Hukum Humaniter
Mikael Hans Pio Yurdityawan 151240146
HI-E
Hukum humaniter sering disebut sebagai hukum perang. Hukum ini merupakan salah satu bagian paling tua dalam sejarah hukum internasional yang ada.
Hukum humaniter menekankan pada akibat yang ditimbulkan oleh perang dalam kaitannya dengan kemanusiaan, perlindungan korban perang, pencegahan kerusakan. The history of International Humanitarian Law is not a new one. The laws of war are as old as war itself and war is as old as life on earth (Agu dkk, 2022). Sejarah dari Hukum Humaniter diyakini sudah ada bahkan ketika perang pertama kali pecah dan ketika kehidupan pertama di bumi ada. Pada zaman dahulu kala, manusia sudah memiliki rasa kasihan ataupun perasaan
menghormati yang lemah, bahkan ketika perang sekalipun. Perasaan ini menjadi kunci akan adanya Hukum Humaniter yang berlaku sebagai bentuk menghargai orang yang lemah dan bentuk dari manusiawi itu sendiri. The International Humanitarian Law (IHL) is very strongly found in many religious book especially in the Holy bible, Quran and other which significantly contributed towards the development of International Humanitarian Law (IHL) (Agu dkk, 2022). Kitab suci merupakan salah satu cerminan dari Hukum Humaniter. Dalam kitab suci kita diajarkan mengenai kasih dan juga jiwa kemanusiaan. Hal tersebut sejalan dengan Hukum Humaniter yang menjunjung tinggi kemanusiaan walaupun dalam perang sekalipun. Pernyataan ini menunjukkan bahwa sebenarnya Hukum Humaniter telah ada dan telah berdampingan dengan manusia tanpa kita
sadari.
Seiring berjalannya waktu, hukum humaniter semakin berkembang.Menurut Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Humaniter internasional dibagi menjadi dua, yaitu;
1. Jus ad Bellum, hukum tentang perang yang mengatur bagaimana suatu negara dibenarkan untuk menggunakan kekerasan senjata; dan
2. Jus in Bello, hukum yang berlaku dalam perang.
Konflik bersenjata dibedakan menjadi 2 (dua), yakni;
1. International Armed Conflict (IAC), konflik bersenjata skala internasional.
Misalnya antar negara atau atau lebih.
2. Non-International Armed Conflict (NIAC), konflik bersenjata dalam wilayah negara
KGPH Haryomataram berpendapat bahwa hukum ini adalah hukum yang
memiliki tujuan utama memberikan perlindungan kepada korban-korban perang baik yang secara aktif dalam konflik maupun yang tidak ikut serta.
Hukum Humaniter berlaku ketika terjadi sebuah konflik bersenjata.
Sebagai hukum internasional, hukum humaniter termuat dalam Hukum Den Haag dan Konvensi Jenewa. Hukum Den Haag menentukan hak dan kewajiban negara-negara yang berperang mengenai perilaku pada waktu operasi militer dan pembatasan alat. Konvensi Jenewa berisi perlindungan anggota militer yang tidak dapat terlibat lagi dan orang yang tidak terlibat sama sekali.
Salah satu sumber lain hukum humaniter datang dari Konvensi Jenewa 1949 yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu;
1. Perbaikan keadaan yang luka dan sakit dalam angkatan perang di medan pertempuran darat
2. Perbaikan keadaan anggota angkatan perang di laut yang luka, sakit, dan korban karam
3. Perlakuan tawanan perang
4. Perlindungan orang sipil di waktu perang
Lembaga Internasional pun muncul sebagai bentuk implementasi Hukum
Humaniter, yaitu ICRC (Komite Palang Merah Indonesia). Keberadaan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) adalah sebagai lembaga yang menjamin Konvensi Jenewa sebagai hukum harus di taati dan di hormati (Asnawi, Iqbal;, 2017). ICRC memiliki peran penting dalam implementasi HHI dikarenakan komite ini memastikan bahwa warga sipil akan dijamin keselamatan dan hak-haknya, tawanan perang diperlakukan sesuai hukum yang ada, dan penghormatan hak manusia. Menurut Konvensi-konvensi Jenewa, kegiatan kemanusiaan
mengharuskan ketidakberpihakan (impartiality) dan harus bemanfaat bagi orang tanpa memandang ras, warna kulit, agama atau kepercayaan, jenis kelamin, keturunan atau kekayaan, atau kriteria serupa lainnya (Asnawi, Iqbal;, 2017).
Sebagai sebuah komite yang memainkan peran penting dalam HHI, ICRC tidak boleh bersikap tidak adil kepada semua orang. ICRC harus menganggap bahwa semua orang itu setara dan harus diselamatkan.
Selain itu, terdapat penambahan yang datang dari Protokol Tambahan I 1949.
Protokol ini dibentuk karena metode perang yang digunakan negara berkembang, sama pula dengan aturan tata cara perang. Protokol ini menentukan hak dari pihak yang bersengketa untuk memilih alat dan cara berperang adalah tidak tak terbatas, dan dilarang menggunakan senjata yang menyebabkan penderitaan berlebih. Kedua, Protokol Tambahan II 1997,
terbentuk akibat Perang Dunia II.
Hukum Humaniter Internasional memiliki 3 asas yaitu;
1. Asas kepentingan militer, pihak yang berkonflik dibenarkan dalam penggunaan kekerasan
2. Asas perikemanusiaan, pihak yang berkonflik harus memperhatikan kemanusiaan
3. Asas kesatriaan, dalam perang kejujuran harus diutamakan tanpa adanya alat tidak terhormat dan cara licik.
Prinsip Hukum Humaniter menurut Ambarwati, yaitu;
1. Kemanusiaan 2. Kepentingan 3. Proporsional 4. Pembedaan
5. Larangan penderitaan berlebih
6. Pemisahan Jus ad Bellum dan Jus in Bello
7. Ketentuan minimal HHI adalah Konvensi Jenewa 1949 8. Tanggung jawab dalam pelaksaan dan penegakan HHI
At a general level, IHL tries to find a balance between the two
fundamental principles that are the principle of humanity on the one hand and the principle of military neccessity on the other hand (Agu dkk, 2022). Hukum Humaniter bertujuan untuk berusaha menyeimbangkan antara kemanusiaan dan prinsip militer. Dalam hukum tersebut telah dijelaskan mengenai kewajiban negara atau pihak yang memiliki kepentingan militer dalam suatu perang satu konflik. Perang atau konflik dipandang sebagai salah satu dari sekian cara untuk menyelesaikan suatu masalah. Namun, bukan berarti dalam praktiknya hal tersebut bisa dilakukan dengan semena-mena. Hadirnya hukum ini untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, bahkan dalam perang sekalipun. Hukum Humaniter menekankan pada akibat yang ditimbulkan bagi kemanusiaan.
Sedangkan hukum perang lebih menekankan pada segi yuridis dan peristiwa perang. Kedua hal ini haruslah berjalan berdampingan.
The International Humanitarian Law (IHL) is very strongly found in many religious book especially in the Holy bible, Quran and other which significantly contributed towards the development of International Humanitarian Law (IHL) (Agu dkk, 2022). Kitab suci merupakan salah satu cerminan dari Hukum Humaniter. Dalam kitab suci kita diajarkan mengenai kasih dan juga jiwa kemanusiaan. Hal tersebut
sejalan dengan Hukum Humaniter yang menjunjung tinggi kemanusiaan walaupun dalam perang sekalipun. Pernyataan ini menunjukkan bahwa sebenarnya Hukum Humaniter telah ada dan telah berdampingan dengan manusia tanpa kita sadari.
Studi Kasus:
Konflik Israel-Palestina merupakan konflik berkepanjangan yang tidak pernah usai. Israel sebagai negara yang memiliki “upper hand” terus menerus menyerang Palestina. Namun, serangan Israel ini tidak hanya mengarah ke militer ataupun pihak yang ikut perang saja, melainkan ikut mengarah ke warga sipil yang tidak bersalah. Israel menargetkan fasilitas umum dan serangan pada warga sipil. Infrastruktur seperti rumah sakit pun tak luput dari serangannya.
Selain itu, Israel juga memblokade bantuan kemanusiaan terhadap korban di Gaza, Palestina. Serangan yang diluncurkan Israel ini tentunya melanggar HAM dan juga Hukum Humaniter.
Penggunaan bom fosfor putih oleh Israel diketahui tidak hanya digunakan pada tahun 2023 saja, telah tercatat bahwa Israel telah
menggunakan bom fosfor pada tahun 2006, 2008, 2009, serta 2014 yang tidak hanya menewaskan pejuang hamas tetapi juga rakyat sipil Palestina, dari pihak PBB sendiri sampai saat ini belum ada bentuk sanksi terhadap Israel yang dapat memberikan efek jera (Pratiwi, Nurlita;, 2023). Salah satu serangan Israel yang terkenal adalah serangannya ke shelter sekitar RS Indonesia. Serangan ini terjadi pada Sabtu, 19 Oktober 2024. Para militan Israel menyerbu rumah sakit dan langsung menyerangnya. Tidak hanya itu, Israel juga membakar rumah sakit tersebut yang menyebabkan masalah serius. Bahkan, militan Israel memutus aliran listrik yang menyebabkan beberapa pasien meninggal dunia akibat kekurangan oksigen. Selanjutnya, 23 Maret 2025, Israel melancarkan
serangannya ke sebuah rumah sakit. Bahkan, serangan Israel tersebut juga menyebabkan warga sipil yang tidak bersalah tewas. Pada saat yang bersamaan seorang jurnalis Al-Jazeera tewas dalam serangan Israel di Gaza. Dilansir dari detik.com, jurnalis bernama Hussam Shabat terus tewas usai serangan militer Israel menargetkan mobilnya. Serangan Israel menyebabkan sebagian besar rumah penduduk hancur, alasan tersebut menjadikan banyak penduduk yang mencari perlindungan di gedung-gedung sekolah. Sekitar satu bulan yang lalu tepatnya pada Rabu,23 2025, dilansir dari detik.com, Israel menargetkan sebuah sekolah yang dijadikan sebagai tempat pengungsian warga sipil yang membuat sedikitnya terdapat 14 orang tewas. Selain itu Serangan Israel yang melanggar hukum ini tidak dilakukan baru-baru saja melainkan sudah dilakukan sejak lama dan bervariasi jenis-jenisnya.
Analisis:
Hukum Humaniter dipahami sebagai hukum yang tidak melarang perang dan memperbolehkan adanya kekerasan dalam praktiknya, tetapi perlu
diketahui bahwa hal tersebut masih ada batasannya.. Salah satu prinsip dalam konflik bersenjata adalah prinsip pembedaan. Prinsip pembedaan adalah prinsip dalam Hukum Humaniter yang mengatur mengenai pembedaan antara kelompok kombatan yaitu yang dapat terjun ke medan pertempuran,
dengan kelompok yang harus dilindungi dalam pertempuran meliputi rakyat sipil, anak (Pratiwi, Nurlita;, 2023). Israel sudah jelas melanggar prinsip tersebut, dalam studi kasus diatas Israel telah menyerang rakyat sipil, tenaga medis, bahkan jurnalis. Tindakan yang dilakukan ini tidak bisa dibenarkan apapun alasannya. Dalam Hukum Humaniter sudah dijelaskan mengenai larangan penyiksaan yang berlebih. Penggunaan gas beracun yang digunakan oleh Israel merupakan salah satu contoh penyiksaan berlebih yang tidak diperlukan. Hal ini
tentunya melanggar dasar hukum yang ada yaitu Pasal 35 ayat 2 dan 3 pada Protokol Tambahan 1 Konvensi Jenewa 1977 mengenai larangan penggunaan senjata yang memberikan dampak berlebih.
Penghambatan bantuan kemanusiaan termasuk salah satu dari
pelanggaran Hukum Humaniter karena tiap orang atau pihak yang terlibat dalam perang memiliki hak untuk mendapatkan bantuan dari luar sebagai cara
bertahan hidup di medan perang. Hal ini tertuang pada Pasal 59 Konvensi Jenewa IV yang menjelaskan bahwa pihak penguasa berhak untuk memberikan izin terkait pemberian bantuan kemanusiaan yang datang dari luar. Didalam perang, negara yang berkonflik haruslah menargetkan sasaran objek militer dan militan. Tindakan Israel ini melanggar Konvensi Jenewa IV tahun 1949 Pasal 31 yang berisi larangan penyiksaan berupa hukuman fisik atau penyalahgunaan hukuman fisik. Israel juga telah melanggar Protokol Tambahan I Tahun 1977 Pasal 48 mengenai jaminan penghormatan dan perlindungan terhadap penduduk sipil dan objek sipil. Terkait penyerangan terhadap jurnalis yang bertugas di wilayah konflik telah diatur, dan terakhir yaitu pada Pasal 13 dan 51 (Pratiwi, Nurlita;, 2023). Penduduk sipil, jurnalis, tempat tinggal, rumah sakit, shelter, dan sekolah merupakan sipil dan objek sipil yang dilindungi di mata Hukum
Humaniter Internasional. Jurnalis dianggap sebagai warga sipil menurut Pasal 79 ayat 1 pada Protokol Tambahan 1. Perbuatan yang menyerang, melukai,
membunuh orang yang tidak bersalah merupakan salah satu kejahatan perang dan penyimpangan Hukum Humaniter. Penyerangan rumah sakit merupakan salah satu penyimpangan terkait objek sipil. Dalam rumah sakit terdapat sarana dan prasarana yang ditujukan untuk pengobatan orang yang tidak baik-baik saja.
Dalam hal ini orang tersebut dianggap “vulnerable”, sebagai seorang yang dikategorikan rentan, penyerangan maupun intervensi yang mengarah ke arah negatif tidak diperbolehkan. Bahkan, tindakan yang sangat tidak manusiawi terjadi dengan pembakaran rumah sakit yang dan pemutusan jaringan listrik.
Pemutusan jaringan listrik yang menyebabkan korban jiwa dapat dikategorikan sebagai penyiksaan yang berlebih dan melanggar Protokol Tambahan 1.
Akibat dari pelanggaran ini terdapat banyak pihak yang mengambil
tindakan tegas dengan memberi sanksi terhadap Israel. Beberapa sanksi datang dari Uni Eropa pada 2024 menjatuhkan sanksi terhadap lima individu dan tiga entitas Israel. Lalu ada yang PBB turut menyerukan akan sanksi dan embargo senjata terhadap Israel yang diketahui melanggar HAM dan Hukum Humaniter.
Sanski terbaru datang dari 5 negara barat yaitu Inggris, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Norwegia dengan larangan perjalanan dan pembekuan aset.
Sanksi atau hukuman ini merupakan sebagian kecil dari sanski dunia terhadap Israel.
Kesimpulan:
Hukum humaniter merupakan hukum yang mengatur mengenai kemanusiaan dalam perang. Dalam Hukum Humaniter diatur mengenai penjunjungan tinggi terhadap sipil dan objek sipil. Sejatinya, perang yang dilakukan haruslah terjadi antar militer dari kedua kubu dan tidak melibatkan orang awam. Hukum ini memiliki dasar hukumnya yaitu Konvensi Jenewa dan Hukum Den Haag. Hukum ini diyakini sudah ada sejak manusia dan perang itu lahir. Dalam kehidupan ini, masih terdapat praktik oleh beberapa negara dalam perang yang melanggar hukum humaniter. terutama. Israel telah melakukan banyak penyimpangan perang yang melanggar Protokol Tambahan dan Konvensi Jenewa. Tindakan Israel ini telah mendapat banyak kecaman dari dunia
internasional. Perang diperbolehkan dalam Hukum Humaniter karena sejatinya kedua hal tersebut berjalan berdampingan.
S.H, R. C. A. (n.d.). Hukum Humaniter Internasional: Asas dan Dasar Hukumnya. Hukumonline.com.
https://www.hukumonline.com/klinik/a/hukum-humaniter-internasional- asas-dan-dasar-hukumnya-lt62e8ebdd0a7c4/
Nufus, W. H. (2025, March 24). 730 Warga Gaza Tewas dalam 6 Hari Akibat Serangan Israel. Detiknews; detikcom.
https://news.detik.com/internasional/d-7839796/730-warga-gaza-tewas- dalam-6-hari-akibat-serangan-israel
Faculty of Law Enugu State University of Science and Technology, Faculty of Law Enugu State University of Science and Technology, &
Faculty of Law Enugu State University of Science and Technology.
(2022, October 4).
TheHistory,NatureandDevelopmentofInternationalHumanitarianLaw:AR eview. The Histroy, Nature and Development of International
Humanitarian Law: A Review, 1(1), 53-58.
https://caritasuniversityjournals.org/index.php/cjmssh/article/view/6/6 Azhar Bagas Ramadhan. (2024, September 11). Serangan Udara Israel Hantam Sekolah di Gaza, 14 Orang Tewas. Detiknews; detikcom.
https://news.detik.com/internasional/d-7536647/serangan-udara-israel- hantam-sekolah-di-gaza-14-orang-tewas
https://www.facebook.com/CNNIndonesia. (2024, October 22). Kronologi Israel Bombardir hingga Bakar Shelter Sekitar RS Indonesia.
Internasional.
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20241022100457-120- 1158220/kronologi-israel-bombardir-hingga-bakar-shelter-sekitar-rs- indonesia
Faculty of Law Enugu State University of Science and Technology, Faculty of Law Enugu State University of Science and Technology, &
Faculty of Law Enugu State University of Science and Technology.
(2022, October 4).
TheHistory,NatureandDevelopmentofInternationalHumanitarianLaw:AR eview. The Histroy, Nature and Development of International
Humanitarian Law: A Review, 1(1), 6.
https://caritasuniversityjournals.org/index.php/cjmssh/article/view/6/6 Universitas Sebelas Maret, Jawa Tengah, Indonesia. (2023, April). Jurnal Hukum Indonesia. Pelanggaran Prinsip-PrinsipHukum Humaniter
Internasional dalam Agresi Militer Israel Ke Palestina, 3(2), 58-66.
https://jhi.rivierapublishing.id/index.php/rp/article/view/721/73
Nabiila Azzahra, & Sita Planasari. (2024, July 16). Uni Eropa Jatuhkan Sanksi terhadap Ekstremis Israel atas Pelanggaran HAM terhadap Warga Palestina. Tempo. https://www.tempo.co/internasional/uni- eropa-jatuhkan-sanksi-terhadap-ekstremis-israel-atas-pelanggaran- ham-terhadap-warga-palestina-39646
Erdianto, K. (2024, May 31). Pakar HAM PBB Serukan Sanksi dan Embargo Senjata terhadap Israel. KOMPAS.com; Kompas.com.
https://www.kompas.com/cekfakta/read/2024/05/31/174500182/pakar-