• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurusan TarbiyahProgram Studi Pendidikan Agama Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Jurusan TarbiyahProgram Studi Pendidikan Agama Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

Pendidikan agama Islam bukan sahaja mengajar dalam erti kata penyampaian ilmu agama kepada pelajar, tetapi juga memberikan latihan/bimbingan kerohanian yang serasi dengan agama. Pendidikan agama adalah pendidikan yang bahan tuntunan dan petunjuknya berupa ajaran agama yang diperagakan agar manusia meyakini adanya Tuhan dengan sepenuh hati, mentaati perintah-Nya dan tunduk melaksanakannya dalam bentuk ibadah dan akhlak mulia. Ketika melaksanakan pendidikan agama Islam, peranan pendidik sangat penting dalam proses pendidikan kerana dia bertanggungjawab dan menentukan hala tuju pendidikan, maka Islam menganggap pendidik sebagai seorang yang lebih tinggi darjatnya daripada orang yang bukan guru.

Jadi yang dimaksud dengan sarana pendidikan agama adalah segala sesuatu yang digunakan dalam pendidikan agama. Pada dasarnya tujuan pendidikan agama Islam pada umumnya adalah agar peserta didik benar-benar menjadi manusia berkepribadian muslim.

Fungsi Pendidikan Agama Islam

Sistem tim ini merupakan suatu gagasan baru yang dikembangkan sebagai suatu bentuk pengajaran dan disebut juga pengajaran tim.

Tujuan Pendidikan Agama Islam

Moral siswa

Pendidikan Agama Islam setidaknya memiliki empat titik perhatian yang patut disinergikan, yaitu sebagai berikut: Dengan tujuan penelitian sebagai berikut: 1) untuk mengetahui hakikat Pendidikan Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di desa Patihan Wetan kecamatan Babadan , Kabupaten Ponorogo. Dalam penelitian ini telah diperoleh persamaan variabel bebas (variabel x), baik penelitian pendidikan agama Islam, baik menggunakan rumus regresi.

Dan yang membedakan adalah penelitian Siti Hanik Mulikah untuk variabel dependen meneliti kinerja keluarga sakinah di Kelurahan Patihan Wetan dan Kecamatan Babadan, sedangkan penelitian ini menguji semangat kerja siswa untuk variabel dependen (variabel y). Kesimpulan penelitian sebagai berikut: Hal ini terlihat dari data pendidikan agama Islam yang masuk dalam kategori baik (48 orang) dan 6 orang masuk dalam kategori rendah. Upaya yang masih dilakukan termasuk memberikan pendidikan agama kepada keluarga dan berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Dalam penelitian ini diperoleh persamaan variabel independen, baik yang mengkaji pendidikan agama Islam, maupun menggunakan rumus regresi. Dan yang membedakan adalah penelitian Yuni Dwi Astuti untuk variabel terikatnya adalah tentang aktivitas ibadah siswa Kelas II SMU Negeri 1 Sambit Ponorogo, kemudian penelitian ini mengkaji akhlak siswa untuk variabel terikatnya (variabel y). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :. Hal ini disebabkan oleh pengaruh pelaksanaan pendidikan agama Islam yang belum maksimal sehingga berdampak pada aktifnya ibadah siswa Kelas II SMUN 1 Sambit Ponorogo.

Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) pengajaran kecerdasan moral menurut Robert Coles adalah suatu proses pembelajaran yang mengembangkan kemampuan anak yang tumbuh secara perlahan untuk merefleksikan apa yang benar dan apa yang salah dengan menggunakan sumber emosi dan intelektual yang ada dalam pikiran manusia. . .

Kerangka Berfikir

Dampak pelatihan aktif kepanduan terhadap moral keagamaan santri Pondok Pesantren Sulamul Huda dengan taraf signifikansi sedang menurut hasil penelitian 0,0144 maka dari itu tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari kegiatan gerakan kepanduan terhadap pendidikan. moral keagamaan santri di Pondok Pesantren Sulamul Huda Siwalan Mlarak Ponorogo tahun ajaran 2006/2007.

Pengajuan Hipotesis

Rancangan Penelitian

Populasi, Sampel dan Responden

Instrumen Pengumpulan Data

Subvariabel dan indikator pendidikan agama Islam pada kisi-kisi instrumen di atas dibuat berdasarkan gabungan teori para ahli pendidikan agama Islam dan UU No. 14 tentang guru dan dosen. Sedangkan subvariabel dan indikator semangat kerja siswa pada jaringan instrumen dibuat berdasarkan nilai moral dan faktor moral.

Teknik Pengumpulan Data 1. Angket

Jika korelasi antara butir soal dengan skor total kurang dari 0,3 maka butir soal dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid.76. Untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen, peneliti mengambil sampel sebanyak 29 responden dengan item instrumen sebanyak 80 butir yaitu 40 soal untuk variabel pendidikan agama Islam dan 40 soal untuk variabel akhlak siswa, jika nilai r > 0,3 maka penelitian tersebut instrumen dikatakan valid, sebaliknya jika nilai r < 0,3 maka instrumen penelitian dikatakan tidak valid. Dari hasil perhitungan validitas item instrumen diperoleh 40 soal pada variabel pendidikan agama islam ada 25 soal.

Untuk mengetahui skor jawaban angket uji validitas variabel pendidikan agama Islam dapat dilihat pada Lampiran 4. Untuk mengetahui skor jawaban angket uji validitas variabel akhlak siswa dapat dilihat pada Lampiran 5 Untuk hasil perhitungan validitas butir-butir instrumen penelitian variabel pendidikan agama Islam dapat dilihat pada Lampiran 8, dan semangat kerja siswa dapat dilihat pada Lampiran 9.

Oleh karena itu, uji reliabilitas instrumen dilakukan untuk mengetahui konsistensi instrumen sebagai alat ukur, sehingga hasil pengukuran dapat dipercaya. Teknik analisis data yang digunakan untuk menentukan nilai pendidikan agama Islam dan nilai akhlak siswa adalah mean dan standar deviasi dengan rumus sebagai berikut. Mx – 1 SDx s/d Mx + 1 SDx = tingkat pendidikan agama dan akhlak Islam siswa kelompok 7A rata-rata.

Sedangkan jika data tidak berdistribusi normal maka digunakan uji statistik non parametrik.79 Dalam penelitian ini peneliti melakukan uji normalitas dengan menggunakan metode Lilifors.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

  • Sejarah Singkat Berdirinya MTsN Gorang-Gareng
  • Visi, Misi dan Tujuan
  • Letak Geografis MTsN Gorang-Gareng
  • Struktur Organisasi MTsN Gorang-Gareng
  • Keadaan Guru dan Siswa-siswi di MTsN Gorang-Gareng
  • Sarana dan prasarana MTsN Gorang-Gareng
  • Faktor Anak didik
  • Faktor Moral

Dan sejak saat itu madrasah tersebut berpisah dari PSM dan menjadi lembaga tersendiri yaitu MTsAIN yang sekarang menjadi MTsN Gorang-Gareng. Lokasi sekolah cukup strategis, dekat dengan jalan raya Gorang-Gareng – Magetan, sehingga mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Hal ini disebabkan karena struktur organisasi akan memudahkan pelaksanaan program yang telah direncanakan, serta mencegah terjadinya kerancuan pelaksanaan tugas dikalangan pekerja sekolah, sehingga tugas yang diberikan kepada masing-masing staf dapat berjalan dengan lancar dan mekanisme kerjanya mudah diketahui.

Total guru/pegawai MTsN Gorang-Gareng (menurut jenjang pendidikan terakhir, status dan jenis kelamin) berjumlah 42 orang, dengan rincian: 26 orang Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS)/Kementerian Agama, 9 orang Guru Non-PNS/Honorer , Pegawai 3 orang PNS dan 4 orang pegawai non PNS/PPT. Sarana dan prasarana yang relevan merupakan komponen yang menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di MTsN Gorang-Gareng. Dengan sarana dan prasarana yang memadai maka proses belajar mengajar dapat berjalan lancar sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal sesuai harapan.

Sarana dan prasarana yang ada di MTsN Gorang-Gareng antara lain 18 ruang kelas kondisi baik, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang UKS, 1 laboratorium IPA, 1 laboratorium komputer, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru, 1 ruang tata usaha, ruang penyimpanan 1, masjid 3 , kamar mandi 3 dalam kondisi baik, toilet 8 dalam kondisi baik dan kantin 1 serta tempat parkir 3. Selain itu, hasil jawaban angket pendidikan agama islam siswa kelas 7AMTsN Gorang-Gareng dirinci pada Lampiran 13 Tujuan Deskripsi data pada pembahasan kali ini adalah untuk memberikan gambaran tentang berbagai data penilaian semangat kerja siswa.

Analisis Data

Nilai antara Mx – 1 SDx sampai Mx + 1 SDx = tingkat pendidikan agama Islam siswa kelas 7A hilang. Dengan demikian terlihat bahwa skor lebih dari 86 dikategorikan pendidikan agama Islam baik bagi siswa kelas 7A, sedangkan skor kurang dari 77 dikategorikan pendidikan agama Islam buruk bagi siswa kelas 7A, dan skor antara 77-86 dikategorikan pendidikan agama Islam yang memadai bagi siswa kelas 7A. Dari kategorisasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam siswa Kelas 7A MTsN Gorang-Gareng termasuk dalam kategori baik dengan frekuensi 7 responden (22%), dalam kategori cukup dengan frekuensi 16 responden (52%). . , dalam kategori buruk dengan frekuensi 8 responden (26%).

Oleh karena itu secara umum dapat dikatakan pendidikan agama Islam siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng adalah cukup dengan skor antara 77-86, frekuensi 16 responden, persentase 52%. Untuk memperoleh data tersebut peneliti menggunakan metode angket yang dibagikan kepada 31 orang siswa, dari data yang diperoleh tersebut dicari Me dan SDy untuk mengetahui kategori moral siswa yaitu baik, sedang dan kurang. Dengan demikian dapat diketahui bahwa nilai lebih dari 63 dikategorikan semangat kerja siswa kelas 7A baik, sedangkan nilai kurang dari 55 dikategorikan semangat kerja siswa kelas 7A kurang baik, dan nilai antara 63-55 dikategorikan semangat siswa kelas 7A cukup.

Dari kategorisasi tersebut terlihat bahwa semangat kerja siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng berada pada kategori baik dengan frekuensi 9 responden (29%), berada pada kategori sedang dengan frekuensi 12 responden (39%), dalam kategori buruk dengan frekuensi 10 responden (32%). Dengan demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa semangat kerja siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng adalah cukup dengan nilai antara 55-63. Frekuensi 12 responden adalah 39%. Untuk menganalisis data mengenai pengaruh pendidikan agama Islam terhadap semangat kerja siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng, peneliti menggunakan teknik perhitungan analisis Regresi Linier Sederhana dengan rumus sebagai berikut: ŷ.

Untuk mengetahui pengaruh pendidikan agama Islam terhadap akhlak siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng, diperlukan tabel bantu (pada lampiran 19). a) Perhitungan nilai e) Memperoleh model/persamaan regresi linier sederhana = 0 + 1.

Pembahasan dan Interpretasi

Dalam penelitian ini penulis mengamati dua permasalahan yang menjadi bahan pembahasan yaitu pendidikan agama Islam, semangat belajar siswa dan pengaruh pendidikan agama Islam terhadap semangat belajar siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng. Dari F-tabel terlihat nilai Ftabel = 4,18, dan nilai analisis hipotesis yang diperoleh adalah Fhitung, sehingga Fhitung lebih besar dari Ftabel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara pendidikan agama Islam terhadap semangat kerja siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng.

Model ini menunjukkan bahwa jika pendidikan agama Islam ditingkatkan maka semangat kerja siswa akan meningkat. Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi (2) di atas diperoleh nilai sebesar 4,50% yang berarti variabilitas/keberagaman faktor pendidikan agama Islam (variabel ini. Pada pembahasan pendidikan agama Islam, penulis mengumpulkan data dengan cara menyebarkan kuesioner yang diisi oleh siswa kelas 7.A di MTsN Gorang-Gareng.

Dari kategorisasi tersebut terlihat bahwa yang terindikasi pendidikan agama Islam di kelas 7A MTsN Gorang-Gareng berada pada kategori baik dengan frekuensi 7 responden (22%), dalam kategori cukup dengan frekuensi 16 responden (52). ) %), dan pada kategori buruk dengan frekuensi sebanyak 8 responden (26 %). Dengan demikian secara umum dapat dikatakan pendidikan agama Islam siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng berada pada kategori cukup dengan persentase (52%) yang ditunjukkan oleh 31 responden. Membahas tentang semangat belajar siswa, penulis mengumpulkan data dengan menyebarkan angket yang diisi oleh siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng.

Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa semangat kerja siswa kelas 7A MTsN Gorang-Gareng berada pada kategori cukup dengan persentase (39%) yang ditunjukkan oleh 31 responden.

PENUTUP

Saran

Siswa dapat mengetahui dan memahami lebih jauh tentang pendidikan agama Islam sehingga mempunyai landasan yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman, sehingga siswa mempunyai akhlak yang baik sesuai dengan pendidikan agama Islam. Guru hendaknya mampu membina akhlak siswa dengan membekali dan membekalinya dengan pendidikan agama Islam agar siswa mempunyai akhlak yang baik dan sesuai dengan agama dan standar pendidikan Islam.

Referensi

Dokumen terkait

Yang menjadi rumusan masalah khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Bagaimana gambaran disiplinb elajar siswakelasVIII SMP Negeri 2 Hulu Gurung Kabupaten Kapuas Hulu, 2

Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden.29 Angket ini digunakan bertujuan untuk