• Tidak ada hasil yang ditemukan

JEJAK KARBON BERBASIS KONSUMSI RUMAH TANGGA

N/A
N/A
Gina Adriana Eris

Academic year: 2023

Membagikan "JEJAK KARBON BERBASIS KONSUMSI RUMAH TANGGA"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Jejak Karbon Berdasarkan Konsumsi Rumah Tangga (Studi Kasus Rumah Tangga Petani Kakao di Kabupaten Polewali Mandar) adalah benar-benar hasil karya saya bersama pengurus Komisi Pengawas dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun ke perguruan tinggi manapun. Jejak Karbon Berdasarkan Konsumsi Rumah Tangga (Studi Kasus Rumah Tangga Petani Kakao di Kabupaten Polewali Mandar). Berdasarkan tingkat pendapatan, terlihat bahwa kelompok pendapatan terkaya menghasilkan jejak karbon paling tinggi diantara kelompok lainnya.

Berdasarkan umur kepala rumah tangga, rata-rata jejak karbon tertinggi dihasilkan oleh kelompok umur yang lebih tua. Kepala rumah tangga yang berlatar belakang pendidikan tinggi antara lain memiliki jejak ekologis terbesar. Variabel kontrol yang mempengaruhi jejak ekologis adalah status perkawinan, tingkat kemiskinan dan jumlah anggota keluarga.

Jejak karbon berdasarkan konsumsi rumah tangga (studi kasus pada rumah tangga petani kakao di Polewali Mandar). JEJAK KARBON BERDASARKAN KONSUMSI RUMAH TANGGA (STUDI KASUS RUMAH TANGGA PETANI KAKAO DI KABUPATEN POLEWALI MANDAR).

PRAKATA

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMPIRAN

1 PENDAHULUAN

Pada tahun 2017, konsumsi rumah tangga di Indonesia menyumbang 54,3 persen terhadap total PDB Indonesia (BPS 2018). Di tingkat global, konsumsi rumah tangga juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan emisi karbon dioksida (Girod dan Hann 2010). Luasnya lahan dan produksi yang tinggi menunjukkan banyaknya rumah tangga petani kakao di daerah tersebut.

Irfany dan Klasen (2015) menyatakan bahwa perbedaan pendapatan antar rumah tangga menyebabkan ketimpangan pendapatan dan mengakibatkan ketimpangan jejak karbon. Apa saja faktor yang mempengaruhi jejak karbon berbasis konsumsi rumah tangga petani kakao di Kabupaten Polewali Mandar. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jejak karbon berbasis konsumsi rumah tangga petani kakao di Kabupaten Polewali Mandar 3.

Bagi akademisi diharapkan dapat memberikan pengetahuan bermanfaat mengenai jejak karbon berdasarkan konsumsi rumah tangga. Bagi peneliti, hasil ini menambah bukti empiris bahwa aktivitas manusia dapat menciptakan jejak ekologis melalui pendekatan konsumsi rumah tangga3.

Gambar 1  GDP per kapita dan emisi karbon dioksida per kapita di Indonesia.
Gambar 1 GDP per kapita dan emisi karbon dioksida per kapita di Indonesia.

2 TINJAUAN PUSTAKA

Konsep ketimpangan karbon dioksida dihitung dari jejak karbon per kapita yang dihasilkan rumah tangga. Pendekatan yang digunakan adalah perhitungan jejak karbon dengan menggunakan pendekatan konsumsi dan pendapatan rumah tangga. Secara umum, terdapat beberapa penelitian yang menggabungkan data konsumsi rumah tangga dengan analisis input-output untuk menghitung intensitas jejak karbon yang dihasilkan rumah tangga.

Lenzen (1998) melakukan analisis jejak karbon di Australia dengan menggunakan intensitas emisi karbon dari kegiatan ekonomi yang diperoleh dari analisis input-output. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor terpenting yang berkontribusi terhadap jejak lingkungan Australia adalah konsumsi barang dan jasa dari sektor industri. Penelitian Kenny dan Gray (2009) menemukan bahwa faktor utama yang mempengaruhi jejak karbon rumah tangga Irlandia berasal dari konsumsi energi dan transportasi.

Salah satu penelitian jejak karbon berbasis konsumsi yang dilakukan di negara berkembang dilakukan di India. Penelitian yang dilakukan oleh Parikh dkk. 1997) merupakan penelitian jejak karbon pertama yang dilakukan di negara berkembang. Faktor penentu lainnya, seperti lokasi, ukuran rumah tangga dan pendidikan juga mempengaruhi jejak karbon.

Penelitian yang dilakukan Irfany dan Klasen (2017) menganalisis jejak karbon rumah tangga di Indonesia yang disebabkan oleh konsumsi dan pendapatan. Pengeluaran rumah tangga yang menimbulkan jejak karbon terbesar adalah pengeluaran untuk transportasi, bahan bakar, dan listrik. Hasil penelitian ini menunjukkan jejak karbon yang dihasilkan di Jambi lebih besar dibandingkan Indonesia dan Sulawesi.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa negara maju mempunyai jejak karbon yang lebih besar dibandingkan negara berkembang. Jejak karbon yang ditimbulkan oleh pendekatan konsumsi rumah tangga dapat dianalisis menjadi 3 bagian, yaitu: 1) gambaran umum jejak karbon berdasarkan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga; Seiring dengan peningkatan konsumsi rumah tangga, jejak karbon lanskap Polewali Mandar diperkirakan akan meningkat.

Gambar 5  Kerangka pemikiran.
Gambar 5 Kerangka pemikiran.

3 METODE

Perbedaan tingkat pendapatan rumah tangga diperkirakan akan mengakibatkan perbedaan tingkat emisi karbon dioksida pada setiap tingkat pendapatan. Data diperoleh dari wawancara terhadap rumah tangga petani di dua kecamatan yaitu kecamatan Mapili dan Anreapi. Data sekunder dalam penelitian ini adalah total intensitas karbon yang dihasilkan oleh masing-masing sektor rumah tangga.

Data diambil dengan metode studi kasus melalui wawancara terhadap rumah tangga petani yang menjadi responden dengan menggunakan kuesioner. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum mengenai konsumsi rumah tangga dan jejak karbon yang dihasilkan rumah tangga pertanian di Kabupaten Polewali Mandar. Analisis statistik inferensial yang digunakan adalah metode regresi untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi jejak karbon berbasis konsumsi rumah tangga petani kakao dan menganalisis tingkat ketimpangan pendapatan dan jejak karbon di Polewali Mandar.

Pendekatan penghitungan jejak karbon berbasis rumah tangga di Indonesia menggunakan metode Lanzen (1988). Pendekatan pengeluaran juga digunakan dalam beberapa penelitian pengeluaran rumah tangga yang dilakukan oleh Irfany et al. Kemudian menggabungkan database survei konsumsi rumah tangga petani kakao dengan intensitas emisi untuk menghasilkan jejak karbon rumah tangga.

Perhitungan intensitas emisi dan jejak karbon berdasarkan konsumsi rumah tangga dapat digambarkan menggunakan persamaan di bawah ini. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi jejak karbon petani kakao dilakukan dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Faktor-faktor yang mempengaruhi jejak karbon rumah tangga menggunakan model umum pada persamaan 6. Pengembangan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi jejak karbon pada rumah tangga petani kakao dalam 4 model yaitu:

𝐿𝑜 Pendapatan per per kapita adalah jumlah pengeluaran rumah tangga dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga dalam sebulan.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil survei menunjukkan bahwa pangsa konsumsi terhadap total pengeluaran rumah tangga petani kakao dapat dilihat pada Gambar 7. Jejak karbon berdasarkan konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa sektor yang menghasilkan jejak karbon terbesar adalah sektor bahan bakar, listrik dan sektor transportasi. Jejak karbon berdasarkan konsumsi rumah tangga di wilayah Polewali Mandar didominasi oleh konsumsi bahan bakar, listrik, dan transportasi.

Jejak karbon yang dihasilkan berdasarkan kelompok pendapatan Penelitian ini membagi rumah tangga petani kakao berdasarkan tingkat pendapatannya menjadi 5 kelompok pendapatan, dari terendah hingga tertinggi. Jejak karbon berdasarkan konsumsi rumah tangga menurut kelompok pendapatan dapat dilihat pada gambar di bawah. Sedangkan kelompok rumah tangga miskin atau kelompok rumah dengan pendapatan per kapita di bawah garis kemiskinan menghasilkan rata-rata jejak karbon sebesar 6.380,2 kg CO2.

31 Gambar 12 menunjukkan bahwa rata-rata jejak karbon rumah tangga yang menanam kakao berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan pola penurunan dari tidak bersekolah menjadi sekolah menengah atas. Pengeluaran konsumsi dan jejak ekologis yang dihasilkan di setiap rumah tangga berbeda-beda menurut kelompok pendapatan. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi jejak karbon berbasis konsumsi rumah tangga dianalisis menggunakan perangkat lunak STATA 13.

Analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi jejak karbon rumah tangga petani kakao di wilayah Polewali Mandar dilakukan dengan menggunakan teknik regresi sederhana dengan menggunakan beberapa model alternatif. Uji t pada model pertama menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi jejak karbon secara signifikan adalah pendapatan petani dan status perkawinan kepala rumah tangga petani kakao pada tingkat riil 1 persen. Hasil regresi menunjukkan bahwa kepala rumah tangga yang menikah menghasilkan jejak karbon yang lebih besar dibandingkan kepala rumah tangga yang tidak menikah.

35 berarti bahwa seiring dengan peningkatan pendapatan rumah tangga, jejak karbon yang dihasilkan akan terus meningkat dan tidak akan ada pembalikan. Nilai koefisien -0,626 berarti jejak karbon rumah tangga miskin lebih kecil dibandingkan rumah tangga tidak miskin. Hasil analisis regresi kuantil menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap jejak karbon adalah pendapatan rumah tangga petani kakao pada masing-masing kuantil.

Analisis yang dilakukan terkait ketimpangan pendapatan dan ketimpangan jejak karbon pada rumah tangga petani kakao di wilayah Polewali Mandar. Rumah tangga kaya harus melakukan lebih banyak upaya untuk mengurangi jejak karbon dibandingkan rumah tangga miskin.

Tabel 4 Intensitas emisi CO 2  berdasarkan sektor ekonomi: 10 terbesar dan terendah
Tabel 4 Intensitas emisi CO 2 berdasarkan sektor ekonomi: 10 terbesar dan terendah

5 SIMPULAN DAN SARAN

Oleh karena itu, dari hasil penelitian ini ada baiknya jika rumah tangga mengurangi konsumsi barang atau jasa yang intensitas emisinya tinggi. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mendorong efisiensi energi melalui kebijakan yang mendukungnya dengan menciptakan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan perlunya transportasi umum yang menghasilkan emisi rendah sehingga pembangunan berkelanjutan dapat tercapai. Hasilnya menunjukkan bahwa jejak karbon dan ketimpangan jejak karbon paling besar terjadi pada kelompok terkaya.

Perlu adanya kesadaran di kalangan masyarakat kaya untuk menghemat konsumsi bahan bakar dan listrik. Alternatif lainnya adalah dengan mengkonsumsi bahan bakar dan listrik dengan intensitas karbon rendah, seperti sel surya, dll. Kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam hal pengurangan CO2 harus berbeda antar kelompok pendapatan rumah tangga, tergantung pada tingkat ketimpangan jejak karbon yang dihasilkan oleh kelompok rumah tangga tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

87 Perabotan rumah tangga dari kayu, bambu dan rotan, barang lainnya dari kayu, gabus, bambu. Kapuk bersih + Benang + Tekstil + Barang rajutan + Pakaian jadi + Permadani, tali dan tekstil lainnya + Kulit samak dan olahan + Barang dari kulit + Tekstil jadi selain pakaian. Barang lain yang terbuat dari karet + Barang plastik + Barang keramik dan tanah liat + Barang kaca dan barang kaca + Bahan bangunan keramik dan tanah liat + Barang lain yang terbuat dari bahan bukan logam + Barang terbuat dari bahan dasar besi dan baja + Logam dasar bukan besi + Barang terbuat dari bahan dasar dari logam dasar non-ferrous + Peralatan listrik untuk rumah tangga.

Barang industri lainnya + Penggerak mula + Mesin dan perlengkapannya + Mesin pembangkit dan motor listrik + Mesin listrik dan perlengkapannya + Elektronika, komunikasi dan barang. Lampiran 8 Jejak karbon akibat pengeluaran rumah tangga berdasarkan tingkat pendidikan kepala rumah tangga.

RIWAYAT HIDUP

Gambar

Gambar 1  GDP per kapita dan emisi karbon dioksida per kapita di Indonesia.
Gambar 2  Sumber gas rumah kaca dunia tahun 2015
Tabel 1 Produksi biji kakao dunia tahun 2011-2014
Tabel 2 Luas areal dan produksi kakao tahun 2000-2017
+7

Referensi

Dokumen terkait

Semakin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor menghasilakn emisi gas buang karbon monoksida (CO) semakin besar sehingga meningkatkan laju pemanasan global (global warming). Unsur

pasca konstruksi banguan rumah tinggal tipe 45 m 2 di kota Kupang serta bagaimana memetakan jejak karbon transportasi material yang juga memiliki.. potensi emisi

Pemanasan global yang terjadi di permukaan bumi berhubungan dengan efek rumah kaca karena peningkatan gas rumah kaca mengakibatkan energi panas matahari yang dipantulkan

Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1- 5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan

Akibat kebakaran hutan, jumlah pelepasan karbon dioksida yang merupakan gas rumah kaca juga akan meningkat yang pada akhirnya memperparah pemanasan global (global warming)..

Akibat kebakaran hutan, jumlah pelepasan karbon dioksida yang merupakan gas rumah kaca juga akan meningkat yang pada akhirnya memperparah pemanasan global (global warming)..

pemanasan global. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan

Go Green!” dan Green Breeding tidak hanya mengurangi emisi gas-gas rumah kaca yang berdampak pada pemanasan global tetapi juga dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang