MAKALAH
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“ (Hubungan Kepribadian dengan Proses Pendidikan)“
Dosen Pengampuh;
Dina Ervina,M.Pd
Disusun Oleh:
Adinda Umi Nova Erliza NIM.2022.09.14.001
Donalia NIM.2022.09.14.006
Elfakih NIM.2022.09.14.002
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAI) LUBUK LINGGAU TAHUN AKADEMIK 2023
KATA PENGANTAR
Pertama dan yang paling utama pemakalah mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatnya, sehingga pemakalah bisa menyelesaikan makalah Psikologi Pendidikan tepat pada waktunya.
Sholawat beriring salam tak lupa pula pemakalah ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam kegelapan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti yang kita rasakan saat ini.
Pemakalah juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu menyelesaikan makalah ini, dan selanjutnya kepada dosen pengampu. Apabila dalam makalah ini terdapat suatu kesalahan, pemakalah memohon maaf yang sebesar-besarnya. Pemakalah menyadari makalah ini jauh dari sempurna, maka dari itu pemakalah memohon kritik dan saran yang membangun dari teman-teman.
Singkut, 5 Oktober 2023
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan...2
BAB II PEMBAHASAN...3
A. Kepribadian...3
B. Pendidikan...4
C. Kaitan Kepribadian Dengan Proses Belajar...6
D. Proses Pendidikan Dalam Membentuk Kepribadian...9
E. Pengaruh Pendidikan Terhadap Kepribadian...11
BAB III PENUTUP...13
A. Kesimpulan...13
B. Saran...13
DAFTAR PUSTAKA...14
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Belajar merupakan proses kegiatan seseorang dalam mencapai pengetahuan seluas-luasnya, akibat dari adanya interaksi antar individu dengan individu lainnya, hingga dengan belajar maka terbentuklah pertumbuhan dan perubahan dalam diri seseorang yang dituangkan ke cara tingkah laku yang baru berkat pengalaman yang telah didapatnya dalam proses belajar berlangsung. Sekolah merupakan tempat atau wadah seseorang dalam melangsungkan proses pembelajaran, terdapat 3 komponen pembelajaran yakni guru, materi dan siswa, selain guru pastinya siswa memegang peranan penting dalam proses pembelajaran
Seusai proses pembelajaran yang ditempuh oleh siswa tentunya akan mencapai target yang diinginkan, yakni hasil belajar yang memuaskan.
Hasil belajar sendiri merupakan penentuan nilai atau value siswa diukur selama proses pembelajaran baik dari aspek kognitif, afektif serta psikomotorik .1
Salah satu faktor internal yakni kepribadian siswa memberikan pengaruh cukup besar terhadap hasil belajar siswa. Kepribadian yang dimiliki tiap siswa berbeda-beda, hal ini membuat hasil belajar juga tidak sama satu dengan lainnya. Menurut Gregory dalam Sjarkawi mengatakan bahwa kepribadian ialah satu ciri yang menandakan pada diri seseorang seperti ciri pembawaan maupun pola kelakuan.2
1 1Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2010), h.2
2 Mundandar, M. Soelaeman. Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Sosial.
(Bandung:Refik Aditama.2006), h.57
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kepribadian?
2. Apa pengertian pendidikan?
3. Apa kaitan kepribadian dan pendidikan?
4. Bagaimana proses pendidikan dalam membentuk kepribadian?
5. Bagaimana pengaruh pendidikan terhadap kepribadian?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian kepribadian 2. Mengetahui pengertian pendidikan
3. Mengetahui kaitan kepribadian dan pendidikan
4. Mengetahui proses pendidikan dalam membentuk kepribadian 5. Mengetahui pengaruh pendidikan terhadap kepribadian
BAB II PEMBAHASAN A. Kepribadian
Setiap individu seseorang itu unik, maka salah satu keprihatinan psikologi adalah individu sebagai keseluruhan (total individual) dan perbedaan-perbedaan individual. Menurut Larry A.Hjelle dan Daniel J.
Ziegler dalam bukunya yang berjudul Personality Theories yang dikutip oleh Agus Effendi (2005: 265) sejak tahun 1879 sains psikologi langsung peduli terhadap masalah pemahaman kepribadian manusia, dengan tujuan sebagai berikut: Pertama, tujuan fundamental dari studi tentang kepribadian adalah memberikan sumbangan secara signifikan terhadap pemahaman manusia dari kerangka sains psikologi. Kedua, untuk membantu bagaimana orang hidup lebih utuh dan memuaskan (Agus Efendi, 2005: 265)3
Kepribadian berasal dari (bahasa Inggris) yang berarti persona (bahasa Latin) yang berarti topeng. Tutup muka yang biasa digunakan pemain saat dipanggung yang dimaksudkan untuk menggambarkan pola perilaku dari sang pemakai itu sendiri (Agus Sujanto, 2014: 10). Sementara ada pendapat lain yang menyatakan bahwa manusia tidak selalu membawakan dirinya dalam sehari-hari. Ia kadang menampilkan kepura-puraan untuk mendaparkan kepentingannya atau untuk menutupi kelemahannya. Seperti halnya opera, di mana menampilkan drama yang disana terletak kepalsuan dengan sedikit polesan dan mimik dapat menjadi orang lain atau amoeba diri. Istilah dramaturgi yang biasa digunakan dalam dunia peran sandiwara, kiranya cukup tepat dalam melihat kepribadian seseorang.
Karena mempunyai dua sisi kehidupan yang berbeda. Front stage yang memperlihatkan sisi palsu dari dirinya untuk tujuan menghibur orang lain.
Back stage yang merupakan sisi asli dari seseorang namun tidak dilihatkan kepada orang lain (Sunardi, 2012: 309).
3 Bisyri Abdul Karim (2020). Teori Kepribadian dan Perbedaan Individu. Universitas Muslim Indonesia: Education and Learning Journal. 1 (1), hal. 41
Peran dramaturgi tidak hanya ada dalam dunia sandiwara panggung.
Namun, ia ada dan nyata dalam dunia realitas kehidupan sehari-hari.
Diperankan oleh manusia secara sasdar dengan motif kepentngan untuk mendapatkan kedudukan, kekuasaan atau prestasi. Yang membedakannya adalah kepribadian dilakukan atas dasar pikiran dan perasaan diri sendiri untuk mempresentasikan dirinya. Sedangkan, dramaturgi tuntunan dari sutradara dan tuntutan mengikuti alur naskah, tidak ada diri sendiri pada posisi front stage (Agus Sujanto, 2014: 12).
Kepribadian tidak sederhana untuk mendefiniskannya, karena mendefinisi pribadi seseorang yang sangat kompleks. Dari uraian deskriptif yang kompleks dari individu sehingga Nampak didalam tingkah laku yang unik. (Agus Sujanto, 2014: 15).
B. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.4
Dalam kajian dan pemikiran tentang pendidikan, terlebih dahulu perlu di ketahui dua istilah yang hampir sama bentuknya dan sering di pergunakan dalam dunia pendidikan, yaitu pedagogi dan pedagoik.
Pedagogi berarti “pendidikan” sedangkan pedagoik artinya “ilmu pendidikan”. Kata pedagogos yang pada awalnya berarti pelayanan kemudian berubah menjadi pekerjaan mulia. Karena pengertian pedagogi (dari pedagogos) berarti seorang yang tugasnya membimbing anak di dalam pertumbuhannya ke daerah berdiri sendiri dan bertanggung jawab.
Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal yaitu: segala sesuatu yang
4 Nella Khoirina dan Anas Rohman (2018). Psikologi Kepribadian dalam Pendidikan di Madrasah. Universitas Wahid Hasyim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Universitas Wahid Hasyim. 6 (1), hal. 107- 108
berhubungan dengan perkembangan manusia. Mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai pada perkembangan iman.
Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan.
Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan pembentukan keterampilan saja, namun diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu sehingga tercapai pola hidup pribadi dan sosial yang memuaskan, pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ketingkat kedewasaannya. Pendidikan adalah proses pembelajaran yang didapat oleh setiap manusia (peserta didik) untuk dapat membuat manusia (peserta didik) itu mengerti, paham, dan lebih dewasa serta mampu membuat manusia (peserta didik) lebih kritis dalam berpikir.
Umatt manusia (peserta didik) lebih kritis dalam berpikir. Pendidikan menjadi sangat bertaraf dalam kehidupan bangsa ini sehingga banyak para ahli berusaha menalar dan menyampaikan apa artian pendidikan yang sesungguhnya dalam kehidupan ini.
Selain itu, pengertian pendidikan atau definisinya menurut para ahli yaitu: 5
a) Prof. Dr. M.J Langeveld: Pendidikan ialah pemberian bimbingan dan bantuan rohani bagi yang masih memerlukannya.
5 Ibid, h.44
b) Prof. Zaharai Idris: Pendidikan ialah serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara manusia dewasa dengan si anak didik secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya.
c) H. Horne: Pendidikan adalah proses yang di lakukan terus menerus dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
d) Ahmad D. Marimba: Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terdapat perkembangan jasmani dan rohani terdidik menuju terbentuknyakepribadian yang utama.
Dapat diartikan bahwa pengertian pendidikan adalah kegiatan untuk saling berbicara mengenai wawasan yang diketahui guna menambah landasan.didalam kehidupan. Landasan yang diterapkan dalam kehidupan berguna memperbaiki sistem kehidupan agar lebih tertata dan sesuai landasan agama.
C. Kaitan Kepribadian Dengan Proses Belajar
Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dan kehidupan. Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.
Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia.
Dengan pendidikan maka terbentuklah pribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang. Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilangan pribadinya masing-masing. Sejak dahulu, disepakati bahwa dalam pribadi individu tumbuh atas dua kekuatan yaitu : kekuatan dari dalam (kemampuan-kemampuan dasar), Ki Hajar Dewantara menyebutnya dengan istilah “faktor dasar” dan kekuatan dari luar (faktor lingkungan), Ki Hajar Dewantara menyebutnya dengan istilah “faktor ajar”.
Teori konvergensi yang berpendapat bahwa kemampuan dasar dan faktor dari luar saling memberi pengaruh, kedua kekuatan itu sebenarnya berpadu menjadi satu. Si pribadi terpengaruh lingkungan, dan lingkungan pun diubah oleh si pribadi. Faktor-faktor intern (dari dalam) berkembang dan hasil perkembangannya digunakan untuk mengembangkan pribadi di lingkungan. Faktor dari luar dan lingkungan kadang tidak berkembang dengan baik, misalnya ketika pribadi terpengaruh oleh hal-hal negatif yang timbul dari luar dirinya.6
Secara sederhana Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa,
“Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik dalam hal perkembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama.Tujuan Pendidikan Nasional adalah menghasilkan manusia yang berkualitas yang dideskripsikan dengan jelas dalam UU No 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan GBHN 1993, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional,
6 Baharudin, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Ar-Ruzz Media,2016) h.190
bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta tanah air, mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa, menghargai jasa pahlawan, dan berorientasi pada masa depan.
Pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu atau pribadi, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam UUSPN dan PP No 29 Tahun 1990. selain pendidikan dipusatkan untuk membina kepribadian manusia, Pendidikan juga diperuntukkan guna pembinaan masyarakat. Pembinaan tersebut pada dasarnya dipersiapkan untuk kehidupan riil dan material di dunia serta kehidupan di akhirat kelak.
Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat, dan sekolah/ lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagai tempat berkembangnya pendidikan, dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan.
Metode pendidikan sangat berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pendidikan yang ideal. Metode yang tepat jika mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam. Guru sebagai pendidik mempunyai tanggung jawab untuk memilih, menggunakan dan memberikan metode yang efektif dalam mencapai tujuan pendidikan yang tercantum dalam kurikulum. Kepemimpinan dan pengaturan aspek-aspek paedagogis harus dilakukan para pelaku pendidikan guna memperlancar proses tercapainya tujuan pendidikan yang ideal.
D. Proses Pendidikan Dalam Membentuk Kepribadian
Pendidikan keluarga dan sekolah merupakan peletak dasar kepribadian anak.7
1. Pendidikan Keluarga
Dari hasil penelitian John Lock mengemukakan sebuah teori bahwa “ Anak itu dilahirkan dalam keadaan suci bagaikan kertas putih tanpa noda”. Keluarga adalah orang pertama yang hendak mewarnai dan menentukan kearah mana anak itu akan dibawa. Teori tersebut tidak lepas dari kenyataan bahwa anak itu sejak dilahirkan, dibesarkan, tumbuh dan berkembang berada ditengah –tengah keluarga. Jadi keluargalah yang pertama kali memperoleh kesempatan mengisi pribadi anak.
Oleh karena itu keluarga merupakan latar belakang sosial yang utama bagi anak dan secara kodrati memang bertugas untuk mendidik mereka, maka harus mampu mengisi jiwa anak dengan menciptakan suasana keluarga yang harmonis, memberikan contoh- contoh sikap , perilaku serta kebiasaan- kebiasaan yang baik. Hal ini menginagt daya tangkap anak akan meniru apa yang dilakukan oleh keduaorang tuanya. Selain itu sikap orang tua terhadap anaknya harus bijaksana, seiring sejalan , seia sekata, senada dan seirama tanpa membedakan antara yang satu dengan yang lain dan tidak terjadi pandangan yang berbeda antar kedua orang tuanya.
Namun demikian, tiap-tiap keluarga mempunyai suasana yang khas. Kekhususan suasana itu terjadi karena beberapa faktor yaitu faktor sosial ekonomi, faktor pendidikan orang tua, Faktor agama. Situasidan kondisi yang demikian akan mengakibatkan juga perbedaan dalam mendidik dan mengasuh anak.
7 Baharudin, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Ar-Ruzz Media,2016) h.190
2. Pendidikan Sekolah
Perkembangan anak baik yang bersifat jasmani maupun rohani pada masa keserasian bersekolah adalah sanagat pesat.
Mereka mempunyai dorongan-dorongan kodrat yang tidak dapat ditunda lagi
Pada masa usia sekolah ini, keluarga sudah tidak mampu lagi memberikan pelayanan terhadap fungsi-fungsi perkembangan anak secara menyeluruh, terutama fungsi perkembangan intelektualnya.Oleh karena itu mereka membutuhkan suatu lingkungan sosial baru yang lebih luas berupa sekolahan, untuk mengembangkan semua potensinya.
Di lingkungan sekolah, Anak mulai belajar hidup dibawah peraturan- peraturan sekolah, otoritas guru, disiplin belajar, disiplin kerja, kebiasaan bergaul dengan teman-teman dan bermacam-macam tuntutan yang lain yang ketat dan edukatif, semua itu akan memberikan nilai-nilai keindahan dan kesenangan belajar pada anak.
Sistim pendidikan sekolah akan memberikan pengaruh yang besar kepada anak baik sebagai makhluk sosial. Secara formal, semua pengalaman yang telah diperoleh anak dari sekolah itu akan memberikan pengaruh yang besar bahkan dapat dikatakan sebagai peletak dasar bagi perkembangan kepribadian anak.
E. Pengaruh Pendidikan Terhadap Kepribadian
Sekolah dan perguruan tinggi, serta guru memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan kepribadian, tentu saja setelah keluarga dan orang tua,. Alasan utama dari pengaruh sekolah dan guru terhadap perkembangan kepribadian adalah karena anak-anak memasuki dunia pendidikan (sekolah) pada usia awal saat pola kepribadian mulai dibentuk.
Selain di rumah, anak- anak menghabiskan lebih banyak waktunya di sekolah dibandingkan di tempat- tempat lainnya; karena itu institusi pendidikan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk meraih
tujuan mereka; dan juga memberikan kesempatan pertama kepda anak- anak untuk menilai kekuatan serta kelemahan yang mereka miliki secara realistis. Besarnya pengaruh institusi pendidikan terhadap perkembangan kepribadian sangatlah ditentukan oleh :
a. sikap siswa terhadap sekolah dan perguruan tinggi, b. terhadap guru-guru mereka,
c. serta terhadap nilai pendidikan.8
Pada mulanya, sikap yang ditujukan merupakan perilaku yang positif, namun secara lambat laun hal tersebut akan berubah sebagai hasil dari pengalaman yang menurunkan ego (ego deflating) yang didapatnya di sekolah serta dari tekanan rekan sejawatnya. Oleh karena itu terdapat variasi dalam sikap seseorang terhadap pendidikan:
a. yang dipengaruhi oleh gender,
b. metode mendidik anak yang diperolehnya di rumah, c. kelas sosial (keluarganya),
d. latar belakang etnis serta agama keluarganya,
e. serta penyesuaian dirinya terhadap lingkungan sekolah.9
Ketidaksukaan akan sekolah atau perguruan tinggi akan mengakibatkan siswa membolos, dikeluarkan (drop out), atau tetap bersekolah namun berperilaku yang tidak sesuai sebagai usaha balas dendam. Penelitian membuktikan bahwa kondisi tertentu dapat mengakibatkan berkembangnya sikap yang negatif dan kondisi yang lainnya dapat mengakibatkan munculnya sikap yang positif. Jika seorang anak memiliki kesiapan fisik dan mental untuk memasuki jenjang pendidikan dasar, atau jika seorang siswa siap memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, atau tamat sekolah, maka ia akan
8 Suci wulansari, jurnal Tabularasa PPS Unimed, Pengaruh Model Pembelajaran dan Tipe Kepribadian terhadap Hasil Belajar Fisika pada siswa SMP Swasta diKecamatan Area, 2012, Vol.9 No.1, h. 35
9 Nadwa, Jurnal pendidikan islam Pengaruh Metode Pembelajaran dan Tipe Kepribadian Terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab (Studi Eksperimen Pada MAN 1 Semarang), 2016, Vol.10 No.1, h.4
menunjukkan sikap yang lebih positif dibandingkan jika ia belum memiliki kesiapan fisik dan mental. Karena kesiapan baik fisik maupun mental dapat mempengaruhi pemilihan jenis penyesuaian yang dilakukan siswa terhadap tugas akademiknya, kegiatan ekstrakurikuler, serta terhadap guru dan teman sekelasnya, maka kualitas penyesuaian yang dipilihnya akan mempengaruhi penilaian orang lain terhadap dirinya, serta penilaian terhadap dirinya sendiri. Kesiapan mental dan fisik seseorang ditentukan oleh jenis pengalaman masa lalu yang dialami seseorang di dalam lingkungan pendidikan yang baru, baik di taman kanak-kanak, sekolah lanjutan, maupun graduate school. Semakin positif pengalaman awal seorang, maka akan semakin positif pula sikap yang ditunjukkannya, dan pada akhirnya akan membuat penyesuaian diri seseorang menjadi semakin baik.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Kepribadian atau psyche adalah mencakup keseluruhan fikiran, perasaan dan tingkah laku, kesadaran dan ketidak sadaran. Sedangkan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kaitan pendidikan dan kepribadian itu ialah pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia.
Dengan pendidikan maka terbentuklah pribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan
tenang. Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilangan pribadinya masing- masing. Dalam prosesnya, pendidikan keluarga merupakan peletak dasar pembentukan kepribadian anak. Keluarga yang menghadirkan anak ke dunia, secara kodrat bertugas mendidik anak. Kebiasaan-kebiasaan yang ada di keluarga akan sangat membekas dalam diri individu setelah individu makin tumbuh berkembang. Selanjutnya pengaruh dari sekolah dan masyarakat yang akan tertanam dalam diri anak. Pengaruh yang diberikan pendidikan dalam pembentukan kepribadian yangmana alasan utama dari pengaruh sekolah dan guru terhadap perkembangan kepribadian adalah karena anak-anak memasuki dunia pendidikan (sekolah) pada usia awal saat pola kepribadian mulai dibentuk.
B. Saran
Masih banyak sekali kekurangan yang terdapat pada makalah yang saya buat ini, untuk itu sudilah kiranya bapak/ibu dosen serta teman teman untuk memberikan kritik dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2017. Apa yang Dimaksud Dengan Kepribadian. (Online) (https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan- kepribadian/8848/4 diakses tanggal 25 Maret 2019)
Anonim. 2018. Pengertian Kepribadian dan Contohnya. (Online) (http://dosensosiologi.com/pengertian-kepribadian-dan-contohnya/ diakses tanggal 25 Maret 2019)
Anonim. 2012. Pengertian Kepribadian Dalam Pendidikan.
(Online) (https://www.referensimakalah.com/2012/04/pengertian- kepribadian-dalam-pendidikan_870.html diakses tanggal 25 Maret 2019)
Sasmoko. 2016. Kepribadian Dalam Pendidikan. (Online)
(https://pgsd.binus.ac.id/2016/12/26/kepribadian-dalam- pendidikan/
diakses tanggal 25 Maret 2019)
Ngalim M. Purwanto. 2007. Ilmu Pendidikan Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosda Karya Fuad,
Ihsan. 2008. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta:. Rineka Cipta
Suwarno, Wiji. 2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media
Anas Sudijono. 2014. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Perss.
Arnissa Wulandari &Margaretha Rehulina. 2013. Hubungan antara lima faktor kepribadian (The big five personality) dengan The big five personalityakna hidup pada orang dengan Human immunodeficiensyVirus.
Vol. 02 No.1.
Atika Kusuma Wardani & Miftahun Ni’mah Suseno. 2012 . Faktor kepribadian dan organizational citizenship behavior pada polisi pariwisata. Vol. IX No 2
Baharudi. 2016. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, Jakarta : Ar- Ruzz Media
Daviq Chairilsyah. 2012. Pembentukan Kepribadian Positif Anak Sejak Usia Dini. Vol.01. No 1.