Bruni dan Verona (2009) menyatakan bahwa literatur kapabilitas pemasaran dinamis berfokus pada bagaimana perusahaan memiliki kapabilitas manajerial untuk membangun dan mengintegrasikan pengetahuan pasar (orientasi pelanggan, aktivitas pesaing, kapabilitas penelitian dan pengembangan, pengetahuan teknologi), termasuk orientasi pasar dan fleksibilitas strategis. Hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh signifikan variabel strategic flexibility terhadap kinerja perusahaan dapat dibuktikan. Hasil uji-t dapat menunjukkan bahwa hasil pengujian hipotesis pertama menyatakan bahwa variabel fleksibilitas strategis berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
Untuk menguji apakah lingkungan dinamis (B) memoderasi hubungan antara fleksibilitas strategis dan kinerja perusahaan, regresi antara |e| dibuat. Hasil analisis menunjukkan bahwa Strategic Fleksibilitas (SF) tidak berpengaruh positif (signifikan) terhadap kinerja perusahaan (FP), 𝛽 = 0,415 sig. Untuk menguji apakah lingkungan dinamis (B) memoderasi hubungan antara orientasi pasar dan kinerja perusahaan, dilakukan regresi antara |e| dibuat.
Secara signifikan, penelitian ini menunjukkan pengaruh positif fleksibilitas strategis terhadap kinerja perusahaan.
PEMBUATAN KEPUTUSAN, DEMOGRAFIS, DAN KEPUASAN PASCA BELI PADA KELOMPOK LOYAL MEREK DAN TIDAK
LOYAL MEREK
Dalam kaitannya dengan loyalitas merek, ada dua variabel pengambilan keputusan konsumen, yaitu orientasi pembelian dan kriteria pembelian. H2: Terdapat perbedaan kriteria pembelian kelompok konsumen yang loyal terhadap merek dan kelompok konsumen yang tidak loyal terhadap merek. Sebaliknya, Farley (1964) dalam Oh dan Fiorito (2002) menemukan bahwa konsumen berpendapatan tinggi dapat menjadi konsumen yang tidak loyal terhadap merek.
Chauduri dan Holbrook (2001) menemukan bahwa konsumen setia merek tertentu akan bersedia membayar premium karena persepsi bahwa merek tersebut memiliki nilai yang tak tergantikan. Dengan demikian, kelompok konsumen setia merek harga tinggi dan kelompok konsumen setia merek harga rendah dibandingkan dalam kepuasan pasca pembelian mereka dengan atribut pakaian jadi. Konsep harga sebagai selisih antara konsumen yang loyal terhadap merek pada variabel kepuasan pasca pembelian diuji dengan menggunakan hipotesis.
H5 : Terdapat perbedaan kepuasan pembelian antara konsumen setia merek harga tinggi dengan konsumen setia merek harga murah. Karakteristik konsumen yang terkait dengan loyalitas merek juga bervariasi antar produk (Carman, 1970 dalam Oh dan Fiorito, 2002). Dalam kaitannya dengan loyalitas merek, ada dua variabel pengambilan keputusan konsumen, yaitu orientasi pembelian dan kriteria pembelian.
Berdasarkan Tabel 1 diperoleh informasi bahwa responden yang loyal pada merek jeans dan tidak loyal pada merek jeans memiliki usia kecocokan paling banyak dari 23-25 tahun dan memiliki usia kecocokan paling muda > 25 tahun, sedangkan berdasarkan usia responden setia Merek Baju dan tidak setia Merek Baju Merek memiliki usia pertandingan terbanyak 23-25 tahun dan memiliki usia termuda yang sama yaitu usia >25 tahun. Kemudian berdasarkan tingkat pendapatan dapat digambarkan responden yang loyal pada merek Jeans dan tidak loyal pada merek Jeans memiliki income match paling besar antara Rp500.000 - Rp1.000.000 dan memiliki income match terkecil > Rp Sedangkan berdasarkan responden yang loyal dan tidak loyal terhadap merek kaos memiliki income match tertinggi pada tingkat pendapatan Rp500.000 - Rp1.000.000 dan memiliki income match by income terkecil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk variabel loyalitas merek Jeans, kelompok loyalitas merek Jeans dan kelompok tidak loyal.
Kemudian dari 150 responden lebih banyak yang loyal pada merek kaos yaitu 103 atau (0,69%) dibandingkan dengan yang tidak loyal sebanyak 47 orang (0,31%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk variabel loyalitas merek kemeja, kelompok loyal merek kemeja dan kelompok tidak loyal merek.
PEMBAHASAN
Karena nilai uji chi-square secara signifikan di atas 0,05, hal ini menunjukkan bahwa usia tidak memiliki hubungan dengan kelompok loyal merek Jeans dan kelompok tidak loyal merek Jeans. Tidak ada korelasi usia dengan kelompok konsumen yang loyal terhadap merek dan kelompok konsumen yang tidak loyal terhadap merek. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa umur tidak memiliki hubungan dengan kelompok konsumen yang loyal terhadap merek dan kelompok konsumen yang tidak loyal terhadap merek baik untuk produk jeans maupun kemeja.
Dapat disimpulkan bahwa hipotesis 3 ditolak yang menyatakan bahwa usia memiliki hubungan dengan kelompok konsumen yang loyal terhadap merek dan kelompok konsumen yang tidak loyal terhadap merek untuk kedua produk yaitu celana jeans dan kemeja. Karena nilai uji chi-square memiliki signifikansi di atas 0,05, hal ini menunjukkan bahwa pendapatan tidak memiliki hubungan dengan kelompok loyal merek Jeans dan kelompok tidak loyal merek Jeans. Karena nilai uji chi-square di atas 0,05, hal ini menunjukkan bahwa pendapatan tidak memiliki hubungan dengan kelompok merek kemeja loyal dan kelompok merek kemeja tidak loyal.
Pendapatan tidak memiliki hubungan dengan kelompok konsumen yang loyal terhadap merek dan kelompok konsumen yang tidak loyal terhadap merek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapatan tidak memiliki hubungan dengan kelompok konsumen loyal merek dan kelompok konsumen tidak loyal merek untuk kedua produk yaitu celana jeans dan kemeja. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis 4 ditolak yang menyatakan bahwa pendapatan memiliki hubungan dengan kelompok konsumen yang loyal terhadap merek dan kelompok konsumen yang tidak loyal terhadap merek untuk kedua produk yaitu celana jeans dan kemeja.
Berdasarkan hasil analisis chi-square, hasil uji t menunjukkan bahwa konsumen setia merek Jeans harga mahal dan konsumen setia merek Jeans harga murah merasa puas setelah melakukan pembelian. Kemudian berdasarkan hasil pengujian, hasil uji t menunjukkan bahwa konsumen setia merek kemeja harga mahal dan kelompok konsumen setia merek kemeja harga murah merasa puas setelah melakukan pembelian. Kelompok loyal merek dengan harga tinggi dan kelompok loyal merek dengan harga rendah berbeda kepuasannya setelah membeli produk kemeja merek tersebut.
SIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chauduri dan Holbrook (2001) yang menemukan bahwa konsumen yang loyal terhadap merek tertentu akan bersedia membayar dengan harga premium karena persepsi bahwa merek tersebut memiliki nilai yang tidak tergantikan. Dalam penelitian ini, kelompok konsumen yang loyal terhadap merek Jeans mempersepsikan harga tinggi dan harga rendah jeans sebagai nilai yang tidak tergantikan. Hal ini terbukti dari hasil penelitian ditemukan bahwa konsumen setia merek Jeans diuntungkan karena cenderung memperhatikan kenyamanan memakai Jeans pada kepuasan pasca pembelian, sehingga kelompok loyal merek dengan harga tinggi dan loyal merek kelompok harga rendah, tidak ada perbedaan kepuasan pasca pembelian untuk merek produk Jeans.
Sebaliknya, kelompok konsumen yang loyal terhadap merek baju mempersepsikan tinggi rendahnya harga suatu produk sebagai gengsi/prestise karena orang lain melihat kegunaan produk tersebut. Hal ini terbukti dari hasil penelitian ditemukan bahwa konsumen setia merek kaos lebih prestise/gengsi karena cenderung memperhatikan warna kaos dalam kepuasan pasca pembeliannya. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis 5 diterima sebagian, yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kepuasan pasca pembelian antara kelompok konsumen loyal merek harga tinggi dan kelompok konsumen loyal merek harga rendah untuk kemeja, tetapi sebaliknya tidak diterima untuk Jeans. produk.
Selain itu, hasil pencarian responden pada penelitian ini cukup didominasi oleh merek-merek ternama yang beredar di pasaran. Hasil penelitian ini tidak bisa begitu saja digeneralisasikan kepada konsumen di industri clothing dengan kategori produk selain jeans dan kemeja. Ketua, kuisioner dalam penelitian ini juga hanya disebar ke tiga kampus yang artinya tingkat generalisasinya tidak tinggi.
Ketiga, kriteria penentuan kelompok loyal dan tidak loyal dalam penelitian ini adalah dengan membagi dua. Jumlah soal sebanyak 6 soal diperoleh dari jumlah hasil tertinggi yaitu 30 ditambah jumlah hasil terendah yaitu 6 dibagi 2 sehingga ditentukan angka 6 sampai 18 dinyatakan untuk kelompok tidak setia sedangkan angka 19 sampai 30 dinyatakan sebagai kelompok yang setia. Keempat, karakteristik responden pada kelompok brand-loyal dan brand-disloyal dalam penelitian ini adalah homogen yaitu usia dan pendapatan.
KOMPARASI ANALISIS SWOT DAN SPACE DALAM MENETAPKAN STRATEGI BISNIS BERDASARKAN KONDISI LINGKUNGAN
PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN OUTSOURCING
Meningkatkan intensitas personal selling dengan mempromosikan jasa kontraktor Perseroan secara langsung kepada perusahaan pengguna potensial. Harga produk ditentukan oleh harga nilai atau berdasarkan nilai produk, bukan berdasarkan biaya produksi. Menggunakan prinsip customer oriented dalam menentukan nilai produk sehingga kisaran harga produk dapat bersaing dengan harga kompetitor.
Menciptakan budaya kompetitif di antara karyawan untuk memicu semangat kerja karyawan dengan berbagai penghargaan. Mengatur pengelolaan persediaan material dan infrastruktur agar efisiensi persediaan di perusahaan dapat berjalan dengan baik. Menyiapkan sistem pembagian kerja yang efektif untuk memaksimalkan kinerja dan tanggung jawab setiap karyawan.
Dengan menggunakan analisis SWOT, alternatif strategi yang dipilih adalah strategi SO (Strength-Opportunity), yang meliputi perluasan pasar baik secara demografis maupun geografis, pengembangan usaha jasa keamanan dan pertamanan, serta pengembangan usaha pembelian perlengkapan kantor dan jasa. Alternatif strategi yang dapat digunakan pada posisi ini antara lain penetrasi pasar, perluasan pasar, dan pengembangan produk. Perbandingan antara analisis SWOT dan SPACE menunjukkan bahwa analisis SWOT lebih mudah dilakukan dan hasil analisis SWOT lebih konsisten dibandingkan dengan analisis SPACE. dan layanan.
Kemudian melalui analisis QSPM akhirnya terpilih. strategi bisnis yang paling tepat untuk diterapkan pada perusahaan yaitu perluasan pasar baik secara demografis maupun geografis.
INDEKS SUBYEK
JURNAL RISET MANAJAMEN & BISNIS (JRMB)
INDEKS PENULIS
PEDOMAN PENULISAN
Abstrak berisi deskripsi minimal tentang tujuan, metode, hasil utama dan kesimpulan yang ditulis dalam satu ruang. Pendahuluan berisi tentang latar belakang, konteks penelitian, literatur pendukung, tujuan penelitian dan harapan hasil penelitian. Seluruh bagian pengantar disajikan secara terpadu dalam bentuk paragraf, dengan panjang 5-15% dari total panjang artikel.
Berisi tentang penjelasan dan prediksi teori, model teori dan hasil penelitian sebelumnya tentang masalah atau fenomena yang sedang dibahas, dan deskripsi pengembangan hipotesis. Metode berisi penjelasan berupa paragraf tentang desain penelitian, tujuan penelitian (populasi dan sampel), teknik pengumpulan data, pengembangan pengukuran dan teknik analisis data, dengan panjang 10-20% dari total panjang artikel. Pembahasan menjelaskan mengapa hasil penelitian seperti itu, menyajikan logika temuan temuan, menginterpretasikan temuan dan mengaitkannya dengan teori atau hasil penelitian yang relevan.
Untuk lebih dari satu referensi, kutipan didasarkan pada kronologi tahun atau urutan abjad jika ada tahun yang sama. New Jersey: John Willey & Son, Inc. Membandingkan Underpricing IPO Perusahaan Keuangan dan Non Keuangan di Pasar Modal Indonesia: Pengujian Hipotesis Asimetri Informasi. Prosiding Simposium Nasional Keuangan dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada ke-47; Yogyakarta, 28 September 2002.
Judul ilustrasi ditulis dengan huruf Times New Roman ukuran 10 point, dimasukkan dalam tab (5 coretan) dari sisi kiri, awal kata menggunakan huruf besar, dengan jarak 1 spasi. Keterangan tabel ditulis di kiri bawah dengan menggunakan font Times New Roman ukuran spasi 10. Penulisan bilangan desimal dalam bentuk tabel untuk bahasa Indonesia dipisahkan dengan koma (,) dan untuk bahasa Inggris digunakan titik.