Keselamatan dan kesehatan kerja berkaitan dengan menjaga dan melindungi para pekerja serta sarana dan sumber daya di tempat kerja. K3 dapat menyelamatkan pekerja (orang) dengan mencegah mereka terluka atau menjadi sakit karena bahaya di tempat kerja mereka. Para profesional keselamatan (manajer lini) sangat memperhatikan K3, mereka berusaha untuk mencegah terjadinya kerugian besar (katastropik). Sebagai contoh profesional keselamatan di pabrik, ketika mereka melakukan prainspeksi terhadap mesin pabrik, mereka dapat mencegah ledakan atau kebakaran yang dapat menghancurkan seluruh bangunan dengan memperhatikan serta meminimalisir seluruh potensi yang dapat menyebabkan kerusakan. Keselamatan dan kesehatan kerja juga merupakan fungsi manajemen (kontrol) dalam suatu organisasi yang berkaitan dengan peningkatan kualitas dan efisiensi. Namun bagi beberapa perusahaan, tanggung jawab untuk melindungi kehidupan pekerja tidak begitu penting daripada tujuan lainnya.
Perusahaan berfokus pada produktivitas dan keuntungan dengan mengesampingkan keselamatan dan kesehatan kerja. Dari sudut pandang manajernya mungkin melihat cedera dan penyakit sebagai bagian rutin dari pekerjaan. Pada kenyataannya, biaya yang diperlukan untuk menutupi kerugian (kecelakaan) di tempat kerja mungkin jauh lebih besar daripada biaya penyediaan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Peran profesional keselamatan (manajer lini) yaitu untuk memantau kondisi tempat kerja, memberi saran kepada manajemen mengenai moral, hukum, dan ekonomi di tempat kerja. Sebagai manajer lini yang benar, mereka akan meyakinkan manajemen bahwa menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat adalah hal yang penting untuk dilakukan.
Kepedulian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja bukanlah masalah yang baru. Sejak 2.000 tahun yang lalu masalah kesehatan dan keselamatan sudah diamati, terutama berkaitan dengan cedera dan kerugian pribadi. Dokter Yunani dan Romawi, yang berpraktik antara 400 SM dan 300 M, menyatakan keprihatinan terhadap kesehatan individu yang terpapar logam. Galen, seorang dokter Romawi yang hidup pada abad kedua, menulis tentang penyakit akibat kerja dan bahaya kabut asam bagi penambang tembaga. Dia juga prihatin dengan pekerjaan pertambangan dan kimia, dia mencatat beberapa penyakit akibat bekerja di profesi tersebut. Bernardo Ramazzini, seorang dokter Italia sekitar tahun 1700 menerbitkan “De morbis artificum diatribe” atau Penyakit Pekerja, dianggap sebagai risalah pertama tentang penyakit akibat kerja. Dia dianggap oleh beberapa orang sebagai bapak kedokteran okupasi juga sebagai bapak kebersihan industri, ia merekomendasikan dokter untuk bertanya pada pasien mereka “apa yang anda perdagangkan?”. Selama periode antara 1760 dan 1840 M, sejarah kemajuan teknologi. Dr. Percival Pott (sekitar tahun 1775) mengidentifikasi bentuk kanker pertama. Dia mengamati kanker skrotum (testis) akibat asap dari cerobong asap dan mengaitkannya dengan paparan tar batubara dan arang halus. Dengan teknologi yang maju dari revolusi industri, bahaya keselamatan dan kesehatan kerja semakin meningkat. Inovasi terhadap permesinan tekstil, tungku pengecoran, mesin uap, dan inovasi lainnya menciptakan lingkungan tempat kerja yang baru dan lebih berbahaya.
Profesional keselamatan memperdulikan keselamatan sumberdaya manusia dan perusahaan. Mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
sering diperoleh dari pendidikan formal dan dari pengalaman di bidang keamanan.
Profesional keselamatan berusaha untuk mencegah kerugian perusahaan melalui penerapan sistematis prinsip-prinsip yang diambil dari berbagai disiplin ilmu, termasuk teknik, pendidikan, psikologi, fisiologi, kebersihan industri, fisika kesehatan, dan manajemen. Mereka menggunakan teknik yang disebut
“pencegahan kerugian” dan “pengendalian kerugian” untuk mencapai tujuan.
“Pencegahan kerugian” yaitu program yang dirancang untuk memperbaiki dan mengidentifikasi potensi masalah kecelakaan sebelum mengakibatkan kerugian finansial atau cedera. “Pengendalian kerugian” adalah program yang dirancang untuk meminimalkan kerugian finansial berbasis insiden. Contoh penggunaan program tersebut yaitu “program pencegahan kebakaran”, karyawan dilatih untuk memeriksa area sekitar dan menghilangkan bahan yang mudah terbakar seperti kain atau kardus, hal ini termasuk dalam “pencegahan kerugian”. Sedangkan pelatihan karyawan dalam penggunaan alat pemadam kebakaran, yaitu termasuk dalam “pengendalian kerugian”. Evaluasi risiko di tempat kerja dimulai dari mengidentifikasi jenis bahaya yang ada di fasilitas seperti toilet, dapur, dan lain- lain. Kecelakaan atau aksiden adalah kejadian yang tidak direncanakan.
Profesional keselamatan dibagi menjadi beberapa pekerjaan. Antara lain,
“Ahli Kebersihan Industri” adalah orang yang terlatih dalam bidang teknik, fisika, kimia, atau biologi, mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang efek pada kesehatan agen kimia dan fisik di bawah berbagai tingkat paparan. Ahli kebersihan industri bertugas dalam pemantauan dan analisis untuk mendeteksi tingkat paparan dan pengendalian bahaya. “Manajer Risiko” adalah orang bertanggung jawab atas program asuransi dan bertugas untuk meminimalkan kerugian akibat kebakaran, kecelakaan, bencana alam, dan kerugian buatan manusia lainnya. “Profesional Keselamatan” adalah orang yang memiliki pengalaman di bidang keamanan. “Insinyur Keselamatan” adalah orang yang bertugas membangun (mendesain) lingkungan dan tempat kerja untuk mencapai perlindungan yang optimal. “Manajer Keamanan” berperan untuk membangun dan mempertahankan keselamatan organisasi, manajer keselamatan bertugas membuat program keselamatan seperti mengelola bawahan, termasuk koordinator pencegahan kebakaran, ahli kebersihan industri, spesialis keselamatan, dan personel keamanan.
Peran dan tanggung jawab profesional keselamatan tergantung pada pekerjaan di mana mereka dipekerjakan (Kohn, Timmons, dan Besesi 1991).