• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM DAN PSIKOLOGI

N/A
N/A
kim

Academic year: 2024

Membagikan " ISLAM DAN PSIKOLOGI "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Islam Dan Psikologi

Nanda Perwira 11210340000008

Alsa Juntwothree 11210340000180

Ahmad Nurul Hakim 11210340000181 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari hal hal yang berhubungan dengan kejiwaan ataupun piskis seseorang.Analisis tentang kejiwaan manusia dimulai oleh para filsuf dari yunani kuno yang hanya berpinjakan pada argumentasi-argumentasi berdasarkan penalaran akal semata belum ada pembuktian secara ilmiah ataupun empiris mengenai hal ini psikologi kala itu dianggap bagian daari filsafat dengan tokoh tokoh nya yang muncul pada saat itu seperti John locke ataupun desecartes mereka dikenal mempunyai doktrin psikologis yang menganggap bahwa jiwa seseorang merupakan susunan dari elemen elemen sederhana yang muncul dari pengalaman indreawiJurnal ini ditunjukan untuk menganalisis makna dan konsep psikologis dalam pandangan islam,penulis menggunakan metode deskritif analisis dalam mengungkap pemahaman psikologis dalam islam adapun sumber rujukan penulis dalam hal ini ialah seperti buku,jurnal atupun artikel yang terkait dengan tema ini untuk menyingkap bagaimana islam memandang tentang psikologis,dan bagaimana psikologi yang diharapkan dimiliki oleh seorang muslim dari dalam dirinya pribadi .Hal ini karena prilaku dan tingkah laku seorang muslim merupakan cerminan dari etalase ajaran islam bagi orang non muslim yang juga harus bisa kita tunjukan dan implemntasikan dalam hidup kita guna menjadikan teladan dan sumber kebaikan bagi alam semesta untum menciptakan islam yang rahmatan lil alamin.

Kata Kunci : Psikologi,Religuitas,Rahmatan Lil alamin A. Pendahuluan

Realita perjalanan manusia selalu dihiasi dengan kejadian dan peristiwa yang tidak terduga. Suatu peristiwa dan kejadian tertentu kadang menyenangkan dan kadang menyedihkan kadang sesuai harapan dan terkadang tidak sesuai harapan. Dalam situasi dan kondisi seperti inilah manusia suatu ketika dituntut untuk memahami perilaku orang lain dengan jalan memaafkannya. Pemaafan dalam ilmu psikologi dikategorikan salah satu kekuatan karakter (character strength), yaitu merupakan karakter baik yang mengarahkan individu pada pencapaian keutamaan atau nilai positif yang terimplementasi dalam pikiran, perasaan dan tingkah laku.kepribadian seorang manusia.

Pada dasarnya , karakter baik dalam pribadi seseorang tidak ada secara tiba-tiba.

Diperlukan banyak proses pembelajaran, internalisasi, dan pembiasaan. Karakter pada diri seseorang juga terbentuk oleh kontribusi lingkungan,pergaulan serra faktor-faktor lain yang secara intens berinteraksi secara lamgsung dengannya, seperti keluarga, lingkungan sosial, dan agama. Beberapa penelitian menggambarkan kuatnya hubungan antara pemaafan dengan kebergamaan (religiusitas) seseorang. Semakin tinggi pengalaman keberagamaan seseorang, maka semakin tinggi potensi pemaafan pada dirinya.

(2)

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep pemaafan dalam perspektif Islam dan psikologi meliputi pengertian, bentuk, aspek dan dimensi, serta faktor yang mempengaruhinya. Tulisan ini juga dimaksudkan untuk memperjelas hubungan antara Islam dengan pemaafan secara konseptual.

B. Pembahasan : 1. Makna Psikologi

Psikologi adalah salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari tentang perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia melalui prosedur ilmiah.

Seseorang yang melakukan praktik psikologis disebut sebagai psikolog. Para psikolog berusaha untuk memperbaiki kualitas hidup seseorang melalui intervensi tertentu baik pada fungsi mental, perilaku individu maupun kelompok, yang didasari atas proses fisiologis, neurologis, dan psikososial.

a. Etimologi:

Kata Psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: psyche (berarti nafas, jiwa, atau budi) dan logos (berarti kata, diskursus, dan ilmu), sehingga secara harfiah, psikologi berarti ilmu yang mempelajari tentang budi. Penyebutan "ilmu psikologi" merupakan sebuah kekeliruan yang sering muncul karena kata "psikologi" sendiri berarti "ilmu tentang jiwa

b. Sejarah singkat psikologi:

Sejarah perkembangan psikologi secara umum terbagi menjadi 3 masa, yaitu psikologi pra-sistematik, psikologi sistematik, dan psikologi ilmiah. Psikologi pra-sistematik dimulai ketika manusia mulai melakukan perenungan terhadap keberadaannya. Renungan ini bersifat tidak teratur dan umumnya dikaitkan dengan pemikiran mitologi dan agama. Psikologi sistematik mulai berkembang pada 400 SM melalui pemikiran-pemikiran Plato. Psikologi mulai diberi perenungan-perenungan yang teratur secara rasional. Sedangkan psikologi ilmiah mulai berkembang pada akhir abad ke-19 Masehi. Psikologi menjadi ilmu tersendiri yang memiliki berbagai kesimpulan yang faktual dengan definisi yang jelas.[3]

Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Konsep psikologi dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno. Psikologi memiliki akar dari bidang ilmu filsafat yang diprakarsai sejak zaman Aristoteles sebagai ilmu jiwa, yaitu ilmu untuk kekuatan hidup. Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gejala- gejala kehidupan. Jiwa adalah unsur kehidupan (Anima), karena itu setiap makhluk hidup memiliki jiwa.[4] Sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, namun mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.

2. Ayat – Ayat Yang Berkaitan Dengan Psikologi

Al-Qur’an adalah kitab suci yang sempurna,yang mana didalamnya terdapat berbagai mukjizat yang menguatkannya.Salah satu mukjizat Al-Qur’an yaitu adanya informasi mengenai kejadian ghaib baik yang terjadi pada masa lalu maupun yang terjadi dimasa yang akan datang. Adapun informasi ghaib yang terjadi pada masa yang akan datang yaitu menegenai psikologi. Didalamnya terdapat ayat – ayat yang memeberikan kode menegenai ilmu psikologi,yang mana ayat – ayat ini harus ditelusuri dan dipelajari lebuh lanjut oleh para ulma’. Adapun ayat-ayat yang membahas tentang ilmu psikologi atau ilmu kejiwaan yaitu : 1. Q.S An-Nisa’ [4]: 29

ْمُكِب َناَََك َ ااا ّنِا ۗ ْمُك َََسُفْنَا آْوََُلُتْقَت َلَو ۗ ْمُكْنّم ٍضاَرَََت ْنَع ًةَراَََجِت َنْوََُكَت ْنَا ّلِا ِلََِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلاَوََْمَا آْوُلُكْأَََت َل اْوُنَماا َنْيِذّلا اَُهّيَآاي اًمْيِحَر Terjemahan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”

(3)

Dalam tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa ayat ini menjelaskan tentang perolehan harta yang mana ayat sebelumnya menjelaskan tentang pernikahan. Disisi lain, ayat-ayat yang lalu berbicara tentang perolehan harta melalui warisan dan mas kawin,maka diayat ini berbicara tentang perolehan harta melalui upaya sendiri. Dalam segi psikologisnya dikatakan juga bahwa kelemahan manusia tercermin antara gairahnya yang melampaui batas untuk mendapatkan gemerlap duniawi berupa wanita,harta,dan tahta. Maka melalui ayat ini Allah mengingatkan, wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan, yakni memperoleh harta yang merupakan sarana kehidupan kamu, di antara kamu dengan jalan yang bathil, yakni tidak sesuai dengan tuntunan syariat, tetapi hendaklah kamu memperoleh harta itu melalui perniagaan yang berdasarkan kerelaan diantara kamu, kerelaan yang tidak melanggar ketentuan agama.1

2. Q.S Yusuf [12] :86 – 87

َن ۡوََُمَل ۡعَت َل اَََم ِ ااا َنِم ُمَل ۡعَاَو ِ ااا ىَلِا ۤۡىِن ۡزََُحَو ۡىَََّثَب ا ۡوُك ََۡشَا ۤاَمّنِا َلاَق

َلَو ِهََۡيِخَاَو َف ََُس ۡوّي ۡنِم ا ۡو ََُسّسَحَتَف ا ۡوََُبَه ۡذا ّىِنَباي ٨٦

ِ ااا ِح ۡوّر ۡنِم ا ۡوُسَََٔۡياَت َن ۡوُرِف اكۡلا ُم ۡوَقۡلا ّلِا ِ ااا ِح ۡوّر ۡنِم ُسَََٔۡياَي َل ٗهّنِا ؕ

٨٧ Terjemahan:

86.“Dia (Yakub) menjawab, "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

87. Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir."

Di dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan Kata ( ۡىَّثَب) batstsi/ kesusahanku terambil dari kata ( ) batstsa yang berarti menyebarluaskan. Yang dimaksud di sini adalah kesusahan yang sangat besar lagi tidak dapat luput dari pikiran, sehingga menjadikan seseorang yang mengalaminya senantiasa menyebut dan menyampaikan kepada siapa saja akibat tidak dapat memikulnya sendiri. Sedang kata ( ) huzniy kesedihanku adalah penyesalan dan keresahan hati atas peristiwa lalu yang tidak berkenan di hati. Ini dapat dipendam dalam hati dan tidak disampaikan kepada orang lain.

Kata (ا ۡوُسّسَحَت) takassasu terambil dari kata ( ) tahassasa yang asalnya dari kata ( ) hiss yang bermakna indera. Yang dimaksud di sini adalah upaya sungguh-sungguh untuk mencari sesuatu, baik berita maupun barang, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, untuk kebaikan maupun keburukan. Ia berbeda dengan kata ( ) tajassasu yang digunakan untuk memata-matai sesuatu, mencari beritanya yang buruk secara sembunyi-sembunyi.

Kata (ِح ۡوّر) rauh ada yang memahaminya bermakna nafas. Ini karena kesedihan dan kesusahan menyempitkan dada dan menyesakkan nafas. Sehingga, bila seseorang dapat bernafas dengan baik, maka dada menjadi lapang. Dari sini lapangnya dada diserupakan dengan hilangnya kesedihan dan tertanggulanginya problema. Ada juga yang memahami kata rauh seakar dengan kata istirdhah, yakni hati beristirahat dan tenang. Dengan demikian, ayat ini seakan-akan menyatakan jangan berputus asa dari datangnya

ketenangan yang bersumber dari Allah swt. Sesungguhnya tidak berputusasa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir, yang sangat mantap kekufurannya. Adapun orang beriman, maka dia selalu bersikap optimis dan tidak putus berusaha selama masih ada peluang yang tersedia. Allah swt. Kuasa menciptakan sebab-sebab yang memudahkan pencapaian harapan.2

3. Q.S Tahaa [20]: 17-18

1 Shihab M.Quraish, Tafsir Al-Misbah, (Lentera Hati; Jakarta, 2002) hlm. 411

(4)

) ىَسوُم اَي َكِنيِمَيِب َكْلِت اَمَو ) ىَر ْخُأ ُبِرآَم اَُهيِف َيِلَو يِمَنَغ ىَلَع اَُهِب ّشُهَأَو اَُهْيَلَع ُأّكَوَتَأ َياَصَع َيِه َلاَق (17

18 ( Terjemahan:

17. ”Dan apakah yang ada di tangan kananmu itu wahai Musa?”

18. “Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.”

Jika seseorang mencermati pola pertanyaan yang disampaikan oleh Allah kepada Nabi Musa, maka sesungguhnya tidak membutuhkan jawaban yang panjang. Pertanyaan tersebut sesungguhnya sudah cukup apabila dijawab dengan satu kata “tongkat” tanpa menyebutkan manfaat-manfaatnya. Pesan yang dapat diambil dari jawaban Nabi Musa tersebut menandakan bahwa Nabi Musa tidak ingin munajatnya dengan Allah cepat berakhir ia ingin berlama-lama dengan munajat itu.3

3. Pandangan Tokoh-Tokoh Tentang Psikologi

Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu jiwa atau ilmu tentang jiwa. Namun dalam pemaknaan psikologi secara terminologis terdapat perbedaan orientasi dan latar belakang masing-masing pakar. Oleh karena itu, banyak pakar yang memberikan definisi psikologi degan berbagai sudut pandang yang luas.

(Gleitman, Gross, dan Reisberg, 2011:1) mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alsan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagaimna mahluk tersebut berfikir dan berperasaan. Hal-hal yang tampak sederhanapun berdasarkan pengertian ini menjadi objek kajian psikologi, seperti bagaimna seseorang tetap mengingat, mengapa sesorang berbicara, mengapa ia cemburumengapa ia mencintai lawan jenisnya, dan lain sebagainya.

Chaplin (2011: 1) sebagaimana dikutip Sudarwan Danim mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan menegetahui perilaku manusia dan hewan, juga terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan. Pada definisi ini Chaplin menjelaskan psikologi lebih luas, yakni bukan hanya berkenaan dengan manusia tetapi juga hewan.Jadi berdasarkan definisi ini, psikologi berhubungan dengan penyelidikan bagaimana dan mengapa organisme-organisme itu melakukan apa yang mereka lakukan.4

4. Korelasi psikologi dengan karakteristik kepribadian Seorang Muslim

Kepribadian berasal dari kata “pribadi” yang berarti diri sendiri, atau perseorangan.

Sedangkan dalam bahasa inggris digunakan istilah personality, yang berarti kumpulan kualitas jasmani, rohani, dan susila yang membedakan seseorang dengan orang lain.5

Menurut Allport, kepribadian adalah organisasi sistem jiwa raga yang dinamis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya.

Kepribadian menurut psikologi islami adalah integrasi sistem kalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku. Aspek nafsani manusiamemiliki tiga daya, yaitu:

(1) qalbu (fitrah ilahiyah) sebagai aspek suprakesadaran manusia yang memiliki daya emosi (rasa); (2) akal (fitrah insaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang memiliki daya kognisi (cipta); (3) nafsu (fitrah hayawaniyah) sebagai aspek pra atau bawah kesadaran manusia yang memiliki daya konasi (karsa).Ketiga komponen nafsani ini berintegrasi untuk mewujudkan suatu tingkah laku. Qalbu memiliki kecenderungan natur ruh, nafs (daya syahwat dan ghadhab) memiliki kecenderungan natur jasad, sedangkan akal memiliki kecenderungan

3 Lestari Sri, Journal Psikologi Al-Qur’an, (Intitut Agama Islam Pangeran Diponegoro: Nganjuk, 2021) hlm. 9 4 Sadat Anwar, Journal Psikologi Islam (pengertian, sejarah, dan urgensinya), (STAI Al-Ma’rifat: Ciamis, 2019) hlm. 2

5 Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama hlm.3 (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995).

(5)

antara ruh dan jasad. Dari sudut tingkatannya, kepribadian itu merupakan integrasi dari aspek-aspek supra-kesadaran (fitrah ketuhanan), kesadaran (fitrah kemanusiaan), dan pra atau bawah sadar (fitrah kebinatangan). Sedang dari sudut fungsinya, kepribadian merupakan integrasi dari daya-daya emosi, kognisi dan konasi, yang terwujud dalam tingkah laku luar (berjalan, berbicara, dan sebagainya) maupun tingkah laku dalam (pikiran, perasaan, dan sebagainya).6

Akal prinsip kerjanya adalah mengejar hal-hal yang realistik dan rasionalistik. Oleh sebab itu, maka tugas utama akal adalah mengikat dan menahan hawa nafsu. Apabila tugas utama ini terlaksana maka akal mampu untuk mengaktualisasikan sifat bawaan tertingginya, namun jika tidak maka akal dimanfaatkan oleh nafsu.7Sementara nafsu prinsip kerjanya hanya mengejar kenikmatan duniawi dan ingin menggambarkan nafsu-nafsu impulsifnya. Apabila sitem kendali kalbu dan akal melemah, maka nafsu mampu mengaktualkan sifat bawaannya, tetapi apabila sistem kendali kalbu dan akal tetap berfungsi, maka daya nafsu melemah. Nafsu sendiri memiliki daya tarik yang sangat kuat dibanding dengan kedua sistem fitrah nafsani yang lainnya. Kekuatan tersebut disebabkan oleh bantuan dan bisikan setan serta tipuan-tipuan impulsif lainnya. Sifat nafsu adalah mengarah pada amarah yang buruk. Namun apabila ia diberi rahmat oleh Allah, ia menjadi daya yang positif, yaitu kemauan (iradah) dan kemampuan (qudrah) yang tinggi derajatnya.

Studi tentang faktor-faktor yang menentukan kepribadian dibahas secara mendetail oleh tiga aliran. Tiga aliran itu adalah Emprisme, Nativisme dan Konvergensi. Masing- masing aliran ini memiliki asumsi psikologis tersendiri dalam melihat hakikat manusia.

1. Aliran Empirisme

Aliran Empirisme disebut juga aliran Environmentalisme, yaitu suatu aliran yang menitikberatkan pandangannya pada peranan lingkungan sebagai penyebab timbulnya tingkah laku. Aliran ini semula dipelopori oleh filosof berkebangsaan Inggris, yaitu John Locke (1632-1704).8Asumsi psikologis yang mendasari aliran ini adalah bahwa manusia lahir dalam keadaan netral, tidak memiliki pembawaan apa pun. Ia bagaikan kertas putih (tabula rasa) yang dapat ditulisis apa saja yang dikehendaki. Perwujudan kepribadian ditentuka oleh luar diri yang disebut dengan lingkungan.9

Aliran Empirisme dikenal sebagai aliran yang optimistik dan positivistik. Hal itu disebabkan oleh anggapannya bahwa suatu kepribadian menjadi lebih baik apabila dirangsang oleh usaha-usaha nyata. Usaha konkret yang disumbangkan oleh aliran ini adalah menciptakan teori-teori belajar untuk mengubah tingkah laku manusia menuju kepribadian yang ideal. Melalui teori belajar, semua kepribadian individu dapat dimodifikasi dan dibentuk sesuai dengan yang diinginkan.

2. Aliran Nativisme

Aliran Nativisme adalah suatu aliran yang menitikberatkan pandangannya pada peranan sifat bawaan dan keturunan sebagai penentu tingkah laku seseorang. Persepsi tentang ruang dan waktu tergantung pada faktor-faktor alamiah atau pembawaan dari

6 Hartati, N., dkk. Islam dan Psikologi. Jakarta: PT.Raja Gravindo Persada. 2004. hlm. 163-164 7 Hartati, N., dkk. Islam dan Psikologi. Jakarta: PT.Raja Gravindo Persada. 2004. hlm. 164 8 J.P. Chaplin. Kamus Lengkap Psikologi, Terjemahan Kartini Kartono. Jakarta: Rajawali.

1989.hlm 166

(6)

lahir. Kapasitas intelektual itu diwarnai sejak lahir. 10 Aliran ini dipelopori oleh Arthur Scopenhauer (1788-1860) seorang psikolog berkebngsaan Jerman. Aliran ini didukung oleh Frans Joseph Gall (1785-1828).11

Aliran Nativisme memandang hereditas (heredity) sebagai penentu kepribadian.

Hereditas adalah totalitas sifat-sifat karakteristik yang dibawa atau dipindahkan dari orang tua ke anak keturunannya. Perpindahan genetik ini merupakan fungsi dari kromosom dan gen. Kromosom adalah bagian sel yang mengandung sifat keturunan. Gen adalah sejenis partikel hipotetik yang terletak sepanjang kromosom-kromosom yang diduga menjadi lementer dari sifat keturunan.12 James Drever menyebut hereditas sebagai anugerah alam yang mempunyai hukum-hukum tersendiri.13

3. Aliran Konvergensi

Aliran Konvergensi adalah aliran yang menggabungkan dua aliran di atas.

Konvergensi adalah interaksi antara faktor hereditas dan faktor lingkungan dalam proses pemunculan tingkah laku.14Menurut aliran ini, hereditas tidak akan berkembang secara wajar apabila tidak diberi rangsangan dari faktor lingkungan. Sebaliknya, rangsangan lingkungan tidak akan membina kepribadian yang ideal tanpa didasari oleh faktor hereditas.

Penetuan kepribadian seseorang ditentukan kerja yang integral antara internal (potensi bawaan) maupun faktor eksternal(lingkungan pendidikan). Kepribadian manusia ditentukan oleh faktor dasar dan ajar. Kedua faktor ini mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Aliran ini dipelopori oleh William Stern (1871-1938) dan Adler.

Konsep Psikologi Islam yang diasumsikan dari struktur nafsani tidak lantas menerima ketiga aliran tersebut. Di samping terdapat kelemahan- kelemahan, ketiga aliran tersebut hanya mengorientasikan teorinya pada pola pikir antroposentris. Artinya, perkembangan kepribadian manusia seakan-akan hanya dipengaruhi oleh faktor manusiawi.

Manusia dalam pandangan psikologi islam telah memiliki seperangkat potensi, disposisi, dan karakter unik. Potensi itu paling tidak mencakup keimanan, ketauhidan, keislaman, keselamatan, keikhlasan, kesucian, kecenderungan menerima kebenaran dan kebaikan, dan sifat baik lainnya.

Perkembangan kehidupan manusia bukanlah diprogram secara deterministik, seperti robot atau mesin. Manusia secara fitri memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam mengaktulisasikan potensinya. Dalam Alquran banyak ditemukan ayat-ayat yang menunjukkan kemerdekaan dan kebebasan manusia dalam berkepribadian. Misalkan kebebasan memilih agama (QS Al-Kahfi [18]; 29, Al-Baqarah [2]; 256, dan Al-Kafirun [109]; 6), kebebasan memilih salah satu dari dua jalan, yaitu jalan ketaqwaan dan jalan kelacuran (QS Al-balad [90]; 8-10, Al-Syams [91]; 7-10), kebebasan memilih kehidupan dunia saja, atau akhiran saja, atau kedua-duanya (QS Al-Baqarah [2]; 200-201). Oleh karena kebebasan inilah maka manusia dituntut untuk mengupayakan tingkah lakunya secara baik.

Tanpa diupayakan maka potensinya tidak akan berkembang (QS Al-Ra’d [13]; 11, Al- Najm [53]; 39-41).15

10 J.P. Chaplin,...hlm.319

11 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, hlm 29.

12 J.P. Chaplin,...hlm.225.

13 James Drever, Kamus Psikologi. 1986. hlm.229.

14 J.P. Chaplin,...hlm.112.

15 Hartati, N., dkk. Islam dan Psikologi. Jakarta: PT.Raja Gravindo Persada. 2004. hlm. 180

(7)

Psikologi islam mengakui adanya peran lingkungan dalam penentuan perkembangan. Banyak ayat Alquran yang menjelaskan tentang peran lingkungan. Misalnya seruan amar makruf nahi munkar (QS Ali Imran [3]; 104,110, 114), belajar menuntut ilmu agama kemudian mendakwahkan untuk orang lain (QS Al- Taubah [9]; 122), seruan kepada orang tua agar memelihara keluarganya dari tingkah laku yang memasukkan ke dalam neraka (QS Al-Tahrim [66]; 6). Faktor penentu perkembangan manusia yang berikutnya yang dibahas juga dalam psikologi islam adalah faktor-faktor bawaan yang merupakan sunnah atau taqdir Allah untuk manusia. Misalnya bawaan memikul amanat (QS Al-Ahzab [33]; 72), bawaan menjadi khalifah di muka bumi (QS Al-Baqarah [2];

30), bawaan menjadi hambah Allah agar selalu beribadah kepada-Nya (QS Al-Zariyat [51];

56), bawaan untuk mentauhidkan Allah Swt. (QS Al-A’raf [7]; 172). Dan juga faktor-faktor perbedaan individu, misalnya perbedaan bakat, minat dan watak (QS Al-Isra [17]; 84), perbedaan jenis kelamin dan bangsa dan negara (QS Al- Hujurat [49]; 13), dan perbedaan karunia yang diberikan (QS An-Nisa’ [4]; 32).

C. Kesimpulan :

1. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia melalui metode ilmiah. Sejarah psikologi dimulai dari zaman Yunani kuno, di mana awalnya berkembang dalam ranah filsafat sebelum menjadi ilmu tersendiri.

2. Jurnal ini mencoba menggabungkan pandangan psikologi dengan perspektif Islam, dengan fokus pada pemahaman tentang kepribadian, karakteristik, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian seorang Muslim.

3. Dalam konteks Islam, kepribadian manusia dipengaruhi oleh tiga aspek utama: qalbu (fitrah ilahiyah), akal (fitrah insaniah), dan nafsu (fitrah hayawaniyah). Ketiga aspek ini berinteraksi untuk membentuk tingkah laku dan kepribadian individu.

4. Artikel ini juga mencakup pandangan beberapa tokoh dalam psikologi yang mempengaruhi pemahaman tentang kepribadian manusia, seperti aliran empirisme, aliran nativisme, dan aliran konvergensi. Namun, pandangan psikologi Islam lebih menekankan peran fitrah atau kodrat manusia dalam membentuk kepribadian.

5. Psikologi Islam mengakui peran lingkungan dalam perkembangan manusia, tetapi juga menganggap faktor bawaan dan taqdir Allah sebagai faktor penting dalam membentuk kepribadian individu.

(8)

.

Daftar Pustaka

Shihab M.Quraish, Tafsir Al-Misbah, (Lentera Hati; Jakarta, 2002)

Lestari Sri, Journal Psikologi Al-Qur’an, (Intitut Agama Islam Pangeran Diponegoro:

Nganjuk, 2021)

Sadat Anwar, Journal Psikologi Islam (pengertian, sejarah, dan urgensinya), (STAI Al-

Ma’rifat: Ciamis, 2019)

Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995).

Hartati, N., Nihayah, Z., Shaleh, A. R., dan Mujib, A. Islam dan Psikologi.

Jakarta: PT.Raja Gravindo Persada. 2004.

J.P. Chaplin. Kamus Lengkap Psikologi, Terjemahan Kartini Kartono. Jakarta:

Rajawali. 1989.

Drever, James. Kamus Psikologi, Terjemahan Nancy Simanjuntak. Jakarta: Bina Aksara. 1986.

Suryabrata, S. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.

2012.

Hurlock, E. B.Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Erlangga.2002.

Referensi

Dokumen terkait

Dosen tafsir hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Metodologi Penelitian Living Qur’an & Hadis, pengantar: Sahiron Syamsuddin,

Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui karakteristik literatur yang disitir dalam tesis mahasiswa Program Studi Magister Sains Psikologi Fakultas Psikologi UIN

Bagus Riyono menjelaskan tentang Perkembangan dan Tantangan Psikologi Islam, sedangkan Ahmad Fatoni membahas tentang Peran Aktifasi Fitrah dalam Mengungkap Kekuatan Solusi

Nurul Ilmi Fajrin, 2015, Hubungan Antara Kemandirian Dengan Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Istri Nabi yang Tidak Shalihah dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik), Fakultas Ushuluddin, studi Agama, dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta:

Ketua Jurusan Ilmu al-Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin yang memberikan arahan penulisan skripsi yang sesuai dengan

Hubungan Antara Manajemen Waktu Dengan Prokrastinasi Akademik Dalam Menyusun Skripsi Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN MALIKI

Ketua Jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora yang telah memberikan arahan mengenai judul skripsi ini, serta saran dan kritik dalam