetar atau gemetar, sensasi dari pita ketat yang mengikat di sekitar dahi, kekencangan pada pori-pori kulit perut atau dada, banyak berkeringat, telapak tangan yang berkeringat, pening atau pingsan, mulut atau kerongkongan terasa kering, sulit berbicara, sulit bernafas, bernafas pendek, jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang, suara yang bergetar, jari-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin, pusing, merasa lemas atau mati rasa, sulit menelan, kerongkongan merasa tersekat, leher atau punggung terasa kaku, sensasi seperti tercekik atau tertahan, tangan yang dingin dan lembab, terdapat gangguan sakit perut atau mual, panas dingin, sering buang air kecil, wajah terasa memerah, diare dan merasa sensitif atau “mudah marah”.
b. Ciri-ciri behavioral dari kecemasan, antara lain perilaku menghindar, perilaku melekat, perilaku dependen, dan perilaku terguncang.
c. Ciri-ciri kognitif dari kecemasan, antara lain khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu akan ketakutan atau aprehensi terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi, tanpa ada penjelasan yang jelas, terpaku pada sensasi ketubuhan, sangat waspada terhadap sensasi ketubuhan, merasa terancam oleh orang/peristiwa yang normalnya
hanya sedikit atau tidak mendapat perhatian, ketakutan akan kehilangan kontrol, ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah, berpikir bahwa dunia mengalami keruntuhan, berpikir bahwa semuanya tidak lagi bisa dikendalikan, berpikir bahwa semuanya terasa sangat membingungkan tanpa bisa diatasi, khawatir terhadap hal-hal yang sepele, berpikir tentang hal mengganggu yang sama secara berulang-ulang, berpikir bahwa harus bisa kabur dari keramaian, kalau tidak pasti akan pingsan, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran terganggu, berpikir akan segera mati, meskipun dokter tidak menemukan sesuatu yang salah secara medis, khawatir akan ditinggal sendirian, dan sulit berkonsentrasi atau memfokuskan pikiran.
5. Penyebab kecemasan
Berdasarkan penelitian Jlala dkk (2010) mengatakan bahwa penyebab terjadinya kecemasan pada pasien pre operasi adalah ketakutan terhadap tindakan anestesi, ketakutan terhadap tindakan operasi, ketakutan terhadap kegagalan blok anestesi, informasi yang salah yang didapatkan pasien dari orang sekitar, takut dengan jarum suntik, kurangnya informasi tentang pre operasi atau pre anestesi, pengalamam buruk sebelumnya tentang perawatan di rumah sakit, ketakutan akan komplikasi pasca operasi. Kecemasan pre operasi yang terjadi pada pasien sebelum menjalani pembiusan dan pembedahan dapat menimbulkan manifestasi yang berbeda-beda. Manifestasi kecemasan yang berhubungan dengan anestesia, menurut Moerman (1996 dalam Firdaus, 2014) yaitu:
a. Ketakutan akan hilangnya kesadaran, seperti sesuatu yang tidak pasti, tidak bangun lagi, dan kematian
b. Ketakutan saat induksi: sungkup muka, jarum suntik, injeksi obat
c. Ketakutan anestesia yang tidak adekuat: operasi dimulai ketika obat bius belum bekerja, tersadar saat anestesi masih berlangsung, kembali sadar yang terlalu cepat
d. Ketakutan akan efek samping: mual muntah, rasa nyeri, gigi patah e. Ketekutan akan mendengar pembicaraan dalam keadaan terbius,
kehilangan control, tampak konyol, reaksi emosional, sensasi abnormal, tidak mampu berpikir dengan jelas.
6. Tingkat kecemasan
Ada beberapa tingkatan dalam kecemasan menurut Annisa
& Ifdil (2016) antara lain:
a. Kecemasan ringan
Kecemasan ringan dalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus. Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar, menyelesaikan masalah berpikir, bertindak dan melindungi diri sendiri. Respon fisik yang terjadi, seperti ketegangan otot ringan, sadar akan lingkungan rileks atau sedikit gelisah.
b. Kecemasan sedang
Kecemasan sedang adalah perasaan yang mengganggu bahwa ada sesuatu yang benar-benar berbeda individu menjadi gugup dan agitasi. Kecemasan sedang, berhubungan dengan perhatian seseorang pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif. respon fisik yang terjadi, seperti tanda-tanda vital meningkat, pupil dilatasi, mulai berkeringat, nada suara bergetar dan tinggi, ketengangan otot sedang.
c. Kecemasan berat
Kecemasan berat adalah adanya sesuatu yang berbeda dan ada ancaman memperlihatkan respon takut dan distress. Kecemasan
berat, adanya kecenderungan untuk memusatkan pada sesuatu yang terperinci dan spesifik dan tidak dapat berpikir tentang hal lain.
Respon fisik yang terjadi, seperti ketegangan otot berat, hiperventilasi, pengeluaran keringat meningkat, tanda-tanda vital meningkat, meremas-remas tangan dan bergetar, berteriak.
d. Panik
Panik adalah pemikiran rasional berhenti dan individu tersebut mengalami respon fight, flight, atau freeze. Panik yang berhubungan dengan kekuatan dan merasa diteror serta tidak mampu melakukan apapun waluapun dengan pengarahan. Panik meningkatkan aktivitas motoric, menurunkan kemampuan dengan orang lain, persepsi menyimpang dan kehilangan pemikiran rasional. Respon fisik yang terjadi seperti ketegangan otot sangat berat, agitasi motorik kasar, pupil dilatasi, tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun dan tidak dapat tidur.
7. Jenis-jenis kecemasan
Menurut Spilberger (dalam Annisa & Ifdil, 2016) menjelaskan kecemasan dalam dua bentuk yaitu:
a. Trait anxiety
Trait anxiety yaitu adanya rasa khawatir dan terancam yang menghinggapi diri seseorang terhadap kondisi yang sebenarnya tidak berbahaya. Kecemasan ini disebabkan oleh kepribadian individu yang memang memiliki potensi cemas dibandingkan dengan individu yang lainnya.
b. State anxiety
State anxiety merupakan kondisi emosional dan keadaan sementara pada diri individu dengan adanya perasaan tegang dan khawatir yang dirasakan secara sadar serta bersifat subjektif.
Sedangkan menurut Freud (dalam Annisa & Ifdil, 2016) membedakan kecemasan dalam tiga jenis yaitu:
a. Kecemasan neurosis
Kecemasan neurosis adalah rasa cemas akibat bahaya yang tidak diketahui. Perasaan itu berada pada ego, tetapi muncul dari dorongan id (komponen kepribadian yang hadir sejak lahir). Kecemasan neurosis bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, namun ketakutan terhadap hukuman yang mungkin terjadi jika suatu insting dipuaskan.
b. Kecemasan moral
Kecemasan ini berakar dari konflik antara ego dan superego.
Kecemasan ini dapat muncul karena kegagalan bersikap konsisten dengan apa yang mereka yakini benar secara moral. Kecemasan moral merupakan rasa takut terhadap suara hati. Kecemasan moral juga memiliki dasar dalam realitas, di masa lampau sang pribadi pernah mendapat hukuman karena melanggar norma moral dan dapat dihukum kembali.
c. Kecemasan realistik
Kecemasan realistik merupakan perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak spesifik yang mencakup kemungkinan bahaya itu sendiri.
Kecemasan realistik merupakan rasa takut akan adanya bahaya- bahaya nyata yang berasal dari dunia luar.
8. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan
Dalam artikel Millan (2010) menunjukkan bahwa subjek yang akan mengalami prosedur pembedahan, kecemasan timbul sekurangnya satu minggu sebelum prosedur pembedahan. Faktor lainnya yang berhubungan dengan timbulnya kecemasan adalah tipe pembedahan, ketakutan akan lingkungan rumah sakit dan kualitas dari perawatan medis. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan antara lain:
a. Usia
Usia menunjukkan ukuran waktu pertumbuhan dan perkembangan individu. Usia dapat mempengaruhi dalam kematangan dalam proses berpikir pada individu yang berumur dewasa lebih memungkinkannya menggunakan mekanisme koping yang baik dibandingkan kelompok usia remaja. Semakin bertambahnya usia maka semakin bijaksana seseorang dalam menghadapi masalah.
Seseorang yang umurnya lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan stress dari pada yang usia nya lebih tua (Sholikha, 2019). Usia menunjukan waktu pertumbuhan dan perkembangan seorang individu. Usia berhubungan dengan pengalaman, pengalaman berhubungan dengan pengetahuan, pemahaman dan pandangan terhadap suatu penyakit atau kejadian sehingga akan membentuk persepsi dan sikap. Menurut penelitian Velliyana dkk (2017) menyatakan bahwa rata-rata pasien dengan usia dewasa memiliki kecemasan ringan dan prevalensi tingkat kecemasannya lebih sedikit.
b. Jenis kelamin
Umumnya seorang laki-laki mempunyai mental yang kuat terhadap sesuatu hal yang dianggap mengancam bagi dirinya dibandingkan perempuan. seseorang yang berjenis kelamin perempuan cenderung mempunyai kecemasan yang tinggi dibandingkan laki-laki, hal ini karena perempuan mempunyai perasaan lebih sensitif dibandingkan laki-laki (Sholikha, 2019). Kecemasan sering dialami pada wanita daripada pria dikarenakan wanita mempunyai kepribadian yang labil dan immature, juga adanya peran hormon yang mempengaruhi kondisi emosi sehingga mudah cemas. Berkaitan dengan kecemasan pada laki-laki dan perempuan, perempuan lebih cemas akan ketidakmampuannya dibandingkan dengan laki-laki yang lebih aktif dan eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif. Dalam penelitian Erawan (2013) menyatakan bahwa perempuan lebih
banyak mengalami kecemasan daripada laki-laki, karena perempuan lebih mudah menunjukkan kecemasan yang dialaminya dibandingkan laki-laki.
c. Tingkat pendidikan
Kemampuan berpikir individu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan maka individu semakin mudah berpikir rasional dan menangkap informasi baru. Orang yang berpendidikan bisa mengekspresikan tingkat kecemasan mereka lebih tepat. Tingkat pendidikan yang rendah akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan (Sholikha, 2019).
Sedangkan pada penelitian Velliyana (2017) menyatakan latar belakang pendidikan tidak mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang dalam menghadapi operasi.
d. Pengalaman
Pengalaman masa lalu yang positif maupun negatif dapat mempengaruhi perkembangan keterampilan menggunakan koping.
Pengalaman masa lalu individu dalam menghadapi kecemasan dapat mempengaruhi individu ketika menghadapi stressor yang sama karena individu memiliki kemampuan beradaptasi atau mekanisme koping yang lebih baik, sehingga tingkat kecemasan pun akan berbeda dan dapat menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih ringan (Sentana, 2016).
e. Pengetahuan
Tingkat pengetahuan mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi dimana semakin baik pengetahuan seseorang maka kecemasan semakin ringan. Pengetahuan yang rendah mengakibatkan seseorang mudah mengalami stress. Ketidaktahuan terhadap suatu hal dianggap sebagai tekanan yang dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan dapat terjadi pada individu dengan tingkat pengetahuan yang rendah, disebabkan karena kurangnya informasi yang diperoleh. Tingkat pengetahuan yang rendah akan mempengaruhi seseorang untuk
mudah mengalami kecemasan, dan apabila semakin baik pengetahuan seseorang maka kecemasan semakin ringan (Sholikha, 2019).
f. Status ekonomi
Menurut penelitian Velliyana (2017) menyatakan bahwa responden dengan penghasilan dibawah Upah Minimun Regional mengalami kecemasan yang lebih signifikan dibandingkan dengan responden dengan penghasilan diatas UMR. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Winda (2014) mengatakan bahwa status ekonomi memiliki peran dalam menimbulkan kecemasan karena pasien akan memikirkan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan. Adanya hubungan antara status sosial ekonomi dengan tingkat kecemasan dalam penelitian ini disebabkan karena masih ada responden yang tidak menggunakan asuransi kesehatan, dan kebutuhan pasien selama masa perawatan meningkat sehingga pasien banyak memikirkan biaya yang harus dikeluarkan.
Clark dan Beck (2010, dalam Rizal, 2014) memaparkan simptom kecemasan. Simptom-simptom tersebut terdiri dari simptom fisik, simptom kognitif, simptom perilaku dan simptom afektif, secara terperinci sebagai berikut:
a. Simptom fisik terdiri dari detak jantung meningkat; nafas pendek dan cepat; nyeri dada atau dada terasa tertekan; sesenggukan;
pusing; berkeringat; kedinginan; merasa mual; diare; sakit perut;
gemetar; kesemutan; kelelahan; goyah; pingsan; otot tegang dan kaku dan mulut kering.
b. Simptom kognitif terdiri dari takut kehilangan kendali; takut cidera fisik atau kematian; takut akan menjadi “gila”; takut akan penilaian negatif dari orang lain; pengalaman menakutkan; gambar atau ingatakan; persepsi ketidak nyataan; konsentrasi yang buruk, kebingungan, mudah terakihkan; penyempitan perhatian, terlalu
RENTANG RESPONS ANSIETAS
Respons adaptif
Respons maladaptif
Antisipasi Ringan Sedang Berat
Pani k
fokus pada ancaman; memori yang buruk; kesulitan dalam penalaran, kehilangan objektivitas.
c. Simptom perilaku terdiri dari menghindari isyarat ancaman atau situasi; mengurung diri; mencari jaminan atas keselamatan diri;
gelisah, mondar-mandir; hiperventilasi; tidak dapat bergerak atau terlalu banyak gerak; sulit bicara.
d. Simptom afektif terdiri dari gugup, tegang; takut; tidak sabar, frustasi.
Berdasarkan penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan dapat menimbulkan empat bentuk simptom diantaranya ada simptom fisik, kognitif, perilaku dan afektif. Respon tersebut muncul berbeda dalam setiap individunya, tergantung dari dari individu yang mengalami kecemasan tersebut.
9. Rentang Respons Ansietas
Gambar 2.1. Rentang respons ansietas Sumber : Stuart, Gail. W (2007)
a. Respons Adaptif
Hasil yang positif akan didapatkan jika individu dapat menerima dan mengatur kecemasan. Kecemasan dapat menjadi suatu tantangan,
Gambar 2. 1 Rentang Respons Ansietas
motivasi yang kuat untuk menyelesaikan masalah dan merupakan sarana untuk mendapatkan penghargaan yang tinggi. Strategi adaptif biasanya digunakan seseorang untuk mengatur kecemasan antara lain dengan berbicara kepada orang lain, menangis, tidur, latihan, dan menggunakan teknik relaksasi.
b. Respons Maladaptif
Ketika kecemasan tidak dapat diatur, individu menggunakan mekanisme koping yang disfungsi dan tidak berkesinambungan dengan yang lainnya. Koping maladaptif mempunyai banyak jenis termasuk perilaku agresif, bicara tidak jelas isolasi diri, banyak makan, konsumsi alkohol, berjudi, dan penyalahgunaan obat terlarang. Menurut Stuart dan Sundeen dalam Asmadi (2008), ada beberapa tingkat kecemasan dan karakteristiknya antara lain :
1) Kecemasan ringan
a) Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari b) Kewaspadaan meningkat
c) Persepsi terhadap lingkungan meningkat
d) Dapat menjadi motivasi positif untuk belajar dan menghasilkan kreatifitas.
e) Respon fisiologis : sesekali napas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat sedikit , gejala ringan pada lambung, muka berkerut serta bibir bergetar
f) Respon kognitif : mampu menerima rangsangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif, dan terangsang untuk melakukan tindakan.
g) Respon perilaku dan emosi: tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan dan suara kadang-kadang meninggi.
2) Kecemasan Sedang
a) Respon fisiologis : sering napas pendek, nadi ekstra siastol dan tekanan darah meningkat, mulut kering, anoreksia, diare/
konstipasi, sakit kepala, sering berkemih dan letih.
b) Respon kognitif : memusatkan perhatiannya pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, lapang persepsi menyempit, dan rangsangan dari luar tidak mampu diterima.
c) Respon perilaku dan emosi: gerakan tersentak-sentak, terlihat lebih tegang, bicara banyak dan lebih cepat, susah tidur, dan perasaan tidak aman.
3) Kecemasan Berat
a) Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain.
b) Respon fisiologis : napas pendek, nadi dan tekanan darah naik berkeringat dan sakit kepala, penglihatan berkabut, serta tampak tegang.
c) Respon kognitif : tidak mampu berpikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan dan tuntunan serta lapang persepsi menyempit.
d) Respon perilaku dan emosi : perasaan terancam meningkat dan komunikasi menjadi terganggu (verbalisasi cepat).
4) Panik
a) Respon fisiologis : napas pendek, rasa tercekik, dan palpitasi, sakit dada, pucat, hipotensi, serta rendahnya koordinasi motorik.
b) Respon kognitif : gangguan realitas, tidak dapat berpikir logis, persepsi terhadap lingkungan mengalami distorsi, dan ketidak mampuan memahami situasi.
c) Respon perilaku dan emosi : agitasi, mengamuk, dan marah, ketakutan, berteriak-teriak, kehilangan kendali/kontrol diri (aktivitas motorik tidak menentu), perasaan terancam, serta dapat berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
10. Faktor Kecemasan
Menurut Durand & Barlow (2006) terdapat tiga faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan, yaitu biologis, psikologis dan sosial.
a. Kontribusi biologis
Terdapat beberapa penelitian yang melandasi pernyataan dari Durand dan Barlow (2006) bahwa faktor biologis dapat berkontribusi dalam kecemasan seorang individu. Contoh penelitian yang mendasari pernyataan mereka adalah penelitian menganai GABA (Gamma Aminobutycric Acid) dan penelitian penelitian menganai CRF (coertocotropin releasing factor). Tingkat GABA yang sangat rendah dapat secara tidak langsung berpengaruh terhadapdengan meningkatnya kecemasan ( Durand & Barlow,2006).
b. Kontribusi psikologis
Perasaan mampu mengontrol (sense of control) semua aspek kehidupan dimasa depan yang pasti sampai tidak pasti (Durand &
Barlow, 2006). Persepsi bahwa dimasa depan dipenuhi oleh hal-hal yang tidak dapat dikontrol tampak nyata dalam bentuk keyakinan bahwa masa depan dipenuhi oleh bahaya (Durand & Barlow, 2006).
c. Kontribusi sosial
Peristiwa yang menimbulkan stres seperti perkawinan, perceraian, kematian, cedera, penyakit dan tekanan sosial untuk pencapaian memicu kerentanan kita terhadap kecemasan (Durand & Barlow, 2006). Barlow (2002, dalam Durand & Barlow, 2006) mengungkapkan bahwa stresor tersebut dapat memicu reaksi fisik sakit kepala, hipertensi serta reaksi emosional seperti serangan panik.
Aktan (2011) mengemukakan kontribusi sosial khususnya dukungan sosial dapat berdampak positif pada penurunan kecemasan.
Menurut Lutfa dan Maliya (2008), faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan operasi adalah sebagai berikut:
a. Faktor-faktor intrinsik, antara lain:
1) Usia Pasien
Gangguan kecemasan lebih sering terjadi pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Menurut Stuart & sundeen (2006) sebagian besar kecemasan terjadi pada umur 21-45 tahun.
2) Pengalaman
Menjelaskan bahwa pengalaman awal ini sebagai bagian penting dan sangat menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari. Apabila pengalaman individu tentang pengobatan kurang, maka cenderung mempengaruhi peningkatan kecemasan saat menghadapi tindakan pengobatan selanjutnya.
3) Konsep diri dan peran
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketetahui individu terhadap dirinya dan mempengaruhi individu untuk berhubungan dengan orang lain. Peran adalah pola, sikap, perilaku dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.
Banyak faktor yang mempengaruhi peran seperti kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran, konsistensi respon orang lain yang berarti terhadap peran, kesesuaian dan keseimbangan antara peran yang dialaminya, serta keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran. Selain itu terjadinya situasi yang menciptakan ketidaksesuaian perilaku peran, akan mempengaruhi kehidupan individu. Pasien yang mempunyai peran ganda baik di dalam keluarga atau di masyarakat akan cenderung mengalami kecemasan yang berlebih disebabkan konsentasi terganggu.
a. Faktor-faktor ekstrinsik, antara lain:
1) Kondisi medis
Terjadinya kecemasan yang berhubungan dengan kondisi medis sering ditemukan, walaupun insidensi gangguan bervariasi untuk masing-masing kondisi medis, misalnya: pada pasien yang mendapatkan diagnosa operasi akan lebih mempengaruhi tingkat kecemasan pasien dibandingkan dengan pasien yang didiagnosa baik.
2) Tingkat pendidikan
Pendidikan pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir, pola bertingkah laku dan pola pengambil keputusan. Tingkat pendidikan yang cukup akan lebih mudah dalam mengidentifikasi stressor dalam diri sendiri maupun dari luarnya.
3) Akses informasi
Akses informasi merupakan pemberitahuan tentang sesuatu agar orang membentuk pendapat berdasarkan sesuatu yang diketahuinya. Informasi yang akan didapatkan pasien sebelum pelaksanaan tindakan operasi terdiri dari tujuan, proses, resiko dan komplikasi serta alternatif tindakan yang tersedia, serta proses administrasi (Smeltzer dan Bare dalam Lutfa dan Maliya. 2008).
4) Adaptasi
Kozier dan Olivery dalam Lutfa dan Maliya (2008), menjelaskan bahwa tingkat adaptasi manusia dipengaruhi oleh stimulus internal dan eksternal dan membutuhkan respon perilaku yang terus menerus. Proses adaptasi sering menstimulasi individu untuk mendapatkan bantuan dari sumber-sumber dimana individu berada. Perawat merupakan sumber daya yang tersedia dirumah sakit yang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan untuk membantu pasien mengembalikan atau mencapai keseimbangan diri dalam menghadapi lingkungan yang baru.
5) Tingkat sosial ekonomi
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masyarakat kelas sosial ekonomi rendah memililki prevalensi gangguan psikiatrik
yang lebih banyak. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa keadaan ekonomi yang rendah atau tidak dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien menghadapi tindakan operasi.
a) Tindakan operasi
Adalah klasifikasi tindakan terapi medis yang dapat mendatangkan kecemasan karena terdapat ancaman pada integritas tubuh dan jiwa seseorang (Muttaqin dan Sari, 2009).
b) Lingkungan
Menurut Ramaiah (2003) lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara berfikir. Hal ini bisa saja disebabkan pengalaman dengan keluarga, sahabat, rekan sejawat dan lain-lain. Kecemasan wajar timbul jika anda merasa tidak aman terhadap lingkungan.
11. Alat Ukur Kecemasan
Ada berbagai cara mengukur tingkat kecemasan, diantaranya adalah : a. Hamilton Anxiety Rating Scale(HARS)
Untuk mengetahui tingkat kecemasan pada pasien apakah masuk kedalam tingkat kecemasan ringan, sedang atau berat, menggunakan instrument ukur yaitu Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Skala ini dibuat oleh Max Hamilton tujuannya adalah untuk menilai kecemasan sebagai gangguan klinikal dan mengukur gejala kecemasan. Kuesioner HARS berisi empat belas pertanyaan yang terdiri dari tiga belas kategori pertanyaan tentang gejala kecemasan dan satu kategori perilaku saat wawancara. (Nursalam, 2011).
Dengan keterangan tersebut terdapat aspek penialaian kuesioner HARS diantaranya :
Tabel 2. 2 Penilaian Kuesioner HARS No Aspek Penilaian
1. Ketakutan 2. Kecemasan
3. Kegelisahan/Ketegangan 4. Optimisme
5. Kesedihan/Depresi 6. Intelektual
7. Minat
8. Otot (Somatik) 9. Insomania 10. Kardiovaskuler 11. Pernapasan 12. Perkemian 13. Gastrointestinal 14. Perilaku
Dengan masing-masing penilaian mempunyai jawaban diantaranya 1=
tidak pernah, 2= kadang-kadang, 3= sering, 4= selalu.
Dengan hasil keterangan
a. Skor kurang dari 14 = tidak ada kecemasan.
b. Skor 14 – 20 = kecemasan ringan.
c. Skor 21 – 27 = kecemasan sedang.
d. Skor 28 – 41 = kecemasan berat.
e. Skor 42 – 56 = kecemasan berat sekali
b. Amsterdam preoperative anxiety and information Scale (APAIS).
Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat, atau berat sekali orang akan
menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal dengan: Amsterdam preoperative anxiety and information Scale (APAIS).
Firdaus (2014) untuk mengetahui tingkat kecemasan dari ringan, sedang, berat dan sangat berat dapat diukur dengan skala APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Alat ukur ini terdiri dari 6 (enam) item kuestioner yaitu:
1) Mengenal anestesi
a) Saya merasa cemas dengan tindakan anestesi (1= tidak cemas, 2= ringan,3= sedang, 4= berat, 5= beratsekali).
b) Anestesi selalu dalam pikiran saya (1= tidak cemas, 2=
ringan,3= sedang, 4= berat, 5= beratsekali).
c) Saya ingin mengetahui banyak hal mengenai anestesi (1=
tidak cemas, 2= ringan,3= sedang, 4= berat, 5= berat sekali).
2) Mengenai pembedahan/operasi
a) Saya cemas mengenai prosedur operasi (1= tidak cemas, 2=
ringan,3= sedang, 4= berat, 5= berat sekali).
b) Prosedur operasi selalu dalam pikiran saya (1= tidak cemas, 2= ringan,3= sedang, 4= berat, 5= beratsekali).
c) Saya ingin mengetahui banyak hal mengenai prosedur operasi (1= tidak cemas, 2= ringan,3= sedang, 4= berat, 5=
berat sekali).
Jadi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
(1) 1-6 : Tidak ada kecemasan.
(2) 7-12 : Kecemasan ringan.
(3) 13-18 : Kecemasan sedang.
(4) 19-24 : Kecemasan berat.
(5) 25-30 : Kecemasan beratsekali/panik c. DASS (Depression Anxiety Stress Scale)
DASS (Depression Anxiety Stress Scale) merupakan alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana kecemasan pasien. DASS mempunyai 42 aspek penialain, dengan keterangan 0= tidak pernah,