Ulama selalu menjaga hubungan hormat dengan Habaib (yang Sunni dan bukan Syiah). Penghormatan terhadap Sunit Habaib bukan sekedar formalitas, namun juga mencerminkan nilai-nilai yang mendasari kerukunan dalam masyarakat.
Argumentasi Kiai Imad
Beberapa pihak mungkin setuju dengan pendapat Kiai Imad dan mendukung penelitian lebih lanjut untuk mencari bukti yang lebih kuat tentang keberadaan keturunan. Hal ini memungkinkan mereka melihat dan menganalisis peristiwa dengan perspektif yang lebih luas dan pemahaman yang lebih matang.
Kejanggalan Metodologis
Selain itu, ia juga mengakui bahwa Sadah Bani Alawi merupakan komunitas yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Hal ini semakin menunjukkan bahwa ia mengakui garis keturunan leluhur Habaib Bani Alawi di Indonesia.
Polemik Syajarah al-Mubarakah
- Keseimbangan Perspektif
- Validitas Kitab Syajarah al-Mubarakah
- Pola Interpretasi Yang Dipaksakan
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa kitab Syajarah al-Mubarakah (Bahrul Ansab) bisa lolos dari al-Marwazi. Meskipun kitab Syajarah al-Mubarakah tidak menyebutkan baris tersebut, namun bukan berarti kitab tersebut mengingkari baris tersebut.
Dampak dari Pernyataan Kiai Imad
- Meningkatnya Perselisihan Antar Bangsa Indonesia
- Mendegradasi Kepercayaan Umat Pada Para Ulama
- Su’ul Adab
- Kecurigaan Terdapat Unsur Politis
Hal ini tentu saja tidak hanya mencoreng nama Sayyid Abdullah al-Haddad sebagai seorang Ulama', namun juga Lagi pula, hampir semua ulama Indonesia punya hubungan keilmuan dengan Sayyid Abdullah Al-Haddad.
Pendahuluan
Dalam kajian ini penting untuk mencantumkan dan menyebutkan literatur-literatur yang mengakui keberadaan Sayyid 'Ubaidillah sebagai putra Ahmad al-Muhajir. Dengan memperhatikan literatur dari berbagai bidang, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap dan valid tentang silsilah 'Ubaidillah.
Metodologi penetapan Nasab Menurut Para Ulama
Diriwayatkan dalam Shohih Bukhora bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menerima delegasi dari Bani Abul Qois yang mengaku sebagai sebagian keturunan marga Robi'ah tanpa meminta bukti atau saksi silsilahnya. Jika kita menerapkan teori bahwa nasab harus dicatat dalam kitab-kitab sezaman, maka para ulama bisa sangat memperdebatkan nasab Nabi Muhammad ﷺ kepada Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim Alahimassalam karena tidak ada referensi manuskrip atau kitab pada masa ini yang menyebutkan keberadaannya. .
Penelusuran tentang Sayyid ‘Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir
- Ibnu Thoba-Thoba (w. 478 H)
- Hasan bin Muhammad al-'Allal (w. 490 H)
- Syaikh Ali Bin Abi Bakr al-Sakrani (W. 800an)
- Muhammad al-Kadzim al-Yamani (W. 880 H)
- Abul Khair al-Sakhawi (W. 902)
- Ibnu Hajar al Haitami (W. 974)
- Abu Muhammad al-Hijrani al-Hadlrami (W. 947)
- Sayyid Muhammad bin Ali al-Khirid (W. 960 H)
- Al-Zabidi (W. 1205 H)
- Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi
- Habib ‘Aidarus bin ‘Umar Bin ‘Aidarus al-Habsyi
- Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri
- Implementasi Teori kitab al-Ifadhoh
- Yusuf al-Nabhani
Penjelasan Ibarot: Dalam kitab ini tercatat nama Abil Jadid (bapa kepada Sayyid Jadid) sebagai anak kepada Ahmad bin Isa an-Naqib. Sayyid 'Alawi ialah Sayyid 'Ubaidillah bin Ahmad bin 'Isa bin Muhammad bin 'Ali bin Jakfar Sadiq.
Penelusuran Sejarah Melalui Salim bin Bashri bin ‘Ubaidillah
Selain sumber-sumber yang kami sebutkan di atas, masih banyak sumber yang menawarkan cerita dan kesimpulan yang sama; Menelusuri Sejarah Melalui Salim bin Bashri bin 'Ubaidillah Dalam dokumen sejarah, ada seorang tokoh Islam bernama Salim bin. Penjelasan Referensi: Dalam kitab tersebut disebutkan dengan jelas bahwa Salim adalah anak Bishri dan Bishri adalah anak Ubaidillah.
Kemudian pada kalimat berikutnya disebutkan bahwa Bishri ayah Salim adalah saudara laki-laki Alawi bin Ubaidillah, nenek moyang Syarif Ali Ba'alawi. Menelusuri Sejarah Melalui Tokoh Ulama Bani Jadid Selain Salim bin Bashri, terdapat juga catatan sejarah.
Penelusuran Sejarah Melalui Tokoh-Tokoh Ulama Bani Jadid
- Muhammmad bin Yusuf Al-Janadi (W. 732 H)
Dalam menjelaskan silsilah nenek moyangnya, al-Jundi dengan jelas menyebut nama “Abdullah bin Ahmad bin Isa”, yang jelas merupakan nenek moyang Habaib. Penjelasan rujukan: Syarif Abil Jadid merupakan salah seorang daripada keturunan Abdullah bin Ahmad al-Muhajir dan nasabnya ditulis secara terperinci dalam manuskrip di atas. Keterangan Rujukan: Dalam penjelasan nasab Ali bin Hasan ba-Jadid, Imam al-Khazraji dengan jelas menyebut Abdullah sebagai anak kepada Ahmad al-Muhajir.
Penjelasan Ibarot: Dalam kitab tersebut jelas disebutkan bahwa Jadid adalah saudara dari suku Alawi (nenek moyang suku Alawi). Keturunan Bani Jadid dan Bani Bishri konon telah inqiradh atau bubar pada awal abad keenam.
Kesimpulan Analisa
- Kitab Yang Tidak Menyebutkan Ubaidillah sebagai putra
- Kitab Yang Menyebutkan Ubaidillah sebagai putra Ahmad al-
- Rujukan Pembatal Nasab Bani Alawi adalah Salafi dan Syi'ah
Berdasarkan penelusuran, beberapa kitab tidak menyebutkan Ubaidullah/Abdullah sebagai anak Ahmad al-Muhajir. Kitab ini tidak menyebutkan Ubaidullah karena zaman penulisnya adalah masa sebelum Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir hidup. Abnaul Imam abad ke-4 yang juga ditulis oleh Ibnu Thoba-Thoba dikatakan tidak menyebut Ubaidillah/Abdullah bin Ahmad al-Muhajir.
Kitab tersebut menyebutkan Ubaidullah sebagai anak Ahmad al-Muhajir atau menerima garis keturunan Bani Alawi Muhajir atau menerima garis keturunan Bani Alawi. Nama Abdullah sebagai putra Ahmad al-Muhajir juga disebutkan dalam biografi Abil Hasan Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid. 34;al-Mu'jam": Karya Imam al-Faqih al-Hafiz Ibnu Hajar al-Haythami (meninggal 974 H) memuat beberapa keturunan Alawi dan langsung menyebut Ubaidullah/Abdullah sebagai putra Ahmad al-Muhajir di halaman 31 .
- Syekh Nawawi Banten Sangat Memuliakan Para Habaib
- Al-Dzahabi
- Imam Ibnu Hajar al-Haitami
- KH. Hasyim Asy’ari
- Guru Zaini / Guru Sekumpul
Pada bab ketiga, kita akan mendalami penghormatan Ulama terhadap habaib Bani Alawi dan mengajak pembaca untuk memikirkan nilai-nilai yang dapat kita ambil dari keteladanan mereka. Orang Muslim itu kemudian bertanya, “Kalau begitu tunjukkan padaku bukti bahwa kamu adalah Bani Alawi!” wanita itu menjawab bahwa dia adalah orang asing dan tidak ada seorang pun di daerah itu yang mengetahuinya. Laki-laki itu tercengang mendengarnya, dan Nabi melanjutkan, “Itu karena seorang wanita Bani Alawi datang kepadamu dan kamu berkata, 'Tunjukkan padaku bukti bahwa kamu adalah Bani Alawi!' Tunjukkan padaku bukti bahwa kamu juga seorang Muslim!”
Tindakan mencantumkan komentar seorang Ahlul Bait Bani Alawi sebenarnya menunjukkan bahwa ia beriman dan mengakui garis keturunannya sebagai keturunan keluarga Nabi Muhammad SAW. Menjadikan keluarga Bani Alawi sebagai sarana tawassul menunjukkan betapa beliau sangat menghargai keluarga Bani Alawi. Dan sangatlah naif jika ada yang mengaku pengikutnya namun malah menunjukkan sikap tidak hormat terhadap Habaib keturunan Bani Alawi.
Metode Penelitian
Keterhubungan Nasab Antara Para Wali Songo
Kajian ini didasarkan pada analisa terhadap sumber-sumber sejarah yang relevan antara lain naskah-naskah Kesultanan Cirebon, catatan Nasab dari Badan Nasab, Asyraf Nuqabah Irak dan kitab Nasab al-Syams al-Dhahirah dan lain-lain. Jika semua referensi tersebut menunjukkan kesimpulan geologi yang sama, maka akan menguatkan penelitian kita saat ini, yaitu mengenai garis keturunan leluhur Wali Songo. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan kekeluargaan dan hubungan kekerabatan yang terjalin di kalangan Wali Songa.
Hal ini penting untuk diketahui semua orang agar penelitian terhadap salah satu dari sekian banyak lagu wali dapat segera dijadikan referensi untuk melengkapi silsilah lagu wali lainnya. Artinya jika kita dapat menyajikan rujukan ganeologis kepada salah satu wali Songo, maka otomatis rujukan tersebut juga merupakan rujukan ganeologis kepada wali Songo yang lain. Dan dari bagan tersebut juga terlihat hubungan silsilah antara wali songo yang satu dengan wali songo yang lain.
Nasab Wali Songo Melalui Adzmatkhan
- Kitab Nasab al-Syams al-Dhahirah
- Kitab Nasab Khidmah al-Asyirah karya Assayid Ahmad bin
- Catatan Nasab dari Badan Nasab, Nuqabah Asyraf Iraq
- Catatan Nasab Sunan Gunung Jati
- Nasab Sunan Giri Berdasar 3 Manuskrip Kuno
- Riwayat Hidup Dan Makam Syaikh Jumadil Kubro
- Sayyid Abdul Malik Sebagai Keturunan Baginda Nabi
Imam Sayyidina Husain 4. Sayyidina 'Ali Zainal 'Abidin 5. Sayyidina Muhammad al-Baqir 6. Sayyidina Ja'far al-Sadiq 7. Sayyid Al-Imam 'Ali 'Uradhi 8. Sayyid Muhammad al-Naqyib 'I 9. al- Rumi 10. Ahmad al-Muhajir. 20. Sayyid Ahmad Shah Jalal / Ahmad Jalaludin Al-Khan 21. Sayyid Shaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar Al-. Ia bermula dengan tulisan dan tulisan lelaki ini, di Sunan Giri dan selepas itu dengan Bani Alawi genenem adzmatkhan-linjen.
Silsilah SUNAN GIRI / Raden Paku (Muhammad Ainul Yakin) Berdasarkan SERAT WALI SANA ASLI karya Sunan Dalem / Sunan Giri II (Koleksi Perpustakaan Negara Republik Indonesia) dan berdasarkan kitab lama Sunan Tembayat 1443 Saka, KRONIK DARI GIRI KEDATON Abad ke-17 dan rangkaian silsilah keluarga Kajoran tahun 1670. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan 21. Sayyid Shaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan 22. Sayyid Ali Nurul Alam / Raja Umdha bergelar Ratu Bani Umdha23. Sayyid Abdullah Umadtuddin / Sultan Hud Mesir.
Kritisi Klaim Nasab Wali Songo Melalui Jalur lain
- Melalui Musa al-Kadhim
- Melalui Syaikh Abdul Qadir al-Jailani
Salah satu yang paling menggemparkan adalah Bahtsul Masail di salah satu pesantren yang mengklaim Wali Songo adalah keturunan Musa al-Kadzim. Kembali pada hasil pemeriksaan putusan Bahtul Masail di atas, maka angka 14 dan 15 menjelaskan pernyataan Bahtsul Masail bahwa Sunan Gunung Jati merupakan keturunan Musa al-Kadzim dari garis keturunan Ahmad bin Abdullah. Klaim tersambungnya jalur Wali Songo melalui Musa Al Kadzim merupakan pernyataan berdasarkan referensi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, setidaknya demikian yang diungkapkan Raden Ayu Linawati.
Oleh karena itu, klaim adanya silsilah Wali Songo melalui Musa al-Kadzim harus dievaluasi secara cermat dan kritis. Di luar Bahtsu ini, ada klaim bahwa Nasab Wali Songo ada hubungannya dengan Musa al-Kadzim melalui jalur Muhammad al-Mahdi bin Hasan Al-Askari. Tentunya hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, mengingat belum pernah ada publikasi terbuka dari kubu yang mengklaim garis melalui Musa al-Kadzim mengenai referensi penentuan garis Wali Songo melalui garis Musa al-Kadzim.
Keturunan Wali Songo
Perkara penentuan silsilah Wali Songo melalui silsilah al-Jailani banyak ditemukan pertentangan dengan beberapa sumber yang valid untuk dijadikan acuan. Penjelasan Ibarot: dalam klaim mengenai silsilah Wali Songo melalui jalur al-Jailani disebutkan bahwa Wali Songo terhubung melalui Sholeh bin Abdur Qadir al-Jailani. Klaim Wali Songo yang tidak mempunyai anak merupakan klaim yang justru merugikan banyak pihak.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, kami mencoba meneliti dan menelusuri keturunan Wali Songo. Seperti yang telah kami jelaskan di awal, tradisi keturunan Wali Songo adalah merahasiakan asal usulnya. Hingga tulisan ini dibuat, kami masih berusaha mencari dan melacak catatan atau manuskrip valid yang secara ilmiah membuktikan bahwa Wali Songo memiliki keturunan.
Kewajiban Menghormati Ahlul Bait Baginda Nabi Muhammad
Menghormati Ahlul bait juga tercermin dalam berbagai hadis Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya mencintai dan menafkahi keluarga. Hadits ini menegaskan bahwa penghormatan terhadap Ahlul bait adalah bagian dari menjaga kemurnian dan kebenaran ajaran Islam. Menghormati umpan Ahlul bukan sekedar kewajiban tapi juga tanda kecintaan kita kepada Rasulullah.
Hal ini dapat kita lihat dalam banyak literatur akhlak yang ditulis oleh kalangan ahlul baiting. Penjelasan Ibarot: Habib Ahmad Bin Zain al-Habsyi mengenang bahwa nilai-nilai luhur nenek moyang Ahlul Bayt tidak boleh hilang pada diri seorang habib yang ditemuinya. Kita bisa melihat bukti nyata bahwa banyak tokoh-tokoh ulama terkemuka dari kalangan Ahlul-Bay seperti Sayyid Abdullah al-Haddad, Sayyid Umar Syatha, Sayyid Murtadla az-Zabidij, Habib Zain bin Smith, Habib Salim As-Siathiri dan masih banyak lagi yang lainnya. .
NASAB DALAM ISLAM
- Kaidah-kaidah penting
- Tes DNA Tidak Dapat Menolak Nasab
- Menuduh Nasab Orang Lain Adalah Dosa Besar
- Menyambungkan nasab kepada selain leluhur sebenarnya
- Melaknat orang lain
Menurut peraturan Islam, seseorang dilarang sama sekali membuat tuduhan palsu tentang keturunan orang lain. Dalam beberapa Hadis dijelaskan bahawa perbuatan menuduh keturunan orang lain ini adalah kebiasaan orang-orang yang jahil. Sebahagian Ulama' menjelaskan bahawa tuduhan keturunan orang lain telah diisytiharkan haram apabila keturunan itu telah dibuktikan dalam undang-undang Syariah.
Maksudnya: Tha'nu finnasab ialah menuduh keturunan orang lain sama ada dengan menghina atau menghinanya. Imej itu apabila seseorang menyerang keturunan orang lain dengan berkata: 'orang itu bukan keturunan si fulan'. Seseorang tidak boleh, untuk sebarang motif tertentu, cuba mengubah dan menggantikan salasilahnya dengan orang lain.