• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Metode Bermain Melompat untuk Pengembangan Motorik Kasar Anak Usia 4-5 Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Implementasi Metode Bermain Melompat untuk Pengembangan Motorik Kasar Anak Usia 4-5 Tahun"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI METODE BERMAIN MELOMPAT UNTUK MENGEMBANGKAN FISIK MOTORIK KASAR PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TKIT 1 QURROTA A’YUN

PONOROGO

SKRIPSI

Oleh:

DICA NURUL AZIZAH NIM. 205190008

JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

MEI 2023

(2)

ABSTRAK

Azizah, Dica Nurul 2023. Implementasi Metode Bermain Melompat Untuk Mengembangkan Fisik Motorik Kasar Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo (Studi Kasus di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo). Skripsi. Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing Safiruddin Al Baqi, MA.

Kata Kunci: Metode Bermain, Fisik Motorik, Motorik Kasar, Anak usia Dini.

Implementasi metode bermain melompat pada anak usia dini untuk mengembangkan fisik motorik kasar diperlukan, karena fisik motorik kasar dapat bermanfaat dalam kegiatan sehari-hari. Kegiatan melompat merupakan kegiatan dasar yang nantinya akan berguna bagi kehidupan sehari-hari. Sehingga diambil sebuah penelitian untuk melihat metode bermain melompat apakah mampu mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui implementasi metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo (2) mengetahui faktor pendukung dan penghambat metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo, (3) mendeskripsikan efektifitas metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo Dalam penelitian ini untuk menjawab permasalahan tersebut peneliti menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas TK A1, guru, serta orang tua. Sedangkan dengan teknik analisis data interaktif Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) implementasi metode bermain melompat untuk mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’Yun berkembang sesuai harapan. (2) Faktor penghambat dan pendukung dalam penerapan metode bermain peran, antara lain: 1) faktor penghambat dari luar yaitu suasana di lingkungan yang tidak kondusif atau anak kurang ceria saat di sekolah. Faktor penghambat dari dalam yaitu emosioanal pada diri anak yang belum stabil sehingga mood anak-anak berubah-ubah. 2) faktor pendukung dari luar yaitu, support yang diberikan oleh orang tua dan guru serta lingkungan sekitar anak yang mendukung dan membuat anak lebih ceria. Faktor pendukung dari dalam yaitu suasana hati anak yang dalam kondisi baik. (3) Pencapaian metode bermain melompat untuk mengembangkan fisik motorik kasar pada anak sudah diterapkan di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo serta berkembang sesuai harapan.

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

ABSTRAK ... . ... i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

SURAT PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN ... v

DAFTAR ISI ... . ... vi

DAFTAR GAMBAR ... . ... vii

DAFTAR TABEL ... . ... viii

BAB 1 PENDAHULUAN . . ... 1

A. Latar Belakang masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 6

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 7

F. Sistematika Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9

A. Kajian Teori ... 9

1. Bermain ... 9

2. Metode Pembelajaran Bermain Anak Usia Dini ... 15

3. Anak Usia Dini ... 20

(8)

4. Perkembangan Motorik Anak Usia Dini ... 25

5. Faktor Pendukung dan Penghambat Pembelajaran dalam Mengembangan Fisik Motorik Kasar pada Anak Usia Dini ... 29

B. Kajian Penelitian Terdahulu ... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 37

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 37

B. Lokasi Penelitian ... 38

C. Data dan Sumber Data ... 39

D. Teknik Pengumpulan Data ... 40

E. Teknik Analisis Data ... 41

F. Pengecekan Keabsahan Penelitian ... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 45

A. Gambaran Umum Latar Belakang Penelitian ... 45

1. Profil TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo ... 45

2. Sejarah Berdirinya TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo ... 46

3. Visi, Misi, dan Tujuan TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo ... 47

4. Struktur Organisasi TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo... 48

5. Sarana Prasarana TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo ... 49

B. Deskripsi Data ... 51

1. Implementasi metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo ... 51 2. Faktor pendukung dan penghambat metode bermain melompat

(9)

dalam mengembangkan fisik motorik kasar anak usia 4-5 tahun

di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo ... 55

3. Pencapaian perkembangan kemampuan fisik motorik kasar anak di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo ... 58

C. Pembahasan ... 63

1. Implementasi metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo ... 63

2. Faktor pendukung dan penghambat metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo... 69

3. Pencapaian perkembangan kemampuan fisik motorik kasar anak di TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo... 71

BAB V PENUTUP ... 75

A. Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 78

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 81

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Logo Sekolah... 45

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Sarana Prasarana TKIT 1 Qurrota A’Yun ... 49 Tabel 4.2 Hasil Capaian Perkembangan Fisik Motorik Kasar Anak di

TKIT 1 Qurrota A’Yun Ponorogo... 62

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan anak usia dini memiliki tujuan yang dijelaskan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Pada masa anak usia dini merupakan masa-masa keemasan bagi anak atau lebih sering disebut dengan istilah Golden Age. Pada masa anak usia dini otak anak mengalami perkembangan lebih cepat dari usia dewasa. Hal ini berlangsung saat anak masih di dalam kandungan yaitu usia 0 sampai 6 tahun. Pada saat masih balita sampai anak berumur 4 tahun adalah masa-masa yang menentukan perkembangan otak anak, karena pada periode ini otak anak mengalami pertumbuhan otak lebih pesat. Maka dari itu pada usia itu anak harus lebih diberikan perhatian dengan cara bisa langsung dari orang tua anak atau memasukkan anak ke lembaga pendidikan anak usia dini.

Menurut Permendikbud nomor 37 tahun 2014 dijelaskan bahwa pendidikan anak usia dini dapat merangsang dan memaksimalkan aspek-aspek

(13)

perkembangan yang harus dikembangkan oleh guru pendidikan anak usia dini.1

Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengacu pada tiga landasan penyelenggaraan PAUD, yaitu landasan yuridis, filosofia, dan keilmuan. Landasan yuridis mengacu pada perundangan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia terkait dengan pelaksanaan PAUD dan peningkatan kualitasnya. Landasan filosofis Pendidikan Anak Usia Dini mengkaji realitas yang sedang terjadi dalam proses pendidikannya. Landasan keilmuan PAUD didasari oleh penemuan para ahli tentang ilmu tumbuh kembang anak. Beberapa filosofi keilmuan PAUD berdasarkan pandangan para ahli seperti Imam Al-Ghazali, Wittrock, Jean Piaget dan Lev Vigotsky, Ki Hajar Dewantara, dan para ilmuan lainnya. Ketiga landasan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan penyelenggaraan PAUD agar dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan oleh pemerintah dalam Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Anak usia dini memerlukan stimulus untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 137 Tahun 2014 menyebutkan bahwa aspek perkembangan anak yaitu nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni.2

1Moh Fauziddin Mufarizuddin, “Useful of Clap Games For Optimalize Cogtivite Aspects in Early Childhood Education”, Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 2 No. 2 Tahun 2018.

2 Mohammad Fauziddin, Permainan Tepuk Untuk Anak Usia Dini, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2021). Hal 1

(14)

Salah satu aspek dari perkembangan anak yang sangat penting untuk dikembangkan yaitu fisik motorik. Perkembangan fisik motorik merupakan perkembangan berupa jasmani melalui kegiatan yang berpusat pada saraf, urat saraf, dan otot yang terkoordinasi. Gerak yang dilakukan oleh anak merupakan perkembangan refleks dan kegiatan yang telah ada sejak lahir.3 Perkembangan motorik adalah perkembangan yang berhubungan dengan gerak tubuh. Teori yang menjelaskan tentang sistematika perkembangan motorik anak yaitu Dynamic System Theory oleh Thelen & Whiteneyerr dimana teori tersebut mengungkapkan bahwa kemampuan motorik anak dipersepsikan oleh lingkungan sekitar anak yang memotivasi untuk melakukan sesuatu menggunakan gerak. Kemampuan yang dilakukan oleh anak merupakan perkembangan sistem saraf yang meliputi perkembangan motorik halus dan motorik kasar anak.4

Perkembangan motorik halus perkembangan motorik yang melibatkan koordinasi kontrol pergelangan tangan dan jari pada anak.

Perkembangan motorik kasar melibatkan otot-otot besar pada badan seperti lengan, kaki, dan dada. Suryana berpendapat bahwa perkembangan motorik kasar merupakan gerakan yang terdiri dari ketahanan, kecepatan, kelenturan, ketangkasan, kekuatan, dan keseimbangan. Perkembangan motorik kasar dibagi menjadi 3 yaitu, keterampilan lokomotor yaitu gerakan tubuh yang berpindah tempat dari berjalan, berlari, melompat, meluncur, berguling, menderap, menjatuhkan diri, dan bersepeda.

3 Mohammad Fauziddin, Permainan Tepuk Untuk Anak Usia Dini, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2021). Hal 1

4Cerika Rismayanthi, “Mengembangkan Keterampilan Gerak Dasar Sebagai Stimulasi Motorik Bagi Anak Taman Kanak-kanak Melalui Aktivitas Jasmani”, Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, Vol. 9, No. 1, 2013.

(15)

Keterampilan non-lokomotor yaitu gerakan anggota tubuh dengan posisi tubuh diam seperti berayun, mengangkat, merentang, bergoyang, memeluk, mendorong, memutar, dll yang berhubungan dengan kestabilan dan keseimbangan tubuh. Keterampilan manipulatif/proyeksi yaitu gerakan otot-otot kecil terbatas terutama pada kaki dan tangan, keterampilan proyeksi seperti menangkap, melempar, menendang, melambungkan bola, memukul, dan menarik.5

Cara untuk mengembangkan fisik motorik khususnya fisik motorik kasar pada anak adalah dengan bermain aktif dan edukatif yang nantinya dapat bermanfaat bagi perkembangan anak. Salah satunya dengan kegiatan bermain, dunia anak sering disebut sebagai masa bermain. Menurut Sujiono fungsi bermain salah satunya adalah dapat mengembangkan, memperkuat, dan mengembangkan otot dan koordinasinya melalui gerak, melatih motorik halus, motoreik kasar, dan keseimbangan.6 Salah satunya kegiatan bermain yaitu dengan menggunakan metode bermain melompat. Kegiatan melompat termasuk ke dalam aktifitas di area olahraga atau jasmani.7 Metode bermain melompat seperti melompat kodok, melompat dengan satu kaki dan melompat melewati rintangan. Jika kita menggunakan metode bermain melompat, nantinya anak akan dengan mudah mengikuti bagaimana cara hewan itu melompat, bagaimana kita melewati rintangan

5Dadan Suryana, Pendidikan Anak Usia Dini Stimulasi dan Aspek perkembangan Anak, (Jakarta: Kencana, 2016)

6 Ratna Nila Puspitasari, “Pengaruh Permainan Tradisional Karetan Terhadap

pembelajaran Motorik Kasar Atletik Lompat Jauh”, Jurnal PG-Paud Trunojoyo, Vol. 3, No. 1, 2016. Hal. 11

7 Ratna Nila Puspitasari, Julianto. “Pengaruh Permainan Tradisional Karetan Terhadap

Kemampuan Motorik Kasar Melompat Dua Kaki Anak Kelompok A di TK”. Hal 2.

(16)

tentunya dengan menjaga keseimbangan tubuh, anak mengetahui cara untuk menstabilkan dan menyeimbangkan tubuh saat melompat.

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan peneliti pada magang 2 tanggal di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo. Peneliti menemukan beberapa keunikan yang dilakukan oleh anak-anak dalam melakukan kegiatan melompat baik melompat dua kaki atau melompat dengan satu kaki masih belum sesuai dengan yang diharapkan oleh guru saat memberi tugas. Anak selalu memberikan jawab “susah” saat guru memberi tugas untuk melompat, saat guru tetap mencoba memberi pengertian dan penjelasan tentang melompat, tidak sesuai dengan yang diharapkan banyak yang belum mengerti bagaimana cara melompat bahkan melompat dengan dua kaki. Keadaan demikian dapat mempengaruhi perkembangan fisik motorik khususnya motorik kasar pada anak.

Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti tertarik untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana metode bermain melompat dalam meningkatkan perkembangan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang mengembangan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun menggunakan metode bermain melompat di TK tersebut. Oleh karena itu peneliti merumuskan ke dalam sebuah penelitian yang berjudul: “Implementasi Metode Bermain Melompat Untuk Mengembangkan Fisik Motorik Kasar Pada Anak Usia 4- 5 Tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo”.

(17)

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini peneliti memfokuskan pada implementasi metode bermain melompat melalui kegiatan halang rintang dalam mengembangkan fisik motorik kasar dan keseimbangan pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo. Pada penelitian ini, peneliti mengambil subjek dari kelas TK A1 dengan jumlah siswa 15 orang.

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Implementasi metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo

2. Apakah faktor pendukung dan penghambat metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo?

3. Bagaimana pencapaian perkembangan fisik motorik kasar pada anak di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo

D. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan Implementasi metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo

2. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo

3. Mendeskripsikan pencapaian perkembangan kemampuan fisik motorik kasar pada anak di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo

(18)

E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber pengembangan teori atau keilmuan dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam implementasi metode bermain melompat dalam mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti sendiri

Sebagai praktis pengalaman dan untuk menambah wawasan pengetahuan peneliti tentang implementasi metode bermain melompat untuk mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo.

b. Bagi lembaga TKIT 1 Qurrota A’yun

Sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo.

c. Bagi Perguruan Tinggi

Sebagai sumber data dan sumbangan pemikiran dalam bidang penelitian dan ilmu pengetahuan.

F. Sistematika Pembahasan

Dalam sistematika pembahasan, mencakup bab-bab yang membahas masalah yang telah tertulis dalam rumusan masalah. Pada halaman awal

(19)

terdapat sampul yang berisi tentang nama peneliti dan identitas institusi.

Lebih lengkapnya mulai dari bagian awal hingga bagian akhir dapat dipaparkan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, merupakan gambaran umum untuk memberikan pola pemikiran bagi laporan penelitian secara keseluruhan yang meliputi latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab II Kajian Teori sebagai pedoman umum untuk menganalisis dalam melakukan penelitian tentang teori terkait masalah yang diangkat dan membahas tentang telaah penelitian terdahulu.

Bab III Metode Penelitan yang digunakan peneliti untuk melakuakan penelitian tentang implementasi metode bermain melompat untuk mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo

Bab IV Hasil dan Pembahasan berisi tentang uraian gambaran umum atau situasi penelitian berdasarkan subjek penelitian. Kemudian paparan data yang berisi informasi dari pengolahan data penelitian.

Kemudian pembahasan yang mendiskusikan temuan penelitian dengan teori dan temuan penelitia sebelumnya.

Bab V Penutup berisi Kesimpulan dan Saran yaitu bab terakhir dalam penulisan penelitian. Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran mengenai implementasi metode bermain melompat untuk mengembangkan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo.

(20)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Bermain

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir dari permainan tersebut. Bermain adalah hal penting bagi seorang anak, permainan dapat memberikan kesempatan untuk melatih keterampilannya secara berulang-ulang dan dapat mengembangkan ide-ide sesuai dengan cara dan kemampuannya sendiri. Bermain sangat berguna dalam memahami tahap perkembangan anak. Bermain dilakukan secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan atau tekanan dalam melakukan kegiatan bermain. Menurut Piaget, menjelaskan bahwa bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk kesenangan fungsional. Menurut Bettelheim kegiatan bermain adalah kegiatan yang tidak memiliki peraturan kecuali yang ditetapkan oleh pemain sendiri.8

Pada hakikatnya bermain merupakan aktivitas mendasar yang dapat dilakukan secara individu atau sendiri, bersama pendidik, orang tua atau keluarga, dan bisa juga bersama teman, kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela, menyenangkan, dan tanpa paksaan. Bagi anak usia dini,

8Naili Rohmah, “Bermain dan Pemanfaatannya Dalam Perkembangan Anak Usia Dini”, Jurnal Tarbawi, Vol. 13, No. 2, 2016. Hal 29

(21)

bermain memiliki beberapa esensi yaitu: a). motivasi internal, dimana anak-anak melakukan kegiatan bermain atas kemauan diri sendiri dan tanpa paksaan, b). Aktif, yakni ketika anak- anak melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan fungsi fisik dan mental, c). Nonliteral, berarti anak-anak mampu melakukan apa saja sesuai dengan keinginan, terlepas dari realitas seperti berpura-pura memainkan sesuatu, dan 4). tidak memiliki tujuan eksternal yang ditetapkan sebelumnya, merupakan esensi dari bermain yaitu bahwa bermain dilakukan atas keinginan sendiri secara sukarela.9

a. Pentingnya Bermain bagi Anak-anak

Bermain bagi anak usia dini sangatlah penting.

Menurut Ratna, tidak ada alasan untuk tidak menganggap kegiatan bermain itu sebagai kegiatan belajar. Justru pada usia anak-anak belajar akan lebih efektif dan lebih cepat ditangkap oleh anak melalui bermain. Banyak pendapat yang mengemukakan alasan mengapa anak usia dini suka bermain, sebagai berikut:

1) Kelebihan energi

Herbert mengatakan bahwa anak memiliki energi yang cukup untuk digunakan sebagai pertahanan hidup. Jika kehidupannya normal, anak

9Ibid, 30

(22)

akan kelebihan energi yang selanjutnya digunakan untuk bermain

2) Rekreasi dan relaksasi

Dalam hal ini, bermain dimaksudkan untuk menyegarkan kembali energi yang sudah digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas, anak-anak menjadi lelah dan kurang bersemangat.

Dengan bermain, anak-anak memperoleh kembali energinya sehingga mereka lebih aktif dan bersemangat kembali.

3) Insting

Bermain merupakan sifat bawaan (insting) yang berguna untuk mempersiapkan diri melakukan peran orang dewasa.

4) Rekapitulasi

bermain merupakan peristiwa mengulang kembali apa yang telah dilakukan oleh orang terdahulu dan sekaligus mempersiapkan diri untuk hidup pada zaman sekarang.10

Bermain merupakan salah satu aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak. maka dari itu bermain juga memiliki manfaat bagi aspek-aspek perkembangan

10M. Fadillah, Dkk, Edutainment Pendidikan Anak usia Dini Menciptakan Pembelajaran Menarik, Kreatif, dan Menyenangkan, (Jakarat : Kencana, 2014), Hal. 27

(23)

anak usia dini, meliputi aspek moral, kognitif, bahasa, motorik, serta sosial emosional.

b. Manfaat bermain bagi Anak-anak 1) Bermain dan perkembangan moral

Anak usia dini hakikatnya tidak bisa lepas dari yang namanya kegiatan bermain, oleh karena itu dalam kegiatan bermain tersebut diberi celah untuk mengembangkan aspek perkembangan. Contoh dalam bermian diberikan tata cara atau aturan yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar, maka disinilah peran bermain dalam mengembangkan moral diberi yaitu ketika anak sudah mau mengikuti aturan yang berlaku, maka dengan mudah nanti orang tua atau pendidik memberikan aturan dilingkungan sekitar misalnya anak yang lebih kecil harus menghormati yang lebih tua, bersaliman kepada yang lebih tua, berpamitan dengan orang tua saat berangkat sekolah, dll.11

2) Bermain dan perkembangan kognitif

Dengan bermain anak akan lebih mudah menerima konsep dari perkembangan kognitif, contohnya seperti anak bermain bola, anak dapat mengenal dan mengetahui bentuk bola yang ia

11Ibid, 31.

(24)

mainkan, warna bola seperti apa, besar atau kecil bentuknya, itu dapat membantu perkembangan pengetahuan anak, daya ingat anak, dan kreativitas anak.12

3) Bermain dan perkembangan bahasa

Dalam kegiatan bermain anak selalu melakukan komunikasi dengan lawan mainnya, baik komunikasi secara verbal atau non verbal. Pada awalnya anak hanya akan menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi, namun seiring berjalannya waktu maka anak akan menggunakan bahasa verbal untuk berkomunikasi dengan temannya. Maka dari itu perkembangan bahasa dapat dikembangkan ketika anak mengutarakan keinginannya, mengeluarkan pendapat, serta memeberi komentar kepada temannya.13

4) Bermain dan perkembangan motorik

Anak yang sehat ialah anak yang aktif kesana- kemari dan tidak hanya duduk melamun, berdiam diri tanpa reaksi karena sifat dasar anak adalah suka bergerak. Dalam mengembangkan kemampuan motorik anak, kegiatan bermain dapat dilakukan dengan menggunakan alat atau tanpa alat. Selain itu,

12Ibid, 32.

13Ibid, 33

(25)

kegiatan bermain juga dapat melatih kemampuan motorik kasar dan motorik halus pada anak. 14

5) Bermain dan perkembangan sosial

Dalam kegiatan bermain akan melibatkan lebih dari satu anak, maka dari itu anak akan belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, bermain bersama teman-teman juga dapat membentuk kerjasama tim menumbuhkan sikap tanggung jawab, disiplin, dan kejujuran.

c. Jenis Permainan

Terdapat 2 macam jenis permainan menurut Hurlock, sebagai berikut:

1) Bermain Aktif, yaitu bermain yang mengerpresikan kegembiraan tang timbul dari apa yang dilakukan oleh anak itu sendiri. Kebanyakan anak melakukan berbagai bentuk permainan aktif, tetapi banyaknya waktu yang digunakan dan banyaknya kegembiraan yang akan diperoleh dari setiap permainan sangat bervariasi.

2) Bermain Pasif, yaitu permainan yang bersifat hiburan semata. Artinya anak tidak ikut secara aktif dalam proses permainan. Dalam hal ini, kegembiraan anak diperoleh dengan

14Ibid, 32

(26)

memperhatikan aktivitas orang lain. Contohnya anak yang menganggap membaca itu sulit, mereka akan meminta kepada seseorang untuk membaca dan anak akan terhibur dengan melihat gambar yang terdapat dalam cerita yang dibaca, bisa juga melihat permainan di televisi atau vidio-vidio.15 2. Metode Pembelajaran Bermain Anak Usia Dini

Bermain merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.

Bermain harus dilakukan dengan rasa senang, sehingga semua kegiatan bermain menjadi menyenangkan yang akan mengahsilkan proses belajar pada anak.16

Metode bermain merupakan salah satu metode yang diterapkan dalam pembelajaran di TK. Mengingat masa anak- anak khususnya anak usia dini adalah masa bermain, maka kiranya metode yang tepat diterapkan dalam pembelajaran di TK adalah Metode Bermain.17

Bermain memiliki beberapa kriteria, antara lain tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak buka karena tuntutan, tingkah laku yang menyenangkan atau mengembirakan merupakan pengaruh positif untuk anak.

Tingkah laku dalam bermain bersifat pura-pura, anak lebih

15Ibid. 36

16Salmon Amiran, ”Efektifitas Penggunaan Metode Bermain di PAUD Nazaret Oesapa”.

Jurnal Pendidikan Anak, Vol.5 No. 1, Tahun 2016.

17Novi Yuliani, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Kalimedia, 2016),

Hal. 80

(27)

tertarik dengan tingkah laku yang dihasilkan daripada tujuan dari bermian tersebut. Bermian merupakan perilaku yang lentur. Kelebihan dari metode bermain, antara lain merangsang perkembangan fisik motorik, perkembangan berpikir, melatih kemandirian, kedisiplinan, serta semangat. Adapun kekurangan dalam metode bermain, antara lain membutuhkan biaya yang lebih untuk alat dan media yang harus dipersiapkan, membutuhkan ruang dan tempat khusus sesuai denga jenis permainan, sering terjadi peristiwa berebut alat atau media permainan antar anak.18

a. Pengertian Pembelajaran

Istilah pembelajaran yang diambil dari kata belajar merupakan suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan membentuk kepribadian.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia makna pembelajaran diambil dari kata ajar, yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang agar diketahui. Dengan kata lain, pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

Pendapat lain menyebutkan bahwa pembelajaran yaitu kegiatan yang berupaya mengajarkan siswa atau anak secara terintegrasi dengan memperhitungkan faktor

18Ibid. Hal. 72-73

(28)

lingkungan belajar, karakteristik siswa atau anak, strategi pembelajaran. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pembelajaran ialah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.19

b. Pengertian Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yaitu suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Metode mempunyai peranan yang penting dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan. Karena metode akan menjadi sarana yang bermakna dan faktor yang efektif dalam pelaksaan pendidikan, semakin tepat metode yang digunakan semakin efektif dalam pencapaian tujuan. 20 c. Rasional metode pembelajaran melalui bermain

Kegiatan bermain juga dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran. Kegiatan bermain adalah yang paling disukai oleh anak-anak. Ketika bermain anak-anak merasa gembira, tidak ada beban dalam pikirannya. Suasana hati selalu ceria, pada saat itu guru bisa menyelipkan ajaran- ajaran dengan mudah kepada anak-anak.

Ahli psikologi dan pendidikan berpendapat bahwa bermain merupakan pekerjaan anak-anak dan cermin

19Ibid. Hal 23

20Ihsana El-Khuluqo, Manajemen PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) : Pendidikan Taman Kehidupan Anak, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015), Hal. 7

(29)

pertumbuhan anak. Melalui bermain, seluruh potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak dapat dikembangkan.

Ada 11 pengaruh bermain bagi perkembangan anak, yaitu:

1) perkembangan fisik; 2) dorongan komunikasi; 3) penyaluran bagi energi emosional terpendam; 4) penyaluran bagi keinginan dan kebutuhan; 5) sumber belajar; 6) rangsangan bagi kreativitas; 7) perkembangan wawasan diri; 8) belajar bermasyarakat; 9) standar moral; 10) belajar bermain sesuai dengan peran jenis kelamin; dan 11) perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan.21

d. Tahap Metode Pembelajaran Melalui Bermain 1) Tahap Pra-bermain

Tahap pra-bermain terdiri dari dua macam kegiatan persiapan, yaitu kegiatan penyiapan siswa dalam melaksanakan kegiatan bermain dan kegiatan penyiapan bahan dan peralatan

2) Tahap Bermain 3) Tahap Penutup e. Permainan Edukasi

Permainan edukasi merupakan salah satu bentuk permainan yang dibuat untuk memberikan pengalaman kepada anak-anak seperti pengalaman belajar atau pendidikan. Permainan edukasi berisi tentang muatan

21Mursid, Pengembangan Pembelajaran PAUD, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), Hal. 18

(30)

pendidikan yang diselipkan didalam kegiatan bermain.

Dalam mengembangkan motorik pada anak juga dapat menggunakan permainan edukasi contohnya dengan menggunakan kegiatan bermain halang rintang, anak-anak akan sangat antusias dengan kegiatan baru terklebih kegiatan menantang dan belum pernah dilakukan oleh anak- anak, maka dari itu dengan menggunakan kegiatan bermain halang rintang diselipkan muatan pendidikan yaitu mengembangkan motorik kasar dengan kegiatan halang rintang melompat.22

f. Metode Bermain Melompat

Lompat adalah gerakan dasar yang terjadi ketika tubuh diangkat ke udara karena tekanan yang berasal dari satu atau dua tungkai dan tubuh mendarat menggunakan satu atau dua kaki.23 pengembangan gerak lompat adalah mengajarkan anak melompat ke depan (jauh) dengan sikap gerak lompat yang benar, yaitu membengkokkan lutut, mengayunkan lengan, dan melakukan gerak perluasan/ekstensi.24 Bambang Sujiono, dkk, memaparkan dari manfaat gerakan melompat, yaitu: 1). meningkatkan kekuatan dan kecepatan otot-otot, 2). meningkatkan

22Dica nurul azizah, dibuat pada tanggal 30 desember 2022 pukul 01.00

23Yudha M. Saputra, Dasar-Dasar keterampilan Atletik : Pendekatan Bermain Untuk SLTA, (Jakarta: Direktorak Jenderal Olahraga, Depdiknas 2004)

24Bambang Sujiono, dkk. Metode Pengembangan Fisik. (Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka, 2007)

(31)

kelenturan dan keseimbangan tubuh, 3). mengembangkan koordinasi gerak mata, lengan, dan tungkai.

Dalam tahapan-tahapan melompat banyak cara yang dapat dilakukan atau yang sering disebut dengan fase lompatan, yaitu sebagai berikut:

1) Fase persiapan, yaitu persiapan berhubungan dengan pengalaman, melompat dengan dua kaki. Gerakan persiapan diperlukan untuk mempersiapkan tubuh untuk bergerak.

2) Fase lepas landas, dimana perluasan dari pinggul akan cepat dan kuat, lutut dan pergelangan kaki bersamaan dengan ayunan lengan-lengan dalam mengarahkan keinginan yang disediakan oleh daya dorong tubuh untuk mengangkat keudara.

3) Fase pendaratan, pada fase ini saat akan mendarat pada kaki yang ini akan membuat pendaratan terasa tegang dan kaku.

3. Anak Usia Dini

Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupanselanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia 0-6 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia.

(32)

Proses pembelajaran sebagai suatu bentuk perlakuan yang di berikan pada anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak. Anak adalah individu yang memiliki potensi luar biasa untuk digali dan dikembangkan. Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar dari apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya, oleh karena itu kita harus menunjukandan memberikan contoh yang baik agar anak meniru apa yangkita lakukan danmengamalkannya di kemudian hari. Anak bersifat egosentris, unik, kaya dengan fantasi, memiliki daya perhatian yang kurang, dan masa ini merupakan masa potensial untuk menggali pengetahuan sebanyak mungkin.25

Pada masa anak usia dini merupakan masa-masa keemasan bagi anak atau lebih sering disebut dengan istilah Golden Age.

Pada masa anak usia dini otak anak mengalami perkembangan lebih cepat dari usia dewasa. Hal ini berlangsung saat anak masih didalam kandungan yaitu usia 0 sampai 6 tahun. Pada saat masih balita sampai anak berumur 4 tahun adalah masa- masa yang menentukan perkembangan otak anak, karena pada periode ini otak anak mengalami pertumbuhan otak lebih pesat.

Maka dari itu pada usia itu anak harus lebih diberikan perhatian dengan cara bisa langsung dari orang tua anak atau memasukan anak ke lembaga pendidikan anak usia dini. Usia lahir sampai

25 Ibid

(33)

memasuki pendidikan dasar meruapakan masa keemasan sekaligusmasa kritis dalam tahapan kehidupan, yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa, sosial emosional, konsep diri, seni, moral, dan nilai-nilai agama

a. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berkaitan dengan pendidikan anak usia dini tertulis pada pasal 28 ayat 1 berbunyi “pendidkan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar”.26

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memfokuskan pada dasar yang menuju kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta beragama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.27

26Ibid, hal. 2

27Ibid, hal. 2

(34)

Pengertian lain menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. pendidikan bagi anak usia dini merupakan sebuah pendidikan yang dilakukan pada anak yang baru lahir sampai dengan delapan tahun. Pendidikan pada tahap ini memfokuskan pada physical, intellgence/cognitive, emosional, & social education.28

Secara umum yang kita ketahui bahwa tujuan pendidikan anak usia dini yaitu mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri, dengan lingkungannya serta membentuk anak yang berkualitas, dimana anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga anak sudah siap dengan optimal dalam memasuki pendidikan dasar.29

b. Prinsip-prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan/pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, meliputi:

28Ibid, hal 3

29Ibid, hal. 3

(35)

1) Berorientasi pada perkembangan anak

Dalam melakukan kegiatan, pendidik perlu memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. anak merupakan individual yang unik, maka perlu memperhatikan perbedaan secara individual.

2) Berorientasi pada kebutuhan anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus selalu berorientasi pada kebutuhan anak. Anak usia dini sedang membutuhkan proses belajar untuk mengoptimalkan semua aspek perkembengannya.

Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan berdasarkan perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak.

3) Bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan pembelajaran pada anak usia dini.

Kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan strategi, metode, materi, atau bahan, dan media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak. melalui bermain anak dapat bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak,

(36)

sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.

4) Lingkungan Kondusif

Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta demokratis sehingga anak merasa aman, nyaman, dan menyenangkan dalam lingkungan bermain baik di dalam maupun di luar ruangan. Lingkungan fisik hendaknya memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain. 30

5) Menggunakan berbagai media dan sumber belajar Setiap kegiatan untuk menstimulasi perkembangan potensi anak, perlu memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, antara lain di lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat berekspresi dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya.31

4. Perkembangan Motorik Anak Usia Dini

Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, melalui keterampilan motorik anak dapat menghibur dirinya sendiri.

30Ibid, hal 10

31Ibid, hal 11

(37)

Perkembangan motorik pada anak usia dini menjadi lebih baik dan terkoordinasi dibandingkan dengan masa balita.

Perkembangan fisik motorik memiliki peranan yang sama pentingnya dengan aspek perkembangan lainnya, perkembangan motorik dapat dijadikan sebagai tolak ukur pertama untuk mengetahui tumbuh kembang anak. hal ini disebabkan perkembangan fisik motoik dapat diamati melalui panca indera seperti perubahan ukuran pada tubuh anak.

Perkembangan motorik seorang anak akan berbeda dengan anak lainnya, perkembangan motorik akan berbeda-beda tergantung masing-masing individu. Anak usia 4 tahun mungkin ada sudah dengan mudah menggunakan gunting namun ada juga yang berusia 5 tahun baru bisa menggunakan gunting. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan motorik halus. Motorik halus merupakan gerakan yang menggunakan otot-otot halus pada tubuh yang yang digunakan untuk kesempatan belajar dan berlatih, misalnya memindahkan beda menggunakan tangan, mencoret, menyusun, menggunting, dan menulis. Sedangkan motorik kasar ialah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh perkembangan masing-masing anak itu sendiri..32 Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh anak melibatkan otot dan anak pada masa tataran usia dini lebih

32Lismadiana, “Peran Perkembangan Motorik Pada Anak Usia Dini”, Diakses di https://staffnew.uny.ac.id/upload/1323132 pada tanggal 30 desember 2022

(38)

cenderung aktif/lebih senang bergerak, lebih senang melakukan percobaan atau praktik, lebih senang bermain baik permainan yang membutuhan banyak energi maupun permainan yang hanya menampakkan sedikit gerakan. Sedikit ataupun banyak gerakan yang dilakukan tetap melibatkan otot, sehingga perkembangan motorik sangat menunjang aspek perkembangan yang lain.33

a. Motorik Kasar

Keterampilan motorik kasar anak pada usia 3 tahun menikmati gerakan-gerakan sederhana, seperti meloncat, melompat, dan beralari bolak balik yang dilakukan oleh anak hanya karena senang melakukan aktivitas tersebut.

Anak merasa cukup bangga menunjukkan kemampuannya dalam berlari dan melompat. Usia 4 tahun, anak masih menikmati jenis aktivitas yang sama, tetapi menjadi lebih senang berpetualang, anak dapat merangkak rendah, menaiki tangga dan turun dengan cara yang sama yaitu anak masih sering kembali menjejakkan kaki pada setiap anak tangga. Anak berusia 5 tahun senang berpetualang dan dapat berlari cepat satu sama lain.34

b. Perkembangan Fisik Motorik Kasar

Motorik kasar adalah aktivitas dengan menggunakan otot-otot besar, meliputi gerak dasar

33Rohyana Fitriani, “Perkembangan Fisik Motorik Anak usia Dini”, Jurnal Golden Age Hamzanwadi University, Vol. 3, No. 1, 2018

34Ibid.

(39)

lokomotor, non-lokomotor, dan manipulatif. Gerakan motorik kasar merupakan bagian dari aktivitas yang mencakup keterampilan otot-otot besar, dengan mengutamakan kekuatan disik dan keseimbangan.35

Pengembangan motorik kasar bagi anak usia dini memiliki tujuan yakni memperkenalkan gerakan kasar, melatih gerakan kasar, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol gerakan dan koordinasi, serta meningkatkan keterampilan dan cara hidup sehat.

Keterampilan koordinasi motorik kasar mencakup ketahanan, kecepatan, kelenturan, ketangkasan, keseimbangan, dan kekuatan. Keterampilan koordinasi motorik kasar dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

1) Memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang mengenal nama dan fungsi anggota tubuhnya.

2) Cara merawat kebutuhan untuk tubuh tetap sehat 3) Dapat melakukan berbagai gerakan terkoordinasi

secara terkontrol, seimbang, melatih motorik kasar dan kekuatan, kestabilan, keseimbangan, kelenturan, dan kelincahan.36

35Samsudin, Pembelajaran Motorik di Taman Kanak-kanak. (Jakarta: Prenada Media Group, 2008)

36Puspita, A. Widya., dkk. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. (Jakarta: Direktorat Pmebinaan Pendidikan Anak Usia Dini, 2015).

(40)

5. Faktor Pendukung dan Penghambat Pembelajaran dalam Mengembangkan Fisik Motorik Kasar pada Anak Usia Dini

a. Faktor Pendukung

Dalam proses perkembangan fisik motorik kasar pada anak terdapat faktor pendukung yang dapat membantu anak berkembang nantinya. Beberapa faktor pendukung pembelajaran tersebut antara lain:

1) Dukungan dari sekolah atau orang tua

Dukungan dari sekolah atau orang tua sangat penting bagi perkembangan anak, dengan orang tua atau guru mendukung setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh anak yang berhubungan dengan fisik motorik kasar, maka anak akan dengan antusias melakukan kegiatan pembelajaran tersebut.

2) Fasilitias sarana dan prasarana

Selain dukungan dari orang tua serta guru, sarana prasarana juga sangat penting untuk proses kegiatan pembelajaran perkembangan fisik motorik anak, dengan adanya sarana prasarana yang lengkap maka dapat menunjang pembelajaran anak dan anak juga senang saat melakukan kegiatan

(41)

karena sarana prasarana yang disediakan oleh sekolah atau orang tua.

3) Emosional Anak

Anak yang kondisi emosionalnya baik serta sehat maka kegiatan pembelajaran yang diberikan oleh guru akan diterima dengan baik oleh anak.

b. Faktor Penghambat

Selain faktor pendukung, adapun faktor penghambat yang dapat menghambat proses pembelajaran untuk mengembangkan fisik motorik kasar pada anak, beberapa faktor penghambat pembelajaran fisik motorik anak, antara lain:

1) Pertumbuhan dan perkembangan tubuh anak Anak yang mengalami penyakit yang cukup lama maka akan menghambat proses perkembangan pada tubuh anak, tentu itu berpengaruh pada proses pembelajaran anak.

2) Emosional anak

Emosional anak juga dapat menjadi faktor penghambat proses pembelajaran anak, dengan kondisi emosional anak yang tidak baik dan kondisi tidak sehat maka anak akan menjadi malah mengikuti proses pembelajaran yang diberi

(42)

oleh guru disekolah atau pembelajaran yang diberikan oleh orang tua dirumah.

3) Lingkungan Sekitar

Lingkungan yang tidak baik atau kurang bagus bagi anak juga dapat menghambat proses pembelajaran anak, seperti lingkungan yang mengajak anak bermain saja sehingga anak lebih memilih bermain daripada melakukan kegiatan pembelajaran, serta dilingkungan rumah anak yang dimanja sehingga anak menjadi malas untuk melakukan kegiatan pembelajaran.

4) Tidak diberi kebebasan

Terkadang anak tidak diberi kebebasan dalam melakukan kegiatan sendiri dan selalu dibantu oleh orang dewasa, itu termasuk salah satu faktor penghambat yang dihadapi anak, anak kurang diberi kesempatan untuk melakukan kegiatannya sendiri.37

37 Sri Wijiyaningsih, Thesis, “UPAYA MENGEMBANGKAN MOTORIK HALUS

PADA ANAK ROUDLOTUL ATHFAL (STUDI KASUS SISWA KELAS B RA NU BANAT KUDUS)”, STAIN Kudus. 2016. Diakses pada tanggal 29 mei 2023 dari

http://repository.iainkudus.ac.id/id/eprint/809

(43)

B. Kajian Penelitian Terdahulu

Dalam menentukan judul skripsi ini, peneliti melakukan tela’ah terhadap penelitian terdahulu untuk menghindari kesamaan penelitian, sekaligus sebagai perbandingan dengan penelitian yang dilakukan ini. Peneliti tidak menemukan penelitian terdahulu yang membahas tentang judul penelitian ini, namun peneliti menemukan beberapa penelitian yang hampir serupa dengan penelitian ini.

1. Skripsi karya Putri Puswandari mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro tahun 2019 yang berjudul “Upaya Meningkatkan Perkembangan Motorik Kasar Anak melalui Permainan Tradisional Lompat Tali di TK PKK Mulyojati Metro Barat”.

Sesuai dengan rumusan masalah yang ada yaitu apakah permainan tradisional lompat tali dapat meningkatkan perkembangan motorik kasar anak di TK PKK Mulyojati Metro Barat. Pada skripsi ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dengan berkolaborasi antara peneliti dan guru kelas. Pada penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dan pada setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Pada siklus pertama menjelaskan bahwa hasil perkembangan motorik kasar anak melalui permainan tradisional belum dapat dikatakan berhasil karena belum mencapai indikator keberhasilan. Pada siklus kedua penelitian sudah dapat dikatakan berhasil, karena sudah mencapai indikator keberhasilan, yaitu BSB (Berkembang

(44)

Sangat baik) dengan presentase 80% sehingga penelitian dilakukan hanya dua siklus saja.38

Jika dibandingkan dengan penelitian peneliti, skripsi ini memiliki kesamaan yaitu sama sama mengembangkan motorik kasar melalui metode melompat. Perbedaan dari skripsi ini yaitu membahas tentang perkembangan fisik motorik kasar menggunakan permainan tradisional lompat tali. Sedangkan dalam penelitian peneliti yaitu mengembangkan fisik motorik kasar menggunakan metode bermain melompat.

2. Skripsi karya Khifdhotuz Zuhriyyah mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya tahun 2019 yang berjudul ”Peningkatan Keterampilan Melompat Melalui Permainan Modifikasi Puzzle Katak Pintar Kelompok A Taman Kanak-kanak Brilliant Waru Sidoarjo”.

Sesuai dengan rumusan masalah yang ada yaitu bagaimana permainan modifikasi puzzle katak pintar meningkatkan keterampilan melompat pada kelompok A, dan bagaimana peningkatan keterampilan melompat melalui permainan modifikasi puzzle katak pintar (PaKaPi) pada kelompok A di TK Briliant Waru Sidoarjo. Pada skripsi ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang hasilnya diperoleh dari pelaksanaan kegiatan pengajaran motorik kasar peserta di lapangan. Pada penelitian ini dikatakan berhasil apabila rata-

38Putri Puswandari, Upaya Meningkatkan Perkembangan Motorik Kasar Anak melalui Permainan Tradisional Lompat Tali di TK PKK Mulyojati Metro Barat tahun 2019. PDF diakses pada tanggal 20 November 2022 dari http://repository.metrouniv.ac.id

(45)

rata anak mendapat dkor 5 dengan pencapaian 81%.

Peningkatan keberhasilan dapat ditandai dengan membandingkan hasil dari data awal pra penelitian (pretest) dna setelah diberikan tindakan (post test). 39

Jika dibandingkan dengan penelitian peneliti, skripsi ini memili kesamaan yaitu sama sama menggunakan metode melompat. Perbedaan skripsi ini yaitu membahas tentang peningkatan keterampilan melompat melalui permainan modifikasi puzzle. Sedangkan dalam penelitian peneliti yaitu mengembangka fisik motorik kasar menggunakan metode bermain melompat.

3. Skripsi karya Rebecca Hayyu Rachmaprilia mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya tahun 2019 yang berjudul ”Peningkatan Keterampilan Melompat Melalui Kegiatan Senam Berirama Kelompok A di Play Group- Taman Kanak-kanak Subulus Salam Wage Sidoarjo”.

sesuai dengan rumusan masalah yang ada yaitu bagaimana kondisi keterampilan melompat pada kelompok A dan bagaimana penerapan kegiatan senam berirama untuk meningkatkan keterampilan melompat pada kelompok A di PG-TK Subulus Salam Wage Sidoarjo. Pada skripsi ini menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dibagi menjadi beberapa tahap yaitu pra-siklus,

39Khifdhotuz Zuhriyyah, Peningkatan Keterampilan Melompat Melalui Permainan Modifikasi Puzzle Katak Pintar Kelompok A Taman Kanak-kanak Brilliant Waru Sidoarjo. Tahun 2019. PDF diakses pada tanggal 20 November 2022 dari http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/33778

(46)

siklus 1, dan siklus 2. Pada pra-siklus menunjukan bahwa keterampilan melompat anak belum berkembang secara maksimal. Hasil yang keterampilan melompat anak pada pra- siklus 20% yang sesuai dan 80% tidak sesuai. Menunjukan bahwa motorik kasar kelompok A hanya 20%. Pada siklus I hasil menunjukan bahwa dengan 3 pertemuanm pada pertemuan 1 menunjukan keterampilan melompat anak sebesar 20%, pertemuan 2 sebesar 30%, dan pertemuan 3 sebesar 45%.

Hal tersebut menunjukan bahwa keterampilan moroik kasar anak belum berkembang secara maksimal. Pada siklus II hasil menunjukan bahwa dengan 3 pertemuanm pada pertemuan 1 menunjukan keterampilan melompat anak sebesar 60%, pertemuan 2 sebesar 65%, dan pertemuan 3 sebesar 90%. Hal tersebut menunjukan bahwa keterampilan moroik kasar anak sudah berkembang secara maksimal. Berdasarkan penejlasan diatas disimpulkan bahwa kegiatan senam irama dapat meningkatkan keterampilan melompat anak kelompok A di PG-TK Subulus Salam Wage Sidoarjo.40

Jika dibandingkan dengan penelitian peneliti, skripsi ini memili kesamaan yaitu sama sama menggunakan metode melompat. Perbedaan skripsi ini yaitu membahas tentang peningkatan keterampilan melompat melalui jegiatan senam berirama. Sedangkan dalam penelitian peneliti yaitu

40Rebecca Hayyu Rachmaprilia, Peningkatan Keterampilan Melompat Melalui Kegiatan Senam Berirama Kelompok A di Play Group-Taman Kanak-kanak Subulus Salam Wage Sidoarjo tahun 2019. PDF diakses pada 20 November 2022 di http://digilib.uinsby.ac.id

(47)

mengembangkan fisik motorik kasar menggunakan metode bermain melompat.

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Peneliti pada penilitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deksriptif berupa kata-kata tertulis atau alasan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini dipilih karena peneliti menemukan terdapat melakukan gerakan melompat baik melompat dua kaki atau melompat dengan satu kaki belum sesuai dengan yang diharapkan oleh guru saat memberi tugas. Anak selalu memberikan jawab

“susah” saat guru memberi tugas untuk melompat, saat guru tetap mencoba memberi pengertian dan penjelasan tentang melompat, tidak sesuai dengan yang diharapkan banya yang belum mengerti bagaimana cara melompat bahkan melompat dengan dua kaki.

Keadaan demikian dapat mempengaruhi perkembangan fisik motorik khususnya motorik kasar pada anak.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus. Studi Kasus ialah suatu serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam tentang suatu program, peristiwa, dan aktivitas, baik pada tingkat perorangan, sekelompok orang, lembaga, atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang peristiwa tersebut. Biasanya, peristiwa yang dipilih yang selanjutnya disebut kasus adalah hal

(49)

yang aktual (real-life events), yang sedang berlangsung, bukan sesuatu yang sudah lewat.41

Penelitian ini memiliki keunikan yaitu anak usia 4-5 tahun sangat senang melakukan kegiatan melompat sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian untuk melihat apakah anak-anak mampu melakukan kegiatan melompat jika menggunakan kegiatan bermain halang rintang yang nantinya peneliti akan melihat apakah perkembangan fisik motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun sudah berkembang dengan baik atau tidak. Melalui studi kasus peneliti juga mengambil data dari sejumlah subjek seperti orang tua, tenaga pendidik atau guru, dan anak.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian kualitatif tidak terlepas dari pengamatan, peran peneliti disini yaitu sebagai penentu seluruh skenario. Dalam penelitian kualitatif, peneliti mempunyai peran mulai dari perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis, penafsiran data, dan pada akhirnya menjadi pelopor hasil penelitian.

Kehadiran penelitian di tempat tersebut tentu sudah diketahui sebagai peneliti oleh subjek dan informan yang bersangkutan.

Penelitian ini dilaksanakan di TKIT 1 Qurrota A’yun, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Lokasi ini dipilih berdasarkan dengan topik yang dipilih. Alasan peneliti memilih lokasi ini karena dari pihak sekolah sangat mendukung

41Mudjia Raharjo, “Studi Kasus Dalam Penelitian Kualitatif : Konsep dan Prosedurnya”, Diakses di Studi-kasus-dalam-penelitian-kualitatif.pdf (uin-malang.ac.id) pada tanggal 30 desember 2022.

(50)

pembahasan yang peneliti ambil. Selain itu lokasi juga cukup dekat dengan kota yang memudahkan peneliti melakukan observasi ke lokasi serta peneliti sudah pernah menjadi relawan mengajar di sekolah tersebut, serta alasam peneliti memilik lokasi ini karena peneliti tertarik dengan kegiatan yang ada di lokasi yang berhubungan dengan kegiatan fisik motorik kasar pada anak seperti sarana prasarananya

C. Data dan Sumber Data

Sumber data utama penelitian kualitatif yaitu tindakan dan kata-kata dari orang-orang yang diamati atau diwawancarai. Selain dari tindakan dan kata-kata adapun data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Dalam penelitian ini terdapat 2 sumber data, yaitu : 1. Data primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata

yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh subjek yang dapat dipercaya. Adapun sumber data primer dari penelitian ini diambil dari dewan guru, orang tua, anak-anak, Tenaga Pendidik di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen- dokumen, foto-foto, rekaman atau vidio, benda-benda dan lain- lain yang dapat menunjang data primer. Adapun data primer dari penelitian ini berasal dari dokumen sekolah, dokumen data anak-anak, foto kegiatan belajar anak di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo.

(51)

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian yaitu mendapatkan data, tanpa menggunakan teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang diharapkan untuk memenuhi standar data penelitian yang sudah ditetapkan. Agar tidak terjadi kesalahan dalam penyusunan hasil penelitian, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data, antara lain:

1. Observasi

Observasi merupakan salah satu metode pengumpulan daya yaiu peneliti melihat, mengamati secara langsung sehingga kevalidasian data sangat tergantung pada kemampuab observer.

Pada pengamatan ini tahapan yang dilakukan antara lain, pengamatan secara umum mengenai hal-hal yang sekiranya berkaitan dengan masalah yang diteliti. Setelah itu mengidentifikasi aspek-aspek apa saja yang menjadi perhatian peneliti, kemudia dilakuakn pembatasan objek dan dilakukan pengamatan.42

2. Wawancara

Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara bertanya kepada seseorang yang menjadi informan atau responden. Cara yang dilakukan yaitu dengan melakukan

42Sri Puji Rahayu, skripsi, “Pola Asuh Orang Tua Dalam Pendidikan Karakter Religius Pada Remaja Di Dusun Nobowetan Kelurahan Noborejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga”, (IAIN Salatiga, 2020), 49-50

(52)

sebuah percakapan secara langsung (tatap muka) dengan infoman.

Dalam penelitian ini penelitia melakukan wawancara dengan beberapa informan atau responden yang berkaitan dengan penelitian ini, antara lain:

a. Anak b. Guru c. Orang Tua 3. Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber secara tidak langsung, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. Rekaman percakapan/wawancara yang telah dipersiapkan dengan tujuan untuk pembuktian untuk memberikan acuan yang dapat menunjang kevalidan data, namun tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu.43

E. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lainnya. Sehinggga dapat mudah dipahami dan tentunya dapat diinformasikan kepada orang lain, analisis data mudah dipahami dengan menggorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit melakukan sintesa, menyusun

43Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 229.

(53)

kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang anak dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.44 Menurut Miles dan Hubermen, aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.45 Dengan melalui tiga tahapan yaitu, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

1. Reduksi Data

Mereduksi data yaitu memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang dianggap penting. Dalam penelitian ini data yang akan diedukasikan adalah data-data hasil observasi, wawancara, serta hasil penelitian yang dilakukan di TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorogo.

2. Penyajian Data

Setelah data di reduksi langkah selanjutnya yaitu melakukan penyajian data, dalam penelitian kualitatif penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagian, hubungan antar kategori. Menyajikan data selain dengan berupa teks naratif, data juga disajikan dengan bentuk uraian singkat.

3. Penarikan Kesimpulan

Langkah terakhir dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan.

44Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Dan R Dan D (Bandung: Alfabeta, 2011), 244.

45Hengki Wijaya, Analisis Data Kualitatif Ilmu Pendidikan Teologi, (Makassar: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray), 56-59

(54)

Kesimpulan dalam penelitian dapat diartikan temuan baru yang sebelumnya masih remang-remang sehingga setelah selesai diteliti menjadi jelas.

F. Pengecekan Keabsahan Penemuan

Kualitas data dan ketepatan metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif merupakan suatu hal yang sangat penting. Oleh karena itu, dalam bagian ini peneliti harus mempertegas teknik apa saja yang digunakan dalam pengecekan keabsahan temuan.46

Pada penelitian ini menggunakan teknik Triangulasi, Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar data untuk keperluan pengecekan atau sembagai pendamping terhadap data. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan menggunakan sumber lainnya.47 Peneliti mencari tau tentang kebenaran informasi melalui beberapa informan menggunakan beberapa metode yang telah disebutkan diatas, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Triangulasi sumber data yaitu menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Triangulasi metode dilakukan

46Lexi J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Revisi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), Hal. 327-331

47Mudjia Raharjo, “Triangulasi Dalam Penelitian Kualitatif”, Diakses di Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif (uin-malang.ac.id) pada tanggal 30 desember 2022

(55)

dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berbeda.48

48Ibid

(56)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Latar Belakang

1. Profil TKIT 1 Qurrota A’yun Ponorgo

Gambar 4.1 Logo Sekolah

Nama Sekolah : TKIT 1 QURROTA A’YUN

NSS : 001051103016

Terakreditas : B

Propinsi : Jawa Timur

Kabupaten : Ponorogo

Kecamatan : Jenangan

Desa : Singosaren

Jalan : Jalan Singajaya No. 139

Kode Pos : 63492

Telepon : 08563434131

Status Sekolah : Swasta

Tahun Berdiri : 2001

Kegiatan Belajar Mengajar : Pagi hari sampai siang Bangunan Sekolah : Milik Sendiri

Gambar

Gambar 4.1 Logo Sekolah...............................................................................
Tabel 4.1 Sarana Prasarana TKIT 1 Qurrota A’Yun ......................................
Gambar 4.1 Logo Sekolah
Tabel 4.1 Sarana Prasarana TKIT 1 Qurrota A’yun
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan memahami dinamika bermain komputer pada anak usia 4-5 tahun, sehingga dapat mengetahui dan memahami proses

Implikasi penelitian ini adalah diharapkan guru di RA Al-Hidayah Medan menggunakan egrang batok kelapa sebagai metode untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak usia

Pelaksanaan peningkatan keterampilan berbicara pada anak usia 4-5 tahun melalui metode bermain peran mikro di Pendidikan Anak Usia Dini Kasih Bunda Pontianak telah

EFEKTIVITAS METODE BERMAIN PERAN DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN EMPATI ANAK USIA DINI.. (Penelitian Kuasi Ekspeeiman di TK Bhayangkari dan TK Braga Bandung Tahun

hingga kegiatan tari. Salah satu upaya pengembangan kemampuan motorik kasar anak berusia dini adalah dengan gerak tari atau menari. Karena di dalam gerakan tari, anak

Dalam mengembangkan kemampuan sosial anak usia dini dapat dilakukan melalui metode bermain peran agar anak lebih terbiasa bersikap antusias serta menunjukkan sikap empati, menghargai

53 | Murangkalih: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini – Giyanti, Nida’ul Munafiah Judul Jurnal: Upaya Meningkatkan Konsentrasi Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Metode Bermain Dengan Media

Jurnal Pendidikan Tambusai 10170 Pengaruh Metode Bermain Bowling Aritmatika untuk Mengembangkan Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini di TK Az- Zahra Yeni Astuti 1, Dadan Suryana²