KABILAH ARAB DAN DIALEKNYA (Kapita Selekta Ilmu Qira’at) Aulia Safitri, Muhammad Iqbal Yuriza Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Agama Islam
Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta
Email: [email protected], [email protected]
Abstrak
Penelitian ini mencoba menjelaskan sejarah pertumbuhan bahasa Arab sejak zaman awalnya, dialek Arab yang wujud di dunia Arab sebelum dan selepas kedatangan Islam serta berkaitan erat antara Qira’at al-Qur’an al-Karim dengan dialek Arab yang beragam. dialek ini juga menyentuh perkembangan ilmu nahu dan balaghah Arab serta tokoh tersohor yang telah menyumbang jasa yang besar dalam pertumbuhan kedua-dua ilmu tersebut. Al-Quran menggambarkan tentang keberadaan bangsa-bangsa dan munculnya suku, hikmah saling mengenal. Bangsa Arab adalah bangsa yang sangat menghormati dan mengayomi nenek moyangnya. Oleh karena itu, mereka selalu mengasosiasikan namanya dengan nama ayah atau kakeknya, seperti Fulan bin Fulan bin Fulan bin Fulan dst. Berangkat dari tradisi Arab dalam melestarikan nasab, peneliti berpendapat perlunya memahami suku-suku Arab dan dialeknya, terutama yang terdapat dalam Al-Quran.
Karena Anda bisa menemukannya dengan mempelajari dialek suku Arab. Mulai tahun dan seterusnya, taraf hidup suku-suku Arab ditentukan, dan faktor gaya hidup mempengaruhi dialek masyarakat. Oleh karena itu, peneliti menggunakan tinjauan pustaka dan metode penelitian kualitatif untuk menyelidikinya. Hubungan antara dialek dan bahasa adalah Khas (khusus) dan 'aam (umum). Semua dialek adalah bahasa, tetapi tidak sebaliknya. Suku di Jazirah Arab secara umum terbagi menjadi dua kelompok. Salah satunya adalah baaidah (yang sudah punah) dan baaqiah (yang masih ada) Ada dua dialek yang menghuni kabilah ini: al-Arabiya al-Ba'aida (bahasa Arab yang sudah punah) dan al-Arabiya al-Baqiyah (bahasa Arab yang masih ada), meskipun jumlah dialeknya berbeda-beda. Ada yang mengatakan ada lebih dari tujuh di dalam Al-Quran.
Ada juga yang mengatakan sampai empat puluh dan terkait Sab`atu Ahruf ada pula yang menafsirkan yaitu Lahjah yang banyak.
Kata Kunci: Dialek, Al-Qur'an, Kabilah, Arab
Pendahuluan
Bahasa Arab baku adalah bahasa Quraisy yang digunakan Al-Qur'an dan Nabi Muhammad Saw. Bahasa ini selanjutnya disebut sebagai bahasa Arab fusha. Bahasa Arab fusha adalah ragam bahasa yang ditemukan di dalam Al-Qur'an, hadis Nabi dan warisan tradisi arab. Bahasa fusha ini digunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi dan untuk kepentingan kodifikasi karya-karya puisi, prosa dan penulisan pemikiran intelektual secara umum.1 Sedangkan bahasa amiyah adalah ragam bahasa yang digunakan untuk urusan- urusan biasa sehari-hari. Pada jaman jahiliah atau pra- Islam masyarakat memiliki bermacam-macam dialek akibat perbedaan tempat tinggal dan kebutuhan sosial-budaya masing-masing kabilah.
Setelah datangnya Islam, masyarakat Arab lebih suka menggunakan Bahasa fusha yang digunakan oleh Al-Qur'an dan hadis Nabi, dalam rangka makin memperkokoh persatuan antar mereka. Dialek atau lahjah ini berasal dari bahasa Yunani yakni dialektos yang berarti logat setempat atau se-daerah yang berbeda dengan bahasa baku (standar), karena kelainan ucapan dan aturan-aturan tata bahasa.2 Bangsa Arab dahulu memamng mempunyai beberapa lahjah (dialek) yang beragam antara satu kabilah dengan kabilah lainnya baik dari segi intonasi, bunyi, maupun hurufnya namun bahasa Quraisy mempunyai kelebihan dan keistimewaan tersendiri dal lebih tinggi daripada Bahasa dan dialek lain. Oleh karena itu perbedaan dan keragaman dialek-dialek bangsa Arab ini, maka Al-Qur’an yang diwahyukan oleh Allah SWT. Kepada Rasulullah SAW. Akan menjadi sempurna kemukjizatannya apabila dapat menampung berbagai dialek dan macam-macam perbedaan bacaan Al-Qur’an sehingga dapat memudahkan mereka untuk membaca, menghafal dan memahaminya.
Maka dari itu mengenai latar belakang diatas makalah ini akan membahas mengenai pembagian kabilah bangsa Arab, dialek (lahjah) juga contohnya.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research atau penelitian kepustakaan dan metode penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Jenis penelitian yang ditetapkan berbentuk kajian pustaka, yaitu mengungkapkan secara argumentatif dari sumber data yang berupa kepustakaan.3 Menurut Supranto, jenis riset dapat digolongkan menurut 1) alasannya, 2)tempat melakukan penyelidikan dan 3)metode pengumpulan data dan tekniknya. Menurut alasannya riset dibagi menjadi riset dasar (basic resarch) dan riset terapan (applied research). Menurut tempatnya riset dibagi menjadi riset perpustakaan (library research), riset laboratorium (labroratory resarch), dan riset lapangan (field research).
Hasil dan Pembahasan
A. PEMBAGIAN KABILAH ARAB
Pembahasan tentang bangsa arab dan kabilahnya bukanlah sesuatu yang ringan. Perlu dilakukan observasi atau penelitian yang panjang terkait hal ini. Perlu diketahui, bahwa Bangsa Arab adalah penduduk asli jazirah.4 Semenanjung yang terletak dibagian barat daya asia adalah daerah yang tandus dan kering, sebab sebagian besar permukaannya merupakan hamparan padang pasir. Bangsa arab telah menjadikan asas masyarakatnya bercabang-cabang menjadi suku-suku (Kabilah-Kabilah) bahkan hal itu dijadikan mereka sebagai asas nasab yang berasal dari hubungan darah daging. Sehingga bisa dikatakan hubungan antara satu dengan yang lainnya didasari atas
1 Muh. Nizar Shazana, Variasi Dialek Bahasa Arab, Al-Maraji’, Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol. 7 No.1, 2023, h. 3.
2 Hamzah, Lahjah Arabiyah: Sebuah Studi Dialektologis, International Conference on Education, Islamic Studies, and Local Wisdom (ICEIL) 2022, h. 215.
3 Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid 1, Yogyakarta: Yogya Yayasan Penerbit Psyeology UGM, 1990, hal. 54
4 Ahmad Amin, Fajr al-Islam, (Singapura-Kota Baru-Penang: Sulaiman Mar’i, 1965), h.1.
hubungan darah. Lebih dari itu, bangsa arab sebelumnya sangat menjunjung tinggi nasab mereka sejak dahulu dan menyambungkan nasab mereka kepada Ismail dan Ibrahim.
Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya bangsa arab tidak mampu memberikan silsilah nasab lama secara akurat dan mendetail sebab nasab dan suku-suku yang mereka sebarluaskan terjadi kerancuan dan tumpang tindih. Sehingga sering kita dapati dalam sejarah, beberapa suku berinduk pada suku yang lain sebagai pelindung dan berloyal kepadanya, lalu hilanglah jati diri nasabnya, karena melebur kepada kabilah atau suku yang lain.
Dalam mempelajari sejarah, penting bagi kita mengatahui kondisi sosiologi kabilah-kabilah bangsa arab, apakah termasuk golongan bangsa maju atau apakah terbelakang. Secara umum, dari segi kependudukannya, Bangsa arab yang mendiami jazirah arab dibagi menjadi dua golongan besar: Hadhariyah dan Badawiyah.
Untuk mengetahui perbedaan ini, terlebih dahulu mengetahui pembagian geografisnya, dimana arab bagian utara bernasab kepada Ismail bin Ibrahim, dan bagian selatan mencap dirinya bangsa yaman, karena mereka adalah nasab yang tersisa dari bangsa aribah.
1. Kabilah Hadhariyah yaitu penduduk bangsa arab yang menetap disuatu tempat, baik dikota- kota ataupun daerah-daerah. Bermata pencaharian sebagai petani, pedagang juga industri.
Berbeda dengan kabilah badawiyah, kabilah hadhariyah justru sangat berpeluang untuk membangun peradaban. menempati wilayah barat, seperti Hijaz, Makkah, Madinah, dan juga Syam. Tingkat pertemuan orang-orang perkotaan dengan masyarakat luar yang begitu intens membiasakan mereka berbicara lambat dan tidak keras. Oleh karena itu, cara pelafalan huruf hamzah, misalnya, cenderung dilemahkan. Misalnya a’andzartahum menjadi aandzartahum, kata yu’minuun menjadi yuuminun. Diantara kabilah yang termasuk kabilah hadhariyah,yaitu:
a. Suku Quraisy:
Suku Quraisy (bahasa Arab: شيرقةملأا) adalah suku bangsa Arab keturunan Ibrahim, yang menetap di kota Mekkah dan daerah sekitarnya. Klan-klan yang menetap di tengah kota disebut 'Quraisy Lembah' (Quraisy al-Batha), sementara yang menetap di daerah sekeliling kota disebut 'Quraisy Pinggiran' (Quraisy az-Zawahir).5
Suku Quraisy pada saat itu terkenal sifatnya akan kekacauan, sukar dikendalikan, terpecah belah antar suku, kasar, saling bermusuhan, sangat penuh perasaan, fasih berbicara dan puitis. Quraisy menjadi suku terkemuka di Mekkah sejak sebelum kelahiran Muhammad dan pada dasarnya menguasai kota. Sebelum kelahiran Muhammad, suku ini terbagi menjadi beberapa klan, masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda atas kota Mekkah dan Ka'bah. Terjadi rivalitas antarklan, dan makin meruncing selama Muhammad hidup. Beberapa pemimpin klan tidak menyukai klain Muhammad akan kenabian dan mencoba menghentikannya dengan menekan pemimpin Bani Hasyim saat itu, Abu Thalib. Banyak pula dari klan tersebut yang menghukum pengikut Muhammad, seperti melakukan boikot. Hal inilah yang menyebabkan keluarnya perintah hijrah ke Ethiopia, dan kemudian ke Madinah. Setelah Penaklukan Kota Makkah pada tahun 630, Muhammad memaafkan orang Quraisy yang sebelumnya menekan dan memusuhinya, kedamaian terjadi. Setelah meninggalnya Muhammad, rivalitas klan meningkat, terutama siapa yang berhak menjadi Khalifah, hal yang menyebabkan terjadinya pemisahan Sunni dan Syi'ah.
b. Bani Tsaqiif
Bani Tsaqif (Arab: فيقث ونب) adalah salah satu kabilah Arab yang penting, yang merupakan penduduk utama kota Tha'if, sebuah kota di Arab Saudi. Para keturunan kabilah ini biasa menggunakan nama panggilan (nisbah) Ats-Tsaqafi (يفقثلا). Saat ini selain di Tha'if dan Arab Saudi, mereka telah banyak tersebar pula di negara-negara Arab lainnya, seperti di Suriah, Libanon, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, Yordania, Irak, serta di Provinsi Hatay in Turki dan di Iran. Bani Tsaqif adalah keturunan dari Qasiyy bin
5 Muhammad Martin, Kisah Hidup Nabi (Jakarta: Serambi, 2002), h.2
Munabbih bin Bakr bin Hawazin, yaitu salah seorang keturunan dari Bani Hawazin. Ia memperistri anak dari Amir bin al-Zarib al-Adwani, seorang pemimpin Wadi Wajj (nama lama Tha'if), dan sejak itu mendapat julukan "Tsaqif" (artinya cerdas, mudah paham). Pada masa pra Islam, Bani Tsaqif terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Bani Malik dan Ahlaf.
Ketika itu untuk menjaga keseimbangan politik, mengembangkan ekonomi, dan menjaga keamanan kota Tha'if, Bani Malik menjalin hubungan erat dengan Bani Hawazin, sedangkan Ahlaf menjalin hubungan erat dengan Bani Quraisy.
Bani Tsaqif dikunjungi oleh Nabi Muhammad pada akhir bulan Syawal tahun kesepuluh setelah ia memulai dakwahnya. Nabi Muhammad saat itu mendatangi para pemuka Bani Amr bin Umair, salah satu dari kelompok Ahlaf. Namun upaya pertama tersebut mengalami kegagalan. Bani Tsaqif pada masa itu memuja berhala Al-Laata. Dalam pengepungan kota Tha'if selama kurang lebih sepuluh hari setelah Perang Hunain, Bani Tsaqif dan Bani Hawazin dapat bertahan.[ Namun, perpindahan Bani Tsaqif ke dalam Islam terjadi tidak lama sesudahnya, yaitu setelah Perang Tabuk. Atas perintah Nabi Muhammad, maka berhala Al-Laata kemudian dihancurkan oleh utusan kaum Muslimin, yaitu Abu Sufyan bin Harb dan Mughirah bin Syu'bah.
Berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, dari tujuh dialek bahasa Arab (sab'ah ahruf) di mana Al-Qur'an pada awalnya diturunkan, salah satunya adalah dalam dialek Bani Tsaqif.6
c. Bani Hawazin
Bani Hawazin adalah salah satu kabilah Arab keturunan Qais 'Ailan, yaitu suku bangsa Arab yang menetap di wilayah sekitar Tha'if di Arabia. Keturunan Bani Hawazin tersebar di Timur Tengah dan Afrika Utara sebab anggota mereka banyak terlibat dalam penaklukan Muslim ke Suriah, Irak, Mesir, Afrika Utara (terutama Bani Hilal atau Bani Sulaim) dan Spanyol. Keturunan mereka di Suriah umumnya adalah Muslim Sunni, sedangkan keturunan mereka di Arabia saat ini dikenal dengan nama 'Utaibah. Bani Hawazin merujuk pada tokoh bernama Hawazin bin Mansyur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais 'Ailan, yang adalah keturunan dari Adnan. Adnan menurut para ahli silsilah Arab merupakan salah satu keturunan Ismail, yang merupakan salah satu dari nenek moyang bagi suku-suku Arabia utara. Dari Bani Hawazin muncullah pecahan sukunya, antara lain Bani Sa'ad bin Bakar, Bani Jasyam bin Bakar, Bani Nashar bin Muawiyah, Bani Tsaqif, dan banyak lagi, yang membentuk persekutuan Hawazin (Ulya Hawazin). Persekutuan kabilah Hawazin tersebut sering bekerja sama dalam menghadapi persaingan dengan kabilah besar lain, misalnya menghadapi Bani Quraisy di Mekkah.
Berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, Al-Qur'an pada awalnya diturunkan dalam tujuh dialek bahasa Arab (sab'ah ahruf), di mana salah satunya adalah dalam dialek Bani Hawazin.7
d. Bani Kinanah
Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Arab: ةكردم نب ةيمزخ نب ةنانك) adalah tokoh bangsa Arab dan nenek moyang Bani Kinanah dari suku-suku kabilah Bani Mudhar. Ia juga merupakan leluhur Nabi Muhammad dan Bani Quraisy melalui jalur anaknya yang bernama An-Nadhar bin Kinanah. Nama kinanah dalam bahasa Arab berarti 'tempat anak panah'.
Pada masa pra-Islam, puak-puak Bani Kinanah menetap di sekitar kota Mekkah;
terbentang sejak dari Tihamah di sebelah barat daya yang berbatasan dengan wilayah Bani Hudzail, hingga sebelah timur laut yang berbatasan dengan wilayah Bani Asad bin Khuzaimah.8
6 Bani Tsaqif - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas diakses pada 29-09-2023.
7 Bani Hawazin - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas diakses pada 29-09-2023.
8 Kinanah bin Khuzaimah - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas diakses pada 29-09-2023.
1) Suku Aus dan Khajraz
Bani Aus dan khajraz adalah dua kabilah Arab yang tinggal di Madinah pada masa awal penyebaran agama Islam. Nenek moyang Bani Aus berasal dari daerah Yaman, yang hijrah ke Yathrib (nama lama Madinah) setelah terjadi bencana pecahnya bendungan Ma'rib.
Nama kabilah Bani aus berasal dari nama Al-Aus bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr Muzaiqiya, Sedangkan nama kabilah khajraz berasal dari nama Al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr Muzaiqiya, yang mana Amr Muzaiqiya adalah salah seorang pemimpin Bani Azad yang memimpin kaumnya berhijrah dari Yaman, Bani Aus dan kerabatnya Bani Khazraj adalah keturunan dari ibu yang sama, yaitu Qailah binti Kahil istri Haritsah bin Tsa'labah, dan dengan demikian secara bersama-sama juga mendapat julukan Bani Qailah.
Sebelum dipersatukan melalui Piagam Madinah. Banu Aus bersekutu dengan suku-suku Yahudi Bani Qurayzhah dan Bani Nadhir untuk menghadapi Bani Khazraj dan sekutunya. Setelah masuk Islam, Bani Aus dan Bani Khazraj disebut secara bersama-sama sebagai kaum Anshar. Kaum Anshar dan kaum Muhajirin selanjutnya bersatu dalam mendukung kepemimpinan Muhammad dan para khalifah penerusnya dalam menegakkan pemerintahan serta menyebarkan agama Islam, terutama di Madinah serta Jazirah Arabia pada umumnya. 9
2. Kabilah Badawiyah (Nomadis) yaitu penduduk padang pasir, tinggal dipedalaman dengan tanah yang gersang dan tandus. Kabilah Badawiyah ini menempati jazirah arab sebelah timur. Memiliki kebiasaan suka berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lainnya untuk mencari sumber kehidupan. Bermata pencaharian sebagai peternak, baik itu ternak kambing, unta, biri-biri ataupun kuda. Kehidupan yang seperti inilah membuat kabilah badawiyah tidak memungkinkan untuk membuat peradaban dan menyebabkan kehidupan sejarahnya tidak dapat diketahui dengan jelas. Menempati Jazirah Arab sebelah timur, seperti Ubail, Thaif, sampai ke Najed, sekarang Riyadh.
Dialek mereka cenderung kuat, menggunakan penekanan atau syiddah dalam berkata- kata. Dalam pengucapan hamzah, misalnya, harus jelas. Huruf hamzah pada pengucapan kata a-andzartahum atau al ardlu benar-benar terucapkan. Di sisi lain, mereka suka mempersingkat kata-kata. Misalnya, ya’lamuma, mereka singkat menjadi ya’lamma. Kata fihi hudan menjadi fiihudan.
Berikut ini kabilah yang termasuk kabilah badawiyah, yaitu:
a. Bani Tamim:
Bani Tamim (Arab: ميمت ونب) adalah salah satu kabilah Arab terbesar dan paling luas penyebarannya di Semenanjung Arab, pantai Mediterania timur, dan Irak.[ Bani Tamim terbagi menjadi banyak sekali sub-suku, antara lain Zaid Manah, Hanzhalah, Rayah, Kulaib, Yarbu', Nihsyal, dan Majasya'. Di antara klan yang terkenal saat ini adalah keluarga Emir Al-Thani yang menguasai Qatar.
Bani Tamim adalah keturunan dari tokoh bernama Tamim bin Murr bin Ad, yaitu salah seorang dari keturunan Ilyas bin Mudhar, yang tak lain adalah salah seorang nenek moyang Nabi Muhammad. Pada masa pra-Islam, mereka menetap di Nejd, Yamamah, Bahrain, hingga Lembah Eufrat. Bani Tamim masuk Islam pada tahun ke-2 Hijriah.10
b. Suku Bakr
Bani Bakar atau Bani Bakr adalah salah satu kabilah dalam suku Quraisy.
Karakter utama dari Bani Bakar adalah handal dalam berperang. Bani Bakar
9 Bani Aus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas diakses pada 29-09-2023.
10 Bani Tamim - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas diakses pada 29-09-2023
memiliki permusuhan yang lama dengan Bani Khuza'ah dan berlanjut hingga masa kenabian Muhammad.
Bani Bakar merupakan salah satu kabilah dari suku Quraiys. Para pria yang telah menikah yang menjadi anggota Bani Bakar dikenal dengan moral yang tinggi dalam berperang. Para perempuan mereka yang sudah menikah suka membacakan puisi ketika perang akan dimulai. Puisi ini berisi kalimat yang memotivasi para suami untuk memperoleh kemenangan dalam peperangan. Salah satu buktinya adalah kemenangan suku Quraisy dalam Perang Dzi Qar melawan bangsa Persia.11
c. Suku Taghlib
Bani Taghlib (bahasa Arab: بلغت ونب), juga dikenal sebagai Taghlib ibn Wa'il, adalah suku Arab yang berasal dari Najd ( Arab Tengah), tetapi kemudian bermigrasi dan mendiami Jazira (Mesopotamia Atas) dari akhir abad ke-6 dan seterusnya. Suku induk mereka adalah Rabi'ah, dan dengan demikian mereka menelusuri keturunan mereka ke Adnanites .
Taghlib adalah salah satu suku nomaden yang paling kuat dan kohesif di era pra-Islam dan dikenal karena perang pahit mereka dengan kerabat mereka dari Banu Bakr, serta perjuangan mereka dengan raja-raja Lakhmid dari al-Hira di Irak ( Mesopotamia Bawah ). Suku itu memeluk Kristen Miafisit dan sebagian besar tetap Kristen lama setelah kedatangan Islam pada pertengahan abad ke-7.
Setelah oposisi awal terhadap Muslim, Taghlib akhirnya mengamankan tempat penting bagi diri mereka sendiri dalam politik Umayyah . Mereka bersekutu dengan Bani Umayyah dan terlibat dalam banyak pertempuran dengan pemberontak suku Qaysi selama perseteruan Qays-Yaman di akhir abad ke-7.
Sejumlah kecil suku Taghlibi masuk Islam selama era Umayyah (661–750) dan awal era Abbasiyah (abad ke-8), termasuk komunitas Taghlibi kecil di Kufah, beberapa suku di Qinnasrin dan individu-individu terkenal, seperti Umayyah penyair istana Ka'b ibn Ju'ayl dan 'Umayr ibn Shiyaym. Sebagian besar tetap Kristen selama periode ini. Kemudian di era Abbasiyah, pada abad ke-9, sejumlah besar suku Taghlibi memeluk Islam dan mencapai jabatan yang lebih tinggi di negara bagian. Rupanya, konversi massal Taghlib ke Islam terjadi pada paruh kedua abad ke-9 pada masa pemerintahan al-Mu'tasim (memerintah 833–842).
Sekitar waktu yang sama, Malik ibn Tawk membujuk Sahl ibn Bishr, cicit al- Akhtal, untuk masuk Islam bersama dengan semua keturunan al-Akhtal. Banu Habib masuk Kristen pada tahun 935 ketika mereka membelot ke Byzantium.
Sejarawan Asa Eger berkomentar, "Gagasan bahwa mereka [Banu Habib] masuk Kristen mungkin hanya sebagian benar, karena banyak yang mungkin masih [telah] mempertahankan identitas masa lalu Kristen mereka.12
B. Perbedaan Lughah (Bahasa) dan Lahjah (Dialek)
Bahasa adalah alat komunikasi yang terorganisasi dalam bentuk satuan-satuan seperti kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa juga didefinisikan sebagai kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. Kajian ilmiah bahasa disebut ilmu linguistik. Pengertian lain tentang bahasa adalah Bahasa adalah pola tanda dan simbol, alat pengetahuan, dan bahasa adalah sarana pemahaman dan yang paling penting di antara anggota masyarakat di semua bidang kehidupan. Tanpa bahasa, orang tidak bisa aktif.
Bahasa Arab adalah suatu bahasa dari rumpun bahasa semit selatan yang digunakan oleh orang-orang yang mendiami semenanjung Arabiyah, dibagian Barat Daya benua Asia.
11 M. Syamsul Huda, dkk,, Feminisme dalam Peradaban Islam, (Surabaya: Pena Cendekia, 2019), h. 15.
12 Taghlib - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas diakses pada 29-09-2023.
Setelah menempuh perjalanan berabad-abad, bahasa Arab kini menjadi bahasa resmi di berbagai Negara, seperti Al-Jazair, Irak, Libanon, Libya, Maroko, Mesir, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Tunisia, dan Negara-negara lain disemenanjung Arabiah.13
Para ilmuan dan cendekiawan sepakat bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang paling lama digunakan dan lebih awal munculnya, dan ia tergolong dalam bahasa semit (samiyah) yang lebih maju, lebih lengkap dan lebih dekat dengan bahasa ibu dengan bahasa- bahasa yang seasal dengannya yaitu bahasa Suryaniyah, bahasa Asyuriah, bahasa Habasyiyah dan bahasa Babilonia. Karena tersebar luasya dan juga interaksinya yang intens dan panjang dengan berbagai bahasa dan budaya lain, maka sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk tetap mempertahankan keutuhan bahasa Arab yang semula tanpa memunculkan dialek-dialek (‘ammiyyah).
Sebagai bahasa bersama atau umum (al-lughah al-musytarakah), bahasa Arab terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu bahasa Arab fusha dan ‘ammiyyah. Bahasa Arab fusha merupakan bahasa resmi yang banyak dipergunakan dan dipahami oleh semua orang Arab.
Ia digunakan dalam forum-forum resmi, bidang kebudayaan dan ilmu, bahasa puisi da prosa, surat kabar, serta buku-buku. Bahasa Arab fusha ini berasal dari salah satu dialek- dialek bahasa Arab yang ada yaitu dialek Quraisyi. Kemenangan dialek Quraisyi ini didukung oleh banyak faktor seperti agama, ekonomi, politik, dan kekayaan bahasa yang dimiliki oleh dialek Quraisyi sendiri. Sehingga, dengan banyak dipergunakan oleh semua golongan, dan mempengaruhi serta mengalahkan pamor dialek-dialek lainnya yang sering disebut bahasa Arab ‘ammiyyah.14
Bahasa Arab ‘ammiyyah merupakan bahasa-bahasa yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari bukan bahasa dalam forum resmi atau ilmiah. Ia adalah dialek-dialek yang terdapat atau berasal dari bahasa Arab. Dialek-dialek ini adalah ragam bahasa Arab yang memiliki ciri khusus yang berbeda dengan ragam-ragam bahasa Arab lainnya. Namun, semua ragam bahasa itu tetap memiliki ciri umum yang menyatukan semuanya dalam satu bahasa, yaitu bahasa Arab.
Sedangkan dialek (تاجهللا) menurut para ahli bahasa Arab adalah bahasa dan huruf yang digunakan oleh sekelompok orang dalam rumpun tertentu yang menyebabkan adanya perbedaan ucapan bahkan bacaan antara satu dengan yang lainnya. Lahjah adalah variasi bahasa berdasarkan pemakainya, dengan kata lain lahjah (dialek) merupakan bahasa yang biasa digunakan oleh pemakainya, yang pada dasarnya tergantung pada siapa pemakainya itu; darimana pemakainya berasal, baik secara geografis dalam hal dialek regional, ataupun secara sosial dalam kaitannya dengan dialek sosial.
Variasi yang dimaksud disini adalah berbeda satu sama lain, tetapi masih banyak menunjukkan kemiripan sehingga belum pantas disebut bahasa yang berbeda. Bahasa resmi orang Arab adalah Bahasa Arab. Namun mereka mempunyai dialek yang berbeda. Orang awam Yaman membaca/mengucapkan huruf jîm dengan G (Jamal: Gamal), sebagian lagi di antara mereka mengucapkan sa atau saufa dengan bâ. Suku Himyar mengucapkan al dengan am. Madrasah Lughah Arab terdapat di Basrah dan Kufah. Dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan. Jika perbedaannya hanya berdasarkan pengucapan, maka disebut aksen. Dapat disimpulkan bahwa dialek adalah variasi bahasa yang berbeda-beda dari sekelompok penutur/pemakai yang berbeda dengan kelompok penutur lain berdasarkan atas letak geografis, faktor sosial, kurun waktu tertentu dan lain-lain. Ilmu yang mempelajari dialek disebut dialektologi yaitu bidang studi yang bekerja dalam memetakan batas dialek dari suatu bahasa.
Dialek bahasa Arab terkenal dengan jumlahnya yang sangat banyak, seperti dialek pada suku atau qabilah Quraisy, Hudzail, Hijaz, Najd, Qais, Asad, Anshar, Aliyah, Rabi’ah,
13 Suaidi Suaidi, “Dialek-Dialek Bahasa Arab,” Adabiyyāt: Jurnal Bahasa Dan Sastra 7, no. 1 (2008):
79, https://doi.org/10.14421/ajbs.2008.07105.
14 Suaidi, Dialek-Dialek Bahasa Arab, Adabiyyāt: Jurnal Bahasa Dan Sastra 7, no. 1 (2008): 80.
Mudhar, Yaman, Tha’i, Kananah, Hamir, Kalb, Hawazin, Uqail, Salim, Kahlan, Arab Utara, Mesir, Sudan, Yaman, Arab Saudi dan masih banyak lainnya yang tentu masing-masing suku memiliki kekhasan bahasa dan dialek.15
C. Ragam dan Ciri Khas dialek kabilah Badawiyah dan Hadhariyah
Fenomena ragam dialek Arab, umumnya sangat dipengaruhi oleh kebiasaan artikulasi bunyi. Adapun bentuk-bentuk fenomena ragam dialek tersebut akan kami uraikan secara sederhana disertai nama-nama ragam yang masyhurnya beserta asal kabilahnya.
Diantaranya ialah:16 1. Lahjah al-Kisykisyah
Lahjah al-Kisykisyah ciri khasnya ialah menambah huruf syin setelah huruf kaf mukhatab ta’nits yang diwaqofkan , misalnya kata ‘biki’ dibaca ‘bikasy’, dan kata
‘alaiki dibaca ‘’alaikasy’. Lahjah semacam ini hanya digunakan pada saat waqaf. Selain itu, ada juga yang menggunakan pada saat washal dengan cara tidak menyebutkan kaf mukhatab dan mengkasrahkannya ketika washal dan mensukunkannya pada saat waqaf.
Misalnya, kata ‘’alaiki’ dibaca ‘’alaisyi’ ketika washal, dan dibaca ‘’alaisy’ ketika waqaf.
Penggunaan lahjah semacam ini hanya ditemukan pada kabilah Rabi’ah dan kabilah Mudhor, Bakar, Bani Amru, dan Asad.
2. Lahjah al-Kaskasah
Lahjah al-Kaskasah ciri khasnya ialah menambah hurud sin setelah hurud kaf mukhatab. Misalnya, kata ‘’alaika’ dibaca ‘’alaikas’; kata كنم‘minka’
dibacaشكنم‘minkas’. Istilah al-kaskasah merupakan wujud perubahan bacaan kaf khitab menjadi sin. Penggunaan lahjah ini, hanya ditemukan pada kabilah Rabi’ah dan kabilah Mudhor.
3. Lahjah al-‘An’anah
Lahjah al-‘An’anah ciri khasnya ialah merubah huruf alif hamzah yang terletak diawal kata menjadi ‘ain. Tetapi biila alif hamzah yang berharakat kasroh maka dikembalikan ke bentuk aslinya. Misalnya, kataملسأ‘aslama’ yang berarti masuk Islam, berubah menjadiملسع‘’aslama’ dengan makna yang sama; kataلكأ‘akala’ yang berarti makan, berubah menjadiلكع‘’akal’ dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan pada bahasa Tamim, bahasa Qays, Asad, dan Mesir.
4. Lahjah al-fahfahah
Lahjah al-fahfahah ciri khas dialek ini adalah merubah ha menjadi ‘ain.
Misalnya, kata هتحت‘tahtahahu’ yang berarti menggerakkan, berubah menjadiهعتعت’ ta’ta’ahu’ dengan makna yang sama; kataةسراح‘Harisah’ yang berarti penjaga, berubah menjadi ةسراع‘’Arisah’ dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan pada kabilah Huzail.
5. Lahjah al-Wakm
Lahjah al-Wakm ciri khas dialek ini adalah merubah harakah kaf menjadi kasrah apabila didahului huruf ya atau harakah kasrah. Misalnya,
kataمُكيلع‘’alaikum berubah menjadiمِكيلع‘’alaikim’ dengan makna yang sama; kata
‘bikum’ berubah menjadi ‘bikim’ dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan pada kabilah Rabi’ah, Kaum Kalab, dan Abu Bakar bin Wail.
6. Lahjah al-Wahm
Lahjah al-Wahm ciri khas dialek ini adalah merubah harakah ha menjadi kasrah apabila tidak didahului huruf ya atau harakah kasrah. Misalnya,
kataمُهنع‘’anhum berubah menjadiمِهنع‘’anhim’ dengan makna yang sama; kata
15 Hamzah et al., “Lahjah Arabiyah: Sebuah Studi Dialektologis,” International Journal Conference 1, no. 1 (2023): 213–22, https://doi.org/10.46870/iceil.v1i1.483.
16 Hamzah, Lahjah Arabiyah: Sebuah Studi Dialektologis, h. 213–22.
‘minhum’ berubah menjadi ‘minhim’ dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan pada Kabilah Rabi’ah dan Bani Kalab.
7. Lahjah al-‘Aj’ajah
Lahjah al-‘Aj’ajah Ciri khas dialek ini adalah menjadikan ya musyaddadah (bertasydid) yang terletak diakhir kata menjadi jim. Misalnya,
kataىميمت‘tamimy’ (doble huruf ya) yang berarti orang yang berasal dari suku Tamim,
berubah menjadiجيميمت‘tamimij’ dengan makna yang sama. Contoh lain adalah
kataىرساكم‘Makassary’ yang berarti orang berasal dan bersuku Makassar, berubah
menjadiجرساكم‘Makassarij’ dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini, menurut al-Suyuti hanya ditemukan pada kabilah Qadh’ah.
8. Lahjah al-Istintha’
Lahjah al-Istintha’ ciri khas dialek ini adalah menjadikan ‘ain sukun yang terletak ditengah-tengah kata menjadi nun. Misalnya, kataىطعأa’tha yang berarti memberi, berubah menjadiىطنأantha dengan makna yang sama. Contoh lain adalah kataىلعأa’la yang berarti lebih tinggi, berubah menjadiىلنأanla dengan makna yang sama. Penggunaan ulahjah ini hanya ditemukan pada dialek Saad bin Bakar, Huzail, Urdz, Qays, dan al-Anshari.
9. Lahjah al-Watm
Lahjah al-Watmu ciri khas dialek ini adalah merubah huruf sin yang terletak diakhir kata menjadi ta. Misalnya, kataسانلاal-Nas yang berarti manusia, berubah bentuk menjadiتانلاal-Nat dengan makna yang sama. Contoh lain adalah
kataسامحلاal-hamas yang berarti kelompok pejuang atau pahlawan, berubah bentuk
menjadiتامحلاal-hamat dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan pada bahasa Yaman.
10. Lahjah al-Syansyanah
Lahjah al-Syansanah ciri khas dialek ini adalah merubah huruf kaf yang terletak diakhir kata menjadi syin. Misalnya, kataكيبلlabbaika yang berarti akau memenuhi panggilanmu, berubah bentuk menjadiشيبلlabbaisya dengan makna yang sama. Contoh lain adalah kataكتيارraaituka yang berarti aku telah melihatmu, berubah bentuk menjadiشتيأرraaitusya dengan makna yang sama. Penggunaan lahjah ini hanya ditemukan pada bahasa Yaman.
11. Lahjah al-Lakhlakhaniyah
Lahjah al-Lakhlakhniyah merupakan salah satu bentuk dialek Arab yang ditemukan atau dinisbahkan dalam bahasa Arab suku Syahr dan Oman. Dalam dialek ini ciri khas mereka membuang hamzah pada alif dalam hal penulisannya, misalnya ام
اشma syaa (mim-alif Syin-alif), sedangkan yang mereka maksudkanءاش امma syaa (mim- alif Syin-alif + Hamzah).
12. Lahjah al-Tadhajju’
Lahjah al-Tadhajju’, merupakan masdar “Tadhajju’ fi al-Amri” yang artinya menunda-nunda dan tidak mengerjakan sesuatu. Penamaan ini ditujukan kepada kabilah qays.
13. Lahjah al-Ruttah
Lahjah al-Ruttah, adalah tergesa-gesa dan cepat dalam bercakap. Ciri khas dialek ini adalah merubah huruf lam menjadi huruf ya Seperti kata jamalun jamayun. Dialek ini dituturkan oleh orang Irak.
14. Lahjah al-Thamthamaniyah
Lahjah al-Thamthamaniyah, Ciri khas dialek ini adalah mengganti lam ta’rif menjadi mim. Penamaan ini dinisbahkan kepada kabilah Thayi’, Azd, dan kepada kabilah Humair di Selatan Jazirah Arab. Sebagai contoh riwayat an-Namir ibn Tuảb
bahwasanya Rasulullah SAW berbicara dengan bahasa ini dalam haditsnya: ربما نم سيل رفسما ىف مايصما
maksudnya adalah رفسلا ىف مايصلا ربلا نم سيل
Lahjah al-Thumthumảniyah. merupakan salah satu bentuk lahjah Arab yang ditemukan dalam bahasa Himyar. Mereka membaca al- yang melekat pada isim atau kata benda dalam bahasa Indonesia menjadi am-, misalnya dalam kalimat باط
ءاوهمأthaba amhawa. Pada yang mereka maksud adalah ءاوهلا باطthaba al-hawả.
15. Lahjah al-Gamgamah
Lahjah al-Gamgamah, yaitu mendengar suara tetapi tidak jelas potongan-potongan hurufnya. Ibn Ya’isy berkata ghamghamah adalah percakapan yang tidak jelas, seperti suara para pendekar dalam peperangan. Penamaan ini dinisbahkan kepada kabilah Qadha’ah.
16. Lahjah al-Tiltilah
Lahjah al-Tiltilah, Ciri khas dialek ini adalah merubah harakat harf mudhảri’ah menjadi kasrah. Penamaan ini dinisbahkan kepada kabilah Bahra’, Contohnya ملعا انأ, ملعن نحن(di baca I’lamu dan Ni’lamu). Abu Amru yang dikutip dari Kamus Lisan al-Arab mengatakan bahwa ta dan nun mudhari dibaca kasrah dalam bahasa Qays Tamim, Asad, Rabi’ah dan umumnya bangsa Arab. Sedangkan bagi orang Hijaz tetap membaca fathah.
D. Contoh-Contoh Dialek Hadhariyah dan Badawiyah dalam Qira’at Qur’aniyah 1. Imalah
Imalah menurut bahasa berasal dari wazan lafadz َﻝاَم َﺃ yaitu ةَلاَم ِﺇ - ﻞْيَِيم - َﻝاَم َﺃ yang artinya memiringkan atau membengkokan, sedangkan menurut istilah yaitu memiringkan fathah kepada kasrah atau memiringkan alif kepada Ya’. Bacaan Imalah banyak dijumpai pada qira’ah imam Hamzah dan al-Kisa’i.17
Imalah dibagi menjadi 2 macam :
a. Imalah Sugra ialah bunyi antara al fath dan al imalah kubra. Al Imalah sugra biasa juga disebut At Taqlil atau Baina baina.
b. Imalah Kubra ialah bunyi antara harakat fathah dan kasrah, serta antara Alif dan Ya’. Al imalah kubro bisa juga disebut Al Imalah Al Mahdah atau Al Idha’.
Pembahasan dalam bab ini terdiri dari banyak kaidah, diantara rinciannya sebagai berikut:
a. Bacaan HAMZAH dan AL-KISA’I pada Zawatul ya’
Zawatul Ya’ adalah setiap alif asliyyah (bukan zaidah) yang terletak diakhir kata, di mana ia berasal dari Ya’, kadang-kadang menjadi akhir kata yang berbentuk fi’il. Seperti:
ى َرَتْشا
ىَعَس- – ىَتَأ– ىَبَأ– ىَدَه , ىَش ْخَي ىَم َر Kadang-kadang menjadi akhir kata berbentuk isim, seperti
17 Ahmad Fathoni, Kaidah Qira’at tujuh 1 dan 2, (Jakarta: IIQ Jakarta, 2016), h. 28.
ىَدَهْلا ىَل ْوَملْا- ى َوْأَمْلا-
cara mengetahui asal alif (apakah dari Ya ’atau Wawu), apabila pada isim dapat dilihat dalam bentuk Tasniayyahnya, dan apabila pada fi’il dilihat bentuk Mukhatabnya, misalnya lafadz ىَدَه ى َرَتْشا – dirubah dalam bentuk fi’il mukhatabnya yakni تْي َرَتْشا , ُتْيَدَه terungkaplah bahwa alifnya berasal dari Ya ’ asliyyah. Berbeda dengan fi’il yang semisal ىَك َز -اَفَع– َلَخ sebab kata-kata ini apabila dilihat dalam bentuk mukhatabnya yakni َت ْوَفَع– َت ْوَك َز– َت ْوَلَخ diketahuilah bahwa alifnya berasal dari Wawu.
Adapun lafadz ى َوَهلا dan ىَدُهلا dalam kaidah ini adalah sebagai contoh Zawatul Ya ’yang berbentuk isim, buktinya ketika dilihat bentuk tasniyahnya yakni ِناَي َوُهلا dan ِناَيَدُهلا akan terungkap bahwa alifnya berasal dari Ya ’. Berbeda dengan isim yang semisal اَفَش – اَصَع apabila ditasniahkan yakni - ِنا َوَفَش - ِنا َوَصَع terungkap alifnya berasal dari Wawu.
b. Bacaan HAMZAH dan AL-KISA’I pada Alif Ta’nis
Alif Ta’nis dibaca al-Imalah Kubra oleh Hamzah dan al-Kisa’i mempunya 5 wazan yaitu: ىَلْعَف – ىَلْعِف – ىَلْعُف – ىَلاَعَف – ىَلاَعُف
Contohnya
ى َوْقَّتلا – ى َرْكِ ذلا ىَس ْوُم ىَماَتَيلا- ى َراَكُس-
c. Bacaan HAMZAH dan AL-KISA’I pada Alif yang terletak diakhir kata, yang ditulis dengan bentuk Ya ’
Yang dimaksud dengan Alif yang terletak di akhir kata yang ditulis dengan bentuk Ya ’. Dalam kaidah ini bukan Alif yang berasal dari Ya’, tetapi setiap alif yang tidak diketahui asalnya, atau setiap Alif yang asalnya dari Wawu. Contoh Alif yang tidak dietahui Asalnya, yang tertulis dengan bentuk Ya ’, terdapat pada lafadz
ىَنَّأ - ى َتََّحى – ىَىلَب Contoh Alif yang berasal dari Wawu, yang tertulis dengan bentuk Ya ’, terdapat pada lafadz:
ىَجَس - ىىَوُ قى - اَهيَحُضى - اَهيَحَطى - ىىَحُّضلاَوى
Salah satu contoh Imalah didalam al-Qur’an surat Hud ayat 41.
ىٌميِحَرىٌروُفَغَلى ِِبَّرىَنِإىٓاَهٰ ىَسْرُمَوىاَهٰ ى۪رَْمَىَِللَّٱىِمْسِبىاَهيِفى۟اوُبَكْرٱىَلاَقَو Artinya:
"Dan dia berkata, "Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.
2. Idgham
Al-Idgham dalam arti bahasa berarti menempatkan sesuatu pada sesuatu. Sedangkan menurut istilahnya adalah pengucapan dua huruf menjadi satu huruf, mirip dengan huruf kedua tasydid.
Idgham ada dua macam, yaitu Idgham al-kabir dan Idgham shagir.
a. Idgham al-Kabir adalah apabila huruf yang pertama yang di idghamkan dan huruf kedua (dimana huruf pertama di Idghamkan kepadanya ) sama-sama berupa huruf hidup.
b. Idgham as-Shagir adalah ketika huruf pertama mati dan huruf kedua hidup kembali.
Pembahasan kaidah al-Idgham al-kabir akan meliputi al-Mislain dan al-Mutaqaribain a. Al-Mislain
Apabila huruf pertama dan kedua sama makhraj dan sifatnya. Al-mislain ada kalanya terdapat “dalam satu kata” ada kalanya “dalam dua kata”.
1) Al-Mislain dalam satu kata
As-SUSI membaca dengan al-Idgham pada al-Mislain dalam satu kata hanya pada lafadz (Al-Baqarah: 200) مٌكَكِساَنَم dan مُكَكَلَساَم َو (surat Al-Muddatsir: 42) 2) Al-Mislain dalam dua kata : apabila huruf yang sama terdapat di dalam dua
kata, seperti : اَم ُمَلْعَي-ىده ِهْيِف , ْمِهِب ْوُلُق ىَلَع َعَبَط َو , رُمْأ َو َوْفَعْلاِذُخ
Cara membacanya setelah huruf pertama dimatikan, baru ia di idghamkan ke dalam huruf kedua. Hal ini berlaku baik ketika sebelum huruf pertama berupa:
a) Huruf hiduf, seperti , ْمِهْيِدْيَأ َنْيَب اَم ُمَلْعَي- ْمِهِب ْوُلُق ىَلَع َعَبَط َو –
b) Huruf mati, baik yang berupa huruf mad, seperti , ىدُه ِهْيِف atau huruf mati shahih, seperti رُمْأ َو َوْفَعْلاِذُخ , atau huruf laein, seperti َلَعَف َفْيَك
3) Pada al-Mislain dua kata ada hal-hal yang menghalangi terjadinya Idgham.
Huruf pertama harrus di idgamkan ke dalam huruf kedua , apabila tidak berupa:
a) Ta ’Dhamir yang menunjukkan mutakklim, seperti اَبا َرُت ُتْنُك b) Ta ’Dhamir yang menunjukkan mukhatab, seperti ه ِرْكُت َتْنَأ c) Huruf yang ditanwin, seperti مْيِلَع ُّعِسا َو
d) Huruf yang ditasydid, seperti َّمت تاَقِم b. Al-Mutaqaribain
Apabila huruf yang di-Idgamkan (huruf pertama) dan huruf yang dimana huruf pertama di idgamkan kepadanya (huruf kedua), berdekatan makhraj atau sifatnya maka disebut al-Mutaqaribain.jenis al-Mutaqaribain sebagaimana al- Mislain, yakni ada kalanya terdapat “dalam satu kata ”dan ada pula “dalam dua kata.”
1) Al-Mutaqaribain dalam satu kata
Apabila dalam satu kata terdapat dua huruf yang berdekatan makhraj dan sifatnya, maka as-Susi meng-Idgamkan huruf pertama ke dalam huruf kedua. Namun hal ini hanya berlaku ketika memenuhi syarat-syarat berikut, yaitu:
a) Huruf pertama yang di Idgamkan berupa Qaf dan sebelumnya harus berupa huruf hidup.
b) Huruf kedua berupa Kaf dan sesudahnya berupa mim jama ’.
Contohnya: ْمُكُق ُز ْرَي– ْمُكَقَلَخ– مُكَقَثا َو 2) Al-Mutaqaribain dalam dua kata
Al-Mutaqaribain dalam dua kata adalah jika ada dua huruf yang berdekatan makhraj/ sifatnya saling berhadapan atau bertemu dalam dua kata, yakni huruf pertama yang di Idghamkan kedalam huruf ke dua menjadi akhir kata, dan huruf dimana huruf pertama di Idghamkan kepadanya (huruf ke dua) menjadi awal kata kata berikutnya.
Ketika membaca huruf yang mutaqaribain dalam dua kata dengan wasal (tidak waqaf dilafaz pertama). As-Susi akan meng-Idghamkan huruf pertama ke dalam huruf kedua, ketika memenuhi syarat-syarat berikut:
a) Huruf pertama terdiri dari salah satu huruf 16, yang terdapat pada awal masing-masing lafadz.
Enam belas huruf yang terdapat di awal masing-masing lafadz di atas adalah:
ب – ت – ث – ج – ح – ذ - د– س- ر– ش– ض– ق– ك– ل– م– ن Contohnya ِراَّنلا ِنَع َح ِزْحُز ْنَمَف ا َو ْرَذ ِتاَي ِر اَّذلا َو– ءاَشَي ْنَم ُبِ ذَعُي -
b) Huruf pertama tidak di tanwin, tidak berupa Ta ’Mukhatab, tidak di Jazamkan, dan tidak di Tasydid.
Contohnya :
• Tidak di tanwin : مكل ٌريذن
• Berupa Ta ’mukhatab : ئيش تي ِج ْدَقَل
• Tidak di jazamkan : لاَمْلا َنِم ًةَعَس َت ْؤُي ْمَل َو
• Tidak Tasydid : اركذ َّدشأ 3. Mensukunkan Harakat yang berturut-turut
Ilmu Qiraat merupakan salah satu cabang ilmu dalam kajian Al-Qur'an yang membahas tentang berbagai variasi bacaan Al-Qur'an. Dalam ilmu Qiraat terdapat berbagai tindakan pembacaan atau tanda-tanda yang diberikan pada huruf-huruf Al- Quran untuk membantu pengucapannya. Gerakan tersebut dapat berupa tanda fathah ( َـ), tanda kasrah ( ِـ) dan tanda dhommah ( ُـ), serta tanda-tanda lainnya seperti tanda sukun ( ْـ) dan tanda tanwin ( ُــًـٍـــ).
Dalam ilmu Qiraat, para penghafal dan ulama Alquran mempelajari berbagai bacaan Alquran yang diturunkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW. Bacaan- bacaan ini disebut dengan nama-nama tertentu seperti Qiraat Hafs, Qiraat Warsh, Qiraat Ibnu Katsir, dll. Setiap Qiraat mempunyai gerakan dan perbedaan bacaan tertentu, serta sering kali mempunyai gerakan berurutan dalam bacaannya.
Contoh gerak urut dalam ilmu Qiraat dapat dilihat pada Qiraat Hafs 'an' Asim yang umum digunakan di berbagai negara Islam. Berikut contoh membaca Al Quran dengan beberapa gerakan berturut-turut:
ْتَءاَج ْدَق (Qad ja'at) - Di sini, harakat berturut-turut adalah fathah ( َـ) pada huruf " َق", kasrah ( ِـ) pada huruf " َج", dan tanda sukun ( ْـ) pada huruf " ْت".
ُتْض ِرَم اَذِإ َو (Wa idza maridtu) - Di sini, ada tiga harakat berturut-turut: kasrah ( ِـ) pada huruf " ِإ", tanda dhommah ( ُـ) pada huruf " َم", dan tanda sukun ( ْـ) pada huruf " ُتْض ِر".
َنوُقِفنَت َلَ ْمُكَل اَم (Ma lakum la tanfiqun) - Dalam contoh ini, terdapat beberapa harakat berturut-turut seperti kasrah ( ِـ) pada huruf "اَم", tanda dhommah ( ُـ) pada huruf " ْمُكَل", dan tanda fathah ( َـ) pada huruf " َنوُقِفنَت".
Harap dicatat bahwa contoh di atas adalah hanya beberapa contoh harakat berturut-turut dalam bacaan Al-Quran. Ilmu Qiraat adalah studi yang sangat mendalam dan kompleks, dan para ulama yang ahli dalam ilmu ini memahami berbagai variasi bacaan dengan harakat yang berbeda-beda sesuai dengan Qiraat yang mereka pelajari.
4. Melemahkan Bunyi Hamzah melalui Tashil baina-baina, Ibdal, Naql, Idhal bainal Hamzatain, hadzf dll
a. Tashil baina-baina adalah pengucapan hamzah yang dibaca antara Hamzah dan huruf yang sejenis dengan harakatnya. Berarti bila Hamzah berharakat Fathah, pengucapan Tashilnya adalah antara Hamzah yang di Fathah dan Alif. Bila Hamzah berharakat Kasrah, pengucapan Tashilnya adalah antara Hamzah yang dikasrah dan Ya’. Dan bila Hamzah berharakat Dhammah, pengucapan Tashilnya adalah antara Hamzah yang di Dhammah dan Wawu.
Contohnya: َكَّنِئَأ– َتْنَأَء– اذِإَء– مُكُئِ بَنُؤَأ– َيِقْلُأَء– مهتذنأ أ ْمُتْنِمَأَء – dan lain-lain.
Salah satu contoh di dalam Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 16 :
ىُروَُتَىَىِهىاَذِإَفىَضْرَْلْٱىُمُكِبىَفِسَْيَىنَأىِءٓاَمَسلٱى ِفِىنَمىمُتنِمَأَء
“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?”
b. Ibdal adalah peristiwa pergantian huruf. Misal, Hamzah kedua pada ةَياَء– َنِم
ءاَمَّسلا di Ibdalkan dengan ya ’, artinya bacaan Hamzah kedua diganti dengan Ya’.
c. Naql adalah peristiwa pemindahan harakat Hamzah ke huruf mati sebelumnya, dan kemudian Hamzahnya di buang.
Contonya:
ٍق َرْبَتْسِإ ْنِم– َنَمَأ ْنَم– ىِت ْؤُأ ْنَم– َمَداَء ْيَنْبا َأَبَن– اَمُهاَدْحِإ ْتَغَب ْنِإَف– َحَلْفَأ ْدَق- ِض ْرَلأا- ُة َر ِخَلأا d. Idkhal bainal Hamzatain ialah peristiwa masuknya Alif antara dua Hamzah
sehingga Hamzah pertama mempunyai panjang 2 harakat.18 Misalnya اَذِإاَء– ْمُهَت ْرَذْنَأاَء َل ِزْنُؤاَء –
e. Khadzf ialah membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf.
Contohnya, menghilangkan huruf alif jika19:
1) Di dahului dengan Ya ’Nida’(panggilan), contoh ; أَيساَّنلااَهُّي 2) Di dahului dengan Ha ’tanbih (peringatan), contoh ْمُتْنَأَه
3) Alif pada kalimat Na jika bertemu dengan dhamir, contoh ْمُكَنْيَجْنَأ 4) Alif terletak setelah huruf Al, contoh : ةللكلا
5) Alif Tatsniyah, contoh نلجر
18 Nida’ al-Qur’an Jurnal kajian al-Qur’an dan Wanita, 2010, Institut Ilmu al-Qur’an, Jakarta
19 http://bintunnahlah.blogspot.com/2017/11/makalah-ilmu-qiraat-al-quran.html?m=1
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pembagian Kabilah Bangsa arab yang mendiami jazirah arab dibagi menjadi dua golongan besar: Hadhariyah dan Badawiyah. Diantara Kabilah Hadhariyah terdiri dari Suku Quraisy, Bani Tsaqiif, Bani Hawazin, Bani Kinanah. Sedangkan pada kabilah Badawiyah diantaranya ialah Bani Tamim, Suku Bakr, Suku Taghlib dan lainnya.
2. Perbedaan Lughah (Bahasa) dan Lahjah (Dialek) ialah Bahasa adalah alat komunikasi yang terorganisasi dalam bentuk satuan-satuan seperti kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Sedangkan Lahjah (dialek) ialah bahasa dan huruf yang digunakan oleh sekelompok orang dalam rumpun tertentu yang menyebabkan adanya perbedaan ucapan bahkan bacaan antara satu dengan yang lainnya.
3. Ragam dan Ciri Khas dialek kabilah Badawiyah dan Hadhariyah ialah Lahjah Al kisykisyah, Lahjah Al kaskasah, Lahjah Al an'anah, Lahjah Al fah fahah, Lahjah Al wakm, Lahjah Al wahm, Lahjah Al 'aj 'ajah, Lahjah Al istintha', Lahjah Al watm, Lahjah Al syansyanah, Lahjah Al lakhlakhaniyah, Lahjah Al tadhajju, Lahjah Al ruttah, Lahjah Al thamthamaniyah, Lahjah Al gamgamah, Lahjah Al tiltilah. Ke enam belas lahjah tersebut memiliki ciri khas an nya.
4. Contoh-contoh dialek badawiyah dan hadhariyah dalam qiro’at qur’aniyah diantaranya terdapat imalah baik imalah sugra dan kubra, idgham baik idgham milain dan mutaqarribain, mensukunkan harakat yang berturut-turut, dan melemahkan Bunyi Hamzah melalui Tashil baina-baina, Ibdal, Naql, Idhal bainal Hamzatain, hadzf dan lainnya.
B. Saran
Penulis telah menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, akan tetapi penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan nya, maka dari itu, penulis sangat mengharapkan saran dari para pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini untuk dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Ahmad, Fajr al-Islam, Singapura-Kota Baru-Penang: Sulaiman Mar’i, 1965.
Fathoni, Ahmad, Kaidah Qira’at tujuh 1 dan 2, (Jakarta: IIQ Jakarta, 2016)
Hamzah, Lahjah Arabiyah: Sebuah Studi Dialektologis, International Conference on Education, Islamic Studies, and Local Wisdom (ICEIL) 2022
Hamzah, Hazira, Henra, Muh. Arsyad, Nikma Ramadhani, Nurhidayah, Nurul Inayah Masykur, et al. “Lahjah Arabiyah: Sebuah Studi Dialektologis.” International Journal Conference 1, no. 1 (2023): 213–22. https://doi.org/10.46870/iceil.v1i1.483.
Nida, Al-Qur’an Jurnal kajian al-Qur’an dan Wanita, 2010, Institut Ilmu al-Qur’an, Jakarta
Nizar, Muh. Shazana, Variasi Dialek Bahasa Arab, Al-Maraji’, Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol.
7 No.1, 2023,
Suaidi, Suaidi. “Dialek-Dialek Bahasa Arab.” Adabiyyāt: Jurnal Bahasa Dan Sastra 7, no. 1 (2008): 79.
https://doi.org/10.14421/ajbs.2008.07105.
Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Jilid 1, Yogyakarta: Yogya Yayasan Penerbit Psyeology Huda, Syamsul, dkk, Feminisme dalam Peradaban Islam, Surabaya: Pena Cendekia, 2019,
http://bintunnahlah.blogspot.com/2017/11/makalah-ilmu-qiraat-al-quran.html?m=1