• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anak-Anak di Tengah Ketidakmampuan

N/A
N/A
Indah Muqarramah

Academic year: 2023

Membagikan "Anak-Anak di Tengah Ketidakmampuan"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

Dari uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul : “Analisis Penyebab Putus Sekolah Pada Anak Di Desa Tengah Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang”. Pelajari lebih lanjut analisis penyebab anak putus sekolah di Desa Tengah Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang.

Pengertian Masyarakat Pesisir

Aktivitas ekonomi perempuan merupakan fenomena yang lumrah terjadi di kalangan lapisan masyarakat bawah, termasuk perempuan yang berprofesi sebagai istri nelayan. Perempuan nelayan pada umumnya selain banyak terlibat dalam urusan rumah tangga, juga tetap menjalankan fungsi ekonomi, baik dalam kegiatan penangkapan ikan di perairan dangkal, pengolahan ikan, maupun dalam kegiatan jasa dan perdagangan.

Konsep Anak 1. Pengertian Anak

Hak-Hak Anak

Anak berhak beribadah sesuai agamanya, berpikir dan berekspresi sesuai tingkat kecerdasan dan usianya, di bawah bimbingan orang tuanya. Anak berhak memperoleh pendidikan dan pelatihan untuk mengembangkan kepribadian dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

Anak Putus Sekolah

Pengertian Anak Putus Sekolah

Setiap anak berhak untuk dilindungi dari kekerasan dalam kegiatan politik, keterlibatan dalam konflik bersenjata, keterlibatan dalam kerusuhan sosial, keterlibatan dalam peristiwa-peristiwa yang mengandung unsur-unsur dan keterlibatan dalam perang. Dalam undang-undang no. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, pasal 2-9 Bab II mengatur tentang hak atas kesejahteraan, meliputi: hak atas kesejahteraan, pengasuhan, pendidikan dan bimbingan; hak atas layanan; hak atas pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup; hak untuk menerima pertolongan pertama; hak untuk menerima perawatan; hak untuk menerima bantuan; hak untuk mendapatkan pelayanan dan perawatan; hak untuk menerima pelayanan khusus; menerima bantuan dan layanan.

Faktor-Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah

Putus sekolah dini merupakan keadaan dimana anak mengalami penelantaran akibat sikap dan perlakuan orang tua yang kurang memperhatikan proses tumbuh kembang anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Gunawan (2010:18) Cuti sekolah dini merupakan predikat yang diberikan kepada mantan peserta didik yang belum mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan tertentu sehingga tidak mampu melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Meskipun ada upaya pemerintah, kasus putus sekolah masih terus terjadi karena berbagai kendala yang dihadapi pemerintah dalam melaksanakan program ini.

Faktor yang berasal dari luar diri anak adalah faktor lingkungan tempat anak berada, lingkungan keluarga, dan lingkungan bermain. Faktor-faktor di luar diri anak, seperti ketersediaan sumber daya dan budaya lokal, juga dapat mempengaruhi putus sekolah dini pada anak. Latar Belakang Pendidikan Orang Tua Menurut observasi pra penelitian peneliti, sebagian besar orang tua yang anaknya putus sekolah disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan.

Hal ini tentunya akan sangat mengganggu psikologis anak, misalnya merasa dipermalukan oleh temannya atau diejek oleh temannya, sehingga hal ini dapat mendorong anak untuk berhenti bersekolah. Dunia pendidikan yang banyak dialami anak-anak menjadi fenomena berbanding terbalik jika dihadapkan pada masyarakat pesisir.

Resiko Anak Putus Sekolah

Pendekatan Penyelesaian Anak Putus Sekolah

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam bidang anak putus sekolah dengan melibatkan unsur terkait baik instansi pemerintah maupun instansi pemerintah. Sehingga pendidikan yang murah tidak menjadi beban bagi masyarakat yang tidak mampu membiayai pendidikan. Masyarakat tidak akan peduli dengan pendidikan yang murah, namun kekhawatiran tersebut disebabkan oleh peran serta banyak pihak dalam lembaga pendidikan.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti pendidikan taman kanak-kanak rata-rata memiliki kemampuan beradaptasi dan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang tidak mengikuti pendidikan taman kanak-kanak. Anak-anak yang lama-lama berada di kelas akan sering bolos kelas, jarak dengan guru semakin bertambah dan akhirnya anak putus sekolah. Gunakan dukungan dari lembaga setempat yang dapat digunakan untuk membantu kegiatan belajar anak-anak yang cenderung putus sekolah.

Program yang dilaksanakan saat ini untuk menangani anak tidak bersekolah termasuk dalam Program Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang terdiri dari Paket A bagi anak yang belum tamat SD, Paket B bagi yang belum tamat sekolah menengah. . sekolah dan paket C bagi yang belum tamat SMA.

Kemiskinan

Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan Masyarakat Pesisir

Kemiskinan budaya adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti kemalasan, pemikiran fatalistis, dan rendahnya etos kewirausahaan. Kemiskinan pada masyarakat pesisir terjadi karena faktor budaya (keterbatasan modal), dan teknologi, kendala pengelolaan dan keadaan sumber daya alam. Oleh karena itu, tren ini selalu penuh dengan usulan modernisasi nelayan, agar masyarakat pesisir mengubah budayanya, meningkatkan kapasitas teknologinya, dan memperbaiki sistem usahanya.

Misalnya, kemiskinan budaya dapat disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, padahal sebelumnya mereka mempunyai akses terhadap pendidikan yang terbatas. Hal ini juga disebabkan oleh terbatasnya akses mereka terhadap lembaga permodalan, baik bank maupun lembaga non bank. Keterbatasan akses tidak hanya disebabkan oleh faktor geografis, karena letak wilayah pesisir yang relatif jauh dari perkotaan, namun juga karena kebijakan perbankan yang memandang aktivitas penangkapan ikan penuh dengan ketidakpastian dan risiko.

Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu: data deskriptif kualitatif dapat dilihat sebagai indikator norma dan nilai kelompok, serta kekuatan sosial lain yang menyebabkan perilaku manusia. Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menggunakan wawancara terbuka untuk menggali dan memahami sikap, keyakinan, dan perilaku individu dan kelompok orang.

Kerangka Konsep

Pendekatan analisis kualitatif ini dapat memberikan gambaran mengenai realitas sosial yang kompleks mengenai analisis penyebab anak putus sekolah di Desa Tengah, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Konsep adalah gagasan, representasi sesuatu atau benda, fenomena sosial, yang diungkapkan dalam istilah atau kata-kata.Konsep diciptakan dengan memperbanyak gejala interaksi.

Faktor keluarga

Faktor lingkungan sekolah 3. Faktor teman sebaya

Faktor ketersediaan sumber lokal

Kategorisasi

Informan dan Narasumber

Dalam penelitian ini informan ditentukan dengan teknik purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu, yang benar-benar menguasai objek penelitian yang diteliti. Pertimbangan tertentu mencakup orang-orang yang mengetahui dengan baik dan banyak informasi terkait dengan masalah penelitian dan juga orang-orang yang dianggap paling mengetahui apa yang kita harapkan, atau mungkin mereka adalah pihak yang berwenang sehingga memudahkan peneliti dalam menemukan objek/ untuk mengeksplorasi sosial. situasi yang sedang dipelajari.

Teknik Pengumpulan Data

Observasi merupakan suatu kegiatan terencana dan terfokus untuk mengamati dan mencatat sekumpulan perilaku atau alur suatu sistem yang mempunyai tujuan tertentu, serta menemukan apa yang melatarbelakangi perilaku tersebut dan dasar dari suatu sistem. Observasi adalah suatu metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi yang mereka saksikan selama penelitian (dalam Sugiyono, 2012). Observasi partisipatif adalah observasi dimana pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung, sedangkan observasi non-partisipan mengandung arti bahwa pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan tersebut (dalam Sukamadinata, 2007).

Wawancara merupakan salah satu bentuk komunikasi verbal atau salah satu jenis percakapan yang memerlukan kemampuan responden dalam merumuskan pikiran.

Teknik Analisis Data

Sedangkan catatan refleksi merupakan catatan yang memberikan kesan, komentar, dan penafsiran peneliti terhadap temuannya serta menjadi bahan rencana pengumpulan data untuk tahap selanjutnya. Menurut Sugiyono (2012), jumlah data yang akan diperoleh dari lapangan cukup besar sehingga perlu dilakukan pencatatan secara cermat dan rinci. Dengan demikian, data yang diperoleh dan kemudian direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pengumpulan data selanjutnya bagi peneliti.

Reduksi data dapat dibantu dengan alat elektronik standar seperti komputer mini yang menyediakan beberapa aspek. Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemfokusan, pengabstraksian, transformasi data secara langsung di lapangan dan dilanjutkan pada saat pengumpulan data, sehingga reduksi data dimulai pada saat penelitian mulai terfokus pada bidang penelitian. Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data selanjutnya.

Dalam penyajian berbagai jenis data, diperoleh jaringan data atau peta sebagai wadah panduan informasi tentang apa yang ada. Kesimpulan yang diambil segera diverifikasi dengan meninjau kembali dan mempertanyakannya sambil melihat catatan lapangan untuk lebih cepat memahaminya.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Hasil Penelitian

  • Informan Kunci
  • Informan Utama 1.Informan Utama I
    • Informan Utama II
    • Informan Utama III
  • Informan Tambahan 1.Informan Tambahan I
    • Informan Tambahan II

Peneliti kemudian menanyakan apa penyebab anak tersebut putus sekolah dan kemudian Ibu Rohayati menyatakan bahwa faktor lingkungan menjadi penyebab anak tersebut putus sekolah. Kemudian ditambahkan bahwa keinginan anak untuk bersekolah sangat rendah karena faktor lingkungan dan orang tua juga berperan dalam bersekolah, namun orang tua sudah bosan. Lalu bagaimana jika anak tersebut perempuan, maka mentalitas dasar orang tua di desa ini adalah tidak perlu sekolah atau menikah.

Sebenarnya niat anak untuk bersekolah sangat rendah karena faktor lingkungan, dan orang tua juga mempunyai peran dalam bersekolah, namun orang tua bosan karena anaknya tidak mempunyai kemauan. “Prinsip orang tua di desa ini tidak harus sekolah dan menikah.” (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2020). Karena tidak adanya dana, kondisi sosial ekonomi sangat memprihatinkan bagi para orang tua yang ibu satu-satunya adalah seorang buruh lepas yang tidak mampu menyekolahkan anaknya, sehingga anak tersebut putus sekolah.

Peneliti juga menanyakan kegiatan apa saja yang dilakukan anak Bu Rohayati setelah putus sekolah. Ibu Rohayati mengatakan, aktivitas anak-anaknya setelah putus sekolah membantu ibunya dan menggembalakan ternak untuk menambah biaya hidup. Ibu Samiati merupakan orang tua dari Putri Hartika. Ibu Samiati bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tidak bekerja.

Pembahasan

  • Faktor Dari Dalam Diri Anak
  • Faktor Dari Luar Diri Anak a. Keluarga

Informan Tamabahan I mengatakan bahwa anaknya putus sekolah karena kemalasan atau minatnya menulis pekerjaan rumah, sehingga membuatnya sering marah kepada gurunya dan dihukum oleh gurunya karena tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Anak putus sekolah pada penelitian ini ada yang berasal dari kondisi ekonomi keluarga yang miskin, namun ada pula yang bukan disebabkan oleh kondisi ekonomi yang buruk. Faktor ekonomi, kondisi sosial orang tua dan juga perhatian orang tua menjadi faktor dominan dalam penelitian ini.

Kondisi sosial orang tua dapat menyebabkan anak putus sekolah, termasuk tingkat pendidikan orang tua dan jenis pekerjaan. Kondisi perekonomian juga tidak terlepas dari penyebab anak putus sekolah karena kemiskinan merupakan faktor dominan yang menghalangi siswa untuk memperoleh pendidikan yang utuh. Namun ada beberapa faktor penyebab anak putus sekolah, yaitu ketentuan dan pelaksanaan kenaikan kelas yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, metode pengajaran serta kemampuan dan usaha dari siswa itu sendiri (Slamento, 2010).

Hal ini terlihat jelas pada diri informan yaitu ia putus sekolah karena cara mengajar gurunya yang selalu menghukum siswa jika tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru. Kita dapat melihat dalam penelitian bahwa sebagian besar informan putus sekolah karena hubungan sosial yang buruk.

PENUTUP

Kesimpulan

Gambar

Gambar 1. Kerangka Konsep Peneliti 3.3.  Definisi Konsep
Gambar 1. Peta Kecamatan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang

Referensi

Dokumen terkait

Kendala-kendala yang dihadapi penyidik dalam melakukan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan psikotropika dengan pelaku anak dibawah umur adalah Poltabes Bandar

Dalam tulisan ini membahas tentang peranan visum et repertum sebagai salah satu alat bukti dalam perkara persetubuhan anak dibawah umur dan faktor-faktor yang menjadi penghambat

Perlindungan hukum terhadap anak dibawah umur sebagai konsumen miras masih sangat lemah, ini disebabkan oleh pelaku usaha yang masih menjual miras kepada anak dibawah umur

Skripsi ini adalah hasil penelitian tentang Analisis Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Anak Dibawah Umur yang melakukan Pencurian (Analisis Perbandingan antara KUHP

Terdakwa merupakan seorang anak yang masih dibawah umur yang masih dalam tahap menuju pendewasaan. Terdakwa sebelumnya tidak pernah di hukum atau melakukan tindak

Berdasarkan paparan diatas, penulis mengemukakan pertanyaan yang menjadi masalah yaitu : Bagaimana efektifitas tagline bungkus rokok dalam mempengaruhi anak dibawah umur

23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang berlaku secara khusus “Lex spesialist” telah dijelaskan bahwa tindakan seksual terhadap anak dibawah umur dibawah

4.2 Saran 1 Bagi Polisi melakukan pemeriksaan terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh anak dibawah umur, hendaknya Polisi sebagai penegak hukum melakukan pendekatan secara